Tersandung Badai Kelabu Masa Lalu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tersandung Badai Kelabu Masa Lalu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:48 Rating: 4,5

Tersandung Badai Kelabu Masa Lalu

“SEBAIKNYA Mas Rizal nggak usah datang-datang lagi ke sini …!” kataku ketus.

“Maksud Novi … ini cara kita untuk putus?” tanya Mas Rizal menyelidik.

Aku mematung, bingung untuk menjawabnya. Tapi aku tidak setenang Coca Cola yang ada di depanku. Aku juga tidak setenang dia. Ah, Mas Rizal memang benar. Aku belum dewasa!

“Sebetulnya Mas sayang banget sama kamu. Kalau kemarin Mas bilang seperti itu, bukan berarti Mas nggak cinta kamu. Sebaiknya keinginan kita untuk menikah ditunda dulu. Ngerti kan maksud Mas …?”

“Ngerti …” kataku sambil menelan perasaan pahit.

“Kamu kan ingin jadi guru agama, ya sebaiknya fokuskan pikiran kamu ke kuliah dulu. Mas belum siap kalau harus menanggung beban itu. Mas juga kan masih berstatus sebagai guru honor yang penghasilannya belum seberapa. Tolong dewasalah, jangan mengambil keputusan gerusak-gerusuk!”

Obrolan-obrolan itu yang kurasakan kaku dan hambar merupakan obrolan terakhirku dengan Mas Rizal. Tapi anehnya, wajahku tak bersimbah air mata. Saat itu aku memang kecewa, tapi aku tidak sedih. Perpisahanku dengan Mas Rizal, sama sekali tidak menorehkan luka dalam hati, cooling down saja. Dari mulai saat itu, aku tidak pernah mengingat-ingat lagi kapan kami jadian dan kapan kami putus. Bagiku semua kejadian itu hanyalah sebait lagu sumbang dalam perjalanan kehidupanku. Sekadar cinta numpang lewat yang tidak disadari oleh ikatan yang pasti. Cinta yang tidak diikat oleh kepercayaan dan tanggung jawab. Buktinya, Mas Rizal memilih mundur ketika aku meminta pertanggungjawaban. Oleh karena itu aku memilih … memutuskan duluan!

Usiaku dua puluh tahun saat itu sedangkan Mas Rizal dua puluh lima. Sekarang sudah dua puluh empat lilin yang kutiup bulan kemarin. Artinya sudah genap empat tahun kami berpisah. Ya, karena ada Porseni Guru kemarin itu, aku ketemu lagi dengannya.

Duh, kenapa rasaku jadi sering gelisah oleh hal yang tidak membawa kesan dalam kehidupanku? Oleh sesuatu yang tidak merupakan bagian penting dalam perjalanan hidupku. Uuh … kenapa?

Coca Cola yang ada di depanku masih merajuk minta disun lagi. Tapi kali ini tidak berhasrat untuk meminumnya. Perlahan kakiku melangkah ke luar café. Semangat untuk berlama-lama mojok di café itu perlahan memudar, apalagi setelah kutahu orang yang ditunggu-tunggu tidak menunjukkan batang hidungnya. Pas ketika ada taksi lewat di depanku, dengan spontan tanganku memanggil.

“Mau ke mana, Neng?” kata supir taksi.

“Terminal, Mang!”


LAGI ngaso sore hari di depan rumah. Tak kuduga, Teh Lusi, kakakku mencolek punggungku dari belakang.

“Novi … ada kiriman surat nih …” teriaknya sambil duduk di sebelahku.

Dengan hati deg-degan, sampul surat kurobek. Isinya kubaca. Dug! Seketika jantungku berdetak kencang, apalagi setelah kubaca salam pembuka. Rasaku sudah duluan nembak pasti surat ini dari Mas Rizal, karena hanya dia yang suka menulis surat seperti ini:

Dear Novi, Salam Dunkin Donats, Halo Bu Guru cantik. How are you? Long time no see yeah? I miss you. Be my love forever …! So sweet …. Pop Ice!

Oh, my God! Gimana ini? umpatku blingsatan. Suratnya pendek, cuma dua kalimat. Tapi, isinya itu bisa membuka lagi cerita cintaku bersamanya tempo dulu. Aku sadar lagi setelah Teh Lusi mencubit pahaku perlahan.


“COCA Cola, Mbak?” sapa pelayan menghampiriku.

Aku membalasnya dengan senyuman. Aku rasakan pelayan-pelayan di Café Tukino ini semakin familiar kepadaku. Mungkin karena sekarang ini aku sering mampir untuk sekadar minum-minum di tempat itu.

“Ada yang lagi ditungguin, Mbak?” sapa pelayan lagi basa-basi, sambil meletakkan pesanan di depanku.

“Ade kenal nggak sama seorang pria yang sering mangkal di sini? Itu, cowok yang selalu pake jaket kulit hitam dan kalau pesan makanan suka Dunkin Donat serta minumnya Pop Ice?”

Pelayan café itu sejenak berpikir, kayak lagi mengingat-ingat.

“Oo … yang selalu bawa gadis cantik kalau ke sini, ya, Mbak?”

“Iya!” jawabku sambil menahan cemburu.

“Cowok itu mah semua pelayan di sini sudah pada kenal, Mbak! Mas Rizal namanya, kekasihnya banyak! Cantik-cantik lagi ….”

“Kekasihnya?!”

Sekali lagi aku merenung. Meradang dilanda kebimbangan. Sesaat aku sadar lagi, maksud hati mau mengucapkan terima kasih atas semua informasinya, tapi kulihat pelayan café itu sudah menghilang dari hadapanku. Samar-samar kulihat dia sedang melayani tamu lain yang baru datang ke café itu. Tinggal aku sendirian, limbung meratapi kebodohanku.

Aku seperti kesasar. Dirundung perasaan rindu dan sayang masa lalu yang tak berujung tepi.

Apa maksud Mas Rizal mengirimkan sepucuk surat kepadaku? Apa benar wanita cantik yang selalu menemani Mas Rizal di café itu kekasihnya? Dan, apa benar lagi mengenai cerita dari pelayan tadi tentang Mas Rizal yang membuat rasaku menjadi terbakar. Ah! Semakin pusing dan penat kepalaku memikirkannya. Semrawut, saling tuding antara cemburu dan penasaran.

Mendadak muncul perasaan kesal pada diriku sendiri. Kenapa aku begitu bodoh waktu itu? Dulu, ketika Mas Rizal masih menjadi kekasihku, aku malah mengusirnya dengan tanpa perasaan iba sedikit pun. Tapi kini, setelah dia jatuh ke pelukan orang lain, aku malah meratap ingin memilikinya lagi. Duh … sebel … sebeeell …!

“Ssst …!”

“Mas Rizal!” kataku riang. Ah! Seketika bibirku mengatup malu campur takut, setelah kutahu yang membuyarkan lamunanku itu bukannya Mas Rizal, yang kutunggu-tunggu, tapi ….

“Ah … Kang Adin …” kataku gugup.

“Lagi nungguin siapa, sayang …?” sapa Kang Adin sambil duduk di sebelahku.

Aku hanya bisa diam. Bingung harus bicara apa lagi kepadanya. Aku sudah kehabisan kata untuk berbohong lagi. Aku sepertinya harus menuntaskan masalah ini sekarang agar tidak berlarut-larut.
“Kang … maafkan Teteh ya …. Teteh … eu ….”

“Nungguin si Rizal, kan, Teteh tiap sore ke sini? Yang kata Teteh … nggak ada apa-apa itu?!” bentaknya, sambil bola matanya membulat.

“Kang Adin marah, ya, sama Teteh?” rajukku, balik menatap bola matanya.

Kang Adin hanya diam. Aku mengerti, dia pasti sedang menahan kemarahannya atas semua sikapku. Dia selalu bersikap penyayang dalam menggauliku. Hatiku seketika iba melihat sikapnya itu.

“Cerita apa lagi ini, sayang?” tanyanya lagi sambil menatapku semakin tajam.

“Cerita masa lalu, Kang. Tapi demi Tuhan, Teteh belum pernah ketemu lagi dengannya!” kataku berbohong.

“O, ya? Tapi kenapa mesti tiap sore Teteh mojok di café ini?”

“Nungguin Mas Rizal,” balasku perlahan.

“Maksudnya?”

“Teteh hanya ….” Ingatanku langsung tertuju pada sepucuk surat yang dikirimkan Mas Rizal tempo hari. Surat itu sebetulnya tidak berharga sama sekali bila dibandingkan dengan perhatian dan kasih sayang yang Kang Adin berikan selama ini. Tapi kenapa aku berbuat aniaya kepadanya dengan membiarkan dia terlunta-lunta tanpa belaian kasih sayangku seperti hari-hari kemarin dan kemarinnya lagi?

Ketika pikiranku lagi linglung dan semrawut dibombardir oleh nafsu dan rasa bersalahku, tiba-tiba pintu café tempat keluar masuk orang terbuka. Dengan jelas kulihat, ada sepasang makhluk manis yang masuk ke dalam café itu. Yang seorang aku kenal betul sosoknya. Yaitu laki-laki yang selama ini aku tunggu-tunggu. Dug! Seketika jantungku seperti luluh lantah dihantam petir kekecewaan. Oh … ternyata Mas Rizal sudah berganti pasangan dengan wanita cantik. Oh … kini aku mengerti, tidak ada gunanya lagi aku diam berlama-lama di café itu selain hanya melukai diri sendiri.

Wajah Kang Adin aku tatap dalam-dalam. Kang Adin pun membalas tatapanku dengan tatapan nanar penuh curiga. Kang … peluk aku! Balutlah lukaku ini dengan kasihmu …! Jeritku membatin. Tak kuasa tangisku membuncah.

“Kang … pulang, yuk …!” jeritku menyayat dalam dekapannya.

“Tapi … si Rizal kan belum datang?”

“Nanti aja, Kang, Teteh ceritakan di rumah,” kataku sambil duluan melangkah ke luar café itu. Aku tidak mau tangisku ini diketahui oleh Mas Rizal. Tapi ternyata sikapku itu terlihat juga olehnya yang menatap kepergianku dengan mata puas penuh dendam. Tapi aku tak peduli lagi padanya. Masa bodoh!

Aku yakin di rumah Kang Adin pasti bakal mengerti.

Holidin Adi Putra, Guru MA YPI Cikujang, Bandung

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Holidin Adi Putra
[2] Pernah tersiar di  "Majalah Guruku" No. 08 – September 2009

0 Response to "Tersandung Badai Kelabu Masa Lalu"