Pertemuan di Gunung Tera Osaka | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pertemuan di Gunung Tera Osaka Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:30 Rating: 4,5

Pertemuan di Gunung Tera Osaka

SURAT-SURAT dari Indonesia yang diterima Eksila terasa tajam seperti samurai yang siap menyayat dan mencincang tubuhnya. Isi surat-surat itu pada intinya sama, memintanya segera pulang. Jika ia menolak, ia akan diberi sanksi berat. Tapi semangatnya untuk kembali ke Indonesia telah berjatuhan seperti bunga sakura yang terpental ke tanah tanpa rerumputan kemudian lenyap diseret angin berdebu yang kencang.

Seharusnya Eksila pulang karena tugas belajarnya di Osaka telah selesai. Sebagai dosen di sebuah universitas di Jawa Timur, Eksila wajib kembali untuk mengajarkan ilmu yang telah ia dapatkan di Jepang, negeri yang pernah mengirim berbagai mimpi buruk ke tanah kelahirannya di zaman penjajahan. Jika Eksila bersikeras melepaskan tanggung jawab, ia terancam dipecat dengan tidak hormat. Namanya akan dikenang dosen yang menghilang di negeri orang.

Baik mereka yang mencibir dan menyayangi Eksila tak henti mengguncingkannya. Salah satunya Sujagad, lelaki muda berambut lurus dan bermata bening seperti telaga, yang juga mengabdikan diri sebagai dosen di universitas tempat Eksila mengajar. Setelah kepergian Eksila ke Osaka untuk meraih gelar doktor bidang teknologi pendidikan di Universitas Kyoiku, Sujagad beberapa kali mendengar kabar tentang Eksila yang memilih bertahan di sana. Bagi Sujagad, Eksila tetap menjadi perempuan yang dipujanya. Meskipun dulu Eksila pernah membuat remuk hatinya.

Sebagai lelaki yang kini memiliki tanggung jawab dan wewenang sebagai wakil dekan bidang kepegawaian di fakultas, Sujagad memanggul tugas untuk membujuk Eksila agar mau pulang. Waktu yang diberikan padanya hanya beberapa hari. Jika ia bisa meyakinkan Eksila untuk kembali ke kampus, ia pasti dipuji banyak orang. Sebelumnya tak seorang pun berhasil merayu Eksila. Tapi jika Sujagad juga gagal, ia akan dianggap sebagai pimpinan yang tak becus meluluhkan hati teman sekaligus bawahannya.

Pamor dan harga dirinya akan terlucuti. Dan jika Sujagad adalah lelaki Jepang yang teguh memegang tradisi harakiri, bisa jadi dia akan menghabisi hidupnya sendiri. Apa guna hidup bila dilumuri malu dan ditimpuki kegagalan.

***
TIBA di Bandara Kansai Sujagad kemudian bergegas menuju Stasiun Shin-Imamiya dengan kereta Nankai Line. Tanpa memedulikan keletihan ia melanjutkan perjalanan ke Stasiun Dobutsuen Mae untuk check-in di Hotel Chuo Oasis yang terletak di Jalan Taishi-Nishinariku Tennoji. Setelah mengguyur lelah tubuh dengan air hangat, merebahkan badan sebentar dan berusaha menepis keraguan, Sujagad menghubungi Eksila. Ia sangat berharap bisa mendengar suara perempuan yang menjelang keberangkatannya ke Osaka cenderung menghindar darinya. Nada dering telepon terdengar, tapi Eksila tak mengangkatnya. Apakah Eksila tak mau menerima telepon darinya? Sujagad menekan nomor telepon Eksila lagi tapi tetap tak ada jawaban.

Setengah jam kemudian ia menghubungi Eksila. Terdengar suara lembut namun terdengar jauh. Ketika Eksila tahu Sujagad berada di Osaka, ia terkejut. Ia tak pernah memberikan nomor telepon kepadanya. Bagaimana Sujagad tahu, Eksila juga tak bisa menduga. Tak ada keinginan dalam dirinya untuk bertemu orang-orang kampus tempatnya dulu mengajar, termasuk Sujagad. Ia ingin segera mengakhiri pembicaraan, menghindar, bersembunyi bahkan lari sekencang mungkin. Dulu Eksila menolak pinangan Sujagad karena Eksila lebih memilih pergi ke Jepang untuk maraih gelar doktor. Sementara Sujagad tak mau menunggu lebih lama.

Siang muram. Pikiran Sujagad seperti bergoyang-goyang di atas gerbong kereta yang membawanya menuju Stasiun Osakakyoikudaimae. Ia berharap Eksila telah menantinya sesuai janjinya dalam telepon. Tapi ruang tunggu masih lengang. Tak ada orang lalu lalang di stasiun di pinggiran Osaka itu. Angin seperti berhembus dari puncak Gunung Tera ke lembah menyapu lorong-lorong ruang tunggu stasiun.

Seorang perempuan muda muncul di pintu ruang tunggu, berjalan sedikit terburu-buru. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari sesuatu. Ia cantik, tubuhnya langsing, kulitnya bersih, dan rambutnya panjang terurai, mengenakan baju ketat bermotif bunga sakura. Mata perempuan itu berhenti pada satu titik. Dilihatnya Sujagad yang berdiri beberapa meter di hadapannya.

’’Kau sudah lama menunggu? Maaf.’’ 

’’Belum lama, Eksila. Kau baik-baik saja?” 

’’Aku merasa lebih bahagia di sini. Kau terlihat kurus sekarang, Sujagad.’’

’’Banyak urusan kampus yang harus kuselesaikan.”

’’Kau tak perlu terlalu mengorbankan dirimu untuk urusan kampus. Lama-lama kau lupa urusanmu sendiri.”

’’Mengalir saja, menjalankan tugas. Termasuk datang ke sini menemuimu.’’

’’Kau benar-benar nekat.’’

Eksila lalu mengajak Sujagad menuju Gunung Tera. Kampus Universitas Kyoiku terhampar di atasnya. Mereka melewati jembatan panjang yang menghubungkan Stasiun Osakakyoikudamae dengan lereng Gunung Tera. Kemudian mereka menaiki elevator cukup panjang di lereng bukit menuju puncak gunung. Sampai di kampus, Eksila dan Sujagad duduk di kursi kayu di depan Daini Shokudo. Mereka menghadap kolam yang di pinggirnya ditumbuhi bunga-bunga tsutsuji.

’’Pasti pimpinan kampus yang memerintahkanmu. Percuma jika mereka mengutusmu untuk memintaku pulang. Aku akan tetap di sini,” kata Eksila dengan suara datar tapi tegas.

’’Statusmu masih pegawai negeri. Masih terikat janji. Bukankah menjadi pegawai negeri adalah mimpimu sejak dulu?”

’’Benar. Tidak hanya mimpiku, tapi juga mimpi kedua orang tuaku. Tetapi sekarang tidak lagi. Aku telah memutuskan melepas status pegawai negeriku,” kata Eksila dengan nada tinggi.

’’Kau tak lagi mencintai Indonesia dan kampus kita?” 

’’Ini tak ada hubungannya dengan cinta tanah air.” 

’’Kau lebih mencintai Jepang, Eksila.”

’’Aku merasa di sini menemukan kenyamanan.’’ 

’’Kau telah memilih lelaki Jepang?” 

’’Tidak. Aku tetap ingin menikah dengan lelaki Indonesia. Kau sendiri mengapa belum menikah?”

Sujagad terdiam sejenak, kemudian tersenyum dan sengaja mengalihkan pembicaraan.

’’Pimpinan dan teman-teman mengharapmu kembali.”

’’Jangan merayuku. Aku telah memutuskan hidup di sini.’’

’’Ada apa sebenarnya?”

’’Aku tak akan pernah bisa mengembangkan diri di sana,’’ jawab Eksila dengan mata menerawang. Sebelumnya Eksila tak pernah bercerita masalahnya di kantor. Ia menyimpannya rapat-rapat. 

’’Mengapa?’’

’’Dulu aku berharap karirku berkembang di kampus kita. Tetapi di sana ada beberapa orang yang terus menghambat karirku. Mereka menfitnah aku sebagai dosen yang suka melawan atasan dan tak taat pada aturan. Berkas kenaikan pangkatku lenyap, tak ada kabar lagi setelah diajukan pada Pak Rakerso, pimpinan kita. Setiap ada peluang aku selalu disingkirkan. Selain Pak Rakerso, kau tahu bukan masih ada orang lain yang terus berusaha menyingkirkanku karena aku bukan bagian dari gerbong dan bendera mereka. Kampus lembaga akademik, pusat para intelektual, bukan tempat menyingkirkan orang berdasarkan bendera dan latar organisasi.” 

’’Siapa orang itu?’’ tanya Sujagad penasaran. 

’’Rihati, rekan kerja kita yang tak pernah rela aku menjadi lebih baik dan memiliki prestasi lebih tinggi darinya.”

’’Kau tak perlu menghiraukannya. Ia kini tidak lagi memiliki jabatan. Tak baik juga menyimpan dendam.’’

’’Tapi selama mereka masih di sana aku tak akan pernah tenang.”

Sujagad tertegun mendengar cerita Eksila. Rupanya masalah itu telah menjadi bara yang lama menjadi sekam dan siap terbakar.

’’Kau ingat tujuh tahun silam ketika aku lolos seleksi untuk studi di Jepang. Tiba-tiba aku gagal berangkat. Padahal aku telah mempersiapkan mental dan bahan untuk menjadi kandidat doktor di Jepang. Tanpa alasan kuat dan mendasar tiba-tiba aku tidak diizinkan ke luar negeri oleh Pak Rakerso. Lalu sekarang buat apa aku pulang, buat apa aku terus-menerus melayani keculasan orang-orang seperti mereka yang menganggapku sebagai ancaman dan musuh bebuyutan dan harus dibuang?’’

’’Tapi bukan berarti kau harus lari menghindar. Mesti dihadapi. Jika tidak, kita akan terus diinjak-injak dan dianggap pecundang. Aku dan banyak teman akan mendukungmu.”

’’Aku tidak lari. Aku hanya ingin membuktikan potensi dan karirku bisa berkembang di tempat lain. Bertahun-tahun aku menahan diri. Aku ingin menikmati hidup. Hidup yang tak bergantung pada orang-orang seperti Pak Rakerso dan Rihati. Iklim kampus kita lama-lama rusak. Suasana nyaman hilang. Kantor kita sudah mirip partai politik. Terlalu banyak intrik dan hiruk pikuk saling menjatuhkan.”

’’Sekarang keadaannya sudah jauh berubah. Pak Rakerso terkena serangan stroke. Separo tubuhnya lumpuh. Ketika berbicara, bibir, tangan dan suaranya bergetar. Rihati menderita kanker dan perlahan tersingkir dengan sendirinya karena sepak terjangnya. Pulanglah, teman-teman menunggumu.’’

’’Aku telanjur mencintai Osaka dan orang-orang di sini lebih menghargaiku. Setelah menyelesaikan studi aku diterima bekerja di sini. Aku mendapat tugas mengajar mahasiswa asing dan bertanggung jawab mengurus kerja sama Universitas Kyoiku dengan berbagai universitas di Asia Tenggara. Pihak Universitas Kyoiku sangat membantuku dalam mengurus izin tinggal di Jepang.”

’’Tapi bagaimanapun kau harus pulang. Kampus membutuhkan orang sepertimu.’’ 

’’Maaf. Aku tak bisa memenuhi harapanmu.’’ 

’’Kau akan diberhentikan dengan tidak hormat jika tak pulang.”

’’Lebih baik membuka lembaran baru daripada bekerja di tempat yang tak memberi harapan. Mungkin bagimu keputusanku ini terlalu berani. Tapi aku sadar setiap keputusan pasti butuh keberanian dan pengorbanan,” Eksila menegaskan.

’’Kau benar-benar akan tetap tinggal di sini?” tanya Sujagad berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

’’Ya. Aku tak ingin kembali. Lebih baik tinggal di negeri orang sebagai pendatang tetapi dihargai dan dihormati. Daripada di negeri sendiri tetapi dibuang dan disingkirkan.”

***
PETANG datang mengurung Gunung Tera. Eksila dan Sujagad meninggalkan tepian kolam, yang airnya terlihat muram terkurung kedatangan malam, menuju apartemen Eksila di kompleks gedung Ryuugakusei-no-ryou yang berada di atas Gunung Tera sebelah utara, tak jauh dari kampus Universitas Kyoiku.

Sujagad bisa melihat gemerlap cahaya lampu Kota Osaka dari kejauhan. Wajahnya masih terlihat tegang setelah mendengar keputusan Eksila. Tapi ia masih berharap hati Eksila luluh dan bersedia pulang bersamanya. Embusan angin dingin menusuk-nusuk pikiran Sujagad. Sesekali di telinganya terdengar suara, ”Sujagad jangan menjadi pecundang. Kami menunggu kau dan Eksila pulang.”

Sujagad gusar dan tiba-tiba teringat kisah banyak lelaki Jepang yang lebih memutuskan mengakhiri hidupnya karena gagal membawa pulang kebahagiaan dan keberhasilan.

Berat rasanya bagi Sujagad untuk pulang ke Indonesia tanpa Eksila. Tapi berkali-kali Eksila menunjukkan pendiriannya yang membatu. Sujagad merasa harapannya untuk membujuk Eksila pulang telah berjatuhan seperti bunga-bunga sakura yang berserakan di samping apartemen Eksila.

Betapa rugi sebenarnya jika kampusnya kehilangan Eksila dan betapa hampa ruang hatinya jika Eksila benar-benar memutuskan menetap di Jepang. Sujagad memejamkan mata dan berusaha menahan pergolakan batinnya ketika Eksila merapatkan tubuhnya, menunjukkan pandangan hangat dan membisikkan suara lembut kepadanya, ”Jika aku hari ini memutuskan pulang bersamamu, apakah kau percaya kampus kita akan bebas dari keculasan dan konflik kelompok yang mengorbankan cakrawala intelektual dan kebersamaan?”

Sujagad terdiam, dipandangnya mata Eksila dalam-dalam. ***

Yusri Fajar
Dosen FIB UB Malang. Kumcernya, Surat dari Praha (2012), buku esainya, Sastra yang Melintasi Batas dan Identitas (2017). Tahun 2012 mengikuti Konferensi Cultural Studies di Osaka, Jepang. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yusri Fajar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi Minggu 1 April 2018

0 Response to "Pertemuan di Gunung Tera Osaka"