Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Rabu, 11 September 2019

Raung dan Kenangan Seluas Kabut


”Kalian berdua beruntung cuma dijenggong anjing yang lehernya terikat. Tadi, selepas Isya, kuntilanak mengejar rombongan pendaki asal Jakarta,” begitu kata Ibu Sunarya kepada ayahmu ini, Nak.

Napas terengah akibat sangar gonggong anjing, kami redam dengan kopi yang disuguhkan Ibu Sunarya di Pos 1. Ayahmu ini, Nak, sewaktu muda memang pengecut. Suara gonggong anjing pun membuat nyali ayahmu ini menciut.

“Benar kalian tak melihat kuntilanak?” tanya Ibu Sunarya. Kami berdua hanya menggelengkan kepala, Nak. “Ibu dan Bapak, seumur-umur di sini memang tak pernah melihat kuntilanak,” sambung Ibu Sunarya.

“Aku kangen Ibu di rumah,” kata Nisa; kawan perempuan yang menemani ayah mendaki Gunung Raung bersama kawan-kawan lainnya, Nak. Harusnya, Nisa yang menjadi ibu kandungmu. Tapi, nasib berkata lain. Kau, lahir dari rahim perempuan lain.

“Raung memang luar biasa. Ini puncak pertama saya, Bu,” kata Nisa kepada Ibu Sunarya. “Kelak saya ingin memberi nama ‘Raung’ kepada anak saya,” cerocos Nisa melanjutkan.

Nak, kau memang hanya bisa berkedip sembari merengek saat ayahmu ini bercerita. Tapi ayah yakin, di usiamu yang belum genap sebulan ini, kau bisa menikmati setiap jengkal cerita yang ayah sampaikan.

Wajah Nisa seperti wajabmu, Nak. Kalian sama-sama ayu. Bahkan, bibirmu tak menyerupai bibir ibu kandungmu. Bibirmu lebih menyerupai bibir Nisa. Oh, mungkinkah teori hubungan biologis dikalahkan bayang-bayang kenangan?

Tiap kali ayahmu ini bercinta dengan mendiang ibu kandungmu, ayah selalu membayangkan Nisa. Tiap kali ayah memagut jengkal demi jengkal tubuh ibu kandungmu, ayah merasakan tubuh Nisa. Pun ketika ayah melumat bibir ibu kandungmu, yang ayah rasakan adalah bau napas Nisa.

Nak, kau memang terlahir bukan dari rahim Nisa, tapi ragamu serupa Nisa. Harus ayah akui, ayah merasa berdosa kepada mendiang ibu kandungmu. Ayah menikahinya tanpa cinta. Sebaliknya, mendiang ibu kandungmu sangat mencintai ayah.

Di pesta pernikahan ayah dan mendiang ibu kandungmu, satu hal yang bikin ayah bahagia. Yakni, ketika ayah melihat Nisa datang ke pesta itu, meskipun ia bergandengan tangan dengan tunangannya.

“Sebaiknya kita berteman saja, Mas,” begitu ucap Nisa kepada ayah, berminggu- minggu kemudian setelah kami menaklukkan Puncak Sejati Gunung Raung. “Aku nyaman berteman denganmu. Sebaiknya kau cari perempuan lain saja,” Nisa menggarami.

Ayah patah hati, Nak. Tapi ayah lega, setidaknya ayah bisa membuang kepengecutan dengan berani menyatakan perasaan kepada Nisa. Di tengah-tengah patah hati, ayah bertemu Dewi, mendiang ibu kandungmu.

Di sinilah letak dosa itu, Nak. Ayah menerima cinta Dewi hanya untuk mengobati patah hati dan mengubur kenangan. Pengembaraan pun ayah lakukan bersama Dewi. Ironisnya, ayah selalu membawa Dewi ke tempat-tempat yang pernah ayah singgahi bersama Nisa. Bahkan, ayah pernah mengajak Dewi ke kaki Gunung Raung di Kalibaru, Banyuwangi, di Pos 1.

“Ini calon istri saya, Bu,” kata ayahmu ini kepada Ibu Sunarya—perawakan Ibu Sunarya masih sama seperti ketika dulu ayah dan Nisa turun gunung. “Namanya Dewi, Bu,” sambung ayah.

“Oh, ini toh, saya kira sampeyan nikahnya sama Nisa yang dulu,” jawab Ibu Sunarya. Untung di bagian ini, Dewi tidak mendengarnya karena sedang sibuk membalas WhatsApp dari orang rumah. “Semoga cepat ke pelaminan,” Ibu Sunarya menambahi. “Amin, Bu,” Dewi membalas ucapan Ibu Sunarya.

“Dewi enggak diajak sekalian ke Puncak Raung?” Ibu Sunarya memecah suasana yang mulai hening kala itu, Nak.

“Tidak, Bu. Cukup di sini saja. Sebab di atas banyak kenangan. Saya ndak pingin memugarnya lagi,” balasku.

“Memangnya kenangan apa, Mas?” Dewi, mendiang ibu kandungmu yang tidak pernah ayah cintai itu, merengek

“Ah, cuma kenangan tentang tebing yang curam dan kabut saja. Aku kapok mengulanginya lagi. Sebaiknya, kalau naik gunung, cari yang ringan saja. Penanggungan, misalnya. Atau Bromo,” kata ayah sambil memegang tang¬an Dewi.

Jujur, Nak, setiap ayah memegang tangan ibu kandungmu, kenangan memegang tangan Nisa selalu menggelayut. Dulu, ayahmu ini suka memegang tangan Nisa, entah itu ketika berjalan, nongkrong di kedai, atau pun nonton bioskop.

“Raung memang ganas,” kata Ibu Sunarya. “Puluhan tahun ibu tinggal di Pos 1, setiap pendaki yang turun gunung selalu sambat tentang medan Raung. Kata mereka, Raung lebih berat ketimbang Semeru atau Rinjani,” cetus Ibu Sunarya melanjutkan.

“Makanya, Bu, saya kapok,” kata ayah sambil terkekeh.

Nak, ayahmu ini memang memadu kasih dengan mendiang ibu kandungmu, tapi ayah tak bisa berpaling dari Nisa. Kencan demi kencan ayah lewati bersama Dewi, tapi ayah serasa menjalani kencan bersama Nisa. Kenangan tentang Nisa tak bisa purba, ia selalu belia dan memerah, seperti usiamu.

“Kau masih berkenan mendengarkan cerita ayah, kan, Nak?”

Ah, kau hanya berkedip dan terus merengek. Tapi tak apalah, ayah akan terus bercerita, mumpung hari masih pagi.

Kegemaran ayah bercerita ini menular dari Nisa. Ia adalah tukang cerita ulung. Bahkan, di sepanjang pendakian ke Gunung Raung, meskipun medan terjal diwarnai tebing curam dan batuan cadas serta kabut yang mahaluas, Nisa selalu menghibur ayah dengan cerita-ceritanya

“Biar enggak capek, aku bercerita saja, ya Mas,” kata Nisa sewaktu menuruni tebing curam menuju batas vegetasi. “Siapa tahu ceritaku ini bisa mengalihkan perhatian terhadap medan pendakian yang ganas,” sambungnya.

Banyak hal yang diceritakan Nisa selama pendakian. Namun, hanya dua hal yang selalu ayah kenang: cerita tentang kucing-kucing kesayangannya dan kegemaran Nisa makan durian. Padahal, dua hal ini: kucing dan durian, adalah sesuatu yang paling ayah benci.

“Oh ya, kamu punya utang, katanya mau beliin aku durian,” kata Nisa di jalan setapak antara Pos 8 dan Pos 7.

Kau tahu, Nak, meskipun ayahmu ini pria pengecut, tapi ayah tak pernah ingkar janji. Sepulangnya dari Raung, berhari-hari kemudian, ayah mengajak Nisa makan durian di pinggiran Kota Malang.

“Aku tahu kau membenci durian, tapi kau harus mencobanya,” kata Nisa. Ia memaksa ayah menelan secuil daging durian di ujung jarinya. Ayah pun manut ketika ia menyuapi.

Raung dan Kenangan Seluas KabutKalau bukan karena Nisa, ayah tak mungkin mau menelan durian. Sebagaimana Raung, kalau bukan karena ajakan Nisa, mungkin ayah juga tak ’kan berani mendaki Raung.

“Temani aku ke Raung, ya?” begitu kata Nisa kala nongkrong di kedai kopi nan sunyi. “Kamu kan belum pernah ke Raung. Berani, enggak?” lanjutnya.

Tiap ajakan Nisa, ayah tak pernah menolaknya. Dengan cara inilah, ayah bisa selalu dekat dengannya. “Baiklah, aku akan ambil cuti,” balasku, dan Nisa pun riang.

Dari Surabaya menuju Banyuwangi, kami melaju bersama kereta ekonomi, Nak. Sebelum pendakian, kami tidur di rumah penduduk Kalibaru yang kami sebut sebagai basecamp. Di sana, banyak pendaki dari daerah lain yang nantinya akan gabung bersama kami, tentu saja didampingi guide.

Di basecamp inilah, ayah pernah mengajak ibu kandungmu sowan. Tapi, hanya sekadar lewat saja, tak sampai menemui pemilik basecamp. Kau harus tetap terjaga, Nak, cerita ayah belum selesai. Ah, matamu terus berkedip. Bibirmu bergerak, persis bibir Nisa, bibirmu bergerak seakan-akan kau akan mengucapkan sebuah kalimat, Nak.

Dua pekan setelah napak tilas di Kalibaru, ayah dan ibu kandungmu menikah. Di malam pertama, tiba-tiba Dewi, ibu kandungmu itu, bertanya kepada ayah.

“Nanti, anak kita diberi nama siapa?”

“Jika perempuan, beri nama Raung saja. Dipanggil Rara,” jawab ayah kepada Dewi. Dan benar, kau bayi perempuan mungil yang lahir dari rahim Dewi. Nama Raung tersemat dalam jiwa dan ragamu, Nak.

Tapi sayang, kelahiranmu harus dibayar mahal. Ibu kandungmu harus meregang nyawa, Nak. Inilah kali kedua ayah mengalami kehilangan. Yang pertama, tentu saja ayah kehilangan Nisa—ayah gagal mendapatkannya.

Dewi adalah obat penawar patah hati, Nak. Kini, dia telah tiada. Ayah kembali dihantui kenangan tentang Nisa. Namun, apa daya, ayah tetaplah lelaki pengecut. Ayah tak berani menemuinya, meskipun kabarnya Nisa gagal menikah dengan tunangannya yang ia bawa saat menghadiri pesta pernikahan ayah dengan ibu kandungmu.

Bagi ayah, Nisa adalah kabut di Gunung Raung. Kabut yang mengaburkan mata dan melenyapkan keindahan semesta. Kabut yang menemani setiap jengkal perjalanan, mengambang menghindari maut di antara ketinggian dan jurang menganga.

“Kita kurang beruntung, Mas. Kabut pekat menutup keindahan Puncak Raung. Tak ada awan dan langit biru. Kawah juga tak nampak,” kata Nisa begitu tiba di ketinggian 3.344 mdpl, Puncak Sejati, puncak tertinggi Gunung Raung.

“Ah, ini cuma kabut, sebentar datang, sebentar pergi. Beda dengan kenangan,” balasku.

“Maksudnya?”

“Kenangan selalu abadi, kabut tidak,” desisku. “Tapi, ada satu persamaan antara kabut dan kenangan.”

“Apa itu?”

“Keduanya sama-sama luas, susah menemukan ujungnya,” ucap ayahmu lirih kepada Nisa, sambil tubuh menggigil menahan tusukan dingin.

“Duh, kalimatmu seperti penyair. Aku enggak paham.”

“Aku bukan penyair, aku hanyalah pengecut!”

“Hah? Apa sih?”

“Kenangan juga seperti kuntilanak, selalu bikin takut!”


Eko Darmoko, lahir dan tinggal di Surabaya. Lulusan Sastra Indonesia Unair Surabaya. Penulis buku kumpulan cerpen Ladang Pembantaian (Pagan Press, 2015). Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, dan esai pernah dimuat di Jawa Pos, Radar Surabaya, Radar Malang, Malang Post, dan Surabaya Post. Bermukim di akun Twitter dan Instagram @eko-darmoko

Ong Hari Wahyu, populer di kancah perfilman Indonesia sebagai visual artis dan art director. Salah satu karya visualnya yang diakui banyak kalangan adalah sampul buku Pramoedya Ananta Toer seperti Gadis Pantai, dan tetralogi Pulau Buru. Ong Hari Wahyu semakin mencuat setelah meraih predikat The Best Art Director dalam Festival Film Indonesia untuk film Daun di Atas Bantal yang dibintangi Christine Hakim dan disutradarai Garin Nugroho (1996). Kompas

The post Raung dan Kenangan Seluas Kabut appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Sirri Gus Sabri


Gus Sabri, siapa yang tidak kenal beliau? Setiap kali nama itu disebut, seperti ada kekaguman yang tak kan habis diceritakan mengenai daya linuwih putra bungsu almarhum Kiai Ridwan Sholeh, pendiri pondok pesantren Pringkuning Kesamben. Di antara kelima saudaranya, Gus Sabri yang paling santer dibicarakan.

Bukan tanpa alasan jika nama Gus Sabri menjadi kondang baik di kalangan para santri maupun warga sekitar. Selain penampilannya yang nyentrik yang membuatnya berbeda dari keluarga ndalem yang lain, juga disebabkan karena tingkah dan ucapannya yang suka nganeh-nganehi dan cenderung tidak bisa dinalar akal.

Di mata para santri sendiri, Gus Sabri adalah seorang pendekar pilih tanding. Semacam tokoh di dunia persilatan yang diceritakan di dalam buku komik atau film silat yang tenar di tanah air tempo dulu. Kadang mereka membayangkan Gus Sabri adalah Jaka Sembung yang dikenal mempunyai tubuh yang kebal senjata tajam dan peluru dari para kompeni, atau Angling Dharma yang bisa menghilang dengan aji halimunannya. Bagi para santri, Gus Sabri adalah ikon Pesantren Pringkuning.

Perawakannya tinggi besar. Rambut panjang ikal terurai sebahu serta kumis dan jenggot yang dibiarkan tak terawat menambah kesan sangar roman muka Gus Sabri. Baju hitam tak berkerah, kopyah beludru yang sudah berwarna kemerah-merahan karena saking lawasnya menjadi ciri khas penampilan beliau selain sarung cingkrang yang dibalut ikat pinggang kulit yang lebar. Selain dari segi pakaian, beliau juga punya kebiasaan yang unik. Jika bepergian ke mana pun, Gus Sabri tidak pernah naik kendaraan dan selalu berjalan telanjang kaki.

Ada sebuah kisah yang sering dituturkan oleh para santri secara tutur tinular dan sudah banyak diketahui para warga sekitar dusun kesamben tentang kesaktian Gus Sabri. Ini terjadi pada masa gencar-gencarnya teror ninja terhadap para Kiai di Indonesia akhir tahun ’98-an. Pesantren Pringkuning pun tak luput dari ancaman. Pada saat itu, Kiai yang mengasuh pesantren adalah abang dari Gus Sabri, Kiai Musthofa Ridwan atau biasa dipanggil Kiai Mus. Kharisma dan kealiman beliau sudah dikenal luas di masyarakat luas hingga ke wilayah luar daerah Jawa Timur.

Suatu ketika, ketika malam sedang diliputi kegelapan penuh karena cahaya bulan tertutup mendung. Ada segerombolan penyusup yang masuk ke area pondok. Tak seorang pun yang mengetahuinya karena pada saat itu para santri sudah banyak yang pulang karena bertepatan dengan libur hari raya. Suasana pesantren lenggang. Para penyusup berpakaian serba hitam yang berjumlah lima orang itu menjadi sangat mudah menjangkau rumah tempat tinggal Kiai Mus.

Namun sebuah keanehan terjadi. Langkah gerombolan pembunuh itu tercekat ketika melewati pintu pagar ndalem. Mereka mendadak tidak bisa bergerak. Berdiri mematung di halaman rumah. Jangankan melangkah, berbicara pun para penyusup itu tidak mampu. Hanya mata liar mereka yang masih bisa berkedip-kedip penuh kecemasan. Keberanian mereka lenyap seketika. Dan yang membuat mereka dicekam ketakutan adalah karena ada seorang berbadan tegap tinggi besar yang menghampiri dengan rambut panjang terurai, yang anehnya, juntaian rambut itu menyerupai kobaran api yang menjilat-jilat ganas. Hal itulah yang menelan keberanian dan kebengisan para gerombolan penyusup dan membuatnya tergeletak tanpa daya bagai tubuh tak bertulang.

Para penyusup itu tidak bisa beranjak dari tempatnya sampai bunyi kokok ayam jantan bersahutan. Paginya, betapa kaget Kiai Mus dan keluarga ndalem lainnya ketika melihat lima orang berpakaian seperti ninja itu tergeletak di halaman. Sementara Gus Sabri, adik Kiai Mus terlihat masih nyenyak tidur di sofa teras rumah. Akhirnya para penyusup dilaporkan ke pihak yang berwajib. Maka selamatlah keluarga ndalem dari ancaman pembunuhan.

Tidak hanya itu saja cerita tentang kelebihan Gus Sabri. Beliau juga dikenal sebagai orang yang waskita. Dalam istilah Jawa disebut weruh sakdurunge winarah, bisa mengetahui hal-hal yang bersifat ghaib yang belum terjadi. Seperti yang dituturkan oleh salah satu abdi ndalem pesantren, Kang Parmin. Ketika itu Kang Parmin sedang bekerja membantu Kiai Mus mengurus sawah milik pesantren. Ketika sedang sibuk mencangkul, lewatlah Gus Sabri di depannya. Dengan nada yang santai, tanpa ada referensi pembicaraan sebelumnya, tiba-tiba Gus Sabri menyuruh Kang Parmin pulang ke rumahnya.

“Min, besok pulang min!” seloroh Gus Sabri.

“Lho, wonten nopo, Gus?” Jawab kang Parmin setengah keheranan.

“Sudah, kamu pulang saja besok. Ndak kangen sama bapakmu ta, Min?” terang Gus Sabri sambil berlalu dari Kang Parmin.

Kang Parmin masih terbengong diliputi kebingungan. Sejenak berhenti dari aktivitas mencangkulnya. Mungkin Gus Sabri sedang bergurau, pikir Kang Parmin sambil melanjutkan kerjanya. Kejadian itu masih menyisakan tanda tanya di benak Kang Parmin hingga pada keesokan harinya, di suatu pagi ia dijemput keluarganya dari desa untuk diajak pulang karena bapaknya baru saja meninggal dunia. Padahal menurut keterangan tetangganya bapaknya Kang Parmin terlihat sehat wal afiat bahkan paginya masih sholat Shubuh berjamaah di langgar kampung. Sejak kejadian itu, Kang Parmin menyimpulkan bahwa ternyata Gus Sabri juga mempunyai ilmu kasyaf.

Perbincangan mengenai kelebihan yang dimiliki Gus Sabri tidak hanya terhenti di lingkup pesantren saja. Para warga, khususnya para alumni dan orang-orang tua yang pernah bersinggungan dengan Gus Sabri maupun pesantren juga sering membuka perbincangan. Bahkan mereka sering membumbuinya dengan cerita rekaan mereka sendiri.

“Jalur keturunan keluarga Kiai Ridwan memang bukan dari orang sembarangan.” Lek Jo mengawali cerita di warung kopi pojok kampung. “Tidak heran jika dari keluarga ndalem akan muncul putra-putra beliau yang mempunyai daya linuwih.” Lanjut Lek Jo sambil menyeruput kopi.

“Bukan orang sembarangan bagaimana, Lek?” Tanya Wak Jan, pemilik warung kopi.

“Abahnya dulu itu salah satu Kiai penggembleng kanuragan laskar rakyat yang berperang melawan para penjajah. Nah, pondok Pringkuning itu sebagai pusat latihannya.” Lek Jo begitu gamblang menerangkan karena ia adalah alumni pesantren ketika masih di asuh oleh Kiai Ridwan dulu.

Dari sebuah fakta menyebutkan. Jika diruntut, nasab keturunan keluarga Kiai Ridwan, akan sampai pada keturunan ke sekian dari tokoh yang menjadi sentral pada jaman kerajaan islam setelah Demak Bintara berkuasa. Hal ini yang membuat orang-orang sangat hormat dan segan kepada keluarga ndalem. Selain karena tersohor kealiman ilmunya juga karena masih memiliki trah darah biru.

***

Sirri Gus SabriHari itu keluarga besar pondok pesantren Pringkuning punya gawe. Haul yang ketujuh belas almaghfurlah Kiai Ridwan Sholeh, pendiri pesantren, akan dilaksanakan. Sejak jauh-jauh hari semua telah dipersiapkan. Para abdi ndalem dan santri semua terlibat dalam kepanitiaan. Termasuk yang paling sibuk adalah Kang Parmin. Bisa dikatakan ia adalah abdi ndalem yang paling senior di antara yang lain. Kang Parmin mendapat mandat dari Kiai Mus sebagai ketua panitia. Meskipun tiap tahun acara haul ini diadakan, kabarnya kali ini acara haul akan dihelat lebih besar-besaran. Pasalnya ada donatur dari para pejabat penting di negeri ini yang akan membantu membiayai acara.

Biasanya, pada saat seperti ini, putra putri dari Kiai Ridwan Sholeh akan hadir semua. Putra sulung Kiai Ridwan, yaitu Kiai Ahmad sudah datang tadi pagi. Beliau menjadi pengasuh di salah satu pesantren yang berada di pesisir daerah Jawa Tengah. Sedangkan Ibu Nyai Nuriyah bahkan sudah datang dari kemarin bersama suaminya, Kiai Basyuni yang mengasuh pesantren di daerah Madura. Putra ketiga Kyai Ridwan adalah Kiai Mustofa yang mewarisi pesantren Pringkuning peninggalan ayahandanya.

Acara haul sudah dimulai sekitar jam delapan malam. Namun ada yang kurang. Bukan karena jumlah hadirin yang sedikit. Bukan. Bahkan panitia kewalahan menyediakan akomodasi untuk tamu undangan yang membludak. Kang Parmin sebagai penanggung jawab acara pun merasakan ada yang belum lengkap. Iya. Gus Sabri. Seorang yang fenomenal ini tidak terlihat sama sekali di acara.

Tengah malam, acara barulah purna. Selepas acara, nampaknya sesuai perkiraan Kang Parmin. Ia mendapat perintah langsung dari Kiai Mustofa untuk mencari keberadaan Gus Sabri. Tengah malam itu juga Kang Parmin segera melaksanakan dawuh untuk mencari Gus Sabri. Hampir di tiap sudut pondok sudah diperiksanya. Di gubuk sawah tempat yang biasanya dipakai Gus Sabri mujahadah malam juga kosong tidak berpenghuni. Kang Parmin mencari Gus Sabri hingga ke perkampungan warga. Hasilnya juga nihil. Kang Parmin nyaris putus asa.

Malam terus beranjak. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Kang Parmin masih bertahan di jalanan. Tiba-tiba ia seperti mendapat ilham. Nalurinya menuntun Kang Parmin pada pesarean keluarga ndalem Kiai Ridwan berada di sebelah utara pos jaga keamanan pesantren. Biasanya Gus Sabri selain bermalam di gubuk persawahan, beliau juga sering berada di pesarean. Tanpa berpikir panjang, Kang Parmin segera meluncur ke tempat yang ia perkirakan tersebut.

Area pesarean tampak sepi. Hanya suara gemerisik serangga malam yang bersahutan memecah keheningan. Cahaya bulan sempurna bersinar. Sorotnya menembus hingga ke sebuah cungkup makam. Kang Parmin tertegun melihat seseorang tersedu di sana. Dialah Gus Sabri. Beliau berpakaian serba putih dan tidak nampak seperti biasanya. Gus Sabri terlihat sedang duduk bertafakur di depan pesarean almarhum Kiai Ridwan. Kang Parmin belum berani memanggil. Ia hanya berdiri di belakang Gus Sabri dengan menyimpan serentetan pertanyaan. Namun seperti sudah mengetahui siapa yang dating, Gus Sabri menyapa Kang parmin.

“Min, kamu nanti bilang sama Kiai Mus. Saya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikawatirkan.”

“Engge, Gus,” Kang Parmin menyahut singkat.

“Kamu tahu, Min, mengapa aku tidak bisa ikut menghadiri acara haul di pesantren?” Gus Sabri seperti sudah tahu apa yang menjadi pertanyaan Kang Parmin.

“Mboten semerap, Gus,” jawab Kang Parmin singkat.

“Karena tamu-tamu dari kota besar itu lho, Min. Yang duduk di barisan depan, berjas dan berdasi,” terang Gus Sabri.

“Oh…Mereka para donatur, Gus. Orang penting dari kota besar katanya. Ada apa dengan mereka, Gus?” tanya Kang Parmin.

“Awalnya aku berniat hadir pada acara tadi malam, Min. Namun aku urungkan. Kamu tahu, Min? Aku melihat hampir semua tamu itu, meskipun tidak semuanya, yang katamu tadi orang penting itu, semua berkepala anjing. Menyeringai dengan liur yang berseleweran menetes dari mulut mereka. Seketika juga, aku pergi menjauh, Min. Tak sudi aku berada bersama orang-orang seperti itu.” Gus Sabri nampak serius bercerita.

Kang parmin tercengang mendengar cerita Gus Sabri. Ia jadi teringat, di salah satu media memberitakan ihwal tentang kasus-kasus yang menyerempet para kaum elit tersebut. Namun ujung-ujungnya ketika diproses, mereka masih bisa lolos dari jerat hukum. Kang Parmin percaya bahwa penglihatan Gus Sabri benar adanya. Memang di dunia ini ada hal lain yang tidak bisa dinalar, termasuk kelebihan yang dimiliki Gus Sabri.

“Sudah, Min. Bilang sama Kiai Mus. Untuk sementara ini aku akan pergi. Ke mana kakiku akan melangkah, biarlah mengikuti kata hati. Nanti jika pesantren kembali bercahaya. Aku akan kembali,” ucap Gus Sabri.

Kang Parmin mengangguk dan hanya bisa diam. Sebuah pelajaran amat berharga ia dapatkan. Setelah pamit undur diri, Kang Parmin segera kembali ke pesantren. Dengan perasaan yang berkecamuk di dadanya. Ia memutuskan akan memberanikan diri menyampaikan cerita dari Gus Sabri pada Kiai Mus. Kang Parmin yakin, Kiai akan dengan sangat arif menanggapi permasalahan ini. Dari kejadian ini, Allah telah membuka setitik rahasia yang tersembunyi pada orang-orang yang berhati putih seperti Gus Sabri. Seorang yang punya tingkat keikhlasan dan ketawadhuan yang benar-benar murni. Kelebihan yang beliau miliki sejatinya adalah titipan-Nya. Menjadi sebuah karunia atau ujian? Tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Sampai cerita ini ditulis, Gus Sabri belum pernah sekalipun tampak kembali ke pesantren. Lalu, di manakah beliau berada? Wallahu a’lam bisshowab.

