Jogja tanpa Batas - Merelung dalam Doa - Terbitlah Laksana Surga - Terabaikan - Rasa yang Pernah Ada - Rindu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Jogja tanpa Batas - Merelung dalam Doa - Terbitlah Laksana Surga - Terabaikan - Rasa yang Pernah Ada - Rindu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Jogja tanpa Batas - Merelung dalam Doa - Terbitlah Laksana Surga - Terabaikan - Rasa yang Pernah Ada - Rindu

Jogja tanpa Batas

Kenanganku terpukau dalam ingatan
Ini bukan sekadar lagu sayonara
Mungkin ini menyesak di dada
Namun Jogja tak pernah tinggal kenangan

Lagi....lagi......dan lagi
Keinginan yang tiada henti
Batas pun terlewati
Kuraih harapan yang pergi
Bagaikan asap yang mengepul
Telah berada dalam genggamanku

Diriku kini menyendiri
Hidup penuh dengan beban
Tepat di hadapan segilintir manusia
Melihatku penuh iba
Bersandar lemas tiada daya
Hingga kepala meremas pikiran
Tanpa sehelai tutur bahasa
Ku pendam rasa
Dalam lubuk hati yang peka
Hanya mengharapkan dengan doa

Merelung dalam Doa

Ku panjatkan larik demi bait dalam doa
seperti mengantri diberi tiket surga
mulailah berebutan mendekat kepada Sang Pencipta
bila mungkin kehendak Tuhan berkata
dan ini adalah bukti nyata
akan selalu ku laksanakan tanpa bertanya
jikalau jawaban kali ini ditunda
dan Tuhan tidak meridhoinya
maka pasrah adalah pilihannya

Keheningan malam ini berbeda
membuat alam merana
tak ada yang dapat membuat cerita
tentang diriku menunggu jeritan Sang Pencipta
sudahlah mungkin ini belum waktunya
mungkin masih disimpan dalam kantung harapan
manusia
suatu saat ku berharap ketika masa pengundian itu
tiba
ada namaku yang terbaca

Terbitlah Laksana Surga

Gulita malam penuh renungan
Menghadirkan kesunyian
Jangkrik pun mulai berdatangan
Teman setia malam mingguan
Hidup penuh rintangan
Namun takkan kubiarkan
Dia mengusik ketenangan

Sang alam menjadi bimbang
Akan kepastian yang datang
Kapan kamu kembali pulang
Dalam pangkuan petang
Untuk merangsang
Kehidupan tanpa gesang

Tunggulah diriku di sana…..

Seakan bila tak bertemu di tempat yang nyata
Setidaknya harapan surga
Menanti kita di tempat yang sama
Jangan murung dengan lama
Karena kebahagian datang tak percuma
Lasksana itu akan terbit bersama-sama
Mengikuti arusnya masa


Terabaikan

Langit yang mendung
ak pernah memperlihatkan senyumannya
karena hatinya selalu dipenuhi rasa keangkuhan
pernahkah merasa tenteram?
tidak, dia selalu dalam keterpurukan meskipun dia
mengatakan bahwa aku baik-baik saja,
terang boleh saja tetapi dunia suram mu terlihat
katakan!
katakanlah padaku jangan merasa bahwa diriku
bukan temanmu
bila kau malu berbicaralah kepada Tuhanmu dengan
bahasa hatimu
jangan pernah merasa terabaikan
jangan pernah merasa kau sendiri
di sini ada diriku yang menanti kamu datang
kepadaku
dan Tuhanmu yg selalu memperhatikanmu

Rasa yang Pernah Ada

Sendiri dalam keheningan
Mau menyapa tapi takut kehilangan
merasa ingin membujuk dirinya
Namun itu hanya sebuah bayangan semata

Tak tahu harus bagaimana?
Setidaknya diriku pernah menyukainya
Apakah itu salah?
Mungkin ini lah balasan Tuhan padaku untuknya
Memilihnya bukan lah satu kebahagian
Karena pilihan-nya selalu benar dalam kebenaran

Untukmu yang masih dalam rahasia Tuhan tetaplah
dalam keteguhan
Untukmu yang masih dalam rahasia Tuhan tetaplah
pada keinginan-Nya

Walau tak mungkin dipersatukan dalam kenyataan
Kelak ada yang menyambut kita dengan kebahagian
Walau tak mungkin dipersatukan dalam kenyataan
Setidaknya kita pernah bertemu untuk diperlihatkan
Nestapa menjadi hilang
Menyapa dalam kerinduan
Semesta menjadi kesaksian
Tertinggallah senyuman kita di hadapan Tuhan

Rindu

Diriku selalu lupa dengan instan yang ada
Namun diriku selalu ingat dengan yang pernah dibuat
dengan nyata
Bukan tentang sebarik lembaran lama
Ini sungguh buat diriku pusing kepala

Bahagia sebisanya,
Menangis secukupnya
Merenung tanpa jeda
Bersyukur selalu ada

Tuhan, mengapa rindu itu selalu ada
Padahal diriku berusaha, melupakannya
Apakah ini karma?
Atau sebuah dongeng cerita

Berat rasanya
Seberat menghilang dalam dunia nyata tanpa
kehendak-Nya
Ku harap dia mendengarkan cerita
Bahwa diriku pernah menyukainya
Walau sebatas hati dalam kebatinan
Bukan hujan yang penuh keromantisan
Tanpa beban kehidupan


Anisa Wardatul Janah, beberapa kali menjadi juara dalam penulisan puisi dan esai di Kabupaten Kulonprogo dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Karya puisinya telah dibukukan dalam antologi puisi berjudul Anak-Anak Bukit Menoreh (2015) yang diterbitkan Bengkel Bahasa dan Sastra Indonesia, serta Sandiwara Toleransi (2017). Penulis juga aktif dalam menyebarkan gagasan damai melalui media film.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anisa Wardatul Janah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 25 Maret 2018

0 Response to "Jogja tanpa Batas - Merelung dalam Doa - Terbitlah Laksana Surga - Terabaikan - Rasa yang Pernah Ada - Rindu"