Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 23 Juli 2019

Melepaskan Gara


PUTIH, gemuk, dan lembek, seperti gajih. Namanya belatung. Kelak, ia akan menyembul dari lubang telingamu dan menggerogoti kenangan-kenangan di dalam kepalamu. Tanpa sisa! Semua kenangan di dalam kepalamu lalu sempurna hilang. Bahkan termasuk nama anakmu, Gara. Lengkapnya, Kynan Garawiksa.

“Kenapa aku kok mesti mondok, Yah?” tanyanya di suatu malam seusai menyantap mi goreng kesukaannya yang rutin kubuatkan.

Sekenanya saja aku menjawab—kepada anak berusia dua belas setengah tahun, tak bijak bila kuderakan jawaban panjang bahwa kau harus memiliki ilmu pengetahuan yang dalam dan luas agar nalarmu bisa selalu kritis dan pula kau mesti mengasah hatimu dengan laku-laku riyadhah agar hatimu jernih supaya kelak kau tak menjadi cebong atau kampret yang sama-sama bebal, tengik, bacin, dan bau comboren mampat akhlaknya—“Supaya kelak jika sudah beristri dan beranak-cucu, kamu bisa mengajarkan ilmu-ilmu agama dengan baik dan bijak.”

Gara bertanya lagi, “Di pondok ada Indormart-nya nggak, Yah?”

“Oh, ada, ada,” jawabku cepat. Ini pertanyaan enteng, sangat enteng, maka jawabannya pun enteng, sangat enteng. Toh, jikapun ternyata tak ada, tak sulit bagiku untuk mengadakannya. Kau ini, Nak, kayak lagi berurusan sama siapa to?

Sebuah tangisan pecah dari mulut seorang lelaki sebaya Gara. Ada dua larik pekikan yang mengiris wajah langit, juga hatiku. Semua mata seketika menyergap tubuhnya yang berguncang. Sedihnya ia ditinggal orang tuanya, gumamku, hatinya pasti sangat tersayat. Anak baru umur 12-13 tahun, betapa masih kecilnya. Seno Gumira Ajidarma barangkali belum pernah menyaksikan jerit pilu seorang anak sekecil itu yang menangis karena harus tinggal di pesantren dan berpisah dengan orang tuanya. Juga dunia kanaknya. “Tiada yang lebih sedih dari hati seorang perempuan yang menangis karena cinta,” kata Seno. Ah, ada-ada saja Seno ini. Semoga Gara selalu baik-baik saja, tak menangis seperti anak itu, doaku dalam hati.

Gara sekilas tersenyum kecil kepada anak yang menangis itu dengan ekspresi wajah yang sangat kuhafal. Tiap lekuk wajah dan tubuhnya, aku hafal. Kau tanya apa saja tentang Gara, spontan aku akan sangat bisa menceritakannya. Sebab, Gara anakku dan aku ayahnya…

Orang-orang yang berkerumun di emper Masjid Pandanaran ini, dengan memojok atau melingkar bersama anak masing-masing, pelan demi pelan mulai beranjak seiring kumandang azan Asar. Waktu mengingsut—pelan memang, lebih pelan dari langkah bekicot, tapi dengan pasti selalu maju, tak pernah berhenti. Sebagian besar pergi dan tak pernah kulihat lagi. Sebagian lain ikut salat, juga aku dan Gara.

Usai salat, usai Gara mencium punggung tanganku, aku berbisik padanya, “Le, kerasan ya di sini….”
Ia mengangguk, dengan sedikit tersenyum—senyuman yang kuhafal dengan hafalan yang lebih kukuh menghunjam daripada hunjaman hafalan Al Mulk.

Di emperan, istri dan dua anakku, serta Budhe Iis dan putrinya, Bella, telah menunggu. Gara ditawari pengin jajanan apa oleh mama dan budhenya. Ia bilang sate ayam. Di sisi selatan masjid, sejarak sepuluh langkah, ada pedagang sate ayam pakai sepeda motor yang sedang mangkal. Aku pun beranjak membelinya buat Gara.

Begitu kembali bersama sebungkus sate ayam, sekitar sepuluh menit berselang, kulihat mamanya sedang memeluk Gara. Sangat erat. Erat sekali: helai-helai angin pun takkan sanggup menyapih jarak keduanya.

“Sudah, sudah, Mah, nanti berat sendiri kalau mau pamit,” ujarku. Mereka saling berlepas pelukan, lalu Gara menerima bungkusan sate dariku, dan menyantapnya dengan lahap.

Rabu, 19 Juni 2019. Jika kau bersua denganku sepuluh tahun lagi, itu pun bila aku berumur panjang dan kau pun begitu, tanyakanlah padaku apa yang kukatakan dan kurasakan pada pukul 16.00 itu.
“Bagaimana perasaan Bapak ketika melepaskan Gara saat itu….?”

Sepuluh tahun lagi, pertanyaanmu itu masih akan sangat perkasa membuatku terdiam beberapa jenak, memaksa mataku terlontar ke ketinggian langit malam yang jelaga, lalu ingatanku melesat jauh, sangat jauh, ke setangkup wajah kecil yang amat kusayangi, yang tak lagi ada di depanku. Sebab, Gara anakku dan aku ayahnya, maka ia adalah selalu seorang anak berwajah kecil yang gemar merekahkan senyum dengan gigi putih berbaris di depanku. Baju kokonya hitam. Pecinya hitam. Sarungnya agak menggembung di bagian perut karena cara ia menggulungnya dibuntal-buntal begitu saja sekenanya, asal nyantol.

“Ayah mau ke mana? Aku ikut….” Gara selalu mengucapkan kalimat itu setiap aku akan pergi dari rumah, sejak ia berumur tiga atau empat tahunan. Siang atau malam. Hujan atau terang.

“Ayah mau ketemu teman, Le.”

“Teman siapa?”

“Ada teman bisnis.”

“Di mana?”

“Jauh, di Jalan Kaliurang.”

“Aku ikut ya….”

“Jangan, Le, besok kamu kan sekolah. Nanti saja kalau pas liburan, kamu boleh ikut.”

“Ehmm…ehmmm….” Wajahnya merengut kecewa, lalu membalikkan badan dari hadapanku, kemudian rebahan di depan tivi atau menjamah HP di meja.

Sepulang dari Jalan Kaliurang, nyaris pukul 00.00, tangan Gara-lah yang membukakan pintu garasi buatku. Wajah kecilnyalah yang kujumpai pertama kali. Suaranyalah yang pertama kali menyambutku.

“Kok belum tidur, Le?”

“Aku nggak bisa tidur.”

“Kenapa?”

“Nunggu Ayah….”

Wajah kecilnya menyunggi rekahan senyum, deretan giginya yang putih berbanjar di kelopak depanku. Lalu… Aku tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata apa saja, selain segera mengelus kepalanya, menjamah pundaknya, dan menggandengnya masuk ke depan ruang tivi atau kursi panjang di dekat dapur.

“Mau mi?”

“Mau…”

“Sebentar, ya, Ayah buatkan.”

Ia akan terus menemaniku hingga mi goreng buatanku tandas dilahapnya. Kemudian ia kuminta naik ke kasur di kamar depan, di sebelah mamanya, untuk tidur. Ia pun tidur. Bersebelahan denganku. Kerap kutindihi, dengan sengaja, semata untuk kurasakan hangat kulit tubuhnya menjalari kulit tubuhku. Pori-pori kulitnya hangat, selalu hangat, menyelam ke dalam hatiku…

Kuelus kepalanya yang berpeci hitam, kubacakan salawat beberapa kali, kutatap sekujur wajahnya dan hatiku melepas jangkar di matanya yang jernih. ’’Le, kerasan ya di sini, baik-baik sama teman-teman, ikuti semua aturan dan perintah guru-guru, ya…”

Sejumlah santri yang rata-rata sepantar dengan Gara terlihat bercanda di sekitar emperan masjid ini. Suara kaki-kaki mereka bergedebak, berlarian. Cekikikan-cekikikan berlesatan. Dan, nun jauh di sana, di kampung masing-masing, para orang tua mereka tentulah sedang mengelus dada dan kepala menanggung epitaf rindu yang tak terperikan perihnya.

“Sebulan atau dua bulan, Gara insya Allah juga akan begitu, seperti mereka, kan?” gumamku seakan sedang mengajukan pertanyaan yang tak perlu jawaban kepada Tuhan.

“Ayah tenang saja, aku kayaknya sudah kerasan kok. Di sini banyak teman, jadi bisa enak mainnya, hehe…” Suara Gara menerabas bukan ke liang telingaku, tapi ulu hatiku. Merobek takhtanya di dalam sana dan terus membekas hingga berpuluh tahun kemudian begini.

“Amin, alhamdulillah,” ketika ucapan ini keluar begitu saja dari mulutku menimpali sahutan Gara, mataku terlontar ke seberang, ke jalanan, melintas kelindan tembus ke mana-mana, berpuluh tahun silam kala abah dan ibu yang telah tiada mengantarku ke Pondok Denanyar, Jombang, dan meninggalkanku di antara orang-orang asing itu.

Aku mengisak seusai salat Magrib berjamaah. Sejumlah anak sebayaku juga menangis. Ibu, bertahun kemudian saat aku telah jadi mahasiswa, berkisah tentang pilunya ia sampai berderai air mata di dalam bus selama perjalanan pulang ke Madura karena harus terpisah denganku, anaknya, dan aku tertawa ngakak seusai menyimak kisahnya.

Sekarang, Gara tak menangis, ia malah berkata mulai kerasan, dan tepat pada desiran ucapannya itu akulah yang justru menangis. Pondok membuatku menangis dua kali: dulu saat ditinggalkan orang tuaku dan kini saat mesti meninggalkan anakku.

Debu-debu, sesekali, berkesiut disaput angin. Dalam hitungan menit, senja akan sempurna tandang, lalu digulung kelam, semakin hitam, hingga sempurna legam.

Le, sudah sore, saatnya Ayah pulang. Ayah pamit dulu, ya,” kataku setelah memastikan air mataku tak lagi tersisa di kelopak mata. Bukankah sebaiknya anak tak boleh tahu bahwa ayahnya sedang menangis karena dera nestapa hidup menjadi seorang ayah?

“Iya, Yah…”

“Nanti hari Jumat, insya Allah Ayah ke sini lagi menengokmu.”

Ia mengangguk. Lalu kurenggut tubuhnya ke dadaku, kupeluk dengan sangat dalam, dalam, dan dalam sekali. Beri aku kata yang lebih tebal dari kata ’’dalam”, maka pelukanku masih lebih tebal lagi. Mamanya lalu memeluknya. Kemudian budhenya. Lalu kakaknya, adiknya, dan sepupunya. Mereka lantas menyeberang ke sisi kiri di depan masjid, aku melaju ke parkiran di sisi utara, Gara tampak berdiri di ujung teras masjid.

Nyaris sepuluh menit kemudian, aku baru berhasil melintas di depan masjid, di seberang Gara berdiri, di tempat tadi aku menangis. Dan Gara masih setia berdiri di situ! Ia berdiri dengan tangan melambai-lambai ke arahku di balik kemudi, berkali-kali mengecupkan jari-jari ke bibirnya, sembari memanggilku.

“Yah, Ayah.”

Le, dadah, assalamualaikum.” Mobilku berhenti di tengah jalan, kemacetan sejenak mengular, hingga seseorang melambaikan tangan kepadaku memberi isyarat supaya aku segera melaju. “Le, baik-baik ya, Nak…”

Kalimat terakhir yang bisa kukatakan itu merobek kembali takhta hatiku dan deraslah hujan di mataku di depan kemudi. Ini kali ketiga aku menangis di pondok. Istri dan kerabat segera naik ke mobil di tepi jalan, berseberangan dengan tubuh Gara yang masih tampak mematung di ujung teras masjid.

Aku sengaja tak menolehinya lagi. Sengaja, Le!

Ia tak boleh tahu bahwa ayahnya menangis karena kehilangannya. Toh, tak semua hal tepat baginya untuk tahu hari ini dan biarlah waktu yang kelak akan memberitahunya betapa melepaskannya di pesantren merupakan peristiwa hebat yang membuatku menginsafi satu hal perihal pernah sombongnya aku kepada Tuhan. Dulu, aku pernah berkata di depan jamaah pengajian bahwa aku pasti tidak akan meneteskan air mata seumpama di suatu masa Tuhan menakdirkanku lebih dahulu kehilangan anakku sebelum anak-anakku merasakan luka kehilanganku.

“Aku ternyata sombong sekali ketika mengatakan hal itu atas nama kukuhnya tauhidku kepada-Nya. Tapi, aku tak bohong ketika barusan berkata padamu bahwa kepergian Gara dari rumah ini adalah kehilangan yang masih mengandung harapan nyata untuk berjumpa lagi dengannya di Jumat yang akan datang, yang sungguh harapan itu tak lagi ada dalam perpisahan karena melepas kematian,” kataku kepada mama Gara.

Mama Gara terdiam, mengusap matanya yang berlinang, dan pelan-pelan kembali melanjutkan makan malamnya dengan tidak lahap. Kulihat ada Gara di piringnya, di setiap suapannya, di setiap kunyahannya, di setiap kedipan matanya, di setiap tetes air matanya. Dadaku nyeri, sangat nyeri. Sebab, Gara anakku dan aku ayahnya…

“Jadi, bagaimana perasaan Bapak saat melepaskan Gara saat itu?”

Kumasuki kamar Gara yang diisi 12 anak dengan langkah tergesa. Sungguh tak sabar ingin menatapinya, memelukinya. Ia tak ada di kamar!

Aku pun keluar, menaburkan pandang ke segala penjuru, mencari hatiku yang berwajah kecil itu dan senyumnya yang kuhafal sehafal-hafalnya. Selarik suara yang amat kukenal menerpaku tiba-tiba dari arah belakangku. Suara Gara!

Leee…..” Kupeluk ia, kuelus kepalanya. Sepiring nasi putih tergenggam di tangan kanannya dengan bibir piring ditempelkan begitu saja ke baju kokonya. Beberapa butir nasi menempel ke baju kokonya. Kau benar-benar tetap anakku yang kecil itu, Le….

“Kok makannya nggak ada lauknya, Le?”

“Iya, kantinnya masih tutup jadi cuma dapat nasi dan sayur. Kalau lauknya kadang pakai abon, dikasih teman.”

“Pernah makan tanpa abon?”

“Ya pernah. Nasi sama sayur asem saja.”

Melepaskan GaraTanganku menggandengnya menuruni tangga kamarnya, lalu melaju ke luar, ke sebelah pondok, setelah kukatakan mamanya sedang menunggu di luar dan membawakannya banyak ayam goreng KFC kesukaannya.

“Sebagian nanti kukasih teman-teman kamar ya, Yah. Kasihan pada lama nggak makan ayam goreng.”

Inilah, Le, apa yang dulu ayah maksudkan dengan gumaman betapa pintar ilmu saja, taklim, tidaklah cukup untuk menyelamatkanmu dari pagebluk cebong dan kampret. Kau harus menarbiyahi hatimu agar jernih dengan laku-laku riyadhah di sini sehingga akalmu, ilmumu, bisa terpancari kejernihannya.

Gara menyantap dengan sangat lahap setiap iris ayam goreng KFC bawaan mamanya. Sesekali terdengar suaranya bercerita tentang sandal, sikat gigi, odol, dan gantungan bajunya yang di-ghasab, juga ziarah kuburnya ke makam Mbah Mufid.

“Siapa?” tanyaku.

“Mbah Mufid.”

“Kamu sudah bisa bilang Mbah sekarang, ya, Le.”

“Ya kata teman-teman semua juga bilangnya Mbah Mufid gitu, Yah.”

“Memangnya siapa beliau, Le?”

“Pendiri pondok ini.”

Tentu aku hanya sedang mencandainya dengan pertanyaan itu. Ia telah benar-benar menjadi santri—sebagaimana aku dulu.

Tetapi, aku sama sekali tak secuil pun menyelipkan candaan tatkala di sore hari, seusai asar, pamit kepadanya sembari berdoa di dalam hati: Ya Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karuniakanlah mata air kasih dan sayang-Mu kepada anakku ini berupa ilmu-ilmu yang bermanfaat; ilmu-ilmu yang mengalirkannya pada danau kesalehan, bukan sekadar kealiman, dan lautan akhlak karimah, agar kelak ia tumbuh menjadi sosok yang migunani tumraping liyan. Amin.

Sekarang, kau sudah berhasil merasakan derasnya bah perasaanku saat melepaskan Gara?

Putih, gemuk, dan lembek, seperti gajih. Namanya belatung. Ketika belatung-belatung semakin riuh keluar-masuk dari seluruh lubang tubuhku, termasuk telingaku, makin sempurna memamah jasadku, kepalaku, dan seluruh kenangan di dalamnya, hingga aku tak lagi berbentuk serupamu, dan kau pasti akan jijik benar umpama menyaksikan keadaanku, di suatu malam yang gigil dan kelam, sangat kelam. Seorang lelaki kusaksikan dari balik awan-awan seputih kapas sedang menangis seorang diri hingga dadanya bergelombang di teras belakang rumahnya seusai membaca cerita lama ini.

Untukmu di alam kubur, Yah, Al Fatihah, bisiknya dalam hati sembari menyeka air mata. Dialah Gara, anak ayahnya, aku, yang sore tadi tersayat-sayat hatinya karena mesti melepaskannya di sebuah pesantren yang terkenal dengan amaliah salawat, yang selalu membukakan pintu garasi untukku di malam-malam yang panjang.

“Kok kamu belum tidur, Le?” tanyanya.

“Aku nggak bisa tidur,” jawab anaknya.

“Kenapa?”

“Nunggu Ayah…”

“Mau dibuatkan mi goreng?”

“Mau…”

Lalu ia membuatkan mi goreng kesukaan anaknya dan menemaninya makan sampai tandas. Kemudian keduanya bergandengan tangan masuk ke kamar depan dan tidur bersebelahan sambil saling memeluk sampai jelang subuh.

Air mata adalah bahasa kehidupan yang paripurna.

Puisi tersebut dipahatnya di batu nisan ayahnya yang siang malam dikiriminya Fatihah—suatu kelak, ia pun akan diberikan pahatan itu oleh anaknya. Agar aku sama dengan ayahku, tuturnya kepada istri dan anak-anaknya.
Jogja, 1 Juli 2019
Edi AH IyubenuAdalah cerpenis dan esais, tinggal Jogja. Bisa ditemui di jagat Twitter lewat akun @edi_akhiles --Jawa Pos

The post Melepaskan Gara appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Senin, 22 Juli 2019

Mitoni Terakhir


Di halaman belakang rumah, peninggalan suamiku, aku duduk sendiri, memandang pohon randu alas yang meranggas. Kukira, waktuku sudah segera akan tiba. Aku tidak tahu kapan itu terjadi, tapi, cepat atau lambat, malaikat maut itu pasti akan segera datang menjemputku. Menyusul para leluhurku untuk berkumpul bersama.

Kematian adalah kepastian buat siapa saja, bukan? Apalagi perempuan seusiaku saat ini. Sebelum ajalku, aku hanya ingin merasakan, menyaksikan dan memberikan berkah pada darah dagingku yang terlahir di bumi ini, agar tumbuh sehat sebagai jiwa terberkati. Seperti para leluhurku juga memberkatiku di masa lalu.

Dari rahimku ini, telah lahir tujuh anak perempuan—dan setiap anak telah melahirkan anak-anaknya, para cucuku yang lucu. Kecuali anak bungsuku, Setyaningsih, ia baru dua tahun menikah dan belum sempat mendapatkan anak. Semua anak dan cucuku mendapat restu dan berkah dari orangtuanya dengan cara yang sama.

Eka Yuningsih, anak pertamaku, ketika mengandung anak pertamanya, semua menyambutnya dengan bahagia. Ketika usia kandungannya menginjak tujuh bulan, seperti adat Jawa yang terberkati, kami, ayah dan ibunya menggelar acara mitoni. Demikian pula dengan anak-anakku yang lain.

Dalam setiap hajatan itu, semua kerabat datang, semua tetangga hadir—juga anak-anak sekitar yang ceria menonton prosesinya. Mereka tertawa sembari berdesak-desakan di halaman. Terkadang mereka ikut melihat bagaimana kami mengguyur tubuh anak dan cucuku yang masih di dalam rahimnya, dengan air bunga.

Tentu saja aku tahu—anak-anak itu menginginkan dawet ayu, dan juga semua makanan yang kami sediakan untuk hajatan ini. Aku membiarkan mereka ribut, gaduh di antara suara gending Jawa yang mengiringi. Terkadang, aku berpura-pura marah, meminta mereka agar diam dan menunggu di latar. Sambil kutanya, sudah bawa kereweng [1] belum.

“Sudaah,” jawab mereka serempak.

Namun, semua upayaku agar mereka diam, sia-sia belaka. Mereka, para makhluk kecil nan berisik itu, selalu tak tertaklukkan oleh siapa saja, kecuali oleh dawet ayu. Dan perutnya yang seluas langit dan sedalam lautan, tak juga kunjung puas, meskipun bermangkok-mangkok sudah disiramkan ke dalam perutnya, dan juga oleh jajanan yang mereka inginkan. Ah, dasar anak-anak.

Semua tampak menjadi sibuk dan repot, memang, namun kerepotan itu membuat kami, para orangtua bahagia. Karena, aku dan mereka tahu, bahwa semua kerepotan dan keringat dari para kerabat, tetangga yang berkumpul dalam acara mitoni itu, adalah pancaran tangan kami semua yang menjemput cahaya berkah dari langit.

Cahaya berkah yang kemudian kami berikan pada anak dan cucuku di dalam kandungan. Agar kelak, mereka juga tumbuh dan meneruskan berkah itu pada anak cucu mereka. Juga melalui cara ini. sebagai orang Jawa.

Dahulu, di masa kecilku, aku juga seperti mereka anak-anak kampung yang ceria itu ketika ada hajatan, tak kecuali juga ketika ada calon ibu yang menggelar mitoni. Aku bersama kangmasku, setelah mendengar kabar itu, segera berlari gembira di sepanjang jalan kampong, mengumpulkan kereweng berebut dengan teman-teman yang lain.

Kereweng itu nanti kami tukarkan dengan segelas dawet dan makanan lain. Kami juga diizinkan ayah menonton pergelaran wayang orang atau wayang kulit setelahnya. Biasanya, anak-anak punya cara agar mendapatkan lebih dawet ayu. Mereka antri sampai berkali-kali, hingga akhirnya, simbok-simbok yang menjaga dan melayani, menegur kami dengan suara serak dan muka cemberut, “Sudah, gantian sama yang lain. Masak terus menerus muter.”

Kami selalu suka dengan semua hajatan, tanpa kecuali. Kami sadar, semua itu cara para leluhur, agar kami anak cucunya bersyukur dan menghargai lingkungan. Tanah yang menumbuhkan semua kebutuhan kami, dan juga pada Sang Hyang Widi di atas langit. Semua itu, tentu saja, seperti kata bapakku, Sastro Wiguno, mitoni adalah cara orang Jawa mencintai, menghargai kehidupan mereka di muka bumi. Juga tentang persoalan bagaimana kelak seluruh keturunan bisa menjalani kehidupan dengan berkah orangtua mereka yang mengemban amanah menjaga kehidupan dari generasi ke generasi.

Namun, sayang, Setyaningsih, anak bungsuku, agak berbeda. Ketika hamil pada akhirnya, ia menolak melakukan hajatan mitoni. Katanya, adat itu sudah terlalu kuno—tak lagi mencerminkan lingkungan sosial dan pendidikannya.

Katanya, bangsa Barat, Amerika, tempatnya bersekolah, tak ada tradisi mitoni. Ia memang berniat melakukan hajatan, tetapi dengan cara yang berbeda. Cara yang lebih praktis. Ia sebut hajatan itu dalam bahasa Inggris, babyshower. Aku belum pernah mendengar sebelumnya, sampai ia katakan itu.
“Teman-teman sudah seperti itu semua, Bu,” katanya mencoba meyakinkanku.

“Apa bedanya, Nduk? Lagipula kenapa harus seperti teman-temanmu?”

“Repot, Bu, hajatan seperti mitoni itu, ribet dan tak rasional,” katanya padaku, sedikit tampak enggan menjawab.

Tentu saja tidak begitu, kataku sedih. Tentu saja di sana tak ada mitoni. Semua tempat punya caranya sendiri. Kupandangi mukanya yang bersih dan halus. Ia perempuan yang cantik. Bahkan lebih cantik dari aku. Lebih pintar dariku. Semua yang diidamkan perempuan, ada padanya. Ia bisa membentuk apa yang ia suka dalam wajah dan tubuhnya, dengan uangnya.

Begitu cantiknya dirinya dengan semua perubahan itu, sampai aku tak yakin apakah benar ia anakku, Setyaningsih. Semua agak berubah, dari alisnya, bentuk bibirnya dan hidungnya yang menjadi mancung. Hampir semuanya tak lagi milikku, atau suamiku.

Aku mulai sadar, dunia ini memang mudah berubah. Semua akan selalu berubah. Tak ada kepastian, selain kematian, bukan? Anakku, Setyaningsih juga tampak jauh berubah. Ia tak lagi seperti anak-anak yang dulu selalu kurawat dan kuberikan pendidikan, agar nantinya ia tumbuh menjadi perempuan Jawa yang ikut merawat miliknya sendiri, dengan percaya diri.

Tapi, tampaknya ia begitu terpesona dengan dunia yang berbeda dari yang dimilikinya. Ia juga selalu berbahasa lain, yang saudara-saudaranya tak menggunakannya. Berpakaian seperti noni-noni berambut jerami yang menjadi teman-temannya. Suaminya, sama saja. Pramono, seorang pengusaha yang sukses yang lebih banyak hidup di negara asing, dan mulai kesulitan melafalkan bahasa-bahasa lokal di sini. Ia menurut saja semua apa yang dikatakan istrinya. Katanya, Ibu tak usah repot-repot bikin mitoni. Biar kami sendiri yang menangani.

Mitoni TerakhirDari tujuh anak perempuanku, Setyaningsih memang berbeda. Persis seperti pepatah lama, tak ada yang sempurna dari semua telur milik kita. Aku tak menyalahkannya, terutama bagaimana ia mendapatkan sekolah yang mampu membuatnya berpikir lebih baik dari kebanyakan orang.

Aku hanya ingin dirinya menjadi diri sendiri, sebagai orang Jawa. Menjalani tradisi yang sudah menjadi baju masyarakatnya sejak dulu. Itu saja. Usiaku mungkin akan selesai dalam hitungan waktu yang tak tentu. Aku hanya ingin menjalani sekali saja—merasakan bagaimana indahnya memberikan berkat pada anak cucuku yang masih sempat kulihat. Memberkati bersama para kerabat, tetangga dan anak-anak yang lucu dan bandel dalam acara mitoni.

Eka Yuningsih sudah membantuku menyampaikan semua keinginanku pada Setyaningsih. Katanya, aku harus bersabar. Tidak perlu ngotot dan memaksanya yang sudah punya pendapatnya sendiri. Dia ingin membuat acaranya sendiri, seperti semangat zamannya yang ingin seperti bangsa lain. Bangsa lain yang ingin menjadi bangsa lainnya lagi.

“Mungkin paling penting adalah doa ibu saja,” bujuk Yuningsih padaku, setelah gagal membujuk adiknya, Setyaningsih.

“Ibu, jika tetap berkeras hati juga, nanti malah jatuh sakit. Ibu harus jaga kesehatan Ibu, agar bisa menyaksikan cucu-cucu tumbuh.”

“Apakah ibu salah, jika ingin merasakan mitoni dari kandungan anakku. Mitoni terakhir yang tak akan aku rasakan lagi setelah kematianku nanti?” Yuningsih kulihat bimbang. Ia hanya diam dan mencium tanganku.

“Ibu jangan bicara seperti itu,” katanya kemudian.

Di halaman belakang rumah warisan suamiku ini, aku duduk menatap pohon randu alas yang meranggas, yang tak lagi berdaun di musim kemarau. Mendengarkan tembang megatruh yang mengingatkan agar bersiap dijemput kematian. Di sana, aku merenung dalam sendiriku. Mungkin aku salah. Mungkin aku semacam orangtua yang kaku. Mungkin aku terlalu memaksakan keinginanku sendiri pada anak-anakku. Orangtua yang sudah tidak sesuai dengan keinginan zaman. Keinginan anak-anaknya. Tidak tahu keinginan anak-anaknya? Hmm….

Sekilas, aku lihat langit yang penuh awan, di antara sela-sela ranting pohon randu alas yang meranggas. Aku bersedih mengingatnya, jika begitu. Tapi, kesedihanku bukan semata karena aku tak dituruti keinginanku. Mungkin memang iya. Aku tak boleh berbohong. Tapi, kesedihanku juga karena mengingat bahwa kematianku nanti, mungkin berarti juga kematian warisan leluburku di tanahnya sendiri. Kematian doa-doa yang penuh berkah dari langit.

Ah, semoga tidak. Aku masih berharap Setyaningsih, anakku yang cantik itu, sadar— sehingga aku masih bisa memberkati anak cucuku dalam mitoni yang terakhir. Sebelum ajal menjemputku.

Catatan:
[1] Kereweng, pecahan genteng, dalam acara mitoni biasanya digunakan sebagai alat transaksi untuk ditukarkan dawet dan lain-lain.

Ranang Aji SP, cerita pendeknya diterbitkan pelbagai media cetak dan digital. Menerbitkan buku Kumpulan Cerita Pendek Serigala yang Berzikir di Akhir Waktu (Nyala, 2018), buku kumpulan puisi Fang (2011), dan kumpulan puisi bersama Titik Perlawanan: Masih Kau Melawan (Lestra, 2012). Novelnya berlatar sejarah Perjalanan Cinta di Tanah Jawa dan Kekasih Bayangan menunggu proses terbit. Pernah mengikuti program Kelas Cerpen Kompas 2018, Kompas Institute, dan Kelas Kritik Sastra Salihara 2017.

Wahyu Friandana bernama lengkap I Made Wahyu Friandana, lahir di Denpasar, 17 April 1995, sedang menempuh pendidikan di ISI Yogyakarta. Selain dikenal sebagai pelukis, Wahyu juga drumer dari dua kelompok band underground, Nalais (Bali) dan Virtual Doom (Yogyakarta). Sehari-hari ia bekerja sebagai seniman tato di Yogyakarta. Karya-karyanya mulai dipamerkan tahun 2013 di ISI Yogyakarta dan Taman Budaya Yogyakarta. – Kompas

The post Mitoni Terakhir appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Kamis, 18 Juli 2019

Pemakaman Baru


“Ibumu telah mati.”

“Ya.”

“Kita harus segera menguburnya.”

“Aku tak punya uang.”

“Tapi kau masih punya potongan harga untuk penguburan ibumu.”

“Kau tidak dengar apa yang aku katakan? Aku tak punya uang. Biarlah dia diam di sini barang semalam atau dua malam. Sebaiknya kau cepat pergi.”

Pria tua itu lantas pergi tanpa sepatah kata pun. Pintu menjadi lampiasan amarahnya. Anak muda itu bergeming. Matanya tertuju ke televisi, tetapi pikiran melayang entah ke mana.

Rusman bangkit dari sofa buluk setelah beberapa jam melamun. Dia ingin minum. Ketika hendak ke dapur, dia melewati kamar ibunya. Berhenti dia di depan pintu, memandang sang ibu yang terbujur kaku, tanpa ekspresi. Lantas dia pergi mengambil gelas. Bunyi air yang Rusman tuang memecah keheningan. Jam sudah lama mati. Burung peliharaan bapaknya mati. Ikan mati. Semua mati. Hanya tersisa dia dan televisi. Bapaknya sudah mati seminggu lalu. Untuk itu dia mendapatkan potongan harga jika ingin menguburkan ibunya. Potongan setengah harga diberikan apabila ada anggota keluarga lain mati dan belum genap 40 hari.

Semenjak ada pemakaman berbayar di kampung ini, banyak orang mati. Hewan-hewan pun mati. Ada dua jenis kuburan di pemakaman itu; untuk manusia dan hewan. Biaya untuk kuburan hewan lebih murah karena ukuran hewan jauh lebih kecil.

Mau tidak mau warga kampung harus menguburkan anggota keluarganya karena lahan pemakaman umum sudah dibeli pengusaha kondang. Kuburan lama digusur. Jika ingin memindahkan kuburan ke tempat baru pun ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan anggota keluarga yang masih hidup.
Pemakaman hewan belum terlalu banyak diminati warga kampung. Jika ada hewan mati, mereka memilih membiarkan hingga membusuk. Pemakaman hewan hanya diminati orang-orang dari luar kampung. Biasanya kucing atau anjing. Selebihnya, pemakaman itu masih kosong.

Lain dari pemakaman manusia. Setelah pembukaan dan pemasaran yang gila-gilaan soal pemakaman itu, banyak peminat. Orang pertama yang mati adalah sesepuh kampung. Takmir masjid yang sudah tua. Entah apa yang membuat dia mati. Kata saksi, yang tak dikenal siapa, dia terpeleset ketika hendak mengambil air wudu. Padahal, lantai tempat wudu tak pernah licin. Setelah salat subuh, sesepuh itu selalu menyikatnya. Setiap hari. Selama bertahun-tahun. Namun warga memilih bergeming dan setuju perkataan saksi. Karena desas-desus terdengar, apabila ada yang membicarakan orang mati, dialah yang bakal mati selanjutnya.

Sesepuh itu akhirnya dikuburkan di pemakaman baru. Uang penguburan sebagian diambil dari kas masjid dan sebagian dari sumbangan warga. Tak ada keluarga yang ditinggalkan. Sejak muda, sesepuh itu memang tinggal di masjid. Tak punya istri, tak punya anak.

***
Rusman terjaga dari lelap. Tengah malam. Ada yang menggedor pintu rumahnya.
“Aku sudah bilang, aku tak punya uang.”

“Kau punya televisi sebagai jaminan. Sisanya bisa kaubayar nanti.”

“Tidak! Aku tidak mau.”

“Kau harus mengubur ibumu. Jangan sampai dia membusuk!” Nada suara pria tua itu menegang.
“Silakan jika kau mau mengubur ibuku. Tapi aku tidak akan bayar sepersen pun,” bentak Rusman sembari menutup pintu dengan kuat.

“Jika kau tak mau mengubur ibumu, aku akan….” Pria itu tiba-tiba bergeming.

“Akan apa?”

Tak ada suara menyambut. Hanya langkah kaki yang makin jauh dan hilang termakan kabut.

***
Pemakaman Baru“Dia masih bersikeras untuk tidak menguburkan ibunya, Pak.”

“Kau sudah mengancam akan membunuhnya?”

“Tak sampai hati aku melakukan. Dia anak cerdas. Dia tak layak mati, Pak.”

“Persetan dengan cerdas! Kaubunuh dia atau kau yang kubunuh untuk menutupi pendapatan bulan ini.”

Telepon mati.

Dua hari berlalu. Bau mayat sudah tercium. Rusman masih tetap pada pendirian; tak mau menyerahkan ibunya ke perusahaan pemakaman. “Persetan!” pikirnya. “Aku bisa melakukan sendiri.” Hari ini dia ingin mengubur ibunya di halaman belakang. Sempit memang. Namun tak apalah. Bau tak sedap agak menganggunya. Dia ambil cangkul, lalu mengeruk tanah belakang. Setelah merasa cukup, dia pergi ke kamar ibunya. Menyeret dan memasukkan jasad ibunya ke dalam liang. Tak ada proses pemandian atau lain-lain. Tak ada kain kafan. Hanya ibunya dan pakain terakhir yang digunakan.

Tak ada satu pun warga tahu ibunya telah mati. Ketika ditanya, Rusman menjawab Ibu pergi ke kampung, menengok orang tuanya. Yang tahu kematian ibunya hanyalah dia dan Pak Rudi, pria tua yang selalu mengganggu Rusman. Rudi, setelah diancam, mencari cara agar tidak dibunuh atasannya. Ketika kembali mendatangi Rusman, Rudi tidak dapat lagi berbuat apa-apa melihat Rusman, dengan pakaian penuh tanah, sedang istirahat di depan rumah. Rudi tahu Rusman telah mengubur ibunya. Itulah yang ditakutkan Rudi, mengingat dia tahu persis Rusman memang memiliki tanah lebih di belakang rumah.

“Kau telah menyulitkanku, Anak Muda.”

“Aku sudah mengatakan berkali-ulang padamu, aku tak punya uang.” Sambut Rusman dengan nada datar.

“Kau sudah main-main dengan perusahaan kami, Nak. Hati-hati.”

“Apa? Kau mengancamku? Seminggu lalu kau membunuh Bapak, dua hari lalu kau membunuh Ibu. Sekarang kau mau membunuhku? Jika itu terjadi, aku yakin warga tidak akan tinggal diam dan kau serta perusahaanmu itu akan dicari polisi.”

Rudi diam. Persis seperti yang dia pikirkan. Rusman memang anak yang cemerlang. Tidak pantas anak secerdik itu mati sia-sia. Rudi pergi kembali dengan tangan hampa.

Rudi bingung. Tidak ada tanda-tanda kematian dalam waktu dekat ini. Kematian yang terlalu mengada-ada dapat memicu kemarahan warga. Namun jika dia tidak segera dapat pengganti ibu Rusman, pekerjaan dia terancam. Bahkan nyawa sebagai taruhan.

“Dasar bos gila!” hardik dia dalam hati.

Memang kenapa jika satu bulan saja tidak mencapai target? Keuntungan memang sedikit berkurang, tetapi tidak akan membuat perusahaan menjadi pincang. “Sinting!”

Ketika Rudi sedang berjalan sambil berpikir bagaimana cara menutupi penjualan makam bulan ini, dari arah berlawanan ada seorang perempuan paruh baya setengah berlari. Rudi terkejut. Dia menghentikan perempuan itu dan bertanya apa yang sedang terjadi.

“Anak Pak Kuno!”

“Kenapa dia?”

“Mati!”

Seketika senyum simpul muncul di ujung bibir Rudi. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan senang.

“Mengapa kau tersenyum?”

“Oh, tidak. Tak mengapa. Apa sebab dia meninggal?”

“Kecelakaan. Aku ingin memberi tahu Pak Kuno dan istrinya.”

“Baiklah. Hati-hati, Bu.”

Perempuan itu berlalu. Rudi semringah.

Akhirnya Rudi bisa bernapas lega. Segera dia melapor ke kantor tentang kematian anak Pak Kuno. Setelah semua laporan selesai, dia datang ke rumah Pak Kuno. Di sana sudah ada wakil pihak yang menabrak. Tampaknya orang yang menabrak sedang diperiksa polisi. Mayat tak terlihat. Mungkin di rumah sakit, pikir Rudi.

Dengan dalih menawarkan pemakaman, Rudi dapat mendengar semua percakapan kedua pihak. Semua biaya pemakaman akan ditanggung penabrak. Keluarga Pak Kuno juga mendapat an santunan yang pantas.

“Persetan siapa yang membayar. Yang penting target bulan ini tercapai,” pikir Rudi.

Setelah semua selesai, dia pulang dengan hati riang. Malam ini, Rudi akan tidur nyenyak. Hanya ada satu hal terselubung lagi yang harus dia selesaikan. “Biar besok sajalah, hari-hari akhir ini aku terlalu banyak pikiran.”

Matahari menyongsong dari ufuk timur. Rudi siap berangkat. Berangkat ke rumah Rusman. Dengan gagah dan sambil bersiul, dia berjalan bak baru mendapat hadiah umrah. Rumahnya dari rumah Rusman terbilang jauh. Namun karena sedang semringah, enteng saja dia menempuh jarak itu.
“Ada apa lagi kau ke sini?”

“Tenang, Rusman. Aku ingin bicara denganmu.”

“Aku sudah bilang berkali-kali, aku tak punya uang. Biarkan ibuku mati dan membusuk di rumah ini. Aku tak akan memindahkan.”

“Tidak. Ini tak ada sangkut-pautnya dengan pemakaman ibumu.”

“Lalu?”

“Kau tidak punya uang kan?”

***
Rusman keluar pintu kamar. Menghela napas dan menuju ke ruang depan. Ada anak kecil sedang menggambar entah apa.

“Ibumu telah mati.”

“Ya.”

“Kita harus segera mengubur.”

“Aku tak punya uang.” (28)

Bandar Lampung, 27 Juni 2019: 17.25

Chandra Buana, alumnus Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Univesitas Negeri Semarang. Penyuka dan penulis cerpen dari Bandar Lampung itu kini bekerja dan tinggal di Bogor – Suara Merdeka

The post Pemakaman Baru appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Diskusi Mata Hijau


Kopinya telah dingin ketika tamu berjubah silver datang secepat kedip mata duduk menghadapinya. Tudung berkilau oleh limpahan sorot lampu warung kopi makin mengaburkan paras wajah, hanya sepasang matanya sepintas tampak berkilat, kehijauan.

Ia sunggingkan senyum datar. Senyawa aneh merambat. Sejuk tiba-tiba lengkap memenuh ruang.
“Aku tidak mau mati dengan cara itu,” ia mulai bersuara. Gelas kopi ia putar-putar pelan, seakan mengikuti irama detik jam dinding tua yang berderak letih.

“Sudah jalanmu.” Tamunya menjawab. Tidak lewat lisan, namun getar frekuensi kalimat itu bergaung di kepalanya.

“Tidak mau!”

Hening.

“Kalian memang tidak mengerti, semua itu akan melukai hati keluargaku, calon istriku!”
Tamunya diam.

“Semua misteri kehidupan ini makin membuatku ragu pada esensi makhluk macam kalian.”
“Kau yang tidak mengerti, waktumu telah tiba, tapi masih saja tidak bisa lepas dari keakuan. Padahal, semesta terus mengingatkanmu bahwa semua fana akan binasa.”

Derak jam tua mengisi keheningan. Berbagai pleidoi mencuat keluar dari benaknya, protes panjang pada langit tentang jalan hidupnya yang nyaris selalu tertatih, selalu tersuruk-suruk tanpa pernah bisa mengejar ketinggalan. Sampai ketika mata ketiganya terbuka, dan ia melihat kehidupan dengan cara yang berbeda. Memaknai kesempatan dengan ganjil, dan melihat orang-orang di sekitarnya tidak lagi ber wujud manusia. Kadang di matanya, seseorang terlihat bertanduk, ada yang berkepala kelamin, ada yang berkepala ular, ada yang dadanya ditumbuhi rumput liar, sering pula ia lihat orang berkepala masjid berdada sajadah. Di atas semua, ia selalu gelisah melihat jumlah napas mereka yang terus berkurang dari embus ke embus berikutnya. Menjadi lebih ngeri ketika ia melihat jumlah napasnya sendiri.

Ia tersenyum kecut, mengambil kretek dan menyalakannya. Penuh hikmat ia isap bakaran tembakau di mulutnya yang gelap. Segelap pikiran mendedar hidupnya sejak empat puluh hari lalu. Firasat mengantarkannya ke warung kopi, serta mengundang tamu astral yang pernah mengunjunginya lewat mimpi.

Renungan mengantarnya pada segala peristiwa lampau. Pertama kali mengingat sesuatu, mengatakan sesuatu, mendengar sesuatu, pertama kali menghidu sesuatu, pertama kali merasakan sesuatu sampai pertama kali kebas, tak lagi merasa apa-apa.

“Mau nambah kopinya, Kang?” Sarti, pelayan warung kopi mengacaukan perjalanannya menjelajah memori. Tertegun, ia seperti baru turun dari kendaraan kahyangan, asing menatap sekeliling, beberapa sopir truk antarprovinsi menikmati malam dengan santai, tenang membalut keletihan. Ada yang khusyuk dengan ponselnya, ada yang berbincang tentang seni rupa, ada yang terkantuk-kantuk sembari masih menjepit puntung rokok. Tamunya tak tampak lagi, barang kali hanya padanya makhluk bermata hijau itu menampakkan diri.

“Boleh, Mbak.”

Pandangannya berpindah, memindai tangan ramping itu dengan keindah anter sendiri meracik kopi untuknya. Ia juga melihat napas Sarti berkurang sesudah diembuskan dengan refleks. Secara otomatis terkalkulasi menyisakan angka lumayan panjang.

Kopi panas tersaji, uapnya mengepul bagai tarian kabut tipis, seiring aroma khas mengunjungi penciumannya.

“Kok gelisah terus, Kang. Tidak seperti biasanya.” Perempuan yang bia sa irit kata-kata itu membuka dialog dengannya. Selintas, ia ingin tertawa. Ya, harus begini sebelum semua diakhiri. Harus ada drama yang bisa diingat orang. Kini, ia tahu kenapa.

“Oh ya?” Senyumnya hambar. Kembali mengisap kretek yang nyaris habis.

“Menurut Mbak Sarti, hidup ini apa?”

Sarti menatapnya heran. Sejenak beradu pandang, mata Ilham segera kabur ke dinding warung yang penuh tempelan pos teriklan rokok.

“Hidup itu anugerah kata D’Masiv, Kang.” Sarti cekikikan setelahnya. Entah karena merasa lucu atau tidak tahu ja waban yang diinginkan Ilham.

“Hidup itu perjalanan pulang, Mbak.” Tanpa senyuman, ia menekan suara. Tawa Sarti kandas.

“Pulang ke mana, Kang Ilham? Yang jelas, hidup itu perjuangan untuk sukses. Lha ini, contohnya saya, jadi pelayan warung ini sudah sepuluh tahun, hanya untuk bertahan hidup, biar nggak mati kelaparan, atau setidaknya, ya matinya jangan karena nggak bisa makan. Impian sih bisa sukses seperti Inses ya, dapat jodoh tampan, mapan, beriman. Apa daya, nasibku bukan nasibmu, kata Iwan Fals, hihihihi. Sampean juga, toh? Kerja siang malam jadi sopir truk untuk menghidupi keluarga di kampung.”

“Itu hanya bagian dari ikhtiar, Mbak. Sebenarnya, hidup itu perjalanan mencari fungsi masing-masing, bertemu atau tidak dengan kehendak penciptaan, perjalanan tetap punya tujuan. Sangkan paraning dumadi, dari mana kita berasal ke sanalah kita berpulang.”

Sarti termangu beberapa lama. Mencerna ucapan lelaki di depannya, tetapi tidak paham juga. Semenjak menjadi langganan warung kopinya, Ilham tidak pernah bicara sepanjang ini. Lelaki itu dikenal pendiam dan tidak punya banyak teman.

“Sebelum tidur, buatlah pertanyaan untuk apa harus ada pagi setelah malam. Ketika bangun lagi, tanyakan pada hati, apa yang dikehendaki hati, apa yang diingini, apa yang harus dihindari. Hidup sebagai shalat, sebagai puasa, sebagai zakat, atau sebagai yang lainnya. Hidup tidak memberi kita aba-aba kapan berbelok, kapan lurus, kapan menyiapkan kapal bila banjir bandang datang, kapan menyiapkan keranda. Tidak ada kesepakatan menolak atau menerima. Yang terjadi harus terjadi. Carilah apa yang paling diinginkan hati. Sebelum kita jadi purna manusia.”

Sarti terbengong kehilangan kata. Matanya mengerjap-ngerjap tanda pikirannya berusaha keras memahami lawan bicara. Ilham menyesap kopinya sedikit demi sedikit sampai tandas lalu pamit pergi setelah membayar semua kas bonnya dua pekan terakhir. Lelaki itu menjauh, Sarti masih memandangi punggung bidang dibalut kaos abu-abu. Ia pernah dengar, Ilham dulunya seorang ateis, lalu berkelana ke seluruh pelosok Indonesia entah mencari apa. Hari ini di matanya, Ilham berkata-kata seperti putra seorang Kiai Mbeling yang menyamarkan pesan religi dalam lagu-lagu cinta. Untuk kali pertama, Sarti mendapati paradoks dalam diri seorang lelaki berwajah resah. Sayup terdengar olehnya lantunan lagu:

Kumengira hanya dialah obatnya
Tapi kusadari bukan itu yang kucari
Kuteruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan
Dan, kuyakin kau tak ingin aku berhenti….

***
Matahari muncul sepenggal di ufuk timur. Sejauh mata memandang, awan kumulo nimbus berarak pelan. Atmosfer terasa teduh, tapi serasa sendu kental. Nyanyi burung Emprit Granthil bersahutan, bagi sebagian orang malah terdengar mengerikan.

***
Diskusi Mata HijauSeorang bayi laki-laki terlahir di sebuah desa. Semua orang menyambut gembira, segera kesibukan terjadi seperti halnya tradisi Jawa dengan syukuran dan selamatan. Anak itu menjadi pusat perhatian dan curahan kasih sayang keluarga sederhana itu.

Anak itu tumbuh dengan baik. Berkembang sesuai zamannya, berjalan pada alurnya hingga sebuah tragedi mengubah langkah hidupnya. Keluarganya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Hanya ia sendiri yang hidup, sebatang kara. Harta keluarganya diperebutkan saudara-saudara orang tuanya. Mulailah, ia merantau, berkelana dari satu wilayah ke wilayah lain. Ia tumbuh di jalanan. Lupa di mana pernah dibesarkan.

Ia tak lagi percaya siapa saja. Ia hanya melangkah, mengikuti kata hati, mencari diri, sampai akhirnya tak ia temukan apa-apa di sepanjang semesta.

Kabut biru mengitari dua makhluk yang berdiri berhadapan. Di sebuah ketinggian, pada bagian yang tak terjangkau pikiran sebab nun jauh di bawah sana, bumi sedang berputar di rotasinya.

“Sudah tenangkah sekarang?” Sang pemilik mata hijau menakar kesiapannya.

“Ya.”

“Kita berangkat.”

Udara mengantar mereka ke sebuah tempat tak bernama.

***
Calon istrinya bersimbah air mata, pingsan berkali-kali setelah mayatnya dimasukkan keranda. Lantunan ayat suci mengiringi jasadnya disemayamkan. Tangisan tak membuatnya bangun dari tidur panjang. Namanya diukir di papan nisan. Kembar mayang disandingkan sebagai kearifan lokal, lelaki itu meninggal seminggu sebelum hari pernikahan. Kecelakaan tunggal truk yang dikemudikannya menabrak pembatas jalan, ia ditemukan luka parah pada bagian kepala. Malam itu, dedaunan surga yang bertulis nama dan perjalanan atmanya lepas dari tangkai pohon syajarah.

Di warung kopi, namanya diperbincangkan banyak orang. Ada yang menyesal pernah menyakiti perasaannya, ada yang membicarakan kemampuannya melihat masa depan dan membaui aroma kematian, ada yang menyayangkan kepulangannya sebelum ia melangsungkan akad nikah dengan santriwati paling cantik dari pesantren ternama. Ada yang hanya mengelus dada, tulus berduka cita. Sarti membuka lembar-lembar tentangnya tiap kali ada kesempatan, diiringi sengguk tangisan. Entah kenapa, bagi Sarti, pertemuan terakhirnya dengan Ilham malam itu meninggalkan kesan mendalam. Esoknya, ia keluar dari warung kopi dan memilih profesi sebagai juru masak di panti jompo.

Di panti itu, ia melihat siklus paling senja dari batang usia. Ia melihat mata sayu yang memendam rindu, melihat kesepian, kesendirian, terasingkan, dan berbagai cara untuk menemui satu titik, bahagia. Orang-orang yang berpayah mengejar impian terakhir mereka, khusnul khatimah. Menambal segala kekosongan masa muda, mengeja alif baa taa dengan kepandaian yang tersisa.

Panti itu, menjadi tempatnya berpijak untuk berbenah. Menyongsong ujung perjuangan.

Ia merasa ada Ilham di setiap napasnya, ilham tentang ikhtiar dan pengabdian pada Tuhan meniti garis perjalanan hidup sebelum tiba di perbatasan hayyu wa mumit.

22 Mei 2019

Kwai Fong, New Territories, Hong Kong


Wiji Lestari. Penulis adalah pemenang VOI Sastra Award (RRI) 2018 – Republika

The post Diskusi Mata Hijau appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Rabu, 17 Juli 2019

Malaikat dan Sepasang Jenazah di Tepi Danau


Selepas latihan biola, hendak pulang, aku menunggu bus Transjakarta. Bangku termenung di halte dikuasai tukangojek. Melawan nyeri dari lutut yang kaku dan tak sudi ditekuk, aku duduk menyandar di pagar tembok. Aku sadar seorang perempuan berusia sekitar 50-an, mengenakan rok berwarna krem, duduk sekitar tiga meter di sampingku.

Di bawah temaram lampu listrik trotoar, sekilas kulihat kulit wajahnya yang coklat kusam. Kakinya mengapit sandal jepit. Jari dan mata kakinya lebam, seprrti penderita kusta yang sudah lama sembuh. Tidak sebagaimana perempuan biasa, tangannya kosong. Kekayaannya, kalaupun ada, dalam bayanganku, dia sembunyikan di dua saku bajunya.

Dari arah kejauhan terlihat bus mendekat, lampunya terus berkedip. Aku sontak berdiri, mendekap ransel, menyandang biola. Yang berhenti bus berukuran pendek. Sesak di dalam. Kecewa, aku mengingsut mundur. Melangkah hati-hati menghindari undakan trotoar. Aku kembali duduk sambil mengelon ransel. Biola kusandarkan ke tembok.

Tak lama kemudian, aku bangkit lagi dengan beban masa tuaku: ransel dam biola, yang sejak beberapa tahun aku bujuk supaya ramah pada jemari dan otakku yang, lantaran digerogoti usia, tentulah sudah mengecil. Susut membatu, kupikir. Tetapi, si biola begitu sombong. Begitu pelit kuajak untuk merayakan hidup. Aku, jauh dari ambisi menjadi parbiola, seperti kata orang Batak, yang ingin tampil dalam sebuah orkestra. Angan-anganku terdengar ganjil, memang. Namun, itulah kepercayaan yang muncul sebagai keyakinan di pengujung usiaku: selama jari-jari dan otak masih bisa bekerjasama dalam memainkan sebuah melodi, walaupun terdengar sumbang, maka selama itu pula siksa hidup yang bernama stroke takkan menyudahi indahnya hidup. Tak ada bukti. Yang ada hanyalah keyakinan, yang boleh jadi toh akan merebahkan aku di jalan yang sesat.

Aku bangkit lagi. Menyongsong lampu bus yang terus berkelap-kelip dan mendekat Sayang, lagi-lagi yang singgah bus berbadan pendek, dengan bangku-bangkunya yang tidak peduli pada lutut yang tak bisa kutekuk dengan sempurna. Kembali aku menyerahkan diri ke tembok. Melonjorkan kaki. Tiba-tiba perempuan di sebelahku tadi berdiri dekat bahuku.

“Ini, bawalah. Pergilah ke dokter,” ucapnya. Refleks, uluran tangannya tidak serta-merta kusambut. Kuucapkan terima kasih, dan kukatakan bahwa aku punya ongkos pulang yang cukup. Dia sodorkan lagi tangannya dengan uang yang tergulung di dalamnya. Dalam remang cahaya, kulihat dia bolak-balik memperhatikan kaki dan wajahku, seakan-akan dia sedang menebak isi pikiranku.
“Nih, ambillah, pergilah ke dokter,” katanya membujuk.

Tangannya yang tergelung terus menggantung di depanku. Ah. Kupikir, niat baik, dari siapa pun, tak baik ditampik. Genggamannya kusambut. Terasa ada yang tergulung berpindah ke tapak tanganku. Lantas dia mundur, menjauh.

Malaikat dan Sepasang Jenazah di Tepi DanauTak berapa lama, ketika perempuan itu lenyap dengan langkah seperti memanggul beban, hilang di balik warung nasi uduk, muncullah bus berbadan panjang yang kutunggu-tunggu sedari tadi. Aku naik. Manakala bus bergerak maju, mataku terus menengok ke luar. Mencari-cari malaikat perempuan tadi. Namun, tak sekilas pun sosoknya melintas di balik jendela.

Siapakah dia gerangan? Apakah dia menyangka uang kertas pecahan Rp 20.000, itu akan datang bersama malaikat untuk membuat otak dan jemariku yang sudah keriput maju melompat dengan kemampuan menggesek dawai dengan ligat dan fasih komposisi “Minuet” karya Bach, yang sudah bertahun begitu kikir pada kemampuanku. Atau apakah itu perangsang untuk kemahiranku, yang sama sekali belum bisa dengan bangga dipertontonkan sekali pun kepada istriku, bahwa aku sudah bisa menyenandungkan “Ode To Joy” Beethoven, dengan mengalir walau terkadang terdengar kaku.
Siapa dia, dan mengapa dia menggenggamkan uang kertas hijau itu ke tapak tanganku. Padahal dia yang lebih membutuhkannya, kalau ditilik dari caranya berpakaian. Apalagi uang itu hasil dia mengemis seharian, barangkali. Ah, dia lenyap begitu cepat. Tak berbekas di jendela kaca bus yang berkabut karena uap mulut, hidung, dan tubuh penumpang. Membuat kenanganku terbang jauh seketika. Perempuan itu melambungkan pikiranku pada putriku. Aku menitikkan airmata ketika untuk pertama kali Dian mengirimkan uang kepadaku. Lama ayahnya ini tertegun dibuatnya. Tak percaya hidup ini begitu baik. Dan semakin tak percaya hidupku ini jauh lebih baik lagi lantaran dia, melampaui apa yang bisa kupikirkan ketika aku dan istriku membesarkannya, mendewasakannya.
Siapa perempuan di trotoar itu sesungguhnya? Dia pasti sedang sakit. Dia lebih membutuhkan uang yang dia genggamkan setengah memaksa ke tanganku.

Sesampai di rumah, kuceritakan pengalaman pertama dalam usiaku yang sudah melampaui 75. Aku tersentak dibuat jawaban istriku. “Ransel dan biola, dan kakimu yang pincang bikin dia jatuh hati. Dia kira kau pengamen yang kemalaman.”

Perempuan selalu benar. Istri apalagi. Tak terlalu lama kesimpulan yang dia sampaikan setengah bercanda itu menyadarkanku. Ketika itu kami sedang makan malam. Meja makan terasa ikut menertawakanku. Di dalam hati aku tersenyum simpul.

Satu harapanku. Semiskin-miskinnya malaikat trotoar itu tentulah dia punya handphone, perkakas manusia mutakhir, yang tersembunyi di saku bajunya yang lusuh. Semoga dia sempat membaca status Facebook yang kutulis keesokan hari setelah pertemuan yang ganjil dengannya, sebagai ucapan terima kasih yang tulus. “Uang kertas hijau yang kau sedekahkan itu takkan pernah kubelanjakan. Sehat, bahagia selalu. Jumpa lagi, Ibu.” Begitu catatan itu kututup.

***

Pengantin Abadi Menatap Danau

Malaikat dan Sepasang Jenazah di Tepi DanauDia adalah jenazah yang merasa kurang beruntung di kaki bukit, di atas danau itu. Sudah dua tahun dia menunggu. Belum juga terdengar orang menggali. Membawa istrinya. Desir angin yang membuat daun-daun bambu berkusip-kusip, berbisik-bisik, sudah tak pernah membangunkannya lagi. Hanya debur ombak menerpa tebing, jauh di bawah sana yang masih terus membuatnya terjaga. Dia dekatkan kupingnya di dinding liang kubur. Memejamkan mata. Menutup gendang telinganya, kalau-kalau ada kecipak perahu yang datang mengantarkan jenazah ke pemakaman yang sunyi dalam keteduhan di pinggang bukit, di tepi danau itu. Bergetar bibir dan jemarinya dipicu harapan kalau yang datang itu adalah istrinya.

Sesesak-sesaknya penantian, bagaimanapun akan ada akhirnya. Dia tiba-tiba merasa seperti disentakkan ketika mendengar isak-tangis di kejauhan. Juga lenguh dan raung yang tertahan karena siksa kehilangan. Ribuan riak membanting tebing di bawah sana. Derai angin menyapu daratan. Ratusan jejak kaki terdengar mendekat. Berhenti persis di bagian kepalanya. Perlahan tubuh istrinya diturunkan anak-anaknya dan seluruh kerabat ke dalam gua gerbang petala yang sudah disiapkan sejak dia dimakamkan di situ. Tepat di sebelahnya. Dua tahun silam.

Tangisan terakhir sudah tak terdengar, dilarikan angin dan mampir di tebing dan riak air di danau bawah sana. Desah kaki semakin menjauh. Kuburan di tebing itu kembali pada kesunyiannya semula. Angin, juga buai air ikut menjauh.

“Sudah dua tahun aku di sini. Menunggumu. Kau tak datang-datang juga. Ada apa?” katanya menyapa sang istri yang terbujur diam di sebelahnya. Sambungnya lagi, “Kupikir Jawa sudah tenggelam. Makanya kau tak datang-datang.” Dia tidak mengeluh. Hanya menelan liur. “Tak ada kabar. Apa pun tak ada.” Dia bangkit, direngkuhnya tangan istrinya. Tetapi, tetap saja perempuan yang pernah bekerja berpuluh tahun sebagai guru di daratan yang jauh itu tak bersuara.

Dua tahun memang lama. Teramat lama. Apalagi untuk orang yang menunggu sendirian di liang yang gelap. Siang, apalagi malam. Ingin rasanya dia keluar dari rumah abadinya itu. Menuruni punggung bukit dan berselancar di permukaan danau di bawah sana untuk membunuh waktu yang bergerak begitu lambat.

Dia menjemput akhir hidupnya dengan tenang. Seperti tak hendak menyusahkan siapa pun. Juga tidak istrinya. Dulu, sepulang dari gereja, juga saat di meja makan, mereka berdua acapkali seperti terlibat dalam pertaruhan. Siapa yang lebih dulu menghadap Tuhan. Namun, perdebatan tentang siapa yang lebih dulu menjemput ajal itu sudah tak bisa dilanjutkan lagi ketika sang istri terserang dimensia. Mantan guru itu sering berdiri di tepi meja makan, di seberang suaminya, dan layaknya sedang menghadapi murid di depan kelas, dia berbicara dalam bahasa Belanda, Inggris, Jepang, bercampur bahasa Batak. “Aku yang akan lebih dulu pulang menemui Dewata,” begitulah dia selalu menutup ocehannya.

“Ai sudah jadi patungku itu dibuat Si Raisa? Kapan mau dia tegakkan di makamku ini? Sudah dua tahun aku menunggu,” tanyanya seraya mengusap bahu istrinya.

“Tak pemah kutanya. Untuk apa?” jawab sang istri. “Seniman jangan didesak-desak, bisa mati daya khayalnya.” Tak terduga, tiba-tiba sang istri menjawab. Dan itulah kata-kata yang diucapkannva kepada suaminya begitu untuk pertama kali mereka bertemu di rumah penghabisan mereka itu, di kaki bukit, di tepi danau itu.

“Ah …”

Mengiang dalam ingatan sang istri bagaimana putri satu-satunya dari semua anaknya, hanya dialah yang bisa bertahan, paling menjulang, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Yang lain sempoyongan ingin menegakkan kembali perusahaan yang dibangun oleh sang ayah. Sia-sia. Mereka sangat tergantung pada sang ayah, seakan-akan tak mau lepas dari pangkuannya. Ketika pemerintah membukakan pasar kepada multinasional untuk beroperasi sampai ke desa-desa, perusahaan itu pun tumbang. Tinggal si Raisa satu-satunya yang bisa tegak sebagaimana patung yang selalu dia pahatkan, tatahkan sendirian.

“Apakah ada dikatakannya kepada kau, apa yang menjadi masalah sehingga patungku itu belum juga rampung? Padahal sudah dua tahun aku mati,” desak sang suami lagi.

“Bali …” sang istri nyaris kehilangan kesabaran. Untunglah dia sadar, dia baru saja terbaring satu liang dengan suaminya itu. “Janganlah dia didesak terus. Kasi dia kebebasan, sebagaimana orang-orang kaya yang memesan patung kepadanya. Ingat kau bagaimana dia menolak pembuatan sejumlah patung yang dipesan orang kaya dari Jalan Sudirman itu? Katanya, ruangannya tidak layak untuk disesaki patung sebanyak yang dipesan orang kaya itu. Keinginannya yang harus diikuti. Nilainya yang wajib dihormati. Seniman. Tak jadi pun tak masalah. Karena menumt dia, kalau jumlah patung yang dipesan diletakkan akan bertentangan dengan kesadaran akan ruang.

“Biarkan dia memperturutkan seruan jiwanya, supaya hasilnya abadi untuk kita berdua. Sebab kudengar, sebelum nyawaku diambil, diam-diam dia sedang mempersiapkan patung kita berdua.”
“Ha …? Ha … kapan jadinya?” sang suami tak kuasa melawan desakan keingintahuan dari dalam hatinya, seperti dia dulu tak kuasa manakala maut menghampirinya sebelum berangkat ke gereja, di pagi hari, dua tahun yang lalu. Dia memasang kuping baik-baik.

“Kan sudah kubilang. Kasi dia kebebasan. Memang, akan lama baru selesai, karena ada yang bilang, dia punya rencana pula untuk membuat patung yang menunjukkan deretan manusia yang berdiri di tepi jurang dengan mata tertutup, tangan terikat ke belakang. Kupikir pastilah itu patung yang mewakili ribuan korban pembinasaan manusia pada 1965-1966. Sejarah kelam yang begitu menyita pikirannya, padahal tak ada di antara keluarga kita yang jadi “kiri”, jadi korban. Memang, akan lama kita harus menunggu. Karena patung para korban itu akan dia buat dari tanah yang akan dia kumpulkan sendiri sekepal demi sekepal dari kuburan massal para korban, mulai dari daerah Sungai Ular dekat Medan, Bengawan Solo, Bali, Flores. Juga Pulau Buru. Tanah itu akan dia jemur, dia jadikan tepung, dan disatukan dalam satu adukan. Dijadikan patung.”

“Apakah dia akan ke Aek Raisan juga?” potong sang suami. Itu adalah nama daerah di Tapanuli Utara, di mana orang-orang yang dituduh tanpa bukti terlibat G30S, dibawa tentara di dalam truk dari wilayah lain. Mereka ditembak dan tubuh mereka digulingkan layaknya batang pisang dari atas jembatan.

“Kudengar begitu, sekalipun tak ada kuburan massal di sana. Tapi, dia akan turun ke sungai itu dan dari tebingnya akan dia kumpulkan juga segenggam tanah.”

Sang istri memegangi lengan suaminya seperti ketakutan akan terbang. “Sabarlah, Sayang,” bujuknya. Seumur hidup tak pernah dia mengucapkan “sayang” kepada suaminya itu. Itu dia ucapkan karena dia sudah lupa akan nama pasangan seumur hidupnya itu. “Sabarlah, akan datang waktunya dia mempersatukan kita kembali. Ada yang bilang, dia sudah melukis skets patung kita berdua…”
“Kapan jadinya?”

“Sabarlah kau. Berdasarkan skets itu, akan dia bangun patungmu. Patungku. Kita duduk sebelah-menyebelah, berduaan di bangku. Mata kita saling beradu sebagaimana kita dulu dipersatukan sampai pun mati, di gereja. Patung itu akan dia letakkan di atas kuburan kita ini. Dan dari situ, dari atas tebing, kita yang sudah abadi menatap, menikmati, danau yang menghampar di bawah. Setiap hari. Setiap saat.”


Martin Aleida, merayakan ulang tahun ke-75 akhir tahun lalu, berbarengan dengan peluncuran kumpulan cerita pendeknya. “Kata-Kata Membasuh Luka” (Penerbit Buku Kompas). Lahir di Tanjung Balai, Sumatera Utara, bermukim sejak lebih dari 50 tahun lalu di Jakarta. Penerima penghargaan kesetiaan berkarya Kompas (2013) dan anugerah seni Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2014).

Aurora Arazzi. Lahir di Padang, 26 April 1997, tinggal dan bekerja di Bandung. Menempuh pendidikan di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, bidang printmaking, serta Department of Painting, Musashino Art University, Tokyo, Japan. Berpartisipasi dalam sejumlah pameran di dalam dan luar negeri – Kompas

The post Malaikat dan Sepasang Jenazah di Tepi Danau appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Janji Kelud untuk Bapak


FEBRUARI 1990. Malam menjelang. Hawa panas menyeruak. Kentong langgar bertalu-talu.

Di mbale* rumah, puluhan warga telah berkumpul. Duduk berjejal-jejal, beralas daun kelapa. Mereka percaya rumah pertama di pedukuhan ini laksana benteng kukuh karena tak roboh digempur abu gunung bertahun-tahun. Di langit-langit rumah, empat lonjor besi dari rel kereta pengangkut tebu mempertebal keyakinan mereka. Begitu juga empat pilar kayu jati yang mengikis ketakutan mereka.
Suasana masih sepi dan hening. Sesekali, garis merah mengiris langit di ufuk timur. Belum ada degup dentum ledakan, kecuali degup-detak resah yang meledak di balik dada setiap orang.

Listrik padam. Pijar lilin di setiap penjuru lebih mencekam dari gelap gulita. Sebab, ia mengiris raut wajah dalam gurat kekhawatiran. Semakin ditatap, takut semakin semerbak. Bapak, dengan sebulir tetes mengalir di pelipis, bersuara lirih agar handai taulan tak henti-henti membaca salawat dan meminta ampunan kepada Tuhan.

’’Aaaaaargh!”

Tiba-tiba Anam, adik sepupuku, berteriak. Mata-mata terbelalak kaget. Jantung-jantung tertikam. Gemerisik celoteh berhamburan, tanya ada apa dan mengapa.

’’Pipis,” ujarnya dengan tangis tertahan.

Terbit tawa dan cekikik kecil dari sekitar. Cubit kecil emaknya mendarat di pahanya. Sebongkah es khawatir meleleh perlahan di lubuk mereka, lalu tercekat di tenggorokan. Karena…

Braaaakk!!!

Sebongkah batu sebesar kepala menerjang genting dan terbentur tembok di pojok ruangan. Tubuh-tubuh kembali beringsut. Langit bergemuruh. Gelegar meletup-letup. Disusul kerikil-kerikil yang menghunjam bumi. Gaduh. Pecahan genting dan bebatuan sekepal tangan meluncur laksana perang tombak dan anak panah. Hujan pasir tak terhindarkan. Butir-butir debu merayap di atas atap, menerobos apa pun yang terlintas meski sekecil lubang semut, lalu bergemelitik di ujung telapak kaki. Terasa kasar, saat kuinjak.

Sejumput keberanian dibentangkan. Juga payung-payung, untuk menepis kepul debu yang terus bergemuruh. Kalut terus menyelimut. Resah berdesak-desak dengan aroma keringat. Takut berdesah-desah bersama bau pesing dan sengat balsam. Bibir-bibir merapal doa, ayat kursi atau apa pun yang bisa terucap. Dengan lembut, Bapak menatapku di pangkuannya. Ia memelukku lekat-lekat. Debu memaluri seluruh wajahnya. Juga darah yang menetes dari ujung ubannya. Segores cahaya harap terbit di ujung tatap matanya yang meredup.

’’Bapak, Lembu Suro keluar?”

’’Ingat! Jangan takut. Ini tidak akan lama. Bapak telah mengalaminya beberapa kali. Letus Kelud adalah siklus. Zaman yang cerah akan menjelang. Percayalah!”

Aku hanya membisu. Seorang raja raksasa berkepala sapi terkunci rapat di ingatanku. Teriakannya yang beringas menjulurkan lidah api yang membakar langit. Penthung di tangannya merobohkan gunung batu, lalu melemparkannya ke udara. Kakinya mengentak-entak kawah hingga terbit banjir lahar. Sosok itu lahir dari rahim cerita Bapak.

***
Semburat senja masih terlukis di ufuk barat saat Bapak menggandeng tanganku menuju masjid. Ia bilang, fajar besok, ia akan mengajakku menaiki gunung dengan sepeda kumbangnya. Hanya lima kilometer, katanya. Lonjak kegirangan adalah jawabku. Mungkin, di atas gunung, ada mainan yang bisa dibawa ke rumah.

Pagi masih buta saat Bapak memboncengku menaiki jalan setapak. Kaki kecilku terikat manis di rangka sepeda. Agar tidak terjerat jeruji, kata Bapak. Kedua tangan mungilku bergayut erat di punggungnya yang gagah. Kakinya mengayuh pedal dengan lincah. Selincah dongeng yang meluncur deras dari ingatannya.

’’Di puncak gunung ini, seorang raksasa bersemayam. Ia berkepala sapi. Berbadan manusia,” aku mengeratkan pelukan, bergidik membayangkan. ’’Tak perlu takut. Bapak di sini. Dia hanya keluar pada saat-saat tertentu. Sebagai isyarat perubahan di negeri ini.”

Janji Kelud untuk Bapak’’Kau pasti bertanya mengapa ada raksasa di atas gunung? Dulu, ia adalah seorang pangeran yang bernama Lembu Suro. Pangeran yang mencintai seorang putri kerajaan. Putri bak bidadari turun dari surga. Ia tinggal di istana pinggir Sungai Brantas sana. Setiap jejaka di negeri ini hendak meminangnya. Perempuan itu tahu bahwa ia sedang diburu dan digandrungi. Dia pun mengajukan syarat bagi siapa pun yang hendak menjadi suaminya harus mampu membuat sumur sehari semalam di puncak Gunung Kelud ini. Hanya Lembu Suro yang menyanggupi.”

’’Dia seperti sapi ya, Pak?” tanyaku.

’’Iya. Kepalanya saja yang seperti sapi. Badannya, tangannya, kakinya ya seperti punya kamu. Sama kayak punya Bapak juga. Nanti di ujung jalan ini, ada patungnya.”

’’Jangan, Pak. Takut.”

’’Tidak apa-apa. Itu hanya patung, Nak.”

Bapak terus mengayuh. Kelok-kelok dilintasinya dengan sigap. Petak-petak sawah menghampar tak berujung. Kata Bapak, deret-deret tumbuhan itu bernama nanas. Rasanya masam dengan manis sedikit. Tapi, aku belum pernah memakannya. Sesekali, dua tiga pesepeda melewati kami.
’’Mereka ke mana, Pak?”

’’Oh orang-orang itu? Mencari kayu di hutan.”

’’Mereka tidak takut Lembu Suro?”

’’Tidak. Sekarang, dia masih sembunyi di balik kawah.”

’’Kapan dia keluar? Haris takut, Pak.”

’’Menunggu waktu yang tepat. Saat gunung meletus. Yaitu saat langit bergemuruh. Gelegar meletup-letup. Disusul kerikil-kerikil yang menghunjam bumi.”

’’Seperti balon dong? Meletus?”

’’Iya, gunung yang meletus. Kalau Lembu Suro keluar, kamu harus bersembunyi di mbale rumah kita. Akan aman. Rumah itu disusun mbahmu sebagai tempat perlindungan untuk keluarga dan warga.”
Aku mengangguk mengiyakan. Pedal terus berputar. Gir sepeda berderit-derit ketika menanjaki gundukan. Napas Bapak terengah-engah, disertai sengal batuk yang begitu berat. Kutatap punggungnya yang telah basah oleh keringat. Terkadang, kring-kring bel sepeda berbunyi. Bapak menoleh ke belakang, menatap wajahku dengan senyum paripurna. Senyum yang terus terpahat di sanubariku kelak.

’’Jadi, Lembu Suro menggali sumur di kawah itu. Sesuai permintaan sang putri. Tapi, sang putri tak sudi diperistri raksasa. Seluruh pengawal dan prajuritnya diperintah untuk menguburnya di dalam sumur. Lalu, sang putri lari. Kamu tahu? Lembu Suro sudah terpendam di dasar Kelud. Tidak bisa keluar. Raksasa itu marah luar biasa. Ia berteriak dan bersumpah serapah bahwa kelak gunung ini akan menjadi sumber petaka. Kediri mbesuk bakal dadi pethuk piwalesku sing makaping yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi kedung.”**

’’Daerah ini, Nak, dan sekitarnya tidak akan bisa lepas dari geliat Kelud ini. Balas dendam Lembu Suro adalah sumber penghidupan warga Mataraman,” ujarnya sambil melempar kerikil ke tengah kawah. Ia memintaku meniru gerakannya. Seonggok kerikil menerabas kekang udara, lalu tercebur di atas kawah yang mendidih. Lembu Suro mungkin akan menangkapnya di dasar genang air ini.
Dalam runcing cerita Bapak, Kelud adalah pijar anugerah bagi penduduk sekitarnya. Kata Bapak, Kelud hanya meletus beberapa kali dalam puluhan tahun, tapi dampaknya abadi dalam ratusan tahun. Sawah-sawah subur dan menghijau membentang. Setiap debu yang membubung setelah ledakan adalah ritus penyuburan tanah. Sumber-sumber air juga mengucur deras dari kuku-kuku kaki Kelud. Membasahi ladang dan bermuara di pucuk Sungai Brantas. Pasir, kerikil, dan bebatuan tak habis dikeruk demi gedung dan bangunan di sepanjang penjuru negeri. Hela ledak Kelud adalah entak hidup penduduk Mataraman.

***
Desember 2007. Fajar masih basah. Kukayuh sepedaku kuat-kuat. Memecah kabut. Menyisir wajah cerita Bapak di sepanjang setapak menuju puncak gunung.
Jurang curam membentang. Selarik aliran air tertangkap ujung mataku. Jurang ini tempat luberan kawah panas bermigrasi. Sekali terjatuh, tulang belulang akan menguap. Terowongan gelap menghadang. Di ujung gulita, kan kau temukan panas kawah. Lubang ini juga jalan lahar. Begitu ucap Bapak.

Dulu, di antara padang bunga senduro***, Bapak berbicara kepadaku dengan mimik yang menegang. Bahwa setelah letusan gunung Kelud, akan ada peristiwa besar di negeri ini. Ia mencontohkan letusan tahun 1811 terjadi sebulan sebelum Inggris datang menyerbu, ledakan tahun 1901 adalah ledakan gerakan politik pemuda, erupsi 1919 adalah tanda gerakan kebangsaan Indonesia, dan 1966 adalah masa pergantian Orde Lama jadi Orde Baru. Aku merekam ujung kalimat Bapak; setiap Kelud meledak, perubahan sosial politik akan terjadi.

***
Februari 2014. Senja berlabuh lebih dini. Angin hangat menyengat hingga tulang belulang. Beduk masjid berdentum-dentum.

Ratusan kali, Lembu Suro memekik dan menggoyang bumi. Penduduk berduyun-duyun datang ke mbale rumah ini. Kalut menyelimut. Langit bergemuruh. Gelegar meletup-letup. Disusul kerikil-kerikil yang menghunjam bumi. Gaduh. Pecahan genting dan bebatuan sekepal tangan meluncur laksana perang tombak dan anak panah. Hujan pasir tak terhindarkan. Butir-butir debu merayap di atas atap. Resah berdesak-desak. Takut berdesah-desah.

Dengan lembut, kutatap anakku di pangkuan. Aku memeluknya lekat-lekat. Bayangan Bapak berkelebat. Sosoknya membentuk lapisan cahaya di bawah empat lonjor rel. Seberkas cahaya yang menangkis pasir, kerikil, batu, dan keresahan. Ingatanku terpatri saat dulu ia tergeletak karena batu seruncing tombak jatuh menggores kepalanya. Darah menderas di ujung ubannya. Bapak terjerembap mendekapku. Persis saat ia memangku tubuhku. Kegagahan Kelud abadi dalam cerita-cerita Bapak. Juga kematiannya. Ah, Bapak. (*)

Catatan:
*mbale:
Ruang tamu
**Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi kedung
artinya: Kediri suatu saat akan mendapatkan balasanku yang berlipat-lipat. Kediri akan jadi sungai, Blitar jadi daratan, Tulungagung jadi perairan.
***senduro: Bunga edelweiss Jawa. Banyak ditemukan sebelum puncak Kelud.


M. Rosyid H.W. Menulis cerita pendek, esai sastra, dan resensi buku. Kumpulan cerpennya ’’Rembulan di Bibir Teluk dan Cerita Lainnya” akan terbit tahun ini. Saat ini penulis tinggal di Kota Malang –Jawa Pos
The post Janji Kelud untuk Bapak appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Pekerjaan Terakhir Bapak


SETELAH kepergian Ibu, Bapak bersumpah untuk tidak menikah lagi. Ia berjanji bahwa hidupnya akan dihabiskan bersamaku, ingin melihatku tumbuh sampai aku berkeluarga dan memberinya cucu. Aku percaya dengan semua ucapannya. Bagiku Bapak adalah tipe suami yang sangat setia.

Bapak berhasil membuktikan bahwa cintanya memang hanya untuk mendiang ibu, meskipun dulu banyak sekali gosip yang menyebut Bapak main mata dengan teman sekerjanya. Mungkin itulah alasan Bapak mengajak Ibu untuk ikut bekerja bersamanya. Barangkali Bapak ingin membuktikan sendiri kepada Ibu bahwa gosip itu sama sekali tidak benar.

Aku senang dulu Bapak dan Ibu bekerja bersama sampai kemudian Ibu meninggal. Setidaknya tuduhan kalau Bapak main serong itu tetap tidak terbukti. Dua minggu yang lalu, Bapak keluar dari pekerjaannya sebagai kasir toko pakaian. Ia kemudian mendaftar jadi sopir travel justru pada saat toko pakaian tempat ia bekerja sedang maju-majunya.

“Akan sangat sulit menemukan pegawai jujur dan ulet yang dapat menggantikan Bapakmu ini,” begitulah nada keberatan yang disampaikan Pak Ijon, pemilik toko itu kepadaku saat aku dan Bapak menghadap beliau untuk pamit.

Aku sendiri tidak paham alasan Bapak keluar dari pekerjaan yang digelutinya selama berpuluh-puluh tahun itu. Setiapkali aku bertanya, jawaban Bapak selalu sama; ingin mencari pengalaman baru.
“Lastri, kalau kamu bekerja hanya itu-itu saja, kamu memang dapat uang tapi tidak dapat pengalaman. Tuhan sudah katakan, setelah kita ibadah, kita diminta bertebaran di muka bumi agar manusia bekerja sekaligus mencari pengalaman,” kata Bapak suatu malam.

“Tapi Bapak akan kerja apa untuk dapat keduanya?” tanyaku.

“Bapak sudah daftar jadi sopir travel. Besok Bapak sudah mulai masuk kerja dan diminta mengantar penumpang ke Lampung. Bapak tidak hanya dapat uang dengan pekerjaan baru ini, tapi juga pengalaman. Ini pengalaman pertama Bapak ke luar Jawa.”

Aku terkejut dengan jawaban Bapak. Melihat kondisinya yang sudah tidak segagah dulu lagi, aku meragukan kemampuannya. Tetapi aku juga paham watak Bapak. Ketika sudah memutuskan sesuatu, tidak mudah mengubah pendiriannya.

Malam itu, seperti biasa, aku melihat Bapak tenggelam dalam zikir panjangnya, mendengar suara isak tangis dalam doa-doanya. Dan biasanya setelah itu, Bapak akan membuat kopi sambil duduk-duduk di teras rumah. Menikmati sunyi malam sambil memandang ke arah kuburan di seberang jalan, tempat jasad ibu dikubur satu tahun yang lalu.

Pekerjaan Terakhir Bapak
Apakah Bapak ingin mengubur kenangan tentang Ibu dengan cara keluar dari pekerjaan yang dulu sama-sama dijalaninya? Didorong oleh rasa penasaran dan juga iba, aku bangkit dari tempat tidur, mendekati Bapak dan duduk di kursi sebelahnya. Di teras rumah dini hari itu, kami membicarakan banyak hal. Aku membicarakan pekerjaanku dan Bapak membayangkan pengalaman dari pekerjaan barunya. Kami bercengkerama sampai subuh tiba.

Keesokan harinya, aku mengantar Bapak ke tempat kerjanya yang baru, menunggunya sampai ia berangkat ke Lampung. Tapi, hari itu juga adalah akhir dari segalanya. Menjelang siang, aku mendapatkan kabar bahwa mobil yang dikendarai Bapak mengalami kecelakaan. Sopir diduga mengantuk, demikian kata berita.

Ada nyeri dan rasa bersalah yang begitu menyayat dalam dadaku sepanjang perjalanan kami bersama Pak Ijon menjemput Bapak. Sesampainya di tempat, Bapak tersenyum melihat kedatanganku dan memintaku mendekat lewat isyarat tangannya yang semakin lemah.

“Lastri, tidak ada yang lebih setia menunggu kedatangan kita, selain tujuan dari setiap perjalanan yang kita tempuh. Bersama ibumu adalah tujuan dari seluruh hidupku. Ibumu pasti menantiku dan aku akan segera mengakhiri penantiannya.” Itulah bisik sekaligus pesan Bapak sebelum menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit itu. ❑ – g

Kebumen, Juli 2019




The post Pekerjaan Terakhir Bapak appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Namaku (Bukan) Tamae


Sebelum aku memutuskan pergi dan menghuni kamar petak yang suram itu, seminggu sebelumnya secara diam-diam Den Mas Bayu mengajakku membaca majalah Djawa Baroe. Majalah yang dikontrol langsung oleh Keimin Bunka Shidosho[1]. Di sana tertulis betapa Jepun, yang menyebut dirinya sebagai “saudara tua” itu, adalah harapan baru bagi pribumi. Lewat cerita pendek, cerita bersambung, esai, serta drama di dalamnya, Jepun memberikan gambaran-gambaran betapa Londho itu tak ubahnya penyakit yang pantas ditumpas. Barat adalah petaka. Nippon adalah harapan.

Di bawah pohon nangka di belakang rumah Ndoro Siten, aku dan Den Mas Bayu menikmati halaman demi halaman Majalah Djawa Baroe. Sampai akhirnya, bukan hanya suara Den Mas Bayu yang bekerja membacakan apa saja yang tertulis di sana, tangannya perlahan tapi pasti ikut bekerja. Meraba, membelai. Matanya yang bertahun aku kenal bersorot lain. Penuh rindu, kemesraan, dan keinginan yang entah, aku sendiri sulit menerkanya.

***
Kamar nomor lima dengan tulisan Tamae di pintu. Sejak memasuki kamar itu, namaku menjadi Tamae. Orang-orang di seputaran rumah besar dengan deretan kamar-kamar itu memanggilku Tamae. Awalnya aku tak bisa menerimanya begitu saja, namaku Sudjiati, bukan Tamae. Namun percuma saja, semua orang di sana jauh lebih senang memanggilku dengan sebutan Tamae. Bagi mereka, nama Sudjiati bukanlah nama yang cocok untuk lidah mereka. Serdadu-serdadu Jepun itu lebih senang memanggilku begitu. Seperti halnya diriku, temanku Sumiati juga dipanggil dengan nama lain, berbau nama Jepun juga. Sumiati dipanggil Hana, sesuai nama yang tertera di pintu kamar nomor empat. Mau tak mau, kami harus menerima nama baru yang disematkan para serdadu Jepun itu. Tamae, Hana, dan nama-nama khas perempuan Jepun lainnya menjadi sangat akrab di telinga kami.
Semuanya berawal saat aku bertemu dengan Zus Nancy, kenalan lama keluarga Ndoro Siten. Pertemuan yang berbuntut panjang. Pertemuan yang menjungkirbalikkan nasib yang tertulis di kening kehidupanku. Andai saja Den Mas Bayu, putra bungsu Ndoro Siten itu, tak mencintaiku dan menganggapku sebagai kekasih, mungkin aku tak perlu lari dari rumah Ndoro Siten dan tergiur ajakan Zus Nancy. Menjadi pemain sandiwara serta disekolahkan gratis, begitu menarik perhatianku. Menurut Zus Nancy, semua itu peluang bagus untukku ketimbang hanya menjadi jongos di rumah Ndoro Siten dengan gaji kecil. Kata Zus Nancy, aku masih muda dan peluangku masih besar untuk masa depan yang lebih baik. Aku sendiri tak pernah memusingkan tentang gaji, hanya saja ketika menyadari cinta terlarang Den Mas Bayu denganku yang tak sepadan, saat itu juga aku berpikir bahwa seharusnya aku pergi saja dari sana. Di saat seperti itulah Zus Nancy datang menawarkan bantuan.

Menjadi pemain sandiwara dan sekolah adalah mimpiku yang lama terpendam. Sejak kedua orang tuaku meninggal, kesempatan untuk mengenyam pendidikan hanyalah sebuah mimpi yang entah kapan bisa terwujud. Menjadi pemain sandiwara dan mengenyam pendidikan adalah sebuah keajaiban bagi gadis miskin sepertiku.

“Masa depanmu akan lebih baik, Ti. Kamu akan menjadi pemain sandiwara terkenal, dan sekolah lagi.” Dengan penuh kelembutan Zus Nancy mengucapkan itu.

“Zus, apa nantinya saya bisa terkenal?” saat itu juga, segera aku membayangkan senangnya menjadi pemain sandiwara yang dikenal banyak orang.

“Tentu saja, tentu! Nantinya akan banyak orang yang mengenalmu.”

Mendengar semuanya, aku setuju saja dengan ajakan Zus Nancy untuk dibawa ke tempat penampungan sementara. Katanya di depan Ndoro Siten sama seperti apa yang dia ucapkan kepadaku. Menjadi pemain sandiwara, sekolah gratis, dan kehidupan yang terjamin. Tak ada yang melarangku ikut Zus Nancy, semuanya terlihat rela ketika aku pergi. Hanya Den Mas Bayu saja yang terlihat murung dan sendu saat melihatku meninggalkan rumah Ndoro Siten.

***
Namaku (Bukan) TamaeAkhir tahun 1943 aku meninggalkan kampung halaman, menuju tempat baru untuk masa depan yang baru. Di perjalanan yang cukup lama dan melelahkan itu aku mengenal Sumiati. Usianya sedikit lebih muda dibandingkan denganku. Sumiati baru berusia tiga belas tahun. Rambutnya yang hitam ikal dikepang dua. Sama sepertiku, Zus Nancy juga menjanjikannya menjadi pemain sandiwara dan akan disekolahkan gratis. Selain aku dan Sumiati, masih ada beberapa gadis yang dibawa Zus Nancy ke tempat penampungan. Kami dijanjikan hal yang serupa. Masa depan yang jauh lebih baik ketimbang sebelumnya.

Penampungan itu terlihat biasa saja, tak ada beda dengan bangunan lainnya. Hanya saja banyak serdadu Jepun yang berjaga di sana. Sumiati diminta Zus Nancy untuk masuk ke kamar nomor empat.
“Hana. Namamu Hana, kamarmu nomor empat.” Zus Nancy menunjuk nomor dan tulisan yang ditempel di pintu.

“Tapi saya kan Sumiati, Zus.” Sumiati terlihat bingung. Memang, namanya Sumiati bukan Hana seperti yang dibaca Zus Nancy.

“Sekarang namamu Hana. Sudah jangan ribut. Jadi anak yang baik, masuk ke dalam kamarmu.” Zus Nancy mendorong Sumiati ke dalam kamar.

Aku sendiri dipilihkan kamar nomor lima oleh Zus Nancy. Letak kamarku seberang kamar Sumiati. Seperti kamar yang lain, pintu kamarku juga ditempel nomor dan nama ala Jepun seperti yang lain. Zus Nancy menyebutkan nama Tamae.

“Apa tidak boleh kalau memakai nama saya sendiri, Zus? Sudjiati, itu nama yang diberikan simbok saya,” aku merasa kurang senang dengan nama yang ditempel di pintu kamar. Terdengar asing dan aneh. Tidak cocok dengan diriku yang Jawa totok ini.

“Tidak bisa. Sudah, pakai nama Tamae saja. Cantik kok namanya, seperti gadis-gadis manis dari Jepun,” Zus Nancy mengantarku masuk ke dalam. Membantu menaruh tas, dan mengeluarkan beberapa alat untuk berdandan. “Nah, berdandan yang cantik ya. Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana. Sebentar lagi ada tamu yang mau melihatmu. Kamu masih mau bermain sandiwara kan?”

Aku mengangguk. Dengan senang aku mengikuti perintah Zus Nancy. Berdandan, memakai bedak, dan sedikit memakai gincu. Tapi baru saja selesai berdandan, dari kamar lain aku mendengar teriakan. Bentakan kasar dengan bahasa Jepun. Dengan cepat aku bangkit hendak mencari Zus Nancy. Namun sebelum sempat keluar kamar, seseorang menerobos masuk. Seorang serdadu Jepun masuk ke dalam kamar. Wajahnya yang garang terlihat menakutkan. Dengan kasar dia menutup pintu kamar, lalu menerjang membawaku ke atas ranjang. Aku mencoba memberontak, tapi tubuhnya yang besar menindihi badanku sedemikian rupa. Sakit, dan merasa terhina, aku menggigit lengan tangan kanannya. Tapi dengan cepat dia menarik bayonet yang terselip di pinggangnya setelah menamparku beberapa kali.

“Diam saja atau aku bunuh!” dia melekatkan bayonet itu ke leherku. Aroma napasnya berbau busuk, semacam aroma asam dari tuak atau sebangsanya.

Aku menyerah. Tubuhku terasa sakit, hatiku nyeri karena barang berharga yang selalu aku jaga dengan baik direnggut oleh seorang serdadu Jepun yang tak pernah kukenal sebelumnya. Tapi, nyatanya nasib buruk tak juga selesai. Lepas serdadu pertama, muncul serdadu selanjutnya. Sama seperti yang sebelumnya, dia begitu kasar dalam memperlakukan seorang wanita.

Ketika aku mencoba memberontak, maka dengan kasar dia tak segan menampar atau melakukan tindakan yang menyakitkan lainnya. Dalam sehari itu, aku dipaksa membuat “senang” beberapa serdadu sekaligus. Aku dipaksa meladeni nafsu mereka. Menjadi barang yang tak berguna. Saat itu pula aku tahu, Zus Nancy telah berdusta. Tak ada yang namanya menjadi pemain sandiwara atau sekolah gratis. Semua itu rekaan Zus Nancy untuk menjadikanku dan beberapa kawan lainnya sebagai tumbal kesenangan para serdadu Jepun yang “kelaparan”. Apa yang digambarkan majalah Djawa Baroe, nyaris semuanya tak ada kebenarannya.

***
Sejak hari itu, aku dipanggil dengan nama Tamae, penghuni kamar nomor lima. Aku kira setelah meladeni beberapa serdadu, aku akan dilepaskan. Bebas untuk kembali ke dunia luar. Tapi nyatanya harapanku sia-sia, mereka menghendaki diriku di sana lebih lama. Saat itu, terkadang aku menyesali memiliki wajah yang mampu mengundang perhatian lawan jenis. Andai aku dilahirkan jelek, tak menarik, mungkin nasibku akan lebih baik. Beberapa gadis yang berwajah kurang menarik, tak lama berada di penampungan. Hanya waktu singkat mereka diizinkan pulang. Konon, para serdadu-serdadu itu kurang suka dengan gadis yang wajahnya kurang menarik.

Berminggu-minggu, berbulan-bulan, aku harus menanggung siksa fisik dan mental selama di penampungan. Para serdadu dengan bekal kupon menggilirku secara bergantian setiap hari. Zus Nancy tak pernah muncul lagi untuk menemuiku, entah, mungkin dia sedang mencari mangsa baru. Mangsa gadis belia yang akan dia jual kepada para serdadu untuk dijadikan seorang ianfu.

Pada kenyataannya memang tak semua serdadu selalu kasar dan temperamental seperti orang hilang ingatan. Ada beberapa di antaranya yang baik. Bahkan yang penuh perhatian pun juga ada. Seperti seorang serdadu yang kutemui di satu malam setelah beberapa hari aku meringkuk di penampungan. Memang, malam hari waktunya serdadu berpangkat tinggi. Tuan Takajima, dia salah satu serdadu yang penuh perhatian kepadaku. Dia tidak menerjang, tidak menampar, bahkan tidak repot menyiapkan bayonet di sisi ranjang. Dengan halus dan rasa sopan yang bisa kurasakan, dia mencoba mendekatiku.

“Maafkan saya, Tamae. Seharusnya ini tak perlu terjadi kepada gadis remaja sepertimu,” Tuan Takajima duduk di pinggir ranjang.

Mendengar yang dia ucapkan, aku menangis. Percuma saja dia memberi penghiburan. Semuanya telah hilang, dirusak para serdadu kroco bawahannya yang biadab.

“Di Jepun, saya juga memiliki anak gadis sepertimu. Sungguh kasian melihatmu. Tapi maafkan saya, ini semua karena terpaksa.”

Apa yang diucapkan Tuan Takajima mungkin benar adanya. Dia tak berbohong. Mungkin benar semua terjadi karena keadaan. Seperti yang dia katakan setelah aku membuatnya senang, bahwa yang aku lakukan adalah aib tanpa dosa. Aku tak mudah percaya dengan semua ucapannya. Bahkan ketika dia menyebutkan arti nama Tamae yang berarti bola. Bagaimanapun aku menyukai namaku sendiri. Tapi tak bisa kuelakkan, bahwa aku memiliki nama kedua. Nama yang selalu melekat dalam diriku, penghuni kamar nomor lima, Tamae.

Catatan:[1] Keimin Bunka Shidosho: Pusat Kebudayaan

Artie Ahmad, lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 21 November 1994. Ia menulis cerita pendek dan novel. Beberapa cerita pendeknya dimuat di media massa. Buku terbarunya, novel Sunyi di Dada Sumirah (Penerbit Buku Mojok, 2018) dan kumpulan cerita pendek Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri (Penerbit Buku Mojok, 2019) –Koran Tempo
The post Namaku (Bukan) Tamae appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Minggu, 14 Juli 2019

Gadis Pemimpi


Sore yang senyap. Tidak ada siapa-siapa di rumah kecuali orang-orang belakang dan Pak Tua yang terkantuk-kantuk di gardunya. Dea berjalan dari ruang tamu ke ruang utama, tembus ke paviliun, lalu berbalik ke ruang baca, memasuki setiap kamar dan terakhir dia membuka pintu ke teras samping. Terasa lengang. Hampir-hampir tak ada suara terkecuali musik lamat-lamat yang berasal dari kamarnya.

Tiba-tiba saja Dea tergugu, merasa sedih. Ternyata kepergian si kembar juga membawa semua keceriaan di rumah ini, batinnya. Tak akan lagi mendengar canda mereka, celoteh mereka, dan gelak mereka di saat berkumpul dengan teman-temannya.

Membayangkan teman-teman Karina dan Kirana, Dea sempat merasa was-was. Masih adakah seseorang akan datang berkunjung ke rumah ini? Selama ini, hanya teman-teman mereka yang rajin datang. Terkecuali Gerald, yang tinggal di sebelah, dia selalu datang untuk semua. Tapi, sejak tahun lalu dia kuliah di Bogor, kedatangannya nggak bisa diharap.

Seharusnya kamu nggak sedih begini, De, kata hati kecilnya saat rasa kehilangan itu terasa semakin menjadi. Bukankah selama ini kau menginginkannya? Bukankah ini sebuah kebebasan? Kau tak perlu lagi jadi bayang-bayang mereka!

Tanpa sadar Dea mengangguk. Tanpa sadar Dea tertawa.

Ya, tahun ini dunia akan terasa sedikit lebih lapang, Karina dan Kirana baru saja pindah ke Semarang karena mereka diterima di Fakultas Teknik, Undip. Menurut Dea, kakak kembarnya itu selama ini banyak membawa masalah dalam hidupnya. Selalu menjadikan dirinya jadi orang kesekian, bahkan kadang tak terlihat karena si kembar yang sangat dibanggakan Mama dan Papa itu selalu manis dan patuh, dan selain cantik, otak mereka juga sangat cemerlang. Menurut Dea juga, itu sangat berbeda dengan dirinya!

Yang disyukuri Dea adalah perbedaan umur mereka yang terpaut tiga tahun lebih. Hanya waktu SD saja mereka sempat satu sekolah, selebihnya tidak. Bila terpaksa harus masuk di sekolah bekas si kembar, seperti saat ini di bangku sekolah lanjutan atas, sebisa mungkin Dea menyembunyikan bahwa dia adik kandung dari mereka. Hal ini perlu untuk mencegah keheranan orang; keheranan yang menyakitkan.

Bukan mengada-ada. Selalu saja orang berkomentar muka Dea nggak mirip. Menurut Mama sih, Dea lebih banyak mengambil garis wajah Papa. Apa salah anak mirip bapaknya? Semua orang tahu kita nggak bisa memesan bentuk wajah sebelum lahir. Bahkan Wali Kelas di kelas satu SMP menuntutnya jadi juara seperti si kembar, ini menyebalkan. Kalau saja mereka mengerti tuntutan kesamaan itu yang membuat Dea tertekan, yang membuatnya nggak bisa jadi juara. Untung Mama dan Papa mengerti, mereka yang selalu menghibur dan menyemangati. Guru itu juga yang mempertanyakan kalau sekandung, kenapa Dea urakan dan tomboy? Padahal Dea merasa biasa-biasa saja. Hanya agak ketus bila menghadapi guru itu. Masalah tomboy Dea bingung. Diakuinya dia tidak bisa bersuara dan bergerak selembut Rina dan Rana, nggak bisa selalu tersenyum di saat menghadapi orang yang sedang diajak berbicara apalagi bila orang itu menyebalkan, nggak betah kalau disuruh pake gaun-gaun cantik selain seragam sekolah, nggak bisa …. Ah, banyak sekali yang nggak bisa. Apalagi menyangkut pekerjaan rumah. Memasak, membereskan kamar, dan entah apa lagi. Rasanya diperlakukan tidak adil bila selalu dibandingkan. Dea adalah Dea, bukan Rina dan Rana!

Dea terbatuk menahan kesal yang tiba-tiba saja datang menyergap. Dia berbalik, akan kembali ke kamar, tapi bayangan kesepian di sana membuatnya urung melangkah. Aku harus mengerjakan sesuatu, tekadnya, supaya pikiran nggak ke mana-mana. Tapi apa? He, kenapa tidak membongkar pot-pot itu? Rasanya sudah lama Pak Tua dan Papa nggak memberi pupuk kandang, tanah-tanahnya juga sudah mengeras. Tanpa sadar Dea melangkah ke gudang, mengambil peralatan berkebun. Lalu dimintanya Pak Tua mengambil pupuk kandang, tapi menolak dibantu.

Satu per satu pot yang ada di teras samping dibongkar, entah berapa lama dia ada di sana. Tanpa terasa matahari hampir tenggelam, kegelapan mulai menyelimuti halaman bahkan lampu kebun sudah dinyalakan, tapi Dea belum juga menghentikan kesibukannya. Ini pot terakhir yang harus dibongkar, kasihan kalau disisakan, belum tentu besok punya waktu, pikirnya.

“Nggak bisa ditunda sampai besok, Dea? Sudah gelap!”

Hampir Dea melepas pot yang sedang diangkat, suara itu mengejutkannya. Itu suara Gege! Betul, kepalanya menyembul dari tembok pembatas. Dea memberengut. “Kamu bikin kaget, Ge!” serunya marah. Tapi sesaat kemudian dia tertawa. “Kapan datang?”

“Barusan, tadinya mau ngucapin selamat jalan ke Rana dan Rina karena kupikir mereka berangkat Minggu, tapi kata Pak Tua sudah pergi. Ya, sudah!”

“Mama ngantar juga, mau nitipin mereka ke ibu kos. Aduh, Ge, mobil Papa sampai penuh sesak. Dari komputer sampai pemanggang roti, belum sepuluh pasang sepatu, sandal, dan nggak tau apa lagi. Untung dapur nggak dibawa, itu kan tempat kedua mereka setelah kamar!” Dea tergelak sambil mengaduk tanah dengan pupuk.

Gege naik ke tembok pembatas, lalu duduk mencakung di atasnya.

“Kamu kok tahu aku di sini?” tanya Dea setelah menyuruh melompat turun.

“Kan sudah kubilang aku tadi ke depan, ketemu Pak Tua di gardunya. Dia yang ngasih tahu kamu lagi kesepian. Dan biasanya, kalau lagi begitu, kamu nyibukin diri mencari cacing di sini!”

Gege meloncat turun, hal yang tak pernah dilakukan bila ada Mama dan Papa, dan tak menanggapi rungutan Dea. Dibantunya mengisi pot lalu memindahkan ke tempat semula.

“Sudah selesai!” gumam Dea. “Biar nanti Mbak yang merapihkan. Kita duduk di sini, Ge,” ajaknya. Lalu berteriak meminta minum.

“Kamu pasti kesepian,” kata Gege seusai mencuci tangan. Disambarnya air jeruk di atas meja, menghabiskannya hampir separuh.

“Ada atau tidak ada mereka aku begini. Tetap saja sepi!”

Alis lebat Gege bertaut. Dia menoleh, mengamati raut mungil di sisinya. Mata Dea mengawang, menembus pepohonan dan mega-mega. Pemandangan yang sama, entah berapa puluh kali Gege menemukan Dea dengan tatapan kosong seperti itu. Bahkan ketika suasana ramai, atau di saat berada di antara orang tua dan kakak-kakaknya. Dan, keadaan itu yang membuat hatinya luruh
walau tak pernah berani menanyakan kesedihan atau entah apa yang tersirat di mata itu.
“Kapan Mama dan Papa pulang? Berani tidur sendiri?” Gege merasa suasana jadi tak nyaman, dicobanya mengalihkan pembicaraan.

Dea terpancing, matanya menatap lucu, dan dia tertawa lebar. Gege menyembunyikan getar di dalam dadanya, entah kenapa perasaan itu selalu saja merengkuhnya di saat melihat Dea bahagia atau tertawa. “Mbak Nah dan Suti dua malam ini akan tidur di kamar Rana. Pintu penghubung dibuka, aku akan tidur lelap! Mama akan pulang lusa.”

“Sudah gede, masih juga penakut! Takut apa sih, De? Hantu?”

Dea menutup muka, tapi akhirnya mengangguk sambil tertawa.

“Tuhan akan mengirim malaikat untuk menjaga kalau kita berdoa sebelum tidur!”

“Tapi tetap saja takut.”

“Alihkan pikiranmu dengan membayangkan … aku, misalnya!”

“Ih!”

“Atau cowok yang kamu suka! Ada, kan?”

Dea tergugu. Lama, sampai kemudian menggeleng perlahan. “Aku nggak berani berharap apa-apa. Dan bila aku suka sama seseorang, cepat-cepat kubunuh perasaan itu!”

“He?!” Gege merasa was-was. Mata itu, Tuhan, mulai lagi tersaput sedih! Disentuhnya tangan Dea sekilas. “Selama kita hidup, harapan itu harus selalu ada. Dalam segala hal. Agar hidup kita lebih termotivasi. Agar langkah kita terarah untuk mencapai sesuatu yang kita ingin, yang kita harap.”

“Sepertinya sia-sia deh, Ge. Sekuat apa pun aku berusaha, tetap saja tidak akan sebaik Rana dan Rina. Dan aku tak berani punya cowok. Pasti dia membandingkan juga aku dan kakak-kakakku bila suatu saat kukenalkan kepada mereka. Lalu dia akan meninggalkan aku karena di samping Rana dan Rina, seperti biasanya, aku bukan apa-apa!”

“Dea!”

“Ya, aku memang jadi pemimpi. Karena semua tak kutemukan dalam dunia nyata! Dalam mimpi, aku bisa punya cowok yang tak mengenal Rana dan Rina karena tak pernah kuberi kesempatan bertemu!”
Kali ini, Gege mengulurkan tangan. Digenggamnya seluruh jemari Dea dalam rangkuman tangannya yang besar. Dia menghela napas dengan susah payah. “Dengar,” katanya setelah sekian lama terdiam. “Aku punya cerita tentang Mama, tentang ibuku, agar mata hatimu terbuka.”

Dea menautkan alis. Mamanya Gege, tanyanya dalam hati. Sudah empat tahun tinggal bersebelahan, tak pernah rahasia itu terungkap. Gege pernah mengatakan bahwa orang tuanya bercerai, lalu ibunya menikah lagi. Hanya itu, selebihnya Gege selalu mengalihkan pembicaraan bila ditanya tentang ibunya. Lalu Mama berpesan kepada Rana, Rina, dan Dea agar tidak menanyakan lagi karena Gege dan ayahnya kelihatan sedih dan kurang suka bila ditanya mengenai itu.

“Di kamarku, ada foto Mama. Suatu hari nanti kamu boleh melihatnya. Dia cantik sekali. Dulu, dia peragawati dan foto model. Setelah menikah pun Mama masih tetap ikut peragaan busana, fotonya masih menghiasi sampul majalah dan kadang muncul sebagai bintang iklan. Papa dan anak-anaknya bangga, apalagi Cindy, adikku.”

“Tentu menyenangkan punya ibu cantik dan terkenal!” potong Dea.

Gadis Pemimpi“Awalnya begitu. Tapi pertengkaran yang sering meledak mengiringi hari-hari kami. Pekerjaan Mama menyita waktu dan tidak bisa ditentukan. Pengambilan gambar untuk iklan bisa sampai berhari-hari dari pagi sampai malam, apalagi peragaan busana di luar kota dan di luar negeri. Kata Papa, anak-anak jadi tak terurus. Aku dan Cindy memang sering kesepian. Kadang ada yang perlu ditanyakan dan dirundingkan, tapi Mama nggak ada. Kecantikan Mama juga sering membawa masalah. Masih saja ada yang mengganggu dan bahkan ada yang nekad mendekati Mama walau sudah tahu Mama punya suami dan anak. Orang-orang yang nekad itu menambah suasana di rumahku semakin panas. Sampai suatu malam Mama dan Papa memutuskan bercerai karena Mama bertahan untuk tetap bekerja sedang Papa menginginkannya di rumah mengurus anak-anak yang beranjak besar. Aku kasihan ke Papa, ikut pindah ke sini menemaninya. Sedang Cindy tetap ikut Mama.”

Dea menghela napas panjang, merasa sedih mendengar cerita Gege.

“Tidak semua laki-laki tergiur dengan kecantikan, karena punya pendamping cantik tidak menjamin akan mendapatkan kebahagiaan selamanya. Pengalaman mengajarkan yang terbaik. Aku jadi tegar melihat yang kemilau. Aku tidak cepat jatuh cinta.”

“Tidak perlu begitu,” hibur Dea.

“Setidaknya aku lebih hati-hati. Aku lebih banyak melihat ke dalam. Aku lebih menghargai hati yang cantik, bukan penampilan luarnya.”

Dea menggeleng, entah untuk apa. Ah, rasanya pernah ada harap di saat berdekatan dengan Gege, tapi itu dulu. Bukan hanya tampan, Gege sangat baik dan penuh perhatian. Tapi Rana dan Rina juga sangat menyukainya. Belum apa-apa Dea sudah menyerah ….

“Dea ….”

Dea mengangkat muka, menepis rengkuhan tatap kelam di hadapannya.

“Manusia boleh berharap, berkeinginan, berencana, tapi Tuhan juga yang menentukan, ya?”

Gege tertawa tanpa suara. “Sebetulnya, sudah bertahun-tahun aku menyukai seorang gadis. Dan gadis itu cantik!”

Dea ternganga. Tanpa sadar dia menarik kedua tangannya.

“Aku menemukanya di balik kabut. Sendiri, dan sepanjang hidupnya kesepian. Awalnya aku merasa terenyuh, aku ingin menghibur, menepiskan semua kesedihannya, atau memeluknya agar hatinya hangat. Bertahun-tahun aku mempelajari kesedihannya, tapi bagai masuk ke kumparan air. Akhirnya aku terhanyut.” Gege tersenyum, mengusap dengan matanya.

Dea merunduk, menyembunyikan luka. Tadi, harapan itu tiba-tiba saja datang lagi, menjanjikan sesuatu yang manis, tapi saat hati ini luruh, dia terbang jauh yang tak mungkin lagi kugapai dan kurengkuh, bisik hatinya. Aku memang itik buruk rupa, tak seharusnya menginginkannya! “Setiap manusia dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak seharusnya kamu merasa tidak secantik Rana dan Rina. Kelebihan mereka hanya lebih putih dan lebih feminin, tapi matamu lebih bagus dari mereka. Kalau kamu nggak suka masak, mereka juga nggak suka berkebun. Bukankah itu seimbang? Yang membuatmu jadi jelek selama ini hanya karena kamu kurang bersyukur!”

“Gege!”

“Aku sungguh-sungguh. Kesukaanmu pada tanaman yang membuatku memilih IPB. Aku berharap dapat menyukai hal yang sama!”

Dea kembali menggeleng. Air matanya merebak. “Tidak, aku tidak sebanding dengan mereka. Aku memang jelek. Semua orang mengatakan aku beda, tidak secantik Rana dan Rina! Kenapa kau tidak memilih salah satu dari mereka, Ge?” sergah Dea dengan putus asa.

“Sudah kukatakan tadi bahwa aku sungguh-sungguh. Tidak akan ada lagi yang menyakiti kamu, yang membuatmu sedih. Aku berjanji akan membawa Gadis Pemimpi itu ke dunia nyata, membuatnya bahagia dengan melimpahinya dengan cinta yang nyata. Kau dengar?” Gege tersenyum lalu mengulurkan tangan, mengusap air mata yang mulai jatuh di pipi gadis itu dengan hati-hati. ***



The post Gadis Pemimpi appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi