Seorang Lelaki Tidak Mati Dua Kali | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Seorang Lelaki Tidak Mati Dua Kali Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Seorang Lelaki Tidak Mati Dua Kali

SEPERTI hewan yang dituntun oleh naluri gelap, seorang lelaki pergi meninggalkan rumah, bertemu di jalan dengan seorang gadis dan mengikutinya, dan tak pernah lagi menemukan jalan pulang: ia disesatkan oleh waktu. Anda tahu waktu adalah pengkhianat paling bengis, penjahat tak tertundukkan yang menyiksa kita pelanpelan, menggerogoti kita sedikit demi sedikit, membuat kita tidur lelap pada suatu malam dan bangun sepuluh tahun kemudian, dan nanti, pada saat kita sudah kepayahan, ia akan mengirimkan pukulan terakhir yang membuat kita tidak sanggup bangkit lagi selamanya.

Saya mendapatkan cerita tentang lelaki yang disesatkan waktu ini dari Hartanto Ramelan, kawan lama yang saya kagumi kesukaannya berpuasa. Ia jujur dan melarat dan sejak kecil hidup hanya berdua dengan ibunya, seorang penjual ikan asap, di rumah kecil dekat tempat pemakaman. Pernah juga mereka hidup bertiga di rumah itu ketika Hartanto Ramelan menikah, tetapi hanya setahun. Setelah itu mereka hidup berdua lagi dan sekarang ibunya hidup sendiri. Tri Rahayu, ketua kelas kami dulu, memberi kabar tiga bulan lalu bahwa Hartanto Ramelan meninggal dunia. ’’Senin kemarin,” katanya.

Saya benci hari Senin.

Belum lama Hartanto Ramelan menelepon saya dan mengatakan, ’’Aku sering membaca tulisan-tulisanmu,” dankemudianmenanyakanbagaimana cara mengirim cerita pendek untuk Jawa Pos. Saya berikan kepadanya alamat email redaktur koran tersebut dan kepada si redaktur saya katakan: ’’Minggu lalu saya memberikan alamat emailmu kepada teman saya. Apakah ia sudah mengirimkan cerpennya?” Redaktur menjawab belum.

’’Ia bisa menulis bagus,” saya meyakinkan si redaktur. ’’Di blognya ia banyak menulis cerita-cerita aneh.’’

Sampai Hartanto Ramelan meninggal, si redaktur tidak pernah menerima kiriman cerita pendek darinya. Menurut Tri Rahayu, Hartanto Ramelan meninggal setelah demam tinggi beberapa hari dan sering meracau. ’’Mungkin demam berdarah,” kata Tri Rahayu, ’’tetapi ibunya mengira ia kerasukan.” Saya tidak ikut mengantar jenazahnya ke tempat pemakaman. Pada hari ia meninggal dunia, saya sudah tiga puluh tahun meninggalkan Semarang.

Cerita tentang lelaki yang disesatkan waktu ini adalah tulisan pertama di blog ramelan2325.com. Ia bukan cerita terbaik di blog itu, tetapi menurut saya paling aneh. Karangan terakhirnya, bertanggal 13 Oktober atau sebulan sebelum Hartanto Ramelan berpindah tempat tinggal dari rumah kecil di dekat kuburan ke liang tanah di dekat rumah kecilnya, sebetulnya ditulis dengan mutu yang jauh lebih baik dan masih bercerita soal waktu, tema yang tampaknya paling ia sukai, namun cerita pertama bagi saya lebih menarik.

Saya menampilkannya dalam tulisan ini karena saya sendiri ingin melihat setidaknya ada satu tulisan Hartanto Ramelan yang muncul di koran. Saya tahu ia suka menulis, selain suka berpuasa, dan kami dulu sering datang berdua ke acara-acara pembacaan puisi di Semarang, duduk di pojok ruangan, mengagumi orang-orang gondrong yang berdiri di panggung, takjub pada gerak tubuh mereka yang seperti gelombang, terpukau pada kalimat-kalimat mereka yang tidak kami mengerti.

Inilah cerita pertama di blog Hartanto Ramelan, yang ia nyatakan sebagai kisah nyata:

Lelaki itu pergi pada Sabtu sore ke tempat ia biasa bertemu teman-temannya, sebuah rumah kayu di tepi sungai, beberapa puluh meter dari jembatan besi yang bulan lalu digunakan oleh seorang pelajar hamil untuk menceburkan diri ke air keruh dan mayatnya ditemukan dua hari berikutnya di belakang kios tukang cukur, tersangkut akar pohon yang menjulur dari tebing bersama sampah-sampah. Di rumah tepi sungai itu semua temannya sudah menunggu, tetapi lelaki itu tidak pernah tiba di tempat teman-temannya menunggu. Ia juga tidak pernah kembali ke rumahnya.

Istrinya sedang telungkup di ranjang memegangi ponsel dengan khusyuk seperti orang beribadah ketika lelaki itu berpamitan. ’’Aku ke rumah Mujiono,” katanya. Perempuan itu seperti tidak mendengar apa-apa. Sebetulnya ia tidak peduli suaminya hendak ke mana.

Pada sepuluh tahun pertama mereka berumah tangga, perempuan itu selalu cemas setiap kali suaminya pergi keluar rumah pada waktu-waktu senggang, entah ke rumah teman atau ke kedai kopi atau ke tempat mana pun yang ia sebutkan, sebab lelaki itu mudah jatuh cinta. Tepatnya, Ratih meyakini bahwa suaminya adalah lelaki mata keranjang yang akan lekas jatuh cinta kepada sembarang perempuan yang mau meladeninya bercakap-cakap. Ia kokoh dengan keyakinannya dan itu membuat suaminya suatu hari meledak: ’’Kenapa kau tak pernah mempercayaiku?” 

Perempuan itu, tanpa rasa gentar sedikit pun oleh bentakan suaminya, menanggapi ledakan dengan enteng: ’’Kurasa kau pun tidak akan sanggup mempercayai dirimu sendiri.’’

Empat kali mereka hampir bercerai dan pada pertengkaran terakhir perempuan itu mengadu kepada ayahnya, ’’Bajingan itu berkali-kali mengkhianatiku, berkali-kali minta maaf, dan berkali-kali pula mengulangi perbuatannya. Aku tidak sanggup lagi memaafkan.” 

Ayahnya menggumam:

’’Lupakan dia, jika kau tak sanggup memaafkannya.’’

Sekarang, setelah dua puluh tahun lebih berumah tangga, Ratih tetap tidak sanggup memaafkan suaminya dan tidak bisa juga melupakannya. Yang bisa ia lakukan hanya tidak memedulikan segala tingkah polah suaminya. Kalaupun lelaki itu berniat jatuh cinta setiap hari, kepada perempuan lajang atau bersuami, ia mau tutup mata saja dan tidak ingin memikirkannya. Dan ia sudah membuat keputusan tegas: Seburukburuknya urusan di dunia ini adalah bertengkar setiap hari dengan bongkahan batu. Tidak ada yang bisa dilakukan terhadap sebongkah batu kecuali menghantamnya dengan martil hingga pecah berkeping-keping, tetapi ia tidak melakukannya. Mereka sudah sama-sama tua dan memiliki anak-anak; menghancurkan bongkahan batu tua itu sama artinya dengan menghancurkan rumah tangga mereka sendiri.

Perempuan itu memilih jalan tenteram: dalam dua tahun terakhir ia rajin melakukan tindakan-tindakan penambah pahala, ialah mencari kutipan dari kitab suci dan menyiarkannya lagi melalui segala saluran yang ada di ponselnya. Ia pikir lebih baik mempersiapkan diri untuk masa depan yang mulia di akhirat nanti ketimbang mengurusi batu tua yang sudah jelas akan menggelinding ke neraka.

Suaminya juga merasa lebih tenteram setelah istrinya tidak lagi cemas dan berpikir bahwa perempuan itu sudah bisa memahaminya. Hanya satu kali ia mencoba mengingatkan istrinya agar jangan terlalu sering berdakwah.

’’Mungkin teman-temanmu bisa merasa terganggu jika tiap hari kau berkhotbah,” katanya.

’’Tak ada yang akan terganggu,” sahut istrinya. ’’Teman-temanku bukan iblis.” 

’’Ya, tapi mereka juga bukan idiot.” 

’’Kau urus jalanmu sendiri, aku dengan jalanku sendiri.’’

Lelaki itu merasa istrinya cantik sekali saat menyampaikan kalimat tersebut dan ia tidak memiliki keberatan sama sekali untuk menyepakati usulannya agar mereka mengurus jalan masing-masing. Tidak ada sulitnya membiarkan perempuan itu beribadah dengan ponselnya.

Begitulah cara badai reda. Langit biru di luar sana. Sesungguhnya tidak, tetapi lelaki itu merasa di luar sana langit berwarna biru jernih dan angin bertiup sejuk dan pikirannya terang benderang. Ia merasa mendapatkan izin dari istrinya.

Pada Sabtu sore saat lelaki itu menghidupkan motor setelah mengatakan kepada istrinya hendak pergi ke rumah Mujiono, salah seorang temannya mengirimkan pesan singkat: ’’Tolong mampir ke warung, rokokku tertinggal di rumah.” Itu pesan singkat yang menyebabkan ia berbelok arah selamanya.

Lelaki itu memang mampir ke warung di dekat rumah biliar untuk membeli rokok yang dipesan temannya, tetapi dari warung itu ia melanjutkan perjalanannya ke arah lain. Ada seorang perempuan melintas di trotoar depan warung, wajahnya cemerlang dan perawakannya seramping Ratih bertahun-tahun lalu sebelum istrinya itu melahirkan anak-anak dan menjadikan diri sebesar beringin. Lelaki itu terpukau melihat wajah yang cemerlang dan ingin sekali menyentuh tahi lalat di pelupuk mata kiri perempuan itu. Ia merasa akan sedih sepanjang hidup jika tidak bisa menyentuh tahi lalat itu.

Perempuan itu menyeberang jalan, melangkah di antara orang-orang yang melangkah menuju gereja dan kemudian masuk ke gereja bersama-sama mereka; lelaki itu masuk ke warung dekat gereja, memesan kopi, dan duduk di kursi dekat jendela yang menghadap gereja. Sebetulnya ia ingin ikut masuk ke gereja dan duduk di samping perempuan itu, tetapi ia belum pernah masuk ke gereja dan tidak tahu tata cara peribadatan di dalamnya. Ia masih bertahan duduk di warung sampai orang-orang keluar dari gereja pada pukul tujuh malam. Perempuan itu keluar agak belakangan setelah orang-orang sepi; mungkin ia jemaat yang taat, atau mungkin ia melakukan sakramen pengakuan dosa setelah misa berakhir.

Dari gereja, perempuan itu berjalan dengan langkah riang menuju salon di samping toko swalayan, tetapi tidak lama di sana; ia hanya terlihat bercakap-cakap dengan seseorang di salon itu dan sebentar kemudian keluar lagi dan masuk ke toko swalayan di samping salon. Lelaki itu masuk juga ke toko swalayan, melihat-lihat makanan dan minuman di rak, sesekali mengambil sesuatu dari rak-rak itu, melihat harganya dan mengembalikannya lagi ke tempat semula. Ia berbuat seolah-olah hendak berbelanja, tetapi matanya tiap saat memperhatikan perempuan itu. Akhirnya mereka berdiri bersebelahan di depan lemari pendingin, sebab lelaki itu sengaja mendekatinya saat perempuan itu melihat-lihat minuman yang ada di lemari pendingin.

Dengan gerak cekatan, tangan kecil perempuan itu mengambil beberapa botol minuman dari lemari pendingin dan memasukkannya ke kereta belanjaan yang sudah hampir penuh dengan kue-kue, kaleng biskuit, apel, anggur, pisang, dan kertas tissue.

’’Belanjaan Anda banyak sekali,” katanya kepada perempuan itu.

’’Ya,” kata perempuan itu, ’’sebab Anda hendak bertamu ke rumah saya.’’

Gadis budiman! Ia cantik dan pandai berkelakar. Lelaki itu tersenyum menanggapi kelakar si gadis. O, semoga semua dosanya diampuni jika ia tadi masuk ke gereja untuk melakukan sakramen pengakuan dosa. Ia benarbenar gadis budiman yang tahu bagaimana menjadikan urusan lebih mudah bagi lelaki yang dengan penuh kesabaran mengikuti gerakgeriknya sejak mereka berpapasan di depan rumah biliar. Gadis itu tidak membuat jarak atau menjadikan dirinya sulit didekati.

’’Astaga! Saya hampir lupa kalau hari ini ada janji datang ke rumah Anda,” kata lelaki itu.

’’Mestinya besok,’’ kata gadis itu, ’’tetapi hari ini pun tidak apa-apa.”

’’Terima kasih,” kata lelaki itu. ’’Saya benar-benar pelupa.’’

Mereka keluar dari toko swalayan bersama-sama. Ia membawakan barangbarang belanjaan dan mereka kemudian berboncengan mengikuti arah yang ditunjukkan oleh perempuan itu, menempuh ruas-ruas jalan dan banyak tikungan yang tidak ia kenali, dan pada pukul sepuluh mereka sampai.

’’Untung kita bertemu,” kata lelaki itu. ’’Jika datang sendiri besok, aku mungkin tidak bisa menemukan rumahmu.’’

Seorang anak perempuan membukakan pintu ketika perempuan itu mengetuk pintu depan rumahnya.
’’Kau bilang akan membawa dia kemari besok, Mama,” kata si anak.

’’Dia ingin malam ini juga,” kata mamanya.

Lelaki itu tidak menyangka si perempuan sudah mempunyai anak. Ia pikir masih lajang. Lalu kepada si anak ia mengatakan: ’’Aku lupa jika harusnya besok, anak cantik. Kebetulan kami bertemu di supermarket, aku langsung kemari saja sekalian mengantar mamamu.”

’’Dia memanggilku anak cantik, Mama, sama seperti dia dulu memanggilmu. Kurasa kau benar, dia betul-betul mata keranjang.’’

’’Ya,” kata mamanya, ’’tetapi kau tidak boleh bicara seperti itu.”

Situasi tiba-tiba terasa aneh dan lelaki itu menjadi kikuk dan tegang oleh percakapan yang didengarnya. Ia merasa baru sekali itu bertemu mereka, tetapi anak kecil itu menyampaikan sesuatu seolah-olah ia dan mamanya sudah pernah bertemu.

’’Lihat, Mama, dia kelihatan seperti orang tolol. Mungkin dia memang tolol.’’

’’Kau harus belajar sopan, anak cantik,” kata mamanya. ’’Kita belum mempersilakannya duduk, belum menyuguhi apa pun, kau sudah bicara seperti itu.’’

Anak perempuan itu, usianya sembilan tahun, mengamati lelaki di hadapannya dengan tatapan yang membuat si lelaki menunduk. Anak itu juga memiliki wajah cemerlang dan tahi lalat di pelupuk mata kiri, persis seperti ibunya, namun mulutnya membuat lelaki itu merasa pedih. Setelah beberapa saat mengamati, si anak berkata lagi dengan nada bersungut-sungut menanggapi ucapan ibunya: ’’Tapi dia memang terlihat tolol. Katamu dia pengarang. Sepertinya sulit dipercaya bahwa dia pengarang. Mukanya terlihat tolol.”

Ibunya meminta anak itu membawa masuk barang-barang belanjaan dan mempersilakan si lelaki duduk di ruang tamu. ’’Tolong buatkan sirup untuk tamu kita, anak cantik,” katanya kepada si anak. Kepada tamunya ia meminta maaf: Anak saya seperti itu, ia selalu berbicara apa adanya. 

’’Tidak apa-apa,” kata lelaki itu, ’’Ia masih anak-anak.”

Ruang tamu berdinding putih tanpa hiasan sama sekali dan tidak ada tanda-tanda bahwa di rumah itu ada orang lain selain perempuan itu dan anaknya. Dan, seperti bisa membaca apa yang ada di dalam batok kepala tamunya, perempuan itu mengatakan bahwa mereka hanya berdua di rumah itu. 

’’Ayahnya seorang bajingan,” katanya. ’’Ia memacariku dan membuatku hamil dan kemudian lari dari tanggung jawab. Sekarang anakku menjadi kasar, kau sudah melihatnya sendiri. Ia benci sekali pada bajingan itu dan pernah mengatakan, ’Aku akan meracunnya kalau ketemu dia.’ Aku tak bisa melarangnya jika ia melakukan itu.”

’’Saya sedih mendengarnya,” kata lelaki itu.

’’Oya?” kata perempuan itu. ’’Kau tidak kelihatan bersedih.’’

Lelaki itu merasa pikirannya mulai buntu,tetapi ia masih mencoba melanjutkan percakapan dengan kalimat yang terdengar seperti pernyataan sikap:

’’Saya bukan orang yang terlalu baik, tetapi saya bisa merasakan kesedihan Anda.”

’’Orang baik,” kata perempuan itu. ’’Aku tahu kau orang yang sangat baik. Jika kita bertemu sepuluh tahun lalu, aku pasti jatuh cinta kepadamu; dan jika aku hamil karena hubungan kita, kau pasti tidak akan lari meninggalkanku.”

Sekarang buntu sama sekali. Lelaki itu tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk mengembalikan kegembiraan yang ia rasakan kali pertama saat melihat perempuan itu berjalan di trotoar dan kemudian memboncengkannya pulang ke rumah. Sekarang ia bahkan tidak berani mengangkat wajah. Ia tahu perempuan di depannya memiliki tahi lalat di pelupuk mata kiri dan beberapa saat lalu ia ingin menyentuh tahi lalat itu, tetapi keinginan itu sudah tak ada lagi. Yang ia pikirkan saat itu hanya pamit dan keluar secepatnya dari rumah itu dan lagi-lagi perempuan itu seperti bisa membaca apa yang ia pikirkan: ’’Kau tidak bahagia dengan pertemuan malam ini?’’

’’Saya senang sekali,” kata lelaki itu. 

’’Kau tidak kelihatan senang,” kata perempuan itu. ’’Kau bahkan tidak bertanya apakah boleh menyentuh tahi lalat di pelupukku. Seharusnya kau senang, anakku ingin sekali bertemu denganmu. Tadi, sebelum aku keluar, kusampaikan kepadanya bahwa besok aku akan membawamu kemari. Rupanya kita bertemu hari ini.”

Anak perempuan itu keluar lagi membawa nampan berisi tatakan dan segelas minuman sirup. Ia meletakkan nampan di meja tamu, lalu mengambil tatakan dari nampan dan meletakkannya di meja, lalu meletakkan gelas sirup di atas tatakan. ’’Minumlah, Pengarang,” katanya. ’’Kau perlu minum sirup agar tampak lebih cerdas.”

’’Minumlah dan jangan pedulikan kata-katanya,” kata perempuan itu. ’’Hanya ucapan anak-anak.”

Lelaki itu meminumnya dan berpikir akan mengosongkan gelas dalam sekali teguk dan langsung pamit, tetapi tiba-tiba ia merasa mengantuk sehabis minum.

’’Tidurlah, anakku sudah menyiapkan kamar untukmu,” kata perempuan itu.

Ia menuntun lelaki itu ke kamar tidur dan merebahkannya di ranjang. Besok paginya, saat bangun tidur, lelaki itu mendapati dirinya berada di tepi sungai dan melihat tubuhnya mengapung di permukaan air keruh di belakang kios tukang cukur, tersangkut akar pohon yang menjulur dari tebing bersama sampah-sampah. Di tempat itu, sepuluh tahun lalu, seorang pelajar hamil ditemukan mati dalam cara yang sama mengenaskan. Gadis itu memiliki tahi lalat di pelupuk mata kiri dan seorang penulis memperhatikan tahi lalat di pelupuk mata gadis itu. Pada pertemuan pertama mereka, setelah diskusi buku dengan pembicara seorang penyair dari Madiun, si gadis mengatakan, ’’Saya selalu membaca tulisan-tulisan Anda,” dan si penulis menanyakan: Boleh aku menyentuh tahi lalat di pelupukmu, anak cantik?

Gadis itu tidak menjawab pertanyaan dan lelaki itu tahu apa artinya. Dengan ujung telunjuknya ia menyentuh tahi lalat, dan lain-lain, dan beberapa bulan kemudian gadis itu bersama janin di rahimnya meloncat dari jembatan besi.

Cerita berakhir di situ, namun masih ada yang saya ingin tahu lebih jelas mengenai lelaki di dalam cerita itu. Saya menelepon Tri Rahayu untuk menanyakan apakah ia kenal lelaki pengarang yang diceritakan oleh Hartanto Ramelan. Saya curiga itu cerita tentang saya. Tidak ada orang lain di antara kami satu kelas yang suka menulis kecuali saya dan Hartanto Ramelan.

Berkali-kali saya meneleponnya dan Tri Rahayu tidak pernah mengangkat panggilan telepon saya. Ketika akhirnya mau mengangkat, ia mengatakan: ’’Bukan kamu!”

’’Pasti itu aku,” kata saya. Tiba-tiba saya membenci Hartanto Ramelan. Ia teman lama yang saya kagumi kejujuran dan kesukaannya berpuasa, tetapi ia tega menulis seperti itu tentang saya. Jika saya ada di Semarang, pasti sekarang juga saya bongkar kuburannya dan saya obrak-abrik tulang belulangnya. Sekiranya tidak mungkin membongkar kuburannya, setidaknya saya akan berak atau kencing di sana.

’’Kau mau menunjukkan kuburannya jika aku pulang ke Semarang, Tri?” tanya saya.

’’Hartanto Ramelan masih hidup,” kata Tri Rahayu.

’’Kau sendiri yang waktu itu memberi tahu aku ia meninggal.”

Tri Rahayu mengatakan tidak pernah menelepon saya. Saya menyebutkan secara rinci bahwa ia menelepon saya Rabu malam dan mengabarkan Hartanto Ramelan meninggal hari Senin kemarin dan ia tetap mengatakan tidak pernah menelepon.

’’Tapi itu cerita tentang aku, kan?” tanya saya.

’’Aku tidak tahu,” katanya.

’’Kau bisa menjawab jujur, Tri?” 

’’Ya.”

’’Lelaki itu aku.”

’’Ya.”

’’Jadi, aku sekarang sudah mati--.” Ia menjawab pelan:

’’Ya.”

Dengan perasaan pedih saya mengakhiri pembicaraan dan pergi pada tengah malam ke jembatan besi, meloncat ke air keruh di bawah sana seperti yang pernah dilakukan oleh gadis itu sepuluh tahun lalu, tetapi saya sudah tidak bisa mati lagi. Saya masih hidup hingga sekarang, duduk di bawah pohon di tebing sungai belakang kios tukang cukur, menunggu gadis itu muncul lagi di sana. Saya akan meminta maaf kepadanya dan memohon agar diizinkan menyentuh tahi lalat di pelupuk matanya. ***

A.S. Laksana, pengarang kelahiran Semarang. Sekarang tinggal di Jakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya A.S. Laksana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 4 Februari 2018

0 Response to "Seorang Lelaki Tidak Mati Dua Kali"