Dunia Nyonya Barbara | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dunia Nyonya Barbara Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:04 Rating: 4,5

Dunia Nyonya Barbara

MEMBIARKAN Nyonya Barbara berkeliaran di rumah Steff seakan menjadi satu-satunya cara agar Steff mau lebih mempedulikan dirinya sendiri. Kehadiran Nyonya Barbara seolah sangat dibutuhkan agar Steff mau melakukan hal-hal remeh seperti membereskan ranjang di pagi hari atau sekadar membereskan meja sehabis makan. 

Bagi mereka yang mengenal keduanya, mungkin sangat sulit membantah hubungan saling menguntungkan yang dapat terjadi antara Steff dan Nyonya Barbara. Steff yang dikenal paling tidak peduli pada semua hal di sekitarnya, sedangkan Nyonya Barbara sangat peduli pada semua hal di sekitarnya. Berada di sekitar Steff membuat Nyonya Barbara selalu memiliki sesuatu untuk dilakukan, hal-hal yang bisa jadi sangat ia butuhkan untuk tetap merasa hidup. Sementara keberadaan Nyonya Barbara mungkin membuat Steff merasa ada yang selalu siap menghardik kemalasannya.

Meski Steff kerap berperilaku semaunya, penduduk desa tak terlalu peduli padanya sebab ia cenderung melakukan sesuatu yang merugikan dirinya sendiri. Tetapi tidak demikian dengan Nyonya Barbara, orang-orang tidak dapat begitu saja mengabaikannya. Tindak-tanduk Nyonya Barbara sudah menjadi satu di antara sedikit hal yang dapat seketika mengusik ketenangan penduduk desa.

Karenanya hampir semua penghuni desa tidak menyukai Nyonya Barbara. Tidak seorang pun mau duduk bersamanya untuk sekadar bercakap-cakap sebagaimana orang-orang sepuh lain yang selalu punya kawan untuk bercakap-cakap di taman di pusat desa ketika matahari menampakkan diri.

Ketidaksukaan orang-orang kepada Nyonya Barbara makin terlihat jelas semenjak ia ditinggal mati Will, suaminya, tiga tahun lalu. Kematian lelaki itu seperti membuka selubung yang telah lama memisahkan Nyonya Barbara dengan semua orang yang tidak ia sukai dan tidak menyukainya.

Semasa Will masih hidup, orang-orang masih berusaha tersenyum jika berpapasan dengan Nyonya Barbara, orang-orang masih mau menyapa meski Nyonya Barbara tak sekali pun pernah membalas sapaan.

Tapi kini orang-orang sudah tidak ragu menunjukkan ketidaksukaannya. Ada orang yang seketika membanting pintu saat Nyonya Barbara melintas; ada yang melempar muka begitu melihatnya; ada juga yang terang-terangan berkasak-kusuk di depannya. Tidak hanya orang dewasa, kanak-kanak juga menunjukkan gejala serupa, tak peduli seasyik apa pun kanak-kanak dalam permainan, mereka seketika terdiam jika Nyonya Barbara berada di sekitar mereka.

Kematian suami Nyonya Barbara juga menjadi kematian pelindungnya. Tidak ada lagi orang yang selalu siap melabrak siapa saja yang membuat Nyonya Barbara bersedih; tidak ada lagi orang yang selalu siap menembaki pot-pot di pekarangan rumah orang lain; tidak ada lagi orang yang selalu siap berdiri di antara Nyonya Barbara dan seisi dunia yang tidak ia sukai.

Karenanya, hanya dengan mendengar cerita tentang lelaki itu Collins merasa beruntung tak bertemu dengannya. Terlebih setelah Collins merasa menjadi bagian dari daftar orang-orang yang tidak menyukai Nyonya Barbara sejak pertemuan pertama.

Pagi itu Collins melihat Nyonya Barbara sudah tak ubahnya kutu busuk yang terselip di sela-sela ranjang. Collins marah dan jijik. Sebabnya sederhana, Nyonya Barbara telah memaksanya bangun pagi, sesuatu yang sangat penting bagi Collins.

“Seumur hidupku,” Collins memekik. “Tak ada yang berani memaksaku bangun pagi. Dan kau bajingan. Kenapa kau tidak mengatakan apa pun?”

Collins begitu kesal sementara Steff tak dapat melakukan apa pun selain berusaha tidak tertawa. Di saat yang sama Nyonya Barbara hanya mematung di sisi ranjang, menatap Collins dan Steff seperti serigala tua menatap mangsanya.

Setahun setelah pertemuan pertama Collins dan Nyonya Barbara, setelah tidak ada lagi orang membicarakan keburukan-keburukan Nyonya Barbara, Collins masih ingat kejadian pagi itu dan masih berharap Nyonya Barbara segera kembali untuk meminta maaf.


NYONYA Barbara berusia sekitar 68 tahun ketika suaminya meninggal, setahun setelah itu ia mendaftar masuk Panti Jompo, hal yang sudah ditunggu-tunggu seluruh penghuni desa. Namun karena antrean masuk Panti Jompo begitu panjang, ia harus menunggu sambil selalu mengunjungi rumah Steff, tempatnya melakukan hal-hal yang sudah tak bisa ia lakukan di rumahnya sendiri.

Rumah Nyonya Barbara berada tepat di seberang rumah Steff. Pekarangan rumahnya dipenuhi rumput hijau yang selalu terpotong rapi, daun-daun kering yang ditepikan, serta bunga-bunga yang terurus dengan baik. Setiap pagi, selama setahun setengah, Nyonya Barbara menyambangi rumah Steff untuk sekadar membangunkan Steff dan membantunya menyiapkan sarapan. Setelah itu ia akan kembali ke rumahnya dan tidak akan tampak lagi sampai menjelang tiba waktu makan malam.

Pertemanan Nyonya Barbara dengan keluarga Steff sudah terbangun sejak lama, sedari orang tua Steff baru menikah dan pindah ke desa itu. Sedari saat itu orang tua Steff menjadi satu-satunya teman bagi Nyonya Barbara dan suaminya yang selalu menuduh penduduk desa membenci mereka.

“Karena kita orang Jerman,” begitu biasanya Nyonya Barbara menjawab saat Steff bertanya mengapa penduduk desa membenci mereka.

Hubungan kedua keluarga bertahan dengan baik, bahkan hingga setelah kematian kedua orang tua Steff, lima tahun sebelum kematian Will.

“Barbara kerap membawa kue apel ke rumah,” Steff berucap sambil menerawang ke langit-langit. “Dialah yang menjadi penyebab utama mengapa aku begitu menyukai kue apel.”


JIKA orang-orang membicarakan Nyonya Barbara, maka pastilah mereka membicarakan soal yang buruk-buruk saja. Misalnya tentang Nyonya Barbara yang keras kepala dan selalu merasa paling benar, Nyonya Barbara yang mencampuri urusan orang lain, Nyonya Barbara yang memiliki mulut dipenuhi kata-kata kasar dan setumpuk keburukan lainnya.

“Pasti semua orang mengharapkannya lekas mati,” Steff berkata datar sambil menuang anggur. “Seperti suaminya, lelaki gila yang akan melakukan apa saja untuk menenangkan istrinya.”

Ketenangan Nyonya Barbara memang sangat mudah terusik. Ia dapat tiba-tiba marah hanya karena melihat jendela rumah tetangganya belum dibersihkan. Ia dapat tiba-tiba menangis saat melihat tanaman yang tidak terurus. Bahkan ia pernah tiba-tiba pingsan karena melihat seekor anjing berak di jalan dan membuat Will harus bersusah-payah membunuh anjing itu.

“Aku ingat bagaimana Will berusaha mencari cara membunuh anjing itu. Tentu kami tidak setuju. Tidak. Ayahku sudah berusaha menahan agar ia tidak melakukan tindakan itu. Tapi hal itu hanya membuat Will makin marah,” kata Steff.


KEMATIAN Will sendiri tidak mengubah apa pun, tidak menghentikan Nyonya Barbara terlibat masalah dengan orang lain. Bahkan hanya sehari setelah kematian Will, Nyonya Barbara terlibat perang mulut dengan Nyonya Ariella, seorang perempuan sepuh yang tinggal tak jauh dari rumah Steff. 

Nyonya Barbara mengamuk setelah pagi-pagi mendapati kotoran anjing bercokol di beranda rumahnya. Ia memekik seperti orang gila sebelum Steff berhasil menenangkannya. Tapi entah bagaimana bermula, tiba-tiba Nyonya Barbara seakan kerasukan arwah Will dan langsung berhamburan menuju rumah Nyonya Ariella.

“Barbara merasa dugaan-dugaan dalam pikirannya sudah cukup menjadi bukti,” tutur Steff, “Pertengkaran dengan Ariella tak dapat dihindari.”

“Kalau saja Barbara bisa menggunakan senjata, anjing milik Ariella pasti mati hari itu juga,” Steff berkata sambil menatap Collins yang tampak berusaha menahan kantuk.

“Tapi aku tahu Barbara punya alasan lain atas kemarahannya.”

“Ya. Aku yakin dia sepenuhnya tahu anjing milik Ariella bukan satu-satunya tersangka. Tapi dia membutuhkan alasan untuk menyampaikan kemarahannya. Sudah lama ia ingin mengamuk di depan Ariella. Karena Barbara meyakini Ariella adalah seorang penyihir. Barbara selalu curiga anjing milik Ariella adalah kaki tangan yang digunakan untuk memata-matai dirinya.”

“Barbara mengaku anjing milik Ariella pernah hampir menggigitnya. Dan menurut Barbara, anjing baik-baik tidak akan pernah punya keinginan menyakiti manusia. Saat itu terjadi, Will sudah tidak ada.”


“TUHAN pasti menghukum kalian,” ucap Nyonya Barbara sebelum meninggalkan Collins dan Steff yang masih berusaha mengenakan pakaian.

“Dunia ini sendiri adalah hukuman bagi orang-orang keras kepala,” balas Steff.

Hari itu adalah hari pertama Collins bertemu dengan Nyonya Barbara. Collins sangat kesal kepada perempuan itu, namun ia lebih kesal lagi kepada Steff yang tidak mengatakan apa pun sebelumnya.

Hingga menjelang matahari terbenam, Collins masih saja mengutuki Nyonya Barbara. Meski ia sudah mendengar semua cerita tentang perempuan yang kini tak jelas rimbanya itu, tetap saja ia merasa Nyonya Barbara berutang permintaan maaf kepadanya.

“Memukul bukanlah cara yang baik untuk membangunkan orang dari tidur,” gerutu Collins. “Orang mati pun harusnya memahami itu.”

Kopenhagen, Januari 2018

Budi Afandi, lahir di Dusun Bilatepung, Desa Beleka, Lombok Barat, 20 Juni 1983. Menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang. Menulis novel, cerpen, dan puisi. Menerbitkan kumpulan cerpen Kebaikan Istri pada 2017.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Afandi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 10-11 Februari 2018

0 Response to "Dunia Nyonya Barbara"