TOP ARCHIEVES

Koran Republika

Kumpulan Puisi

Kedaulatan Rakyat

Media Indonesia

Suara Merdeka

Koran Tempo

Pikiran Rakyat

Friday, 15 February 2019

Ujian di Penghujung Tahun

Pagi menyingsing fajar, suasana masih berkabut dingin samar-samar dalam kegelapan. Sudah beberapa malam aku tidak dapat memejamkan mata, selalu terjaga. Rasa takut masih menyelimuti meskipun kini aku bersama yang lainnya telah berada di tenda pengungsian, setelah selamt dari amukan dasyatnya gelommbang tsunami yang memorak-porandakan wilayah Banden dan Lampung Selatan.

Banyak orang tua yang kehilangan anak suami kehilangan istri, Kakak kehilangan adik dan sebaliknya. Harta benda mereka habis terbawa derasnya air akibat gelombang tsunami dampak dari erupsi gunung Anak Krakatau. Mengingat kejadian malam itu, sungguh membuatku trauma, dadaku sesak, menahan kesedihan. Karena kini aku tak memiliki apa-apa.

***

Malam itu, ketika aku hendak pergi ke pertemuan muda-mudi desa yang juga bertepatan dengan malam Minggu. Malam panjang bagi anak muda, begitu beberapa syair lagu mengatakan. Setelah mempersiapkan diri dan berpakaian rapi, aku menunggu jemputan dari sahabat yang akan pergi bersama, sembari SMS-an. Aku terkejut, tiba-tiba terdengar orang-orang di luar ribut dan berlarian sangat panik.

Aku pun jadi heran, sebenarnya apa yang terjadi, mengapa semua orang berlarian? Pada saat itu ibu tengah pergi kondangan dan adikku laki-laki mengantarnya. Dengan cepat, aku meraih handphone untuk menelepon Ahmad, yang tengah mengantar ibu kondangan di desa tetangga. Namun, ketika suara panggilan itu mulai terhubung dan berdering, tiba-tiba air setinggi empat meter menerjang dan menghantam bagian atas didinding rumah dan atap. Aku terpental dan hanyut terseret arus.

Aku terus berjuang dengan berenang sekuat tenaga. Di antara deru dan sengal kulihat sebatang kayu yang tengah mengambang. Tanpa berpikir panjang, aku pun memegangnya erat sebagai pelampung agar tidak tenggelam. Karena tenagaku sudah terkuras untuk berenang sejak terpental dan terseret air dari rumah. Dalam terkatung-katung, aku membaca asma Allah sebisaku. Berdoa, meminta pertoongan-Nya. Karena hanya Dia yang menguasai segalanya. Aku sudah tak bisa merasakan apa pun, antara sakit, takut, dan pasrah menjadi satu.

“Andaikan hamba harus meninggal dalam peristiwa ini, Ya allah. Tak mengapa. Tapi tolong, selamatkan adik dan ibu hamba,” doaku dalam hati, di saat badanku terombang-ambing terseret air.

Di antara tenaga yang masih tersisa, aku terus berjuang. Meskipun tangan dan kaki ini merasakan sakit yang luar biasa karena harus membentur benda-benda lain yang turut berhampuran di atas air bah. Aku berharap ada keajaiban yang datang menyelamatkan.

***

Entah berapa jauh tubuhku terseret arus ganas yang menyita waktu kurang lebih sepuluh jam tersebut. Ketika aku tersadar samar-samar aku mendengar suara orang memanggilku.

“Mba.. Mba …Anda mendengar suara kami?” Sayup-sayup kudengar suara laki-laki.

“Aku di mana?” tanyaku dengan kebingungan.

“Apakah ini alam kematian?” batinku lirih.

Seluruh badanku terasa sakit, dan sulit digerakkan. Kaki dan tanganku terdapat banyak luka barutan benda-benda tajam. Mungkin saja ada paku yang menganga dan akar-akar tajam di antara puing-puing yang kulalui. Sebab, yang aku ingat, banyak pohon tumbang, dan rumah-rumah belum permanen yang roboh.

“Mba ada di tenda pengungsian,” jawab seorang laki-laki yang berdiri di sampingku.

Saat itu aku baru sadar, sebuah gelombang setinggi lima meter telah menyapu rumah dan seluruh penghuni Desa way Muli, Lampung Selatan. Kampung nelayan tempatku dibesarkan. Aku pun terombang-ambing tanpa tahu seberapa jarak yang telah kulalui. Anganku mengingat sesuatu.

“Ahmad, Ibu, di mana mereka?” tanyaku terperanjat.

“Mba kami temukan terjepit tak sadarkan diri, di antara himpitan runtuhnya rumah dan pohon-pohon yang tumbang. Untuk keluarga Mba yang lain, nanti bisa kita cari perlahan-lahan.”

Aku tidak tenang sebelum menemukan Ahmad dan ibu yang saat gelombang tinggi itu datang mereka tengah di luar rumah. Apa yang kami miliki telah habis tak tersisa, jangan sampai aku kehilangan mereka berdua. Batinku sakit, sedih, hampa, tak tahu harus berbuat apa. Bahkan air mata pun sudah tidak dapat keluar. Segala rasa perih tercurah saatku tertelan pusara air yang banyak merenggut ratusan nyawa manusia dan menyisakan kesedihan. Antara hidup dan mati, hingga membawaku sampai ke tempat ini.

“Ibu … Ahmad, kalian di mana?”

***

Rasa sedih dan tangis pilu kehilangan orang-orang yang dicintai mewarnai segala penjuru di tenda pengungsian. Raut wajah waswas dan takut akan adanya tsunami berada setiap sudut. Tak hanya masyarakat biasa, beberapa artis juga menjadi korban keganasan gelombang tsunami tersebut.

Aku berusaha menyibukkan diri dengan bergabung ke dapur umum pengungsian di Balai Desa Totoharjo, Bakauheni. Dengan begitu, sedikit menghilangkah kesedihan dan khawatirku karena ibu dan Ahmad belum ketemu. Bersama relawan yang lain, saling membahu menyediakan makanan untuk pengungsi dan relawan yang datang mengantarkan bantuan. Namun, ujian itu belum berakhir karena seorang pengungsi lain yang berasal satu daerah denganku mengabarkan jika mereka menemukan keluargaku di antara tumpukan rumah dan tiang listrik yang roboh, keduanya telah meninggal dunia, dan jenazah mereka telah dibawa ke rumah sakit bersama korban lainnya yang telah ditemukan.

Tanpa banyak tanya aku bergegas menuju RSUD dr H Bob Bazar, tempat dimana jenazah yang ditemukan dikumpulkan guna proses identifikasi. Aku ingin memastikan jika yang katakan tetanggaku itu benar. Meski aku lebih berharap jika semuanya salah. Aku lebih senang jika Ibu dan Ahmad masih hidup dan berada di tenda pengungsian yang lain. Namun, lagi-lagi Allah menguji kesabaranku. Mengambil semua orang yang kucintai. Dari baju yang dikenakan dan ciri-ciri yang lain ternyata benar; kedua mayat di dalam kantung jenazah itu adalah orang-orag yang beberapa hari ini kucari. Ibu dan Ahmad baru ditemukan dua hari setelah kejadian yang mencekam 22 Desember 2018 lalu.

“Ibu … Ahmad, Bangun …!” Raungku kencang, sembari kugoyangkan kantung jenazah satu persatu.

Tangisku pecah. Rasa sedih yang beberapa hari ini tersimpan di dada, membuncah. Aku tak peduli tatapan orang di sekelilingku. Rasa iba, haru membaur menjadi satu. Bersyukur jenazah mereka bisa ditemukan karena banyak korban yang terseret air belum diketahui keberadaan hingga sekarang. Apakah selamat, atapun sebaliknya. Samar-sama aku pun mendengar beberapa orang tergugu penuh kesedihan. Mereka sama sepertiku. Menemukan anggota keluarga, yang telah tak bernyawa.

***

Tetangga dan para warga memantu prosesi pemakaman keluargaku. Hari itu ada beberapa jenazah yang dimakamkan di pemakaman umum daerah kami. Dengan berat hati aku menyaksikan kedua orang yang kucintai dimasukkan ke liang lahat. Setelah dikumandangkan Adzan, makam pun ditimbun tanah basah. Kesedihan ini sama saat pascakelulusanku dari akademik keperawatan, saat ayah meninggal karena serangan jantung. Sejak saat itulah, kami hidup bertiga. Namun kini, tinggalah aku sendiri

“Sabar ya, Mba Ana. Ikhlaskan kepergian Ibu dan Ahmad. Mereka telah berkumpul di sana,” hibur Ratri. Tetangga kampung, yang juga kehilangan salah satu anggota keluarganya.

Sebenarnya aku tidak sendiri, banyak orang lain yang juga harus tegar karena ditinggal orang-orang yang disayangi. Bahkan vokalis grup band Ifan Seventeen harus kehilangan istrinya yang belum lama ia nikahi, sekaligus tiga rekan grup yang lainnya. Bencana dan kematian bisa menimpa siapa saja, tak pandang bulu. Tak ada yang bisa menghalangi jika kuasa-Nya telah berkehendak.

Tidak bisa dipungkiri, kesendirian ini benar-benar membuat aku terpuruk. Bagaimana masa depanku kelak? Tinggal di mana, bersama siapa? Semua pertanyaan menjadi momok ketakutan yang kian meracuni pikiran. Karena hari ini, aku resmi menyandang status yatim piatu dan tak memiliki apa-apa. Sebatang kara.

***

Aku selalu menyibukkan diri di dapur pengungsian. Menyiapkan masakan, menata, dan membagikannya dengan pengungsi yang lain. Ini cara yang ampuh mengobati kesedihan. Sama-sama bangkit dan saling berbagi membuatku merasakan jika hidupku masih berguna bagi orang lain. Jika pekerjaan dapur usai, aku ikut bersama relawan lain memberikan terapi healing kepada adik-adik yang mengalami trauma akibat tsunami tersebut, juga belajar dan bernyanyi bersama dengan anak-anak. Menghibur mereka. Kenyataan perih ini, takkan kutambahi dengan berlarut-larut dalam kesedihan karena kehidupan harus tetap berjalan.

Hari demi hari bantuan terus berdatangan, baik dari pemerintah maupun elemen masyarakat. Kesibukan para relawan kian meningkat. Dapur umum bekerja selama 24 jam dengan shift bergantian. Aku menikmati semua rutinitas itu sebagai pelipur lara meskipun di setiap malam rasa sedih itu datang menyerang. Menghujani ulu hati.

***

“Masih terlalu pagi, kamu sudah terbangun, Na?” sebuah suara memudarkan lamunanku.

“Aku tidak pernah bisa tidur, Ratri. Selalu teringat masa-masa bersama keluarga.”

“Aku mengerti perasaanmu, Na. Namun, kamu tidak sendiri. Ada aku, mereka, dan kita semua. Mari sama-sama bangkit menatap masa depan untuk hari berikutnya.”

Kami pun berpelukan. Bulir bening itu mengalir lagi, basah merata di pipi. Menghiasi dinginnya fajar menyambut subuh di pengungsian. Kebersamaan ini membuat diriku tak merasa sendiri menapaki hari-hari.

Taiwan, 8 Januari 2019

Note: Kisah ini terinspirasi dari peristiwa Tsunami di Selat Sunda dan Lampung. Penulis berasal dari Lampung yang saat ini tengah merantau ke Taiwan.

Wanita penggemar kopi ini berimajinasi. Saat ini tengah berada di Bumi Formosa untuk meraih mimpi yang tertunda. Eti beberapa kali menjuarai perlombaan menulis, peraih juara ke-3 VOI Award RRI 2017, Jury award Taiwan Literature Award Migran (TLAM) 2017 di Taiwan, dan 1 lomba menulis cerpen Inspiratif Forum Pelajar Muslim Indonesia Taiwan (FORMMIT) 2018. Penulis merupakan pekerja migran dan berstatus mahasiswa Universitas Terbuka Taiwan. Penulis bisa disapa melalui etimelati18@gmailcom.


[1] Disalin dari karya Eti Nurhalimah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 10 Februari 2019

The post Ujian di Penghujung Tahun appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 
Copyright © 2010- | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
About | Sitemap | Kid-Stories | Ethnic | Esay | Review | Short-Stories | Home