Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 30 Juli 2019

Perempuan Itu Pernah Cantik


Perempuan Itu Pernah Cantik

PEREMPUAN itu selalu berkata dalam hati, “Aku pernah cantik.”

Di masa silam, sebelum menikah, ia tak pernah membayangkan akan berjibaku dengan tumpukan baju kotor, detergen bubuk yang membuat kulit mengelupas, serta tali jemuran kendur yang terpancang dari batang pohon mangga ke pohon jambu. Ia tak pernah membayangkan akan berjalan di atas tanah becek sisa hujan. Sambil menjinjing bak besar berisi pakaian basah yang beratnya mohon ampun. Dengan sandal jepit kedodoran yang berbunyi telepak-telepok dan memuncratkan lumpur ke betis belakangnya yang dulu pernah begitu ramping.

Kalau sedang jengkel, ia akan menyeret bak cuci berisi pakaian basah itu dari kamar mandi sampai ke bawah pohon mangga. Tak peduli bak plastik itu akan retak atau terbelah dua. Suatu kali itu pernah terjadi. Menyeret bak cuci itu sampai terbelah hingga cucian-cucian yang sudah dibilas itu berbaur dengan tanah. Ia tak memunguti baju-baju yang kembali menjadi kotor itu, alih-alih mengilas-ilasnya di tempat lantaran jengkel. Membuat baju-baju itu berlepotan tanah.

Kejengkelan dan rasa lelah yang sangat membuatnya jadi begitu. Namun, pada akhirnya ia memungutinya juga. Memindahkannya ke bak lain, lantas membilasnya lagi sampai bersih. Itu ia lakukan sambil menangis. Selalu menangis. Wajahnya suram. Dan anak-anak rambut menutupi keningnya yang basah. Ia menyekanya dengan tangan beraroma detergen.

Tak seorang pun mengetahui kemurungan itu, kecuali gadis kecil berusia 4 tahun yang selalu mendekatinya dan bertanya, tapi tidak dengan nada bertanya, “Mama menangis? Mama menangis ya?”

***

Perempuan itu pernah cantik. Di masa silam, sebelum menikah, ia tak pernah membayangkan akan berdiri di depan kompor, sambil melemparkan ikan asin ke dalam wajan yang telah digenangi minyak panas berwarna kehitaman. Mengeluarkan suara jesss… Minyak-minyak itu muncrat ke dinding dapur, lantai, dan dasternya. Dan setelah selesai memasak, ia akan membersihkannya. Semuanya. Aroma ikan asin menguar memenuhi udara. Menempel di dasternya. Di rambutnya. Di sekujur tubuhnya.

Selepas itu, ia akan mencuci cabai, mengupas bawang, dan mengulek sambal di atas cobek. Ia mengulek dengan gerakan berulang seperti orang bergoyang. Betapa semua pekerjaan itu sungguh menjemukan. Jauh dari perangai cantik seorang peragawati.

Bagaimanapun, suaminya harus sarapan di pagi hari, segera, sebelum berangkat kerja. Begitu pula balitanya, yang sangat menggemari ikan asin, juga dirinya sendiri. Suatu kali ia teringat, di masa muda, ia pernah makan di sebuah hotel dengan pisau dan garpu. Serta bunga amarilis dalam gelas besar di tengah meja. Ia duduk menyilangkan kaki sambil berbincang dengan kawan-kawannya yang barangkali sampai detik ini masih cantik, tak seperti dirinya. Ia merindukan makan di tempat seperti itu, dengan hidangan seperti itu, dan berdampingan dengan kawan-kawan seperti itu. Namun, ia tahu, hal semacam itu tak akan pernah terulang dalam hidupnya. Tak akan pernah.

***

Perempuan Itu Pernah CantikSemua orang tahu, perempuan itu memang pernah cantik. Di masa silam, sebelum menikah, ia tak pernah membayangkan akan berhadapan dengan setumpuk piring kotor serta wajan licin berminyak di wastafel tua dan berkerak. Sabun cuci piring berwarna hijau bening itu ia tuang ke dalam mangkuk kecil dengan spons berkerut dan kawat cuci. Ia memeras spons itu dan busa-busa mengembang. Ia menggosok piring-piring dan mangkuk dan wajan dan panci dan sendok, perlahan-lahan. Sambil memperhatikan jari-jemarinya yang dulu pernah begitu lembut. Dengan kuku-kuku mengilap berkuteks merah menyala.

Kadang kala, saat perkakas dapur itu benar-benar menggunung, ia benar-benar ingin meminum sabun cuci piring berwarna hijau bening beraroma jeruk nipis itu. Meminum semuanya. Tandas. Sampai ia roboh dan menggelinjang dengan busa-busa keluar dari mulutnya. Dan ia tertawa sendiri. Sabun cuci piring bukanlah racun tikus yang bisa membunuh seseorang. Kalaupun ingin mati, ia bisa saja menggantung diri di bawah pohon mangga atau pohon jambu. Namun, ia belum ingin mati. Seberat apa pun hari-harinya, ia belum ingin mati. Ada gadis kecil mungil tak berdosa yang selalu membutuhkannya.

***

Setiap kali mematut diri di muka cermin, perempuan itu kerap menggumam, “Dulu aku pernah cantik.”

Di masa silam, sebelum menikah, ia tak pernah berangan akan mengesot di lantai sambil mengepel bekas pipis anaknya. Rumah itu tak terlalu lebar, tapi balitanya adalah balita normal yang suka ngompol di mana suka. Gemar merontokkan makanan yang dicekalnya. Suka menumpahkan susu dan semacamnya di lantai. Ia tak tahan dengan lantai kotor, yang licin dan berminyak, apalagi bersemut. Maka, tiap kali balitanya membuat kekacauan di atas lantai, ia akan segera mengesot, mengelap ubin-ubin itu menjadi cling.

Kadang ia sangat jengkel pada balitanya itu, ingin memutar waktu, dan memasukkan bocah itu kembali ke dalam perut. Ia merasa begitu sial telah melahirkan seorang bayi. Namun, beberapa menit kemudian, ia benar-benar menyesal telah berpikiran kejam seperti itu. Bahkan, penyesalan seperti itu kerap membuatnya menangis. Sambil menatap wajah balitanya yang tertidur, ia berbisik ke telinga mungil itu, “Maafkan mama, Nak! Maafkan mama, Nak!”

Beberapa kali, ketika ia sangat lelah, dan balitanya kembali membuat ulah, ia sangat ingin meneriaki balita itu tepat di mukanya, lantas menamparnya atau memukul pantatnya atau mencubitnya. Namun, ia tahu, perlakuan-perlakuan semacam itu tak akan pernah membuat balitanya berhenti. Ia hanya balita, yang hanya tahu makan, menangis, serta buang air. Ia bahkan tak tahu apa yang sedang dilakukannya. Sebab, ia hanya balita yang belum memiliki nalar. Karena itu, ia tak pernah melakukan hal-hal kejam semacam itu kepada balitanya. Sebab, ia yakin, setelah melakukan itu, ia pasti akan sangat menyesalinya. Sangat menyesalinya.

Maka, jika ia sangat lelah, dan balitanya tak henti-henti membuat ulah, ia akan berlari ke kamar mandi. Mencelupkan segenap kepalanya ke dalam air dan berteriak sekencang-kencangnya. Rambutnya basah. Dasternya basah. Napasnya megap-megap. Dan ia tak pernah peduli. Seolah sangat tidak masalah kalau daster basah itu akan membuatnya kedinginan, lalu membuatnya sakit, lalu membuatnya mati.

***

“Aku memang pernah cantik.” Selepas mandi sore bersama anaknya, ia akan berdiri di muka cermin. Sambil menunggu suaminya pulang kerja. Ia berlama-lama di muka cermin, mencari-cari jejak kecantikan yang barangkali masih tersisa. Namun sungguh, ia nyaris tak pernah menemukannya. Kulit wajah yang kencang itu telah mengendur. Persis bentuk tubuh yang menggelambir mirip buah pir. Matanya yang dulu binar telah meredup. Dihiasi garis-garis tipis di tiap sudutnya. Rambut yang dulu pekat mengilap dan selalu tampak basah itu kini kusam dan bercabang, bahkan mulai beruban. Ke mana perginya kecantikan masa muda?

Orang mungkin tak ’kan percaya bahwa di masa muda ia pernah menjuarai kontes kecantikan tingkat kota. Tepatnya tiga kali. Ia diundang ke hotel bintang lima berbaur dengan model-model lain dari berbagai kota. Melenggang di atas panggung. Mempertontonkan kecerdasan serta kecantikan luar dalam. Membuat banyak orang terpukau. Ketika itu ia membayangkan akan mendapatkan seorang suami yang tampan dan kaya. Seorang bintang film mungkin. Dan kelak, kalau ia harus punya anak, pembantunya yang akan mengurus dan ia bisa tetap cantik dari waktu ke waktu.

Namun, nasib berkata lain. Ia malah menikah dengan seorang pemuda yang biasa-biasa saja. Tidak tampan, tidak romantis, tidak juga kaya. Berperawakan ceking dan bermuka tirus. Bekerja di sebuah agen asuransi dan kadang-kadang, kalau ada waktu, mengajari anak tetangga mengaji serta berhitung. Kadang dikasih amplop, kadang tidak.

Kadang-kadang ia berpikir bahwa hidupnya seperti mimpi. Bagaimana bisa ia menikah dengan lelaki yang tak pernah ia bayangkan itu. Ia tak tahu apakah ia mencintai suaminya. Yang jelas, ia takut kehilangan lelaki itu. Jika itu yang dinamakan cinta, mungkin ia memang mencintai lelaki itu. Sangat mencintainya. Dan ia sangat menghormati lelaki itu –meski kerap kali ia sangat jengkel padanya. Lelaki yang sehari-hari hidup dengannya, tapi hampir tak memiliki waktu untuknya dan anaknya. Kecuali akhir pekan yang kadang kala masih disita kerja lembur dan semacamnya.

Sesekali ia sangat ingin duduk di dekat lelaki itu sambil bercerita, betapa hari-harinya teramat berat dan melelahkan dan ia sangat butuh sandaran untuk beristirahat. Namun, semua itu tak pernah ia lakukan. Sebab, setiap pulang kerja, mata lelah yang sama ia temukan di mata lelaki itu. Di mata suaminya.

Sebagaimana suaminya, ia tak pernah bertanya apa saja yang sudah dilalui lelaki itu di luar sana. Ia tak tahu, barangkali, setiap pagi dan petang, lelaki itu harus berjibaku dengan asap dan jalanan macet, di atas motor bututnya. Barangkali ia tidak sempat makan siang. Dikepung pekerjaan yang menumpuk. Ditegur atasannya dan seterusnya…

Melihat mata lelah pencari nafkah itu, ia tak sampai hati dan memilih membiarkan lelaki itu beristirahat dengan caranya sebagaimana ia beristirahat dengan caranya sendiri. Biasanya, selepas makan malam, lelaki itu akan bercengkerama di dalam kamar dengan balitanya. Hingga mereka tertidur saling memeluk. Di sela hari-hari yang berat dan melelahkan, detik itulah yang paling indah dan paling ia nanti. Ketika suami dan anaknya tertidur.

Saat demikian, ia akan kembali ke dapur, membersihkan dan mencuci puing-puing sisa makan malam. Sambil memikirkan bahwa sejatinya hidupnya tidak terlalu buruk. Ia yakin ada seseorang di luar sana yang tak memiliki apa pun, hingga barangkali belum makan sesuap nasi pun sampai selarut ini. Setelah pekerjaan-pekerjaan rumah yang hampir tak ada habisnya itu beres, ia masuk ke dalam kamar dengan wajah semringah. Ia menyelimuti suaminya. Membetulkan letak tidur balitanya.

Sebelum benar-benar memejamkan mata, kerap kali ia melihat dirinya di masa lalu tengah terbang di langit-langit kamarnya. Kadang berjalan anggun di udara. Dan selalu ada suara lembut yang berbisik di ambang kesadaran… Kau pernah cantik. Kau memang pernah cantik. ***

Cerita untuk para suami, para istri.

Malang, 2017–2019

Mashdar Zainal. Meluncurkan buku kumpulan cerpen bertajuk Lumpur Tuhan tahun lalu. Lelaki kelahiran Madiun itu suka membaca dan menulis prosa. Tulisannya tepercik di beberapa media. – Jawa Pos

The post Perempuan Itu Pernah Cantik appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Senin, 29 Juli 2019

Mbah Karjo


Mbah Karjo

SETIAP makhluk yang bernyawa pasti akan bersua ajalnya. Manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, semuanya akan meregang nyawa bila jatah usia mereka di dunia ini telah habis. Meski kematian adalah sesuatu yang niscaya, tetap saja selalu menyisakan duka mendalam bagi mereka yang ditinggalkannya. Sebagaimana yang dirasakan mayoritas warga kampung Rejosari hari ini. Mereka masih belum percaya bila Mbah Karjo, sosok yang selama ini dikenal berperilaku baik telah menghadap Ilahi.

Pagi ketika warga yang tengah bersiap dengan aktivitas masing-masing, mereka begitu terkejut saat lelayu atau berita ke – matian menguar dari corong masjid dan musala. Begitu mendengar nama Mbah Karjo disebut, mereka langsung bergeming. Tak percaya bahwa sosok yang selama ini dikenal baik itu telah wafat. Meski usianya sudah sepuh, tahun ini menapaki angka 68, tetap saja mereka masih belum memercayai bila Tuhan telah memanggilnya.

Wariman, pemuda jalanan yang kesehariannya hobi bikin ulah dan mabuk- mabukan, adalah satu dari sekian banyak warga yang merasa kehilangan dengan sosok Mbah Karjo.

Mbah Karjo“Mengapa orang baik seperti Mbah Karjo meninggal lebih dulu? Kenapa tidak aku saja yang bergelimang dosa, ya Allah,” Wariman terisak saat mendengar kabar kematian Mbah Karjo, sosok yang dua hari lalu memergokinya di gardu dan membuatnya tersadar bahwa arak adalah jenis minuman yang pada hari akhir nanti akan mencelakakannya.

Selama ini, telah banyak orang yang menasihati W ariman agar berhenti ma – buk-mabukan. T ermasuk kedua orangtua – nya yang sudah angkat tangan karena nasihatnya hanya masuk telinga kanan dan langsung keluar lewat telinga kiri Wariman. Saat itu ia sedang bersiap me – nenggak botol arak murahan di tangan, tapi urung ketika Mbah Karjo tiba-tiba da – tang mengampiri.

Mulanya W ariman marah besar karena Mbah Karjo mengganggu ritual busuknya itu. Tapi setelah Mbah Karjo menyerahkan uang seratus ribuan dua lembar dan meminta botol minuman itu sebagai gantinya, ia pun lebih memilih uang tersebut. Pikirnya, uang itu bisa untuk beli minuman lebih banyak lagi.

Saat Mbah Karjo melangkah pergi, wajah Wariman mendadak pucat pasi ketika menyaksikan kejadian luar biasa yang akhirnya membuat ia sadar dan ingin bertobat. Tanah kering di sebelah gardu yang barusan basah akibat disiram dengan minuman keras oleh Mbah Karjo, tiba-tiba berubah memerah dan mengeluarkan percikan api yang makin lama kian membesar . Lari tunggang langgang ia saat menyaksikan kejadian aneh bin ajaib itu. Setiba di rumah, orangtuanya lebih kaget lagi saat menyaksikan Wariman menge – nakan sarung dan memohon izin untuk pergi ke masjid.

Darsih, janda beranak 5, yang telah tiga tahun ditinggal mati suaminya, juga merasa kehilangan dengan kabar wafatnya Mbah Karjo. Selama ini, tanpa sepengetahuan orang-orang, Mbah Karjo selalu rajin bersedekah padanya. Tiap bulan, Darsih mendapat santunan uang dengan jumlah cukup besar dan bisa mebantu meringankan beban hidupnya. Selain Warmiman dan Darsih, masih banyak orang-orang yang merasa sangat kehilangan dengan kepergian Mbah Karjo yang dikenal berperilaku baik dan begitu dermawan terhadap warga yang sedang tertimpa kesusahan. Maka tak heran bila kematiannya begitu mengagetkan warga masyarakat kampung tersebut.

***

Pagi jelang siang itu, rumah Mbah Karjo yang hanya terbuat dari kayu dan begitu sederhana tampak dipenuhi warga yang melayat. Mereka langsung datang tanpa diminta saat lelayu itu menguar dari corong masjid dan musala. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir pada sosok sederhana yang selama ini hidup seorang diri di rumah kayu tersebut, tanpa istri, anak maupun cucu, karena sepanjang hidup ia memang tak pernah menikah. Sebenarnya, Mbah Karjo termasuk orang berada. Ia memiliki warisan berupa tanah ladang yang luas. Kepada para tetangga ia menyerahkan tanah tersebut agar ditanami beragam jenis tanaman seperti padi dan sayur -mayur , lalu hasil panenannya dibagi dua. Banyak warga, terlebih yang tak memiliki ladang, merasa senang dan terbantu kehidupannya berkat kebaikan Mbah Karjo.

Entah, tak ada satu pun warga yang tahu mengapa Mbah Karjo betah hidup melajang hingga ajal datang. Dan selama ini tak ada yang berusaha mengulik apalagi mempersoalkannya. Yang warga tahu, Mbah Karjo adalah orang baik yang akan terus dikenang kebaikannya sepanjang hidupnya. q – g

 

Puring Kebumen, 19 Juni 2019.

*) Sam Edy Yuswanto, lahir dan berdomisili di kota Kebumen. Ratusan tulisannya tersiar di berbagai media cetak, lokal hingga nasional. – Kedaulatan Rakyat

The post Mbah Karjo appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Selasa, 23 Juli 2019

Melepaskan Gara


PUTIH, gemuk, dan lembek, seperti gajih. Namanya belatung. Kelak, ia akan menyembul dari lubang telingamu dan menggerogoti kenangan-kenangan di dalam kepalamu. Tanpa sisa! Semua kenangan di dalam kepalamu lalu sempurna hilang. Bahkan termasuk nama anakmu, Gara. Lengkapnya, Kynan Garawiksa.

“Kenapa aku kok mesti mondok, Yah?” tanyanya di suatu malam seusai menyantap mi goreng kesukaannya yang rutin kubuatkan.

Sekenanya saja aku menjawab—kepada anak berusia dua belas setengah tahun, tak bijak bila kuderakan jawaban panjang bahwa kau harus memiliki ilmu pengetahuan yang dalam dan luas agar nalarmu bisa selalu kritis dan pula kau mesti mengasah hatimu dengan laku-laku riyadhah agar hatimu jernih supaya kelak kau tak menjadi cebong atau kampret yang sama-sama bebal, tengik, bacin, dan bau comboren mampat akhlaknya—“Supaya kelak jika sudah beristri dan beranak-cucu, kamu bisa mengajarkan ilmu-ilmu agama dengan baik dan bijak.”

Gara bertanya lagi, “Di pondok ada Indormart-nya nggak, Yah?”

“Oh, ada, ada,” jawabku cepat. Ini pertanyaan enteng, sangat enteng, maka jawabannya pun enteng, sangat enteng. Toh, jikapun ternyata tak ada, tak sulit bagiku untuk mengadakannya. Kau ini, Nak, kayak lagi berurusan sama siapa to?

Sebuah tangisan pecah dari mulut seorang lelaki sebaya Gara. Ada dua larik pekikan yang mengiris wajah langit, juga hatiku. Semua mata seketika menyergap tubuhnya yang berguncang. Sedihnya ia ditinggal orang tuanya, gumamku, hatinya pasti sangat tersayat. Anak baru umur 12-13 tahun, betapa masih kecilnya. Seno Gumira Ajidarma barangkali belum pernah menyaksikan jerit pilu seorang anak sekecil itu yang menangis karena harus tinggal di pesantren dan berpisah dengan orang tuanya. Juga dunia kanaknya. “Tiada yang lebih sedih dari hati seorang perempuan yang menangis karena cinta,” kata Seno. Ah, ada-ada saja Seno ini. Semoga Gara selalu baik-baik saja, tak menangis seperti anak itu, doaku dalam hati.

Gara sekilas tersenyum kecil kepada anak yang menangis itu dengan ekspresi wajah yang sangat kuhafal. Tiap lekuk wajah dan tubuhnya, aku hafal. Kau tanya apa saja tentang Gara, spontan aku akan sangat bisa menceritakannya. Sebab, Gara anakku dan aku ayahnya…

Orang-orang yang berkerumun di emper Masjid Pandanaran ini, dengan memojok atau melingkar bersama anak masing-masing, pelan demi pelan mulai beranjak seiring kumandang azan Asar. Waktu mengingsut—pelan memang, lebih pelan dari langkah bekicot, tapi dengan pasti selalu maju, tak pernah berhenti. Sebagian besar pergi dan tak pernah kulihat lagi. Sebagian lain ikut salat, juga aku dan Gara.

Usai salat, usai Gara mencium punggung tanganku, aku berbisik padanya, “Le, kerasan ya di sini….”
Ia mengangguk, dengan sedikit tersenyum—senyuman yang kuhafal dengan hafalan yang lebih kukuh menghunjam daripada hunjaman hafalan Al Mulk.

Di emperan, istri dan dua anakku, serta Budhe Iis dan putrinya, Bella, telah menunggu. Gara ditawari pengin jajanan apa oleh mama dan budhenya. Ia bilang sate ayam. Di sisi selatan masjid, sejarak sepuluh langkah, ada pedagang sate ayam pakai sepeda motor yang sedang mangkal. Aku pun beranjak membelinya buat Gara.

Begitu kembali bersama sebungkus sate ayam, sekitar sepuluh menit berselang, kulihat mamanya sedang memeluk Gara. Sangat erat. Erat sekali: helai-helai angin pun takkan sanggup menyapih jarak keduanya.

“Sudah, sudah, Mah, nanti berat sendiri kalau mau pamit,” ujarku. Mereka saling berlepas pelukan, lalu Gara menerima bungkusan sate dariku, dan menyantapnya dengan lahap.

Rabu, 19 Juni 2019. Jika kau bersua denganku sepuluh tahun lagi, itu pun bila aku berumur panjang dan kau pun begitu, tanyakanlah padaku apa yang kukatakan dan kurasakan pada pukul 16.00 itu.
“Bagaimana perasaan Bapak ketika melepaskan Gara saat itu….?”

Sepuluh tahun lagi, pertanyaanmu itu masih akan sangat perkasa membuatku terdiam beberapa jenak, memaksa mataku terlontar ke ketinggian langit malam yang jelaga, lalu ingatanku melesat jauh, sangat jauh, ke setangkup wajah kecil yang amat kusayangi, yang tak lagi ada di depanku. Sebab, Gara anakku dan aku ayahnya, maka ia adalah selalu seorang anak berwajah kecil yang gemar merekahkan senyum dengan gigi putih berbaris di depanku. Baju kokonya hitam. Pecinya hitam. Sarungnya agak menggembung di bagian perut karena cara ia menggulungnya dibuntal-buntal begitu saja sekenanya, asal nyantol.

“Ayah mau ke mana? Aku ikut….” Gara selalu mengucapkan kalimat itu setiap aku akan pergi dari rumah, sejak ia berumur tiga atau empat tahunan. Siang atau malam. Hujan atau terang.

“Ayah mau ketemu teman, Le.”

“Teman siapa?”

“Ada teman bisnis.”

“Di mana?”

“Jauh, di Jalan Kaliurang.”

“Aku ikut ya….”

“Jangan, Le, besok kamu kan sekolah. Nanti saja kalau pas liburan, kamu boleh ikut.”

“Ehmm…ehmmm….” Wajahnya merengut kecewa, lalu membalikkan badan dari hadapanku, kemudian rebahan di depan tivi atau menjamah HP di meja.

Sepulang dari Jalan Kaliurang, nyaris pukul 00.00, tangan Gara-lah yang membukakan pintu garasi buatku. Wajah kecilnyalah yang kujumpai pertama kali. Suaranyalah yang pertama kali menyambutku.

“Kok belum tidur, Le?”

“Aku nggak bisa tidur.”

“Kenapa?”

“Nunggu Ayah….”

Wajah kecilnya menyunggi rekahan senyum, deretan giginya yang putih berbanjar di kelopak depanku. Lalu… Aku tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata apa saja, selain segera mengelus kepalanya, menjamah pundaknya, dan menggandengnya masuk ke depan ruang tivi atau kursi panjang di dekat dapur.

“Mau mi?”

“Mau…”

“Sebentar, ya, Ayah buatkan.”

Ia akan terus menemaniku hingga mi goreng buatanku tandas dilahapnya. Kemudian ia kuminta naik ke kasur di kamar depan, di sebelah mamanya, untuk tidur. Ia pun tidur. Bersebelahan denganku. Kerap kutindihi, dengan sengaja, semata untuk kurasakan hangat kulit tubuhnya menjalari kulit tubuhku. Pori-pori kulitnya hangat, selalu hangat, menyelam ke dalam hatiku…

Kuelus kepalanya yang berpeci hitam, kubacakan salawat beberapa kali, kutatap sekujur wajahnya dan hatiku melepas jangkar di matanya yang jernih. ’’Le, kerasan ya di sini, baik-baik sama teman-teman, ikuti semua aturan dan perintah guru-guru, ya…”

Sejumlah santri yang rata-rata sepantar dengan Gara terlihat bercanda di sekitar emperan masjid ini. Suara kaki-kaki mereka bergedebak, berlarian. Cekikikan-cekikikan berlesatan. Dan, nun jauh di sana, di kampung masing-masing, para orang tua mereka tentulah sedang mengelus dada dan kepala menanggung epitaf rindu yang tak terperikan perihnya.

“Sebulan atau dua bulan, Gara insya Allah juga akan begitu, seperti mereka, kan?” gumamku seakan sedang mengajukan pertanyaan yang tak perlu jawaban kepada Tuhan.

“Ayah tenang saja, aku kayaknya sudah kerasan kok. Di sini banyak teman, jadi bisa enak mainnya, hehe…” Suara Gara menerabas bukan ke liang telingaku, tapi ulu hatiku. Merobek takhtanya di dalam sana dan terus membekas hingga berpuluh tahun kemudian begini.

“Amin, alhamdulillah,” ketika ucapan ini keluar begitu saja dari mulutku menimpali sahutan Gara, mataku terlontar ke seberang, ke jalanan, melintas kelindan tembus ke mana-mana, berpuluh tahun silam kala abah dan ibu yang telah tiada mengantarku ke Pondok Denanyar, Jombang, dan meninggalkanku di antara orang-orang asing itu.

Aku mengisak seusai salat Magrib berjamaah. Sejumlah anak sebayaku juga menangis. Ibu, bertahun kemudian saat aku telah jadi mahasiswa, berkisah tentang pilunya ia sampai berderai air mata di dalam bus selama perjalanan pulang ke Madura karena harus terpisah denganku, anaknya, dan aku tertawa ngakak seusai menyimak kisahnya.

Sekarang, Gara tak menangis, ia malah berkata mulai kerasan, dan tepat pada desiran ucapannya itu akulah yang justru menangis. Pondok membuatku menangis dua kali: dulu saat ditinggalkan orang tuaku dan kini saat mesti meninggalkan anakku.

Debu-debu, sesekali, berkesiut disaput angin. Dalam hitungan menit, senja akan sempurna tandang, lalu digulung kelam, semakin hitam, hingga sempurna legam.

Le, sudah sore, saatnya Ayah pulang. Ayah pamit dulu, ya,” kataku setelah memastikan air mataku tak lagi tersisa di kelopak mata. Bukankah sebaiknya anak tak boleh tahu bahwa ayahnya sedang menangis karena dera nestapa hidup menjadi seorang ayah?

“Iya, Yah…”

“Nanti hari Jumat, insya Allah Ayah ke sini lagi menengokmu.”

Ia mengangguk. Lalu kurenggut tubuhnya ke dadaku, kupeluk dengan sangat dalam, dalam, dan dalam sekali. Beri aku kata yang lebih tebal dari kata ’’dalam”, maka pelukanku masih lebih tebal lagi. Mamanya lalu memeluknya. Kemudian budhenya. Lalu kakaknya, adiknya, dan sepupunya. Mereka lantas menyeberang ke sisi kiri di depan masjid, aku melaju ke parkiran di sisi utara, Gara tampak berdiri di ujung teras masjid.

Nyaris sepuluh menit kemudian, aku baru berhasil melintas di depan masjid, di seberang Gara berdiri, di tempat tadi aku menangis. Dan Gara masih setia berdiri di situ! Ia berdiri dengan tangan melambai-lambai ke arahku di balik kemudi, berkali-kali mengecupkan jari-jari ke bibirnya, sembari memanggilku.

“Yah, Ayah.”

Le, dadah, assalamualaikum.” Mobilku berhenti di tengah jalan, kemacetan sejenak mengular, hingga seseorang melambaikan tangan kepadaku memberi isyarat supaya aku segera melaju. “Le, baik-baik ya, Nak…”

Kalimat terakhir yang bisa kukatakan itu merobek kembali takhta hatiku dan deraslah hujan di mataku di depan kemudi. Ini kali ketiga aku menangis di pondok. Istri dan kerabat segera naik ke mobil di tepi jalan, berseberangan dengan tubuh Gara yang masih tampak mematung di ujung teras masjid.

Aku sengaja tak menolehinya lagi. Sengaja, Le!

Ia tak boleh tahu bahwa ayahnya menangis karena kehilangannya. Toh, tak semua hal tepat baginya untuk tahu hari ini dan biarlah waktu yang kelak akan memberitahunya betapa melepaskannya di pesantren merupakan peristiwa hebat yang membuatku menginsafi satu hal perihal pernah sombongnya aku kepada Tuhan. Dulu, aku pernah berkata di depan jamaah pengajian bahwa aku pasti tidak akan meneteskan air mata seumpama di suatu masa Tuhan menakdirkanku lebih dahulu kehilangan anakku sebelum anak-anakku merasakan luka kehilanganku.

“Aku ternyata sombong sekali ketika mengatakan hal itu atas nama kukuhnya tauhidku kepada-Nya. Tapi, aku tak bohong ketika barusan berkata padamu bahwa kepergian Gara dari rumah ini adalah kehilangan yang masih mengandung harapan nyata untuk berjumpa lagi dengannya di Jumat yang akan datang, yang sungguh harapan itu tak lagi ada dalam perpisahan karena melepas kematian,” kataku kepada mama Gara.

Mama Gara terdiam, mengusap matanya yang berlinang, dan pelan-pelan kembali melanjutkan makan malamnya dengan tidak lahap. Kulihat ada Gara di piringnya, di setiap suapannya, di setiap kunyahannya, di setiap kedipan matanya, di setiap tetes air matanya. Dadaku nyeri, sangat nyeri. Sebab, Gara anakku dan aku ayahnya…

“Jadi, bagaimana perasaan Bapak saat melepaskan Gara saat itu?”

Kumasuki kamar Gara yang diisi 12 anak dengan langkah tergesa. Sungguh tak sabar ingin menatapinya, memelukinya. Ia tak ada di kamar!

Aku pun keluar, menaburkan pandang ke segala penjuru, mencari hatiku yang berwajah kecil itu dan senyumnya yang kuhafal sehafal-hafalnya. Selarik suara yang amat kukenal menerpaku tiba-tiba dari arah belakangku. Suara Gara!

Leee…..” Kupeluk ia, kuelus kepalanya. Sepiring nasi putih tergenggam di tangan kanannya dengan bibir piring ditempelkan begitu saja ke baju kokonya. Beberapa butir nasi menempel ke baju kokonya. Kau benar-benar tetap anakku yang kecil itu, Le….

“Kok makannya nggak ada lauknya, Le?”

“Iya, kantinnya masih tutup jadi cuma dapat nasi dan sayur. Kalau lauknya kadang pakai abon, dikasih teman.”

“Pernah makan tanpa abon?”

“Ya pernah. Nasi sama sayur asem saja.”

Melepaskan GaraTanganku menggandengnya menuruni tangga kamarnya, lalu melaju ke luar, ke sebelah pondok, setelah kukatakan mamanya sedang menunggu di luar dan membawakannya banyak ayam goreng KFC kesukaannya.

“Sebagian nanti kukasih teman-teman kamar ya, Yah. Kasihan pada lama nggak makan ayam goreng.”

Inilah, Le, apa yang dulu ayah maksudkan dengan gumaman betapa pintar ilmu saja, taklim, tidaklah cukup untuk menyelamatkanmu dari pagebluk cebong dan kampret. Kau harus menarbiyahi hatimu agar jernih dengan laku-laku riyadhah di sini sehingga akalmu, ilmumu, bisa terpancari kejernihannya.

Gara menyantap dengan sangat lahap setiap iris ayam goreng KFC bawaan mamanya. Sesekali terdengar suaranya bercerita tentang sandal, sikat gigi, odol, dan gantungan bajunya yang di-ghasab, juga ziarah kuburnya ke makam Mbah Mufid.

“Siapa?” tanyaku.

“Mbah Mufid.”

“Kamu sudah bisa bilang Mbah sekarang, ya, Le.”

“Ya kata teman-teman semua juga bilangnya Mbah Mufid gitu, Yah.”

“Memangnya siapa beliau, Le?”

“Pendiri pondok ini.”

Tentu aku hanya sedang mencandainya dengan pertanyaan itu. Ia telah benar-benar menjadi santri—sebagaimana aku dulu.

Tetapi, aku sama sekali tak secuil pun menyelipkan candaan tatkala di sore hari, seusai asar, pamit kepadanya sembari berdoa di dalam hati: Ya Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karuniakanlah mata air kasih dan sayang-Mu kepada anakku ini berupa ilmu-ilmu yang bermanfaat; ilmu-ilmu yang mengalirkannya pada danau kesalehan, bukan sekadar kealiman, dan lautan akhlak karimah, agar kelak ia tumbuh menjadi sosok yang migunani tumraping liyan. Amin.

Sekarang, kau sudah berhasil merasakan derasnya bah perasaanku saat melepaskan Gara?

Putih, gemuk, dan lembek, seperti gajih. Namanya belatung. Ketika belatung-belatung semakin riuh keluar-masuk dari seluruh lubang tubuhku, termasuk telingaku, makin sempurna memamah jasadku, kepalaku, dan seluruh kenangan di dalamnya, hingga aku tak lagi berbentuk serupamu, dan kau pasti akan jijik benar umpama menyaksikan keadaanku, di suatu malam yang gigil dan kelam, sangat kelam. Seorang lelaki kusaksikan dari balik awan-awan seputih kapas sedang menangis seorang diri hingga dadanya bergelombang di teras belakang rumahnya seusai membaca cerita lama ini.

Untukmu di alam kubur, Yah, Al Fatihah, bisiknya dalam hati sembari menyeka air mata. Dialah Gara, anak ayahnya, aku, yang sore tadi tersayat-sayat hatinya karena mesti melepaskannya di sebuah pesantren yang terkenal dengan amaliah salawat, yang selalu membukakan pintu garasi untukku di malam-malam yang panjang.

“Kok kamu belum tidur, Le?” tanyanya.

“Aku nggak bisa tidur,” jawab anaknya.

“Kenapa?”

“Nunggu Ayah…”

“Mau dibuatkan mi goreng?”

“Mau…”

Lalu ia membuatkan mi goreng kesukaan anaknya dan menemaninya makan sampai tandas. Kemudian keduanya bergandengan tangan masuk ke kamar depan dan tidur bersebelahan sambil saling memeluk sampai jelang subuh.

Air mata adalah bahasa kehidupan yang paripurna.

Puisi tersebut dipahatnya di batu nisan ayahnya yang siang malam dikiriminya Fatihah—suatu kelak, ia pun akan diberikan pahatan itu oleh anaknya. Agar aku sama dengan ayahku, tuturnya kepada istri dan anak-anaknya.
Jogja, 1 Juli 2019
Edi AH IyubenuAdalah cerpenis dan esais, tinggal Jogja. Bisa ditemui di jagat Twitter lewat akun @edi_akhiles --Jawa Pos

The post Melepaskan Gara appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Senin, 22 Juli 2019

Mitoni Terakhir


Di halaman belakang rumah, peninggalan suamiku, aku duduk sendiri, memandang pohon randu alas yang meranggas. Kukira, waktuku sudah segera akan tiba. Aku tidak tahu kapan itu terjadi, tapi, cepat atau lambat, malaikat maut itu pasti akan segera datang menjemputku. Menyusul para leluhurku untuk berkumpul bersama.

Kematian adalah kepastian buat siapa saja, bukan? Apalagi perempuan seusiaku saat ini. Sebelum ajalku, aku hanya ingin merasakan, menyaksikan dan memberikan berkah pada darah dagingku yang terlahir di bumi ini, agar tumbuh sehat sebagai jiwa terberkati. Seperti para leluhurku juga memberkatiku di masa lalu.

Dari rahimku ini, telah lahir tujuh anak perempuan—dan setiap anak telah melahirkan anak-anaknya, para cucuku yang lucu. Kecuali anak bungsuku, Setyaningsih, ia baru dua tahun menikah dan belum sempat mendapatkan anak. Semua anak dan cucuku mendapat restu dan berkah dari orangtuanya dengan cara yang sama.

Eka Yuningsih, anak pertamaku, ketika mengandung anak pertamanya, semua menyambutnya dengan bahagia. Ketika usia kandungannya menginjak tujuh bulan, seperti adat Jawa yang terberkati, kami, ayah dan ibunya menggelar acara mitoni. Demikian pula dengan anak-anakku yang lain.

Dalam setiap hajatan itu, semua kerabat datang, semua tetangga hadir—juga anak-anak sekitar yang ceria menonton prosesinya. Mereka tertawa sembari berdesak-desakan di halaman. Terkadang mereka ikut melihat bagaimana kami mengguyur tubuh anak dan cucuku yang masih di dalam rahimnya, dengan air bunga.

Tentu saja aku tahu—anak-anak itu menginginkan dawet ayu, dan juga semua makanan yang kami sediakan untuk hajatan ini. Aku membiarkan mereka ribut, gaduh di antara suara gending Jawa yang mengiringi. Terkadang, aku berpura-pura marah, meminta mereka agar diam dan menunggu di latar. Sambil kutanya, sudah bawa kereweng [1] belum.

“Sudaah,” jawab mereka serempak.

Namun, semua upayaku agar mereka diam, sia-sia belaka. Mereka, para makhluk kecil nan berisik itu, selalu tak tertaklukkan oleh siapa saja, kecuali oleh dawet ayu. Dan perutnya yang seluas langit dan sedalam lautan, tak juga kunjung puas, meskipun bermangkok-mangkok sudah disiramkan ke dalam perutnya, dan juga oleh jajanan yang mereka inginkan. Ah, dasar anak-anak.

Semua tampak menjadi sibuk dan repot, memang, namun kerepotan itu membuat kami, para orangtua bahagia. Karena, aku dan mereka tahu, bahwa semua kerepotan dan keringat dari para kerabat, tetangga yang berkumpul dalam acara mitoni itu, adalah pancaran tangan kami semua yang menjemput cahaya berkah dari langit.

Cahaya berkah yang kemudian kami berikan pada anak dan cucuku di dalam kandungan. Agar kelak, mereka juga tumbuh dan meneruskan berkah itu pada anak cucu mereka. Juga melalui cara ini. sebagai orang Jawa.

Dahulu, di masa kecilku, aku juga seperti mereka anak-anak kampung yang ceria itu ketika ada hajatan, tak kecuali juga ketika ada calon ibu yang menggelar mitoni. Aku bersama kangmasku, setelah mendengar kabar itu, segera berlari gembira di sepanjang jalan kampong, mengumpulkan kereweng berebut dengan teman-teman yang lain.

Kereweng itu nanti kami tukarkan dengan segelas dawet dan makanan lain. Kami juga diizinkan ayah menonton pergelaran wayang orang atau wayang kulit setelahnya. Biasanya, anak-anak punya cara agar mendapatkan lebih dawet ayu. Mereka antri sampai berkali-kali, hingga akhirnya, simbok-simbok yang menjaga dan melayani, menegur kami dengan suara serak dan muka cemberut, “Sudah, gantian sama yang lain. Masak terus menerus muter.”

Kami selalu suka dengan semua hajatan, tanpa kecuali. Kami sadar, semua itu cara para leluhur, agar kami anak cucunya bersyukur dan menghargai lingkungan. Tanah yang menumbuhkan semua kebutuhan kami, dan juga pada Sang Hyang Widi di atas langit. Semua itu, tentu saja, seperti kata bapakku, Sastro Wiguno, mitoni adalah cara orang Jawa mencintai, menghargai kehidupan mereka di muka bumi. Juga tentang persoalan bagaimana kelak seluruh keturunan bisa menjalani kehidupan dengan berkah orangtua mereka yang mengemban amanah menjaga kehidupan dari generasi ke generasi.

Namun, sayang, Setyaningsih, anak bungsuku, agak berbeda. Ketika hamil pada akhirnya, ia menolak melakukan hajatan mitoni. Katanya, adat itu sudah terlalu kuno—tak lagi mencerminkan lingkungan sosial dan pendidikannya.

Katanya, bangsa Barat, Amerika, tempatnya bersekolah, tak ada tradisi mitoni. Ia memang berniat melakukan hajatan, tetapi dengan cara yang berbeda. Cara yang lebih praktis. Ia sebut hajatan itu dalam bahasa Inggris, babyshower. Aku belum pernah mendengar sebelumnya, sampai ia katakan itu.
“Teman-teman sudah seperti itu semua, Bu,” katanya mencoba meyakinkanku.

“Apa bedanya, Nduk? Lagipula kenapa harus seperti teman-temanmu?”

“Repot, Bu, hajatan seperti mitoni itu, ribet dan tak rasional,” katanya padaku, sedikit tampak enggan menjawab.

Tentu saja tidak begitu, kataku sedih. Tentu saja di sana tak ada mitoni. Semua tempat punya caranya sendiri. Kupandangi mukanya yang bersih dan halus. Ia perempuan yang cantik. Bahkan lebih cantik dari aku. Lebih pintar dariku. Semua yang diidamkan perempuan, ada padanya. Ia bisa membentuk apa yang ia suka dalam wajah dan tubuhnya, dengan uangnya.

Begitu cantiknya dirinya dengan semua perubahan itu, sampai aku tak yakin apakah benar ia anakku, Setyaningsih. Semua agak berubah, dari alisnya, bentuk bibirnya dan hidungnya yang menjadi mancung. Hampir semuanya tak lagi milikku, atau suamiku.

Aku mulai sadar, dunia ini memang mudah berubah. Semua akan selalu berubah. Tak ada kepastian, selain kematian, bukan? Anakku, Setyaningsih juga tampak jauh berubah. Ia tak lagi seperti anak-anak yang dulu selalu kurawat dan kuberikan pendidikan, agar nantinya ia tumbuh menjadi perempuan Jawa yang ikut merawat miliknya sendiri, dengan percaya diri.

Tapi, tampaknya ia begitu terpesona dengan dunia yang berbeda dari yang dimilikinya. Ia juga selalu berbahasa lain, yang saudara-saudaranya tak menggunakannya. Berpakaian seperti noni-noni berambut jerami yang menjadi teman-temannya. Suaminya, sama saja. Pramono, seorang pengusaha yang sukses yang lebih banyak hidup di negara asing, dan mulai kesulitan melafalkan bahasa-bahasa lokal di sini. Ia menurut saja semua apa yang dikatakan istrinya. Katanya, Ibu tak usah repot-repot bikin mitoni. Biar kami sendiri yang menangani.

Mitoni TerakhirDari tujuh anak perempuanku, Setyaningsih memang berbeda. Persis seperti pepatah lama, tak ada yang sempurna dari semua telur milik kita. Aku tak menyalahkannya, terutama bagaimana ia mendapatkan sekolah yang mampu membuatnya berpikir lebih baik dari kebanyakan orang.

Aku hanya ingin dirinya menjadi diri sendiri, sebagai orang Jawa. Menjalani tradisi yang sudah menjadi baju masyarakatnya sejak dulu. Itu saja. Usiaku mungkin akan selesai dalam hitungan waktu yang tak tentu. Aku hanya ingin menjalani sekali saja—merasakan bagaimana indahnya memberikan berkat pada anak cucuku yang masih sempat kulihat. Memberkati bersama para kerabat, tetangga dan anak-anak yang lucu dan bandel dalam acara mitoni.

Eka Yuningsih sudah membantuku menyampaikan semua keinginanku pada Setyaningsih. Katanya, aku harus bersabar. Tidak perlu ngotot dan memaksanya yang sudah punya pendapatnya sendiri. Dia ingin membuat acaranya sendiri, seperti semangat zamannya yang ingin seperti bangsa lain. Bangsa lain yang ingin menjadi bangsa lainnya lagi.

“Mungkin paling penting adalah doa ibu saja,” bujuk Yuningsih padaku, setelah gagal membujuk adiknya, Setyaningsih.

“Ibu, jika tetap berkeras hati juga, nanti malah jatuh sakit. Ibu harus jaga kesehatan Ibu, agar bisa menyaksikan cucu-cucu tumbuh.”

“Apakah ibu salah, jika ingin merasakan mitoni dari kandungan anakku. Mitoni terakhir yang tak akan aku rasakan lagi setelah kematianku nanti?” Yuningsih kulihat bimbang. Ia hanya diam dan mencium tanganku.

“Ibu jangan bicara seperti itu,” katanya kemudian.

Di halaman belakang rumah warisan suamiku ini, aku duduk menatap pohon randu alas yang meranggas, yang tak lagi berdaun di musim kemarau. Mendengarkan tembang megatruh yang mengingatkan agar bersiap dijemput kematian. Di sana, aku merenung dalam sendiriku. Mungkin aku salah. Mungkin aku semacam orangtua yang kaku. Mungkin aku terlalu memaksakan keinginanku sendiri pada anak-anakku. Orangtua yang sudah tidak sesuai dengan keinginan zaman. Keinginan anak-anaknya. Tidak tahu keinginan anak-anaknya? Hmm….

Sekilas, aku lihat langit yang penuh awan, di antara sela-sela ranting pohon randu alas yang meranggas. Aku bersedih mengingatnya, jika begitu. Tapi, kesedihanku bukan semata karena aku tak dituruti keinginanku. Mungkin memang iya. Aku tak boleh berbohong. Tapi, kesedihanku juga karena mengingat bahwa kematianku nanti, mungkin berarti juga kematian warisan leluburku di tanahnya sendiri. Kematian doa-doa yang penuh berkah dari langit.

Ah, semoga tidak. Aku masih berharap Setyaningsih, anakku yang cantik itu, sadar— sehingga aku masih bisa memberkati anak cucuku dalam mitoni yang terakhir. Sebelum ajal menjemputku.

Catatan:
[1] Kereweng, pecahan genteng, dalam acara mitoni biasanya digunakan sebagai alat transaksi untuk ditukarkan dawet dan lain-lain.

Ranang Aji SP, cerita pendeknya diterbitkan pelbagai media cetak dan digital. Menerbitkan buku Kumpulan Cerita Pendek Serigala yang Berzikir di Akhir Waktu (Nyala, 2018), buku kumpulan puisi Fang (2011), dan kumpulan puisi bersama Titik Perlawanan: Masih Kau Melawan (Lestra, 2012). Novelnya berlatar sejarah Perjalanan Cinta di Tanah Jawa dan Kekasih Bayangan menunggu proses terbit. Pernah mengikuti program Kelas Cerpen Kompas 2018, Kompas Institute, dan Kelas Kritik Sastra Salihara 2017.

Wahyu Friandana bernama lengkap I Made Wahyu Friandana, lahir di Denpasar, 17 April 1995, sedang menempuh pendidikan di ISI Yogyakarta. Selain dikenal sebagai pelukis, Wahyu juga drumer dari dua kelompok band underground, Nalais (Bali) dan Virtual Doom (Yogyakarta). Sehari-hari ia bekerja sebagai seniman tato di Yogyakarta. Karya-karyanya mulai dipamerkan tahun 2013 di ISI Yogyakarta dan Taman Budaya Yogyakarta. – Kompas

The post Mitoni Terakhir appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Kamis, 18 Juli 2019

Pemakaman Baru


“Ibumu telah mati.”

“Ya.”

“Kita harus segera menguburnya.”

“Aku tak punya uang.”

“Tapi kau masih punya potongan harga untuk penguburan ibumu.”

“Kau tidak dengar apa yang aku katakan? Aku tak punya uang. Biarlah dia diam di sini barang semalam atau dua malam. Sebaiknya kau cepat pergi.”

Pria tua itu lantas pergi tanpa sepatah kata pun. Pintu menjadi lampiasan amarahnya. Anak muda itu bergeming. Matanya tertuju ke televisi, tetapi pikiran melayang entah ke mana.

Rusman bangkit dari sofa buluk setelah beberapa jam melamun. Dia ingin minum. Ketika hendak ke dapur, dia melewati kamar ibunya. Berhenti dia di depan pintu, memandang sang ibu yang terbujur kaku, tanpa ekspresi. Lantas dia pergi mengambil gelas. Bunyi air yang Rusman tuang memecah keheningan. Jam sudah lama mati. Burung peliharaan bapaknya mati. Ikan mati. Semua mati. Hanya tersisa dia dan televisi. Bapaknya sudah mati seminggu lalu. Untuk itu dia mendapatkan potongan harga jika ingin menguburkan ibunya. Potongan setengah harga diberikan apabila ada anggota keluarga lain mati dan belum genap 40 hari.

Semenjak ada pemakaman berbayar di kampung ini, banyak orang mati. Hewan-hewan pun mati. Ada dua jenis kuburan di pemakaman itu; untuk manusia dan hewan. Biaya untuk kuburan hewan lebih murah karena ukuran hewan jauh lebih kecil.

Mau tidak mau warga kampung harus menguburkan anggota keluarganya karena lahan pemakaman umum sudah dibeli pengusaha kondang. Kuburan lama digusur. Jika ingin memindahkan kuburan ke tempat baru pun ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan anggota keluarga yang masih hidup.
Pemakaman hewan belum terlalu banyak diminati warga kampung. Jika ada hewan mati, mereka memilih membiarkan hingga membusuk. Pemakaman hewan hanya diminati orang-orang dari luar kampung. Biasanya kucing atau anjing. Selebihnya, pemakaman itu masih kosong.

Lain dari pemakaman manusia. Setelah pembukaan dan pemasaran yang gila-gilaan soal pemakaman itu, banyak peminat. Orang pertama yang mati adalah sesepuh kampung. Takmir masjid yang sudah tua. Entah apa yang membuat dia mati. Kata saksi, yang tak dikenal siapa, dia terpeleset ketika hendak mengambil air wudu. Padahal, lantai tempat wudu tak pernah licin. Setelah salat subuh, sesepuh itu selalu menyikatnya. Setiap hari. Selama bertahun-tahun. Namun warga memilih bergeming dan setuju perkataan saksi. Karena desas-desus terdengar, apabila ada yang membicarakan orang mati, dialah yang bakal mati selanjutnya.

Sesepuh itu akhirnya dikuburkan di pemakaman baru. Uang penguburan sebagian diambil dari kas masjid dan sebagian dari sumbangan warga. Tak ada keluarga yang ditinggalkan. Sejak muda, sesepuh itu memang tinggal di masjid. Tak punya istri, tak punya anak.

***
Rusman terjaga dari lelap. Tengah malam. Ada yang menggedor pintu rumahnya.
“Aku sudah bilang, aku tak punya uang.”

“Kau punya televisi sebagai jaminan. Sisanya bisa kaubayar nanti.”

“Tidak! Aku tidak mau.”

“Kau harus mengubur ibumu. Jangan sampai dia membusuk!” Nada suara pria tua itu menegang.
“Silakan jika kau mau mengubur ibuku. Tapi aku tidak akan bayar sepersen pun,” bentak Rusman sembari menutup pintu dengan kuat.

“Jika kau tak mau mengubur ibumu, aku akan….” Pria itu tiba-tiba bergeming.

“Akan apa?”

Tak ada suara menyambut. Hanya langkah kaki yang makin jauh dan hilang termakan kabut.

***
Pemakaman Baru“Dia masih bersikeras untuk tidak menguburkan ibunya, Pak.”

“Kau sudah mengancam akan membunuhnya?”

“Tak sampai hati aku melakukan. Dia anak cerdas. Dia tak layak mati, Pak.”

“Persetan dengan cerdas! Kaubunuh dia atau kau yang kubunuh untuk menutupi pendapatan bulan ini.”

Telepon mati.

Dua hari berlalu. Bau mayat sudah tercium. Rusman masih tetap pada pendirian; tak mau menyerahkan ibunya ke perusahaan pemakaman. “Persetan!” pikirnya. “Aku bisa melakukan sendiri.” Hari ini dia ingin mengubur ibunya di halaman belakang. Sempit memang. Namun tak apalah. Bau tak sedap agak menganggunya. Dia ambil cangkul, lalu mengeruk tanah belakang. Setelah merasa cukup, dia pergi ke kamar ibunya. Menyeret dan memasukkan jasad ibunya ke dalam liang. Tak ada proses pemandian atau lain-lain. Tak ada kain kafan. Hanya ibunya dan pakain terakhir yang digunakan.

Tak ada satu pun warga tahu ibunya telah mati. Ketika ditanya, Rusman menjawab Ibu pergi ke kampung, menengok orang tuanya. Yang tahu kematian ibunya hanyalah dia dan Pak Rudi, pria tua yang selalu mengganggu Rusman. Rudi, setelah diancam, mencari cara agar tidak dibunuh atasannya. Ketika kembali mendatangi Rusman, Rudi tidak dapat lagi berbuat apa-apa melihat Rusman, dengan pakaian penuh tanah, sedang istirahat di depan rumah. Rudi tahu Rusman telah mengubur ibunya. Itulah yang ditakutkan Rudi, mengingat dia tahu persis Rusman memang memiliki tanah lebih di belakang rumah.

“Kau telah menyulitkanku, Anak Muda.”

“Aku sudah mengatakan berkali-ulang padamu, aku tak punya uang.” Sambut Rusman dengan nada datar.

“Kau sudah main-main dengan perusahaan kami, Nak. Hati-hati.”

“Apa? Kau mengancamku? Seminggu lalu kau membunuh Bapak, dua hari lalu kau membunuh Ibu. Sekarang kau mau membunuhku? Jika itu terjadi, aku yakin warga tidak akan tinggal diam dan kau serta perusahaanmu itu akan dicari polisi.”

Rudi diam. Persis seperti yang dia pikirkan. Rusman memang anak yang cemerlang. Tidak pantas anak secerdik itu mati sia-sia. Rudi pergi kembali dengan tangan hampa.

Rudi bingung. Tidak ada tanda-tanda kematian dalam waktu dekat ini. Kematian yang terlalu mengada-ada dapat memicu kemarahan warga. Namun jika dia tidak segera dapat pengganti ibu Rusman, pekerjaan dia terancam. Bahkan nyawa sebagai taruhan.

“Dasar bos gila!” hardik dia dalam hati.

Memang kenapa jika satu bulan saja tidak mencapai target? Keuntungan memang sedikit berkurang, tetapi tidak akan membuat perusahaan menjadi pincang. “Sinting!”

Ketika Rudi sedang berjalan sambil berpikir bagaimana cara menutupi penjualan makam bulan ini, dari arah berlawanan ada seorang perempuan paruh baya setengah berlari. Rudi terkejut. Dia menghentikan perempuan itu dan bertanya apa yang sedang terjadi.

“Anak Pak Kuno!”

“Kenapa dia?”

“Mati!”

Seketika senyum simpul muncul di ujung bibir Rudi. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan senang.

“Mengapa kau tersenyum?”

“Oh, tidak. Tak mengapa. Apa sebab dia meninggal?”

“Kecelakaan. Aku ingin memberi tahu Pak Kuno dan istrinya.”

“Baiklah. Hati-hati, Bu.”

Perempuan itu berlalu. Rudi semringah.

Akhirnya Rudi bisa bernapas lega. Segera dia melapor ke kantor tentang kematian anak Pak Kuno. Setelah semua laporan selesai, dia datang ke rumah Pak Kuno. Di sana sudah ada wakil pihak yang menabrak. Tampaknya orang yang menabrak sedang diperiksa polisi. Mayat tak terlihat. Mungkin di rumah sakit, pikir Rudi.

Dengan dalih menawarkan pemakaman, Rudi dapat mendengar semua percakapan kedua pihak. Semua biaya pemakaman akan ditanggung penabrak. Keluarga Pak Kuno juga mendapat an santunan yang pantas.

“Persetan siapa yang membayar. Yang penting target bulan ini tercapai,” pikir Rudi.

Setelah semua selesai, dia pulang dengan hati riang. Malam ini, Rudi akan tidur nyenyak. Hanya ada satu hal terselubung lagi yang harus dia selesaikan. “Biar besok sajalah, hari-hari akhir ini aku terlalu banyak pikiran.”

Matahari menyongsong dari ufuk timur. Rudi siap berangkat. Berangkat ke rumah Rusman. Dengan gagah dan sambil bersiul, dia berjalan bak baru mendapat hadiah umrah. Rumahnya dari rumah Rusman terbilang jauh. Namun karena sedang semringah, enteng saja dia menempuh jarak itu.
“Ada apa lagi kau ke sini?”

“Tenang, Rusman. Aku ingin bicara denganmu.”

“Aku sudah bilang berkali-kali, aku tak punya uang. Biarkan ibuku mati dan membusuk di rumah ini. Aku tak akan memindahkan.”

“Tidak. Ini tak ada sangkut-pautnya dengan pemakaman ibumu.”

“Lalu?”

“Kau tidak punya uang kan?”

***
Rusman keluar pintu kamar. Menghela napas dan menuju ke ruang depan. Ada anak kecil sedang menggambar entah apa.

“Ibumu telah mati.”

“Ya.”

“Kita harus segera mengubur.”

“Aku tak punya uang.” (28)

Bandar Lampung, 27 Juni 2019: 17.25

Chandra Buana, alumnus Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Univesitas Negeri Semarang. Penyuka dan penulis cerpen dari Bandar Lampung itu kini bekerja dan tinggal di Bogor – Suara Merdeka

The post Pemakaman Baru appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Diskusi Mata Hijau


Kopinya telah dingin ketika tamu berjubah silver datang secepat kedip mata duduk menghadapinya. Tudung berkilau oleh limpahan sorot lampu warung kopi makin mengaburkan paras wajah, hanya sepasang matanya sepintas tampak berkilat, kehijauan.

Ia sunggingkan senyum datar. Senyawa aneh merambat. Sejuk tiba-tiba lengkap memenuh ruang.
“Aku tidak mau mati dengan cara itu,” ia mulai bersuara. Gelas kopi ia putar-putar pelan, seakan mengikuti irama detik jam dinding tua yang berderak letih.

“Sudah jalanmu.” Tamunya menjawab. Tidak lewat lisan, namun getar frekuensi kalimat itu bergaung di kepalanya.

“Tidak mau!”

Hening.

“Kalian memang tidak mengerti, semua itu akan melukai hati keluargaku, calon istriku!”
Tamunya diam.

“Semua misteri kehidupan ini makin membuatku ragu pada esensi makhluk macam kalian.”
“Kau yang tidak mengerti, waktumu telah tiba, tapi masih saja tidak bisa lepas dari keakuan. Padahal, semesta terus mengingatkanmu bahwa semua fana akan binasa.”

Derak jam tua mengisi keheningan. Berbagai pleidoi mencuat keluar dari benaknya, protes panjang pada langit tentang jalan hidupnya yang nyaris selalu tertatih, selalu tersuruk-suruk tanpa pernah bisa mengejar ketinggalan. Sampai ketika mata ketiganya terbuka, dan ia melihat kehidupan dengan cara yang berbeda. Memaknai kesempatan dengan ganjil, dan melihat orang-orang di sekitarnya tidak lagi ber wujud manusia. Kadang di matanya, seseorang terlihat bertanduk, ada yang berkepala kelamin, ada yang berkepala ular, ada yang dadanya ditumbuhi rumput liar, sering pula ia lihat orang berkepala masjid berdada sajadah. Di atas semua, ia selalu gelisah melihat jumlah napas mereka yang terus berkurang dari embus ke embus berikutnya. Menjadi lebih ngeri ketika ia melihat jumlah napasnya sendiri.

Ia tersenyum kecut, mengambil kretek dan menyalakannya. Penuh hikmat ia isap bakaran tembakau di mulutnya yang gelap. Segelap pikiran mendedar hidupnya sejak empat puluh hari lalu. Firasat mengantarkannya ke warung kopi, serta mengundang tamu astral yang pernah mengunjunginya lewat mimpi.

Renungan mengantarnya pada segala peristiwa lampau. Pertama kali mengingat sesuatu, mengatakan sesuatu, mendengar sesuatu, pertama kali menghidu sesuatu, pertama kali merasakan sesuatu sampai pertama kali kebas, tak lagi merasa apa-apa.

“Mau nambah kopinya, Kang?” Sarti, pelayan warung kopi mengacaukan perjalanannya menjelajah memori. Tertegun, ia seperti baru turun dari kendaraan kahyangan, asing menatap sekeliling, beberapa sopir truk antarprovinsi menikmati malam dengan santai, tenang membalut keletihan. Ada yang khusyuk dengan ponselnya, ada yang berbincang tentang seni rupa, ada yang terkantuk-kantuk sembari masih menjepit puntung rokok. Tamunya tak tampak lagi, barang kali hanya padanya makhluk bermata hijau itu menampakkan diri.

“Boleh, Mbak.”

Pandangannya berpindah, memindai tangan ramping itu dengan keindah anter sendiri meracik kopi untuknya. Ia juga melihat napas Sarti berkurang sesudah diembuskan dengan refleks. Secara otomatis terkalkulasi menyisakan angka lumayan panjang.

Kopi panas tersaji, uapnya mengepul bagai tarian kabut tipis, seiring aroma khas mengunjungi penciumannya.

“Kok gelisah terus, Kang. Tidak seperti biasanya.” Perempuan yang bia sa irit kata-kata itu membuka dialog dengannya. Selintas, ia ingin tertawa. Ya, harus begini sebelum semua diakhiri. Harus ada drama yang bisa diingat orang. Kini, ia tahu kenapa.

“Oh ya?” Senyumnya hambar. Kembali mengisap kretek yang nyaris habis.

“Menurut Mbak Sarti, hidup ini apa?”

Sarti menatapnya heran. Sejenak beradu pandang, mata Ilham segera kabur ke dinding warung yang penuh tempelan pos teriklan rokok.

“Hidup itu anugerah kata D’Masiv, Kang.” Sarti cekikikan setelahnya. Entah karena merasa lucu atau tidak tahu ja waban yang diinginkan Ilham.

“Hidup itu perjalanan pulang, Mbak.” Tanpa senyuman, ia menekan suara. Tawa Sarti kandas.

“Pulang ke mana, Kang Ilham? Yang jelas, hidup itu perjuangan untuk sukses. Lha ini, contohnya saya, jadi pelayan warung ini sudah sepuluh tahun, hanya untuk bertahan hidup, biar nggak mati kelaparan, atau setidaknya, ya matinya jangan karena nggak bisa makan. Impian sih bisa sukses seperti Inses ya, dapat jodoh tampan, mapan, beriman. Apa daya, nasibku bukan nasibmu, kata Iwan Fals, hihihihi. Sampean juga, toh? Kerja siang malam jadi sopir truk untuk menghidupi keluarga di kampung.”

“Itu hanya bagian dari ikhtiar, Mbak. Sebenarnya, hidup itu perjalanan mencari fungsi masing-masing, bertemu atau tidak dengan kehendak penciptaan, perjalanan tetap punya tujuan. Sangkan paraning dumadi, dari mana kita berasal ke sanalah kita berpulang.”

Sarti termangu beberapa lama. Mencerna ucapan lelaki di depannya, tetapi tidak paham juga. Semenjak menjadi langganan warung kopinya, Ilham tidak pernah bicara sepanjang ini. Lelaki itu dikenal pendiam dan tidak punya banyak teman.

“Sebelum tidur, buatlah pertanyaan untuk apa harus ada pagi setelah malam. Ketika bangun lagi, tanyakan pada hati, apa yang dikehendaki hati, apa yang diingini, apa yang harus dihindari. Hidup sebagai shalat, sebagai puasa, sebagai zakat, atau sebagai yang lainnya. Hidup tidak memberi kita aba-aba kapan berbelok, kapan lurus, kapan menyiapkan kapal bila banjir bandang datang, kapan menyiapkan keranda. Tidak ada kesepakatan menolak atau menerima. Yang terjadi harus terjadi. Carilah apa yang paling diinginkan hati. Sebelum kita jadi purna manusia.”

Sarti terbengong kehilangan kata. Matanya mengerjap-ngerjap tanda pikirannya berusaha keras memahami lawan bicara. Ilham menyesap kopinya sedikit demi sedikit sampai tandas lalu pamit pergi setelah membayar semua kas bonnya dua pekan terakhir. Lelaki itu menjauh, Sarti masih memandangi punggung bidang dibalut kaos abu-abu. Ia pernah dengar, Ilham dulunya seorang ateis, lalu berkelana ke seluruh pelosok Indonesia entah mencari apa. Hari ini di matanya, Ilham berkata-kata seperti putra seorang Kiai Mbeling yang menyamarkan pesan religi dalam lagu-lagu cinta. Untuk kali pertama, Sarti mendapati paradoks dalam diri seorang lelaki berwajah resah. Sayup terdengar olehnya lantunan lagu:

Kumengira hanya dialah obatnya
Tapi kusadari bukan itu yang kucari
Kuteruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan
Dan, kuyakin kau tak ingin aku berhenti….

***
Matahari muncul sepenggal di ufuk timur. Sejauh mata memandang, awan kumulo nimbus berarak pelan. Atmosfer terasa teduh, tapi serasa sendu kental. Nyanyi burung Emprit Granthil bersahutan, bagi sebagian orang malah terdengar mengerikan.

***
Diskusi Mata HijauSeorang bayi laki-laki terlahir di sebuah desa. Semua orang menyambut gembira, segera kesibukan terjadi seperti halnya tradisi Jawa dengan syukuran dan selamatan. Anak itu menjadi pusat perhatian dan curahan kasih sayang keluarga sederhana itu.

Anak itu tumbuh dengan baik. Berkembang sesuai zamannya, berjalan pada alurnya hingga sebuah tragedi mengubah langkah hidupnya. Keluarganya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Hanya ia sendiri yang hidup, sebatang kara. Harta keluarganya diperebutkan saudara-saudara orang tuanya. Mulailah, ia merantau, berkelana dari satu wilayah ke wilayah lain. Ia tumbuh di jalanan. Lupa di mana pernah dibesarkan.

Ia tak lagi percaya siapa saja. Ia hanya melangkah, mengikuti kata hati, mencari diri, sampai akhirnya tak ia temukan apa-apa di sepanjang semesta.

Kabut biru mengitari dua makhluk yang berdiri berhadapan. Di sebuah ketinggian, pada bagian yang tak terjangkau pikiran sebab nun jauh di bawah sana, bumi sedang berputar di rotasinya.

“Sudah tenangkah sekarang?” Sang pemilik mata hijau menakar kesiapannya.

“Ya.”

“Kita berangkat.”

Udara mengantar mereka ke sebuah tempat tak bernama.

***
Calon istrinya bersimbah air mata, pingsan berkali-kali setelah mayatnya dimasukkan keranda. Lantunan ayat suci mengiringi jasadnya disemayamkan. Tangisan tak membuatnya bangun dari tidur panjang. Namanya diukir di papan nisan. Kembar mayang disandingkan sebagai kearifan lokal, lelaki itu meninggal seminggu sebelum hari pernikahan. Kecelakaan tunggal truk yang dikemudikannya menabrak pembatas jalan, ia ditemukan luka parah pada bagian kepala. Malam itu, dedaunan surga yang bertulis nama dan perjalanan atmanya lepas dari tangkai pohon syajarah.

Di warung kopi, namanya diperbincangkan banyak orang. Ada yang menyesal pernah menyakiti perasaannya, ada yang membicarakan kemampuannya melihat masa depan dan membaui aroma kematian, ada yang menyayangkan kepulangannya sebelum ia melangsungkan akad nikah dengan santriwati paling cantik dari pesantren ternama. Ada yang hanya mengelus dada, tulus berduka cita. Sarti membuka lembar-lembar tentangnya tiap kali ada kesempatan, diiringi sengguk tangisan. Entah kenapa, bagi Sarti, pertemuan terakhirnya dengan Ilham malam itu meninggalkan kesan mendalam. Esoknya, ia keluar dari warung kopi dan memilih profesi sebagai juru masak di panti jompo.

Di panti itu, ia melihat siklus paling senja dari batang usia. Ia melihat mata sayu yang memendam rindu, melihat kesepian, kesendirian, terasingkan, dan berbagai cara untuk menemui satu titik, bahagia. Orang-orang yang berpayah mengejar impian terakhir mereka, khusnul khatimah. Menambal segala kekosongan masa muda, mengeja alif baa taa dengan kepandaian yang tersisa.

Panti itu, menjadi tempatnya berpijak untuk berbenah. Menyongsong ujung perjuangan.

Ia merasa ada Ilham di setiap napasnya, ilham tentang ikhtiar dan pengabdian pada Tuhan meniti garis perjalanan hidup sebelum tiba di perbatasan hayyu wa mumit.

22 Mei 2019

Kwai Fong, New Territories, Hong Kong


Wiji Lestari. Penulis adalah pemenang VOI Sastra Award (RRI) 2018 – Republika

The post Diskusi Mata Hijau appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Rabu, 17 Juli 2019

Malaikat dan Sepasang Jenazah di Tepi Danau


Selepas latihan biola, hendak pulang, aku menunggu bus Transjakarta. Bangku termenung di halte dikuasai tukangojek. Melawan nyeri dari lutut yang kaku dan tak sudi ditekuk, aku duduk menyandar di pagar tembok. Aku sadar seorang perempuan berusia sekitar 50-an, mengenakan rok berwarna krem, duduk sekitar tiga meter di sampingku.

Di bawah temaram lampu listrik trotoar, sekilas kulihat kulit wajahnya yang coklat kusam. Kakinya mengapit sandal jepit. Jari dan mata kakinya lebam, seprrti penderita kusta yang sudah lama sembuh. Tidak sebagaimana perempuan biasa, tangannya kosong. Kekayaannya, kalaupun ada, dalam bayanganku, dia sembunyikan di dua saku bajunya.

Dari arah kejauhan terlihat bus mendekat, lampunya terus berkedip. Aku sontak berdiri, mendekap ransel, menyandang biola. Yang berhenti bus berukuran pendek. Sesak di dalam. Kecewa, aku mengingsut mundur. Melangkah hati-hati menghindari undakan trotoar. Aku kembali duduk sambil mengelon ransel. Biola kusandarkan ke tembok.

Tak lama kemudian, aku bangkit lagi dengan beban masa tuaku: ransel dam biola, yang sejak beberapa tahun aku bujuk supaya ramah pada jemari dan otakku yang, lantaran digerogoti usia, tentulah sudah mengecil. Susut membatu, kupikir. Tetapi, si biola begitu sombong. Begitu pelit kuajak untuk merayakan hidup. Aku, jauh dari ambisi menjadi parbiola, seperti kata orang Batak, yang ingin tampil dalam sebuah orkestra. Angan-anganku terdengar ganjil, memang. Namun, itulah kepercayaan yang muncul sebagai keyakinan di pengujung usiaku: selama jari-jari dan otak masih bisa bekerjasama dalam memainkan sebuah melodi, walaupun terdengar sumbang, maka selama itu pula siksa hidup yang bernama stroke takkan menyudahi indahnya hidup. Tak ada bukti. Yang ada hanyalah keyakinan, yang boleh jadi toh akan merebahkan aku di jalan yang sesat.

Aku bangkit lagi. Menyongsong lampu bus yang terus berkelap-kelip dan mendekat Sayang, lagi-lagi yang singgah bus berbadan pendek, dengan bangku-bangkunya yang tidak peduli pada lutut yang tak bisa kutekuk dengan sempurna. Kembali aku menyerahkan diri ke tembok. Melonjorkan kaki. Tiba-tiba perempuan di sebelahku tadi berdiri dekat bahuku.

“Ini, bawalah. Pergilah ke dokter,” ucapnya. Refleks, uluran tangannya tidak serta-merta kusambut. Kuucapkan terima kasih, dan kukatakan bahwa aku punya ongkos pulang yang cukup. Dia sodorkan lagi tangannya dengan uang yang tergulung di dalamnya. Dalam remang cahaya, kulihat dia bolak-balik memperhatikan kaki dan wajahku, seakan-akan dia sedang menebak isi pikiranku.
“Nih, ambillah, pergilah ke dokter,” katanya membujuk.

Tangannya yang tergelung terus menggantung di depanku. Ah. Kupikir, niat baik, dari siapa pun, tak baik ditampik. Genggamannya kusambut. Terasa ada yang tergulung berpindah ke tapak tanganku. Lantas dia mundur, menjauh.

Malaikat dan Sepasang Jenazah di Tepi DanauTak berapa lama, ketika perempuan itu lenyap dengan langkah seperti memanggul beban, hilang di balik warung nasi uduk, muncullah bus berbadan panjang yang kutunggu-tunggu sedari tadi. Aku naik. Manakala bus bergerak maju, mataku terus menengok ke luar. Mencari-cari malaikat perempuan tadi. Namun, tak sekilas pun sosoknya melintas di balik jendela.

Siapakah dia gerangan? Apakah dia menyangka uang kertas pecahan Rp 20.000, itu akan datang bersama malaikat untuk membuat otak dan jemariku yang sudah keriput maju melompat dengan kemampuan menggesek dawai dengan ligat dan fasih komposisi “Minuet” karya Bach, yang sudah bertahun begitu kikir pada kemampuanku. Atau apakah itu perangsang untuk kemahiranku, yang sama sekali belum bisa dengan bangga dipertontonkan sekali pun kepada istriku, bahwa aku sudah bisa menyenandungkan “Ode To Joy” Beethoven, dengan mengalir walau terkadang terdengar kaku.
Siapa dia, dan mengapa dia menggenggamkan uang kertas hijau itu ke tapak tanganku. Padahal dia yang lebih membutuhkannya, kalau ditilik dari caranya berpakaian. Apalagi uang itu hasil dia mengemis seharian, barangkali. Ah, dia lenyap begitu cepat. Tak berbekas di jendela kaca bus yang berkabut karena uap mulut, hidung, dan tubuh penumpang. Membuat kenanganku terbang jauh seketika. Perempuan itu melambungkan pikiranku pada putriku. Aku menitikkan airmata ketika untuk pertama kali Dian mengirimkan uang kepadaku. Lama ayahnya ini tertegun dibuatnya. Tak percaya hidup ini begitu baik. Dan semakin tak percaya hidupku ini jauh lebih baik lagi lantaran dia, melampaui apa yang bisa kupikirkan ketika aku dan istriku membesarkannya, mendewasakannya.
Siapa perempuan di trotoar itu sesungguhnya? Dia pasti sedang sakit. Dia lebih membutuhkan uang yang dia genggamkan setengah memaksa ke tanganku.

Sesampai di rumah, kuceritakan pengalaman pertama dalam usiaku yang sudah melampaui 75. Aku tersentak dibuat jawaban istriku. “Ransel dan biola, dan kakimu yang pincang bikin dia jatuh hati. Dia kira kau pengamen yang kemalaman.”

Perempuan selalu benar. Istri apalagi. Tak terlalu lama kesimpulan yang dia sampaikan setengah bercanda itu menyadarkanku. Ketika itu kami sedang makan malam. Meja makan terasa ikut menertawakanku. Di dalam hati aku tersenyum simpul.

Satu harapanku. Semiskin-miskinnya malaikat trotoar itu tentulah dia punya handphone, perkakas manusia mutakhir, yang tersembunyi di saku bajunya yang lusuh. Semoga dia sempat membaca status Facebook yang kutulis keesokan hari setelah pertemuan yang ganjil dengannya, sebagai ucapan terima kasih yang tulus. “Uang kertas hijau yang kau sedekahkan itu takkan pernah kubelanjakan. Sehat, bahagia selalu. Jumpa lagi, Ibu.” Begitu catatan itu kututup.

***

Pengantin Abadi Menatap Danau

Malaikat dan Sepasang Jenazah di Tepi DanauDia adalah jenazah yang merasa kurang beruntung di kaki bukit, di atas danau itu. Sudah dua tahun dia menunggu. Belum juga terdengar orang menggali. Membawa istrinya. Desir angin yang membuat daun-daun bambu berkusip-kusip, berbisik-bisik, sudah tak pernah membangunkannya lagi. Hanya debur ombak menerpa tebing, jauh di bawah sana yang masih terus membuatnya terjaga. Dia dekatkan kupingnya di dinding liang kubur. Memejamkan mata. Menutup gendang telinganya, kalau-kalau ada kecipak perahu yang datang mengantarkan jenazah ke pemakaman yang sunyi dalam keteduhan di pinggang bukit, di tepi danau itu. Bergetar bibir dan jemarinya dipicu harapan kalau yang datang itu adalah istrinya.

Sesesak-sesaknya penantian, bagaimanapun akan ada akhirnya. Dia tiba-tiba merasa seperti disentakkan ketika mendengar isak-tangis di kejauhan. Juga lenguh dan raung yang tertahan karena siksa kehilangan. Ribuan riak membanting tebing di bawah sana. Derai angin menyapu daratan. Ratusan jejak kaki terdengar mendekat. Berhenti persis di bagian kepalanya. Perlahan tubuh istrinya diturunkan anak-anaknya dan seluruh kerabat ke dalam gua gerbang petala yang sudah disiapkan sejak dia dimakamkan di situ. Tepat di sebelahnya. Dua tahun silam.

Tangisan terakhir sudah tak terdengar, dilarikan angin dan mampir di tebing dan riak air di danau bawah sana. Desah kaki semakin menjauh. Kuburan di tebing itu kembali pada kesunyiannya semula. Angin, juga buai air ikut menjauh.

“Sudah dua tahun aku di sini. Menunggumu. Kau tak datang-datang juga. Ada apa?” katanya menyapa sang istri yang terbujur diam di sebelahnya. Sambungnya lagi, “Kupikir Jawa sudah tenggelam. Makanya kau tak datang-datang.” Dia tidak mengeluh. Hanya menelan liur. “Tak ada kabar. Apa pun tak ada.” Dia bangkit, direngkuhnya tangan istrinya. Tetapi, tetap saja perempuan yang pernah bekerja berpuluh tahun sebagai guru di daratan yang jauh itu tak bersuara.

Dua tahun memang lama. Teramat lama. Apalagi untuk orang yang menunggu sendirian di liang yang gelap. Siang, apalagi malam. Ingin rasanya dia keluar dari rumah abadinya itu. Menuruni punggung bukit dan berselancar di permukaan danau di bawah sana untuk membunuh waktu yang bergerak begitu lambat.

Dia menjemput akhir hidupnya dengan tenang. Seperti tak hendak menyusahkan siapa pun. Juga tidak istrinya. Dulu, sepulang dari gereja, juga saat di meja makan, mereka berdua acapkali seperti terlibat dalam pertaruhan. Siapa yang lebih dulu menghadap Tuhan. Namun, perdebatan tentang siapa yang lebih dulu menjemput ajal itu sudah tak bisa dilanjutkan lagi ketika sang istri terserang dimensia. Mantan guru itu sering berdiri di tepi meja makan, di seberang suaminya, dan layaknya sedang menghadapi murid di depan kelas, dia berbicara dalam bahasa Belanda, Inggris, Jepang, bercampur bahasa Batak. “Aku yang akan lebih dulu pulang menemui Dewata,” begitulah dia selalu menutup ocehannya.

“Ai sudah jadi patungku itu dibuat Si Raisa? Kapan mau dia tegakkan di makamku ini? Sudah dua tahun aku menunggu,” tanyanya seraya mengusap bahu istrinya.

“Tak pemah kutanya. Untuk apa?” jawab sang istri. “Seniman jangan didesak-desak, bisa mati daya khayalnya.” Tak terduga, tiba-tiba sang istri menjawab. Dan itulah kata-kata yang diucapkannva kepada suaminya begitu untuk pertama kali mereka bertemu di rumah penghabisan mereka itu, di kaki bukit, di tepi danau itu.

“Ah …”

Mengiang dalam ingatan sang istri bagaimana putri satu-satunya dari semua anaknya, hanya dialah yang bisa bertahan, paling menjulang, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Yang lain sempoyongan ingin menegakkan kembali perusahaan yang dibangun oleh sang ayah. Sia-sia. Mereka sangat tergantung pada sang ayah, seakan-akan tak mau lepas dari pangkuannya. Ketika pemerintah membukakan pasar kepada multinasional untuk beroperasi sampai ke desa-desa, perusahaan itu pun tumbang. Tinggal si Raisa satu-satunya yang bisa tegak sebagaimana patung yang selalu dia pahatkan, tatahkan sendirian.

“Apakah ada dikatakannya kepada kau, apa yang menjadi masalah sehingga patungku itu belum juga rampung? Padahal sudah dua tahun aku mati,” desak sang suami lagi.

“Bali …” sang istri nyaris kehilangan kesabaran. Untunglah dia sadar, dia baru saja terbaring satu liang dengan suaminya itu. “Janganlah dia didesak terus. Kasi dia kebebasan, sebagaimana orang-orang kaya yang memesan patung kepadanya. Ingat kau bagaimana dia menolak pembuatan sejumlah patung yang dipesan orang kaya dari Jalan Sudirman itu? Katanya, ruangannya tidak layak untuk disesaki patung sebanyak yang dipesan orang kaya itu. Keinginannya yang harus diikuti. Nilainya yang wajib dihormati. Seniman. Tak jadi pun tak masalah. Karena menumt dia, kalau jumlah patung yang dipesan diletakkan akan bertentangan dengan kesadaran akan ruang.

“Biarkan dia memperturutkan seruan jiwanya, supaya hasilnya abadi untuk kita berdua. Sebab kudengar, sebelum nyawaku diambil, diam-diam dia sedang mempersiapkan patung kita berdua.”
“Ha …? Ha … kapan jadinya?” sang suami tak kuasa melawan desakan keingintahuan dari dalam hatinya, seperti dia dulu tak kuasa manakala maut menghampirinya sebelum berangkat ke gereja, di pagi hari, dua tahun yang lalu. Dia memasang kuping baik-baik.

“Kan sudah kubilang. Kasi dia kebebasan. Memang, akan lama baru selesai, karena ada yang bilang, dia punya rencana pula untuk membuat patung yang menunjukkan deretan manusia yang berdiri di tepi jurang dengan mata tertutup, tangan terikat ke belakang. Kupikir pastilah itu patung yang mewakili ribuan korban pembinasaan manusia pada 1965-1966. Sejarah kelam yang begitu menyita pikirannya, padahal tak ada di antara keluarga kita yang jadi “kiri”, jadi korban. Memang, akan lama kita harus menunggu. Karena patung para korban itu akan dia buat dari tanah yang akan dia kumpulkan sendiri sekepal demi sekepal dari kuburan massal para korban, mulai dari daerah Sungai Ular dekat Medan, Bengawan Solo, Bali, Flores. Juga Pulau Buru. Tanah itu akan dia jemur, dia jadikan tepung, dan disatukan dalam satu adukan. Dijadikan patung.”

“Apakah dia akan ke Aek Raisan juga?” potong sang suami. Itu adalah nama daerah di Tapanuli Utara, di mana orang-orang yang dituduh tanpa bukti terlibat G30S, dibawa tentara di dalam truk dari wilayah lain. Mereka ditembak dan tubuh mereka digulingkan layaknya batang pisang dari atas jembatan.

“Kudengar begitu, sekalipun tak ada kuburan massal di sana. Tapi, dia akan turun ke sungai itu dan dari tebingnya akan dia kumpulkan juga segenggam tanah.”

Sang istri memegangi lengan suaminya seperti ketakutan akan terbang. “Sabarlah, Sayang,” bujuknya. Seumur hidup tak pernah dia mengucapkan “sayang” kepada suaminya itu. Itu dia ucapkan karena dia sudah lupa akan nama pasangan seumur hidupnya itu. “Sabarlah, akan datang waktunya dia mempersatukan kita kembali. Ada yang bilang, dia sudah melukis skets patung kita berdua…”
“Kapan jadinya?”

“Sabarlah kau. Berdasarkan skets itu, akan dia bangun patungmu. Patungku. Kita duduk sebelah-menyebelah, berduaan di bangku. Mata kita saling beradu sebagaimana kita dulu dipersatukan sampai pun mati, di gereja. Patung itu akan dia letakkan di atas kuburan kita ini. Dan dari situ, dari atas tebing, kita yang sudah abadi menatap, menikmati, danau yang menghampar di bawah. Setiap hari. Setiap saat.”


Martin Aleida, merayakan ulang tahun ke-75 akhir tahun lalu, berbarengan dengan peluncuran kumpulan cerita pendeknya. “Kata-Kata Membasuh Luka” (Penerbit Buku Kompas). Lahir di Tanjung Balai, Sumatera Utara, bermukim sejak lebih dari 50 tahun lalu di Jakarta. Penerima penghargaan kesetiaan berkarya Kompas (2013) dan anugerah seni Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2014).

Aurora Arazzi. Lahir di Padang, 26 April 1997, tinggal dan bekerja di Bandung. Menempuh pendidikan di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, bidang printmaking, serta Department of Painting, Musashino Art University, Tokyo, Japan. Berpartisipasi dalam sejumlah pameran di dalam dan luar negeri – Kompas

The post Malaikat dan Sepasang Jenazah di Tepi Danau appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Janji Kelud untuk Bapak


FEBRUARI 1990. Malam menjelang. Hawa panas menyeruak. Kentong langgar bertalu-talu.

Di mbale* rumah, puluhan warga telah berkumpul. Duduk berjejal-jejal, beralas daun kelapa. Mereka percaya rumah pertama di pedukuhan ini laksana benteng kukuh karena tak roboh digempur abu gunung bertahun-tahun. Di langit-langit rumah, empat lonjor besi dari rel kereta pengangkut tebu mempertebal keyakinan mereka. Begitu juga empat pilar kayu jati yang mengikis ketakutan mereka.
Suasana masih sepi dan hening. Sesekali, garis merah mengiris langit di ufuk timur. Belum ada degup dentum ledakan, kecuali degup-detak resah yang meledak di balik dada setiap orang.

Listrik padam. Pijar lilin di setiap penjuru lebih mencekam dari gelap gulita. Sebab, ia mengiris raut wajah dalam gurat kekhawatiran. Semakin ditatap, takut semakin semerbak. Bapak, dengan sebulir tetes mengalir di pelipis, bersuara lirih agar handai taulan tak henti-henti membaca salawat dan meminta ampunan kepada Tuhan.

’’Aaaaaargh!”

Tiba-tiba Anam, adik sepupuku, berteriak. Mata-mata terbelalak kaget. Jantung-jantung tertikam. Gemerisik celoteh berhamburan, tanya ada apa dan mengapa.

’’Pipis,” ujarnya dengan tangis tertahan.

Terbit tawa dan cekikik kecil dari sekitar. Cubit kecil emaknya mendarat di pahanya. Sebongkah es khawatir meleleh perlahan di lubuk mereka, lalu tercekat di tenggorokan. Karena…

Braaaakk!!!

Sebongkah batu sebesar kepala menerjang genting dan terbentur tembok di pojok ruangan. Tubuh-tubuh kembali beringsut. Langit bergemuruh. Gelegar meletup-letup. Disusul kerikil-kerikil yang menghunjam bumi. Gaduh. Pecahan genting dan bebatuan sekepal tangan meluncur laksana perang tombak dan anak panah. Hujan pasir tak terhindarkan. Butir-butir debu merayap di atas atap, menerobos apa pun yang terlintas meski sekecil lubang semut, lalu bergemelitik di ujung telapak kaki. Terasa kasar, saat kuinjak.

Sejumput keberanian dibentangkan. Juga payung-payung, untuk menepis kepul debu yang terus bergemuruh. Kalut terus menyelimut. Resah berdesak-desak dengan aroma keringat. Takut berdesah-desah bersama bau pesing dan sengat balsam. Bibir-bibir merapal doa, ayat kursi atau apa pun yang bisa terucap. Dengan lembut, Bapak menatapku di pangkuannya. Ia memelukku lekat-lekat. Debu memaluri seluruh wajahnya. Juga darah yang menetes dari ujung ubannya. Segores cahaya harap terbit di ujung tatap matanya yang meredup.

’’Bapak, Lembu Suro keluar?”

’’Ingat! Jangan takut. Ini tidak akan lama. Bapak telah mengalaminya beberapa kali. Letus Kelud adalah siklus. Zaman yang cerah akan menjelang. Percayalah!”

Aku hanya membisu. Seorang raja raksasa berkepala sapi terkunci rapat di ingatanku. Teriakannya yang beringas menjulurkan lidah api yang membakar langit. Penthung di tangannya merobohkan gunung batu, lalu melemparkannya ke udara. Kakinya mengentak-entak kawah hingga terbit banjir lahar. Sosok itu lahir dari rahim cerita Bapak.

***
Semburat senja masih terlukis di ufuk barat saat Bapak menggandeng tanganku menuju masjid. Ia bilang, fajar besok, ia akan mengajakku menaiki gunung dengan sepeda kumbangnya. Hanya lima kilometer, katanya. Lonjak kegirangan adalah jawabku. Mungkin, di atas gunung, ada mainan yang bisa dibawa ke rumah.

Pagi masih buta saat Bapak memboncengku menaiki jalan setapak. Kaki kecilku terikat manis di rangka sepeda. Agar tidak terjerat jeruji, kata Bapak. Kedua tangan mungilku bergayut erat di punggungnya yang gagah. Kakinya mengayuh pedal dengan lincah. Selincah dongeng yang meluncur deras dari ingatannya.

’’Di puncak gunung ini, seorang raksasa bersemayam. Ia berkepala sapi. Berbadan manusia,” aku mengeratkan pelukan, bergidik membayangkan. ’’Tak perlu takut. Bapak di sini. Dia hanya keluar pada saat-saat tertentu. Sebagai isyarat perubahan di negeri ini.”

Janji Kelud untuk Bapak’’Kau pasti bertanya mengapa ada raksasa di atas gunung? Dulu, ia adalah seorang pangeran yang bernama Lembu Suro. Pangeran yang mencintai seorang putri kerajaan. Putri bak bidadari turun dari surga. Ia tinggal di istana pinggir Sungai Brantas sana. Setiap jejaka di negeri ini hendak meminangnya. Perempuan itu tahu bahwa ia sedang diburu dan digandrungi. Dia pun mengajukan syarat bagi siapa pun yang hendak menjadi suaminya harus mampu membuat sumur sehari semalam di puncak Gunung Kelud ini. Hanya Lembu Suro yang menyanggupi.”

’’Dia seperti sapi ya, Pak?” tanyaku.

’’Iya. Kepalanya saja yang seperti sapi. Badannya, tangannya, kakinya ya seperti punya kamu. Sama kayak punya Bapak juga. Nanti di ujung jalan ini, ada patungnya.”

’’Jangan, Pak. Takut.”

’’Tidak apa-apa. Itu hanya patung, Nak.”

Bapak terus mengayuh. Kelok-kelok dilintasinya dengan sigap. Petak-petak sawah menghampar tak berujung. Kata Bapak, deret-deret tumbuhan itu bernama nanas. Rasanya masam dengan manis sedikit. Tapi, aku belum pernah memakannya. Sesekali, dua tiga pesepeda melewati kami.
’’Mereka ke mana, Pak?”

’’Oh orang-orang itu? Mencari kayu di hutan.”

’’Mereka tidak takut Lembu Suro?”

’’Tidak. Sekarang, dia masih sembunyi di balik kawah.”

’’Kapan dia keluar? Haris takut, Pak.”

’’Menunggu waktu yang tepat. Saat gunung meletus. Yaitu saat langit bergemuruh. Gelegar meletup-letup. Disusul kerikil-kerikil yang menghunjam bumi.”

’’Seperti balon dong? Meletus?”

’’Iya, gunung yang meletus. Kalau Lembu Suro keluar, kamu harus bersembunyi di mbale rumah kita. Akan aman. Rumah itu disusun mbahmu sebagai tempat perlindungan untuk keluarga dan warga.”
Aku mengangguk mengiyakan. Pedal terus berputar. Gir sepeda berderit-derit ketika menanjaki gundukan. Napas Bapak terengah-engah, disertai sengal batuk yang begitu berat. Kutatap punggungnya yang telah basah oleh keringat. Terkadang, kring-kring bel sepeda berbunyi. Bapak menoleh ke belakang, menatap wajahku dengan senyum paripurna. Senyum yang terus terpahat di sanubariku kelak.

’’Jadi, Lembu Suro menggali sumur di kawah itu. Sesuai permintaan sang putri. Tapi, sang putri tak sudi diperistri raksasa. Seluruh pengawal dan prajuritnya diperintah untuk menguburnya di dalam sumur. Lalu, sang putri lari. Kamu tahu? Lembu Suro sudah terpendam di dasar Kelud. Tidak bisa keluar. Raksasa itu marah luar biasa. Ia berteriak dan bersumpah serapah bahwa kelak gunung ini akan menjadi sumber petaka. Kediri mbesuk bakal dadi pethuk piwalesku sing makaping yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi kedung.”**

’’Daerah ini, Nak, dan sekitarnya tidak akan bisa lepas dari geliat Kelud ini. Balas dendam Lembu Suro adalah sumber penghidupan warga Mataraman,” ujarnya sambil melempar kerikil ke tengah kawah. Ia memintaku meniru gerakannya. Seonggok kerikil menerabas kekang udara, lalu tercebur di atas kawah yang mendidih. Lembu Suro mungkin akan menangkapnya di dasar genang air ini.
Dalam runcing cerita Bapak, Kelud adalah pijar anugerah bagi penduduk sekitarnya. Kata Bapak, Kelud hanya meletus beberapa kali dalam puluhan tahun, tapi dampaknya abadi dalam ratusan tahun. Sawah-sawah subur dan menghijau membentang. Setiap debu yang membubung setelah ledakan adalah ritus penyuburan tanah. Sumber-sumber air juga mengucur deras dari kuku-kuku kaki Kelud. Membasahi ladang dan bermuara di pucuk Sungai Brantas. Pasir, kerikil, dan bebatuan tak habis dikeruk demi gedung dan bangunan di sepanjang penjuru negeri. Hela ledak Kelud adalah entak hidup penduduk Mataraman.

***
Desember 2007. Fajar masih basah. Kukayuh sepedaku kuat-kuat. Memecah kabut. Menyisir wajah cerita Bapak di sepanjang setapak menuju puncak gunung.
Jurang curam membentang. Selarik aliran air tertangkap ujung mataku. Jurang ini tempat luberan kawah panas bermigrasi. Sekali terjatuh, tulang belulang akan menguap. Terowongan gelap menghadang. Di ujung gulita, kan kau temukan panas kawah. Lubang ini juga jalan lahar. Begitu ucap Bapak.

Dulu, di antara padang bunga senduro***, Bapak berbicara kepadaku dengan mimik yang menegang. Bahwa setelah letusan gunung Kelud, akan ada peristiwa besar di negeri ini. Ia mencontohkan letusan tahun 1811 terjadi sebulan sebelum Inggris datang menyerbu, ledakan tahun 1901 adalah ledakan gerakan politik pemuda, erupsi 1919 adalah tanda gerakan kebangsaan Indonesia, dan 1966 adalah masa pergantian Orde Lama jadi Orde Baru. Aku merekam ujung kalimat Bapak; setiap Kelud meledak, perubahan sosial politik akan terjadi.

***
Februari 2014. Senja berlabuh lebih dini. Angin hangat menyengat hingga tulang belulang. Beduk masjid berdentum-dentum.

Ratusan kali, Lembu Suro memekik dan menggoyang bumi. Penduduk berduyun-duyun datang ke mbale rumah ini. Kalut menyelimut. Langit bergemuruh. Gelegar meletup-letup. Disusul kerikil-kerikil yang menghunjam bumi. Gaduh. Pecahan genting dan bebatuan sekepal tangan meluncur laksana perang tombak dan anak panah. Hujan pasir tak terhindarkan. Butir-butir debu merayap di atas atap. Resah berdesak-desak. Takut berdesah-desah.

Dengan lembut, kutatap anakku di pangkuan. Aku memeluknya lekat-lekat. Bayangan Bapak berkelebat. Sosoknya membentuk lapisan cahaya di bawah empat lonjor rel. Seberkas cahaya yang menangkis pasir, kerikil, batu, dan keresahan. Ingatanku terpatri saat dulu ia tergeletak karena batu seruncing tombak jatuh menggores kepalanya. Darah menderas di ujung ubannya. Bapak terjerembap mendekapku. Persis saat ia memangku tubuhku. Kegagahan Kelud abadi dalam cerita-cerita Bapak. Juga kematiannya. Ah, Bapak. (*)

Catatan:
*mbale:
Ruang tamu
**Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi kedung
artinya: Kediri suatu saat akan mendapatkan balasanku yang berlipat-lipat. Kediri akan jadi sungai, Blitar jadi daratan, Tulungagung jadi perairan.
***senduro: Bunga edelweiss Jawa. Banyak ditemukan sebelum puncak Kelud.


M. Rosyid H.W. Menulis cerita pendek, esai sastra, dan resensi buku. Kumpulan cerpennya ’’Rembulan di Bibir Teluk dan Cerita Lainnya” akan terbit tahun ini. Saat ini penulis tinggal di Kota Malang –Jawa Pos
The post Janji Kelud untuk Bapak appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi