Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 04 November 2019

Menangkap Kematian


SURAM yakin bahwa kematian sudah ada sebelum kehidupan. Entah bentuknya seperti apa, ia begitu percaya bahwa kematian itu bisa ditangkap. Hantu saja bisa ditangkap, apalagi kematian? Bukankah hantu adalah produk kematian? Begitu batinnya.

Ya, Suram sudah berulangkali berupaya menangkap kematian. Ia pernah melompat dari tebing batu. Di bawah tebing itu adalah batu-batu lancip yang siap menujah apa saja yang menimpanya. Percaya diriĆ³Suram melompat. Sambil berteriak memanggil kematian, tubuhnya lurus menghujam ke bawah. Apa yang terjadi?

Menangkap KematianTubuh Suram tidak apa-apa. Nyawanya masih lekat di tubuh itu juga. Matanya kelap-kelip. Ia lihat sekeliling, barangkali ia menemukan kematian di sekitar situ. Tidak! Ia masih melihat sekian burung walet dan serangga kecil yang kocar-kacir. Dan, dilihatnya sendiri tubuhnya tersangkut dahan dan ranting pohon di pinggir tebing.

Tapi, ia masih yakin bahwa kematian dapat ditangkap. Entah wujudnya apa, apakah bayang-bayang, bola api, atau angin hitam pekat. Pada saat terjadi banjir besar di desa sebelah, ia melihat bahwa kematian itu adalah angin hitam. Menurut Suram, angin hitam itu bau amis. Mungkin angin itu membawa bau amis darah orang-orang pinggir sungai yang kepalanya terbentur batu. Waktu itu ia melihat kematian itu sendiri. Tapi, tak sempat ia tangkap.

“Kematian itu sering lewat pinggir kali. Kalau kalian tidak punya rumah, dan bikin rumah di pinggir kali macam ini, maka kematian akan datang padamu! Tapi, kematian jarang sekali lewat perumahan mewah. Kematian tidak suka tempat-tempat bersih!” begitu teriaknya di hadapan para pengungsi. Tanpa pikir panjang, seseorang melempar sabit ke arah Suram karena marah. Sabit itu menancap di dada Suram. Tumbanglah ia ke tanah. Orang-orang kaget. Darah yang keluar dari dada Suram berwarna hitam.

Melihat itu, orang-orang membubarkan diri dan membiarkan Suram tergeletak sendiri. Mereka sepakat, kalau Suram mati, jasadnya akan dikubur ramai-ramai di rumpun bambu pojok desa. Tapi, ternyata Suram bangun. Sabit itu dicabutnya. Ia tidak mati. “Ayo, lempar sabit yang lain!” teriaknya lalu dibarengi orang-orang yang tunggang langgang ketakutan.

Suatu waktu, Suram muncul di pemakaman seorang warga yang meninggal karena sakit dan tidak memiliki uang untuk operasi. Karena takut, orang-orang membiarkan Suram bicara sebelum jasad dimakamkan. “Begitulah, kematian akan datang melalui ruangan jendela rumah sakit yang pengap, yang tidak ber -AC. Ia akan masuk dan mengelus kepalamu. Saat elusan ketujuh, nyawamu sudah berpindah. Sekali lagi, kematian tidak suka rumah sakit yang sejuk dan bersih!” Orang-orang terdiam. Entah, mereka percaya atau tidak kata-kata Suram.

Suram masih bersemangat menangkap kematian. Kalau kematian itu datang, akan ditangkapnya dengan tangannya. Ingin diceramahinya kematian dengan mulutnya sendiri. Tidak hanya ceramah, ingin ia marahi kematian itu: jangan suka lewat pinggir kali, jangan suka lewat rumah sakit yang tidak sejuk, jangan suka lewat di depan rumah orang yang tidak punya jaminan kesehatan, dan sebagainya, dan sebagainya!

Suram berniat menangkap kematian dengan caranya.

Ia tahu seorang laki-laki di sebuah rumah yang mengalami gangguan jiwa. Sudah berkali-kali ia minta mati. Kadang, tangan dan kakinya diikat karena sering melukai diri sendiri. Suram tahu, kematian akan datang pada laki-laki itu. Maka, sejak beberapa hari, ia amati laki-laki itu dengan seksama. Sampai pada sebuah pagi, ia melihat sekelebat hitam di sekitar laki- laki itu. Ah, kematian itu menunjukkan diri, batinnya. Ia pun bergegas mengincar bayangan hitam itu. Dengan sigap ia tangkap bayangan itu, dibantingnya langsung ke tanah, dihajarnya berkali- kali sambil teriak, “Aku berhasil menangkapnya! Aku berhasil menangkap kematian! Sediakan botol, atau apa pun yang ada tutupnya!”.

Orang-orang memang sudah berkumpul di situ. T api, tidak ada yang bergegas memenuhi permintaan Suram. Mereka melihat Suram dengan mata iba sambil bergumam dalam hati, “Kasihan Suram, sudah puluhan kali ia melukai diri sendiri.” q – e

Yogyakarta, 2019


Joko Gesang Santoso, adalah nama pena dari Joko Santoso. Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Sarjanawiyata Taman – siswa Yogyakarta. Lahir pada 7 Mei 1984, di Gunungkidul, Yogyakarta. Karya-karyanya sudah dimuat di media massa lokal dan nasional Kedaulatan Rakyat

The post Menangkap Kematian appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Kamis, 31 Oktober 2019

Perjanjian Terakhir dengan Mbaureksa Gunung Bogang


GUNUNG Bogang. Disebut gunung. Tetapi, secara fisik lebih tepat dipandang sebagai sebuah bukit. Tak jauh dari rumah saya. Lebih tepatnya rumah kakek-nenek saya, tempat saya lahir dan menghabiskan masa kanak-kanak. Berkali-kali nenek mengulang cerita yang sama. Oh, bukan cerita. Hanya penggalan-penggalan kisah. Yang tampaknya diterima secara turun-temurun dari nenek moyang.

Bahwa, pada zaman dahulu, air laut sempat menyembur di puncak Gunung Bogang. Ikan tongkol dan layur pun menampakkan diri. Itu petunjuk yang sangat nyata. Bahwa yang menyembur itu air laut. Bukan air tawar. Warga sekitar cemas, kalau-kalau perkampungan di sekitar Gunung Bogang akan tenggelam. Jadi lautan. Kemudian, dilemparkanlah seekor kambing kendhit, kambing berwarna hitam dengan garis bulu warna putih melingkar temu gelang di bagian badannya. Semburan air laut pun berhenti. Tinggal telaga kecil. Yang berangsur mengering. Yang abadi hanya kalderanya.

Bahwa sebelum air laut menyembur, ada bintang jatuh, melesak, ke dalam perut Gunung Bogang, nenek tidak mengatakan demikian. Itukah yang menimbulkan lubang hingga air laut menemukan jalan keluar untuk menyemburkan dirinya? Bahwa di dalam perut Gunung Bogang tersimpan bongkahan intan sebesar kerbau duduk, tidak dikatakan pula. Apakah bongkahan intan itu tak lain dan tak bukan adalah si bintang jatuh?

Ketika pertama kali nenek menyampaikan penggalan-penggalan kisah mengenai Gunung Bogang, saya hanya menerimanya. Sebagai dongeng. Sebagai cara halus nenek untuk meminta agar kami, saya dan anak-anak sebaya saya, berhati-hati kalau harus mencari pakan kambing atau kayu bakar ke lereng Gunung Bogang. Apalagi kalau sampai ke puncaknya. Saya masih duduk di bangku sekolah dasar, waktu itu.

Hampir tiap hari saya masuk-keluar hutan. Untuk mencari dedaunan, pakan kambing. Kadang mencari kayu bakar atau daun jati untuk pembungkus ketika ada tetangga yang punya hajat. Sebagai anak-anak, saya belum punya keberanian untuk masuk hutan sendirian. Harus ada teman, minimal berdua. Dan bukan hutan di lereng Gunung Bogang yang setiap hari kami masuki. Sebab, lereng Gunung Bogang berisi nyaris hanya pohon-pohon mahoni. Tidak banyak tumbuhan atau pohon yang daunnya bagus untuk pakan kambing.

Tetapi, saya beberapa kali memasuki Gunung Bogang. Bahkan, naik sampai ke puncaknya. Ketika sekolah mengadakan kegiatan bersama mencari bibit pohon mahoni. Dikumpulkan, lalu dijual. Entah siapa yang membawa truk dan mengambilnya ke sekolah. Para murid merasa senang. Diajak masuk hutan, serasa bertamasya. Walau sesungguhnya adalah bekerja. Setiap musim tanam, sekolah rajin menggiring para murid ke hutan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya bibit pohon mahoni. Kadang-kadang juga bibit porang. Sekolah akan dapat uang. Dan murid-murid dapat senang.

Pada suatu malam saya berteriak-teriak, dan tertawa terbahak-bahak. Ketika tidur. Itu nenek katakan pada keesokan harinya. Ibu dan nenek saya mengajukan begitu banyak pertanyaan. Siang harinya. Sepulang saya dari sekolah.

Mereka bertanya tentang acara cari bibit mahoni bersama sekolah hari sebelumnya di Gunung Bogang. Saya tak begitu suka membuat mereka seperti terlalu khawatir atau cemas. Benar-benar diinterogasi itu cukup menjengkelkan.

’’Kamu ikut kelompok yang mana?’’ tanya ibu. ’’Yang bersama Pak Sahir, Pak Kusen, atau Pak Ponidjo? Atau Pak Adi?’’

Itu nama-nama guru yang mendampingi kelompok-kelompok murid masuk hutan. Masuk Gunung Bogang. Dibagi menjadi sekian kelompok sesuai jumlah guru yang mendampingi agar murid-murid menyebar di area yang lebih luas. Tidak menggerombol di satu titik. Agar mendapatkan bibit mahoni yang lebih banyak. Ibu tahu nama-nama guru pendamping itu karena ibu juga guru di sekolah yang sama. Ibu mengajar di kelas satu, maka tidak ikut masuk hutan. Kelas satu dan kelas dua tetap di sekolah, kegiatan kelas seperti biasa.

’’Bersama Pak Adi,’’ jawab saya.

Perjanjian Terakhir dengan Mbaureksa Gunung Bogang’’Lewat mana? Kali Nglaran, Kali Dali, atau Kali Tenggong?’’ nenek ikut bertanya pula.

Dari arah sekolah ada tiga sumber air yang oleh warga sekitar sekaligus dijadikan tempat mandi untuk umum. Dari tiga sumber itu pula kebutuhan air minum dan sehari-hari warga dipenuhi. Istilah ’’kali’’ di kampung saya tidak hanya merujuk makna aliran sungai, tetapi digunakan untuk menyebut sumber air yang membentuk ikatan sosial warga di sekitarnya. Di sekitaran kali itu biasanya ditanam pohon perindang. Wilayahnya pun dikeramatkan. Orang tak akan berani sembarangan memangkas dan apalagi menebang pohon yang tumbuh di sekitar kali.

Di bagian atas sumber, di bawah pohon paling besar, biasanya bertumpuk genting dan sisa arang untuk membakar kemenyan. Tak jarang anak-anak mengambil telur ayam yang ditaruh bersama kembang di dekat bekas bakaran kemenyan itu. Kali, dengan demikian, sekaligus dibangun sebagai dhanyangan. Semacam balai bagi makhluk halus yang dipercaya warga ikut menjaga keselamatan kampung.

Kali, sepertinya, juga jadi semacam gerbang yang menghubungkan dunia yang kelihatan dengan dunia yang tidak kelihatan. Yang tampak sehari-hari, kali sekaligus merupakan ajang pertemuan warga. Seperti tak pernah sepi, sejak pagi sampai sore hari. Laki-laki dan perempuan, anak-anak hingga orang tua yang hampir jompo, bergantian mandi di kali. Bisa tiga hingga empat orang bersama-sama untuk jenis kelamin yang sama. Mengepung belik atau kolam yang dibuat dengan semen dan batu mengikuti bentuk alamiahnya. Dengan papan penghalang cukup setengah badan. Maka, dari kejauhan sudah terlihat apakah yang sedang mandi laki-laki atau perempuan. Sesuai dengan jenis pakaian yang disampirkan di dinding penghalang yang cuma setengah badan itu.

Waktu itu, saya tidak tahu ke mana arah pertanyaan nenek. Jauh hari kemudian, baru saya tahu bahwa dhedhemit penjaga Kali Dali adalah yang paling disegani dibandingkan dengan dhedhemit atau dhanyang di dua kali lainnya.

’’Lewat Kali Dali, Nek,’’ jawab saya.

Bersama Pak Adi, saya bersama belasan teman lainnya memang memasuki hutan di lereng Gunung Bogang melalui Kali Dali. Lalu naik sampai puncak dan bertemu dengan rombongan lain.

