Monolog Rindu - Monolog Rindu - Tersesat dalam Puisi Plath - Di Sebuah Sore | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Monolog Rindu - Monolog Rindu - Tersesat dalam Puisi Plath - Di Sebuah Sore Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 00:26 Rating: 4,5

Monolog Rindu - Monolog Rindu - Tersesat dalam Puisi Plath - Di Sebuah Sore

Monolog Rindu

   kangen itu tak pernah punya usia. dan aku
selalu ingin lengan lembutmu terus merengkuh,
sementara hari terkayuh. barangkali kita telah
hilang rasa pada ciuman yang utuh, namun cerlang
matamu menjadi pintu. pintu yang tak lagi
memiliki cadangan kunci, sebab hanya untukku
sendiri. dan kita akan mengembara lagi, memasuki
riuh kota, menyimpan demam perjalanan
atau kerumunan kendaraan dan orang yang
selalu gagal menghitung langkah.

   kangen itu akan utuh. meski senyummu
terasa hambar dan dadaku tak kunjung berdebar
setiap memandangmu.

2017

Diskon Puisi

   hari ini, puisi menggelar diskon besarbesaran.
tapi orang-orang tak juga memungutnya
dari hamparan rak. meskipun di luar, hujan
telah jadi gerimis. tak lagi dikisahkan olehnya:
kemiskinan, kesunyian, atau penindasan.

   semua boleh bahagia, batinnya. dan penyair
melenggang dengan pakaian modis juga wangi.
ditambah kaca mata hitam. lebih trendi begini,
ujarnya.

   tapi orang-orang tak kunjung beranjak, untuk
membeli puisi dan membawanya pulang. hanya
ada satu-dua saja yang memungutnya. selebihnya
sepi.

   di jalanan yang masih basah. sunyi meringkuk
sendirian, makin mengerut. melupakan katakata.
mungkin, mendadak kaget menerima informasi
tentang puisi yang banting harga. semoga
sunyi tak punya riwayat sakit jantung setelahnya!

2017


Tersesat dalam Puisi Plath

   kata-kata menendang, mengerubungi aliran
darah hingga menjadi bangkai di kepala. dalam
sebuah sketsa, kau merebut murung kota, jejak
langkah para serdadu. dan kesedihan tak lagi
menjadi senja, menggumpal genangan darah
dan luka yang dicabik, berulang kali. dan berjalanlah
aku, dari sepanjang dinding rumah yang
telah rubuh. menjadi bercak ketakutan di kedua
kornea. lupa amsal atau arah pulang.

   setiap doa kehilangan tanya. kata-kata menjadi
letusan peluru yang lesap di samping telinga.
memancar dari sumur duka, tak pernah usai
kautimba. tapi dari mana nyeri maut akan berebut?
sebelum suara-suara berkerumun bagai
denting lonceng besar. tanpa peta, aku tersesat
dalam pagi yang kaubuat. pagi dengan matahari
rendah. memasuki segenap relung tanya,
sebelum hujan tiba.

2017

Di Sebuah Sore

   di sebuah sore yang teduh, aku menyemai
tanaman di beranda. mencuci motor dan mobil.
menikmati waktu yang makin rindang. anakanak
berlarian, kesedihan seperti melepaskan
bebannya. aku mendapati wajah ayah di muka
torang. dan ia bermain air menyirami tubuhnya,
menyeka kenangan muram di tengkukku. tibatiba,
ada sedikit dosa melintas— semacam
bekas hujan, jika aku jarang menghabiskan
waktu bersamanya.

   “ayah ada capung di gigir asoka,” mulut kecilnya
menampung rahasia. seperti tenung yang
bersenandung. sore yang lembab.

   hingga lengkung langit menjadi gelap. magrib
yang tandang.

2017

- Alexander Robert Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari 1982, bekerja sebagai staf Unit Pelaksana Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kecamatan Menteng Kota Administratif Jakarta Pusat. Dia menyelesaikan studi di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung. (44)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alexander Robert Nainggolan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 25 Maret 2018

0 Response to "Monolog Rindu - Monolog Rindu - Tersesat dalam Puisi Plath - Di Sebuah Sore"