Gresik, Agustus 2019


Jadid Al Farisy lahir di desa Kendal kecamatan Sekaran pada tahun Sabda Pujangga Kusumaning Bumi. Saat ini masih aktif sebagai pendidik di SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan dan MIMA NU Kendal Sekaran. Karyanya berupa cerpen dan puisinya bisa dijumpai dalam antologi bersama Literacy Institute Bocah Luar Pagar, Ini Hari Masjid Tumbuh di Kepala, Hikayat Daun yang Jatuh. Selain itu karyanya juga terantologikan dalam Muhasabah Warna, sebuah antologi puisi bersama Lesbumi PC NU Babat. Sedangkan cerpen tunggalnya yang telah terbit adalah Kopi Kang Santri. Aktif dalam komunitas penggiat literasi Lamongan (Literacy Institute of Lamongan). – Republika

The post Sirri Gus Sabri appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Senin, 09 September 2019

Lelaki Berdasi


KAMU harus menjadi manusia berdasi! Agar hidupmu kelak tenteram dan menyenangkan,” kata seorang ayah kepada anaknya.

Semenjak pertaniannya gagal, kemudian ditinggal istrinya, sosok lelaki menginjak kepala dua itu memang sering merenung. Setiap harinya hanya dihabiskan dengan hal-hal yang tidak mengenakkan untuk di pandang. Pagi minum kopi, menjelang siang murung di dalam kamar, dan sesekali menangis dengan sendirinya. “Ada apa dengan tanah peninggalan ayahku,” seperti itulah ia mengeluh sambil meneteskan air matanya.

Memang benar, tanah yang gagal panen itu peninggalan keluarga satu-satunya. Tanah yang dulunya subur dan selalu mencukupi bahan pangan untuk keluarga, sekarang menjadi bahan perbincangan banyak warga. Terlebih, dirinya senantiasa murung akan kegagalannya tersebut.

“Kasihan Pak Sarman, semenjak panennya gagal ia jadi kehilangan senyum ramahnya,” kata Huda yang sudah menenteng cangkul untuk pergi ke sawah.

“Gimana nggak linglung, panennya gagal langsung ditinggal istrinya, belum lagi ia memiliki anak yang masih sekolah,” kata Munaji dengan nada kasihan.

***
Suatu hari, ketika ia sedang disibukkan mencari sampah-sampah yang bisa dimanfaatkan, ia melihat banyak sekali orang-orang berdasi melintas. Kemudian ia duduk dan termenung memandangi orang berdasi tersebut. Mereka berlalu lalang masuk ke dalam gedung satu dan gedung lainnya. Dalam batinnya ia mengatakan, “Apakah seperti ini kesuksesan yang diceritakan oleh ayah, tetapi mengapa mereka tidak ada yang terlihat bahagia. Bahkan wajahnya pun terlihat murung dan membosankan.”
Dalam diamnya, ia terbayang sosok ibunya yang telah tega meninggalkan dirinya. Sosok yang pernah mengajarinya untuk menjadi manusia yang bisa berguna bagi orang lain. Meskipun begitu, kepergian yang dilakukan oleh ibunya memang tidak sepenuhnya salah. Karena ia hanya ingin mencari kebahagiaan bersama dengan orangorang yang lebih baik dari ayahnya, yaitu bersama dengan orang berdasi.

“Perjalanan masih panjang, kamu harus menjadi orang yang berdasi Nak!” kata ayahnya.

“Intinya jangan menjadi petani, kamu bisa menjadi apa saja Nak, asalkan jangan menjadi Petani.”
Setelah itu keduanya terdiam, kemudian bapaknya pergi. Setelah kepergian bapaknya, anaknya pun merasa menyesal terhadap tindakan yang dilakukan. “Tidak semestinya seorang anak membantah ucapan orangtuanya,” gumamnya.

***
Lelaki BerdasiDengan berjalannya waktu, setahun sebelum ayahnya meninggal, akhirnya ia menjadi seorang lelaki yang berdasi. Lelaki yang diinginkan bapaknya. Dengan keberhasilan inilah, senyum kebahagiaan terpancar dari raut wajah bapaknya. Senyum yang sempat hilang dengan begitu lamanya, akhirnya terhapuskan dengan keberhasilan anaknya yang berpakaian dasi, dan berada di dalam gedung yang terlihat bagus dan menjulang tinggi, yang kemudian menjadi buah bibir untuk warga-warga di sekitar.

Sesuai dengan tradisi desanya, hajatan dilaksanakan dengan mengundang seluruh penduduk. Keramaian serta kebahagiaan Pak Sarman terpecah dalam perbincangan dengan warga. Sedangkan anaknya tersenyum dalam kesedihan. Sebab, sejatinya bukan ini yang ia inginkan. Ia hanya ingin menjadi petani, agar bisa hidup dan menghidupi orang lain dengan hasil panennya.

Setelah kepergian bapaknya, ia benar-benar kesepian. Gelar sebagai manusia yang berdasi seakan tidak berguna lagi. Kebahagiaannya luntur bersama dengan kepergian bapaknya. Senyum yang sempat terlihat setahun terakhir, menjadi bukti, bahwa perpisahan memang menyakitkan. Tetapi itu selalu terjadi dalam diri setiap manusia.

***
Sejajar dengan garis kehidupan, semua akan berjalan sesuai dengan alur. Setiap kebaikan pasti menemukan kebaikannya, dan usaha tidak akan membiarkan seseorang terpuruk pada keadaan. Kesepian yang pernah dialami oleh seorang anak lelaki yang selalu termenung, sekarang sudah menjadi manusia yang berdasi, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh ayahnya.

Dan benar adanya, bahwa orang yang berdasi memang menemukan kemakmuran, tetapi ia selalu kekurangan asupan kebahagiaan. Kesepian selalu menyelimuti dirinya. Kerinduan terhadap kasih sayang dari bapak dan ibunya senantiasa menghantui lewat mimpinya. Hingga ia tidak tau lagi bagaimana menghilangkan kesepian dan kerinduan kecuali dengan kematian.

Ya, lelaki berdasi yang dicita-citakan oleh seorang bapaknya mati mengenaskan. Ia termakan oleh kesepian dan digerogoti kerinduan dalam hingga akhir hayatnya.

Suroso, lahir di Banyurip desa terpencil di Kabupaten Rembang. – Kedaulatan Rakyat
The post Lelaki Berdasi appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Teo Berubah Jadi Bebek


Teo berubah jadi bebek. Suatu malam, listrik padam dan angin bertiup kencang. Jendela serta pintu yang ditutup rapat berderak-derak. Di ruangan cuma ada aku dan Teo. Kami menyalakan lilin. Beberapa kali api dari korek kayu tak bisa menyala lama. Desakan angin terlampau kuat hingga menembus celah-celah jendela.

Hanya setelah kulindungi dengan kelima jari, api bisa menyala dan asap berpilin seperti benang halus yang sebentar kemudian pupus di udara. Teo mendekatkan sumbu lilin pada api. Ujung sumbu itu menyentuh api dan korek segera padam seakan mengerti tugasnya hanya memindahkan nyala.
Teo meletakkan lilin di atas alas besi mirip mangkuk nasi. Kami diam sebentar, berpikir, bisa jadi angin kembali membuat nyala api buyar. Pucuk api memang bergoyang-goyang, tapi tak sampai padam. Dan setelah beberapa saat, Teo berkata, ”Siapa yang menjaga?” Aku mengangkat jari telunjuk seperti murid sekolah dasar hendak menjawab pertanyaan.

Teo menggerutu, ”Kau yang mengusulkan ini, harusnya aku yang angkat jari.” ”Tapi kau yang bertanya, tak mungkin kau yang menjawab juga. Lagipula ini masalahmu,” balasku. Teo terdiam sejenak, sebelum berucap, ”Baiklah, belum tentu juga mantranya bekerjaƖ.” Keputusan sudah bulat. Teo harus sepakat. Aku bisa lihat wajahnya mengeras. ”Ayo, cepat!” seruku dengan suara sedikit kubuat-buat.

Teo menarik napas panjang, lalu memejam. Aku mendengar Teo merapal mantra. Aku tahu mantra itu sebab aku yang memberi beberapa hari lalu. Mantra yang bisa membuatmu berubah jadi apa yang kau mau. Seorang lelaki tua memberiku mantra itu ketika secara tak sengaja aku bertemu dengannya.
Waktu itu hari Kamis, menjelang magrib, hujan turun demikian bengis. Aku sedang berjalan pulang dan merasa harus menepi, kaki hampir keram dan badan seperti kapal akan karam. Jarum air menusuk-nusuk kepala dan kulit. Jalanan sepi seakan orang-orang tak berani keluar lantaran takut penyakit.

Sebuah bangunan kayu di tepi jalan terlihat cukup rindang untuk kujadikan tempat berteduh. Hanya ada seorang lelaki di situ, bersedakap menahan dingin. Tak ada kendaraan terparkir di dekatnya. Lelaki itu pasti berjalan kaki, pikirku. Aku tersenyum padanya sembari mengibas-ngibaskan air dari baju. ”Deras sekali hujannya,” ucapku. Dia tak menanggapi. Bunyi jatuhnya air demikian keras, hingga wajar bila dia tak mendengar.

Aku perhatikan sekitar dan mengira- ngira untuk apa bangunan ini didirikan. Kecuali atap, seluruh bagian bangunan terbuat dari kayu. Ada lima tiang dan beberapa palang, menopang asbes yang disusun sebagai atap. Tak ada tanda apa-apa selain itu. Di tiang-tiang kayu memang ada gurat tulisan, macam-macam isinya, tapi yang dominan nama-nama orang, juga sketsa jantung tertancap panah.
Si lelaki tua menoleh padaku dan berkata, ”Nak, saya mau minta sedikit bantuanmu.” Lelaki ini lebih tua dari ayahku. Kukira dia lebih pantas menjadi kakekku. Tampaknya dia suka mengunyah sirih, mulutnya merah dan tiba-tiba kubayangkan dia seperti vampir yang suka mengisap darah.

Tapi segera aku berseru, ”Apa yang bisa saya bantu?” Dia mengeluarkan bungkusan dari gulungan sarung. Dari bungkusan itu dia keluarkan tembakau, korek kayu, dan sebatang lilin yang tinggal setengah. Setelah memisahkan lilin dan korek, dia masukkan lagi tembakau ke dalam gulungan sarung. ”Saya harus segera sampai rumah.

Tapi seperti bisa dilihat, hujan kelihatannya masih akan lama. Saya mau menyalakan lilin, bisakah anak bantu saya menjaga nyalanya?” Aku bingung. Kusangka kakek itu pasti sudah linglung. Tapi tanpa menunggu jawaban, dia minta aku memegang lilin. ”Lindungi dengan tangan. Hujan memang deras, tapi kelihatannya angin tak begitu keras,” katanya. Setelah aku bersiap-siap, dia segera menggesek batang korek.

Api menyala sebentar, lalu padam. Berkali-kali dia mencoba, tapi sia-sia. Aku merapat lebih ke dalam, bersandar ke tiang tengah. Di belakangku sebatang pohon menjulang. Angin takkan menjangkau dari belakang, dan aku bisa melindungi nyala api lebih gampang. Akhirnya api menyala, pindah dari korek ke sumbu lilin. Si kakek lega, dia usapkan kedua tangan ke kain sarung.
” Nak, sebenarnya saya jarang melakukan ini. Hanya saat-saat terpaksa saja. Saya tak bisa melakukan sendiri. Karena anak sudah membantu, nanti saya beri imbalan. Sekarang, tolong jaga nyala lilin ini sampai lilinnya hilang.” Aku tak tahu mesti berkata apa. Tugas menjaga nyala lilin serasa tugas menjaga seluruh semesta.

Perasaan tegang menjalar di badan. Lelaki tua itu memejamkan mata, komat-kamit, lalu dengan begitu saja tubuhnya lenyap. Aku terkesiap. Di depanku sekarang berdiri seekor burung. Tak pernah kulihat burung seperti itu. Wujudnya sebesar kalkun, tapi seluruh bulunya hitam pekat. Kakinya panjang dengan selaput lembut dan kelihatan gampang robek sebagaimana selaput di kaki bebek.
Burung itu menjulurkan kepala, paruhnya tampak terus-terusan meludahkan cairan merah. Burung itu melihat padaku dan mendengking serupa anjing. Seperti diingatkan, kulindungi nyala lilin dengan lebih hati-hati. Burung itu mengambil ancang-ancang, lalu sayapnya mengepak dan tubuhnya pelanpelan terangkat ke udara.

Begitu sampai di ketinggian tertentu, burung itu langsung melesat seperti pesawat. Aku masih tak bisa berpikir jernih, daya tangkapku kacau seakan-akan terpuruk dalam mimpi buruk. Sampai tak kusadari lilin di tanganku sudah lenyap berganti segulung sobekan kain kumal dan lembap.

Kubuka gulungan kain. Ada lima baris tulisan di atasnya. Kubaca baris per baris dan setiap selesai baris-baris itu langsung terhapus. Tanpa bermaksud menghafal, tulisan itu menyumpal pikiran dan tak bisa hilang seolah bakal kekal. Berpekan-pekan setelah peristiwa itu, mantra kakek tua terus terngiang-ngiang di telinga. Seperti ada desakan mencoba. Makin lama kupikir kian kuat desakan itu.
Tapi tak ada situasi bisa memaksa. Sampai aku bertemu Teo. Teo teman masa kecilku. Kami tumbuh bersama, meski nasib kami berbeda. Sudah lama kami tak bersua, semenjak Teo pergi ke lain provinsi untuk bekerja di perusahaan tambang. Beberapa waktu lalu Teo kembali membawa persoalan: ia melarikan diri, meninggalkan tumpukan utang. Tentu aku tak bisa mengatasi persoalannya.

Seperti kubilang, nasib kami berbeda; ia pernah jadi orang kaya, aku masih sama saja sejak remaja. Kenyataan itu membuatku sedikit membenci Teo. Maksudku, seharusnya kami tetap bersama, sama-sama susah dan sebaliknya sama-sama senang. Pernah perasaan terkhianati muncul dalam hatiku ketika Teo hendak pergi ke lain provinsi.

Pada masa kecil kami tergolong bocah nakal yang acap berbuat kriminal. Mencuri dagangan orang di pasar, menggedor pintu rumah di pinggir jalan, curang ketika bermain dengan kawankawan, main domino dengan uang hasil curian, sering bolos sekolah dan melakukan hal-hal yang membuat guru marah.

Itu kenakalankenakalan kecil yang ketika kami beranjak dewasa menguap begitu saja. Namun pertemuan dengan Teo seperti membangkitkan lagi kenangan- kenangan itu. Ketika Teo menghadapi masalah dan sebagai teman aku mesti membantu, mantra kakek tua seperti menemukan waktu untuk bekerja.

Kami memilih rumah kosong ini, bukan hanya karena aku sering kumpul di sini bersama teman-temanku; minum-minum, mengisap lintingan ganja, atau merencanakan beberapa kejahatan. Namun juga lantaran tempat ini jarang disambangi orang lain. Rumah ini dianggap angker. Orang sering melihat macammacam penampakan. Juga suara-suara aneh.

Paling sering suara-suara binatang yang tidak mungkin ada di sekitar sini; harimau, gajah, atau suara yang diduga berasal dari binatang yang tak diketahui namanya. Namun aku dan temantemanku tak pernah melihat atau mendengar apa pun. Kami, tentu saja, tak menceritakan itu pada orang-orang.

Teo Berubah Jadi BebekKadang malah kami mengaku melihat hal-hal mengerikan di rumah ini, supaya mereka makin yakin dan kami bisa bebas menggunakan rumah ini sebagai tempat berkumpul. Di rumah ini, setelah membaca mantra, Teo berubah jadi bebek. Aku tak tahu kenapa bisa begitu.

Kukira ia akan berubah jadi sosok tak terlihat, hingga bisa mudah masuk ke rumah siapa saja untuk mengambil uang mereka, seperti yang dia inginkan. Angin yang tadi membuat pintu dan jendela berderak-derak, kini berkurang. Hujan turun, tidak begitu lebat, dan kudengar di luar langkah-langkah orang berlari mendekat.

Teo yang sudah jadi bebek berkwek-kwek. Aku bimbang. Kalau lilin kupadamkan, Teo akan selamanya terjebak dalam wujud bebek. Pintu digedor. Seseorang memanggil namaku, disusul seseorang yang lain. Itu teman-teman yang sering mabuk bersamaku.

Karena tak ada jawaban, salah satu di antara mereka berjalan ke arah jendela yang langsung menghadap ruang tempat aku dan Teo berada. Kulihat wajahnya menempel di kaca, menengok ke dalam. Tiba-tiba listrik menyala. Teman di luar melihat seekor bebek dalam ruang yang terang benderang.

Dengan girang, seraya menggedor-gedor kaca, ia berkata, ”Waaah, makan bebek panggang kita. Ini aku sudah bawa banyak minuman!” Teo tampak panic. Sepertinya ia mendengar kata-kata temanku itu. Dalam keadaan begini, ide itu malah terdengar cemerlang. Memang sudah lama aku tidak makan bebek panggang. (28)

Kekalik, 17 April 2019


Kiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Tokoh Seni Tempo 2018 bidang puisi untuk buku Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018) Suara Merdeka

The post Teo Berubah Jadi Bebek appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Juragan Empang


SEBELUM kumulai cerita ini, sebaiknya Kamu simak baik-baik syair lagu dangdut di bawah ini. Sengaja kuterjemahkan untuk seorang pemalas sepertimu. Tidak perlu? Baik, bila kamu punya opsi terjemahan lebih baik, silakan. Tapi, demi keseimbangan jalan cerita ini, kusarankan Kamu mendengarkan lagu Juragan Empang. Dengan begitu, Kamu bisa dengan mudah mendalami dua tokoh dalam cerita ini. Selamat bergoyang!

Casta

Dasarnya memang nasibku beruntung. Tanpa diminta, Kaji Daspan datang ke rumah dan memintaku untuk bekerja di empang miliknya. Mendapat nasib baik rasa-rasanya seperti ketiban lintang di malam buta. Lebih-lebih orang yang bekerja serabutan sepertiku. Pemasukan datangnya untung-untungan.

Jika panen tiba, aku bekerja sebagai buruh tani. Lepas menjadi buruh tani, jadi buruh bangunan. Lepas jadi buruh bangunan, menganggur. Lepas menganggur, menganggur lagi. Lepas menganggur lagi, menganggur lagi, lagi. Lepas menganggur lagi, menganggur lagi, lagi, dan lagi. Sebab, bekerja sebagai buruh –buruh bangunan atau buruh tani– di kampungku sifatnya musiman. Tidak tentu. Jadi, bagiku mendapat pekerjaan di empang Kaji Daspan merupakan keberuntungan untukku, juga keluargaku. Aku tidak perlu seperti Caswani yang berpura-pura sakit hanya untuk menyentuh hati anaknya supaya berangkat menjadi TKW di Taiwan. Anakku juga tidak perlu khawatir seperti Wartini yang nelembuk ngalor-ngidul untuk membiayai orang tuanya yang mulutnya mirip kaleng rombeng itu.

Aku tidak perlu khawatir dengan nasib buruk yang jatuh pada kami-kami ini, yang hidupnya setengah-setengah: hidup segan, mati pun enggan.

Cara-cara yang kusebutkan tadi banyak dilakukan oleh orang tua di kampung kami, yang tentu dikarenakan nasib menekan kami. Menekan jika ada tetangga sedang menceritakan motor barunya. Menekan jika ada yang pamer gelang emas –kemudian, istri-istri ngoceh sepanjang hari meminta nasib yang sama. Menekan jika ada yang mempersolek rumahnya. Menekan jika ada kabar baik datang pada kondisi yang tidak baik. Dan sialnya, kabar di kampungku cepat sekali tumbuh-menjalar. Seperti lumut di musim hujan dan siapa pun bisa terjatuh karena mulut lumut yang licin itu.

Tapi, kemudian di malam yang biasa, Cartini, rabi–ku(1) yang montok itu, menolak diajak rabi(2). Ini mula-mula terjadi empat hari lalu ketika kuremas bokongnya yang semok itu –yang jika terkena getaran mirip agar-agar, dia malah menepisnya sambil terus memunggungiku. Gejala semacam ini biasanya istriku lagi kedatangan tamu bulanan, dan biasanya disisipi suara manja, ’’Ihh… lagi tanggal abang kih.’’(3) Suara manjanya itulah yang sebenarnya aku tunggu dari mulutnya yang mirip ikan gurameh. Tetapi, berkali-kali aku remas bokongnya tetap saja suara manjanya tak keluar. Aku pikir mungkin dia sudah kelewat ngantuk. Jadi, malam itu terpaksa aku tidur sambil menahan berahi.
Lebih dari seminggu, rabi-ku yang montok itu masih tetap tidak mau diajak rabi. Bagiku, ini sudah tidak biasa. Aku tidak mau hal ini kuceritakan kepada teman-temanku. Aku sudah menduga bagaimana jawaban mereka. Misalnya, begini: mungkin istrimu suka sama laki-laki lain. Atau begini: istrimu marah mungkin karena tidak dibelikan kalung emas. Atau yang paling singkat tapi menyakitkan: pasti selingkuh. Dugaan-dugaan semacam itu tidak mau aku dengar dari teman-temanku. Jadi, aku tidak perlu menceritakannya daripada hal tersebut mengganggu pikiran dan perasaanku. Lebih baik kutunggu saja sampai sebulan.

Menunggu sebulan dengan pikiran yang menggantung itu sangat mengganggu dan menyiksa batin. Terlebih sikap istriku tidak seperti biasanya. Tidak penting aku jelaskan sikap yang tidak biasanya itu seperti apa. Hal tersebut sangat mudah dibayangkan. Meskipun aku sendiri tidak mudah membayangkan sikap istriku yang tidak biasanya. Aku hanya sanggup membayangkan sikap istriku yang biasanya. Biasanya dia suka sekali bercerita tentang Sini yang baru saja membeli gelang emas, Sini yang menceritakan bagaimana Mukimin payah di ranjang sejak kecelakaan motor menimpanya. Tidak seperti waktu pacaran dulu, begitu katanya.

Setelah bercerita, kemudian dia mengomentarinya sendiri. Sini itu tak tahu malu, katanya. Sebelum menikah dengan Mukimin dia bercerita pernah bercinta dengan anaknya Kaji Daspan, Tarmadi, dan istriku meyakini anak yang sekarang diasuh oleh Mukimin adalah anaknya Tarmadi. Cerita-ceritanya itu seperti dongeng menjelang tidur. Kadang sebelum cerita selesai, aku ngorok lebih dulu.

Kemudian, pagi-pagi dia ngomel-ngomel tidak keruan, dan malamnya kami bercinta dengan sengit. Tapi, sekarang istriku tidak seperti biasanya.

Lebih dari sebulan istriku masih menolak diajak bercinta. Sikapnya masih sama. Dia lebih sering melamun sendiri. Dan aku tidak menduga sama sekali kalau dia sedang memikirkan sesuatu. Aku tidak mempunyai begitu banyak waktu sejak bekerja di empang Kaji Daspan. Kadang pulang magrib, kadang menginap, tergantung perintah Kaji Daspan. Jadi, hal-hal keseharian yang menimpa istriku aku tak tahu. Mungkin dia butuh dibelikan gelang emas setelah hatinya terbakar mendengar tetangganya pamer gelang emas. Kupikir gejala semacam itu sangat biasa. Jadi, siang itu aku meminta izin Kaji Daspan untuk pergi ke toko emas sebentar.

’’Mau beli emas buat siapa?”

’’Buat istriku, Ji.”

“Sudah, tidak usah repot-repot. Kamu urus empang saja, nanti aku yang belikan,” katanya dengan senyum yang mengembang. Senyum yang menenangkan.

Sorenya Kaji Daspan kembali datang menemuiku. Seperti biasa dia tersenyum dan mendekatiku.
’’Nih, sekarang kamu pulang sana. Kasih ini untuk istrimu,’’ ujarnya sambil memberikan gelang emas yang baru dibelinya.

’’Berapa, Ji?’’

’’Berapa?’’

’’Berapa saya harus menggantinya?”

’’Tidak usah,’’ jawabnya, lantas tertawa kecil.

Aku pulang dengan wajah semringah. Sambil diam-diam masuk rumah, aku menyelinap ke dalam kamar dan menaruh gelang emas di atas meja riasnya. Aku ingin tahu bagaimana reaksi istriku. Tentu saja dia akan tersenyum dan malamnya pasti akan menjadi malam yang panjang untukku. Istriku tak akan lagi cemberut. Aku bisa membayangkan mulutnya yang mirip ikan gurameh itu mengembang, lalu pelan-pelan mencaplok mulutku. Dan betapa pantatnya yang sentausa itu benar-benar membuatku selalu panas di ranjang.

Tapi, apa yang kudapati tidak seperti yang kubayangkan. Malam ketika aku terbangun di kasur depan tipi, aku terperanjat melihat jarum jam menunjuk pukul satu dini hari. Aku tidak tahu persis kapan aku tertidur. Yang kutahu, selepas magrib aku menonton sinetron Berandal Tobat yang dibintangi Sasha Syakila Micin dan Ray Cho.

Gelang emas yang kutaruh di meja rias tidak berubah posisinya. Kulihat istriku tidur menghadap tembok, padahal aku tahu dia paling tidak suka tidur menghadap tembok. Dulu aku sempat menanyainya kenapa dia tidak suka tidur menghadap tembok.

’’Sehari-hari aku melihat tembok. Masa tidur pun melihat tembok juga.’’

’’Kalau kamu di luar rumah, kan tidak melihat tembok.’’

“Kamu pikir rumah-rumah itu bukan tembok?”

’’Kalau begitu, ke sawah sana. Di sana tidak ada tembok.’’

“Memangnya musim tandur, ada juga kalau kemarau begini lihat orang berak.”

’’Daripada melihat tembok?”

Lalu dia meremas kemaluanku dan aku menciumnya. Kehangatan semacam ini sudah hilang hampir sebulan. Dan aku tahu, istriku masih belum tidur. Ini kutahu dari cara bernapasnya. Biasanya istriku kalau tidur perutnya kembang-kempis secara teratur. Tapi apa yang kulihat sekarang lain sama sekali. Kulihat punggungnya naik-turun, seperti menahan muatan yang berat. Persis ketika dulu dia cemburu kepada Nok Iti –penyanyi dangdut yang konon digadang-gadang sebagai pengganti Diva Fiesta. Dia cemburu lantaran aku menyuruhnya bergoyang seperti Nok Iti sebelum kami memulai bercinta.
Setelah kejadian itu, selama tiga hari istriku tidur sambil menghadap tembok, persis dengan sekarang ini.

’’Kamu kenapa, Ni? Marah sama aku?”

Aku tahu persis jika istriku sedang marah dia tidak langsung menjawab. Biasanya dia akan menjawab jika aku sudah bertanya lebih dari tiga kali. Maka untuk mendapat jawaban cepat, biasanya aku langsung mengulang sampai tiga kali dengan pertanyaan yang sama. Dan ketika pertanyaan itu sudah lebih dari tiga kali, dipastikan akan keluar jawaban dari mulutnya yang mirip ikan gurameh.

’’Aku mau cerai!’’

Dan itulah jawabannya. Sebenarnya aku tidak tahu persis kenapa istriku meminta cerai. Sebab, selama kami berkeluarga tidak ada hambatan yang berarti dalam rumah tangga kami. Apa yang menjadi berat dalam perceraian ini bagiku adalah anak semata wayang kami. Dia sudah menginjak kelas VIII SMP. Tapi, kenapa kemudian istriku tiba-tiba meminta cerai. Dugaan pertamaku barangkali sama dengan dugaan setiap orang pada umumnya.

Cartini

Juragan EmpangMungkin ini salahku. Tapi, yang kulakukan ini baik untuk keluargaku, lebih-lebih anakku. Barangkali apa yang setiap orang pikirkan mengenai perceraianku, akan sama. Dan yang paling menyedihkan dari semua itu adalah aku, sebagai istri. Orang akan mengira bahwa aku istri tidak tahu diri. Punya suami yang diberi penghasilan tinggi oleh orang sebaik Kaji Daspan dan diberi kecukupan hidup yang belum tentu setiap orang mendapatkannya. Tentu setiap orang bebas berpendapat. Siapa yang sanggup mencegah mulut setiap orang. Tidak ada, bahkan presiden pun tak akan mampu.
Mungkin ini salahku, tapi bagiku ini baik untuk anakku. Aku menyadari memang sejak suamiku bekerja di empang Kaji Daspan, hidup kami kecukupan. Aku mensyukuri akan hal itu. Lebih dari itu malah. Tapi, hal itu tidak akan cukup untuk menutup kejadian yang akan aku ceritakan. Kejadian ini dimulai ketika anakku ngotot minta dibelikan sepeda motor. Katanya malu jika terus menerus nebeng ke sekolah sama Wartiah.

’’Tidak ada uang mau beli pakai apa, Nok?”

’’Beli pakai apa sajalah, pakai daun kalau bisa juga tidak apa-apa,’’ pangkasnya dengan suara serau.
’’Kamu itu aneh-aneh saja. Dipikirnya kita punya pabrik penggilingan uang!’’

Di tengah kami perang mulut, Kaji Daspan muncul di depan pintu –yang sudah terbuka sejak anakku pulang sekolah. Kaji Daspan menatap kami dengan pandangan seolah-olah kami kucing yang kelaparan. Dan anakku terus mengiau sampai laparnya dipenuhi.

’’Ada apa ribut-ribut?”

’’Eh, Wa Kaji. Ini Rasmini minta motor kayak orang punya uang banyak saja. Kalau kayak Wa Kaji sih enak, tinggal gesek.”

’’Kayak babi ngepet dong, tinggal gesek,’’ timpalnya lantas tertawa.

’’Kayak ning tipi-tipi kah, Wa.’’

’’ATM.’’

’’Nah, itu.’’

’’Sudah, sudah, besok uang DP aku yang bayar. Nanti angsuran tiap bulannya tinggal diterusin. Suamimu kan kerja di empangku, cukuplah kalau cuma bayar kredit bulanan.’’

Jawabannya sedikit menenangkanku, tapi juga sekaligus menambah beban baru. Sebab, sebagian gaji bulanan suamiku akan habis hanya untuk bayar angsuran motor. Tapi, untuk menyenangkan anak semata wayang kami, apa boleh buat. Toh uang itu tidak hilang, ada wujudnya.

Tapi, kemudian kesenangan itu tidak berlangsung lama. Sejak kebaikan itu, Kaji Daspan berkali-kali datang ke rumah kami. Kami tidak tahu kalau kebaikan itulah yang akhirnya membuat keadaan menjadi tidak baik. Tentu, kami bersyukur atas kebaikannya. Kami bukan orang yang tidak tahu berterima kasih. Bahkan untuk membayar kebaikan Kaji Daspan, suamiku rela menginap untuk menjaga empangnya. Meski sebelumnya suamiku menolak. Tapi, lantaran tidak enak hati, aku menyetujuinya untuk menginap. Ditambah Kaji Daspan memberikan gaji lebih. Jadi itu lumayan untuk menambah penghasilan bulanan.

Tapi, kemudian kesenangan itu tidak berlangsung lama. Barangkali orang-orang tidak akan tahu keadaan yang sebenarnya di keluarga kami. Bahkan mungkin suamiku sendiri. Sebab, keputusanku ini memang sepihak dan mungkin juga merugikan keluargaku. Tapi, tekanan yang kualami barangkali tak akan menjawab nasihat-nasihat yang mungkin dipikirkan semua orang. Sebab mereka bukan aku, sebab mereka tidak mengalaminya. Maka keputusanku ini mutlak dan aku tidak cukup waktu untuk memikirkan hal yang sebenarnya tidak bisa kuselesaikan dengan bahagia.

Tapi kemudian kesenangan itu tidak berlangsung lama. Sejak pintu kamar anakku setengah terbuka, dan dari kamar itu aku tahu bahwa dunia telah terbuka di depan mataku. Aku merasa jantungku seperti merosot jatuh dari ketinggian dan aku tidak bisa berteriak sambil menahan sakit di ulu hatiku. Kira-kira hampir satu menit aku mematung di depan pintu kamar anakku yang setengah terbuka. Kemudian, dengan langkah yang berat aku pergi ke dalam kamar dan tidur.

Setelah kejadian pintu setengah terbuka itu, aku berharap peristiwa itu tidak terulang. Tetapi, apa yang kupikirkan ternyata salah, hampir tiga kali dalam sepekan aku melihatnya lagi. Perasaan ini aku simpan sendiri. Sampai akhirnya aku tidak tahan dan aku harus mengatakan bahwa aku meminta cerai kepada suamiku. Aku ingin anakku terbebas dari tekanan berahi Kaji Daspan. Aku tidak sampai hati melihat anakku secara berkala disetubuhi Kaji Daspan.

Aku tahu jika orang-orang mengetahui kejadian ini pasti mereka bertanya, kenapa tidak bilang saja sama suami kalau anaknya diperkosa?

Maka, jawaban yang paling tepat adalah bagaimana kalau ternyata suamiku ikut mengamini kejadian ini. ***

Jogja, 2019
Cerpen ini ditujukan untuk Suryana Hafidin di Indramayu.

Keterangan:[1] Istriku
[2] Dalam konteks ini artinya berhubungan badan
[3] Ihh… lagi tanggal merah nih


Kedung Darma Romansha.
Lahir di Indramayu. Kumpulan puisi terbarunya Masa Lalu Terjatuh ke Dalam Senyumanmu (2018). Menulis novel berjudul Telembuk (Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat) yang masuk lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa dan buku rekomendasi Tempo 2017. Sekarang mengelola komunitas Rumah Kami Yogyakarta – Jawa Pos

The post Juragan Empang appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Selasa, 30 Juli 2019

Perempuan Itu Pernah Cantik


PEREMPUAN itu selalu berkata dalam hati, “Aku pernah cantik.”

Di masa silam, sebelum menikah, ia tak pernah membayangkan akan berjibaku dengan tumpukan baju kotor, detergen bubuk yang membuat kulit mengelupas, serta tali jemuran kendur yang terpancang dari batang pohon mangga ke pohon jambu. Ia tak pernah membayangkan akan berjalan di atas tanah becek sisa hujan. Sambil menjinjing bak besar berisi pakaian basah yang beratnya mohon ampun. Dengan sandal jepit kedodoran yang berbunyi telepak-telepok dan memuncratkan lumpur ke betis belakangnya yang dulu pernah begitu ramping.

Kalau sedang jengkel, ia akan menyeret bak cuci berisi pakaian basah itu dari kamar mandi sampai ke bawah pohon mangga. Tak peduli bak plastik itu akan retak atau terbelah dua. Suatu kali itu pernah terjadi. Menyeret bak cuci itu sampai terbelah hingga cucian-cucian yang sudah dibilas itu berbaur dengan tanah. Ia tak memunguti baju-baju yang kembali menjadi kotor itu, alih-alih mengilas-ilasnya di tempat lantaran jengkel. Membuat baju-baju itu berlepotan tanah.

Kejengkelan dan rasa lelah yang sangat membuatnya jadi begitu. Namun, pada akhirnya ia memungutinya juga. Memindahkannya ke bak lain, lantas membilasnya lagi sampai bersih. Itu ia lakukan sambil menangis. Selalu menangis. Wajahnya suram. Dan anak-anak rambut menutupi keningnya yang basah. Ia menyekanya dengan tangan beraroma detergen.

Tak seorang pun mengetahui kemurungan itu, kecuali gadis kecil berusia 4 tahun yang selalu mendekatinya dan bertanya, tapi tidak dengan nada bertanya, “Mama menangis? Mama menangis ya?”
***
Perempuan itu pernah cantik. Di masa silam, sebelum menikah, ia tak pernah membayangkan akan berdiri di depan kompor, sambil melemparkan ikan asin ke dalam wajan yang telah digenangi minyak panas berwarna kehitaman. Mengeluarkan suara jesss… Minyak-minyak itu muncrat ke dinding dapur, lantai, dan dasternya. Dan setelah selesai memasak, ia akan membersihkannya. Semuanya. Aroma ikan asin menguar memenuhi udara. Menempel di dasternya. Di rambutnya. Di sekujur tubuhnya.

Selepas itu, ia akan mencuci cabai, mengupas bawang, dan mengulek sambal di atas cobek. Ia mengulek dengan gerakan berulang seperti orang bergoyang. Betapa semua pekerjaan itu sungguh menjemukan. Jauh dari perangai cantik seorang peragawati.

Bagaimanapun, suaminya harus sarapan di pagi hari, segera, sebelum berangkat kerja. Begitu pula balitanya, yang sangat menggemari ikan asin, juga dirinya sendiri. Suatu kali ia teringat, di masa muda, ia pernah makan di sebuah hotel dengan pisau dan garpu. Serta bunga amarilis dalam gelas besar di tengah meja. Ia duduk menyilangkan kaki sambil berbincang dengan kawan-kawannya yang barangkali sampai detik ini masih cantik, tak seperti dirinya. Ia merindukan makan di tempat seperti itu, dengan hidangan seperti itu, dan berdampingan dengan kawan-kawan seperti itu. Namun, ia tahu, hal semacam itu tak akan pernah terulang dalam hidupnya. Tak akan pernah.

***
Perempuan Itu Pernah CantikSemua orang tahu, perempuan itu memang pernah cantik. Di masa silam, sebelum menikah, ia tak pernah membayangkan akan berhadapan dengan setumpuk piring kotor serta wajan licin berminyak di wastafel tua dan berkerak. Sabun cuci piring berwarna hijau bening itu ia tuang ke dalam mangkuk kecil dengan spons berkerut dan kawat cuci. Ia memeras spons itu dan busa-busa mengembang. Ia menggosok piring-piring dan mangkuk dan wajan dan panci dan sendok, perlahan-lahan.

Sambil memperhatikan jari-jemarinya yang dulu pernah begitu lembut. Dengan kuku-kuku mengilap berkuteks merah menyala.
Kadang kala, saat perkakas dapur itu benar-benar menggunung, ia benar-benar ingin meminum sabun cuci piring berwarna hijau bening beraroma jeruk nipis itu. Meminum semuanya. Tandas. Sampai ia roboh dan menggelinjang dengan busa-busa keluar dari mulutnya. Dan ia tertawa sendiri. Sabun cuci piring bukanlah racun tikus yang bisa membunuh seseorang. Kalaupun ingin mati, ia bisa saja menggantung diri di bawah pohon mangga atau pohon jambu. Namun, ia belum ingin mati. Seberat apa pun hari-harinya, ia belum ingin mati. Ada gadis kecil mungil tak berdosa yang selalu membutuhkannya.

***
Setiap kali mematut diri di muka cermin, perempuan itu kerap menggumam, “Dulu aku pernah cantik.”

Di masa silam, sebelum menikah, ia tak pernah berangan akan mengesot di lantai sambil mengepel bekas pipis anaknya. Rumah itu tak terlalu lebar, tapi balitanya adalah balita normal yang suka ngompol di mana suka. Gemar merontokkan makanan yang dicekalnya. Suka menumpahkan susu dan semacamnya di lantai. Ia tak tahan dengan lantai kotor, yang licin dan berminyak, apalagi bersemut. Maka, tiap kali balitanya membuat kekacauan di atas lantai, ia akan segera mengesot, mengelap ubin-ubin itu menjadi cling.

Kadang ia sangat jengkel pada balitanya itu, ingin memutar waktu, dan memasukkan bocah itu kembali ke dalam perut. Ia merasa begitu sial telah melahirkan seorang bayi. Namun, beberapa menit kemudian, ia benar-benar menyesal telah berpikiran kejam seperti itu. Bahkan, penyesalan seperti itu kerap membuatnya menangis. Sambil menatap wajah balitanya yang tertidur, ia berbisik ke telinga mungil itu, “Maafkan mama, Nak! Maafkan mama, Nak!”

Beberapa kali, ketika ia sangat lelah, dan balitanya kembali membuat ulah, ia sangat ingin meneriaki balita itu tepat di mukanya, lantas menamparnya atau memukul pantatnya atau mencubitnya. Namun, ia tahu, perlakuan-perlakuan semacam itu tak akan pernah membuat balitanya berhenti. Ia hanya balita, yang hanya tahu makan, menangis, serta buang air. Ia bahkan tak tahu apa yang sedang dilakukannya. Sebab, ia hanya balita yang belum memiliki nalar. Karena itu, ia tak pernah melakukan hal-hal kejam semacam itu kepada balitanya. Sebab, ia yakin, setelah melakukan itu, ia pasti akan sangat menyesalinya. Sangat menyesalinya.

Maka, jika ia sangat lelah, dan balitanya tak henti-henti membuat ulah, ia akan berlari ke kamar mandi. Mencelupkan segenap kepalanya ke dalam air dan berteriak sekencang-kencangnya. Rambutnya basah. Dasternya basah. Napasnya megap-megap. Dan ia tak pernah peduli. Seolah sangat tidak masalah kalau daster basah itu akan membuatnya kedinginan, lalu membuatnya sakit, lalu membuatnya mati.

***
“Aku memang pernah cantik.” Selepas mandi sore bersama anaknya, ia akan berdiri di muka cermin. Sambil menunggu suaminya pulang kerja. Ia berlama-lama di muka cermin, mencari-cari jejak kecantikan yang barangkali masih tersisa. Namun sungguh, ia nyaris tak pernah menemukannya. Kulit wajah yang kencang itu telah mengendur. Persis bentuk tubuh yang menggelambir mirip buah pir. Matanya yang dulu binar telah meredup. Dihiasi garis-garis tipis di tiap sudutnya. Rambut yang dulu pekat mengilap dan selalu tampak basah itu kini kusam dan bercabang, bahkan mulai beruban. Ke mana perginya kecantikan masa muda?

Orang mungkin tak ’kan percaya bahwa di masa muda ia pernah menjuarai kontes kecantikan tingkat kota. Tepatnya tiga kali. Ia diundang ke hotel bintang lima berbaur dengan model-model lain dari berbagai kota. Melenggang di atas panggung. Mempertontonkan kecerdasan serta kecantikan luar dalam. Membuat banyak orang terpukau. Ketika itu ia membayangkan akan mendapatkan seorang suami yang tampan dan kaya. Seorang bintang film mungkin. Dan kelak, kalau ia harus punya anak, pembantunya yang akan mengurus dan ia bisa tetap cantik dari waktu ke waktu.

Namun, nasib berkata lain. Ia malah menikah dengan seorang pemuda yang biasa-biasa saja. Tidak tampan, tidak romantis, tidak juga kaya. Berperawakan ceking dan bermuka tirus. Bekerja di sebuah agen asuransi dan kadang-kadang, kalau ada waktu, mengajari anak tetangga mengaji serta berhitung. Kadang dikasih amplop, kadang tidak.

Kadang-kadang ia berpikir bahwa hidupnya seperti mimpi. Bagaimana bisa ia menikah dengan lelaki yang tak pernah ia bayangkan itu. Ia tak tahu apakah ia mencintai suaminya. Yang jelas, ia takut kehilangan lelaki itu. Jika itu yang dinamakan cinta, mungkin ia memang mencintai lelaki itu. Sangat mencintainya. Dan ia sangat menghormati lelaki itu –meski kerap kali ia sangat jengkel padanya. Lelaki yang sehari-hari hidup dengannya, tapi hampir tak memiliki waktu untuknya dan anaknya. Kecuali akhir pekan yang kadang kala masih disita kerja lembur dan semacamnya.

Sesekali ia sangat ingin duduk di dekat lelaki itu sambil bercerita, betapa hari-harinya teramat berat dan melelahkan dan ia sangat butuh sandaran untuk beristirahat. Namun, semua itu tak pernah ia lakukan. Sebab, setiap pulang kerja, mata lelah yang sama ia temukan di mata lelaki itu. Di mata suaminya.

Sebagaimana suaminya, ia tak pernah bertanya apa saja yang sudah dilalui lelaki itu di luar sana. Ia tak tahu, barangkali, setiap pagi dan petang, lelaki itu harus berjibaku dengan asap dan jalanan macet, di atas motor bututnya. Barangkali ia tidak sempat makan siang. Dikepung pekerjaan yang menumpuk. Ditegur atasannya dan seterusnya…

Melihat mata lelah pencari nafkah itu, ia tak sampai hati dan memilih membiarkan lelaki itu beristirahat dengan caranya sebagaimana ia beristirahat dengan caranya sendiri. Biasanya, selepas makan malam, lelaki itu akan bercengkerama di dalam kamar dengan balitanya. Hingga mereka tertidur saling memeluk. Di sela hari-hari yang berat dan melelahkan, detik itulah yang paling indah dan paling ia nanti. Ketika suami dan anaknya tertidur.

Saat demikian, ia akan kembali ke dapur, membersihkan dan mencuci puing-puing sisa makan malam. Sambil memikirkan bahwa sejatinya hidupnya tidak terlalu buruk. Ia yakin ada seseorang di luar sana yang tak memiliki apa pun, hingga barangkali belum makan sesuap nasi pun sampai selarut ini. Setelah pekerjaan-pekerjaan rumah yang hampir tak ada habisnya itu beres, ia masuk ke dalam kamar dengan wajah semringah. Ia menyelimuti suaminya. Membetulkan letak tidur balitanya.
Sebelum benar-benar memejamkan mata, kerap kali ia melihat dirinya di masa lalu tengah terbang di langit-langit kamarnya. Kadang berjalan anggun di udara. Dan selalu ada suara lembut yang berbisik di ambang kesadaran… Kau pernah cantik. Kau memang pernah cantik. ***

Cerita untuk para suami, para istri.
Malang, 2017–2019

Mashdar Zainal. Meluncurkan buku kumpulan cerpen bertajuk Lumpur Tuhan tahun lalu. Lelaki kelahiran Madiun itu suka membaca dan menulis prosa. Tulisannya tepercik di beberapa media. – Jawa Pos

The post Perempuan Itu Pernah Cantik appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Senin, 29 Juli 2019

Mbah Karjo


SETIAP makhluk yang bernyawa pasti akan bersua ajalnya. Manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, semuanya akan meregang nyawa bila jatah usia mereka di dunia ini telah habis. Meski kematian adalah sesuatu yang niscaya, tetap saja selalu menyisakan duka mendalam bagi mereka yang ditinggalkannya. Sebagaimana yang dirasakan mayoritas warga kampung Rejosari hari ini. Mereka masih belum percaya bila Mbah Karjo, sosok yang selama ini dikenal berperilaku baik telah menghadap Ilahi.

Pagi ketika warga yang tengah bersiap dengan aktivitas masing-masing, mereka begitu terkejut saat lelayu atau berita ke – matian menguar dari corong masjid dan musala. Begitu mendengar nama Mbah Karjo disebut, mereka langsung bergeming. Tak percaya bahwa sosok yang selama ini dikenal baik itu telah wafat. Meski usianya sudah sepuh, tahun ini menapaki angka 68, tetap saja mereka masih belum memercayai bila Tuhan telah memanggilnya.

Wariman, pemuda jalanan yang kesehariannya hobi bikin ulah dan mabuk- mabukan, adalah satu dari sekian banyak warga yang merasa kehilangan dengan sosok Mbah Karjo.

Mbah Karjo“Mengapa orang baik seperti Mbah Karjo meninggal lebih dulu? Kenapa tidak aku saja yang bergelimang dosa, ya Allah,” Wariman terisak saat mendengar kabar kematian Mbah Karjo, sosok yang dua hari lalu memergokinya di gardu dan membuatnya tersadar bahwa arak adalah jenis minuman yang pada hari akhir nanti akan mencelakakannya.

Selama ini, telah banyak orang yang menasihati W ariman agar berhenti ma – buk-mabukan. T ermasuk kedua orangtua – nya yang sudah angkat tangan karena nasihatnya hanya masuk telinga kanan dan langsung keluar lewat telinga kiri Wariman. Saat itu ia sedang bersiap me – nenggak botol arak murahan di tangan, tapi urung ketika Mbah Karjo tiba-tiba da – tang mengampiri.

Mulanya W ariman marah besar karena Mbah Karjo mengganggu ritual busuknya itu. Tapi setelah Mbah Karjo menyerahkan uang seratus ribuan dua lembar dan meminta botol minuman itu sebagai gantinya, ia pun lebih memilih uang tersebut. Pikirnya, uang itu bisa untuk beli minuman lebih banyak lagi.

Saat Mbah Karjo melangkah pergi, wajah Wariman mendadak pucat pasi ketika menyaksikan kejadian luar biasa yang akhirnya membuat ia sadar dan ingin bertobat. Tanah kering di sebelah gardu yang barusan basah akibat disiram dengan minuman keras oleh Mbah Karjo, tiba-tiba berubah memerah dan mengeluarkan percikan api yang makin lama kian membesar . Lari tunggang langgang ia saat menyaksikan kejadian aneh bin ajaib itu. Setiba di rumah, orangtuanya lebih kaget lagi saat menyaksikan Wariman menge – nakan sarung dan memohon izin untuk pergi ke masjid.

Darsih, janda beranak 5, yang telah tiga tahun ditinggal mati suaminya, juga merasa kehilangan dengan kabar wafatnya Mbah Karjo. Selama ini, tanpa sepengetahuan orang-orang, Mbah Karjo selalu rajin bersedekah padanya. Tiap bulan, Darsih mendapat santunan uang dengan jumlah cukup besar dan bisa mebantu meringankan beban hidupnya. Selain Warmiman dan Darsih, masih banyak orang-orang yang merasa sangat kehilangan dengan kepergian Mbah Karjo yang dikenal berperilaku baik dan begitu dermawan terhadap warga yang sedang tertimpa kesusahan. Maka tak heran bila kematiannya begitu mengagetkan warga masyarakat kampung tersebut.

***
Pagi jelang siang itu, rumah Mbah Karjo yang hanya terbuat dari kayu dan begitu sederhana tampak dipenuhi warga yang melayat. Mereka langsung datang tanpa diminta saat lelayu itu menguar dari corong masjid dan musala. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir pada sosok sederhana yang selama ini hidup seorang diri di rumah kayu tersebut, tanpa istri, anak maupun cucu, karena sepanjang hidup ia memang tak pernah menikah. Sebenarnya, Mbah Karjo termasuk orang berada. Ia memiliki warisan berupa tanah ladang yang luas. Kepada para tetangga ia menyerahkan tanah tersebut agar ditanami beragam jenis tanaman seperti padi dan sayur -mayur , lalu hasil panenannya dibagi dua. Banyak warga, terlebih yang tak memiliki ladang, merasa senang dan terbantu kehidupannya berkat kebaikan Mbah Karjo.

Entah, tak ada satu pun warga yang tahu mengapa Mbah Karjo betah hidup melajang hingga ajal datang. Dan selama ini tak ada yang berusaha mengulik apalagi mempersoalkannya. Yang warga tahu, Mbah Karjo adalah orang baik yang akan terus dikenang kebaikannya sepanjang hidupnya. q – g


Puring Kebumen, 19 Juni 2019.
*) Sam Edy Yuswanto, lahir dan berdomisili di kota Kebumen. Ratusan tulisannya tersiar di berbagai media cetak, lokal hingga nasional. – Kedaulatan Rakyat
The post Mbah Karjo appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Selasa, 23 Juli 2019

Melepaskan Gara


PUTIH, gemuk, dan lembek, seperti gajih. Namanya belatung. Kelak, ia akan menyembul dari lubang telingamu dan menggerogoti kenangan-kenangan di dalam kepalamu. Tanpa sisa! Semua kenangan di dalam kepalamu lalu sempurna hilang. Bahkan termasuk nama anakmu, Gara. Lengkapnya, Kynan Garawiksa.

“Kenapa aku kok mesti mondok, Yah?” tanyanya di suatu malam seusai menyantap mi goreng kesukaannya yang rutin kubuatkan.

Sekenanya saja aku menjawab—kepada anak berusia dua belas setengah tahun, tak bijak bila kuderakan jawaban panjang bahwa kau harus memiliki ilmu pengetahuan yang dalam dan luas agar nalarmu bisa selalu kritis dan pula kau mesti mengasah hatimu dengan laku-laku riyadhah agar hatimu jernih supaya kelak kau tak menjadi cebong atau kampret yang sama-sama bebal, tengik, bacin, dan bau comboren mampat akhlaknya—“Supaya kelak jika sudah beristri dan beranak-cucu, kamu bisa mengajarkan ilmu-ilmu agama dengan baik dan bijak.”

Gara bertanya lagi, “Di pondok ada Indormart-nya nggak, Yah?”

“Oh, ada, ada,” jawabku cepat. Ini pertanyaan enteng, sangat enteng, maka jawabannya pun enteng, sangat enteng. Toh, jikapun ternyata tak ada, tak sulit bagiku untuk mengadakannya. Kau ini, Nak, kayak lagi berurusan sama siapa to?

Sebuah tangisan pecah dari mulut seorang lelaki sebaya Gara. Ada dua larik pekikan yang mengiris wajah langit, juga hatiku. Semua mata seketika menyergap tubuhnya yang berguncang. Sedihnya ia ditinggal orang tuanya, gumamku, hatinya pasti sangat tersayat. Anak baru umur 12-13 tahun, betapa masih kecilnya. Seno Gumira Ajidarma barangkali belum pernah menyaksikan jerit pilu seorang anak sekecil itu yang menangis karena harus tinggal di pesantren dan berpisah dengan orang tuanya. Juga dunia kanaknya. “Tiada yang lebih sedih dari hati seorang perempuan yang menangis karena cinta,” kata Seno. Ah, ada-ada saja Seno ini. Semoga Gara selalu baik-baik saja, tak menangis seperti anak itu, doaku dalam hati.

Gara sekilas tersenyum kecil kepada anak yang menangis itu dengan ekspresi wajah yang sangat kuhafal. Tiap lekuk wajah dan tubuhnya, aku hafal. Kau tanya apa saja tentang Gara, spontan aku akan sangat bisa menceritakannya. Sebab, Gara anakku dan aku ayahnya…

Orang-orang yang berkerumun di emper Masjid Pandanaran ini, dengan memojok atau melingkar bersama anak masing-masing, pelan demi pelan mulai beranjak seiring kumandang azan Asar. Waktu mengingsut—pelan memang, lebih pelan dari langkah bekicot, tapi dengan pasti selalu maju, tak pernah berhenti. Sebagian besar pergi dan tak pernah kulihat lagi. Sebagian lain ikut salat, juga aku dan Gara.

Usai salat, usai Gara mencium punggung tanganku, aku berbisik padanya, “Le, kerasan ya di sini….”
Ia mengangguk, dengan sedikit tersenyum—senyuman yang kuhafal dengan hafalan yang lebih kukuh menghunjam daripada hunjaman hafalan Al Mulk.

Di emperan, istri dan dua anakku, serta Budhe Iis dan putrinya, Bella, telah menunggu. Gara ditawari pengin jajanan apa oleh mama dan budhenya. Ia bilang sate ayam. Di sisi selatan masjid, sejarak sepuluh langkah, ada pedagang sate ayam pakai sepeda motor yang sedang mangkal. Aku pun beranjak membelinya buat Gara.

Begitu kembali bersama sebungkus sate ayam, sekitar sepuluh menit berselang, kulihat mamanya sedang memeluk Gara. Sangat erat. Erat sekali: helai-helai angin pun takkan sanggup menyapih jarak keduanya.

“Sudah, sudah, Mah, nanti berat sendiri kalau mau pamit,” ujarku. Mereka saling berlepas pelukan, lalu Gara menerima bungkusan sate dariku, dan menyantapnya dengan lahap.

Rabu, 19 Juni 2019. Jika kau bersua denganku sepuluh tahun lagi, itu pun bila aku berumur panjang dan kau pun begitu, tanyakanlah padaku apa yang kukatakan dan kurasakan pada pukul 16.00 itu.
“Bagaimana perasaan Bapak ketika melepaskan Gara saat itu….?”

Sepuluh tahun lagi, pertanyaanmu itu masih akan sangat perkasa membuatku terdiam beberapa jenak, memaksa mataku terlontar ke ketinggian langit malam yang jelaga, lalu ingatanku melesat jauh, sangat jauh, ke setangkup wajah kecil yang amat kusayangi, yang tak lagi ada di depanku. Sebab, Gara anakku dan aku ayahnya, maka ia adalah selalu seorang anak berwajah kecil yang gemar merekahkan senyum dengan gigi putih berbaris di depanku. Baju kokonya hitam. Pecinya hitam. Sarungnya agak menggembung di bagian perut karena cara ia menggulungnya dibuntal-buntal begitu saja sekenanya, asal nyantol.

“Ayah mau ke mana? Aku ikut….” Gara selalu mengucapkan kalimat itu setiap aku akan pergi dari rumah, sejak ia berumur tiga atau empat tahunan. Siang atau malam. Hujan atau terang.

“Ayah mau ketemu teman, Le.”

“Teman siapa?”

“Ada teman bisnis.”

“Di mana?”

“Jauh, di Jalan Kaliurang.”

“Aku ikut ya….”

“Jangan, Le, besok kamu kan sekolah. Nanti saja kalau pas liburan, kamu boleh ikut.”

“Ehmm…ehmmm….” Wajahnya merengut kecewa, lalu membalikkan badan dari hadapanku, kemudian rebahan di depan tivi atau menjamah HP di meja.

Sepulang dari Jalan Kaliurang, nyaris pukul 00.00, tangan Gara-lah yang membukakan pintu garasi buatku. Wajah kecilnyalah yang kujumpai pertama kali. Suaranyalah yang pertama kali menyambutku.

“Kok belum tidur, Le?”

“Aku nggak bisa tidur.”

“Kenapa?”

“Nunggu Ayah….”

Wajah kecilnya menyunggi rekahan senyum, deretan giginya yang putih berbanjar di kelopak depanku. Lalu… Aku tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata apa saja, selain segera mengelus kepalanya, menjamah pundaknya, dan menggandengnya masuk ke depan ruang tivi atau kursi panjang di dekat dapur.

“Mau mi?”

“Mau…”

“Sebentar, ya, Ayah buatkan.”

Ia akan terus menemaniku hingga mi goreng buatanku tandas dilahapnya. Kemudian ia kuminta naik ke kasur di kamar depan, di sebelah mamanya, untuk tidur. Ia pun tidur. Bersebelahan denganku. Kerap kutindihi, dengan sengaja, semata untuk kurasakan hangat kulit tubuhnya menjalari kulit tubuhku. Pori-pori kulitnya hangat, selalu hangat, menyelam ke dalam hatiku…

Kuelus kepalanya yang berpeci hitam, kubacakan salawat beberapa kali, kutatap sekujur wajahnya dan hatiku melepas jangkar di matanya yang jernih. ’’Le, kerasan ya di sini, baik-baik sama teman-teman, ikuti semua aturan dan perintah guru-guru, ya…”

Sejumlah santri yang rata-rata sepantar dengan Gara terlihat bercanda di sekitar emperan masjid ini. Suara kaki-kaki mereka bergedebak, berlarian. Cekikikan-cekikikan berlesatan. Dan, nun jauh di sana, di kampung masing-masing, para orang tua mereka tentulah sedang mengelus dada dan kepala menanggung epitaf rindu yang tak terperikan perihnya.

“Sebulan atau dua bulan, Gara insya Allah juga akan begitu, seperti mereka, kan?” gumamku seakan sedang mengajukan pertanyaan yang tak perlu jawaban kepada Tuhan.

“Ayah tenang saja, aku kayaknya sudah kerasan kok. Di sini banyak teman, jadi bisa enak mainnya, hehe…” Suara Gara menerabas bukan ke liang telingaku, tapi ulu hatiku. Merobek takhtanya di dalam sana dan terus membekas hingga berpuluh tahun kemudian begini.

“Amin, alhamdulillah,” ketika ucapan ini keluar begitu saja dari mulutku menimpali sahutan Gara, mataku terlontar ke seberang, ke jalanan, melintas kelindan tembus ke mana-mana, berpuluh tahun silam kala abah dan ibu yang telah tiada mengantarku ke Pondok Denanyar, Jombang, dan meninggalkanku di antara orang-orang asing itu.

Aku mengisak seusai salat Magrib berjamaah. Sejumlah anak sebayaku juga menangis. Ibu, bertahun kemudian saat aku telah jadi mahasiswa, berkisah tentang pilunya ia sampai berderai air mata di dalam bus selama perjalanan pulang ke Madura karena harus terpisah denganku, anaknya, dan aku tertawa ngakak seusai menyimak kisahnya.

Sekarang, Gara tak menangis, ia malah berkata mulai kerasan, dan tepat pada desiran ucapannya itu akulah yang justru menangis. Pondok membuatku menangis dua kali: dulu saat ditinggalkan orang tuaku dan kini saat mesti meninggalkan anakku.

Debu-debu, sesekali, berkesiut disaput angin. Dalam hitungan menit, senja akan sempurna tandang, lalu digulung kelam, semakin hitam, hingga sempurna legam.

Le, sudah sore, saatnya Ayah pulang. Ayah pamit dulu, ya,” kataku setelah memastikan air mataku tak lagi tersisa di kelopak mata. Bukankah sebaiknya anak tak boleh tahu bahwa ayahnya sedang menangis karena dera nestapa hidup menjadi seorang ayah?

“Iya, Yah…”

“Nanti hari Jumat, insya Allah Ayah ke sini lagi menengokmu.”

Ia mengangguk. Lalu kurenggut tubuhnya ke dadaku, kupeluk dengan sangat dalam, dalam, dan dalam sekali. Beri aku kata yang lebih tebal dari kata ’’dalam”, maka pelukanku masih lebih tebal lagi. Mamanya lalu memeluknya. Kemudian budhenya. Lalu kakaknya, adiknya, dan sepupunya. Mereka lantas menyeberang ke sisi kiri di depan masjid, aku melaju ke parkiran di sisi utara, Gara tampak berdiri di ujung teras masjid.

Nyaris sepuluh menit kemudian, aku baru berhasil melintas di depan masjid, di seberang Gara berdiri, di tempat tadi aku menangis. Dan Gara masih setia berdiri di situ! Ia berdiri dengan tangan melambai-lambai ke arahku di balik kemudi, berkali-kali mengecupkan jari-jari ke bibirnya, sembari memanggilku.

“Yah, Ayah.”

Le, dadah, assalamualaikum.” Mobilku berhenti di tengah jalan, kemacetan sejenak mengular, hingga seseorang melambaikan tangan kepadaku memberi isyarat supaya aku segera melaju. “Le, baik-baik ya, Nak…”

Kalimat terakhir yang bisa kukatakan itu merobek kembali takhta hatiku dan deraslah hujan di mataku di depan kemudi. Ini kali ketiga aku menangis di pondok. Istri dan kerabat segera naik ke mobil di tepi jalan, berseberangan dengan tubuh Gara yang masih tampak mematung di ujung teras masjid.

Aku sengaja tak menolehinya lagi. Sengaja, Le!

Ia tak boleh tahu bahwa ayahnya menangis karena kehilangannya. Toh, tak semua hal tepat baginya untuk tahu hari ini dan biarlah waktu yang kelak akan memberitahunya betapa melepaskannya di pesantren merupakan peristiwa hebat yang membuatku menginsafi satu hal perihal pernah sombongnya aku kepada Tuhan. Dulu, aku pernah berkata di depan jamaah pengajian bahwa aku pasti tidak akan meneteskan air mata seumpama di suatu masa Tuhan menakdirkanku lebih dahulu kehilangan anakku sebelum anak-anakku merasakan luka kehilanganku.

“Aku ternyata sombong sekali ketika mengatakan hal itu atas nama kukuhnya tauhidku kepada-Nya. Tapi, aku tak bohong ketika barusan berkata padamu bahwa kepergian Gara dari rumah ini adalah kehilangan yang masih mengandung harapan nyata untuk berjumpa lagi dengannya di Jumat yang akan datang, yang sungguh harapan itu tak lagi ada dalam perpisahan karena melepas kematian,” kataku kepada mama Gara.

Mama Gara terdiam, mengusap matanya yang berlinang, dan pelan-pelan kembali melanjutkan makan malamnya dengan tidak lahap. Kulihat ada Gara di piringnya, di setiap suapannya, di setiap kunyahannya, di setiap kedipan matanya, di setiap tetes air matanya. Dadaku nyeri, sangat nyeri. Sebab, Gara anakku dan aku ayahnya…

“Jadi, bagaimana perasaan Bapak saat melepaskan Gara saat itu?”

Kumasuki kamar Gara yang diisi 12 anak dengan langkah tergesa. Sungguh tak sabar ingin menatapinya, memelukinya. Ia tak ada di kamar!

Aku pun keluar, menaburkan pandang ke segala penjuru, mencari hatiku yang berwajah kecil itu dan senyumnya yang kuhafal sehafal-hafalnya. Selarik suara yang amat kukenal menerpaku tiba-tiba dari arah belakangku. Suara Gara!

Leee…..” Kupeluk ia, kuelus kepalanya. Sepiring nasi putih tergenggam di tangan kanannya dengan bibir piring ditempelkan begitu saja ke baju kokonya. Beberapa butir nasi menempel ke baju kokonya. Kau benar-benar tetap anakku yang kecil itu, Le….

“Kok makannya nggak ada lauknya, Le?”

“Iya, kantinnya masih tutup jadi cuma dapat nasi dan sayur. Kalau lauknya kadang pakai abon, dikasih teman.”

“Pernah makan tanpa abon?”

“Ya pernah. Nasi sama sayur asem saja.”

Melepaskan GaraTanganku menggandengnya menuruni tangga kamarnya, lalu melaju ke luar, ke sebelah pondok, setelah kukatakan mamanya sedang menunggu di luar dan membawakannya banyak ayam goreng KFC kesukaannya.

“Sebagian nanti kukasih teman-teman kamar ya, Yah. Kasihan pada lama nggak makan ayam goreng.”

Inilah, Le, apa yang dulu ayah maksudkan dengan gumaman betapa pintar ilmu saja, taklim, tidaklah cukup untuk menyelamatkanmu dari pagebluk cebong dan kampret. Kau harus menarbiyahi hatimu agar jernih dengan laku-laku riyadhah di sini sehingga akalmu, ilmumu, bisa terpancari kejernihannya.

Gara menyantap dengan sangat lahap setiap iris ayam goreng KFC bawaan mamanya. Sesekali terdengar suaranya bercerita tentang sandal, sikat gigi, odol, dan gantungan bajunya yang di-ghasab, juga ziarah kuburnya ke makam Mbah Mufid.

“Siapa?” tanyaku.

“Mbah Mufid.”

“Kamu sudah bisa bilang Mbah sekarang, ya, Le.”

“Ya kata teman-teman semua juga bilangnya Mbah Mufid gitu, Yah.”

“Memangnya siapa beliau, Le?”

“Pendiri pondok ini.”

Tentu aku hanya sedang mencandainya dengan pertanyaan itu. Ia telah benar-benar menjadi santri—sebagaimana aku dulu.

Tetapi, aku sama sekali tak secuil pun menyelipkan candaan tatkala di sore hari, seusai asar, pamit kepadanya sembari berdoa di dalam hati: Ya Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karuniakanlah mata air kasih dan sayang-Mu kepada anakku ini berupa ilmu-ilmu yang bermanfaat; ilmu-ilmu yang mengalirkannya pada danau kesalehan, bukan sekadar kealiman, dan lautan akhlak karimah, agar kelak ia tumbuh menjadi sosok yang migunani tumraping liyan. Amin.

Sekarang, kau sudah berhasil merasakan derasnya bah perasaanku saat melepaskan Gara?

Putih, gemuk, dan lembek, seperti gajih. Namanya belatung. Ketika belatung-belatung semakin riuh keluar-masuk dari seluruh lubang tubuhku, termasuk telingaku, makin sempurna memamah jasadku, kepalaku, dan seluruh kenangan di dalamnya, hingga aku tak lagi berbentuk serupamu, dan kau pasti akan jijik benar umpama menyaksikan keadaanku, di suatu malam yang gigil dan kelam, sangat kelam. Seorang lelaki kusaksikan dari balik awan-awan seputih kapas sedang menangis seorang diri hingga dadanya bergelombang di teras belakang rumahnya seusai membaca cerita lama ini.

Untukmu di alam kubur, Yah, Al Fatihah, bisiknya dalam hati sembari menyeka air mata. Dialah Gara, anak ayahnya, aku, yang sore tadi tersayat-sayat hatinya karena mesti melepaskannya di sebuah pesantren yang terkenal dengan amaliah salawat, yang selalu membukakan pintu garasi untukku di malam-malam yang panjang.

“Kok kamu belum tidur, Le?” tanyanya.

“Aku nggak bisa tidur,” jawab anaknya.

“Kenapa?”

“Nunggu Ayah…”

“Mau dibuatkan mi goreng?”

“Mau…”

Lalu ia membuatkan mi goreng kesukaan anaknya dan menemaninya makan sampai tandas. Kemudian keduanya bergandengan tangan masuk ke kamar depan dan tidur bersebelahan sambil saling memeluk sampai jelang subuh.

Air mata adalah bahasa kehidupan yang paripurna.

Puisi tersebut dipahatnya di batu nisan ayahnya yang siang malam dikiriminya Fatihah—suatu kelak, ia pun akan diberikan pahatan itu oleh anaknya. Agar aku sama dengan ayahku, tuturnya kepada istri dan anak-anaknya.
Jogja, 1 Juli 2019
Edi AH IyubenuAdalah cerpenis dan esais, tinggal Jogja. Bisa ditemui di jagat Twitter lewat akun @edi_akhiles --Jawa Pos

The post Melepaskan Gara appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Senin, 22 Juli 2019

Mitoni Terakhir


Di halaman belakang rumah, peninggalan suamiku, aku duduk sendiri, memandang pohon randu alas yang meranggas. Kukira, waktuku sudah segera akan tiba. Aku tidak tahu kapan itu terjadi, tapi, cepat atau lambat, malaikat maut itu pasti akan segera datang menjemputku. Menyusul para leluhurku untuk berkumpul bersama.

Kematian adalah kepastian buat siapa saja, bukan? Apalagi perempuan seusiaku saat ini. Sebelum ajalku, aku hanya ingin merasakan, menyaksikan dan memberikan berkah pada darah dagingku yang terlahir di bumi ini, agar tumbuh sehat sebagai jiwa terberkati. Seperti para leluhurku juga memberkatiku di masa lalu.

Dari rahimku ini, telah lahir tujuh anak perempuan—dan setiap anak telah melahirkan anak-anaknya, para cucuku yang lucu. Kecuali anak bungsuku, Setyaningsih, ia baru dua tahun menikah dan belum sempat mendapatkan anak. Semua anak dan cucuku mendapat restu dan berkah dari orangtuanya dengan cara yang sama.

Eka Yuningsih, anak pertamaku, ketika mengandung anak pertamanya, semua menyambutnya dengan bahagia. Ketika usia kandungannya menginjak tujuh bulan, seperti adat Jawa yang terberkati, kami, ayah dan ibunya menggelar acara mitoni. Demikian pula dengan anak-anakku yang lain.

Dalam setiap hajatan itu, semua kerabat datang, semua tetangga hadir—juga anak-anak sekitar yang ceria menonton prosesinya. Mereka tertawa sembari berdesak-desakan di halaman. Terkadang mereka ikut melihat bagaimana kami mengguyur tubuh anak dan cucuku yang masih di dalam rahimnya, dengan air bunga.

Tentu saja aku tahu—anak-anak itu menginginkan dawet ayu, dan juga semua makanan yang kami sediakan untuk hajatan ini. Aku membiarkan mereka ribut, gaduh di antara suara gending Jawa yang mengiringi. Terkadang, aku berpura-pura marah, meminta mereka agar diam dan menunggu di latar. Sambil kutanya, sudah bawa kereweng [1] belum.

“Sudaah,” jawab mereka serempak.

Namun, semua upayaku agar mereka diam, sia-sia belaka. Mereka, para makhluk kecil nan berisik itu, selalu tak tertaklukkan oleh siapa saja, kecuali oleh dawet ayu. Dan perutnya yang seluas langit dan sedalam lautan, tak juga kunjung puas, meskipun bermangkok-mangkok sudah disiramkan ke dalam perutnya, dan juga oleh jajanan yang mereka inginkan. Ah, dasar anak-anak.

Semua tampak menjadi sibuk dan repot, memang, namun kerepotan itu membuat kami, para orangtua bahagia. Karena, aku dan mereka tahu, bahwa semua kerepotan dan keringat dari para kerabat, tetangga yang berkumpul dalam acara mitoni itu, adalah pancaran tangan kami semua yang menjemput cahaya berkah dari langit.

Cahaya berkah yang kemudian kami berikan pada anak dan cucuku di dalam kandungan. Agar kelak, mereka juga tumbuh dan meneruskan berkah itu pada anak cucu mereka. Juga melalui cara ini. sebagai orang Jawa.

Dahulu, di masa kecilku, aku juga seperti mereka anak-anak kampung yang ceria itu ketika ada hajatan, tak kecuali juga ketika ada calon ibu yang menggelar mitoni. Aku bersama kangmasku, setelah mendengar kabar itu, segera berlari gembira di sepanjang jalan kampong, mengumpulkan kereweng berebut dengan teman-teman yang lain.

Kereweng itu nanti kami tukarkan dengan segelas dawet dan makanan lain. Kami juga diizinkan ayah menonton pergelaran wayang orang atau wayang kulit setelahnya. Biasanya, anak-anak punya cara agar mendapatkan lebih dawet ayu. Mereka antri sampai berkali-kali, hingga akhirnya, simbok-simbok yang menjaga dan melayani, menegur kami dengan suara serak dan muka cemberut, “Sudah, gantian sama yang lain. Masak terus menerus muter.”

Kami selalu suka dengan semua hajatan, tanpa kecuali. Kami sadar, semua itu cara para leluhur, agar kami anak cucunya bersyukur dan menghargai lingkungan. Tanah yang menumbuhkan semua kebutuhan kami, dan juga pada Sang Hyang Widi di atas langit. Semua itu, tentu saja, seperti kata bapakku, Sastro Wiguno, mitoni adalah cara orang Jawa mencintai, menghargai kehidupan mereka di muka bumi. Juga tentang persoalan bagaimana kelak seluruh keturunan bisa menjalani kehidupan dengan berkah orangtua mereka yang mengemban amanah menjaga kehidupan dari generasi ke generasi.

Namun, sayang, Setyaningsih, anak bungsuku, agak berbeda. Ketika hamil pada akhirnya, ia menolak melakukan hajatan mitoni. Katanya, adat itu sudah terlalu kuno—tak lagi mencerminkan lingkungan sosial dan pendidikannya.

Katanya, bangsa Barat, Amerika, tempatnya bersekolah, tak ada tradisi mitoni. Ia memang berniat melakukan hajatan, tetapi dengan cara yang berbeda. Cara yang lebih praktis. Ia sebut hajatan itu dalam bahasa Inggris, babyshower. Aku belum pernah mendengar sebelumnya, sampai ia katakan itu.
“Teman-teman sudah seperti itu semua, Bu,” katanya mencoba meyakinkanku.

“Apa bedanya, Nduk? Lagipula kenapa harus seperti teman-temanmu?”

“Repot, Bu, hajatan seperti mitoni itu, ribet dan tak rasional,” katanya padaku, sedikit tampak enggan menjawab.

Tentu saja tidak begitu, kataku sedih. Tentu saja di sana tak ada mitoni. Semua tempat punya caranya sendiri. Kupandangi mukanya yang bersih dan halus. Ia perempuan yang cantik. Bahkan lebih cantik dari aku. Lebih pintar dariku. Semua yang diidamkan perempuan, ada padanya. Ia bisa membentuk apa yang ia suka dalam wajah dan tubuhnya, dengan uangnya.

Begitu cantiknya dirinya dengan semua perubahan itu, sampai aku tak yakin apakah benar ia anakku, Setyaningsih. Semua agak berubah, dari alisnya, bentuk bibirnya dan hidungnya yang menjadi mancung. Hampir semuanya tak lagi milikku, atau suamiku.

Aku mulai sadar, dunia ini memang mudah berubah. Semua akan selalu berubah. Tak ada kepastian, selain kematian, bukan? Anakku, Setyaningsih juga tampak jauh berubah. Ia tak lagi seperti anak-anak yang dulu selalu kurawat dan kuberikan pendidikan, agar nantinya ia tumbuh menjadi perempuan Jawa yang ikut merawat miliknya sendiri, dengan percaya diri.

Tapi, tampaknya ia begitu terpesona dengan dunia yang berbeda dari yang dimilikinya. Ia juga selalu berbahasa lain, yang saudara-saudaranya tak menggunakannya. Berpakaian seperti noni-noni berambut jerami yang menjadi teman-temannya. Suaminya, sama saja. Pramono, seorang pengusaha yang sukses yang lebih banyak hidup di negara asing, dan mulai kesulitan melafalkan bahasa-bahasa lokal di sini. Ia menurut saja semua apa yang dikatakan istrinya. Katanya, Ibu tak usah repot-repot bikin mitoni. Biar kami sendiri yang menangani.

Mitoni TerakhirDari tujuh anak perempuanku, Setyaningsih memang berbeda. Persis seperti pepatah lama, tak ada yang sempurna dari semua telur milik kita. Aku tak menyalahkannya, terutama bagaimana ia mendapatkan sekolah yang mampu membuatnya berpikir lebih baik dari kebanyakan orang.

Aku hanya ingin dirinya menjadi diri sendiri, sebagai orang Jawa. Menjalani tradisi yang sudah menjadi baju masyarakatnya sejak dulu. Itu saja. Usiaku mungkin akan selesai dalam hitungan waktu yang tak tentu. Aku hanya ingin menjalani sekali saja—merasakan bagaimana indahnya memberikan berkat pada anak cucuku yang masih sempat kulihat. Memberkati bersama para kerabat, tetangga dan anak-anak yang lucu dan bandel dalam acara mitoni.

Eka Yuningsih sudah membantuku menyampaikan semua keinginanku pada Setyaningsih. Katanya, aku harus bersabar. Tidak perlu ngotot dan memaksanya yang sudah punya pendapatnya sendiri. Dia ingin membuat acaranya sendiri, seperti semangat zamannya yang ingin seperti bangsa lain. Bangsa lain yang ingin menjadi bangsa lainnya lagi.

“Mungkin paling penting adalah doa ibu saja,” bujuk Yuningsih padaku, setelah gagal membujuk adiknya, Setyaningsih.

“Ibu, jika tetap berkeras hati juga, nanti malah jatuh sakit. Ibu harus jaga kesehatan Ibu, agar bisa menyaksikan cucu-cucu tumbuh.”

“Apakah ibu salah, jika ingin merasakan mitoni dari kandungan anakku. Mitoni terakhir yang tak akan aku rasakan lagi setelah kematianku nanti?” Yuningsih kulihat bimbang. Ia hanya diam dan mencium tanganku.

“Ibu jangan bicara seperti itu,” katanya kemudian.

Di halaman belakang rumah warisan suamiku ini, aku duduk menatap pohon randu alas yang meranggas, yang tak lagi berdaun di musim kemarau. Mendengarkan tembang megatruh yang mengingatkan agar bersiap dijemput kematian. Di sana, aku merenung dalam sendiriku. Mungkin aku salah. Mungkin aku semacam orangtua yang kaku. Mungkin aku terlalu memaksakan keinginanku sendiri pada anak-anakku. Orangtua yang sudah tidak sesuai dengan keinginan zaman. Keinginan anak-anaknya. Tidak tahu keinginan anak-anaknya? Hmm….

Sekilas, aku lihat langit yang penuh awan, di antara sela-sela ranting pohon randu alas yang meranggas. Aku bersedih mengingatnya, jika begitu. Tapi, kesedihanku bukan semata karena aku tak dituruti keinginanku. Mungkin memang iya. Aku tak boleh berbohong. Tapi, kesedihanku juga karena mengingat bahwa kematianku nanti, mungkin berarti juga kematian warisan leluburku di tanahnya sendiri. Kematian doa-doa yang penuh berkah dari langit.

Ah, semoga tidak. Aku masih berharap Setyaningsih, anakku yang cantik itu, sadar— sehingga aku masih bisa memberkati anak cucuku dalam mitoni yang terakhir. Sebelum ajal menjemputku.

Catatan:
[1] Kereweng, pecahan genteng, dalam acara mitoni biasanya digunakan sebagai alat transaksi untuk ditukarkan dawet dan lain-lain.

Ranang Aji SP, cerita pendeknya diterbitkan pelbagai media cetak dan digital. Menerbitkan buku Kumpulan Cerita Pendek Serigala yang Berzikir di Akhir Waktu (Nyala, 2018), buku kumpulan puisi Fang (2011), dan kumpulan puisi bersama Titik Perlawanan: Masih Kau Melawan (Lestra, 2012). Novelnya berlatar sejarah Perjalanan Cinta di Tanah Jawa dan Kekasih Bayangan menunggu proses terbit. Pernah mengikuti program Kelas Cerpen Kompas 2018, Kompas Institute, dan Kelas Kritik Sastra Salihara 2017.

Wahyu Friandana bernama lengkap I Made Wahyu Friandana, lahir di Denpasar, 17 April 1995, sedang menempuh pendidikan di ISI Yogyakarta. Selain dikenal sebagai pelukis, Wahyu juga drumer dari dua kelompok band underground, Nalais (Bali) dan Virtual Doom (Yogyakarta). Sehari-hari ia bekerja sebagai seniman tato di Yogyakarta. Karya-karyanya mulai dipamerkan tahun 2013 di ISI Yogyakarta dan Taman Budaya Yogyakarta. – Kompas

The post Mitoni Terakhir appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi