Orang-orang Berjalan Lambat | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Orang-orang Berjalan Lambat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:00 Rating: 4,5

Orang-orang Berjalan Lambat

ANGIN yang bertiup di pelabuhan menguarkan aroma kesedihan. Langit sedang mendung dan suasana pelabuhan terlihat temaram. Mereka, puluhan orang yang memikul beban di pundak masing-masing, berjalan sangat lambat menuju dermaga, seakan enggan untuk cepat-cepat sampai di kapal yang tengah bersandar, kapal yang akan membawa mereka ke tanah seberang, kapal yang akan memisahkan mereka dengan segala yang mereka miliki di tanah ini: rumah-rumah yang telah terbakar, sawah-sawah siap panen yang kini harus ditinggalkan, juga seluruh kenangan. Segalanya harus lenyap hanya dalam hitungan jam. 

Tidak ada yang bisa menyangka bahwa peristiwa tadi malam akan mengubah kehidupan mereka secara tiba-tiba. Mereka sedang terlelap ketika puluhan orang berselubung hitam tibatiba datang menjelang dini hari dengan membawa senjata dan obor di tangan. Dalam waktu sekejap, obor yang dibawa puluhan orang berselubung hitam itu telah berpindah ke atas atap beberapa rumah, membakar atap, merembet ke kabel-kabel. Kobaran api terus menjalar hingga rumah-rumah lain yang jaraknya berdekatan satu sama lain itu nyaris terlalap semuanya. Hanya dalam waktu sekejap, hampir seluruh rumah di kampung itu dilalap oleh api. 

Antara sadar dan tidak sadar karena menganggap apa yang terjadi hanyalah mimpi, mereka terlambat untuk menyadari bahaya yang tengah mengancam. Sebelas orang harus mati terpanggang di dalam rumahnya karena tidak sempat menyelamatkan diri, sementara sebagian besar yang selamat hanya bisa menyelamatkan sedikit dari yang mereka miliki. Hingga pagi hari, api yang melalap kampung itu masih terus berkobar, sementara para penghuninya terduduk lemas menatap puingpuing rumah yang terbakar, meratapi yang telah hilang. 

Dan di pelabuhan inilah mereka berdiri sekarang, berjalan sangat lambat menuju dermaga. Memikul sebagian dari harta yang bisa diselamatkan di pundak masingmasing. Para perempuan memikul anak-anaknya yang masih kecil, sementara para laki-laki membawa barang-barang yang berhasil diselamatkan: pakaian, tas-tas berisi aneka barang, alat-alat elektronik, kasur busa, dan semua barang berharga yang masih mungkin untuk dibawa. Baik laki-laki, perempuan, orang tua, anakanak yang berada di pelabuhan itu menunjukkan kemurungan yang hampir serupa, mengenakan pakaian yang dipenuhi dengan noda-noda asap yang berbau gosong dan menyengat. 

* * * 
“IBU, kenapa kita harus pindah?” tanya seorang anak perempuan yang sedang digendong ibunya. Pertanyaan itu tidak terjawab. Sang ibu terus melangkah pelan menuju dermaga. Jika bukan karena bentakan para petugas berseragam yang terus-menerus berteriak agar mereka berjalan lebih cepat, mungkin ia akan lebih memilih ditinggal di pelabuhan ini saja. Anak laki-lakinya menjadi salah satu korban dari peristiwa tadi malam, dan bahkan sebelum ia sempat menyaksikan anaknya dikuburkan, ia dipaksa bergegas meninggalkan kampung halamannya, dengan alasan kondisi sedang tidak aman dan dikhawatirkan akan terjadi serangan susulan jika mereka tidak segera meninggalkan kampung itu. 

Kepada para petugas yang memaksanya naik ke atas truk yang akan membawanya meninggalkan kampung halamannya, ia sempat bertanya, “Kenapa tidak kalian amankan saja orang-orang yang menyerang kami? Kenapa kami yang harus pindah? Seharusnya kalian melindungi kami.” Pertanyaan itu tidak terjawab, kecuali dengan teriakan agar orang-orang segera naik ke atas truk untuk cepat-cepat meninggalkan kampung. Para laki-laki yang mencoba tetap bertahan di kampung mereka justru diseret paksa oleh petugas ke atas truk. Sekeras apapun perlawanan yang mereka lakukan untuk tetap bertahan dengan mudah dikalahkan oleh petugas yang jumlahnya dua kali lipat lebih banyak. 

“Kami akan ikut, tapi tolong jelaskan dulu, kami mau dibawa ke mana?” tanya suami dari perempuan itu ketika mulai menyadari bahwa sia-sia saja terus melakukan perlawanan. 

“Ke tempat aman,” jawab petugas itu singkat, sembari menggiring lelaki itu mendekati truk. Barangbarang yang selamat dari lalapan api dilempar begitu saja oleh para petugas itu ke atas truk. 

“Bagaimana dengan sawah kami yang sudah siap panen?” tanya suami dari perempuan itu lagi, memikirkan sawah yang dirawatnya sejak empat bulan terakhir kini harus ditinggalkannya justru ketika sudah siap dipanen. 

“Keselamatan kalian lebih penting. Di tempat kalian yang baru nanti, kalian juga bisa bercocok tanam.” 

“Apakah kami akan dibawa ke tempat pengungsian yang jauh?” tanya seseorang ketika pintu belakang truk sudah ditutup. Pertanyaan itu lagi-lagi tak menemukan jawaban, hingga akhirnya mereka menyadari bahwa mereka memang akan benar-benar dipindahkan ke tempat yang jauh ketika mereka tiba di pelabuhan. 

* * * 
TRUK yang membawa mereka tiba di pelabuhan menjelang sore. Langit berwarna kelabu, seakan tidak lama lagi bersiap untuk menurunkan hujan. Suasana isak tangis dan teriakan histeris memenuhi pelabuhan ketika mereka turun dari truk. Mereka sadar, mereka akan dibawa ke tempat yang jauh. 

Oleh petugas, mereka langsung diarahkan untuk masuk ke aula yang cukup luas di area pelabuhan, diberi makanan berupa nasi kotak. Tidak lama setelah mereka menuntaskan makanan, para petugas itu langsung menyuruh mereka mengemasi barang-barang yang mereka bawa. Mereka harus segera menuju kapal sebab kapal akan segera diberangkatkan sebelum malam. 

Tanpa melakukan koordinasi, tanpa memberikan informasi yang jelas tentang ke mana mereka akan dibawa pergi, para petugas itu terus berteriak agar mereka berkemas dengan cepat dan menggiring mereka menuju sebuah kapal yang sedang bersandar di dermaga. Maka dengan langkah sangat lambat seakan dibanduli beban yang teramat berat, mereka berjalan bergerombol menuju kapal, saling memendam ribuan pertanyaan dalam benak masing-masing. Langkah mereka terlihat lunglai karena masih terkejut dan nyaris tak percaya dengan peristiwa penyerangan tadi malam, juga tersebab keraguan apakah di tanah baru nanti akan benar-benar aman, atau justru lebih berbahaya bagi keselamatan mereka. 

Jarak dari aula menuju dermaga di pelabuhan itu seakan-akan merupakan jarak terjauh yang mereka tempuh seumur hidup, jarak yang akan memisahkan mereka dengan kehidupan di masa lalu, memisahkan mereka dengan kampung, rumah, dan sawah yang mereka miliki. Di tanah seberang nanti, mereka akan memulai kehidupan baru yang mungkin lebih baik, atau justru sebaliknya. Tidak ada yang bisa memastikan, sebab kini segala keputusan tentang hidup mereka nanti bukan berada di tangan mereka sendiri. 

“Ibu, kenapa kita harus pindah?” tanya anak perempuan yang sedang digendong ibunya itu, sementara sang ibu tak bergeming, terus melangkah pelan dan ragu. Sesekali ia mempercepat langkahnya jika terdengar teriakan dari petugas yang memaksa mereka untuk bergegas. 

“Apakah di sana juga ada sekolah?” tanya anak perempuan itu lagi. Sang ibu lagi-lagi tak menjawab. Sementara sang ayah berjalan di belakang mereka, memikul dua buah tas dan kasur busa yang selamat dari lalapan api. Dibawanya barang-barang itu dengan hati-hati sebab hanya itulah benda berharga yang mereka miliki kini. 

Gerimis mulai turun ketika beberapa orang di antara mereka mulai naik ke atas kapal. Para petugas yang semula berteriak menyuruh mereka untuk mempercepat langkah kini berlari bergegas menuju kapal untuk mencari tempat berteduh. Sementara, mereka yang memikul berbagai beban di pundaknya tidak juga mempercepat langkahnya meski gerimis yang turun menampakkan tanda-tanda akan semakin deras. 

“Ibu, aku sudah berdoa semoga kita punya rumah yang lebih bagus di tempat yang baru nanti,” ucap anak perempuan itu. Sang ibu terkejut ketika anak yang sedang berada dalam gendongannya itu berkata demikian. 

“Jangan lagi berdoa, Nak. Mereka menyerang kita hanya karena cara kita berdoa berbeda dengan mereka,” ucap sang ibu, sembari terus berjalan pelan-pelan seakan tidak mempedulikan gerimis yang turun, seakan tidak ingin segera sampai di kapal yang akan membawa mereka ke kehidupan yang baru di tanah asing, yang ia sendiri tidak pernah tahu di mana letaknya. 

Gubug, Januari 2018. 

Badrul Munir Chair merupakan lulusan pascasarjana Ilmu Filsafat UGM. Buku-bukunya yang sudah terbit, antara lain novel Kalompang (2014) dan kumpulan puisi Dunia yang Kita Kenal (2016). Saat ini ia bekerja sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi Islam di Semarang.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Badrul Munir Chair
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu, 4 Februari 2018

0 Response to "Orang-orang Berjalan Lambat"