Perjalanan Menuju Mars - Kota yang Kehilangan Salak Anjing dan Suara Jangkrik di Jantung Malam | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perjalanan Menuju Mars - Kota yang Kehilangan Salak Anjing dan Suara Jangkrik di Jantung Malam Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:30 Rating: 4,5

Perjalanan Menuju Mars - Kota yang Kehilangan Salak Anjing dan Suara Jangkrik di Jantung Malam

Perjalanan Menuju Mars

Pada langit matamu
Kulihat sebuah kota dibangun
Di planet merah yang murung

Aku melayang
Kutinggalkan rahim yang melahirkanku
Kutinggalkan putih awan
Kutembus gelap dan hampa
Kupijak kerlip bintang

Bumi biru menjauh
Gugusan pulau-pulau
Gedung-gedung pencakar langit
Mobil-mobil tercepat
Dan ponsel-ponsel terbaru
Bagian dari tubuhmu
Dunia kecil
Yang merenggut dan mengirim sinyal
Pada pikiranmu
Menjauh

Dunia maya yang dibangun
Dalam dunia nyata menjauh
Suara-suara bising penduduk Bumi
Mengucap salam terakhir
Bayang wajah seorang ibu
Bayang wajah seorang bocah
Silih berganti dalam kitab kenangan
Yang terbuka dan tertiup angin nasib
Berpisah adalah melepas dan
Mencintai dari kejauhan
Detik-detik bergeser
Pada jam yang mengikat nadimu
Segala peristiwa
Jadi tugu yang dipahat
Dalam goa ingatan

Duka ini milik siapa
Keheningan ini milik siapa
Kedalamannya mengubur degup jantungku
Dingin dan kelam
Merapat pada kuil jiwa
Tubuh yang mengembara
Mencari surga lain, menghindari neraka
Peperangan, penyakit, dan bencana
Menyeret jantung kita dalam kemusnahan
Namun kita hanya bergerak
Dari sunyi ke sunyi yang lain
Dari lembar khayali semata

Di keluasan ini
Kulihat masa kanakku
Bermain layang
Dalam terik
Bermain lumpur dalam hujan
Aku terbangun
Dari mimpi waktu

Di sini segalanya
Mengambang dalam hampa
Tak ada gema seperti di gunung-gunung
Tak ada jerit klakson
Dari sebuah kendaraan
Tak ada angin berembus
Tak ada cuaca
Tak ada udara
Aku rindu gemericik hujan
Yang membenturkan dirinya
Pada atap rumah ingatanku
Aku rindu pada tangis anakku
Pada senyum dan tawa istriku

Waktu perlahan menjauh
Setiap detak dari detiknya
Menekan jantung kesunyian
Betapa tipisnya selaput
Hidup dan mati
Ajal di segala penjuru
Mengintai
Hidup terkurung
Dalam pesawat angkasa
Kerlip bintang itu
Seperti mata perempuan jelita
Yang menggoda lelaki datang
Ke peluknya

Namun dalam setiap keindahan
Tersembunyi kematian
Di keluasan angkasa ini Tak ada yang lebih indah
Dari keheningan yang syahdu
Betapa aku sebutir pasir
Melayang
Dalam nafas Tuhan
Aku bergurau dengan-Nya
Tuhan yang bergurau dengan nasibku
Aku tersesat dalam pertanyaan-pertanyaan hening
Tuhan dalam bangunan
Apakah sama dengan Tuhan dalam dada?
Aku belum juga sampai
Namun pikiranku telah tiba
Barangkali planet merah itu
Adalah tanah yang dijanjikan
Dalam kitab rahasia-Nya.

Kota yang Kehilangan Salak Anjing dan Suara Jangkrik di Jantung Malam

1.
Di lengan jalan, kusaksikan
Masa depan kota ini
Didirikan dari mal-mal dan hotel-hotel
Serta kendaraan-kendaraan yang padat
Seperti kata-kata memenuhi buku-buku
Yang menyesaki rak-rak pikiranmu
Mobil-mobil merangkak di jalan
Waktu mengalir, tak ada yang mampu
Membendung lajunya
Langit mendekatkan matahari pada kita
Panasnya bergolak di punggung aspal
Membakar peluhmu.

2.
Kota ini seperti sebuah akuarium
Yang diisi ikan-ikan raksasa
Kota ini terlampau kecil
Bagi sebuah mal atau hotel
Atau bagi gerutu kita pada jam-jam kerja
Sementara sepeda-sepeda ontel meninggalkan kita
Mereka bergerak menuju masa lalu
Meninggalkan jalanan sesak
Meninggalkan matahari
Terbenam
Di balik punggung hotel.

3.
Di jantung malam
Tak kudengar lagi salak anjing
Atau suara jangkrik
Menembus nadi keheningan
Tanah ini perlalian kehilangan sunyi hutannya
Yang wingit
Aku ingin pulang ke candi-candi
Yang dibangun para pendahulu
Atau ke ritual-ritual di pegunungan
Demi menemu waktu
Seirama hati dan pikiran.

4.
Aku ingin pulang ke suatu zaman
Sebelum penjuru kota dikerubungi peminta-minta
Karena setiap orang tercukupi
Dengan penghidupan sehari-hari
Sebelum detik-detik dari sebuah jam
Mengalirkan keramaian yang lain
Sebelum waktu mencipta lebih banyak
Kemacetan dan mendirikan gedung-gedung
Yang lampu-lampunya
Perlahan menyingkirkan kerlip bintang
Dari jangkauan pandang kita.

Yogyakarta, 2017



Irwan Segara lahir di Malingping, Lebak, Banten, 17 April 1989. Puisinya termuat dalam beberapa antologi bersama, antara lain Baku Nasib (2016) dan Kavaleri Malam Hari (2017).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irwan Segara
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 3 Februari 2018

0 Response to "Perjalanan Menuju Mars - Kota yang Kehilangan Salak Anjing dan Suara Jangkrik di Jantung Malam"