Di Pantai Itu - Jamur - Jarak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Di Pantai Itu - Jamur - Jarak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Di Pantai Itu - Jamur - Jarak

Di Pantai Itu

sepasang nyamplung terkelupas kulit luarnya, memampangkan 
tempurung keras mengayu seperti matamu mak, seperti matamu 
pak, memandangi anak-anakku belajar berenang di pantai itu.

sepasang kol buntet terseret gelombang, terdampar, nyungsep, 
separuh terkubur, separuh nyembul di padang pasir seperti 
matamu mak, seperti matamu pak, memandangi anak-anakku 
belajar berenang di pantai itu.

berpokok-pokok kayu (serupa lengan serupa torso serupa kaki) 
terserak di sekitar bundar batu karang 
seperti tubuhmu mak, seperti tubuhmu pak, memantau anak-anakku belajar berenang di 
pantai itu.

sedangkan aku (di mana aku?) hanya pikiran karam pada 
namlima mak, pada namlima pak, seperti hantu mengintai anak-
anak belajar berenang di pantai itu.

(2017)

Jamur

berpegang ke gagang jamur aku berpayung melangkah memasuki 
bangunan-bangunan kota yang baur kabur lebur hancur terguyur 
hujan (langit adalah tumpukan jubah yang memburai benang-
benangnya) november yang kacau

di pusat genangan timbunan kubur kegentingan ingatan tersisa 
kupanggil kubangkitkan ilusi purba di mana batu dan tanah 
kukuh bersekutu membentengi serbuan mata timah besi tembaga 
dari anak panah dan tubuh peluru

tubuhmu yang hampir bugil beku kuanyam kembali dengan 
berlembar kain hitam merah hijau bergambar pohon burung 
matahari serupa panji-panji perlawanan atas penaklukan

di titik lain di musim lain (mungkin) jamur-jamur baru 
menyembul serupa sigi, peli, korek api, dan kobaran lain yang 
mengancam dalam pikiran dan sewaktu mekar ia serupa ayoman 
di mana oase areola menyoklat hangat di pusat lingkar putihnya

di titik itulah aku berbaring melingkar serupa ular memamah 
ekor sendiri

(2017)

Jarak

/1/
aku hanya meminta sebuah kehendak (cinta!) tapi kau berikan 
tubuh, jurang jarak antara suara dan tatapan dan aku merayap dan 
meratap hingga kuasa berbalas perkabulan.

/2/
sejak itu aku telah jadi kelana (sewandana cum penjelajah?). 
tidak kukira, jarak adalah pikiran yang mencarimu, hingga 
kuabaikan, kubiarkan semua orang berebutan lahan, penampang, 
benda tinggalan, tilasmu, sedang aku hanya padamu terpaku dan 
ah, ratapan-ratapanku bukanlah bahan belas kasihan, perolokan 
orang lapar, gelandangan, buangan atau tundungan (dunia - 
menjijikkan sungguh-yang sia-sia) sebab perbekalan telah 
dicukupkan dalam perjalanan tanpa pertemuan ini.

/3/
cinta (cintaku!) telah dibelah dan aku tak bisa mengandalkan, tak 
butuh (kaki atau jalan) kehidupan untuk mencari untuk 
menemukan sebab cinta (cintaku!) telah sama bersetuju dalam 
jaminan perintahmu.

/4/
tapi masihkah kau bersamaku di antara kecabulan dunia kini? 
sedang aku mungkin lacur, nyunyut-hancur dalam umpatan 
dalam ancaman dalam kesombongan, di jarak ini telah kutanyai 
seluruh keturunanmu: mengapa cinta (cintaku!) tiada ketemu? 
serempak mereka ngakak, menudingku: kaspo, lantas ngelus 
gluteus maximus dan berjingkrak. krak.

(2017)




F Aziz Manna lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, 8 Desember 1978. Di antara buku-buku puisinya adalah Playon (2015), yang mendapatkan Kusala Sastra Khatulistiwa ke-16, dan Dunia dari Keping Ingatan (2017).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya F Aziz Manna
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 3 Februari 2018

0 Response to "Di Pantai Itu - Jamur - Jarak"