’’Kamu tidak kencing di sembarang tempat, bukan?’’ ibu tampak khawatir. ’’Tidak mencabut bibit mahoni yang ada di dekat kali, bukan?’’ imbuh nenek. Lalu, setelah dua atau tiga pertanyaan berikutnya saya jawab dengan kurang semangat, bersahut-sahutan ibu dan nenek menyampaikan petuah. Agar di luar acara yang diadakan oleh sekolah saya tidak menaiki Gunung Bogang sampai puncaknya. Agar saya berhati-hati dan tidak mencabut atau memangkas ini-itu di bawah pohon besar seperti beringin, apak, atau pohon lainnya. Di hutan, atau di kawasan tutup sumber. Di mana pun. Bukan hanya di kawasan Gunung Bogang.

Kadang saya membayangkan, jika saja benar air laut itu pernah menyembur di puncak Gunung Bogang dan tak terhentikan, pasti kawasan lembah dari Kali Tenggong hingga Laut Selatan akan jadi sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Sama, atau lebih besar daripada Sungai Brantas. Dan kampung saya pasti tidak akan jadi wilayah yang tandus, yang selalu kekurangan air setiap musim kemarau datang. Malahan, akan sangat berpotensi jadi desa wisata yang menarik perhatian dunia. Sayangnya, orang-orang pada waktu itu memandangnya sebagai ancaman. Padahal, yang menyembur itu air laut, beserta ikan-ikannya. Bukan lahar.

Saya juga kadang bertanya-tanya, mengapa pada waktu itu cukup hanya seekor kambing kendhit yang dilemparkan ke tengah semburan sebagai tumbal. Mengapa bukan seekor sapi, atau kerbau. Oh, ya, selain seekor kambing kendhit, di sekitar semburan itu ditanam pula andong dan puring. Anehnya, setelah ribuan atau ratusan ribu tahun berlalu, andong dan puring itu tidak berkembang biak memenuhi puncak. Melainkan, lebih tampak seperti bertahan sebagai dua rumpun tanaman yang tak terurus. Tumbuh cenderung kerdil. Padahal, tak ada bekas penebangan atau pemangkasan.

Mengapa semburan air laut itu harus dihentikan? Pertanyaan seperti itu selalu terulang di benak saya. Sebenarnya sudah ada jawabnya, dari para orang tua, ’’Warga sekitar tidak menginginkan kampungnya tenggelam jadi lautan.’’ Tetapi, itu bukan jawaban yang memuaskan. Sebab, seberapa pun besar semburan itu, asalkan tidak melebihi Bengawan Solo atau Brantas di musim hujan, tentu akan terus mengalir ke laut. Sebab, kampung-kampung di seputar Gunung Bogang adalah kawasan bebukitan. Kecuali dengan sengaja dibuat bendungan, tidak ada kawasan yang akan memerangkap air untuk menjadi danau atau telaga kecil sekalipun.

Barangkali itu kecelakaan sejarah jika peristiwa semburan air laut itu benar adanya. Jika hanya mitos tidak berdasar fakta, pesan apa yang ingin disampaikannya? Itu pertanyaan juga. Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggaung di benak saya, terutama ketika musim kemarau datang memanjang. Kampung saya jadi kering kerontang. Jangankan air bersih, air kotor untuk menyiram tanaman pun susah didapat.

Dari tahun ke tahun, keadaan makin parah. Maksud saya, kekeringan itu. Apalagi, sejak Zaman Reformasi, habis dibabat itu pohon-pohon mahoni. Gunung Bogang benar-benar gundul. Segundul-gundulnya. Untuk beberapa lama. Sampai pohon-pohon pinus meninggi dan merindang. Tetapi, konon itu juga mengakibatkan makin menipisnya kandungan air di dalam tanah. Ditambah lagi, warga juga menanam sawit di pekarangan maupun di lahan yang dikuasai Perhutani, dan mereka kelola bersama. Padahal, sawit lebih rakus air daripada pinus. Banyak warga yang pulang dari Kalimantan sebagai buruh di perkebunan sawit membawa kabar bahwa kurang dari lima tahun, rawa-rawa dan lahan gambut menjadi kering setelah ditanami sawit. Tetapi, sebagian buruh sawit lainnya pulang ke kampung justru membawa biji sawit untuk disemai, dan ditanam.

Kokok ayam hutan di lereng Gunung Bogang terdengar saban hari. Terutama pada pagi buta, seperti membangunkan warga yang masih bermimpi. Hidup yang nyata sudah harus dihadapi. Itu dulu. Kini tiada lagi. Kali Nglaran, Kali Dali, dan Kali Tenggong pun tinggal semacam reruntuhan masa silam. Sekarang tidak ada lagi orang pergi ke kali untuk mandi atau mencuci. Semua itu bisa dilakukan di rumah, setelah setiap keluarga menarik air dari sumbernya atau dari sumur-sumur buatan di lereng Gunung Bogang dengan slang atau pipa.

Jika kemarau memanjang, sumber mengecil, dan sumur-sumur mengering, orang-orang pergi ke tepi jalan raya atau ke tempat air bersih bantuan pemerintah dibagikan. Sementara itu, pembuatan sumur-sumur baru dilakukan di puncak musim kemarau. Tak hanya di lahan milik warga. Di lahan milik Perhutani pun orang seperti berlomba-lomba membuat sumur. Dari tahun ke tahun. Dari kemarau ke kemarau. Sumur-sumur makin merangsek ke puncak. Maka, bayangkanlah, suatu saat yang tidak lama lagi, orang akan mendatangkan alat pengeboran bertenaga besar untuk mengebor puncak Gunung Bogang. Untuk memanggil kembali air laut yang konon pernah menyembur entah pada zaman apa itu.

Kalaulah pengeboran puncak Gunung Bogang itu benar akan terjadi, pelakunya pasti bukan warga sekitar. Sejak sepuluh tahun belakangan ini kaldera di Puncak Gunung Bogang itu telah disepakati warga sekitarnya sebagai kawasan yang tak bakal dijamah. Belasan orang, warga sekitar, mengalami kematian beruntun sebelum kesepakatan itu dibuat. Beberapa di antara mereka mati mendadak. Sesuai keterangan pihak puskesmas atau rumah sakit, seorang dua orang jelas penyakitnya. Lainnya, tidak jelas.

Banyak di antara warga sekitar Gunung Bogang yang menempuh dua jalur penyembuhan ketika berhadapan dengan penyakit. Berobat secara medis, ke dokter, ke puskesmas, atau rumah sakit. Lalu ke dukun atau orang pintar. Beberapa orang pintar mengeluarkan pernyataan hampir sama sehubungan dengan kematian beruntun itu. Warga telah menjarah lahan puncak sampai menyentuh garis kalderanya. Ditambah lagi beberapa warga menerima ancaman melalui mimpi. Akan ada sekian nyawa lagi melayang, bila penjarahan terhadap kawasan puncak itu tidak dihentikan. Mbaureksa Gunung Bogang benar-benar murka. Setidaknya, begitulah yang diyakini warga.

Keterangan dari dokter atau pihak rumah sakit pun tenggelam oleh cerita dari mulut ke telinga tentang pernyataan orang pintar dan mimpi warga. Suasana mencekam. Apalagi ketika orang yang bermimpi menyebutkan nama-nama warga yang disebut-sebut sebagai buron dalam mimpinya. Kisah mengenai mimpi itu pun jadi semakin dramatis. Sosok yang mengaku sebagai utusan mbaureksa atau penguasa puncak Gunung Bogang, mengaku kesulitan mencari rumah seorang warga. Ia dianggap lebih berdosa daripada belasan orang lainnya yang lebih dulu meregang nyawa.

Warga lalu berunding. Kemudian didatangkanlah orang pintar. Dijadikan semacam kuasa spiritual untuk meredam kemarahan Mbaureksa Gunung Bogang. Mungkin telah terjadi semacam kesepahaman. Tetapi, tidak tertulis. Sebab, makhluk halus tidak dapat membubuhkan tanda tangan. Kaldera di puncak Gunung Bogang itu lalu dipagari temu gelang. Di tengah-tengahnya ditanam tiga batang pohon: beringin, apak, dan lo. Tak selembar pun daun dari ketiga pohon itu boleh diambil atau dipetik.

Warga sekitar Gunung Bogang sangat patuh terhadap hukum baru itu. Sangat berbeda halnya dengan sikap mereka terhadap larangan dari pihak Perhutani yang dipampangkan dalam papan-papan tulisan, ’’Dilarang menanam sawit di lahan Perhutani’’. Kenyataannya, banyak warga yang menanam sawit. Di pekarangan maupun di lahan milik Perhutani.

Hari ini, warga kampung masih terikat oleh perjanjian dengan Mbaureksa Gunung Bogang. Seseorang bisa saja tidak percaya dengan hal gaib. Dengan makhluk halus, dhedhemit, dan sebangsanya. Tetapi, begitu melanggar aturan yang diberlakukan dalam kaitannya dengan puncak Gunung Bogang, ia akan berhadapan dengan warga lain. Yang siap membela pasal-pasal perjanjian. Mati-matian. Sekilas, itu tampak sebagai kabar menggembirakan. Namun, kenyataannya tidak demikian.

Kasak-kusuk mulai beredar di kalangan anak-anak muda yang kini mulai menunjukkan perhatian mereka pada keselamatan lingkungan. Sudah sekian kali rombongan peneliti datang. Dari kota yang jauh. Mereka naik ke puncak Gunung Bogang dan membantah kabar dari nenek moyang. Berdasarkan penelitian mereka, di dalam perut Gunung Bogang tidak tersimpan bongkahan intan sebesar kerbau duduk. Melainkan, emas setara dalam timbangan dengan kerbau sekian kandang. Olala!

Lalu, dalam bayangan saya, perjanjian baru mesti dibuat. Sebagai perjanjian terakhir dengan Mbaureksa Gunung Bogang. Bahwa, warga sekitar Gunung Bogang meminta dilepaskan dari segenap pasal dalam perjanjian sebelumnya. Dan mohon pamit untuk bedhol desa, bertransmigrasi ke tempat yang lebih subur. ’’Kami hanyalah orang-orang kalah. Di hadapan uang dan kekuasaan.’’ Kira-kira demikian, antara lain, yang disampaikan warga melalui kuasa spiritual mereka kepada Mbaureksa Gunung Bogang. *

Cakul, September 2019


Bonari Naboenar, Menulis cerita pendek dalam bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia. Dua buku kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah Cinta Merah Jambu (2005) dan Semar Super (2006) – Jawa Pos

 

The post Perjanjian Terakhir dengan Mbaureksa Gunung Bogang appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Rabu, 30 Oktober 2019

Prof Pagob


SENYUM Profesor Pagob berulang kali mengembang, saat menatap dada monitor hand hone android-nya. Di medsos, kata-ka-ta kasar , umpatan, caci-maki, bahkan kutukan bertaburan menghajar dirinya. Juga foto dan gambar yang merendahkan martabatnya. Namun, dia tetap tersenyum. “Dalam demokrasi rakyat punya hak marah. Demokrasi semakin cepat matang di tangan rakyat yang progesif.” Dia membatin.

Ini semua bermula dari tulisan atau pernyataan-pernyataan Prof Pagob yang dianggap masyarakat membela kaum koruptor . Pemerintah Republik Bragallbaz dan Dewan Perwakilan Tinggi Rakyat baru saja mengesahkan undang-undang tindak pidana korupsi. Hampir seluruh pasalnya cenderung membela koruptor , dari soal penghapusan penyadapan, kontrol dalam penangkapan, penyidikan, pengajuan perkara, persidangan sampai keringanan hukuman. Lembaga Pembasmi Korupsi, yang selama ini bisa tampil tegas dan galak, jadi lemas dan loyo, tak beda macan kertas.

Amuk massa, terutama mahasiswa, tumpah di jalan-jalan. Ratusan korban jatuh disambar timah panas atau dihajar polisi.

“Undang-undang tindak pidana korupsi yang berlaku sekarang ini justru bagus. Memanusiakan koruptor . Tidak semua koruptor harus dihukum berat. Sangat banyak dari mereka adalah aset bangsa. Kalau mereka semua masuk penjara, negara kita akan macet. Perkara mereka korup satu atau dua miliar , ya tidak masalah. Uang segitu terlalu rendah dibanding jasa-jasa tinggi mereka terhadap Republik Bragallbaz!” ujar Prof Pagob dalam jumpa pers di Istana. Hadir para petinggi negara. Prof Pagob, yang sangat popular dengan predikat begawan kampus dan begawan budaya secara khusus diminta hadir oleh presiden untuk mendinginkan keadaan.

Prof PagobNamun bukannya dingin, suasana justru bertambah panas. Emosi para demonstran terbakar . Mereka ngamuk. Merusak fasilitas umum. Polisi bergerak. Terjadi gesekan. Korban-korban pun berjatuhan.

“Kenapa Prof Pagob malah ngompori demonstran? Ini bahaya. Sangat bahaya. Bisa memicu revolusi!!” ujar Dr Gizza Arlittea, anggota staf ahli presiden.

“Tenang, nona cantik. Tidak akan terjadi revolusi! Ini hanya riak-riak demokrasi.”“Tapi kerusakan semakin meluas. Sangat banyak fasilitas publik hancur , prof…”“Biarkan mereka merusak agar mereka katarsis. Sekali-sekali pemerintah mesti keluarkan duit untuk membiayai kemarahan rakyat. Nanti rakyat lelah sendiri..”“Saya tak paham logika Anda…” ujar Gizza pergi.

***

Berkali-kali Prof Pagob berani pasang badan demi membela rezim berkuasa. Ia pun rela jadi sansak. Dipukuli. Dimaki. Diludahi. “Aku memang bukan idealis seperti para pemimpi tolol,” Prof Pagob tertawa. Para koruptor tersenyum. Mereka rela mengirim uang ke rekening Prof Pagob. Kakek 38 cucu itu pun semakin berkobar -kobar membela koruptor . Sementara itu, gembong-gembong koruptor terus mengasah pisau untuk merobek urat nadi jutaan orang miskin yang pontang-panting dihajar penderitaan karena negara sangat jarang hadir dalam hidup mereka. q -g


Indra Tranggono, cerpenis dan esais tinggal di Yogyakarta Kedaulatan Rakyat

 

 

The post Prof Pagob appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Rabu, 02 Oktober 2019

Bekal Makan Siang


JIKA saja ia tidak terbakar nafsu, keluarganya tidak akan terkena imbas begini. Mulanya hidupnya baik-baik saja. Apotek, bisnis yang ia jalankan bersama istrinya berjalan lancar memberi pemasukan tetap. Ia memiliki keluarga yang pantas. Punya rumah, punya mobil keluarga, setiap minggu bisa makan ke luar. Pengeluaran dan pemasukan seimbang. Bahkan, ia masih bisa menabung.

Hingga musim pemilu datang menggoda. Ia tertantang untuk mengikuti. Sahabat-sahabatnya meyakinkan. “Bos, kamu punya modal Bos. Eman-eman jika tidak digunakan. Dalam perebutan kekuasaan begini, tidak hanya modal uang yang dibutuhkan, tapi juga popularitas dan mesin penggerak. Kamu punya itu. Kamu mantan ketua organisasi kepemudaan tingkat provinsi. Punya anak buah di setiap kabupaten. Anak buahmu itu tinggal dioperasikan, jadi. Tidak semua calon punya modal seperti kamu. Banyak yang cuma modal nekat,” rayu temannya yang nanti menjadi ketua tim sukses.

Memang, hidupnya kini monoton. Ia hanya bergumul dengan anak-istri, mengecek toko, begitu-begitu saja. Hanya sesekali junior di organisasinya dulu datang meminta saran atau mengajak diskusi tentang politik. Kadang-kadang memintanya menjadi pembicara pendidikan politik dasar.

Itu berbeda dengan saat ia menjabat sebagai ketua organisasi kepemudaan. Ia dulu sibuk luar biasa. Ia keliling provinsi membuka dan menutup acara, melantik pengurus tingkat kabupaten, koordinasi ke pusat, audiensi dengan pemerintah, dan segala kesibukan lain. Berpolitik pernah ia jalani, bukan politik praktis, ya politik merebut kursi ketua itu. Penuh tantangan dan persaingan. Ada lobi-lobi, konsolidasi, bahkan uang juga bergerak. Politik ialah dunianya. Teman-temannya banyak yang sudah melangkah ke jalur ini.

Setelah menimbang-nimbang, ia memutuskan mengikuti saran teman-temanya untuk melangkah ke pertarungan memperebutkan satu kursi anggota dewan di tingkat provinsi.

Ia hubungi kolega-koleganya. Ia bentuk tim pemenangan sampai tingkat kecamatan. Ia ambil utang dengan tanah sebagai jaminan. Ia pesan kaus, ia pasang iklan, ia bagi uang.

Setiap malam orang datang ke rumah. Memuji-mujinya, melaporkan keadaan di lapangan dan prediksi-prediksi mereka. Mereka menawarkan bantuan masuk ke dalam tim dan ujung-ujungnya minta uang. Kepalang tanggung. Hingga akhirnya waktu pemilihan telah tiba. Orang-orang memberikan suaranya, penghitungan suara dimulai. Ia mendapat suara banyak, tetapi belum cukup untuk mendudukkannya di kursi dewan. Orang-orang yang tadinya mendekat, mulai menyingkir. Orang-orang yang tadinya memanggilnya bos, hilang entah ke mana.

Yang datang justru orang-orang yang menagih bayaran ongkos cetak alat kampanye, kaus, hingga makanan. Hartanya ludes. Tanah berikut tokonya terpaksa ia jual untuk menutup semua utang itu. Ia ditawari tetap tinggal di partai sebagai pengurus, tetapi ia menolaknya, ia ingin hidup seperti sediakala.

***

Bekal Makan SiangSudah lima tahun peristiwa itu, ketika pemilu mau menjelang lagi, keadaan ekonominya belum pulih. Ia sekarang bekerja di sebuah perusahaan sebagai pegawai administrasi. Gaji yang tidak seberapa itu ia gunakan menghidupi keluarga dan berusaha menabung sedikit demi sedikit untuk membuat usaha lagi. Ia sudah ke sana-ke mari meminta pinjaman untuk membangun usaha lagi, tetapi tidak ada yang memberi. Bahkan, keluarganya sendiri tidak memberi. Utangnya yang kemarin belum terbayar, mungkin itu alasannya. Istrinya terpukul dengan keadaan itu, tetapi menerima. Itu yang membuatnya tetap kuat.

Betapa pun hidup harus dilanjutkan. Anak-anak harus tetap makan, sekolah, dan hidup layak. Anak-anak ikut menerima konsekuensi. Kualitas makan di keluarganya turun, kualitas pakaiannya juga begitu. Jika dulu makan ke luar, jalan-jalan sore menggunakan mobil, saat ini membawa sepeda motor. Saat hujan turun harus ngiyup.

Saat linglung begitu ia mengaji. Saat mengaji itu ia ingat guru ngajinya saat kecil dulu. Tiba-tiba ia ingin bertemu. Ia berkunjung ke sana sendirian. Ia masuk ruangan, tempat ia dulu belajar mengaji bersama teman-teman kecilnya. Di sini ia belajar mengenal huruf-huruf hijaiah, menghafalkan doa-doa, belajar salat, dan wiridan. Wiridan adalah melafalkan kalimah-kalimah baik, asma Allah, secara berulang-ulang. Guru ngajinya melakukan pengajaran tanpa dibayar. Dia tulus mecintai murid-murid. Ia duduk di ruangan itu menunggu, mengenakan sarung kotak-kotak, baju warna putih.

“Eh Gus Lana, pripun kabare. Kok kadingaren ke mari.” Gurunya memang unik, memanggil murid dengan panggilan Gus.

“Injih Yai. Nyuwun ngapunten. Mohon maaf ndalem baru bisa silaturahim.”

“Eh denger-denger kemarin nyalon ya?”

“Injih Yai, tapi tidak jadi.”

“Iya, kalau jadi mana mungkin sampai sini.” Sang guru tertawa terbahak-bahak. Lana merunduk. Ia merasa bersalah. Ketika mencalonkan diri tidak memohon restu, dan saat kalah baru mendekat.

“Mohon maaf, Yai. Mohon petunjuk.”

“Begini Lana. Kamu harus prasangkai baik peristiwa ini. Coba cari sisi baiknya untukmu atas peristiwa ini. Kamu masih ingat hadis qudsi ini; Aku dalam prasangka hamba-Ku, pada-Ku. Itu artinya kenyataan ditentukan oleh prasangka kita sendiri. Pokoknya kamu harus berprasangka baik atas peristiwa ini, atas kekalahanmu. Setelahnya kamu jalani hidup seperti biasa. Kamu jalani hidupmu sebagai makhluk, sebagai umat Muhammad. Itu saja cukup.”

Sepulang dari rumah gurunya, hatinya tenang. Ia juga tidak lagi memaki-maki, menyalahkan orang lain. Kata gurunya, masalah yang menimpa kita itu dari Allah. Alangkah tidak sopan mengeluhkan Allah kepada manusia. Keluhkanlah yang dari Allah itu kepada Allah.

***

Sebelumnya Lana makan di kantin, tetapi sudah beberapa bulan ini Lana tidak makan siang. Ia kuat menahan lapar demi menyisihkan uang. Anaknya sudah mulai besar membutuhkan biaya sekolah yang cukup. Ia juga ingin segera punya uang untuk modal, memulai usaha lagi. Saat waktu istirahat tiba ia melangkah menuju masjid ikut salat berjemaah. Setelahnya ia istirahat di majid sampai waktu istirahat habis.

Mulai hari ini Lana membawa bekal dari istrinya, tetapi ia bingung mau makan di mana. Jika ia memakan bekal di meja kerja, ia tidak enak dengan teman-temannya. Orang-orang mungkin berpikir kalau dia terlalu berhemat. Perutnya sudah memanggil, menyuruhnya untuk membuka tepak bekal dari istrinya. Tangannya sudah mengelus-elus. Tapi ia tidak sampai hati membukanya. Ia ingat sayur kluwih yang dimasak istrinya berbumbu petai beraroma tajam. Ini akan tercium oleh teman-temannya. Bisa mengganggu konsentrasi kerja. Apalagi gereh goreng itu. Duh. Ia ingin bawa bekal itu ke lantai atas, dan memakannya di sana, tapi ia takut kepergok satpam atau petugas kebersihan. Tentu dia sangat malu jika tertangkap basah makan sembunyi-sembunyi. Kabar itu bisa menjadi pembicaraan orang sekantor. Sampai bel pulang berbunyi, bekal dari istrinya masih terbukus. Ia tidak punya nyali untuk membuka. Gengsi. Ia memilih menahan lapar daripada malu.

Ia bawa bekal itu kembali pulang. Tetapi hatinya juga berkecamuk. Andai tahu dia tidak memakan bekalnya, istrinya pasti sakit hati. Ia bingung. Ia mencari tempat memakan bekal itu. Ia berencana makan bekal itu di pom bensin. Baru berhenti dan mau membuka jok, ada juniornya di organisasi kepemudaan menghampiri. “Eh Mas, apa kabar? Setelah berbasa-basi, ia berjalan lagi dan berhenti di taman kota. Di taman, lagi-lagi ia kepergok teman.

Akhirnya, ia memantapkan niat untuk menyantap bekal di serambi masjid. Ia sudah tidak peduli ada orang melihat. Ia akan katakan bekal itu ialah tanda cinta istrinya.

Ia sikat bekal itu dengan cepat. Ia masukan nasi dan lauk ke dalam mulut dengan sendokan besar. Tandas sudah. Tepak yang kosong itu akan ia tunjukkan kepada istrinya. Itu lah cara membahagiakan istri.

Tepak kosong yang sudah dibungkus plastik ia gantungkan di sepeda motor. Ia menghidupkan sepeda motor. Pada saat ia akan menjalankan sepeda motor, ada seorang bapak mendekatinya. Seorang bapak bermuka memelas mengatakan sesuatu. “Apa Pak?” Lana meminta mengulangi.

Bapak yang tampaknya seusia bapaknya itu mengulang, “Mas, minta uang seikhlasnya buat beli bensin.” Lana membuka dompet dan memberikan uang Rp20 ribu. Bapak itu menerima, “Semoga rezeki mas lancar ya?”

Ia menggerakkan motor, bapak itu juga. Tebersit di pikirannya, mungkinkah si bapak menipu dirinya? Namun, pikiran itu segera tertindih pesan gurunya tentang prasangka baik. “Jika aku tidak membawa bekal dan makan di kantin, aku tidak bisa menyisihkan uang dan menolong bapak itu membeli bensin. Alhamdulillah.”

Lana melanjutkan perjalanan pulang, ia melewati baliho-baliho kampanye di kanan dan kiri jalan. Minggu depan pemilu, akan segera ada orang-orang yang bernasib sama dengannya atau mungkin lebih buruk. (M-2).


Muhajir Arrosyid, bekerja sebagai dosen di Universitas PGRI Semarang. Ia telah menerbitkan buku kumpulan cerita pendek berjudul Menggambar Bulan dalam Gendongan. –  Media Indonesia.

The post Bekal Makan Siang appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Mustajab dan Pak Bupati


Mustajab buta. Mata Mustajab tidak bisa melihat. Namun, tak ada orang di kampung kami yang begitu amat optimistis menghadapi hidup selain Mustajab. Hidup bukan gelombang laut lepas atau hantaman ombak, begitu katanya. Hidup adalah sungai jernih dan bening yang mengalir tenang. Tak ada kotor, tak muncul keruh, dan tak timbul kumuh.

Mustajab bingung bila ada orang yang stres menghadapi hidup. Hidup itu indah, tegas Mustajab, tak pantas orang stres, sakit, bahkan memilih bunuh diri saat menjalani hidup. Dalam hidup memang hadir masalah, tapi dalam hidup juga ada solusi. Dalam hidup muncul kesulitan, tapi dalam hidup hadir kemudahan.

Saat orang dibuat cemas menghadapi kerasnya hidup karena susah mencari kerja atau dipecat dari pekerjaannya, Mustajab tak beringsut dari menyambangi rumah-rumah. Ia mencari orang yang direndam penat, tidak peduli perempuan atau laki-laki, dewasa atau anak-anak, dan mengelus-elus tubuh mereka sampai terlena. Hanya dalam tempo kurang dari satu jam, puluhan ribu rupiah masuk ke sakunya.

Mustajab dan Pak Bupati“Orang kerja dengan membuka mata. Itu pun duit belum tentu dapat. Namun, aku, cukup tutup mata, duit mengalir deras,” begitu Mustajab melukiskan pekerjaannya sembari tertawa dan sedikit menyombongkan diri.

Mustajab memang sekadar tukang pijat tunanetra. Sekadar? Jangan ucapkan kata “sekadar” kepada Mustajab, apalagi dengan nada merendahkan karena ia pasti naik darah. Bagi Mustajab, tunanetra dan pijat adalah dua kata yang istimewa. Keduanya telah membuat Mustajab terkenal dan dikenal sampai saat ini hingga ia mampu mencukupi kebutuhan hidupnya dengan satu istri dan dan tiga anak.

Tunanetra? Entah apa yang terjadi kalau Mustajab tidak buta. Nasibnya mungkin bisa ngenes seperti Towil dan Panut, dua karibnya yang mati disergap polisi gara-gara menjarah kayu jati. Berbekal keberanian minim, keduanya nekat. Towil ditembak di dada, Panut kehabisan napas hingga klenger di pinggir kali saat menyelamatkan diri. Media-media menyebut mereka sebagai penjarah kambuhan, padahal Mustajab tahu benar, Towil dan Panut baru pertama kali mencuri jati.

Pijat? Siapa saja boleh memijat dan dipijat. Namun, bagi Mustajab, pijat yang enak, pijat yang melenakan hanyalah pijat yang dilakukan para tunanetra. Karena, bagi tunanetra, tubuh manusia ibarat tuts-tuts piano yang memunculkan irama musik nan indah. Mustajab hafal benar, mana bagian tubuh yang ditekan dan mana bagian tubuh yang cukup disentuh agar muncul harmoni.

Maka, pantas apabila Mustajab menjadi pujaan banyak orang. Hampir setiap hari ia keluar rumah demi pasien-pasiennya. Dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung, bahkan Mustajab mulai mengenal dari desa ke desa. Nama Mustajab kian dikenal setelah banyak pejabat menyenangi pijatannya. Mulanya pak lurah, lalu pak camat, kini tubuh pak bupati sudah langganan ia pijat.

“Mengapa kemarin tidak datang, Jab?” Suatu saat pak bupati pernah protes kepada Mustajab karena ia tak muncul saat pak bupati butuh pijatannya.

“Sakit mata, Pak,” jawab Mustajab sekenanya.

“Sakit mata?”

“Saya kira orang buta seperti saya sudah tidak lagi terkena sakit mata, ternyata salah. Saya bisa juga kena belekan, Pak.”

Pak bupati tertawa, Mustajab tersenyum. Begitulah, di sela memijat, pak bupati mengajak Mustajab bercakap-cakap. Mustajab paham, mungkin pak bupati ingin menyerap kisah orang-orang kecil seperti dirinya sebab dari orang seperti dirinya itulah pak bupati dapat memahami nasib orang yang ia pimpin. Namun, Mustajab pantang mengeluh, termasuk di depan pak bupati. Hidup sudah terlalu indah bagi dirinya. Alhasil, justru di hadapan dirinyalah pak bupati yang kerap mengeluh.

Pak bupati mengeluhkan beberapa pejabat di bawahnya yang cakap bicara, tetapi buruk kerjanya. Orang-orang seperti ini, kata pak bupati akan tega bicara apa saja demi menutupi keburukan dirinya. Pak bupati juga menyesalkan beberapa orang yang suka mengambil pungutan dari beberapa proyek yang tengah berjalan. Bagi pak bupati, orang seperti ini tak akan segan menghambat suatu pekerjaan kalau kantongnya belum terisi.

Mustajab jadi sedikit paham situasi pemerintahan. Di tengah pijatan nikmat yang ia keluarkan, pak bupati sering kali bicara tanpa sadar saat mata mulai diserang kantuk. Ia bicara apa adanya, bahkan tanpa rem, ngelantur. Mulut pak bupati bukan lagi ember bocor, melainkan sudah jadi ember pecah. Ia seperti tak sadar bahwa dirinya pejabat dan yang ia hadapi adalah tukang pijat.

Situasi di kamar pijat antara Mustajab dan pak bupati ternyata diketahui bawahan pak bupati. Mereka percaya bahwa Mustajab menyimpan seabrek rahasia pribadi maupun kantor. Akhirnya para bawahan bupati, seperti lurah, camat atau kepala dinas, juga pengusaha, seperti para kontraktor atau broker proyek menggemari pijat Mustajab. Mereka minta Mustajab ke rumah seraya dipijat, tetapi selanjutnya mereka meminta dan menyerap informasi dari Mustajab.

Mustajab jengah mulanya. Ia menolak memanfaatkan dan dimanfaatkan situasi itu. Mustajab cinta memijat. Ia tidak mau dunia pijatnya dikotori politik. Namun, setelah orang-orang itu merayu dan sedikit memberi tekanan, Mustajab akhirnya menyerah. Apalagi Mustajab melihat sendiri bagaimana orang-orang itu memberi jasa pijat kepada dirinya seolah tanpa menghitung. Mustajab ketagihan.

Namun, bukan karena alasan ini kalau Mustajab lalu berhenti ngider menjumpai pasiennya di rumah-rumah mereka. Mustajab merasa sudah waktunya dunia pijat-memijatnya dijadikan usaha serius. Selama ini Mustajab merasa pijat-memijatnya hanya begitu-begitu. Ia merasa waktunya habis saat berada di jalanan. Belum lagi, badannya cepat terserap lelah. Akhirnya Mustajab tidak maksimal ketika memijat pasiennya.

Memang istri Mustajab—yang juga pemijat tunanetra—mampu mengembalikan kebugaran dirinya. Namun, semua itu hanya sesaat. Mustajab tidak tega meminta istrinya untuk menyentuh dan memijat dirinya setiap hari sesaat ia diterjang lelah sehabis ngider. Apalagi, istrinya juga sering ketiban pulung, memijat orang yang datang ke rumah mereka.

“Aku akan bikin rumah pijat di ruko dekat pasar,” cetus Mustajab kepada istrinya.

“Yakin laku?” ujar istrinya mengingatkan.

“Di pasar banyak orang lelah. Di situ pasti butuh tukang pijat. Belum lagi, pasien pijat yang selama ini sudah jadi langganan. Mereka akan datang.”

Perkiraan Mustajab tepat. Berduyun-duyun orang lalu datang ke rumah pijatnya di ruko yang ia sewa. Dari mulai pedagang di pasar, sopir angkutan, para pegawai, hingga para penanggung jawab keamanan dan ketertiban kota, seperti polisi atau tentara. Pukul delapan pagi Mustajab sudah membuka rumah pijatnya dan pukul delapan malam ia tutup. Total Mustajab bisa memijat 6-7 orang setiap harinya.

Bawahan pak bupati? Mustajab tak akan lupa. Mustajab selalu siap menyediakan waktu bagi lurah, camat, kepala dinas, atau pengusaha yang ingin mendapat pijat darinya, selain tentu informasi darinya. Mereka tinggal memanggil. Di rumah, di losmen, atau di hotel. Pak bupati? Mustajab tahu diri. Setiap pekan ia meluangkan waktu untuk mendatangi rumah dinas pak bupati. Dan, pak bupati tetap tidak berubah. Di sela-sela dipijat, pak bupati selalu bercerita tentang segalanya.

Mustajab bangga. Pak bupati telah kepincut dengannya. Hampir lima tahun ia menggunakan tenaga Mustajab. Di akhir masa jabatannya, pak bupati bahkan menghadiahi Mustajab kabar istimewa. Pak bupati minta Mustajab menemaninya berhaji. Mustajab terkejut, tak percaya.

“Benar, ini Pak?” tanya Mustajab kepada pak bupati. “Apa aku pernah membohongimu?” Pak bupati balik bertanya.

Mustajab tersipu. Namun, saat tiba di Makkah, Mustajab baru mengerti mengapa pak bupati mengajaknya berhaji. Pak bupati tak semata memberi kabar istimewa, pak bupati tak sekadar memberi hadiah, tapi pak bupati memerlukan Mustajab sebagai tukang pijatnya. Di sela-sela ibadah, apabila lelah mencengkeram, pak bupati tak segan memanggil Mustajab untuk memijat badan, kaki, atau tangannya.

Mustajab mengabaikan keluh karena kerap tak mampu konsentrasi dalam ibadah. Bagi Mustajab, bisa berangkat haji saja sudah berkah, apalagi tanpa biaya sedikit pun dan apalagi bersama pak bupati. Jadi, mengapa ia harus berkeluh sekali pun di sana ia harus memijat pak bupati seperti tanpa henti? Mustajab sadar, wajar bila pak bupati meminta, sedangkan ia telah diberangkatkan ke tanah suci. Jadi? Ah, betapa indahnya hidup.

Mustajab bahkan tetap tersenyum saat pulang haji, meski dia mendapati istrinya cemberut. Istrinya bersikap tidak seperti biasa. Mustajab baru mengerti kemudian, kalau ternyata dua salon bergaya modern telah berdiri, tak jauh dari rumah pijat miliknya. Istrinya khawatir rumah pijatnya menjadi sepi karena dua salon baru itu tidak hanya menyajikan potong rambut, tetapi juga pijat. Beberapa pelanggan tetapnya sudah mulai bertanya-tanya dan melirik kedua salon itu.

“Rumah pijat kita bisa-bisa nggak laku, Pak. Pelanggan akan berpindah ke kedua salon itu karena di situ juga ada pijat,” kata istrinya.

Mustajab tersenyum. Katanya, “Rezeki sudah ada bagiannya masing-masing.”

Mustajab tak mau membuang-buang waktu. Hanya dengan penambahan satu kata, Mustajab mengganti nama rumah pijatnya agar dapat bersaing dengan kedua salon itu. Mustajab menggunakan kata “syariah” di belakang nama sebelumnya dan huruf H di depan namanya. Jadilah, tempat pijat Mustajab berubah dari “Rumah Pijat Mustajab” menjadi “Rumah Pijat Syariah H Mustajab”.

Sayangnya, Mustajab menolak bercerita tentang rumah pijatnya yang bersyariah itu di kemudian hari. Ia tak berucap sepatah kata pun saat berada di kantor polisi untuk memenuhi panggilan aparat keamanan karena dua alasan. Pertama, status rumah pijatnya yang tak berizin karena ternyata juga menjual obat-obatan. Kedua, penggunaan kata “syariah” yang menuai protes dari banyak pihak.

Mustajab sudah memohon kepada pak bupati agar ikut membantu menyelesaikan masalahnya. Namun, pak bupati angkat tangan.

“Aku tak bisa membantumu, Jab. Aku sudah kalah dalam pilkada kemarin. Dan, ini semua gara-gara informasi yang kamu berikan kepada lawan-lawan politikku.”

Apakah dengan kejadian ini Mustajab masih optimistis menghadapi hidup dan tetap menganggap hidup itu indah? Entah, tak ada yang tahu. Sebab, sejak pemanggilan ke kantor polisi itu, Mustajab tak pernah lagi ketahuan batang hidungnya. Namun, seorang polisi yang memeriksa kasusnya bercerita, Mustajab raib karena dipanggil pak gubernur yang kasihan dengan nasibnya dan penasaran dengan pijatannya.

Taman Pagelaran, Bogor, 2019


Sigit Widiantoro menulis cerpen dan esai di media massa. Lahir di Banjarnegara, bermukim di Bogor. Belajar sejarah di UNY dan belajar ilmu komunikasi di UI. Bekerja di perusahaan penerbitan di Jakarta.- Republika

The post Mustajab dan Pak Bupati appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Penjual Kisah-Kisah Sedih


KESEDIHAN ada karena ada kebahagiaan, katamu. Coba kalau saja tak ada kebahagiaan, maka kesedihan pun tak akan ada. Semua rasa akan sama. Namun, kau sendiri tak juga mampu melarang seseorang merasa bahagia hanya untuk melenyapkan kisah sedih dalam hidupmu.

Aku tersenyum setiap kali melihatmu datang berkunjung ke rumahku. Bukan karena aku senang membeli dagangan yang coba kau jual kepadaku, melainkan karena kisah-kisah sedih yang begitu banyak kau ceritakan kepadaku. Barangkali aku telanjur merasa larut melihatmu menceritakan kisah sedih hidupmu yang tak kunjung usai. Dalam hal ini, beberapa kali aku sempat khawatir jika kau akan mengetahuinya—mengetahui bahwa sebenarnya bukan daganganmu yang kubeli, melainkan kisah-kisah sedih hidupmu.

Setiap kali mendengar kau berteriak dari depan halaman rumahku—meneriakkan namaku—, maka aku segera berlari menghambur keluar rumah demi menemuimu. Bagaimana harus kujelaskan kepadamu bahwa kisah sedih hidupmu telah menjadi hal yang selalu kutunggu. Sekali kau menceritakan kisah sedihmu, kepalaku akan segera dipenuhi ribuan bayangan kisah sedihmu yang saling merekat dan membuatku kehilangan rasa sedihku sendiri karena telah terganti dengan kisah sedihmu.

Penjual Kisah-Kisah SedihBagiku, sebagai penjual, kau bukanlah penjual yang baik karena selain barang daganganmu yang tak sesuai dengan apa yang kuinginkan, kau selalu menjual dengan harga selangit. Jauh lebih mahal dari harga pasaran yang ada pada umumnya. Namun, sebagai pencerita, kau sangat kutunggu-tunggu karena kau bisa melenyapkan kebosanan dan kesedihanku karena menggantinya dengan kisah sedihmu. Dalam hal ini, aku bahkan rela kehilangan uang untuk membeli daganganmu yang tak seberapa berharga karena kuanggap saja aku membeli kisah sedih yang kau jajakan.

Banyak kisah sedih yang telah kau jual dan kubeli darimu. Namun, satu kisah darimu yang selalu kuingat ialah kisah sedih hidupmu yang selalu kehilangan harapan. Dari kisah sedih yang kau ceritakan, tahulah aku bahwa kau selalu kehilangan anakmu sesaat setelah kau melahirkannya. Telah setidaknya empat kali kau mengalaminya. Hal itu membuatmu sedih tak berkesudahan. Aku turut sedih mendengar itu semua, dan aku rela membayarmu demi kisah sedih itu—meski sebenarnya saat itu yang kau jual kepadaku hanyalah singkong dan ubi jalar yang tak seberapa kuinginkan dan kubutuhkan.

Namun, anehnya, ada kisah darimu yang kau anggap berhubungan dengan kisah sedihmu yang selalu kehilangan anak sampai keempat kalinya itu. Kau mengatakan bahwa bapakmu sengaja menukar nyawa cucunya dengan nyawanya sendiri sehingga ia tak lekas mati atau lebih tepatnya tak kunjung bisa mati. Dalam kisah ini, kau bahkan sama sekali tak menyinggung takdir Tuhan yang mampu mengatur apa yang belum terjadi, sudah terjadi, dan akan terjadi dalam kehidupan.

Dengan cara pandangmu, kau menceritakan kisah bapakmu yang juga telah empat kali mengalami mati suri. Kau tak akan mampu melupakan kisah itu, ketika bapakmu yang telah dinyatakan tiada tapi setelah siap hendak dimakamkan terbangun secara tiba-tiba dan mengejutkan para pelayat. Tentu saja pelayat lari kocar-kacir melihat bapakmu bangkit lagi. Kejadian itu selalu membuatmu bingung. Dan akhirnya kau buat kesimpulan sendiri bahwa bapakmu yang sebenarnya telah dijadwalkan tiada itu memiliki kemampuan menukar nyawanya sendiri dengan nyawa cucunya—yakni calon anakmu—yang selalu gagal diselamatkan setelah beberapa jam kau lahirkan.

Dari sekian kisah sedih yang kau ceritakan, ada satu kisah sedih yang juga kau alami dan membuatku khawatir akan keselamatanmu. Kau memiliki suami yang berperangai kasar. Pada malam-malam tertentu ketika suamimu telah dikuasai perangainya yang kasar, ia tak segan-segan mengejarmu dan memaki-makimu karena tak mampu menyelamatkan buah hati kalian yang hanya berumur beberapa jam. Belum lagi kau bisa menyangkal semua tuduhan itu, kau bahkan telah dianggap sebagai ibu yang tak mampu merawat anakmu sendiri dengan baik sehingga kau selalu kehilangan anakmu.

Bahkan katamu, kau sangat gemetar ketika melihat suamimu mengacung-acungkan sebilah pisau dapur di hadapanmu di sela-sela makian itu. Kau yakin bahwa jika kau melawan, suamimu tak akan segan untuk menusukkan pisau dapur itu ke jantungmu.

“Kau percaya pada ceritaku?” tanyamu di sela-sela keseruanmu dalam bercerita.

Kau dikenal sebagai orang yang jujur. Maka, kukatakan kepadamu, “Tentu saja, tentu aku sangat percaya.”

Tak ada satu pun ibu yang ingin menelantarkan anaknya, bukan? Andai suamimu itu benar-benar menusukkan pisau ke jantungmu, apa yang akan terjadi padamu? Aku yakin kau tak pernah merasa tenteram hidup bersama suamimu. Adakah kau merasa lelah dengan hidupmu yang penuh dengan kisah sedih itu?

Seperti waduk yang tak mampu menampung air, kisah sedih yang kau ceritakan kepadaku seakan meluap-luap tak terbendung. Akhirnya, kisah sedihmu meluap kepada ibuku. Aku melihat ibuku menyimak dengan sungguh-sungguh kisah sedihmu yang kuceritakan kepadanya. Mendadak ibuku teringat cerita dari pulau seberang tentang makhluk pengganggu yang mampu membunuh anak yang baru beberapa jam dilahirkan. Orang-orang di pulau seberang sangat berhati-hati jika akan melahirkan anak.

Beberapa jam setelah anak dilahirkan, kata ibuku, makhluk itu akan mengisap darah si anak tak bersisa hingga akhirnya anak itu tiada. Agar tidak terjadi hal itu, orang-orang menunggui anak yang baru dilahirkan agar selamat dari gangguan makhluk tersebut. Jangan sampai makhluk itu mengganggu. Jika ia datang, langsung usir makhluk itu, kata ibu.

“Seperti apa rupa makhluk itu, Ibu?”

“Kau akan sulit percaya. Makhluk itu memiliki kepala namun tak berbadan. Di bawah kepala makhluk itu, ada juntaian usus yang panjang.”

Seakan tak mau kalah dalam bercerita, aku sengaja menceritakan juga kisah sedihmu tentang bapakmu yang memiliki kemampuan menukar nyawanya sendiri dengan nyawa cucunya.

“Bagaimana menurut Ibu tentang kisah itu?”

Dengan suara yang mantap ibu mengatakan bahwa menurutnya bapakmu memang orang yang memiliki “pegangan”.

“Orang yang punya ’pegangan’ tak akan mati sebelum ‘pegangan’ itu dilepaskan,” kata ibu dengan raut muka bersungguh-sungguh.

***

Suatu siang kau kembali datang kepadaku, menawarkan dagangan yang berupa beberapa buah sukun sebesar kepala manusia. Namun, dari dalam hati kecilku, aku tak sabar menunggu kisah sedihmu yang bakal kau riwayatkan kepadaku siang itu. Saat itu aku sudah mengetahui bahwa akhirnya kau berbadan dua untuk kelima kalinya. Namun, bukannya rasa bahagia yang ada dalam hatimu, melainkan ketakutan yang berkumpul begitu besarnya dalam hatimu. Layaknya sebuah ritual, ketakutanmu selalu tampak di setiap perilaku dan raut wajahmu.

Calon anakmu yang belum lahir telah membawamu pada labirin ketakutan dan kecemasan. Bersama adanya calon anak dalam rahimmu, kau juga khawatir akan adanya pertukaran nyawa yang akan dilakukan bapakmu kepada calon jabang bayi. Kau menjadi sama sekali tak bersemangat menyambut calon anakmu sendiri. Bayangan bapakmu yang mati kemudian hidup lagi menjadi sesuatu yang menghantui setiap helaan napasmu.

“Untuk apa kau selalu memendam kesedihan yang justru akan menghalangi kebahagiaan yang mungkin akan datang kepadamu?” gumamku, berusaha menghiburmu.

Matamu kulihat menyelidik kepadaku, seakan ingin meyakini gumaman yang baru saja kukatakan. Untuk pertama kalinya aku melihatmu tersenyum, seolah kisah sedihmu telah habis tandas. Layaknya anak kecil yang kehilangan permen, aku justru merasa kehilangan sesuatu—yakni kesedihanmu—yang selalu kutunggu-tunggu. Terbayang kemudian di benakku kalau selanjutnya kau akan melahirkan anak yang sehat dan lucu tanpa gangguan sedikit pun.

***

Seminggu sudah aku menunggu kedatanganmu sekadar untuk membeli kisah sedih yang kau ceritakan kepadaku. Sesekali tebersit dalam benakku, mungkin saja kisah sedihmu memang telah benar-benar purna. Namun, mengapa aku tidak bisa merasa bahagia sama sekali? Aku justru merasa ada yang hampa.

Tak sampai sore hari, seolah-olah mendapatkan sesuatu yang hilang, aku mendengar kabar tentangmu lagi. Namun, rupanya kisah sedihmu ini tak kudengar langsung dari dirimu, melainkan dari orang lain. Inilah kisah sedihmu yang juga menjadi penutup bagi kisah-kisah sedihmu yang telah lalu.

Sore itu aku bergegas ke rumahmu. Tangan kananku tak lupa menggenggam lembaran-lembaran uang yang tersimpan rapi dalam amplop putih bersih. Kurasakan langkah kakiku kian memberat setiap kali melangkah, bahkan ketika telah sampai di muka rumahmu.

Lembaran-lembaran uang dalam amplop kumasukkan ke dalam sebuah baskom yang sengaja ditutup dengan selembar kain taplak yang sengaja disediakan di atas meja muka rumahmu. Kuanggap aku sedang membayar sejumlah uang untuk kisah sedihmu yang terakhir, yakni kisah sedih bahwa kau telah tiada, pergi meninggalkan kisah-kisah itu untukku selama-lamanya. (*)

Kulonprogo, September 2019


Kristin Fourina, Lahir di Yogyakarta pada 13 November. Lulus dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta. Cerpen-cerpennya termuat dalam beberapa antologi bersama. Salah satunya Lemon Cake: Calon Suamiku Harus Bisa Membuat Lemon Cake Terenak (2012). – Jawa Pos

The post Penjual Kisah-Kisah Sedih appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Sayup Tifa Mengepung Humia


Kelak setelah dimiliki Bone, Waita akan menempati humia baru. Tidak lagi bersama Mama Aname. Waita akan menjadi mama baru di humia barunya, seperti seekor cenderawasih membuat sarang baru di dahan laingliu. Bone menegakkan humia dengan tiang utama dari batang pohon soang yang berbulan-bulan direndam dalam aliran Sungai Warsor. Deras Sungai Warsor akan menguatkan batang soang. Waita akan segera dinikahkan di depan para tetua dan dukun Hobone, kemudian menuju Soroani, dusun Bone.

Mama Aname telah menerima banyak mas kawin dan harta adat dari Bone; lima ekor wam, tiga tali ijebasik, lima buah wanggokme yang harus diasah oleh mempelai laki-laki, dan tiga ikat ebekanem. Mas kawin dan harta adat begitu besar dirasa sepadan dengan Waita, penari hunuke paling sintal di Hobone. Betisnya sepenuh paruh kasuari, lambang kebanggaan orang-orang Hobone. Dadanya ranum, kencang, dan tidak terlalu besar. Yang lebih menjadikan Waita harta berharga adalah beberapa hari sebelum Bone melamar, Waita melakukan upacara muruwal bagi perempuan Hobone. Upacara pengenalan tugas perempuan, setelah darah kali pertama menetes dari selangkangan. Darah itu kelak akan menandakan ketangguhan perempuan Hobone. Yang siap membahagiakan suami, memelihara babi dan kebun sagu, serta melahirkan banyak anak lelaki.

“Mama, apa perempuan tak boleh menikah dengan lelaki yang dicintai?” tanya Waita kepada Mama Aname yang sedang mewarnai tubuh Waita. Aroma babi bakar masuk ke dalam humia mereka.

“Tentu boleh, Waita.”

“Apa Waita bisa menolak pernikahan bila tidak suka dengan calon suami?”

Mama Aname terdiam. Tangannya yang belepotan cairan kapur dan jelaga pembakaan kayu kasuari berhenti. “Kamu sudah menjadi yomine, Waita.”

Waita diharapkan mampu meredam konflik antara Hobone dan Soroani. Bibit permusuhan sudah lama terperam. Hanya lantaran dua dusun itu berbeda nasib. Hobone yang berada di soli, daerah lebih tinggi dan lebih subur. Tidak pernah merasakan kelaparan, betatas dan ubi tersedia sepanjang tahun. Adapun Soroani berada lebih bawah, olobok, yang tidak sesubur Hobone.

Permusuhan itu kembali tumbuh, ketika suatu hari seorang perempuan Soroani tertimpa batang sagu yang dirobohkan seorang laki-laki Hobone. Kepalanya pecah dan mati di tempat. Padahal sudah terpasang seiye, tanda larangan untuk melewati lahan orang Hobone karena sedang masa penebangan pohon sagu. Kelalaian perempuan itu membangkitkan amarah yang terperam di dada-dada orang Soroani. Perang tak terhindarkan. Terjadilah saling serang. Busur dan panah beracun, kapak, dan parang beterbangan di tengah rimbun. Setiap hari banyak lelaki Hobone dan Soroani mati. Banyak nyawa terbawa ke langit, dimuliakan, mati di medan perang bagi laki-laki adalah kebanggaan.

“Waita, Bone sudah menghendakimu. Ini untuk mereda peperangan dan sudah jadi kesepakatan para dukun di rumah yowi.”

“Apa Waita harus ditukar dengan perdamaian?”

“Lebih baik membuat persaudaraan daripada mencipta permusuhan, Waita. Akahi paekahi yae ewelende, wah onomi honomi eungekende. Ingat itu, Waita!” Mama Aname bersikeras.

“Mama, tapi Waita tidak pernah tahu apa yang perempuan kerjakan di Soroani.”

“Suamimu dan Mama Ibo akan mengajarimu menjadi perempuan Soroani.”

Mata Waita mengerjap-ngerjap. Baru beberapa hari lalu dia merasakan perayaan menjadi wanita seutuhnya. Waita masih bergantung pada Mama Aname dan sekarang dia harus bersiap untuk dibawa Bone ke humia baru di Soroani. Seperti seekor burung bermigrasi dari sarang satu ke sarang baru, bila telur-telurnya sudah menetaskan riuh kasuari baru.

Setiap memikirkan aneka hal baru yang akan mengubahnya, ada keganjilan yang tumbuh di kepalanya. Waita mengingat bagaimana sosok Ewoyop. Sosok lelaki Hobone yang memainkan tifa begitu merdu.

***

Sayup Tifa Mengepung HumiaKayu-kayu kasuari dibelah dengan kapak. Kayu-kayu itu akan dibakar dan menghasilkan bara api konstan. Anak-anak kecil laki-laki perempuan menyunggi bebatuan yang diambil dari sungai. Beberapa laki-laki memanggul babi di pundak. Para mama membawa betatas dan buah pandan merah di dalam tas hakone yang dikaitkan di kepala mereka. Beberapa masih digelatuti balita di bagian dada dan menggandeng seorang lagi. Semua wajah begitu ceria.

Tetua adat dan para dukun di rumah yowimemutuskan akan mengadakan upacara persembahan untuk alam di tengah Hobone, di sebuah tanah lapang yang bersih dari semak belukar. Beberapa hari lalu longsor mengubur empat desa di lereng gunung. Hobone diselamatkan. Sebagai ucap syukur upacara persembahan digelar, banyak tamu diundang, tari-tarian dan musik dipentaskan.

“Waita, kau menari hari ini?” tanya seorang mama, bibirnya merah karena sirih. Seorang bayi, mungkin lima bulan, tidak hendak lepas dari puting kanannya.

“Ya, Mama,” jawab Waita. Mukanya sedang dirias dengan dominan hitam-putih.

Keriuhan merasuki sela-sela pohon sagu sekitar Hobone. Lubang untuk tungku sudah selesai digali. Beberapa laki-laki gegas membuat api, dari seutas sumbu yang digesek dengan batu. Kayu kasuari kering diletakkan di atasnya, lalu batu dipanaskan hingga berganti warna putih. Setelah itu batu dipindahkan dengan batang kayu yang dibelah tengah menjadi penjempit ke dalam tungku. Di sanalah babi, betatas, umbi-umbian, dan aneka sayur siap dibakar.

Laki-laki menunggu di sekeliling tungku sambil mengisap pali, sebatang koteka mengacung hingga dada. Muncul gemerincing bunyi akibat gesekan ujung koteka dengan kalung para lelaki.

Waita bersiap menari. Para pemusik sudah siap di ujung perhelatan. Di saat itulah Waita menemukan sosok lelaki yang begitu damai memetik tifa. Ewoyop tidak ubahnya lelaki Hobone lain, tapi tatapan matanya menyiratkan binar berbeda. Waita harus menari. Diiringi musik Ewoyop dan bebunyian dari mulut lelaki Hobone. Waita mengagumi bagaimana Ewoyop memukul-mukul tifa secara konstan. Terutama betis Ewoyop tampak begitu kukuh saat melompat-lompat mengatur tempo nyanyian para mama dan gerakan penari hukune.

Alam Hobone mengajarkan mata laki-laki bisa menembus segala hal, setajam ujung tombak saat berburu rusa di tengah hutan. Adapun mata perempuan harus merunduk tak berani saling tumpu. Mata perempuan hanya untuk mengurus betatas, ladang sagu, pakan babi, dan menyusui para bayi. Tidak lebih dari itu. diam-diam Waita menerawangkan mata hingga dua mata Ewoyop begitu berani merasuk ke tubuhnya.

Sebagaimana kehidupan lereng gunung mengepung Hobone yang tumbuh tanpa komando, ada perasaan naluriah manusia yang diam-diam tumbuh di dada Waita. Isyarat itu makin kentara ketika tiba-tiba Ewoyop mengirim seikat betatas dan ubi jalar kepada Waita. Di Hobone jarang terlihat lelaki dan perempuan berbicara. Mereka ragu. Namun keduanya meyakini ada hal istimewa yang mereka rahasiakan. Hanya Waita dan Ewoyop yang tahu, yang mendekap begitu rahasia begitu pribadi.

Namun perempuan Hobone tak punya kuasa atas tubuhnya. Tetua adat dan para dukun rumah yowi memutuskan segalanya. Bahwa Waita akan dinikahkan dengan Bone untuk meredam konflik antara dusun atas dan dusun bawah.

***

“Cantik sekali kamu, Waita.”

Waita membalas dengan senyuman hambar. Aneka riasan dan perhiasan dari kerang tertempel di tubuhnya. Bulu cenderawasih dan kasuari tergantung di kepala. Sejak pagi Waita sudah melakukan prosesi adat. Mandi di sungai untuk melunturkan semua kotoran. Kulit hitamnya mengilat tertimpa sinar matahari. Halus. Bibirnya merah, perasan buah pandan merah yang mengilatkan dan meronakan bibir.

“Mama, apa wanita tidak bisa memilih di humia siapa akan tinggal?”

“Waita, tidakkah kamu tahu tetua dan dukun rumah yowi sudah memutuskan semua? Semua harta adat sudah diterima. Dan kamu bukan hanya menjadi istri Bone. Kamu adalah peredam konflik antara dusun atas dan dusun bawah.” Waita menghela napas. Matanya tak hendak berkaca, tapi ada sesuatu yang berguguran di dadanya.

“Katanya wanita dusun bawah harus bekerja lebih keras daripada wanita dusun atas?”

“Maksudmu?”

Waita menggeleng, ingin menarik semua ucapan yang mendadak keluar.

“Waita, semua penghuni humia harus patuh pada suami.”

Sebelum upacara pernikahan dihelat, aneka makanan disiapkan. Tungku untuk bakar batu, babi dan betatas tidak tertinggal. Termasuk aneka musik tifa dan penari. Waita yakin Ewoyop termasuk di dalamnya. Mantra dan dendang gembira disenandungkan oleh tetua adat dan dukun rumah yowi. Selepas upacara, Waita diboyong ke humia Bone di Soroani.

***

Waita menatap atap humia. Dia tidur telentang lebih dahulu di atas lambaran tikar pandan di lantai dua. Pintu yang sempit sesekali membawa masuk hawa dingin, angin gunung masuk dan menggigilkan tubuh Waita. Di lantai satu api unggun kecil berusaha menghangatkan humia.

Bone berdeham. Kemudian unggung dipadamkan. Waita mulai gemetar. Bone naik melalui tangga dan mendekati Waita. Humia gelap, tapi Waita bisa merasakan embusan napas Bone beraroma pali. Bone merengkuh tubuh Waita. Bone menciumi tubuh Waita. Tapi semua ditanggapi dingin. Bone mengunci betis Waita. Bone hendak menyenangkan diri atas tubuh Waita. Anak panah Bone hendak dilepas ketika muncul suara halus terbawa angin masuk ke humia.

“Siapa yang memainkan tifa malam-malam begini?” (28)

Catatan:
Humia: nama lain rumah adat Papua
wam: babi
ijebasik: kulit kerang
wanggokme: kapak batu
ebekanem: tembakau
hunuke: tarian kebahagiaan
Akahi paekahi yae ewelende, wah onomi honomi eungekende: jika semua orang dianggap saudara, hidup kita akan damai
yomine: pendamai dua perkampungan yang bermusuhan
rumah yowi: rumah inti, tempat berkumpul para dukun dan tetua adat
pali: rokok tradisional


Massha Guissen lulus dari Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada (2018), sesekali bekerja sebagai editor lepas dan menulis feature dan artikel perjalanan di media massa online. Mengidolakan Jhumpa Lahiri dan Hiromi Kawakami. Suara Merdeka

The post Sayup Tifa Mengepung Humia appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Sepasang Mata Gagak di Yerusalem


“Di kampus di Amerika apakah ada pemeriksaan seperti ini, Bu?” tanyaku kepada Bu Nancy.

“Tidak ada,” jawabnya sambil menggeleng. Ya, berarti sama dengan di Indonesia, batinku. Aku merasa, mungkin ini perasaanku saja, jika bersama orang Eropa atau Amerika, maksudku jika bareng dengan mereka, dan mereka bilang aku bersama mereka, pemeriksaan jadi terasa lebih lancar dan mudah.

Beberapa kali jika bersama Bu Nancy, Pak Willem, dan Bu Els, sepertinya mudah-mudah saja. Bila sendiri terasa agak sulit, harus membuka resleting tas, memperlihatkan ikat pinggang, sepatu, dan lainnya. Tapi mungkin ini perasaanku saja.

Bu Nancy kadang mencandaiku, “Iya karena takut kamu teroris.”

“Bila beliau berkata demikian, aku tertawa saja. Tampang Indonesia sepertiku mungkin wajar dikira teroris karena banyak teroris Indonesia berwajah Nusantara atau Jawa seperti tampangku ini, contohnya Bahrun Naim, orang Jawa yang jadi teroris dan terkenal di dunia.

Namun, setelah sebulan di sini, dan hampir setiap hari ke kampus, lambat laun pemeriksaan itu terasa biasa bagiku, dan tampaknya para petugas juga mulai mengenaliku. Jadi pemeriksaan makin hari makin terasa mudah.

Kalau mesin pemeriksa berbunyi, paling ditanya: ponselmu, ya? Aku jawab iya. Ikat pinggangmu ya? Aku jawab iya lagi. Jadi kami gampang masuk. Saat aku perlihatkan ikat pinggang, Bu Nancy nyeletuk.

“Nggak diperiksa celanamu?”

“Kalau periksa celana kucopot sekalian saja Bu, tapi itu jadi porno aksi, he…, he…, he….”

Kami langsung tertawa. Lalu Bu Nancy cerita bahwa dia pernah diperiksa sampai digerayangi segala.

“Di mana itu, Bu?”

“Bandara Detroit.”

“Padahal itu masih di Amerika ya, dan Bu Nancy warga negara Amerika?”

“Iya,” katanya sambil mengangguk. Istriku pun cerita bahwa dia juga pernah diperiksa ketat di Bandara Istanbul menuju Tel Aviv, ya sampai digerayangi, barangkali karena dia pakai jilbab. Islamofobia karena kulihat wanita yang lain saat diperiksa lebih mudah dan longgar. Tentu petugasnya adalah wanita. Tapi pada akhirnya juga tidak masalah karena memang tak bawa benda macam-macam.

“Di Amerika pernah ada wanita yang sampai marah-marah karena susunya sampai digerayangi. Akhirnya dia lepaskan saja sekalian baju dan kutangnya sambil menantang petugas dan memperlihatkannya ke publik,” kata Bu Nancy.

Kami tertawa spontan mendengar cerita itu. Tawa lepas di pagi yang kelabu sedikit mengusir rasa dingin yang menggigit tulang. Suhu berkisar 7-8 derajat Celsius di pagi hari di musim dingin ini. Pukul 08.30 kami tiba di kampus Hebrew University of Jerusalem. Setelah ruang pemeriksaan, kami memasuki halaman yang luas dan taman yang hijau membentang. Sebuah patung manusia karya Henry Moore, ada di depan taman, mencolok perhatian. Suara kaok burung gagak terdengar dan kulihat seekor kucing berlompatan di atas bangku-bangku yang masih kosong. Kampus terlihat masih sepi karena liburan semester.

Kulihat seekor burung gagak hinggap di sebuah ranting yang rendah. Aku berlari kecil pelan mendekat. Burung itu diam. Aku melangkah hati-hati karena hanya kira-kira berjarak satu meter dengannya. Dia melompat di atas kotak sampah. Aku makin dekat, kuperhatikan, dia tidak takut sedikit pun. Sepasang matanya yang hitam memancarkan kilatan yang terasa menusuk. Aku menatapnya, dan dia balas menatapku, perasaanku jadi tak biasa. Kujulurkan tangan, dan nyaris kusentuh bulunya, namun dia bergeser menjauh.

Angin dingin kembali menerpa. Burung itu kemudian terbang ke atas dahan Pohon Judas yang mengering. Bila musim dingin berlalu, daun dan bunganya akan bersemi kembali, pasti indah menawan karena warnanya yang merah jambu. Pohon Judas banyak tumbuh di Yerusalem, bersama pinus dan almond.

Angin dingin kembali mengempas, rasanya jaket tebal, baju, kaus dalam, dan celana dobel bisa ditembus jarum-jarum tajamnya dingin udara ini. Aku mengecek cuaca di handphone, suhu turun jadi 3 derajat Celsius, dan akan turun hujan. Wah, aku bisa jadi es, tawaku dalam hati. Angin datang mengembus lebih keras, rasa dingin membuatku berlari mengejar istri dan Bu Nancy yang mulai memasuki kantor. Aku segera membuka pintu. Hangatnya ruangan langsung terasa begitu aku masuk.

Pukul 10 akan ada pembacaan naskah Babad Nitik, dan dilanjutkan seminar. Riset grup yang meneliti literatur Jawa ini sungguh membuatku heran dan termangu. Di saat orang-orang Jawa melupakan naskah atau babad yang bagi mereka kuno dan tidak berharga, di sini kata demi kata dikelupas dan diteliti, tembang, aksara, makna, dan peristiwa dikaji dengan cara sangat mendalam. Pada saat tertentu aku merasa diselubungi oleh perasaan jatuh cinta dengan Jawa lagi, setelah selama ini terasa biasa-biasa saja jadi orang Jawa.

Kampus Hebrew University of Jerusalem menjadi tuan rumah riset grup kali ini, untuk kemudian beberapa tahun mendatang bisa pindah di Osaka University di Jepang, Leiden University di Belanda, University of Michigan di Amerika Serikat, Australian National University di Canberra, atau bisa saja di Indonesia.

***

Sepasang Mata Gagak di YerusalemTaksi kami menyelinap di antara bus yang meniupkan klakson keras. Hari sudah sore. Hari ini kami kelelahan, jadi terpaksa naik taksi. Sejak pagi setelah dari pasar di daerah German Colony, dan berjalan kaki ke Old City/Kota Tua sejauh 2,6 kilometer, kami memasuki sekaligus Gereja Makam Kudus, Dinding Ratapan, dan kompleks Al Aqsa. Naik taksi menjadi penawar kaki yang pegal.

Pak Willem sesungguhnya tak suka naik taksi. Sebagai orang Belanda, dia terbiasa berjalan. Saya kerap juga mengimbangi beliau berjalan kaki bersamanya. Naik taksi sebenarnya untuk ibu-ibu, terutama Bu Nancy yang tulang kakinya agak sakit. Tapi, karena harus menemani ibu-ibu, kami pun ikut naik.

Kami turun di depan Kedai Kopi Bezalel. Di kedai itu, ada kopi Sumatera. Aku memesannya. Namun bagiku terasa kurang pahit, kurang hitam, dan terlalu cokelat. Bu Els meminta tambahan kopi hitam ke pelayan, dan gadis muda pelayan itu mengambilkan secangkir kecil kopi hitam. Kutambahkan setengah cangkir dan sekarang setelah kusesap. Nah, sudah beda. Lebih kuat rasa kopinya, lebih enak.

Ngopi di Kedai Bezalel di tepi trotoar di Jalan Rachel Imenu, Yerusalem, sangat menyenangkan dan mengesankan. Walau dingin menggigit tulang, pemandangan yang sama sekali baru, dan suasananya bikin hati senang. Toko-toko fashion berjajar, tak ada polusi kendaraan karena jarang motor berseliweran layaknya di Tanah Air, dan taman kota yang indah di seberang. Semua sedap dipandang dan tak ada gangguan semacam suara bising kendaraan. Energi dan semangat jadi besar lewat obrolan yang mengasyikkan. Orang-orang berlalu lalang di belakangku, sebagian bawa anjing sambil jalan-jalan.

Di sebelah kedai kopi, ada toko roti bertulisan “Kohler” yang artinya halal bagi umat Yahudi. Banyak lelaki kulihat memakai kippah di kepalanya, semacam peci bulat kecil yang dijepit, sebagai identitas Yahudi. Di Yerusalem, mayoritas orang Yahudi religius. Berbeda dengan Tel Aviv yang sekuler, mungkin terikut aroma kotanya yang metropolitan dan supersibuk. Sedangkan Yerusalem lebih tenang dan “suci”.

Saat ngopi, tak sengaja kulihat di sebelah kedai roti, seekor burung gagak hinggap di atas kotak sampah mematuki remah-remah makanan. Jantungku berdetak kencang saat menyadari dia memandangiku. Matanya yang hitam seakan menghunus batinku. Bukankah itu gagak yang sama yang nyaris kusentuh bulunya di kampus?

Aku merasa dilemparkan ke tempat aneh, merasakan bahwa kejadian ini pernah kualami sebelumnya. Namun, saat terus mengingat kejadiannya, aku benar-benar telah lupa di mana dan kapan itu terjadi. Dan saat kutatap kembali sepasang mata gagak itu, dia masih saja menatapku dengan tatapan yang dingin dan tajam. Bukankah itu gagak yang sama yang bertengger di ranting sebuah pohon pinus di Taman Al Aqsa?

***

Kemarin kami ke Old City. Dari Gerbang Jaffa, kami melalui rute di dalam Kota Tua yang di sisi kanan dan kirinya berderet-deret toko aksesori dan oleh-oleh. Banyak orang berjualan pernak-pernik simbol keagamaan yang mewakili umat Yahudi, Kristen, dan Islam, seperti kayu salib, tasbih, menorah, kaballah, tali-tali merah, kain tallit, dan lainnya. Juga banyak kedai kopi, kurma, dan baju.

Kami melewati Via Dolorosa, di mana Yesus disiksa, diarak, dan disalib oleh orang-orang Yahudi dan Romawi. Syukurlah kami kemudian bisa memasuki Gereja Makam Kudus dan beruntung bisa menyaksikan Gereja Koptik Mesir yang kebetulan jemaatnya sedang melakukan ibadat. Sebagian peziarah terlihat menangis di atas Batu Pengurapan, batu di mana Yesus direbahkan untuk terakhir kalinya sebelum dimakamkan.

Aku dan istri ikut membasuh tangan kami di batu dan mengusapkannya ke wajah. Kami merasa tersentuh dan tersedu. Terdengar dengung ibadat yang syahdu dan khusyuk. Sejenak kami termangu, menyimak ibadat hingga selesai. Setelahnya kami berjalan lagi, melewati pemeriksaan tentara Israel untuk menyaksikan Dinding Ratapan dengan ratusan umat Yahudi yang berdoa di depannya. Mereka menyelipkan secarik kertas berisi doa di sela-sela dinding Bait Suci yang besar dan agung.

Kami jalan lagi, dan setelah melewati gerbang yang dijaga polisi Israel, kami merasa amat emosional saat akhirnya melihat kompleks Al Aqsa. Kulihat mata istri sampai berkaca-kaca. Aku segera mengambil wudu dan salat dua rakaat. Tiba-tiba aku dikagetkan oleh sebuah keranda yang masuk ke dalam masjid. Para pemuda Palestina mengangkat jenazah yang ditutupi kain kafan menuju depan dekat mimbar.

Hari sudah amat sore. Tubuhku kembali menggigil saat keluar masjid dan memakai sepatu di bangku taman Al Quds. Tamannya terbilang menawan dengan air mancur yang pancarannya dipakai untuk berwudu. Banyak pohon pinus menjulang tinggi dan pohon-pohon sejenis almond yang rimbun. Tiba-tiba seekor gagak meluncur ke arahku dengan terbang begitu rendah, lalu hinggap di ranting atas bangku.

Tak sengaja mata kami bersirobok. Sepasang mata gagak itu hitam dan pekat dengan kilatan yang terasa menusuk. Entah kenapa, tanpa sepenuhnya kusadari tubuhku gemetar, dan perasaanku tak biasa saat mata gagak itu terus menatapku. Tatapannya tajam dan menusuk. Dibanding gagak-gagak di Indonesia, gagak di Yerusalem jauh lebih besar, dan sebagian bulunya berwarna biru. Tapi suaranya nyaris sama, kaok, kaoook, kaooookk…. dengan nada yang panjang.

Tak kusadari, iringan jenazah tiba-tiba melintas di belakangku, dan gagak itu lenyap seketika. Aku berusaha mencari dengan mengedarkan pandangan ke segala penjuru, namun benar-benar tak terlihat gagak itu. Langit di atas Al Aqsa terlihat gelap, mendung amat tebal terasa sangat mengancam, hujan badai akan datang.

Benar pula, angin mengempas keras, jauh lebih kencang dan dingin ketimbang biasanya. Pandanganku jadi gelap dan tubuhku limbung.

Saat kubuka mata, aku telah telentang di pelataran Al Quds. Di atas dadaku seekor gagak berdiri dengan tenang. Gagak itu, yang sepasang matanya menatapku tajam. Tatapannya seakan menelanjangi dosa-dosa besarku, mengabarkan tentang percampuran iman, dan pertanggungjawaban. Aku gemetar.

Di atas jambul kepalanya yang hitam, tampak langit yang begitu biru, bersih, dan indah. Di sana, terlihat pucuk bulan sabit yang menawan di atas Kubah Shakhrah Masjid Al Aqsa yang keemasan dan agung.

Tubuhku seperti tak punya daya lagi, tak bisa bergerak sedikit pun. Aku pasrah pada apa pun yang terjadi karena aku telah berada di Tanah Suci. Tanah harapan bagi semua iman dan pendosa. 

Yerusalem, 2019


Han Gagas, pernah tinggal selama dua bulan di Yerusalem. Penulis kumpulan cerpen Catatan Orang Gila (Gramedia Pustaka Utama, 2014) dan novel Orang-orang Gila (Mojok, 2018). –Koran Tempo

The post Sepasang Mata Gagak di Yerusalem appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Selasa, 01 Oktober 2019

Jemput Aku di Bawah Pohon Gatep


Sangat sering Ningrum punya keinginan hidup sendiri selamanya, tak usah menikah. Tapi, begitu niat itu muncul, selalu terbayang Saskara dengan hasrat berumah tangga yang mendesak desak.

“Kita akan jadi pasangan bahagia, Rum, membuat iri banyak orang,” jelas Saskara berulang-ulang, mungkin lebih dari seratus kali.

“Mereka yang memilih hidup sendiri juga bahagia, Sas,” sahut Ningrum, sedatar mungkin, agar Saskara tidak tersinggung.

Justru penolakan itu membuat hasrat Saskara kian berkobar. “Bisa saja, tapi ada yang kurang.”

Tekad laki-iaki yang tak kunjung lelah membujuk itu selalu membangkitkan gairah Ningrum untuk menimbang-nimbang kembali memasuki bilik perkawinan. Tapi, jika teringat keluarga besarnya akan meremehkan dia setelah menikah, seketika redup pula hasrat itu.

Sudah lama keluarga besar Brahmana Uleman tahu Ningrum menjalin asmara dengan laki-laki biasa. Percintaan itu merebak menjadi gosip dalam dinasti yang melahirkan pendeta-pendeta penuh wibawa, kecuali kakek dan ayah Ningrum. Keluarga Uleman menilai dua laki-laki ini tak lagi pantas disebut pria brahmana karena menikahi perempuan biasa. Mereka kehilangan hak menjadi pendeta.

Jika saudara-saudara lain memanggil ayah mereka dengan sebutan Aji, dan ibu dengan panggilan Biang, Ningrum kehilangan hak itu. Dia memanggil ayah dengan Bapa, ibu dengan Meme, sebutan buat orangtua dari kasta paling rendah. Jika saudara-saudara lain memanggil kakek mereka dengan Kakiang, nenek dengan Niang, Ningrum memanggil kakek dan neneknya dengan Pekak dan Nini.

Para Uleman sangat yakin, jika Ningrum dinikahi laki-laki biasa, itu sebuah pencemaran hebat yang bisa melahirkan kutukan turun-temurun bagi keluarga besar, menguras kehormatan, melunturkan harga diri, dan merendahkan martabat.

“Omong kosong semua itu. Bapa dan Meme merestui kalian menikah.”

“Tapi mereka tidak, Bapa.”

“Menikahlah, berumah tangga menjadikan kalian mandiri. Dan kamu, Saskara, tahu apa yang harus dilakukan keluargamu jika hendak menyunting anak saya?”

Jemput Aku di Bawah Pohon Gatep“Kami akan datang meminang penuh syukur dan bahagia.”

“Tak usah, tak seorang pun keluarga Uleman akan menerima kehadiran kalian. Mereka merasa terhina jika keluargamu datang.”

“Apa yang sebaiknya kami lakukan?”

“Lari…… kawin lari saja. Sebagai orangtua yang merestui, kami akan berpura-pura tidak tahu.”

Ganjil bagi Saskara, mengapa orang yang diberi kehormatan, dijunjung dan dihargai sebagai keluarga penuh wibawa, menolaknya. Hatinya berbisik, “Kalau ayahku seorang gubernur atau menteri, kaum Uleman pasti menerima pinangan kami dengan bangga.”

Ningrum bingung, acap berniat membatalkan pernikahan, tapi Saskara teguh membujuk dan merayu. Rayuan yang tidak hanya meminta atau menuntut, tapi juga membangkitkan keberanian dan menyadarkan, masa depan itu ditentukan oleh pemiliknya, bukan oleh orang lain.

“Kalau saya bagaimana, Bapa? Haruskah mohon doa restu mereka? Saya tak sudi mendatangi mereka untuk diremehkan.”

“Tak usah mendatangi siapa pun, Rum. Kecuali satu, datanglah ke Pura Taman, tempat bersemayam para leluhurmu, untuk mohon doa restu. Tapi Bapa dan Meme tak bisa mengantarmu. Maafkan kami. Sebaiknya kamu datang sendiri, biar tidak heboh. Berdoalah agar diberi ketenteraman dan keberhasilan, yang memberi kalian martabat untuk mengubur kesombongan mereka.”

Pura Taman awalnya adalah sebuah griya, rumah kaum brahmana, tempat wangsa Uleman di Desa Tangkup. Kaum brahmana yang menghuni rumah itu perlahan-lahan menyusut karena semua akhirnya pergi ke kota mencari penghidupan modern, menjadi guru, dosen, pedagang, pegawai negeri, atau calo tanah. Mereka penuh semangat menjadi manusia urban, sampai-sampai Bapa memberi nama putrinya Urbaningrum. Kini hanya beberapa pelayan yang menempati halaman belakang bekas griya itu, sekalian mengurus sawah-ladang yang ditinggalkan.

Butuh lebih dari dua jam ke Pura Taman dari kota Ningrum bermukim. Ia memutuskan bermalam di Tangkup, tidur di rumah petani penggarap sawah.

“Aku antar ya, Rum?”

“Tak usah, Sas. Aku pergi sendiri agar petani-petani itu tidak bertanya-tanya, dan gosip tidak merebak dalam keluarga Uleman. Lusa aku berangkat, datanglah sehari setelah itu ke Tangkup. Aku menunggumu, pagi. Kita langsung ke rumahmu, selepas siang keluargamu akan menikahkan kita.”

Saskara tersenyum, dadanya berdegup, bergetar jiwanya. “Menikah juga kita akhirnya ya, Rum.” Ia pandang Ningrum dari kepala hingga betis, seakan ia tak percaya menikahi perempuan yang tiada henti dirundung ragu.

“Kujemput kamu di mana? Aku belum pernah ke Tangkup.”

“Kamu harus datang dengan motor. Mobil tidak bisa sampai ke Pura Taman, selain juga agar tidak menarik perhatian.”

“Di sebelah mana aku menjemputmu?”

“Menjelang Pura Taman ada deretan pohon gatep. Kutunggu kamu di bawah pohon gatep. Kamu tahu gatep?”

Mata Saskara bekerjap-kerjap tak paham, alisnya berkerut, kemudian menggeleng. “Baru kali ini kudengar nama itu.”

“Pohon gatep itu pohon gayam, batangnya kokoh dan beralur kuat, bisa sampai dua puluh meter tingginya. Bijinya keras, harus direbus lama biar enak dan gurih dimakan. Aku suka menyantapnya, sering diberi nenek. Sekali-sekali kamu perlu mencicipi.”

Saskara manggut-manggut. Ia menyukai Ningrum karena kecerdasan, ketelitian, dan ketekunannya sebagai dosen muda biologi, selalu mengejar informasi dan pengetahuan lebih dari yang ia perlukan. “Bagi orang Jawa, gayam mempunyai fllosofi gayuh yang berarti cita-cita, dan ayem bermakna damai, tenang, dan bahagia.”

Ningrum mesti berganti empat kendaraan umum untuk sampai ke Desa Tangkup yang subur, dikepung bukit-bukit Keliki, Jambul, dan Tuhu-tuhu. Di barat desa mengalir Tukad Telagawaja dengan air jernih dan berbatu-batu besar. Hanya sesaat ia bisa memicingkan mata di rumah petani penggarap beratap alang-alang itu. Dingin menggigit sepanjang malam, kunang-kunang berkedip-kedip riuh di lembah yang lembab.

Ketika embun bersiap meninggalkan bernas-bernas bunga padi, Ningrum melangkah ke Pura Taman. Sudah berulang kali ia ke tempat suci ini, setiap ada sepupu atau sanak saudara menikah. Pura Taman sangat ramai oleh pengantar pengantin wanita yang mohon pamit di pura leluhur karena ia akan mengabdi di keluarga suami. Penjor ditancapkan berjajar, payung-payung besar, tedung warna-warni berhiaskan prada, dipasang berderet di sebelah-menyebelah tangga dan sudut-sudut bangunan. Keluarga Brahmana Uleman merayakan syukur sangat meriah karena putri mereka disunting brahmana pula.

Para wanita yang menyertai berbusana indah, dengan kain endek halus dan brokat mahal. Yang lelaki mengenakan destar songket, berkilau diterpa sinar matahari. Gamelan ditabuh, suara seruling meliuk-liuk di antara denting genta digoyang jemari pendeta, sembari melantunkan doa-doa.

Desa Tangkup dipadati mobil diparkir berderet di ujung jalan. Tak seorang pun, anak-anak, remaja, lelaki dewasa dan wanita, para orang tua, yang memperhatikan deretan pohon gatep itu, kecuali Ningrum sendiri. Para brahmana itu sibuk menikmati kebahagiaan, bercanda dan bersenda gurau dengan kerabat. Percakapan riuh dan gelak tawa menggema, menelusup di antara rimbun daun, dahan, dan ranting.

Seperti juga kini, dengan ransel di punggung, bagai seorang pencinta alam sejati hendak mendaki gunung, Ningrum memandang sendiri pohon-pohon gatep kekar itu. Ia melangkah seorang diri, merasakan alangkah sunyi menjadi yang dikucilkan. Namun, ia teguhkan perasaan dan jiwa ketika melewati deretan pohon-pohon gatep, agar tidak lagi ragu pada keputusan yang ia ambil, yang bersumber dari kata hati, yang mutlak dan benar.

Ia bersimpuh di halaman pura, menghaturkan sembah ditingkahi cicit burung gelatik yang sibuk bercanda bersama anak-anaknya di sarang pohon-pohon buni, dengan buah-buah merah legam dan ungu tua lebat berjuntai-juntai. Kadang terdengar sayup lenguh sapi dari pondok-pondok sekitar.

Ningrum mohon restu agar para leluhur memberi dia ketabahan dan kekuatan. Dia suntuk berdoa semoga Hyang Widhi mengabulkan tekadnya menjadi guru besar biologi. “Agar mereka yang sombong-sombong itu berhenti meremehkan hamba,” pintanya dengan hasrat kuat dan perasaan haru, tanpa dendam dan dengki.

Pengharapan itu terus-menerus ia ulang-ulang dengan tubuh merinding dan mata terpejam, ketika duduk di bawah pohon gatep menunggu Saskara. Tak pernah ia sesunyi dan sekosong ini. Perasaan gamang membuat ia tak sadar seorang petani bercapil dengan baju kumal dan bercelana lusuh lama memperhatikan, berdiri tenang di hadapannya.

“Sedang menunggu siapa. Nak?”

Ningrum seperti mengenal suara petani itu, tapi tak yakin.

Petani itu melepas capilnya, rambutnya yang sepinggang tergerai. Ningrum tertegun menatap. Si petani melepas bajunya yang kumal, tampak jaketnya yang bersih menyergap pandangan Ningrum. Ia kenal betul jaket hijau toska itu, yang selalu dikenakan ibunya kalau naik motor pergi-pulang mengajar di SMA.

“Memeeee….,” seru Ningrum memeluk bundanya. Tubuhnya bergetar oleh sedu sedan. “Dengan siapa, Me? Mengapa harus begini?”

“Sendiri, Rum. Harus menyamar seperti ini agar tak seorang pun tahu, biar tidak heboh.”

“Bapa juga tidak tahu?”

“Sengaja tidak diberi tahu, agar ayahmu tidak semakin sedih dan bingung. Meme harus melepasmu, agar ibumu ikhlas dan tenang menyaksikan kamu berangkat menjadi manusia mandiri.”

Petani-petani tengah sibuk menggarap sawah, tak seorang pun melintas.

“Tak ada cukup waktu buat kita, Rum,” ujar Meme sembari meraba tas di pinggang, mengeluarkan benda berukir berkilau oleh cahaya pagi.

“Ini warisan, Rum, pemberian nenekmu yang disematkan di sanggul Meme ketika menikah. Jika kita merawatnya dengan baik turun-temurun, ia akan menjadi wasiat bertuah. Kenakan nanti siang saat kamu dan Saskara menerima restu dari pendeta disertai sesaji dan mantra. Sepatutnya Meme yang mengenakan di sanggulmu, tapi….”

Tak akan ada orang Uleman hadir pada upacara pernikahan itu. Ningrum benar-benar sendiri menghadapi hari bersejarah, saat terpenting dan sangat mulia dalam hidupnya. Senista apakah dia sehingga harus dibuang dan menanggung beban jiwa yang senyap dan hampa?

Tangan Ningrum gemetar menerima tusuk konde emas berhias permata jingga itu, kemudian memeluk Meme dengan tubuh terguncang-guncang menahan isak. Lama anak-ibu itu tak sanggup berkata-kata, cuma saling menepuk dan mengelus menabahkan hati. Beberapa ekor capung hinggap di pucuk-pucuk pohon bunga gumitir, seperti mengamati dengan saksama dekapan duka itu. Kupu-kupu menari indah mengelilingi, seakan memberi penghiburan agar mereka terbebas dari kepiluan.

Sayup-sayup deru motor mendekat merambah hening pagi. Meme memiringkan kepala, mempertajam pendengaran buat memastikan. “Itu pasti motor Saskara. Sebentar lagi ia akan tiba di deretan pohon gatep ini, seperti yang kita rancang.”

Deru motor semakin dekat, terasa sebentar lagi sampai, mengagetkan burung-burung prenjak yang sedang asyik dan sibuk mematuk-matuk bunga-bunga putih pohon turi.

“Meme harus segera pergi. Calon suamimu tak boleh tahu pertemuan rahasia ini, agar tidak sampai bocor ke keluarga Uleman.”

“Biarkan mereka tahu, Me. Kita harus melawan. Mesti berani, jangan tunduk.”

“Tak mudah melawan tradisi, bahkan tradisi yang keliru sekalipun, Rum. Kasihan Bapa, pasti diejek-ejek sepanjang hidup, dikucilkan dan digunjingkan jika kita menentang.”

Meme bergegas mengenakan capil kembali, merapikan pakaian kumal untuk menutupi jaketnya, agar penyamaran tetap terjaga. Beberapa ekor belalang meloncat terbang dari bunga-bunga rumput ketika ia menerobos pematang, sebelum mencapai sepeda motor yang ia parkir dekat gubuk sapi.

Ningrum duduk di boncengan dengan dada sesak, tak kuasa menahan sedih. Saskara diam tak berani mengusik. Tak putus-putus Ningrum memandang pohon-pohon gatep yang menjadi saksi pertemuan rahasia itu. Buahnya yang keras terayun-ayun lembut diembus semilir basah angin pagi.


Gde Aryantha Soethama, banyak menulis buku tentang Bali, daerah tempat ia lahir dan hidup sampai sekarang. Bukunya berupa antologi cerpen, laporan perjalanan, dan sejumlah kumpulan esai. Buku kumpulan cerpennya, Mandi Api, memenangi Khatulistiwa Literary Award 2006.

Dewi Fortuna Maharani lahir di Jakarta pada 13 Agustus 1995. Telah menyelesaikan pendidikan di Studio Seni Lukis Program Studi Seni Rupa Institut Teknologi Bandung. Sekarang ia masih berkarya dengan medium seni lukis dan fotografi. Kompas

The post Jemput Aku di Bawah Pohon Gatep appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi