Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 16 April 2019

Dendam Pohon-pohon


JAUH sebelum wilayah ini menjadi perkotaan yang tidak bisa lepas dari hingar-bingar. Tuhan telah mengirimkan Si Air dan Si Pohon dari surga. Mereka adalah yatim piatu yang Tuhan turunkan untuk menjaga keseimbangan bumi. Karena Dia tahu bumi ini tidak bisa hidup tanpa Si Air, dan tidak akan bisa bernapas tanpa Si Pohon.

Meskipun mereka bersaudara, tapi mereka memiliki sifat yang jauh berbeda. Si air adalah pemarah, sedangkan di pohon begitu penyabar. Tahun demi tahun mereka tumbuh bersama-sama. Mereka saling menghidupi satu sama lain. Si Air dengan teratur memberikan tubuhnya demi terlahirnya pohon-pohon yang baru. Si Pohon dengan sangat sabar selalu membersihkan Si Air agar tetap jernih dan tidak tercemar.

Si Air pun semakin besar, dan Si Pohon telah memiliki banyak anak yang tersebar di seluruh bumi. Si Air akan marah ketika banyak pohon diperlakukan sembarangan oleh manusia. Ia ingin sekali membalas perbuatan manusia itu dengan mengalirkan seluruh tubuhnya ke permukiman. Tapi Si Pohon selalu menghentikannya, ia tidak ingin manusia mengalami musibah dan kesusahan.

“Mengapa kau selalu melarangku untuk membalaskan dendammu dan keturunanmu kepada manusia?”

“Aku tidak merasa dendam terhadap mereka, begitu pula dengan keturunanku.”

“Sampai kapan kau akan terus seperti ini, sampai semua pohon habis ditebang oleh manusia, hah?!”

“Sudahlah jangan dibahas.”

“Tidak bisa seperti itu. Aku tidak terima kalau mereka terus menusuk tubuh kalian dengan paku hanya untuk memasang foto mereka, menebang leher lalu mencencang tubuh kalian menjadi beberapa bagian, dan membunuh kalian secara massal hanya untuk menanam sebuah beton. Aku tidak terima itu. Mereka lupa kalau mereka bisa hidup karena oksigen yang selalu kalian berikan, tapi apa balasan mereka? Mereka malah memperlakukan kalian seenaknya.”

“Kau tahu kenapa Tuhan mengirim kita ke sini? Dia ingin supaya kita selalu memberikan kehidupan kepada makhluknya yang sempurna itu.”

“Kau memang tidak pernah berubah, sejak dulu selalu seperti itu. Tapi apakah kau tidak benci atau sekadar capek menahan tubuhku yang seharusnya sudah merendam pemukiman manusia itu?”
“Tidak. Tidak sama sekali. Malah aku merasa senang bisa menjalankan tugasku dengan baik. Karena hanya dengan ini aku mengabdi kepada Tuhanku.”

Si Air pergi begitu saja. Ia sadar, percuma berdebat dengan Si Pohon karena akhirnya akan tetap samaĆ³ia kalah dan Si Pohon tidak akan pernah mengizinkannya membalas dendam.

Hari demi hari berlalu. Pohon-pohon di kota semakin dipenuhi tusukan paku di tubuhnya. Pelbagai macam wajah manusia dengan posenya masing-masing menempel pada tubuh mereka. Lengkap dengan biodata singkat dan visi misi sekaligus motto hidup masing-masing. Sedangkan di hutan, pohon-pohon semakin sedikit. Mereka perlahan namun pasti ditebang oleh manusia setiap harinya. Mereka ingin melawan tapi tidak bisa, karena mereka diciptakan dari kebaikan dan hanya bisa memberikan kebaikan, bukan balas dendam.

Siang itu Si Air mendapat kabar dari burung elang, katanya, Si Pohon sedang disembelih oleh manusia. Mendapat kabar itu, Si Air semakin marah kepada manusia. Cuaca yang sedang panas membuat Si Air dengan mudah menguapkan tubuhnya ke langit. Dan dengan cepat berubah menjadi awan berwarna kelabu yang siap menurunkan hujan. Setengah tubuh yang ia uapkan berubah menjadi hujan yang tidak berhenti selama tiga hari tiga malam.

Si Air meluapkan kemarahannya kepada manusia. Tubuhnya ia alirkan ke permukiman demi membalaskan dendam sahabatnya. Angin selaku teman baik hujan membantunya membalaskan dendam. Ia mengembuskan tubuhnya sekencang mungkin. Pohon-pohon di kota menumbangkan tubuhnya sendiri ke jalanan. Mereka tidak terima nenek moyangnya disembelih oleh manusia. Kekacauan seketika terjadi di kota itu. Gambar-gambar wajah manusia pun beterbangan digasak oleh angin lalu ditenggelamkan ke dalam tubuh Si Air yang meluap. ❑-e

*) A Habib. Lahir di Majalengka tahun 2000. Mahasiswa Ilmu Hadis UAD. Berproses di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta dan Teater JAB. Tulisan-tulisannya sudah terbit di beberapa media, daring maupun luring, lokal maupun nasional.

[1] Disalin dari karya A Habib
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 14 April 2019
The post Dendam Pohon-pohon appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Pakter Tuak


Pakter Tuak

Ampunilah golok paragat yang menebang
daging arenmu hingga terbelah rekah
dengan cangkang yang agam dan cegak retas dibuang
sedang inti dalam tengah dicincang
Serupa daun pandan kau bakal tenggelam
ke dalam wadah kepunyaan Inang marupang
yang memberkahi persabungan
dengan ludah sirih dan jampi-jampi
Terberkatilah
untuk kesekian kali kau takkan dibiarkan sendiri
sebab kayu laru telah menawarkan diri
sebagai petarung melawan sepi dari sakitnya pukulan
lesung
hingga menatap nyawa dierami nyali
Waktu merayap begitu tinggi,
sampai jua luluk putih lepas dari serat,
bermula kuning telur pucat
hingga rasa pahit itu lembap,
di ujung lidah penuh geliat
dari kejauhan bukit-bukit yang meninggi,
gurun-gurun bugil,
jalan kampung yang becek dan lengang
aromamu telah terkenang,
sebab mengandung candu bagi laki-laki
untuk bertandang ke lapo tuak
bermain judi atau sekadar Marmitu diri
Pekanbaru, 04/03/19

Batang Sorgum

Di desa Wanibesak
Kau akan menjadi tulang punggung bagi para petani
berhati linglung
sebab musim tak mampu membaca kemarau yang liar
berkunjung
bertandanglah, papah nasib penabuh lumbung kian bun-
tung
di musim paling ingin, Segala gejala telah kami pasrah
dari atas tindakan
maka tumbuh dan berkembanglah
sebelum kau dimangsa Bapak Sintus Bere yang gegabah
sebelum kau tertumbuk dan luruh di Kakorut tinggal
sabah
di kakimu yang semak dan kekar, sebagai upaya telah
kami panjat Doa mengakar
dari Tuhan kami yang tak berhati ingkar, yang terjaga dari
angin buritan dan hujan riam
agar ranting kering, dahan pandak, daun cengkar, dapat
tumbuh dewasa, semilir purba.
Pekanbaru, 2019

Memburu Sigumoang Sipoholon

Kusiapkan Gadam untuk menyuruhmu bertandang:
Benang benalu putih merah, kain hitam
kusingkap diserat otot pinggan sapi putih itu sebagai
sesaji
mengalihkan leluhur mencuat ke permukaan diri.
Kemarilah begu Sombaon, persembahan agung telah
datang
Panggil si Pangarasun yang berulah tingkap menganut
ilmu hitam
Yang memangsa kampung bona pasogit dilanda duka
kematian
Puah! bertandanglah kau, maniskan syahwatmu yang
sudah matang!
Jangan kauanggap kami manusia awam,
yang tak lihai mencium gelagatmu bertandang.
Maka sesulur-sulur kami patahkan dirimu
dengan sebuah sembur sari sirih dan jampi,
sebagai tapak memburu jantanmu yang meriang.
Pekanbaru, 2019
Catatan
Paragat: orang yang mengolah aren.
Lapo tuak: kedai tuak.
Marmitu: minum tuak bersama sambil bernyanyi ria.
Parter tuak: cara membuat minuman khas suku Batak.
Batang sorgum: tanaman yang turun-temurun ditanam
masyarakat desa Wanibesak, Malaka.
Sigumoang: orang yang memelihara begu atau setan.

Pusvi Defi, kelahiran Medan, 23 Juni 1994, berdomisili di Riau, Pelalawan. Karyanya termuat di berbagai media. (28)

[1] Disalin dari karya Pusvi Defi 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 14 April 2019.
The post Pakter Tuak appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Kabut Sepanjang River Hill


Kabut Sepanjang River Hill

perlahan tubuhmu menggigil
oleh pesona kabut yang mengendap
bersama gerimis senja yang tiris
pinus-pinus tegak semakin ramoing
mengekalkan sunyi yang runcing
di belahan tubuhmu yang lain
kuturuti liuk lembah gairah
yang terbenam semakin curam
bukit-bukit hanya terdiam pasrah
digayuti tebing dan kemiringan tanah
tapi di beranda yang dingin menyiksa
secangkir teh dan kepulan asap berbicara
tentang sayur mayur dan keikhlasannya
kupahami semua lewat getar-getarnya
kemurnian bangkit dengan kehijauannya
Tawangmangu yang gemulai
adalah tawadlu dalam asuhan waktu
sementara gemericik air sungai berbatu
mengalir menggemuruhkan namamu
dengan riak-riak rindu
2018

Di Atas Jembatan

Hari ini, akan kulewati
Sebuah jembatan penyeberangan
Masa silam, kini dan yang akan datang
Akankah sampai lelah diri?
Pijakan indah dari langkah kaki
Di seberang jauh, ladang tandus huma terpencil
Tetaplah berhati yang selalu memanggil
Kutolak daratan yang mengajak lupa
Belukar yang dipenuhi rimbun ilalang
Hanyalah sandungan dari sebuah ladang lapang
Balok papan dan tiang bambu keyakinanku
Terlalu keropos untuk ditegakkan
Sambil menyeimbangkan kedua tangan
Aku hanya terpejam sambil menunggu ledakan
Riak air sungai berbatu seperti memanggil namamu
Barangkali inilah penggilan terakhir dari masa lalu
Yang akan tenggelam bersama pasir dan debu
Kemana sebenarnya alur air menuju
Ibarat surga dan neraka selalu bersebelahan
Mungkin ke kiri, mungkin ke kanan
2017/2018

Episode

aku ingin menulis puisi untukmu
tentang sepotong alis dan ujung kerudung
tentang mendung, kabut, dari sela-sela hujan
aku ingin menulis puisi untukmu
tentang selamat tinggal yang berkemas
tanpa mengubah ucapan sampai habis malam
2018

Presisi

kalau yang kau cari presisi X atau Y
bagaimana menemukan titik silang
persinggungan besarag arah sudut pandang
sementara pembilang penyebut terus berebut
karena hanya koreksi fitri, pembagian nol
menuju komposisi ketakterhinggaan
angin memang tak bisa membaca
tapi aku mengeja sekalipun terbiasa
rambat getar gelombang pikiranmu
memberat dari tertatih-tatih
karena akumulasi tragedi
dari dendam tempo hari
2018

Obituari September

bukan angin yang mengabarkan
gerak lambat jarum jam
padahal belum genap sepuluh putaran
September terpana pada hari kelima
ruangan bisu memecah isakan
tak bisa lagi tertahan apalagi melawan
tebal lurus indahnya sebuah suratan
bukan sepi yang meluluhlantakkan
kenangan beranda saat bercengkerama
padahal belum genap berguru pada waktu
memilah gula dan manisnya madu
di sinilah rumahku juga rumahmu
tempat penat dan gelisah direbahkan
lurus dan menikungnya perjalanan
Lalu, ketika matahari harus bergerak pasti
seperti menyibakkan rahasia yang abadi
istriku, sekalipun rindu tersekat ruang dan waktu
janganlah beranjak dari tempat kau menunggu
2018

Aku Ingin Sepertimu

seoerti awan bergerak
perlahan tanpa mengusik
aku ingin seperti embun
menetes tanpa meluruh daun
aku ingin seperti hujan
yang tak pernah mengeluh
sekalipun kedinginan
aku ingin berguru
pada kemurnian rindu
matang dipendam waktu
2018
*) Sutardi Harjosudarmo, alumnus Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta. Sejumlah puisinya ada pada antologi Lirik-lirik Kemanangan, Gerbong, Sayong, dan Equator. Antologi puisi tunggalnya Jemparing (2015, Cakrawala Media) dan sedang mempersiapkan antologi Gandrung. Saat ini tercatat sebagai guru di SMK Negeri 2 Yogyakarta.

[1] Disalin dari karya Sutardi Harjosudarmo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 14 April 2019
The post Kabut Sepanjang River Hill appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Senin, 15 April 2019

Coblos


Saodah gundah. Pak RT datang lagi mengetuk pintu rumah. Ini kedatangan yang kali kesekian. Sudah bisa ditebak, Pak RT datang dengan misi sama: meminta Saodah datang ke TPS pada hari pencoblosan.

“Jangan lupa, Odah, ingat tanggal dan harinya! Odah tidak boleh tidak memilih. Harus datang dan coblos nomor atau gambarnya. Begitu saja kan tidak susah. Betul tidak?” kata Pak RTdengan suara manis-lembut. Seperti sebelumnya, yang diajak bicara diam saja, tafakur sambil memainkan ujungujung jari tangannya.

Pak RTmenghela napas, berusaha menahan ketidaksabaran yang hampir muntah dari mulutnya.
“Odah,” Pak RT berusaha lagi. “Kalau bingung siapa yang mau kaupilih, nih Pak RT kasih tahu lagi: pilih gambar calon pasangan yang punya kumis hitam-tebal. Mereka bakal jadi pemimpin hebat! Kelihatan dari fotonya kan, gagah-amanah! Kalau mereka menang, hidup kamu bisa lebih baik dari ini. Semua harga bahan makanan kembali murah, biaya rumah sakit tidak akan mahal. Jalan-jalan tidak rusak lagi dan taman-taman di kota kita menjadi indah. Yang begitu bagus kan? Jadi ingat ya, Odah, yang punya kumis hi-tam tebal!” tegas Pak RT.

Yang diajak bicara masih juga diam. Wajah Pak RT mengeras. Ia mulai tidak sabaran.

“Terserah kamulah. Tapi kalau kamu sampai tidak datang ke TPS, warga di sini akan mengucilkan kamu. Saya juga tidak bisa membantu kalau kamu kesulitan, sebab kamu saja tidak peduli pada masa depan negaramu!”

Setelah berkata demikian, Pak RT pun pergi. Meninggalkan Saodah, gadis berumur dua puluh satu yang terus saja diam, tafakur sambil mempermainkan ujung-ujung jari tangannya.

Sejak saat itu, Pak RT tidak pernah datang lagi ke rumah Saodah untuk misi apa pun. Namun gadis itu tahu, para tetangga sudah kasak-kusuk menebak apakah ia akan menuruti kata-kata Pak RTatau tidak. Namun Saodah tak mengindahkan. Perasaan terkucil sudah ia rasakan sejak lama, semenjak ibunya menutup diri dari apa pun dan siapa pun, termasuk Saodah, anak satu-satunya.

***
Hari pencoblosan tiba, Saodah langsung teringat hal itu sejak pagi membuka mata. Ini pemilihan umum pertama yang dia ikuti sebab pada pemilihan sebelumnya, ia masih berusia enam belas.
Seketika wajah Pak RT dengan suara yang manis membujuk, kertas yang harus ia coblos bergambar dua lelaki gagah-amanah yang memiliki kumis hitam-tebal, serta janji akan kehidupan lebih baik dari sekarang, membayang di kepalanya. Saodah tak bisa menahan seulas senyum yang terbit dari segala rasa sakit.

Saodah bangkit pelan-pelan dari kasur. Gadis, yang dunianya kini hanya seluas rumah kecil milik orang tuanya di Jalan A, kantor partai tempat ayahnya dulu bekerja sebagai pesuruh di Jalan B, dan warung siomai langganan di Jalan C, merasa energinya habis. Hal itu memang sering terjadi, terutama setelah ibunya, yang menderita penyakit gila sejak lama, meninggal dunia.

Sebelum ibunya meninggal, jalan sepanjang lima kilometer yang menghubungkan rumahnya di Jalan A, kantor partai di Jalan B, dan warung siomai di Jalan C, dapat ia tempuh berjalan kaki dengan mudah.

Meskipun harus bergerak cepat (kadang setengah berlari) serta menanggung malu saat mengikuti ibunya yang berjalan di depan sambil meracau dan marah entah pada siapa, semua itu masih bisa ia tanggung tanpa rasa lelah. Namun kini jalan yang telah ia akrabi bertahuntahun itu tampak mulur dua puluh kali lipat. Jarak menjadi makin panjang dan melelahkan, momok yang harus ia hadapi saat bangun pagi dan menjadi mimpi buruk saat tidur pada malam hari.

Sering kali dalam mimpi, jalan-jalan itu memanjang dan terus saja mulur. Ketika Saodah melangkahkan kaki, jalan itu melunak seperti adonan donat yang sering dibuat ibunya saat masih sehat. Jalan itu membenam kakinya, membuat langkahnya berat dan lamban, seperti adegan slow motion dalam adegan silat.

Masih dalam mimpi, Saodah memaksa terus berjalan. Kakinya berat. Bertambah berat. Sangat berat. Tapi ia harus terus berjalan. Harus! Ayahnya ada di sana, menunggu di warung siomai di Jalan C, menunggu ia dan ibunya datang untuk dibelikan dan makan siomai kesukaan Saodah selepas sang ayah gajian. Namun Saodah tak pernah berhasil sampai di sana.

Dalam perjalanan, saat tiba di kantor partai, selangkah pun ia tak dapat bergerak maju. Ia melirik gedung kantor partai dalam pandangan hitam-kelabu. Ia bergidik manakala melihat pagar besi yang roboh ke tanah, kaca-kaca jendela yang pecah, bendera-bendera yang tercabik, dan sebagian gedung terbakar api raksasa berselubung kelabu pekat. Jantungnya berdetak keras manakala melihat orang-orang bergelimpangan dengan tubuh luka dan penuh darah hitam yang menggenang di sepanjang jalan kantor partai. Tapi ia yakin ayahnya sudah tidak berada di sana. Ia yakin, sebagaimana ibunya pernah meyakini, ayahnya sedang menunggu di warung siomai di Jalan C, menunggu istri dan anaknya datang untuk makan siomai bersama. Saodah pun bergegas, menarik satu kakinya kuat-kuat dari benaman jalan melunak serupa adonan donat yang terus mengisap. Dia curahkan segenap tenaga, dia coba lagi. Ia mengerang, mengejan, mencoba mendapatkan kekuatan. Namun kakinya tak kunjung bergerak. Saodah bangun dan mendapati dirinya basah. Ngompol, bersimbah peluh, dan air mata. Ini mimpi paling menakutkan bagi Saodah. Mimpi yang tidak hanya membayangi saat tidur, tetapi juga saat terjaga.

Dan pagi ini, meski tak merasakan kekuatan pada tubuh dan kakinya, Saodah merasa yakin harus pergi, sebagaimana yang selalu ibunya lakukan setiap hari, menelusuri jalan lima kilometer dari rumahnya di Jalan A, melewati kantor partai di Jalan B, hingga tiba di warung siomai di Jalan C.
Saodah pergi tanpa mandi atau mengunci pintu rumah. Di luar, ia melihat jalan-jalan lengang dan berhias menyambut pencoblosan. Tak ada anak berseragam sekolah berkeliaran. Pegawai kantor pun diliburkan.

