Obrolan Suatu Sore | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Obrolan Suatu Sore Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:37 Rating: 4,5

Obrolan Suatu Sore

SEPULANG kerja, Kameswara terpaku di halaman rumah itu. sambil menatap khidmat sebuah tulisan cat putih yang sepertinya baru saja dibuat di dinding biru mudanya yang sedikit murung: dijual. Kameswara membacanya dalam gumaman, lalu menelusuri rumah yang tidak lebih besar dari miliknya, yang telah hampir setahun ini ditinggalkan penghuninya. Atap rumah itu hampir tertutupi tanaman rambat. Sebagian mengering, menggugurkan daun-daun kecokelatan ke sembarang tempat. Bunga-bunga putih dari pohon kersen di sisi selatan rumah, ranap dan memenuhi halaman. Rerumputan telah menyerupai belantara. Kotor dan kusam.

"Rumah itu arkhirnya jadi dijual juga, Ma?" tanya Kameswara pada istrinya, ketika lelaki itu sampai di ruang tamu rumahnya, dan menemui istrinya tengah asyik menekuni layar ponsel.

"Hah? Rumah siapa?" tanya perempuan berdada rata itu, mendongak dan terperangah karena tiba-tiba saja dilontarkan pertanyaaan semacam itu oleh Kameswara ketika ia tengah digembirakan berita seorang pelakor di sosial medianya.

"Itu, rumah Mas Agus."

"Oh, itu. Iya."

Kameswara meletakkan tas kerjanya di atas sofa, lalu duduk di samping istrinya dan mulai melepas sepatunya.

Melihat rona lelah dan segumpal penat di wajah Kameswara, istrinya segera meletakkan ponsel di meja kaca, lalu berdiri dan berlalu ke dalam dapur. Ia kembali dengan segelas air putih dingin dan memberikannya pada Kameswara dengan senyum yang mengembang.

"Siapa yang mengecat tulisan 'dijual' itu? Mas Agus apa istrinya yang datang tadi?" tanya Kameswara sembari meraih gelas minum dan meneguk isinya dengan rakus. Matanya diam menanti jawaban sang istri.

"Nggak tahu, Pa. Sudah lama Mama nggak melihat mereka. Sejak...."

"Sejak istrinya pergi mendadak bersama ketiga anaknya di hari itu?" 

Istrinya mengangguk.

"Mungkin Bapaknya Mbak Lastri. Atau mungkin salah satu keluarga Mas Agus. Mama nggak tahu. Sama sekali nggak melihat ada yang datang, kok."

Kameswara mengangguk-angguk. Lelaki itu masih ingat benar, bagaimana perempuan itu, Lastri, datang ke rumahnya di suatu malam dan meminta surat pindah domisili.

"Saya dan anak-anak akan ke Bogor, Pak RT," ujar perempuan itu. Sejak mengenal perempuan itu, di mata Kameswara, yang tersemat adalah: santun dan merundukkan pandangan. Selama mereka bertetangga, tidak sekalipun Kameswara mendengar umpatan atau teriakan dari bibir perempuan itu, tidak seperti istrinya yang seolah-olah memiliki lebih dari satu bibir. Dan setiap kali bibir-bibir itu pecah dan meledak, Kameswara selalu berpikir ingin menjahitnya saja nanti, ketika istrinya sudah terlelap tidur. Tapi tentu saja ia tidak mampu melakukan hal itu. Istrinya nampak jauh lebih cantik ketika tertidur. Ia menjadi tidak tega untuk menyakitinya.

"Ke Bogor? Jauh sekali, Mbak?" tanya Kameswara pada Lastri kemudian, di hari ketika perempuan itu datang kepadanya dan meminta surat pindah domisili.

"Iya, Pak RT. Saya mendapatkan pekerjaan di sana."

"Anak-anak semua diajak ikut?"

"Iya."

"Lalu Mas Agus? Bagaimana kerjaan Mas Agus?"

"Hmm.... Mas Agus tetap tinggal di sini." Ada kecanggungan ketika perempuan itu menjawab pertanyaan. Kameswara mencium gelagat ganjil, tapi ia tak ingin mempertanyakannya lebih jauh lagi.

Dan setelah malam yang janggal itu, dua hari kemudian, di suatu sore yang tergopoh-gopoh, perempuan itu pergi bersama ketiga anaknya, tanpa pamit atau sekadar berbasa-basi ke para tetangga.

"Sepertinya mereka bercerai."

"Hah? Apa?" Kamewara mengerut dahi.

"Bercerai, Pa. Cerai."

"Darimana Mama tahu? Kan mereka sudah nggak pernah terlihat lagi batang hidungnya. Bahkan semua akses komunikasi pun sudah nggak bisa dihubungi."

"Semua orang juga sudah tahu, Pa. Tidak mungkin orang pergi tiba-tiba jika tidak ada sebab. Lagipula, tempat kerja mereka pisah seperti itu dan sejak istrinya pergi pun, Mas Agus tidak pernah tinggal di rumah itu lagi, kan? Bukannya itu aneh?"

Kameswara terdiam dan memikirkan ucapan-ucapan istrinya. Ia bukanlah tipe lelaki yang ingin tahu perihal rumah tangga orang lain. Selama kepergian yang janggal itu, ia bahkan tidak memikirkan kehidupan sepasang suami-istri itu sejauh apa yang telah diungkapkan istrinya.

Sebuah perceraian. Jika benar itu terjadi, Kameswara berpikir demikian, pasti sangatlah berat bagi perempuan itu.

"Bagaimana, ya, keadaan Mbak Lastri sekarang?" Tiba-tiba saja bibirnya yang menghitam akibat pembakaran tembakau itu mencuatkan pertanyaan yang membuat istrinya tercenung.

"Maksud Papa?"

"Ya, kan dia perempuan, Ma. Tinggal di kota orang, jauh, sendirian, nggak ada suami atau saudara, habis itu membawa ketiga anaknya yang masih kecil-kecil pula. Apa dia...." Kameswara sedikit ragu-ragu melanjutkan kata-katanya.

"Apa dia bisa melakukan itu semua, begitu maksud Papa?"

"Iya... kurang lebih begitulah, Ma."

Keduanya menjadi sedikit sunyi sekarang. Dalam pikiran masing-masing, mereka mencoba menjadi seorang Lastri, perempuan tiga puluh tiga tahun dengan setumpuk tanggung jawab yang harus dilakoni saat ini.

"Kalau Mama jadi Mbak Lastri, sudah pasti nggak akan mampu, Pa."

Kameswara menatap istrinya lamat-lamat. Sudah barang tentu beban semacam itu tidak akan mampu dijalani seorang perempuan semacam istrinya yang manja itu. Sebelum mereka berdua menikah, tiga belas tahun lalu, istrinya itu telah berujar kepadanya, sebuah ungkapan yang sedikit menghunjam dadanya, semacam pernyataan berharga mati. "Aku ini doyan sama uang, loh, Mas," demikian ujar istrinaya dulu. "Kalau kamu mau menikah sama aku, kamu harus bisa cari uang yang banyak."

Dan itu disanggupinya tanpa perasaan ragu. Ia mencintai perempuan itu, jadi apa pun syarat yang diajukan, walaupun itu menghunjam harga dirinya sebagai laki-laki, ia tetap akan menyanggupi. Karena ia mencintai perempuan itu.

Kameswara bertemu istrinya ketika salah satu kawan kosnya mengadakan sebuah perjamuan kecil. Istrinya teman semasa sekolah kawan kosnya. Setelah perjumpaan itu, keduanya jadi sering bertemu.

Mula-mula Kameswara tidak memiliki ketertarikan apa pun pada gadis yang kelak akan dinikahinya itu. Kameswara memiliki seorang kekasih. Cantik dan putih. Bertubuh sintal dan bertutur kata lembut. Tetapi nasib tidak membuatnya mampu menafkahi kekasih itu. Kameswara patah hati. Sakit itu membuatnya tiba-tiba membual. Ia menawarkan sebuah hubungan baru pada gadis yang kelak akan dinikahinya itu. Lambat laun, hubungan yang tanpa rencana itu, pada akhirnya, menjadi sebuah pernikahan yang menghasilkan dua orang bocah. 

"Tapi Mbak Lastri bisa melakukan itu," ujar Kameswara kemudian. Merunduk. Entah kenapa, ada sesuatu yang melesak di dadanya. Mungkin perasaan iba. Atau mungkin, sebuah kekaguman yang menelusup diam-diam.

"Mama kok merasa aneh, ya, Pa."

Kameswara mendongakkan kepala kembali. Menatap istrinya. Mata perempuan itu menerawang jauh.

"Selama ini mereka tidak pernah terdengar bertengkar. Memang, sih, Mas Agus itu nggak pernah ada di rumah. Setiap pulang kerja selalu malam-malam. Bahkan sampai pagi buta. Orang-orang mikir, dia itu kerjanya apa kok sampai pulang jam segitu. Kalau ada di rumah juga nggak pernah keluar."

"Mas Agus memang susah bersosialisasi sama sekitarnya, Ma. Tiap acara kampung dan kerja bakti saja dia juga nggak pernah ikut."

"Nah, ya itu maksud Mama, Pa. Tidak terlihat masalah apa-apa, lalu tiba-tiba sekarang kita dengar mereka akan bercerai. Kan aneh."

"Tapi itu kan masih prasangka, Ma. Belum tentu benar."

"Yang namanya prasangka bisa jadi kebenaran, Pa. Kan orang-orang membuat sebuah prasangka itu juga nggak asal tebak."

"Terserah Mama-lah." Kameswara mendengus. Sudah bisa dipastikan istrinya itu akan terus mempertahankan argumen setiap kali berdebat. Hal yang membuat Kameswara terkadang jengah. Seorang perempuan yang keras kepala adalah sebuah mimpi buruk bagi kaum lelaki. Dan itulah yang setiap kali dirasakan oleh Kameswara. Mimpi buruk. 

"Dengar-dengar, ada kabar kalau Mbak Jum pernah melihat Mas Agus di rumah itu."

"Hah? Kapan? Rumah kita ini kan bersebelahan. Kok kita tidak pernah melihat dia datang. Kok malah Mbak Jum yang lihat."

"Mama nggak tahu tepatnya kapan, tapi Mbak Jum bilang itu pas malam, pas dia jalan mau beli telor di warung Mbok Sa. Dia lihat Mas Agus ada di dalam rumah itu."

Kameswara berkesap-kesip. Terpaku. Pikirannya menjadi semburat, berkeliaran di mana-mana. Tak lama kemudian, pikiran itu bergerombol menjadi satu. Menjadi sebuah titik hitam yang teramat pekat.

"Jangan-jangan....." desis Kameswara. 

"Jangan-jangan apa, Pa?"

"Ah, nggak. Bukan apa-apa, Ma."

Dengan gelisah, lelaki itu berdiri dari sofa. Ia melangkah keluar rumah, membuka pintu pagar dan berdiri di sana, menekuri rumah berdinding biru yang sedikit murung itu, yang berdiri tepat di samping rumahnya.

Awan jingga di ufuk barat mulai membakar langit perlahan-lahan. Pohon kersen yang telah ditinggalkan pemiliknya itu kini semakin menjulang dan rindang. Membuat suasana rumah kosong itu semakin suram. Dan dingin.

Kameswara menggigil.

Lelaki berambut keriting dan bertubuh tambun itu kini semakin yakin. Benar-benar yakin. Seorang perempuan yang keras kepala, bisa menjadi sebuah mimpi buruk bagi kaum laki-laki. Mimpi buruk. Dan itu sangat menyeramkan. ❑ - (e)

*Ajeng Maharani: penikmat sastra, lahir di Surabaya.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ajeng Maharani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi Minggu, 15 April 2018 

0 Response to "Obrolan Suatu Sore"