Melewati lapangan bulu tangkis tempat TPS didirikan, suara Pak RT terdengar. Dari kejauhan, Saodah melihat lelaki tua itu bergegas menyambutnya senang. Tapi Saodah terus berjalan. Menjauh dan tak menghiraukan Pak RT yang keheranan. “TPS bisa menunggu, kembalikan saja dulu suamiku,” terngiang ibu Saodah berkata ketika Pak RTmeminta mencoblos pada hari pemilihan, jauh sebelum ibunya dianggap menderita kegilaan.

Dan Saodah bisa mengerti sekarang. Seperti sang ibu, ia pun akan mencoblos gambar lelaki berkumis hitam-tebal itu, atau gambar kucing, atau gambar cacing sekalipun, seandainya mereka bisa mengatakan, ke manakah ayahnya menghilang sejak kantor partai dilanda kerusuhan. (28)

Nilla A Asrudian, cerpenis dan penulis lepas, berdomisili di Depok, Jawa Barat. Karyanya dimuat di terbitan sastra dan media massa, seperti Kompas dan Suara Merdeka.Tulisan-tulisan lain dimuat di blog lifestyle beritasatu.com, jakartabeat.com, dan galeribukujakarta.com
.

[1] Disalin dari karya Nilla A Asrudian
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 14 April 2019.
The post Coblos appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Seekor Kucing dalam Rashomon


MALAM hari dalam paduan dekut panjang burung hantu dengan lolongan anjing. Diembus angin dingin bergelung di sekitar tubuhnya, seekor kucing tengah membersihkan diri dengan kaki depannya di bawah gerbang rashomon yang begitu luas saat seorang pria membawa karung dari arah tangga menuju kuil yang terbentang itu.

Kucing itu selesai membersihkan tubuh dan ia mengamati si lelaki yang terbungkuk-bungkuk memanggul karung yang tampak berat di punggung. Sebentar kemudian kucing itu memutar tubuh mendahului si lelaki melewati gerbang yang tiang-tiangnya tebal dan membawa gelegak sunyi saking sepinya kuil itu di malam yang telah larut. Gerimis baru saja turun setelah si lelaki berhasil mencapai ujung gerbang dan berhadapan dengan pintu kuil yang megah.

Yumiura dilindungi gunung-gunung dan kota ini begitu dingin meski musim panas telah sampai dua minggu lalu. Namun, pria muda yang esoknya akan bertugas sebagai salah satu orang terdepan yang mengusung mikoshi itu tampak mencurigakan sebab tak ada yang datang di kuil ini pada malam selarut ini. Semua orang sedang tertidur dengan benak dan mimpi pada festival nanti.

Rashomon yang menyelubungi kuil Shinto itu sudah ada sejak pertengahan zaman Edo. Warna merah tiang-tiangnya telah kusam, tetapi menyisakan kesan megah yang jarang ada. Tidak semua kuil di negeri ini punya gerbang semacam itu. Hanya sedikit yang memiliki gerbang sejembar itu. Biasanya kuil-kuil hanya ditandai dengan beberapa torii.

Kegelapan yang merayap sedari petang kini telah melingkupi luasnya sudut-sudut dalam rashomon. Tak ada yang tertangkap mata dengan baik saat memasuki gerbang itu. Ruang gelap gulita harus dilewati dengan perasaan takut hingga cahaya tampak di ujung dan itu menandakan kita hampir pungkas melangkah melewati gerbang, lalu daerah terbuka depan kuil menampilkan langit yang kini menurunkan gerimis.

Karena ada kuil baru yang lebih cerah telah dibangun pada awal zaman Showa ini, kuil di atas bukit itu ditinggalkan umatnya untuk hancur digerus waktu. Kuil baru letaknya mudah dijangkau dan berada di pusat kehidupan kota. Kuil lama ini dibiarkan lapuk sebab orang-orang sudah melupakannya, seperti patung Jizo berabad-abad di pinggir jalanan, sangat kusam dan terus-menerus ditembusi hujan hingga batok kepalanya jadi ceruk membentuk kubang. Orang-orang tua yang meninggal satu per satu tidak lagi mengingat kuil ini dan anak-anak muda lebih suka kemeriahan baru di kuil pusat kota. Jadi, kuil ini hanyalah persinggahan para hantu dan kesunyian.

Geta pria itu berkeletak-keletuk sepanjang dia berjalan mengusung mayat di pundaknya. Dengan pasti dia menyabarkan diri agar tidak tergesa melangkah di kegelapan rashomon supaya suara geta-nya tidak terdengar keras. Seharusnya aku memakai zori saja, pria muda itu berpikir. Namun, tak ada yang menyiapkan sandalnya. Dia hanya mengenakan kinagashi biasa dengan geta sebagai alas kaki.
Pria itu telah membunuh seorang perempuan yang beberapa saat sebelumnya menolak dirinya. Perempuan ini salah satu dari gadis kuil yang nantinya menari tarian Kagura khas malam musim panas. Orang-orang tak akan mengira perempuan itu pergi sebab ada tiga penari utama. Perempuan ini salah satunya.

Perempuan itu seharusnya akan minggat dari rumah setelah festival. Dia sudah ditunggu kekasihnya yang datang jauh-jauh dari Kofu untuk membawanya pergi meninggalkan lingkungan yang dengan terpaksa ditinggalinya sebab pria yang telah membunuhnya ialah Tuan Muda. Ya, perempuan itu pembantu di sebuah klan.

Sebut saja klan Midori, yang tetap memegang teguh tradisi. Perempuan itu disayang si pria pembunuh, tetapi cintanya pada kekasihnya lebih besar. Dia memilih pergi, tapi malam celaka ini kali mengubah nasibnya.

Setelah mabuk sake, Tuan Muda datang ke kamarnya yang berada di lingkaran terakhir dari rumah klan yang megah dan luas. Tak seharusnya seorang Tuan Muda muncul di kamar itu, tetapi nafsu telah menguasainya. Berbekal alkohol, dia memaksakan diri pada perempuan itu. Tentu perempuan itu berusaha lari dan dia berhasil. Koridor-koridor panjang dia langkahi dengan tergesa-gesa.
Namun, pada belokan terakhir saat bulan memampangkan wujudnya di tengah langit, Tuan Muda berhasil menangkapnya kembali.

Perempuan itu meronta. Dia kena tampar. Lalu Tuan Muda menyeretnya. Dan setelah bergulat, mengguncang-guncang tubuh perempuan mungil itu dengan sentakan-sentakan dahsyat untuk menjinakkannya dari perlawanan, perempuan itu mengembuskan napas terakhir. Mati dalam takut. Iblis yang bersemayam dalam diri Tuan Muda telah tersenyum puas lalu meninggalkan dirinya; menjadi sang tersangka. Barulah Tuan Muda sadar, dan menyesalkan kedunguannya itu.

Maka tak ada jalan lain kecuali menyembunyikan tubuh perempuan tersebut. Mula-mula dengan menutupnya menggunakan selimut. Seorang tua kepercayaannya, sempat terkejut melihat Tuan Muda ketakutan. Saat diperlihatkan mayat perempuan muda itu, orang kepercayaannya ini rubuh dan mengatakan bahwa dosa harus ditanggung sepenuhnya oleh Tuan Muda.

Orang tua ini tidak akan mengatakan apa-apa tentang kejadian malam itu. Dia berjanji tutup mulut, tapi tidak mau membantu mengurus si mayat. Tuan Muda tak bisa menangis terlalu lama. Dia harus berpikir keras mencari cara. Pertama dengan gelisah dia tanamkan mayat itu di rumpun dekat tugur raksasa pohon kusu no ki tak jauh dari kamarnya. Namun, kegelisahannya selama beberapa saat itu berlanjut seiring waktu berjalan. Tak ada cara lain. Dari balik taman di hadapannya itu dia memanggul mayat menyedihkan tersebut untuk membawanya ke bukit.

Bukit dengan kuil lawas itu berada di sebalik jalan setapak yang berada di sisi lain kediaman klan Midori. Karena letak kamarnya terbilang stategis, mencapai kuil itu langsung dari kediamannya bisa dengan mudah dilakukan. Kuil itu didirikan oleh leluhurnya dan kini dengan membawa dosa ia mesti menanam buah celaka yang dilakukannya.

Rasa mabuknya sudah hilang sama sekali saking takut dan panik. Orang tua yang lepas tangan hanya memandang Tuan Muda-nya dengan penuh kecemasan. Dia tak bisa melakukan apa pun atas dosa yang diperbuat calon penerus pimpinan klan tersebut. Yang bisa diperbuatnya hanya membisu untuk selamanya. Sampai dia mati dan membawa rahasia itu ke alam kubur. Memikirkan hal ini, orang tua itu hanya bisa mendesah dan berdoa.

Selesai menanam tubuh perempuan pembantunya itu, Tuan Muda hendak kembali ke rumah saat dirinya terkejut akan dua bola mata yang menyala di kegelapan. Sebagai penyaksi atas tindakannya, seekor kucing yang tengah berteduh dari hujan.

Tuan Muda seakan tertodong sejenak. Namun, dia menguatkan dirinya berkali-kali: Itu hanya kucing, hanya seekor kucing. Langit luas terbentang di atasnya tapi tanpa bintang. Hujan makin deras.

Dengan langkah tergesa-gesa dia meninggalkan kuil. Tuan Muda pun akan mengarang kisah bahwa pada tengah malam itu dia melihat si pembantu meninggalkan rumah diam-diam bersama seorang lelaki tak dikenal. Semua orang akan memercayainya dan menyumpahi si pembantu kurang ajar yang baru saja tinggal di rumah klan itu selama 7 bulan ini.

Ya, dia akan mengarang kisah seperti itu, meyakinkan seluruh orang yang pada saat ini masih terlelap, kecuali si orang tua abdi setianya yang berjanji untuk tutup mulut.

Kini gadis itu mendekam di antara pohon-pohon. Sedang seekor kucing masih tertahan hujan dan dinginnya malam.

Kucing itu menyimpan aroma pria muda yang bercampur keringat tubuh dan tanah lembap; tergesa-gesa menutupi kejahatannya sampai meninggalkan sesuatu yang pada akhirnya akan menjadi bukti. Tinggal menunggu waktu, seseorang akan tahu dan mengendusnya. Seperti seekor kucing. (M-2)


[1] Disalin dari karya Bagus Dwi Hananto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 14 April 2019
The post Seekor Kucing dalam Rashomon appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Lelaki Penjilat Tulang yang Membawa Setangkai Mawar


LELAKI tua yang membungkuk itu selalu mengais-ngais tempat sampah dengan tongkat kayu yang ia pegang. Jika ia mendapatkan tulang, tangan keriputnya yang gemetar, tak jijik memungut tulang itu dan dimasukkan ke dalam buntalan kain lusuh yang digendongnya.

Ia akan pindah dari satu tempat sampah ke tempat sampah yang lain, masih dengan seok kaki telanjang yang tertatih lirih, napasnya tersengal, naik-turun hingga menimbulkan suara yang bagai menderit, dari wajahnya yang pucat, kentara sekali jika lelaki tua itu sangat sesak, hingga kadang mengharuskannya istirahat, duduk bersandar apa pun yang bisa ia sandari, lalu mengeluarkan sepotong tulang dari buntalan kain yang digendongnya itu, saat itulah matanya baru tampak binar, kerut kulit wajahnya sedikit kencang dan sesungging senyum purba terlukis di bibir tuanya yang hitam, tepat di depan gigi tunggal yang tinggal separuh, lalu ia menjilat tulang itu dengan ekpresi yang begitu  nikmat, bagai bocah menjilat es krim stik.

Berkali-kali ia membolak-balik tulang itu hingga air liurnya leleh, menderas ke baju atau sarungnya yang kumal. Pada saat tertentu, ia kadang menggigit-gigit pelan bagian ujung tulang hinggal menimbulkan suara patahan, dan sekitar 1 menit dari jilatan pertama, barulah ia merasa puas dan membuang tulang itu seraya menghidu setangkai mawar.

Selain punya kebiasaan menjilat tulang, ia juga biasa membawa setangkai mawar yang diselipkan di ikat pinggang kain kumal yang melingkari perutnya. Bunga itulah yang akan membuat tubuh lelaki itu tetap harum meski kerap bersentuhan dengan tulang-tulang. Ia akan mencium bunga mawar itu setiap selesai menjilat tulang. Diciumnya dengan khusyuk sambil memejam mata dalam waktu yang agak lama, seolah ada kekuatan yang diserap dari bunga itu. Setelah dirasa cukup, barulah ia menyelipkan kembali setangkai mawar itu ke ikat pinggangnya. Kabarnya, bunga itu adalah bunga abadi, para tetua bahkan menyatakan kesaksiannya bahwa sejak dulu setangkai bunga yang terselip di ikat pinggang lelaki itu tetap bunga itu: mawar kuning, dengan tiga helai daun, satu yang paling atas agak kecil dan memincuk panjang.

Orang-orang Dusun Bungduwak mengenal lelaki tua itu dengan nama Ki Tawi. Ia tinggal di lereng bukit Rongkorong, di rumah bambu reot yang di sekelilingnya ditumbuhi rumput dan semak. Anehnya, rumah bambu yang ia tempati meski sudah reot sejak dahulu, hingga saat ini tak pernah roboh.

Tak seorang pun yang tahu berapa umur Ki Tawi saat ini. Orang-orang di dusun Bungduwak mulai sejak kecil memang mengenal Ki Tawi sudah tua begitu, tubuhnya membungkuk dan hidup dengan menjilat tulang dan membawa setangkai mawar. Bahkan Ki Said, salah seorang sesepuh di dusun itu pun mengaku jika sejak kecil ia melihat Ki Tawi memang sudah tua membungkuk dan rajin menjilat tulang.

Ia kesohor karena selain punya kebiasaan unik, juga punya kebiasaan membantu mengobati orang sakit. Setiap ada yang hendak memberinya makan dan uang, ia akan menolak dengan santun beserta senyum purbanya yang dipincuk lembut oleh sepasang bibirnya yang kerap gemetar. Bahkan meski makanan itu berupa tulang, ia juga menolak dengan sopan.

***
HANYA beberapa detik setelah cekat tangan Ki Tawi mengipaskan setangkai mawarnya ke wajah si sakit, orang-orang di ruangan itu terlihat semringah. Harum mawar menguar di udara, dua di antara orang-orang itu menangis haru sambil memeluk seorang lelaki kurus yang wajahnya masih pucat di antara gerai rambutnya yang awut. Tapi berbicara dengan jelas, matanya berbinar, ia mengaku kepada keluarganya jika dirinya sudah sembuh. Sebentar-sebentar ia menggerakkan sebagian tubunya. Kadang juga memainkan intonasi suaranya. Lalu tersenyum dan berpelukan. Satu sama lain, di antara keluarga itu saling melepas pandang, seolah bertukar gurat kebahagiaan atas kesembuhan salah satu keluarganya.

Ki Tawi yang duduk di sampingnya merasa lega. Ia melepas napas pajang seraya menganggukkan kepala, setangkai mawar yang sedari tadi ia pegang, kembali diselipkan ke ikat pinggangnya. Tangannya yang keriput alih memungut sepotong tulang dari buntalan kain yang digendongnya. Lidahnya yang merah basah, menjilat-jilat tulang itu sampai putih bersih. Menggigit-gigit pelan hingga menimbulkan suara patahan samar. Mata orang-orang yang ada dalam ruangan itu tertuju kepada Ki Tawi, pandangannya erat bagai terikat, tak kedip bagai terpaku, berakhir saat Ki Tawi membuang tulang itu keluar jendela.

“Terima kasih, Ki. Telah membantu menyembuhkan saya,” kata si sakit dengan nada rendah dan sedikit gemetar.

“Iya, Nak. Saya hanya perantara, Allah yang menyembuhkanmu,” sahut Ki Tawi berbuntut batuk.
“Mungkin bunga mawar dan tulang-tulangmu itu yang juga jadi perantara, Ki,” sambung salah seorang keluarganya.

“Mawar dan tulang sebenarnya simbol kehidupan,” Ki Tawi mengelus setangkai mawarnya.
“Apa maknanya itu, Ki?”

“Mawar itu indah dan harum, itu artinya manusia harus indah, berakhlak mulia, dan harum, bermanfaat bagi orang lain. Tulang itu kuat dan putih, artinya manusia harus tangguh dan hatinya bersih.”

“O. Jadi begitu maksudnya, Ki?”

“Iya. Pada hakikatnya hati manusia sama seperi tulang, ia rawan kotor. Harus selalu dan selalu dibersihkan. Itulah sebabnya aku setiap waktu selalu menjilat tulang. Sesungguhnya agar aku ingat untuk membersihkan hati, hingga putih dan bersih,” ungkap Ki Tawi sambil memperbaiki posisi buntalan kain yang ia gendong. Orang-orang yang ada di ruangan itu mengangguk paham dan saling tatap.

***
APARAT desa beberapa kali melindungi Ki Tawi dari ancaman warga. Meski Ki Tawi cukup tenang unntuk langsung menghadapi warga, tapi aparat desa khawatir lelaki tua itu jadi bulan-bulanan massa. Kebaikan yang selama ini Ki Tawi lakukan dengan penuh pengorbanan, oleh sebagian warga malah dibalas dengan kejahatan. Sesuai dengan apa yang selama ini Ki Tawi bayangkan, bahwa di dunia ini sebenarnya tempat yang tidak aman, maut dan kejahatan senantiasa mengancam, mestinya orang-orang tidak mencintai dunia.

Sebagian warga terus menuduh Ki Tawi tukang sihir dan mereka mengancam untuk membunuhnya.
Di dalam kamar sunyi, yang disediakan oleh aparat desa, Ki Tawi hanya duduk termangu dan sesekali meneteskan air mata. Beberapa saat ia mendekat ke jendela, mengamati apa yang terjadi di luar, lalu kembali lagi, duduk di tubir ranjang kayu dengan sepasang kaki menggantung. Ia mengelus pelan setangkai mawar miliknya dan atau kadang menjilat-jilat tulang.

Air matanya terus membutir turuti keriput pipinya yang dipenuhi garis-garis lengkung, ia menangis bukan karena takut kepada ancaman warga, tapi dirinya merasa berdosa karena tak bisa lagi membantu menyembuhkan warga yang sakit.

***
PADA hari yang oleh aparat dirasa aman, Ki Tawi diperbolehkan pulang oleh aparat desa untuk sekadar mengunjungi rumahnya sesaat.

Beberapa saat kemudian, ratusan warga berkumpul mengepung rumah itu, masing-masing memegang senjata tajam dan ikatan janur kering untuk membakar rumah itu. Semuanya berwajah beringas dengan sorot mata yang tajam memisau.

“Mari kita lenyapkan kakek sihir ini beserta rumahnya,” teriak salah seorang warga seraya mengacungkan parang.

“Kita bakar saja agar tubuhnya jadi sate.”

“Hahaha….”

“Apa kalian setuju kalau kita bakar?”

“Setujuuu!” jawab warga serentak.

Tiba-tiba saja api memercik dari sebuah korek dan melalap janur kering yang diikat menyerupai sapu. Beberapa orang menyiramkan bensin ke rumah itu, dan tak seberapa lama, api-api itu menjalar liar di beberapa ikat janur lain yang dipegang warga. Ikat-ikat janur kering bermahkota api itu kemudian dilempar ke rumah reot itu beramai-ramai. Ada yang bersarang di atap, di lantai, di gedek dan di daun pintu.

Beberapa saat kemudian, terhidu harum mawar yang menusuk dari kobaran api itu, harum yang begitu lembut dan membuat hidung merasa nyaman menghidunya dalam waktu lama. Warga saling bertatap menyimpan tanya, antara bahagia dan cemas. Lalu dari langit berjatuhan tulang-tulang putih lurus menimpa kobaran api itu. Warga semakin cemas dan takjub. Mereka mundur beberapa langkah. Dan setelah hujan tulang itu purna memadam kobaran api, kecemasan dan rasa takjub warga memuncak. Ternyata rumah reot itu masih sepeti sedia kala, tak ada bekas lalap api sedikit pun. Harum mawar semakin menuba udara. Kemudian daun pintu pelan didorong dari dalam hingga terbuka.

“Ada apa ini? Mengapa kalian berkumpul di sini?” tanya Ki Tawi dengan raut yang heran. Warga bergeming. Tak ada yang bersuara. Berdebar ketakutan.

“Mari hiasi hidup ini dengan prasangka baik. Saling menolong. Jangan saling menuduh tanpa dasar yang pasti,” tambahnya seraya mengangkat pelan buntalan kain berisi tulang ke bahunya dan menyelipkan setangkai mawar yang sedari tadi ia pasang ke ikat pinggangnya. (e)


Rumah Ibel, 24.12.18
* A Warits Rovi: lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988. Guru bahasa Indonesia MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jalan Raya Batang-Batang PP Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura.

[1] Disalin dari karya A Warits Rovi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi Minggu 14 April 2019.
The post Lelaki Penjilat Tulang yang Membawa Setangkai Mawar appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Elena


Sejak kecil aku tahu ada yang tak beres dengan saudara perempuanku itu. Elena senang berlama-lama mendekam di sudut gelap, mengasingkan diri seperti binatang yang terluka, tenggelam dalam dunianya sendiri. Sering kupergoki dia bicara sendiri atau berdiri diam sambil memandang jauh ke depan, seakan-akan menatap sesuatu yang kasatmata.

Elena tidak sekolah. Aku rasa tak ada yang mau menerima anak perempuan setengah sinting sebagai murid. Sebagai gantinya, Ibu mendatangkan guru privat. Itu pun tak bertahan lama. Setelah tiga kali gagal, Ibu menyerah. Beliau turun tangan sendiri, paling tidak agar anak itu bisa baca-tulis. Pernah kulihat Ibu mengajar Elena dan aku tak heran si guru privat berhenti hanya beberapa minggu setelah bekerja.

Suatu hari Elena menghilang. Ayah dan Ibu langsung sibuk mencari. Tak pernah kukatakan yang sebenarnya bahwa aku pelakunya, bahkan sampai keduanya meninggal. Kubujuk dia membuka pagar dengan iming-iming penjual permen di ujung jalan. Lebih baik dia tak ada. Aku tak bisa dan tak mungkin membenci Elena, bagaimanapun dia adikku, yang jelas aku tidak menyukainya. Karena anak itu, masa kecil kulalui dengan olok-olok sebagai kakak si gila.

Harapanku tak terkabul. Satu jam kemudian Ayah kembali bersama Elena yang ditemukan beberapa ratus meter dari rumah. Tak berani kuulangi lagi, meski kecewa. Kembalinya Elena kuanggap sebagai pertanda bahwa ia tak akan pernah lepas dari keluarga ini. Selain itu, aku khawatir bila kulakukan lagi, Ayah dan Ibu akan curiga dan mulai bertanya-tanya.

Aku mulai takut kepada Elena ketika dia dipergoki membakar boneka di halaman belakang rumah. Bayangan ia akan jadi tanggung jawabku setelah orang tua kami tak ada membebaniku bertahun-tahun. Atas persetujuanku, Elena dirawat di rumah sakit jiwa setelah dia membuat onar di tempat umum. Kukira akhirnya aku terbebas darinya. Ternyata aku salah.

  
“Pak, ada tamu untuk Anda,” kata pengurus rumahku suatu pagi sambil membereskan piring-piring bekas sarapan.

“Siapa?”

“Majikanmu mengenalku, hanya itu yang dia katakan waktu saya tanya.”

“Di mana dia sekarang?”

“Menunggu di teras.”

Penasaran dengan sikap tamu yang misterius, kopi yang tersisa di cangkir kutandaskan sebelum menemuinya. Sosok yang semula duduk seketika bangkit mendengar pintu terbuka di belakangnya. Kami bertatapan. Meski tak bertemu bertahun-tahun, aku masih mengenal sahabat masa kecilku.
“Apa kabar?” seruku gembira, “Kenapa tidak memberi tahu akan datang?”

“Ini tidak direncanakan. Aku ke sini karena ada urusan.”

“Oh ya, ada apa?” tanyaku sambil mengajaknya duduk di ruang tamu.

Dua menit kemudian pengurus rumahku datang dengan segelas minuman di atas nampan. Ditaruhnya di depan lelaki tersebut dan berlalu pergi. Lengan si tamu terulur, lalu meraih dan menyesap minuman yang dihidangkan sebelum mengutarakan alasan kedatangannya.

“Ini tentang Elena.”

Untuk sesaat aku tak mengerti maksudnya. Latihan bertahun-tahun menghilangkan ingatan tentang Elena ternyata cukup berhasil.

“Ada apa dengannya?”

“Sebagai keluarga terdekat kau harus turun tangan, meskipun selama ini tak pernah menjenguknya.”
Kubalas tatapan tajamnya dengan sorot mata tak peduli. Kau tidak mengalami yang aku alami, batinku.

“Katakan saja, ada apa dengannya?” ulangku.

Sang tamu menyandarkan punggung ke sandaran kursi.

“Entah bagaimana caranya, Elena berhasil kabur dari rumah sakit jiwa tempatnya dirawat. Tadi pagi dia mengetuk pintu rumahku dalam keadaan berantakan. Lutut dan sikunya biru lebam, sepertinya terjatuh. Telapak kakinya yang telanjang, terluka. Istriku sudah menyuruhnya mandi, memberi pakaian bersih dan mengobati lukanya.”

Di matanya terbaca kalimat tak terucapkan, kami sudah menolongnya sebagai tetangga yang baik. Sekarang tugasmu.

Elena kudapati duduk di kursi besi. Diamatinya sosok istri pemilik rumah yang sedang bekerja tanpa berkedip. Ia mengenakan baju terusan putih longgar. Saudara perempuanku terlihat tenggelam dalam pakaian yang terlalu besar di tubuh kecilnya. Melihatnya lagi setelah bertahun-tahun membuat perasaanku campur aduk. Aku gembira sekaligus kesal oleh kenyataan bahwa ia lebih memilih datang ke rumah orang lain daripada ke tempatku.

Mataku bertemu dengan mata sang nyonya rumah. Kuisyaratkan kepadanya untuk diam kemudian menghampiri Elena dan menunggu sampai dia menyadari kehadiranku.

“Siapa?” tanyanya.

“Roy. Aku saudaramu.”

“Saudara?” ulangnya bingung, “Aku punya saudara?”

“Ikut aku. Di sini bukan tempatmu.”

Perempuan itu ikut tanpa membantah. Hal ini yang aku suka darinya, dia begitu penurut.

Begitu sampai di rumah, kusuruh si pengurus rumah merapikan kamar belakang kemudian membeli beberapa baju wanita. Elena yang semula membuntutiku, beranjak ke kursi lalu duduk menghadap dinding. Aku tinggalkan dia di sana dengan tangan terlipat di pangkuan dan wajah tanpa ekspresi.
Ternyata itu kesalahan. Kekacauan terjadi setelah minggu tanpa gejolak. Entah apa dulu yang membuatku membawanya ke rumah. Kini tak henti-henti kusesali tak segera mengirimnya kembali ke rumah sakit jiwa. Perempuan itu pembawa masalah, sejak dulu sampai sekarang. Seharusnya aku tahu apa yang terbaik untuknya dan untukku.

Bunyi berdebam serta jeritan dari kamar belakang membuatku bergegas ke sana. Mataku terbelalak.
Daun pintu terbuka lebar, memperlihatkan isi kamar yang berantakan. Kursi terguling di lantai. Elena baru saja menarik lepas seprai alas kasur dan mencampakkannya penuh amarah. Dari sudut mata, kulihat si pengurus rumah datang menyusul. Kehadirannya disambut hancurnya gelas yang beradu dengan dinding, membuat wanita tersebut balik kanan sambil terpekik ngeri.

“Apa yang kau lakukan?!” seruku marah, “Jangan mengacau di rumahku!”

Kutahan tangannya yang hendak melempar benda lain. Licin. Seluruh tubuh Elena banjir keringat. Napasnya tersengal-sengal. Ditatapnya aku dengan wajah merah padam dan sorot mata nyalang.

“Kembalikan anakku!” pekiknya.

Aku tercengang.

“Anak apa? Kau tak punya anak.”

Mata Elena berkaca-kaca.

“Mereka mengambilnya…, mereka merampasnya dariku…,” sedunya.

“Mereka siapa?”

“Api…,” Mata Elena membulat. “Aku lihat api.…”

Aku mendengus.

“Entah apa yang kau ocehkan. Diam atau kuusir dari sini.”

Elena merosot ke lantai. Dia gemetar, isaknya berubah jadi tangis. Perempuan dewasa itu menangis seperti anak kecil. Kupandang sebal dia sebelum keluar dari kamar lalu memberi tahu si pengurus rumah yang mengintip takut-takut agar membiarkannya.

Menjelang senja, saat kukira keadaan telah normal kembali, tercium bau asap. Perasaanku tidak enak. Setengah berlari, aku menuju kamar Elena dan membuka pintunya. Isi kamar sama persis seperti beberapa menit lalu. Yang kucari tak ada. Kuikuti bau asap yang membawaku ke halaman belakang. Firasatku terbukti. Elena menandak-nandak di dekat api yang makin besar berkobar. Entah apa yang dibakar.

“Hentikan!” bentakku.

Tangan kananku terulur, berusaha merebut benda di tangannya sambil mendorong dengan tangan kiri. Elena membalas. Perih menyengat. Ada bercak darah di ujung jari yang kugunakan mengusap leher. Elena mencakarku, tapi bukan itu yang membuatku tersentak. Di hadapanku tak ada lagi sosok wanita bertubuh kecil yang setengah sinting dan rapuh. Matanya menatap tajam, bibir menyunggingkan senyum sinis. Ia tampak kejam dan penuh tekad. Rasa dingin menjalari tulang belakangku. Aku takut.

  
Ruangan itu tak terlalu luas. Udara yang berembus dari AC mampu mengusir hawa panas siang hari itu. Berlatar belakang beberapa lukisan abstrak yang tergantung di dinding, seorang pria berpakaian putih duduk di belakang meja. Tangannya membalik-balik lembaran berkas yang dipegang. Ia berhenti membaca ketika terdengar ketukan di pintu.

“Masuk.”

“Dokter,” ujar yang membuka pintu sambil mengangguk hormat, “Kami membawanya.”
Yang disapa menunjuk kursi di depan meja dengan pulpen di tangannya.

“Dudukkan dia di sana.”

Pintu terbuka lebih lebar. Tiga orang masuk, dua laki-laki mengapit seorang wanita yang terlihat lemas. Setelah melaksanakan perintah, dua lelaki tersebut keluar dan menutup pintu. Sang dokter memperhatikan perempuan yang duduk menunduk di hadapannya.

“Angkat muka Anda. Tatap saya,” perintahnya.

Wanita itu menurut. Kepalanya terangkat, tapi tidak memandang. Sinar matanya sayu dan tak fokus. Pria berbaju putih bangkit, menghampiri si wanita. Dijentikkannya jari berulang kali di depan paras yang pucat sampai pemiliknya benar-benar menatap sebelum bertanya.

“Siapa Anda sekarang? Elena atau Roy?”

________________________________________
Daisy Rahmi, kelahiran Manado, 30 April 1976. Karya-karyanya dimuat di sejumlah media massa. Kini tinggal di Jakarta.


[1] Disalin dari karya Daisy Rahmi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 13-14 April 2019.
The post Elena appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Jumat, 12 April 2019

Malam-Malam Dazai


DAZAI Kagari menutup daun jendela setelah semua di luar begitu pekat. Saat ini memasuki November. Udara terasa kering dan malam hari sangat dingin. Musim gugur menjelang dan daun-daun mapel berubah warna. Kental dengan merah menyala. Seperti darah. Ya, darah.

Hanya lampu di tengah kamarnya yang terus menyorotkan sinar setelah jendela dia tutup. Sudah begitu malam dan angin dingin baru saja masuk. Dazai menggelar futon di tengah-tengah kamar. Menutup pintu sorong yang memperlihatkan ruang kerjanya yang berantakan. Besok dia mesti berbenah. Pikirnya. Seperti pikirannya di hari-hari lalu. Hanya ada inisiatif tanpa tindakan. Sebab, dia hidup sendiri. Sebelum tidur, lintasan masa lalunya berhasil menerobos rasa kantuk yang memberati diri. Sebagaimana orang-orang yang hidup dengan masa kecut, penuh penyesalan, dan kegundahan. Dazai mengingat sesuatu yang terasa jauh walau dirinya seolah teryakinkan, masa yang jauh itu baru saja dilalui. Seakan itu hanya selompatan kodok menuju luasnya danau.

Ingatan Dazai memasuki usia mudanya, saat mengajak seorang perempuan bunuh diri dengan melompat dari tebing karang di pinggir laut. Waktu itu malam hari dan polisi antihuru-hara mencari-cari para pendemo yang berhasil melarikan diri. Dazai muncul di kegelapan gang, lalu masuk ke sebuah bar dengan tubuh penuh keringat dan ketakutan. Seorang perempuan yang dikenalnya berhasil menyembunyikan dirinya di bawah meja, dengan kepala menelusup di sela-sela selangkangan si perempuan yang saat itu mengenakan terusan panjang. Perempuan itu penghibur di bar tersebut. Polisi tak berhasil menemukannya.

Nanaseko, nama perempuan itu. Namanya seakan menjadi pengikat kepribadiannya yang riang gembira dan tak mudah gemetar menghadapi cobaan hidup. Dazai menghabiskan waktu bersama Nanaseko setelahnya.

Dazai, seorang pesimis yang muncul dari lembah kegelapan dan linglung akan idealisme, terkapar sehabis mabuk dengan perempuan itu di sampingnya. Seperti yang dia kenang dengan begitu jelas, saat itu Nanaseko mengajaknya meninggalkan dunia bersama-sama. Dazai tentu saja menyanggupinya. Toh, dia sudah lelah hidup dalam limbung.

“Besok malam?” tanya perempuan itu.

Dazai hanya mengangguk. Saat itu dia sudah mendengar deru laut memanggilnya.

Ingatannya terputus oleh suara kertap genting. Badai menjelang. Tiap kali musim gugur tiba, selalu ada badai dengan gumpalan-gumpalan angin kering. Dingin makin terasa. Futon tipis yang telah menemani malam-malam sepinya tak bisa menangkal dingin. Dia pun menghidupkan hibachi di sudut ruang. Untuk menghangatkan tubuhnya yang telah menua, dia menaruh seteko teh di atas hibachi yang mulai panas tersebut.

Lamunannya kembali menyeruak setelah merasa nyaman dalam kehangatan.

Si perempuan tentu saja tewas setelah pertama terjun, lalu diikuti Dazai. Sayang, Dazai masih bisa hidup usai dua minggu dirawat di rumah sakit. Penyesalan menghantuinya sampai hari ini.

Nanaseko berangkat ke Tokyo bersama-sama dengan rombongan teater yang salah seorang anggotanya adalah Dazai. Setelah lulus dari sebuah universitas kecil di Kansai, mereka menyeberang ke pusat negeri yang bergejolak dengan denyar perang dan segala yang modern. Karena banyak hal yang berbeda, Dazai meninggalkan rombongan itu untuk menjadi penulis, tinggal di tempat kumuh di Asakusa, sedangkan Nanaseko menjadi penghibur sampai bertahun-tahun hingga malam celaka tersebut. Keduanya tak pernah mengatakan cinta satu sama lain. Mereka hanya saling mengerti. Dazai selalu tenang di samping Nanaseko. Begitu juga sebaliknya. Namun, keduanya dingin, menjaraki diri satu sama lain.

Setelah menjalani perawatan dan mengambil semua barang berharganya di Asakusa, Dazai memilih pulang ke tempat keluarganya dulu di Tarumi. Mewarisi rumah yang dia tinggali sendiri hingga kini.

***
Bayangan tubuh yang jatuh ke laut tak pernah lekang barang sejenak dari ingatan Dazai. Maka, hingga kini dia memandang segalanya begitu gelap. Sampai-sampai bau rambut Nanaseko di malam-malam mereka bersama tercium tak mampu lenyap. Dazai tentu tak percaya hantu, dia hanya terus terguncang selama bertahun-tahun karena tidak dapat melupakan perempuan yang mengajaknya mati itu.

Ketika pagi setelah tidur kesekian Dazai yang selalu berakhir tidak nyenyak itu muncul, momiji sudah sempurna nyalangnya. Dan daun-daun merah mengambang di alir sungai kota itu. Dazai membiarkan dirinya hanyut lagi, berkali-kali oleh perasaan yang serupa: Kenapa dia tidak ikut mati bersama Nanaseko. Buddha yang welas asih rupanya telah memintal jaring ke tungkai Dazai sebelum dia melompat memutuskan mati. Jadinya, dia masih ada di dunia fana ini. Dazai selalu berpikir semacam itu.

Sampai di Chidorigaoka, entah bagaimana kakinya melangkah tiba di sana. Pohon-pohon hinoki dan sedar menyelubungi taman itu dan suara burung di kejauhan. Dazai duduk di tengah rerumputan dan mendengarkan dirinya sendiri bersuara. Sesuatu yang terkubur di kegelapan telah muncul kembali dalam dirinya. Hanya, dia merasa sudah terlalu lama menunda itu semua.

Saat ingin menghilangkan kegelisahan, atau lebih tepatnya ketakutan, Dazai memasuki sebuah kuil di taman itu. Terdengar gesekan lidi-lidi sapu menggarit dedaunan yang gugur. Seorang biksu tersenyum kepadanya.

Dari atas patung Nio mungil di depan sebuah torii, air mengucur pelan ke dalam bak batu yang di pinggir-pinggirnya dipenuhi gayung kayu. Dazai membasuh kedua tangannya dengan air tersebut. Dia akan berdoa kepada Buddha untuk rencananya malam ini.

Biksu yang menyapu halaman kuil tadi kini menghampirinya.

“Cuacanya cerah.”

“Musim gugur, setelah badai kemarin,” balasnya.

“Banyak burung kecil hinggap di atap genting ini. Dan Anda bisa mendengar mereka bernyanyi pagi-pagi sekali.”

“Terkadang nyanyian burung membawa petaka.”

“Seperti?”

“Musim gugur, dengan badai.”

“Itu sudah biasa.”

“Orang-orang meninggal sebelum pagi waktu burung tiba.”

“Orang meninggal setiap saat, Tuan.”

Biksu itu tersenyum dan pergi meninggalkannya.

***
Malam ini dia tak dapat tidur. Tepatnya tak dapat lagi tidur. Meski butuh keberanian lebih; walau dia sudah berniat melakukan hal yang telah ditundanya selama bertahun-tahun.

Pisau kecil itu telah diposisikannya di perut sebelah kiri. Berkali-kali Dazai mengambil ancang-ancang. Mengubah sedikit letak ujung pisau menyentuh kulit perutnya; dan berkali-kali itu pula dia gagal melaksanakan niatnya. Sampai malam itu terlalui begitu saja dan pagi tiba dengan ditandai suara burung-burung. Dazai masih menginginkan kematian yang dipaksakannya itu.

Di malam kedua, dengan semangat yang masih sama, dia mencoba lagi usaha penuh keringat tersebut. Sekali lagi hal yang serupa: memosisikan pisau di sebelah kiri, menyentuh kulit perutnya berkali-kali, dengan niat yang sama seperti malam sebelumnya.

Di malam ketiga, tak ada lagi tekad yang menyembul seperti malam-malam sebelumnya. Dazai hanya merasa dirinya wajib mati untuk bertemu Nanaseko, perempuan yang tak bisa dilupakan. Namun, bagaimanapun dia berusaha, hatinya belum cukup kuat menginginkan kematian.

Pagi muncul kembali. Membawa suara-suara yang diredam malam. Juga, burung-burung dan dedaunan terus muncul di depan matanya yang ketakutan karena ingin memutus benang waktu.
Hingga bermalam-malam tiba tanpa hasil. Dunia pun tahu, Dazai seorang pengecut. Pecundang belaka. Dan akan selalu begitu sejak dia lari dari kejaran polisi bertahun-tahun lalu.

2018–2019untuk Osamu Dazai

BAGUS DWI HANANTOLahir di Kudus, gemar menulis puisi dan prosa. Pemenang III Sayembara Menulis Novel DKJ 2014. Novelnya yang terbit tahun lalu Elegi Sendok Garpu (Buku Mojok).

[1] Disalin dari karya Bagus Dwi Hananto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi Minggu 7 April 2019
The post Malam-Malam Dazai appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Rabu, 10 April 2019

Dolag Melukis Tuhan


Si tua bangka Dolag menaruh kanvas lukis berukuran 90 x 50 sentimeter di atas potongan kayu yang disandarkannya pada tembok. Ia pandangi kanvas itu sebelum akhirnya menyeringai, memperlihatkan giginya yang ompong di bagian depan dan sisanya berwarna kuning kehitaman. Kumisnya yang memutih sedikit terangkat, maklum kini ia telah memasuki usia kepala tujuh.

Dolag beranjak ke meja yang berada di dekat pintu, mengambil dua kaleng cat warna merah dan hitam serta tiga buah kuas dengan ukuran bervariasi. Duduk di depan kanvas, menaruh cat, dan ia kembali menyeringai sambil membayangkan sesuatu yang akan muncul dari kanvas di depannya jika tangannya telah mulai menggoreskan kuas berisi cat.

Perlahan dan pasti ia buka tutup kedua kaleng cat itu dan tutupnya ditaruh di samping masing-masing kaleng cat dengan kondisi tengadah. Cat merah ia tuangkan pada tutup kaleng yang kemudian disusul dengan cat hitam. Ia ambil kuas yang berukuran sedang dan mulai mencelupkannya pada cat merah yang telah dituang ke tutupnya.

Sambil mengaduk diangkatnya tutup kaleng cat itu, dan ia mulai menatap kanvas yang ada di depannya. Kadang ia menjauhi kanvas, kadang ia mendekat dan bahkan sangat dekat hingga mukanya menempel pada kanvas.

Ia kembali tersenyum dan dalam sekali hentakan, ia membuat cipratan kecil warna merah pada sisi kanan atas kanvas. Diamatinya bentuk cipratan yang terbentuk, lantas ia mulai mencari bentuk obyek yang cocok dengan cipratan itu. Si tua bangka itu membayangkan bahwa cipratan yang terbentuk serupa ekor burung. Namun ia segera mengubahnya dan membayangkan itu adalah cakar naga
.
“Oh tidak,” ia mulai menaruh cat dan kuas lalu mendekatkan matanya pada cipratan yang terbentuk, dengan teliti dan seksama ia pandangi setiap lekuk pada cipratan itu, “Ini bukan ekor burung ataupun cakar naga. Ini tangan Tuhan. Ya, ini tangan Tuhan yang turun dari langit. Tangan Tuhan hadir dalam kanvasku. Luar biasa.”

Perlahan ia mendekatkan telunjuk pada cipratan cat itu. Ketika telunjuknya berjarak hanya beberapa milimeter, ia menarik kembali dengan cepat.

“Tuhan hadir di atas kanvasku.”

Dolag berdiri, menggeser kursi dan menghadapkannya pada kanvas yang bersandar di tembok. Satu batang kretek ia jepit dengan bibirnya, lalu disulutnya, dan ia menikmatinya. Asap kretek memenuhi ruangan kecil yang berukuran tak lebih dari 3×3 meter yang dianggapnya sebagai studio lukis sekaligus galeri tempatnya berpameran.

Sambil menghisap kretek yang tersulut ia membayangkan apa yang harus diisi lagi pada kanvas itu. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Di tembok tergantung puluhan lukisan dengan beragam bentuk.

Cipratan cat berwarna kuning yang ia beri judul “Balada Seekor Burung” yang ditulis dalam sepotong kertas putih kecil yang ditempel di bawah lukisan. Garis lurus horizontal hitam di atas kanvas putih yang ia beri judul “Tepi Langit”. Garis melengkung berwarna merah dengan dua titik di bawahnya yang ia beri judul “Iblis Neraka”. Dua garis sejajar warna hijau dan hitam yang dipotong satu garis miring melintang berwarna biru yang diberi judul “Batas Maya”.

Bahkan ada sepotong kanvas kosong yang digantung di dekat pintu yang ia beri judul “Suara Semesta”. Dan tentu masih banyak lukisan yang ia tata rapi pada tembok.

Setelah mengamati satu per satu lukisan yang tergantung di tembok, ia beranjak dari kursi. Mengambil cat hitam yang telah dituang di atas tutup kaleng dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengambil kuas yang ukurannya paling besar dan berujung runcing.

Dicelupkannya ujung kuas itu sembari diputar-putar beberapa kali. Di depan kanvas ia berjongkok. Kali ini ia tak membuat cipratan dengan cat hitam, namun perlahan didekatkannya ujung kuas dengan cat hitam pada sisi kiri cipratan. Ujung kuas menyentuh kanvas dan menciptakan sebuah titik hitam yang kemudian kuas itu ditarik dan ditaruh di atas tutup kaleng cat hitam.

Sambil memainkan ujung kumis yang menyentuh bibirnya, ia mengamati dengan seksama titik yang terbentuk.

“Aaaaa…. Ini mata Tuhan. Persis! Ini mata Tuhan. Sebentar lagi aku bisa menghadirkan Tuhan dengan sempurna di atas kanvasku.”

Ia melangkah mundur dua langkah, mundur selangkah lagi, lalu berhenti dan matanya tetap tertuju pada kanvas yang berisi cipratan cat merah dan titik hitam di sisi kiri cipratan.

“Hampir sempurna! Ini nyata. Tangan dan mata Tuhan.”

Perlahan ia menaruh tutup kaleng cat dan kuas di atas meja dan matanya masih tetap menatap kanvas. Dengan tajam ia melihat ke arah cipratan merah dan titik hitam secara bergantian. Sesekali ia melihat sisi lain kanvas yang masih kosong sambil membayangkan apa yang mesti ia lakukan dengan sisa kanvas yang masih kosong itu.

Tiga kaleng cat diambil lagi dari atas meja. Cat yang diambil berwarna putih, biru, dan kuning. Ditaruhnya ketiga cat itu di samping dua cat sebelumnya dan ia langsung membuka tutupnya. Cat biru yang pertama ia tuang ke atas tutup kaleng catnya yang kemudian disusul cat putih dan kuning.
“Tuhan yang indah, Tuhan yang maha sempurna, hadirlah, hadirlah di atas kanvasku….”

Dolag menyanyi dengan nada sumbang. Tangannya sibuk mencampur dan mengaduk cat yang telah dituangnya. Pertama ia mencampur cat merah dengan putih, ditambah sedikit cat biru dan diaduk dengan rata. Setelah rata, ia mendekatkan kuas ke kanvas namun kuas itu tak menyentuh kanvas.
Ia mencoba menggerakkan ujung kuas di depan kanvas mencari bentuk yang pas. Kadang memutar, menyilang, menyamping, akan tetapi ia merasa belum menemukan obyek yang pas. Ia mengurungkan niatnya menempelkan ujung kuas di kanvas, menarik kuas, lalu meletakkannya di atas kaleng cat hitam.

Dolag mencolek warna biru dengan telunjuknya yang kemudian didekatkannya pada kanvas.
Matanya dipejamkan dan dengan serampangan ia menggoreskan tangannya sebanyak tiga kali. Perlahan ia membuka mata dan terkejut, “Tuhan hampir sempurna hadir di kanvasku.”

Seperti tak percaya, ia mengucek matanya dengan punggung tangannya. “Ya, sempurna! Hanya perlu sedikit sentuhan lagi, maka Tuhan akan hadir dengan sempurna di atas kanvasku,” ia bergumam.
Ia kegirangan, melompat-lompat di dalam kamarnya. Usai melompat ia menari dengan tubuh yang sangat kaku sambil berjalan berkeliling kamar. Mulutnya pun tak henti-hentinya menyebut: Tuhan di atas kanvasku.

Untuk merayakan lukisannya yang belum sempurna yang disebut sebagai lukisan Tuhan, ia menarik selembar kanvas yang tergulung di atas meja. Kanvas itu lumayan panjang. Sebagaimana seorang tuan rumah menggelar tikar untuk tamunya, seperti itulah ia menggelar kanvas itu di lantai. Pada keempat ujung kanvas ia tindih dengan kaleng cat bekas.

Mulailah ia merayakan kegembiraan itu. Sisa cat yang belum dituang ke atas tutup kaleng cat, ia tuang ke atas kanvas. Setelah semua dituang, ia memulai perayaan dengan menginjak genangan cat, lalu berjalan di atas kanvas sambil melompat kecil yang dilanjutkan dengan merebahkan dirinya di atas genangan cat. Ia berguling-guling di atas kanvas, dan tangannya bergerak tak beraturan memainkan genangan cat itu.

Betapa bahagianya si tua bangka Dolag saat itu. Bagaimana tidak bahagia, semenjak memutuskan untuk jadi pelukis dan pensiun dari menulis, hal yang paling pertama ingin dilakukannya adalah melukis Tuhan.

Bahkan jauh sebelum ia memutuskan jadi pelukis dan masih jadi penulis, ia ingin sekali menulis tentang Tuhan. Namun dirinya selalu merasa gagal saat menulis tentang Tuhan. Dirasanya ada yang masih kurang. Pernah ia menulis sejarah kelahiran Tuhan dengan riset yang dianggapnya sangat mendalam, cerpen, puisi, dan semuanya tentang Tuhan, tetapi perasaan gagal selalu menghantuinya.
Dalam kegelisahannya, ia datang ke sebuah acara pameran lukisan di ibu kota dengan tujuan untuk menghibur diri dan berharap bisa bertemu dengan teman sesama penulis yang juga menggandrungi lukisan. Di sana, memang ia bertemu teman penulis yang menggandrungi lukisan dan bahkan sempat berbincang tentang masa depan dunia menulis, sekaligus mendapat sebuah jalan yang baik untuk menghadirkan Tuhan.

Ketika melihat sebuah lukisan yang berjudul “Tuhan”, walaupun menurutnya yang ada di lukisan itu bukan sosok Tuhan, ia membuat sebuah kesimpulan bahwa cara terbaik untuk menghadirkan Tuhan bukan lewat tulisan melainkan lewat lukisan.

Sesampainya di rumah, ia mengambil selembar kertas dan pensil dan berharap dapat menghadirkan sosok Tuhan di atas kertas. Ia tak menemukannya hingga keesokan paginya memutuskan untuk membeli kanvas dan beberapa kaleng cat lengkap dengan kuas. Sejak saat itu, mulailah ia melakukan sebuah petualangan untuk menghadirkan Tuhan di atas kanvas.

Selama masa pencariannya, ia tak bisa melukiskan sosok Tuhan di atas kanvasnya dan yang bisa ia hadirkan hanya cipratan, goresan, ataupun titik yang ia pajang di tembok dan diberi judul sekehendak hati sesuai dengan perasaannya ketika itu. Saat membuat cipratan berwarna kuning dan ia melihat seekor burung hinggap di halaman rumah, ia memberi lukisannya judul “Balada Seekor Burung”. Begitupun saat ia membuat garis horizontal dengan tinta hitam, ia melihat langit sangat cerah dan lukisannya diberi judul “Tepi Langit”.

Dan kini, setelah hampir sepuluh tahun ia memutuskan untuk menjadi pelukis demi menghadirkan Tuhan, baru ia merasa usahanya berhasil walaupun belum sempurna betul. Masih butuh sedikit sentuhan untuk menghadirkan bahwa Tuhan benar-benar nyata dalam lukisannya.

Usai berguling-guling di atas kanvas yang penuh cat, dan dengan tubuh yang masih berlumuran cat, ia mengambil kuas. Ia melihat setiap cat yang telah dituang sebelumnya sambil memikirkan warna apa yang paling cocok digunakan sebagai polesan penutup yang akan membuat Tuhan hadir dengan sempurna dalam lukisannya.

Ini bukan perkara mudah baginya. Jika salah menggunakan cat, maka semuanya akan gagal, dan usahanya selama bertahun-tahun, termasuk perayaan kecil yang telah ia lakukan akan jadi sia-sia. Demi hasil yang sempurna ia memejamkan matanya dan mencoba menenangkan pikiran.

Satu menit kemudian ia membuka mata, dan dengan gerakan yang cepat ia celupkan ujung kuas pada cat biru dan kuas itu ia lempar ke kanvas. Plakkk… Bulu kuas menempel tepat di tengah-tengah kanvas dan beberapa saat langsung jatuh. Dari gerakan kuas saat menempel hingga jatuh terbentuk sebuah goresan vertikal yang membuat Dolag melompat kegirangan.

Ia mengangkat kanvas dari tempatnya dan berlari ke jalan. Ia menghampiri seorang pemuda yang lewat sambil menyodorkan kanvasnya.

“Lihat, aku telah melukis Tuhan dengan amat sempurna!”

“Itu bukan Tuhan, itu hantu!” kata pemuda itu tanpa melihat lukisan Dolag.


Supartika bernama lengkap I Putu Supartika, lahir di Karangasem, Bali, 16 Juni 1994. Alumnus Universitas Pendidikan Ganesha, Jurusan Pendidikan Matematika. Kini mengelola jurnal sastra Bali modern Suara Saking Bali dan wartawan di Tribun Bali.
Samuel Indratma, lahir di Gombong, 25 Desember 1970. Alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Saat ini aktif berkarya dan menetap di Yogyakarta. Secara berturut-turut membuat pameran tunggal bertajuk Los Stang, Nyoh, dan Maju Jaya. Ia juga dikenal sebagai pegiat seni mural di kotanya.


[1] Disalin dari karya Supartika
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 7 April 2019
The post Dolag Melukis Tuhan appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Selasa, 09 April 2019

Tim Sukses


TIBA-TIBA saja Hari memberikan sebuah amplop panjang coklat pada istrinya. Mata istrinya seketika terbelalak setelah menghitung lembaran-lembaran uang bergambar sang proklamator. Betapa tidak ? Uang sebanyak itu mampu menghidupi keluarga selama beberapa bulan.

“Uang darimana, Mas?” tanya Irma, istri Hari. Senyumnya mengembang. Baru kali pertama merasa senang untuk yang berhubungan dengan uang. Selama lima tahun mengarungi rumah tangga, acapkali mengalami kekurangan uang. Gaji honor suaminya dari sebuah SMP swasta, jelas tak akan cukup jika mengikuti perhitungan Matematika.

“Tak usah banyak nanya, yang pasti itu uang halal,” jawab sang suami lalu beranjak meninggalkan istrinya sendiri. Menghampiri motor di halaman lalu bergegas mengendarainya.

Sejak itu, Hari jarang di rumah. Sepulang dari tempat mengajar, hanya mampir ke rumah sebentar. Ia pun sudah jarang mencicipi masakan istrinya karena terburu-buru harus pergi lagi. Masa Pemilu tinggal menghitung hari.

“Jadi tim sukses Bu Indri.. pasti lah makmur,” kata Burhan menggoda Irma saat bertemu di warung Mbak Wati.

“Ya iyalah… modalnya banyak, uangnya kayak yang beranak cucu, gak pernah habis…” Usman menimpali.

“Ngomong-ngomong. Bu Indri caleg perempuan satu-satunya dari kampung kita, ya?” seorang sok intelek menimpali.

“Ya… dan cantik,” Burhan nyengir.

“Aku juga mau kalau disuruh jadi tim suksesnya…” Ali ikut nimbrung. Irma bergegas meninggalkan warung. Lama-lama perbincangan mereka suka ngawur. Menyindir perihal suaminya yang sibuk melakukan aksi agar mendapat suara banyak untuk orang yang dibelanya.

Sampai di rumah, Irma mengingatingat lagi ucapan orang banyak. Bu Indri memang baik, bahkan sangat baik. Hari belum lama jadi tim suksesnya namun sudah sering diberi uang.

“Itu karena suamimu orangnya mobile,” jelas Dian, sahabatnya waktu ia curhat akan keresahan yang menyerangnya tiba-tiba.

“Mas Hari pandai bicara dan bisa memengaruhi banyak orang. Makanya Bu Indri percaya,” jelas Irma.

“Yap.. itu! Lalu, apa yang kau ragukan?” Dian menatapnya. Irma hanya mendesah. Sudah banyak kebaikan Bu Indri. Mengubah perekonomiannya. Namun jika orang-orang mulai menggunjingkan kecantikan Bu Indri, Irma resah. Hari, suaminya, lelaki yang berwajah tampan dengan tubuh tinggi tegap. Usianya sepuluh tahun lebih muda dari Bu Indri. Namun bukan tak mungkin jika keduanya saling jatuh hati, mengingat Bu Indri sudah lima tahun tak bersuami.

Mungkin perasaan Irma berlebihan namun itu bisa masuk akal. Banyak yang menjadi tim sukses Bu Indri, namun kebaikan Bu Indri pada suaminya melebihi kapasitas. Apalagi Hari tim sukses yang baru.

“Sudahlah, jangan terlalu dihantui…” Dian membaca apa yang dipikirkan sahabatnya. “Seharusnya kau bersyukur… suamimu menjadi kepercayaan orang yang baik…”

Malam itu Irma diliputi perasaan gelisah. Sudah pukul 21.00 namun Hari belum kembali ke rumah dan nomor ponselnya tak bisa dihubungi.

Setelah pukul 23.00 tak juga datang, Irma nekat menyusul ke vila milik Bu Indri yang selama ini dipakai untuk berkumpul para tim sukses. Namun yang dicari tidak ada. Sepi. Ia hanya bertemu Bu Indri yang menghampirinya keluar saat dirinya celingukan tak tentu tujuan.

Irma pergi dengan perasan tenang karena kecurigaan selama ini hilang setelah menerima sikap Bu Indri yang ramah.

Namun Irma tak pernah tahu, sepeninggal dirinya, Bu Indri yang mengenakan baju tidur tipis berbahan sutra, segera masuk ke dalam kamar yang gelap.

“Aktifkan ponselmu, pulanglah.. istrimu menunggu ! “ ❑ – g

Bandung, akhir Maret 2019
*) Komala Sutha, yang lahir di Bandung, 12 Juli 1974, menulis dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Tulisan tergabung dalam beberapa buku solo dan puluhan antologi cerpen serta puisi

[1] Disalin dari karya Komala Sutha
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 7 April 2019
The post Tim Sukses appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya



Arsip Literasi