Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 20 Mei 2019

Sepucuk Revolver di Bawah Pohon Mapel


Charles si Kepala Sipir berkata masa hukuman Russel akan segera berakhir. Dua puluh tahun berlalu nyaris tanpa terasa. Kata “pulang” menjadi sesuatu yang menakutkan. Hukuman yang dijalaninya sudah terlampau lama, hingga ia telanjur nyaman dan tak ingin pulang. Namun peraturan adalah peraturan. Tepat satu minggu kemudian, sebuah surat pernyataan bebas diterima dan itu artinya; bencana.


Tak lama setelah melewati pintu gerbang besi dan keluar meninggalkan halaman penjara, Russel mendapati suasana hatinya semakin rusak oleh deru kendaraan yang berlalu-lalang. Ia menoleh ke sekeliling, berusaha mencari tahu arah mana yang akan dituju. Sebuah bus dengan lambung warna biru berhenti, tepat setelah ia merasa yakin kaleng besar itulah yang akan mengantarnya pulang.
Bus mengambil rute Hamlock Avenue, melewati taman kota berpayung pepohonan rimbun, kompleks pertokoan, pemakaman umum, dan berhenti di pos terakhir kawasan West Side. Russel turun dengan perasaan bingung yang ganjil.

“Apakah kau keberatan jika aku tinggal di sini lebih lama?” begitu kata Russel pada Charles sesaat sebelum ia meninggalkan kamarnya yang bernomor 231.

“Keluarlah dahulu, kemudian pecahkan kepala seseorang, kupastikan kau akan kembali ke kamarmu,” sahut Charles terbahak. Ia memeluk Russel, memberinya ucapan perpisahan penuh basa-basi. “Usahakan jangan kembali ke sini, Bung.”

“Entah, ya,” jawab Russel lesu. “Aku akan merindukan tempat ini.”

Sekarang, Russel sedang berdiri di hadapan sebuah rumah yang samar-samar muncul dalam ingatannya yang rapuh. Dan, ia merasa asing. Perasaan asing itu sebenarnya tak perlu ada. Sebab, tidak banyak yang berubah pada rumah itu-seolah-olah rumah itu telah terperangkap dalam stoples waktu.

Awan mendung mulai menaburkan butiran hujan. Russel tetap berdiri di luar pagar, memperhatikan pohon mapel yang tumbuh di halaman. Bentuknya begitu elok, kerimbunan daunnya mengembang sempurna, persis rok seorang balerina. Daun-daunnya berwarna kekuningan dan tampak tua.

Rasanya aneh sekali, pikir Russel, menyaksikan pohon itu membesar dalam tempo yang sangat singkat. Rasanya baru kemarin ia membuang sepucuk revolver dan menguburnya di sela akarnya. Kali ini, usai ingatan itu muncul, Russel tersenyum. Ia merasa kepulangannya memiliki tujuan.

Revolver di bawah pohon itu harus dicarinya. Ada satu pekerjaan yang belum selesai dengan benda itu. Pria itu lantas memperhatikan rumahnya. Memang tidak ada yang berubah. Hanya pada bagian pintu, catnya terkelupas, tapi warnanya masih tetap sama seperti saat ia terakhir meninggalkannya dua puluh tahun yang lalu.

Ketika Russel sedang asyik memandangi rumah itu dengan penuh minat, dari balik pintu rumah sebelahnya, seorang pemuda keluar. Pemuda itu berpenampilan rapi. Rambutnya hitam dan kulitnya cerah. Ia memakai celana panjang dan kemeja hitam dengan kerah sedikit terbuka, seolah-olah baru pulang kerja.

“Paman Russel?” sapa pemuda berwajah bundar dan klimis itu ragu-ragu.

“Siapa ya?” tanya Russel sambil mendekat. “Apakah aku mengenalmu?”

“Saya Tom,” jawab pemuda itu tersenyum lebar. “Masih ingat?”

Russel ragu untuk sesaat. Tapi ia mencoba menguatkan diri. “Aku merasa canggung,” katanya jujur. “Rasanya aku tak mengenalmu.”

Pemuda itu tersenyum kecil dan menghampiri Russel sambil menenteng dua kerat bir. Orang lain mungkin punya cara lebih mudah untuk membangun sebuah hubungan. Tapi kadang percakapan ringan saja tak cukup. Gores-gores nyata mesti muncul, terlihat dari sikap dingin yang ditunjukkan Russel.

“Kau tampak gugup.” Pemuda itu berkata pelan. “Minumlah dulu.”

“Terima kasih.” Russel menerima tawaran itu dengan malu. Bulu mata panjang itu bergerak-gerak dan setitik sinar tampak di sudut matanya. “Aku tadinya berharap tak ada yang mengenaliku.”

Pemuda bernama Tom itu mengangguk dan menenggak birnya yang mengepulkan uap tipis. “Aku masih 9 tahun saat itu,” sahutnya datar. “Tapi peristiwa itu masih bisa kuingat dengan baik.”

“Aku jahat sekali, kan?” ujar Russel mendesak. “Tidak apa-apa. Kau boleh membenciku. Aku pantas menerimanya. Siapa pun di kota ini boleh membenciku.”

Berusaha mengalihkan percakapan, pemuda itu tertawa pelan. “Tampaknya kau cukup baik mengurus dirimu sendiri,” katanya sambil mendesah kecil. “Orang-orang bilang, penjara federal adalah tempat yang terkutuk.”

Russel tertawa sumbang. “Itu benar. Di sana tempat orang-orang terkutuk. Jangan pernah pergi ke sana, sekalipun untuk berpiknik,” ujarnya sambil menggenggam botol bir pemberian Tom dengan erat. Ia menyukai hawa dingin yang merambat di kulit telapak tangannya.

“Aku paham.” Tom setengah menghormat. “Setidaknya saat ini kau telah selesai membayar hukumanmu.”

“Bisa kau pahami bagaimana rasanya menjadi orang tua yang membunuh anaknya sendiri?”
“Aku minta maaf,” ucap Tom lirih. “Aku mencampuri urusanmu terlalu jauh. Aku hanya berusaha menjadi tetangga yang baik.”

“Tak ada yang perlu dimaafkan,” sahut Russel santai. “Tak ada tempat untuk melarungkan kata maaf selain pada foto-foto yang tergantung di rumah ini.”

“Yah, sepertinya aku harus pergi,” tukas Tom pengertian. “Kau bisa memanggilku jika butuh sesuatu.”

“Tentu saja, Nak,” jawab Russel tersenyum tipis. “Kau memang tetangga yang baik.”

Tom beranjak dan masuk ke rumahnya. Russel berdiri, membuka pintu rumahnya pelan-pelan dengan jemari bergetar hebat. Dua puluh tahun telah membuat rumah itu menjadi istana laba-laba dan hewan-hewan pengerat. Debu dan tahi kucing kering bertumpuk di setiap sudut, menghasilkan aroma asam bercampur apak.

Sambil menutup mulut dan hidung, Russel menuju barisan foto-foto yang berselimut debu tebal di dinding. Pandangan matanya berhenti pada salah satu foto anak kecil yang sedang berdiri di atas lantai dermaga bersama seorang perempuan bergaun merah. Sebuah payung biru melindapi tubuh keduanya.

“Sialan!” gerutunya pelan. Russel menunduk dengan muram. “Aku masih belum bisa memaafkan kalian. Tak akan pernah bisa.”

Russel terlihat seperti jasad purba yang tersimpan di museum. Rambut perak lemas, kumis tikus, bahu kaku, dan raut wajah seperti kulit anggur yang keriput. Bagian dalam kelopak matanya seperti darah beku, alisnya tampak seperti semak belukar. Ia bergerak perlahan dan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai ujung dermaga.

Dermaga kecil itu tenang. Laut berwarna emas dalam sepuhan cahaya bulan. Sebuah net voli terkulai turun, seolah menunggu para pemain tiba. Laut bergulung-gulung, kekal, dan tak acuh, bibir tipis ombak berubah menjadi keriting kecil saat mengempas ujung dermaga. Suasana itu melemparkan ingatan Russel pada Bernard dan Carolina.

Sekarang, hampir dua puluh tahun sejak terakhir kali Russel melihat laut. Hampir dua puluh tahun sejak ia terkurung di balik pengapnya dinding penjara. Ia sudah lupa betapa laut bisa membuatnya begitu kecil dan remeh, seakan dirinya hanya partikel yang mengambang di atas permukaan bola mata raksasa yang dapat melihat segala sesuatu.

Sepucuk Revolver di Bawah Pohon MapelPeristiwa itu memang kecil dalam putaran-putaran peristiwa alam semesta. Tapi begitu besar artinya bagi Russel. Dulu, ketika ia pertama kali digelandang seregu polisi yang melemparnya seperti sekantong sampah ke penjara, Russel terbiasa menipu diri sendiri bahwa Tuhan memiliki rencana untuk dirinya-sebuah rencana yang berangsur-angsur tersingkap dan entah bagaimana membenarkan semua hal yang dilakukannya.

Tetapi sekarang, pikiran-pikiran itu membuat Russel jengkel. Ia menuduh bahwa Tuhan mungkin pribadi yang super-sibuk. Tuhan mungkin sedang menghitung ombak dan menamai awan. Tuhan berpikir tentang kepiting batu di Laut Atlantik atau gelembung sabun di Kairo. Tuhan berpikir tentang infeksi bakteri di Peru dan kumbang tahi di Afrika, atau tentang pola aneh cuaca di Lingkar Pasifik. Singkatnya; Tuhan tak pernah punya waktu untuk memikirkan dirinya.

Russel berteriak, teriakan pahit yang berkata, “Aku ini binatang!” Teriakan kesakitan yang ia tujukan pada bulan, bintang, lampu kapal di kejauhan, karang yang dipukuli ombak, kamar penjara yang ia tinggalkan, lorong-lorongnya yang suram, para penjaganya, dan pada Tuhan itu sendiri. Dengan batin yang habis dimamah kekecewaan, Russel berpikir teriakan seperti itu mestinya bisa mendorong ombak kembali ke laut, memutar kembali waktu hingga ia bisa mengelak dari peristiwa-peristiwa yang tidak ia inginkan.

Ia benci pada malam ketika ia menemukan Bernard dan Carolina sedang bergumul mesra. Entah bagaimana, anak itu bisa meniduri ibu tirinya. Pengkhianatan itu tak pernah bisa ia maafkan sekalipun dengan memberi mereka hukuman mati dengan sepucuk revolver-yang usai malam biadab itu, telah ia kubur di bawah pohon mapel. Russel memejamkan mata, berdiri gontai di lantai dermaga, dan berusaha keras mengusir bayang-bayang itu dari kepalanya.

Sekarang revolver itu kembali berada di tangannya, mengarah tepat ke pelipis. Setelah bunyi letusan meredup dan debur ombak menyurut, yang tersisa hanyalah keheningan. Laut masih tetap di sana. Ombak tetap mengumpulkan pasir dan membuyar dengan acak, menimbulkan bunyi tepuk tangan dan gelak tawa-seolah-olah tirai panggung mulai turun, dan drama berakhir dengan bahagia.

Adam Yudhistira, saat ini bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Selain aktif menulis cerpen, puisi, dan esai, ia mengelola Taman Baca Masyarakat untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Ia juga aktif di komunitas sastra Pondok Cerita. Buku kumpulan cerpennya, Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

[1] Disalin dari karya Adam Yudhistira
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 18-19 Mei 2019
The post Sepucuk Revolver di Bawah Pohon Mapel appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Selasa, 14 Mei 2019

Recehan Serakah


Aku terhenyak. Semenit kemudian pikiranku tiba-tiba kembali ke jalan kebenaran. Apa yang sudah aku lakukan? Batin kumenjawab kegalauan atas selintas peristiwa yang baru saja terjadi. Keserakahan ini muncul begitu saja. Bagaimana tidak? Hari ini aku berniat mengirim barang ke sebuah ekspedisi. Di sana, yang biasanya tidak ada tukang parkir, ternyata tak jauh di depan ruko di samping ekspedisi duduk seorang remaja tukang parkir. Tentu saja aku mulai melakukan perhitungan untung dan rugi marketing barang yang akan kukirimkan. Aku tak mau rugi dengan harga yang sudah kutetapkan bersama pembeli. Ya, akan menjadi rugi jika keuntunganku yang dua ribu rupiah jatuh ke tangan tukang parkir. Jadilah aku pura-pura tidak mengindahkannya meski mungkin dia berharap juga recehan dariku. Usai transaksi, aku langsung menggas motor cepat-cepat berlalu pergi tanpa peduli apakah wilayah ekspedisi ini juga bagian dari lahan parkirnya.

Tapi, aneh. Sambil mengendara, hatiku menjadi tak setenang biasanya. Pikiranku tiba-tiba kosong memelas. Seperti seonggok penyesalan yang hadir belakangan. Seharusnya aku tak perlu ragu membubuhkan uang dua ribu rupiah untuk tukang parkir. Barangkali recehan itu memang sudah menjadi rezekinya. Ah, tapi mengapa aku sama sekali tak berkeinginan melakukan hal itu? Justru masih memikirkan untung dan rugi. Hatiku semakin gundah dan terus gelisah. Rupanya kali ini Tuhan benar-benar menegurku dengan ingatan masa lalu. Tentang sepupuku, Edi.

Langkah kaki bocah SMK itu sigap menapak aspal. Melapis seragam sekolah yang masih melekat di tubuh dengan kaos oblong. Meletakkan tas di atas setir butut sepeda ontel milik almarhum bapaknya. Berjalan-berlari mengejar mobil dan motor yang mulai menepi. Berteriak meniup peluit lalu menanda arah. Dia bersemangat kegirangan meyambut keuntungan. Ya, keuntungan yang ditunggu-tunggu. Upah yang tak seberapa namun sangat berharga meski kadang tak selalu berpihak kepadanya lantaran kendaraan bergeser pada kawan sejawatnya. Tak ada lagi yang harus dilakukan selain mengalah sebab sudah menjadi keputusan lahan bersama. Edi masih menatap masa. Selama jalanan dilalui kendaraan, selama itu pula ladang recehan akan selalu terbuka.

Sungguh tak tampak rona muram di wajah tampannya. Remaja bertubuh tinggi semampai bermata elang tajam itu selalu mensyukuri hari-hari yang dilalui. Kawan-kawan sesama tukang parkir sampai menggumun, selalu meledek agar Edi ikut ajang model iklan otomotif atau penyanyi agar hidupnya lebih mujur. Apalagi, kelincahannya beradu dengan jalanan sangat lihai tak diragukan. Sejak SMP, diam-diam dia mulai turun di perempatan kota. Sayang, bukan untuk memarkir kendaraan, melainkan menghadang kendaraan. Dihadang untuk diperdengarkan nyanyian anak jalanan. Ya, demi recehan yang hanya dengan kemampuan yang saat itu dimiliki, dia tak malu mengamen di pinggir jalan. Sepulang Edi sekolah, Buk Mun girang sekaligus kaget. Girang sebab Edi memberinya seplastik beras untuk dimasak, tapi lantas terkejut dengan tingkah pola anak sulungnya.

“Apa ini, Ed?” tanya Buk Mun.

“Beras, Buk. Untuk dimasak.”

“Lah, dikasih siapa?”

“Beli, Buk.”

“Duitnya siapa, Le?” Le, sebutan Jawa bagi anak laki-laki di kampung.

Edi penuh khawatir menjawabnya. Jangan-jangan ibunya marah jika tahu dirinya mengamen.
“Duit dari mana? Apa dikasih Ustaz Samsul?” tanya Buk Mun sekali lagi.

Ustaz Samsul adalah guru mengaji di mushala kampung. Sudah menjadi kebiasaan Edi setiap sore untuk mengaji lalu membantu Ustaz Samsul membersihkan mushala sebelum shalat Maghrib dimulai.
“Bukan, Buk.”

“Jangan pernah sekali-kali berbuat tercela. Jangan pernah mencuri dan meminta, Le,” tutur ibunya.
“Tidak, Buk, Edi tidak pernah mencuri. Sungguh. Edi hanya ngamen di perempatan kota dengan Mas Udin.”

Seketika Buk Mun terperangah. Terperanjat berdiri dari duduknya sambil mengelus-elus dada. Plastik beras itu masih dibawanya. Kakinya mencak-mencak. Mukanya mengerut menangis resah.
“Ediii…”

Edi tahu ibunya pasti akan marah. Namun, dia tahu hati tulus Buk Mun yang demikian lembut tak pernah mampu melontarkan kata-kata kasar kepada anaknya. Edi hanya tertunduk meski sesekali pundaknya didorong-dorong sang ibu.

“Ed, Ibuk tak rela. Ibuk tak mau. Ibuk tidak ridho kamu jadi pengamen.”

Buk Mun masih merintih kesedihan. Air mata ibu itu pecah. Rasanya terluka dengan seribu sayatan sebab dia tak pernah mengajarkan putranya menjadi anak jalanan.

Recehan Serakah“Jangan lagi. Ibuk tak mau menerima lagi hasil ngamen-mu.”

Edi menggeleng-geleng.

“Maafkan Edi, Buk. Edi janji tidak akan ngamen lagi.”

“Sekolah saja, Le, sekolah yang pinter. Tidak usah mikir uang. Tidak usah mikir beras. Ibuk masih bisa usaha. Edi sekolah yang tekun. Besok orang yang ngelmu itu akan sukses.”

Nggih, Buk. Edi janji. Edi janji akan jadi orang berilmu.”

Apa hendak dikata, Edi saat itu hanya ingin membantu ibunya yang single parent mencari nafkah. Usaha ibunya serabutan. Kadang jualan gorengan, kadang buruh cuci di rumah tetangga, kadang juga tenaga harian di tukang jahit, sementara harus menghidupi Edi dan dua adik laki-lakinya. Namun, sejak Edi masuk SMK, recehan masih berpihak kepadanya. Tawaran dari kawan Buk Mun, Pak Ngadimin, disetujui. Buk Mun akhirnya rela Edi membantu Pak Ngadimin sebagai tukang parkir untuk sementara waktu. Bagi mereka, tukang parkir adalah pekerjaan terhormat. Halal. Banyak membantu orang. Ketika mobil-mobil mewah berdatangan, tukang parkir harus merapikan barisannya agar tak mengganggu jalan umum. Rasanya seperti sebuah tugas yang harus ditunaikan. Menjaga barang mewah meski bukan miliknya. Kendati mobil mewah itu telah pergi, tukang parkir juga tak pernah merasa rugi sebab amanah telah tertepati. Namun, hal itu bukanlah cita-cita. Bagi Edi, menjadi pegawai kantor adalah keinginan terbesarnya setelah lulus SMK.

Aku kembali menyelami fantasi Edi, mengingat kisah ini dari budheku sendiri yang tidak lain adalah ibu dari Mas Edi saat kami bertemu di hari Lebaran. Isak pilu aku mendengarnya. Bahkan, budhe tak bisa menahan air matanya saat bercerita. Sudah tentu melihat budhe meleleh, rasanya air mata ini juga tidak bisa dibendung. Gemuruh batin seolah ingin mengeluarkan budhe dari kepahitan hidup. Ibuku yang adalah adik kandung Buk Mun juga tak bisa berbuat banyak waktu itu sebab kehidupan kami pas-pasan.

Di cerita itu, budhe hampir-hampir putus asa. Pernah lewat seminggu Edi belum juga sembuh dari demam. Tubuhnya panas namun dia merasa menggigil kedinginan. Berat badannya tampak turun. Pipinya cekung dan matanya sembap. Tentu saja Buk Mun sangat khawatir. Dia harus segera membawa putranya ke puskesmas. Sapu-sapu dompet masih cukup untuk biaya berobat tapi tidak untuk biaya opname. Buk Mun akhirnya memilih merawat Edi di rumah. Kedua adiknya-lah yang membantu menjaga Edi ketika buk Mun sedang bekerja mencari uang.

Pak Ngadimin terpaksa harus mencari pengganti Edi. Maka tak berpikir panjang, Buk Mun rela menggantikan posisi itu.

“Jangan engkau, Mun,” kata Pak Ngadimin.

“Jangan lagi jika engkau pecat Edi, Kang. Hasil parkir ini lumayan bagi kami.”

Pak Ngadimin menghela napas panjang.

“Bukan karena engkau perempuan, Mun. Tapi, engkau tak menguasai medan. Engkau bahkan tak tahu arah setir.”

“Engkau lupa, Kang. Almarhum bapaknya Edi adalah sopir truk. Aku pernah ikut menemani beliau mengantar barang antar provinsi. Jangan ragukan kemampuanku. Aku paham soal arah kendaraan.”
“Demi upah engkau rela mengambil resiko di jalan? Cari upah sebagai buruh cuci saja, Mun,” terang Pak Ngadimin.

“Demi recehan yang bisa kunantikan setiap hari, Kang. Recehan yang bisa mengobati Edi, biaya sekolah si bungsu, dan sekedar membeli beras.”

Mendengar tutur Buk Mun, Pak Nga dimin jadi iba. Meski sesama orang tak berpunya, mereka saling membantu dan memahami satu sama lain. Sementara, aku yang memperhatikan kisahnya langsung dari beliau saja serasa tak kuat menahan haru.

“Lah iya, Dik, yang membuat kehidupan ini hanya Yang di Atas. Mbak hanya bisa menjalani,” jelas Buk Mun kepada ibuku.

“Iya, Mbak.” Tak banyak kata yang ke luar dari mulut ibu.

Gimana rasanya ketika jadi tukang parkir, Budhe?” tanyaku tiba-tiba penasaran.
Buk Mun mengusap tangisannya. Dia tertawa kecil.

“Masih selamet. Budhe bisa markir, Nak. Meski sebenarnya waktu itu tidak bisa. Rasanya deg-degan khawatir penyokin mobil orang. Masmu Edi itu yang pinter. Alhamdulillah budhe markir hanya dua minggu saja. Mas Edi yang ngambek, cepat-cepat ingin sembuh karena Budhe tidak boleh jadi tukang parkir.”

Obrolan kami mengalir. Ketika itu bukanlah karena Buk Mun ingin dikasihani. Beliau hanya ingin membagi pengalaman hidup dengan ibuku, adik satu-satunya, bahwa kami harus selalu optimistis menghadapi kenyataan hidup. Di akhir perbincangan itu, budhe hanya ingin didoakan agar kelak bisa merasakan kebahagiaan di dunia dan negeri kekal di pangkuan Tuhan.

Lebih dari itu, memori kisah budhe telah menegur tindakanku pagi ini. Hidup memang perjuangan. Tak bisa dimungkiri jika kepingan receh adalah salah satu yang perlu diperjuangkan. Tentu saja hanya demi sesuap nasi dan menyambung hidup. Aku teringat kata-kata budhe, ibarat sebuah tubuh, orang yang tidak memiliki uang itu bagaikan sakit seribu penyakit. Getir sekali. Bisa jadi remaja tukang parkir yang baru saja kutemui di depan ekspedisi sedang berjuang melawan kegetiran hidup. Seperti Edi masa itu.

Alangkah serakahnya diri ini. Menjadi manusia dengan jiwa terkunci. Hanya karena recehan yang tak ingin dibagi. Apalagi jika bersedekah yang lebih tinggi. Oh, betapa malunya hati. Maafkan aku, Tuhan. Ketika Engkau mempertemukan dengan seorang yang membutuhkan, seperti mereka para pengamen, tukang parkir, atau pengemis sekalipun, itu artinya bukan ketidaksengajaan melainkan sebuah kesempatan. Kesempatan untuk saling memberi. Sekadar membubuhkan recehan yang mungkin sangat dinanti. Namun, tentu saja aku harus menerka dalam-dalam bahwa mereka yang melakukannya adalah mereka yang terpaksa, bukan yang menyengaja. Sekali lagi, maafkan atas keserakahan ini, Tuhan.

TYAS W
adalah penggiat FLP (Forum Lingkar Pena) Sidoarjo. Beberapa naskah yang pernah dirilis antara lain buku solo Muslimah in Action (Meja Tamu, 2018) dan Antara (JWriting Soul Publishing, 2019) serta buku antologi Senandung di Ujung Pena (Embrio Publisher, 2018) dan Surat Cinta untuk Bidadariku (JWriting Soul Publishing, 2019). Penulis dapat dihubungi melalui surel: thy_thalita87@yahoo.co.id atau follow FB Tyas Sari


[1] Disalin dari karya Tyas W
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 12 Mei 2019
The post Recehan Serakah appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Senin, 13 Mei 2019

Kematian


DIA duduk dalam sebuah musala kecil yang bertiang bambu di atas sebuah bukit yang sunyi. Udara malam menyengat atis, sementara kepalanya tunduk menekur dan mulutnya tak berhenti mengguman istigfar . Memohon ampun pada tuhannya. Allah yang menciptakannya dan bersemayam di atas ëarasy setelah lapis ke tujuh langit yang diciptakan. Hampir selama tiga jam yang dipenuhi emosi yang seperti badai memporakporandakan jiwanya, ia mengenang kematian anak menantunya di tangannya sendiri. Dalam pertobatannya dan penyesalan yang panjang, dengan suara seperti rentetan mantera yang pedih, dalam upayanya mencari rasa damai, otaknya tak kuasa melepas bayangan mata anak menantunya yang menatapnya menjelang ajal dalam tikaman keris bertuah. Ia juga melihat anak putrinya yang menjerit dan merintihkan nama suaminya.

Sebulan telah lewat, ketika Amangkurat II, rajanya, memberinya perintah yang tak bisa ditolak, membunuh semua orang yang dianggap menyimpan bara bahaya bagi kedudukannya sebagai penguasa. Perintah raja, bagaikan perintah Tuhannya Ibrahim untuk menyembelih putranya Ismail. Ia tak mampu menolak. Bukan karena takut menggigil dalam ancaman senjata pada dadanya ñtapi perintah raja adalah perintah tuhan. Dia lebih takut pada pencipta alam semesta yang memberikan amanah pada rajanya agar ditaati, meskipun ia membawa badai duka nan nestapa. Semua perintah itu dilaksanakannya dengan tuntas, disertai rasa perih di hatinya.

Ketika pada akhirnya berhadapan dengan suami dari anak perempuannya, malam itu, dia mengatakan dengan berat hati apa yang diperintahkan raja untuknya. Anak muda dengan kulit cokelat dan rambut ikal, bermata tajam itu menyambut dengan tawa yang menggema pada dinding-dinding ruang, memantulkan rasa atis dan pedih dalam jiwanya. Sementara anak perempuannya kaget dan mengintip pucat dari balik pintu kamar . Raja, katanya, tak saja mewarisi darah yang congkak, tapi juga kegilaan yang gelisah melewati waktu-waktu tidurnya dengan prasangka yang menggoncang kedamaian setiap warganya sendiri setelah pemberontakan Trunojoyo.

Tapi, semua orang mesti memahami semua itu sebagai kewajaran yang harus diterima sebagai nasib. Setidaknya demikian agama mengajarkan kesabaran atas nasib buruk yang menimpa. Anak muda itu, suami yang dicintai anaknya, tunduk terdiam dalam balutan yang ragu, antara menerima dan menolak takdir kematian yang menunggu. Tubuhnya kaku menahan takdir yang menimpanya, gemetar karena mencoba melawan.

“Bukankah saya seharusnya mene ima jabatan sebagai senopati agung?"

“Tidak, anakku, kau harus meneri ma takdirmu yang lebih baik. Sebagai seorang syuhada”

Dia katakan dengan ketenangan yang seperti angkasa yang gelap, tentang takdir langit yang tak akan bisa dilawan. Bahwa kematian adalah hak Tuhan. Bahwa kematian juga bukan berarti kematian. Karena kehidupan adalah meliputi seluruh alam semesta yang material dan alam lain yang diberitakan dalam kitab suci.

“Sesungguhnya, anakku, kita hanya mematuhi perintah Allah, bukan raja kita”

Tetapi dalam kesunyian yang bisu, pada malam-malam yang nestapa, dalam tangis anak perempuannya yang pilu, dalam waktu yang berjarak, setelah peristiwa tragis itu ñrasa sesalnya tiba-tiba lahir dan membuatnya ragu sendiri atas kebenaran semua tafsirnya. Dia mengutuk dirinya sendiri. Memohon maaf pada anaknya dan bertobat pada Tuhannya. Malam itu pula, di dalam musala di atas sebuah bukit, ketika para utusan kerajaan datang padanya ñdia menerimanya sebagai tamu maut yang akan mengan – tarnya pada penebusan. Dengan demikian, dia tunaikan takdirnya. q -e

*) Ranang Aji SP, Cerita Pendeknya diterbitkan pelbagai media cetak dan digital. Menerbitkan Buku Kumpulan Cerita Pendek Serigala yang Berzikir Di Ahir Waktu (Nyala, 2018), Buku Kumpulan Puisi Fang (2011) dan Kumpulan Puisi Bersama Titik Perlawanan: Masih Kau Melawan (Lestra, 2012). Novelnya berlatar sejarah Perjalanan Cinta Di Tanah Jawa dan Kekasih Bayangan menunggu proses terbit.


[1] Disalin dari karya Ranang Aji SP
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 12 Mei 2019
The post Kematian appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Malam di Luar Hujan


Malam di luar hujan. Wanita itu berpesan agar kematiannya dirahasiakan. Sungguh permintaan yang membuatku takjub. Bagaimana mungkin seseorang meminta agar sebuah kejadian penting dalam hidupnya, dirahasiakan dari siapapun?

“Jangan menolongku, dan jangan beritahu siapapun. Biarkan tubuhku membusuk di sini,” ucapnya ketika napasnya telah tersengal, dan tak lama kemudian tubuhnya benar-benar tak bergerak lagi…

Baik. Kita mundur ke lima belas menit sebelumnya, yakni ketika aku sedang berjalan-jalan di tengah hutan yang terletak tak jauh dari desa. Dalam remang malam hujan, pada sebuah jalan berlumpur yang membelah hutan, tiba-tiba kulihat sebuah mobil berhenti, sorot lampu mobil masih menyala ketika pintu dibuka dan tampak tiga orang keluar menggotong sesosok tubuh wanita.

Aku segera bersembunyi di balik salah satu pohon yang batangnya telah dipenuhi lumut. Kusaksikan bagaimana wanita itu diletakkan begitu saja di atas tanah yang dipenuhi daun-daun kering terendam lumpur, lalu tiga orang itu kembali ke dalam mobil, dan melaju ke arah kegelapan, diiringi suara gemerisik pohon dan hujan. Setelah kupikir situasi aman, segera kudekati sosok tubuh tersebut, yang ternyata masih bernyawa, dan bahkan masih bisa berbicara.

“Bertahanlah Mbak, rumah saya tak jauh dari sini, kita cari bantuan.

Namun wanita itu hanya menatapku, menggelengkan kepalanya, dan mengucapkan kalimat seperti yang telah dikutip di awal cerita ini…

Aku heran. Jika orang-orang tadi adalah pembunuh, tentu mereka bukanlah pembunuh profesional. Wanita ini masih bernyawa, bahkan masih bisa mengajukan sebuah permintaan. Ataukah memang ia sengaja tak dibunuh? Ini juga terlalu riskan, sebab sekilas aku melihat wajah orang yang menurunkannya. Mereka tak memakai topeng, penanda bahwa tak perlu ada yang harus ditutupi.

Namun segalanya seperti telah diukur begitu detail. Toh setelah meminta agar kematiannya dirahasiakan, wanita ini mengembuskan napas terakhir dengan tersenyum. Aku terpana. Kecantikan wajahnya masih tersisa dari kulit wajahnya yang memucat. Tapi buat apa kecantikan jika telah menjadi mayat? Dan itu membuatku panik. Hujan menjadikan suasana semakin mencemaskan. Kutinggalkan ia di sana. Pasti besok akan ada orang lain yang menemukannya dan mengabarkannya pada warga. Aku keluar dari hutan, menuruni bukit, dan kembali ke rumah di mana hanya ada nenekku yang sudah terlalu tua, yang tak mungkin bisa diajak bicara tentang apa yang baru saja terjadi.

Namun sepanjang sisa malam itu, pikiranku tetap dipenuhi dengan beragam pertanyaan dan kemungkinan. Apa yang telah dilalui oleh wanita itu? Siapakah dia? Apakah ia tidak ingin membalas dendam?

Sehari berlalu, ternyata belum ada yang mengabarkan penemuan mayat. Apakah jasad wanita itu masih di sana? Mungkinkah tidak ada yang menemukannya? Ataukah para pembunuh itu kembali dan memindahkannya? Tiba-tiba aku menyesal karena tak menggotong mayatnya.

Suatu kali, ketika sedang duduk di warung lotek Gerobak Ijo, hampir saja kuungkapkan kegelisahanku pada orang-orang, tapi semuanya sibuk mengarahkan pandangan ke televisi. Memang, negeri kami sedang merayakan presiden baru, ada acara pelantikan dan konvoi di jalanan ibu kota. Aku tidak terlalu peduli pada itu semua sampai mataku menangkap tiga orang sosok yang berada di belakang pemimpin baru tersebut.

Jantungku hampir meledak.

Itu pembunuh yang kulihat! Mereka ternyata kaki tangan pemimpin sebuah negara!

Sebuah negara, saudara-saudara! Sidang pembaca yang terhormat. Para penikmat sastra media cetak di mana pun Anda berada. Sungguh wajah dingin yang menyeret yang mengempaskan perempuan itu di hutan tengah malam, ternyata anak buah pemimpin negara.

Aku tertegun. Takjub pada kenyataan ini. Pikiranku berkecamuk dan mulai berpikir ke arah yang tak kuduga sebelumnya. Bagaimana kalau presiden baru itu yang membunuh wanita tersebut lalu menyuruh anak buahnya membuang jasad wanita itu di tengah hutan? Aku seperti menjadi saksi kunci yang memiliki peranan penting. Di tanganku nasib pemimpin yang baru, yang bahkan mungkin nasib negara ini. Kalau aku bersuara, gemparlah negeri ini, kacau, demonstrasi mungkin meletus di mana-mana.

Aku lalu pulang dan bercermin. “Lihatlah dunia! Salem, pengangguran kelas kakap ini, sekarang memegang kendali akan sebuah skandal besar. Pemimpin yang baru itu, adalah seorang pembunuh!”
Tunggu. Barangkali aku bisa mendapat uang kalau kuberitahu bahwa aku melihat wanita yang mereka bunuh.

Sore itu juga aku kembali ke hutan, tapi suasana sudah banyak berubah. Apakah wanita itu telah dikuburkan hujan? Kucari jejak-jejaknya tapi sia-sia. Esoknya aku kembali dengan membawa pacul, kugali beberapa bagian, berharap jasadnya bisa ditemukan. Namun tak ada yang kudapati selain sebuah sepatu yang hanya sebelah. Sepatu wanita itu. Tapi kupikir ini sudah cukup.

Berapa yang kuinginkan? Satu milyar? Aku tidak pernah memegang uang lebih dari lima puluh ribu, jadi kupikir satu milyar itu uang yang hanya ada di dalam surga.

Aku sudah membayangkan mengetik cerita pendek di kafe mewah, sambil minum kopi dan disapa pelayan cantik. Mengetik jalinan kata-kata di atas cangkir dengan merk terkenal. Aku tidak akan miskin lagi.

Haha! Persetan dengan kemiskinan! Ini pasti jawaban dari Tuhan. Segera kutulis surat yang hanya berisi sebuah kalimat: “Saya tahu yang Anda lakukan saat malam ketika di luar hujan.” Lantas kukirimkan ke alamat istana presiden yang tercantum di internet.

Begitulah, hingga empat hari kemudian, aku pun dijemput…

***
Ketika badanku duduk terikat, aku baru menyadari, segalanya tidak seperti yang dibayangkan.
“Rupanya aku tak melihat kalau waktu itu ada orang,” kata seorang pengawal.

“Jadi Anda ingin apa?” presiden itu lalu bertanya kepadaku.

“Emm, saya hanya ingin hidup lebih baik, dengan punya uang.”

“Uang? Ini! Ini!” katanya lagi sambil menghujani kepalaku dengan uang merah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Bahkan aku tidak tahu bahwa uang merah segar itu pernah ada. “Ha-ha-ha-ha!” pemimpin negeri itu lantas tertawa.

“Ha-ha-ha-ha!” pengawal yang paling besar juga tertawa hingga terpingkal-pingkal.

“Ha-ha-ha-ha!” pengawal lain ikut tertawa lebih terpingkal-pingkal.

“Ha-ha.” Aku juga ikut tertawa, tapi lirih.

“Orang bodoh ini ingin kaya dengan memeras. Tak kusangka di negeriku ada orang semacam ini.”

“Tuan, jangan-jangan semua rakyat Anda memang seperti dia.”

“Ha-ha-ha-ha. Tukang peras kok diperas?”

“Ha-ha-ha-ha.”

“Jadi sepatu ini yang mau kau jadikan barang bukti untuk meminta uang kepadaku?”

“Ya. Itu baru sebelahnya,” aku mencoba mengancam.

Tawa kembali meledak.

Apakah aku diculik? Kalau aku diculik, pastilah aku dalam bahaya. Namun ini juga akan menjadi kesempatanku untuk menjadi seorang pahlawan. Kau tahu, orang-orang yang diculik akan selalu dikenang, mungkin kelak namaku akan menjadi sebuah nama jalan. Siapa yang tahu? Jalan Salem. Siapa Salem? Itu, orang yang dibungkam karena ingin mengungkap kasus besar. Wah, pasti anak keturunanku lebih mudah mendapat pekerjaan.

Kalau begitu, sekalian saja aku mengarang cerita, bahwa sepatu yang sebelahnya telah kuserahkan kepada temanku yang bekerja di surat kabar. Pastilah ia kalang kabut. Tapi belum sempat aku bicara, tiba-tiba sebuah hantaman keras membuat mataku gelap, diikuti rasa sakit menyerang sekujur tubuh, bertubi-tubi, dan seperti ada darah. Sayang sekali, bagian ini tidak bisa diceritakan utuh karena mengandung unsur kekerasan yang tidak baik untuk pembaca yang budiman.

***
Dalam ngilu, dalam sisa kesadaran dan rintihan kepedihan, kurasakan diriku digotong oleh dua orang. Tetes hujan mengenai wajah, seperti jawaban dari doa-doa yang pernah kupanjatkan. Langit gelap, entah ini di mana. Mereka lalu membawaku ke dekat sebuah jurang.

“Lemparkan saja.”

“Kalau di bawah ada orang?”

“Biar saja. Pasti nanti dikira mati bunuh diri atau jatuh.”

Itulah percakapan terakhir yang kudengar, sesaat sebelum tubuhku diayunkan dan diempaskan…

Apakah orang-orang itu mengira semuanya beres? Tidak. Mereka pikir aku benar-benar lugu, padahal aku pernah kuliah meski tidak selesai, aku tetapi aku seorang penulis meski tidak pernah mendapat penghargaan. Biar pun tubuhku mungkin tidak ditemukan, tapi aku telah menduga semuanya. Sesaat sebelum ditangkap, segala kejadian tentang wanita itu dan diriku telah ditulis di sini, dalam cerita ini, dan kukirimkan ke media, hingga tiba di tangan Anda sekarang.

Jadi, jika Anda selesai membaca cerita ini dan memilih tidak ingin ikut campur, saya harap Anda segera menyembunyikannya dan bersikap seolah tidak pernah membacanya, karena barangkali malam nanti ada beberapa orang datang mengetuk rumah Anda, dan saya sudah tidak ikut bertanggung jawab jika terjadi apa-apa…*

Sungging Raga, lahir pada 25 April 1987. Sempat menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada. Mulai menulis fiksi sejak 2009. Di antara bukunya yang telah terbit adalah Sarelgaz (Indie Book Corner) dan Reruntuhan Musim Dingin (Diva Press). Sedang menyiapkan buku terbaru berjudul Apeirophobia. Saat ini tinggal di Tangerang, Banten.

Ledek Sukadi, lahir pada 19 Oktober 1969 di Wonogiri, Jawa Tengah. Ia menempuh pendidikan Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta. Tahun 1992 meraih penghargaan Pratita Adi Karya Seni Lukis Terbaik kemudian medali emas dari Pemerintah Jepang dan pemenang 100 Pelukis PT Humpus Jakarta. Ia menetap di Yogyakarta dan secara aktif mengikuti berbagai pameran.


[1] Disalin dari karya Sungging Raga
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 12 Mei 2019
The post Malam di Luar Hujan appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Ramadhan Malam


RAMADHAN MALAM

Malam
dalam
rakaat
patah-patah
Malam
tengah malam
huruf yang tertatih
lelah
Meniti hening
Allah
Ramadhan 23/1431

MALAM SERIBU BULAN

Unggas diam
Pohon diam
Angin diam
Rumah diam
Kota diam
Istana diam
Nafsu diam
Diam hurufku
Diam ejaku
Diam bibirku
Hati gemuruh memburu
Dingin waktu
Ramadhan 24/1431

MENJADI TANAH

”Aku hanya serabut halus dan lemah
Merayap tak kenal lelah
Dan mencucuk selangkang tanah
Ketika buah membesar ranum dan memerah
Engkau lupa kepada yang berada di bawah”
“Aku berayun-ayun mempertontonkan diri
kepada langit kelihatan anggun dan pon-
gah.
tapi engkau tak tahu, bukan
tangkaiku mengapa begitu tungkai dan lemah.
sejak itu setiap hari aku selalu digoda ke-
jatuhan
menjadi ulat dan cendawan
Kembali menjadi tanah.”
Ramadhan 9/1432

RAMADHAN

panaskan aku
di tungku
perapian ini
biar terbakar
lapar
pupus
haus
menjalar
seluruh pori
panaskan badan
di tungku mengelegak
kobaran api
biar terbakar iman yang
basi biar menjalar jihad yang mati biar
sadar mimpi-mimpi biar kupahat ucapan
jadi roti biar tak mekar
kelakar di kedai kopi biar tak samar amar
di minareh tinggi
Allah, Allah, pemilik ramadhan
panaskan panaskan
kulit
hingga tulang sumsum
kobarkan kobarkan
hingga menjerit
ke milenium
biar pada hari berbangkit
hati sakit
jadi biskuit
campur eskrim
iman kerikit
jadi ranum
sejuk seperti salju
enak untuk diminum
amien

Ramadan 10/1427
*) Damiri Mahmud, lahir di Medan, 1946. Halakah Panggang (2018) satu buku puisinya meraih Anugerah Lima Buku Puisi Pilihan, Hari Puisi Indonesia 2018.

[1] Disalin dari karya Damiri Mahmud
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 12 Mei 2019
The post Ramadhan Malam appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Sabtu, 11 Mei 2019

Berburu Malam Seribu Bulan


MALAM seribu bulan. Membayangkannya sungguh indah bukan buatan. Langit malam dipenuhi bermacam purnama yang terang benderang. Bulatan-bulatan cahaya yang banyak jumlahnya di atas langit dipandangi dari bumi dengan pancaran cahaya keindahannya. Seindah malam dengan seribu bola lampu tanglung bahkan lebih indah lagi.

“Wah, malam seribu bulan, indah sekali! Langit akan dipenuhi bulan,” gumam Anwar dalam hati saat mendengarkan ceramah ustaz Halim di sebuah musala.

Tausiyah ustaz Halim selanjutnya tak lagi disimak dengan baik oleh Anwar. Bocah berpeci putih, mengenakan baju koko yang juga berwarna putih dan sarung kotak-kotak berwarna cokelat itu masih juga membayangkan tentang malam seribu bulan pada malam bulan Ramadan. Namun, samar-samar ia masih mengingat perkataan penceramah yang tengah mendapat giliran kultum tiap salat tarawih di mushala dekat rumahnya itu, bila malam seribu bulan yang dikenal dengan nama lalilatul qadar itu hanya akan terjadi pada malam-malam ganjil pada akhir bulan Ramadan.

“Berarti besok malam adalah malam ke-21,” pikir Anwar yang tertarik untuk berburu malam seribu bulan. Memang setiap kali Ramadan datang, bocah itu belum pernah berburu lailatul qadar. Tahun ini ia bertekad untuk membidiknya.

Hari itu Anwar berpuasa dengan angan-angannya bertemu dengan malam kemuliaan itu. Di kamarnya seharian sudah ia tidur hanya untuk membekali diri agar mampu begadang sampai waktu subuh. Lantaran niatnya untuk tidur seharian, Anwar terlewat untuk shalat Zhuhur dan Ashar karena saat terbangun sudah waktu berbuka puasa. Itu pun karena ibunya mendapatkannya di kamar setelah terlebih dahulu sibuk mencari-cari dan bertanya ke sana kemari.

Malam ke-21 seusai salat tarawih. Anwar memepersiapkan diri untuk berjaga kalau-kalau malam ini akan terjadi malam seribu bulan. Ia sudah menyediakan obat nyamuk lotion untuk menghindari isap nyamuk-nyamuk nakal. Sepanjang malam ia menengadah ke atas langit dari beranda rumahnya. Hanya tampak bulan tunggal berbentuk seperti sesisir pisang cavendish. Namun, angin malam yang sepoi-sepoi menidurkannya di kursi panjang yang terbuat dari rotan buatan pengrajin rotan Cirebon. Saat terbangun ia terheran-heran, tahu-tahu ia sudah berada di kamarnya di atas pembaringannya.
“Ayahmu yang membopong masuk ke kamar,” tutur ibu Anwar sambil mempersiapkan makan sahur.
Seusai shalat Subuh dan mendengarkan kultum subuh, orang-orang belum beranjak dari mushala karena di luar gerimis. Anwar duduk-duduk mendengarkan orang-orang berdebat perihal malam seribu bulan.

“Bukan, sepertinya semalam bukan malam seribu bulan. Pagi ini langit mendung dan turun hujan. Bukannya kalau semalam lailatul qadar udara dan suasana pagi ini akan terasa tenang.”

Dalam hati Anwar girang karena semalam bukan malam istimewa turunnya Alquran. Ia masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya.

Malam ke-23 seusai salat tarawih. Anwar masih juga berjaga di serambi rumahnya. Berkali-kali ayah dan ibunya menegur agar ia masuk ke dalam kamarnya.

“Ia Anwar dengar, sebentar lagi,” jawabnya. Kemudian, ia masuk ke dalam rumah, bukan untuk tidur, tapi guna menyeduh kopi agar matanya tahan melek.

Dalam hati Anwar heran, mengapa ayah ibunya tidak berburu malam seribu bulan. Ah, mungkin ayah dan ibu sudah pernah bersua dengan malam turunnya malaikat Jibril ke bumi.

Tetapi kembali, Anwar terlelap di kursi panjang setelah lelah mendongak ke atas langit berkali-kali dan bulan masih juga sendiri dengan bentuk lengkungnya makin runcing macam celurit. Ia baru terjaga setelah mendengar ayahnya membangunkannya untuk makan sahur.

“Kamu tidur di luar lagi? Ayo bangun kita santap sahur dulu.”

Pulang dari mushala, tak terdengar orang-orang bedebat tentang lailatul qadar. Anwar kecewa karena merasa ia tertinggal kesempatan untuk menyaksikan malam keselamatan itu. Namun, saat pagi tiba, ia teringat sesuatu selain ciri udara dan suasana pagi yang tenang juga malam seribu bulan ditandai matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan.

“Pagi ini matahari sudah panas sekali! Kurasa semalam belum datang seribu bulan.”

Berburu Malam Seribu BulanMalam ke-25 juga malam ke-27. Anwar tidak tidur di rumah, melainkan sengaja berburu malam seribu bulan di mushala bersama jamaah lain. Tampak ustaz Halim berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang beribadah iktikaf. Karena malu baru bermalam di tempatnya salat tarawih, Anwar berpura-pura tiduran namun terlelap jua. Bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas III itu masih terlalu kecil untuk tak tidur semalaman.
Anwar kembali kecewa karena dua kali di malam ganjil itu ia ketiduran melulu. Namun, ia masih tersenyum karena mendengar orang-orang masih juga berburu malam seribu bulan pada malam ganjil berikutnya.

“Berarti belum juga bulan menjadi seribu.”

Malam ke-29. Anwar yang tengah bersila dan merapal zikir terkejut ketika punggungnya ditepuk oleh seseorang. Ia menengokkan kepalanya lalu menghadapnya.

“Oh, ustaz Halim. Mari silakan ustaz,” sembari mempersilakannya duduk bersama.

“Nak Anwar putranya bapak Salim, kan?”

“Betul ustaz.”

“Beberapa malam ini saya sering lihat nak Anwar tidur di mushala ini, apa ayahmu tidak mencari-cari?”

“Saya sudah izin ustaz.”

“Oh, bagus,” ucapnya sambil manggut-manggut.

“Ustaz saya ingin bertanya,“ ucap Anwar kemudian berhenti untuk menyusun kata-kata, “beberapa malam ganjil ini saya berburu lailatul qadar seperti ceramah ustaz Halim.”

“Wah, bagus itu nak Anwar, terus?”

“Saya selalu tertidur sebelum melihat malam seribu bulan. Apakah bulannya sejumlah seribu? Saya tengok bulannya tetap satu bahkan makin berganti malam-malam ganjil bentuk bulannya makin kecil dan hilang.”

“Aih,“ ustaz Halim tergelak, “nak Anwar ada-ada saja. Bukannya malam seribu bulan itu bulannya berjumlah seribu, melainkan keistimewaannya melebihi seribu bulan. Seribu bulan kalau dihitung kurang lebih 83 tahunan.”

“He he he, saya yang keliru.”

“Lailatul qadar adalah rahmat dari Allah untuk umat Nabi Muhammad SAW yang usianya tak sampai seratus tahun sehingga tidak dapat untuk beribadah selama seribu bulan. Oleh karena itu, diberilah kedatangannya di setiap bulan Ramadan pada malam-malam ganjil yang selalu dirahasiakan kapan kehadirannya agar umat Islam berlomba-lomba mendapatkan malam seribu bulan itu dengan beribadah supaya memperoleh ampunan Allah.”

“Anwar manggut-manggut lalu tersenyum. “Berarti malam ini masih ada kesempatan untuk mendapatkan malam seribu bulan itu?”

“Insya Allah, Nak Anwar.”

Malam itu Anwar kembali terlelap, tapi dalam tidurnya ia bermimpi diperlihatkan malam seribu bulan. Saat di bangunkan sahur, ia bergegas menemui ustaz Halim.

“Saya bermimpi bertemu malam seribu bulan.”

“Subhanallah, mimpi yang indah.”

Pagi itu hari terasa begitu menyejukan dan matahari bersinar keperakan sebagaimana cahaya rembulan.
Indramayu, 2017
FARIS AL FAISAL
lahir dan tinggal Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Forum Masyarakat Sastra Indramayu (FORMASI). Menulis fiksi dan nonfiksi. Karya fiksinya adalah novel Bunga Narsis Mazaya Publishing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017), Novelet Bingkai Perjalanan LovRinz Publishing (2018), dan Antologi Puisi Dari Lubuk Cimanuk Ke Muara Kerinduan Ke Laut Impian Rumah Pustaka (2018). Sedangkan, karya nonfiksinya, yaitu Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia Penerbit Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017). Puisi, cerma, cernak, cerpen, dan resensinya tersiar berbagai media cetak dan online. Tulisan lainnya terhimpun dalam antologi puisi dan cerpen bersama.


[1] Disalin dari karya Faris Al Faisal
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 5 Mei 2019

The post Berburu Malam Seribu Bulan appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Jumat, 10 Mei 2019

Ulat Terakhir di Kamar Nenek


Saat pintu kamar dibuka dengan sekali dorong, setelah daun pintu itu menyentuh tembok, seekor ulat akan terlihat, diam dengan sedikit meliukkan tubuhnya yang berwarna hitam bergaris kuning memanjang dari ekor ke kepala, bagian bawahnya—yang mungkin adalah kaki—bergigir dan menempel rekat pada tembok, tepat di samping pigura potret almarhum kakek, yang mulai lusuh berparam debu.


Tahinya bulat hitam berbutir-butir menyebar di lantai, di atas bantal, di tumpukan buku, beberapa tumpukan di antaranya yang sudah kering, mengeras mirip biji pepaya berserakan di kaki dipan.
Ulat itu tiba-tiba tandang ke kamar ini sekitar seminggu yang lalu. Mulanya, aku menemukannya berdiam di daun jendela, seperti tengah kelelahan usai perjalanan panjang, dari tengah ladang ke rumah ini. Aku mengira, ia masuk ke kamar ini melalui celah daun jendela yang renggang saat terbuka.

“Hii!”

Aku jijik. Tak sabar tanganku ingin lekas meraih sapu lidi untuk menumpas habis ulat menjijikkan itu. Tapi aku teringat wasiat nenek, pada menit-menit akhir sebelum meninggal, agar aku tidak membunuh ulat apa pun yang masuk ke kamar ini.

“Cukup dosa pembunuh ulat tertimpa padaku, jangan kepadamu,” ucap nenek saat itu, mengusap rambutku, matanya nanar dan tangannya gemetar.

Akhirnya aku membiarkan semua ulat yang masuk ke kamar ini bebas menjalani hidupnya suka-suka. Sudah ada banyak ulat beragam bentuk dan warna yang masuk ke kamar ini. Semuanya sangat menjijikkan. Dan aku membiarkannya hidup atas nama menghargai wasiat nenek.

Di kamar ini, ulat-ulat itu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Bertahi sesukanya, bahkan ada yang dengan bebas merontokkan bulu-bulunya yang gatal ke baju, selimut dan seprei.

“Hii!”

Ingin sekali aku merotannya hingga tubuhnya yang lembek itu meletus dan mengeluarkan cairan hijau kental, seperti yang dilakukan nenek saat membunuh ulat semasih ia hidup. Tapi, lagi-lagi wasiat neneklah yang membuat keinginanku terkendali, hingga ulat tetap hidup dan menghilang dengan sendirinya.

Ah, entahlah dengan ulat yang satu ini. Aku menilainya sebagai ulat paling sopan di antara ulat-ulat lain yang pernah ada di kamar ini, ulat ini selalu berdiam di samping pigura potret kakek, ubun kepalanya sedikit disentuhkan ke bingkai pigura itu. Berhari-hari lamanya hingga kini, tak pernah pergi, bahkan tak pernah bertahi.

Pernah suatu hari, dengan penggaris kayu, kupindahkan ulat itu ke tempat lain agar tidak menyentuh pigura kakek yang kuanggap salah satu barang yang memiliki makna tersendiri di kamar ini. Tapi ulat itu pindah lagi ke dekat pigura itu, berdiam di sana dan merasakan sesuatu yang nyaman. Empat kali aku memindahnya ke tempat lain, tapi ulat itu tetap kembali lagi ke samping pigura.

Aku tidak tahu pasti, kenapa ulat itu begitu nyaman di dekat pigura. Tapi yang jelas, antara ulat, nenek dan—potret—kakek dalam pigura itu punya lingkaran cerita yang saling berhubungan. Dulu, kakek seorang pejuang, ia sering meninggalkan nenek sendirian ketika sedang diutus ke beberapa daerah yang sedang dijajah oleh Belanda.

Dalam kesendiriannya, nenek selalu berdoa untuk keselamatan suaminya. Doa-doa nenek ada yang dipanjatkan seusai salat, dan ada yang dilagukan dengan sebuah lirik ketika ia tengah meronce bunga melati, sambil duduk santai di bangku kayu yang ada di bawah pohon jambu yang tumbuh di halaman rumahnya.

Suatu hari, saat nenek menembangkan, seraya ia menautkan benang ke pusar bunga melati, tiba-tiba ia dikejutkan oleh beberapa ulat yang seketika berjatuhan dari ranting jambu. Nenek terkejut, ia menghentikan jarinva yang bergerak di antara lilitan benang dan bunga, lalu menaruhnya perlahan di atas tikar daun pandan. Nenek lebih fokus mengamati ulat-ulat itu dengan wajah yang cemas. Bibirnya rapat bergeming. Dadanya diliputi beragam tanya, apakah itu pertanda buruk bagi diri dan keluarganya, sebab kakek sudah lama tak pulang, lebih dari biasanya.

Nenek tidak meronce lagi, ia biarkan susunan melati dalam ikat benang itu menelungkup senyap dengan lilit ujung benang merah melingkar longgar di atasnya. Ia memilih masuk kamar, rebah sambil menutup wajahnya dengan bantal, air matanya merembes, nenek khawatir atas keadaan kakek di tempat tugas. Sekali lagi, ia teringat bagaimana ulat-ulat itu berjatuhan dari ranting jambu dengan cara yang sulit dinalar.

Beberapa hari setelah itu, nenek benar-benar berada dalam cengkeram takdir yang teramat luka. Kakek meninggal saat tugas, jasadnya dibawa pulang, ada sekitar tiga lubang bekas tembakan yang mengeluarkan ulat-ulat kecil. Nenek menjerit histeris sambil memukul-mukul tembok. Kemudian ia sadar, perihal makna ulat-ulat yang beberapa waktu lalu berjatuhan dari ranting jambu.

Sejak saat itu nenek sangat benci kepada ulat. Setiap kali ia melihat ulat, nenek pasti membunuhnya, apalagi jika ada ulat yang menyelinap ke dalam kamarnya, ia akan langsung dibunuh dengan sadis oleh nenek. Jika ulat itu sedang merayap di lantai, nenek akan menginjaknya sambil memutar sandalnya dengan tekanan tumit hingga ulat di bawah kakinya itu mencipratkan cairan hijau yang kental ke arah tembok. Jika ulat itu sedang merayap di tembok atau di jendela, mula-mula ia menjatuhkan ulat itu ke lantai, di lantai itu ia kemudian menginjak ulat itu hingga meletus dan kempes tinggal kulit.

“Ulat adalah penjajah. Penjajah itu adalah ulat. Jadi, harus kita tumpas. Jangan diberi kehidupan,” kata nenek kepadaku suatu hari, matanya binar menyiratkan sebuah keseriusan.

“Bukankah ulat itu lambang permulaan yang sederhana untuk sampai pada derajat yang mulia, menjadi seekor kupu-kupu,” aku menyergah, dahiku mengernyit.

“Tahu apa kamu!” Suara nenek keras. “Ulat yang menyantap tanaman kita. Ulat yang memakan jasad kakekmu. Apa kamu masih merasa kasihan?” lanjut nenek, matanya menatap umpama nyala api.
“Ulat tidak jahat. Ia diberi insting untuk mencari rezeki dengan cara menyantap daun dan daging. Jika ia sedang menyantap tanaman kita, ia bukan mencuri, tapi memang sedang berusaha mencari makan sesuai insting yang telah digariskan Allah sebagaimana ketika kita bekerja di ladang,” ungkapku sedikit menaikkan suara, dengan tatap mata yang berapi-api.

“Jangan banyak berkhotbah! Aku nenekmu, lebih banyak tahu kehidupan daripada kamu,” sambung nenek dengan suara yang meninggi. Wajahnya merah dengan bibir sewot dan gemetar.

Hari-hari setelah itu, nenek lebih sibuk membunuh ulat ketimbang meronce bunga. Tak sehari pun ia lewatkan tanpa membunuh ulat. Awalnya ia hanya membunuh ulat yang merayap ke bagian rumah, kemudian ia melebarkan aksinya mencari ulat di sekitar halaman, hingga akhirnya ia sampai pada puncak kegilaannya, ia mesti harus pergi ke mana pun untuk bisa membunuh ulat, dan ia melakukan itu setiap hari.

Nenek baru berhenti membunuh ulat saat dirinya berbaring sakit. Dua hari sebelum meninggal tiba-tiba nenek ingin melihat kupu-kupu. Ia meminta keluarganya untuk segera menangkap seekor kupu-kupu dan memberikannya kepada nenek. Tapi keluarga kami hanya bertemu keajaiban, setiap kali mencari kupu-kupu, mata keluarga kami tak pernah melihat makhluk cantik bersayap itu. Dari satu tempat ke tempat lain, tak seekor kupu-kupu pun yang menampakkan diri, seakan semua kupu-kupu sudah diusir dari bumi.

Akhirnya nenek menutup mata dengan satu wasiat agar aku dan cucunya yang lain tidak membunuh ulat, agar ia menjadi kupu-kupu.

#

Ulat setia itu akhirnya jadi kepompong, bergantung diam seperti melafazkan zikir, terikat oleh tiga helai benang alami yang berasal dari tubuhnya, masih tetap di tempat semula, di samping pigura tua yang memuat potret kakek. Warna kulitnya hijau dengan bintik-bintik halus warna hitam, bertumpuk membentuk garis-garis pendek di dekat kepalanya.

Setelah dua bulan bersepakat dengan diam, akhirnya kepompong itu menetas jadi kupu-kupu, warnanya hitam, berpoles garis merah melintang tipis hingga pada ujungnya yang bertebar warna kuning. Setelah kupu-kupu itu mengeringkan sayapnya, ia belajar terbang seperlunya, berpindah-pindah dari tembok ke lemari, dari lemari rak buku, lalu ke Kasur, ke bantal, ke lampu dan akhirnya ia hinggap dengan tenang pada pigura yang memuat potret almarhum kakek.

Kupu-kupu itu hanya bisa mengggerak-gerakkan sayapnya dengan pelan. Tubuhnya lekat pada kaca pigura seperti direkat oleh polesan lem. Ia seperti sedang mencium potret kakek dengan segenap perasaan yang khusyuk.

Tak terasa lima hari lima malam, kupu-kupu itu tetap tak menggeser posisi sedikit pun, masih lekat pada pigura kakek, hingga beberapa hari kemudian aku terkejut setelah menoleh ke arah kupu-kupu itu, ia sudah tidak ada dan pigura kakek pun juga ikut menghilang.

“Nenek!” gumamku. Aku yakin ulat itu adalah jelmaan ruh nenek.

A Warits Rovi, lahir di Sumenep Madura, 20 Juli 1988. Buku cerpennya yang telah terbit Dukun Carok & Tongkat Kayu (Basabasi, 2018). Ia juga guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Batang-Batang, Madura, Jawa Timur.

I Gde Ngurah Panji, lahir di Klungkung, 4 April 1986. Menempuh pendidikan di SMSR Denpasar, ISI Denpasar, dan Universitas AIX-Marseille, Perancis. Menggelar pameran tunggal tahun 2011 di Musee Grenoble Perancis dan AIX-Marseille Art Space, Perancis. Tahun 2017 pameran tunggal di Haya Art Vaviliun, Dubai. Kini menetap di Denpasar, Bali.

[1] Disalin dari karya A Warits Rovi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 5 Mei 2019
The post Ulat Terakhir di Kamar Nenek appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Senin, 06 Mei 2019

Di Beranda, Dingin Jadi Logam


DI BERANDA, DINGIN JADI LOGAM

dering hujan seperti ujaran kebencian
di layar kaca ajaib yang meluapkan
derit suara kekisruhan.
sementara di beranda
dingin jadi logam dalam pelukan petang.
di saat angin bagai maling menyelinap
dalam kampung-kampung waktu
mencuri ternak rasa hangatku.
sungguh kesendirian teramat dingin di sini
bagai tangan mayat yang gelisah sebelum
di potong-potong malaikat siksa.
duh, ingin aku mengawini keriangan
tanpa kemurungan melukai. tapi bagaimana
dengan kata: makhluk tolol soal kebisingan
hidup ini.
apakah ia sudah siap hidup di luar kesunyian
hati manusia?
2018

BALADA MENANAM BINIS

setelah pagi terbentang di pematang sawah
kami bangkit dari dasar tidur kemudian terbang
ke sepetak sawah, tempat binis-binis berdiri
tegak menjunjung langit perawan: anak kandung
perselingkuhan gabah dengan tanah yang kami
kawinkan seminggu silamñlalu kaum tani
menyebutnya binis.
setelah tali, pisau dan tempat duduk rampung
kami siapkan. mulailah binis-binis kami cabut
sampai ke akar-akarnya. lalu seikat dua ikat
sekumpulan binis yang sudah saling merapat
dalam ember. tibalah mamak memikulnya
ke sawah yang lain.
karena di sana orang-orang yang ibu undang
dengan tarif suka-rela telah datang dengan
tangan sudah siap untuk menanam. seperti
menanam pohon kebahagiaan untuk mereka
panen di musim depan.
sampailah mamak di pematang dengan mata
berkunang-kunangñdan bahu kesemutan
menanggung beban memikul serombangan
binis yang sudah siap ditancapkan ke bumi.
di tengah sawah ini kita bercerai sebagai
batang padi-hidup sendiri: berlomba-lomba
membikin anak-anak padi, agar kelak keringat
kuning tuan kita berbiji beras kegembiraan.
kata seikat binis sebelum terpisah dan berdiri
di tengah sawah: mengharap lebat hujan keberkahan
datang dari sehampar langit lebam.
2018

BALADA ANAK MENGGIRING BOLA

tiap senja tertusuk pucuk daun siwalan di pematang
pada pinggir jalan di sepetak sawah tak terpakai telah
terbengkalai. kusaksikan anak-anak bermain bola
seperti menggiring sebundar kebahagiaan yang akan
pecah ke sarang gawang lawan.
Horee..! goll..! goll..!
jerit bahagia mereka meluapkan rasa gembira
pada lawan yang kalah sedang menundukkan kepala
meratapi lesatan tendangan demi tendangan di lapang-
an
hanya menghasilkan berpuluh-puluh tepisan kenangan
dari tangan penjaga gawang yang linu.
di luar lapangan mereka saling bagi membagi kebaha-
giaan
namun di tengah lapangan mereka tak memandang
kawan
semuanya adalah musuh di depan kaki-kakiñyang
harus
ditaklukkan demi sebuah gol kegembiraan.
kemudian ketika rerumputan hampir tak terpandang
dan surau-surau telah berkidung tentang magrib
merekapun terpanggil untuk pulang dan mengaji
sedangkan siapa kalahñsiapa menang di lapangan ke-
nangan
mereka jadikan bahan tawa dan ejekan sebagai peng-
antar
jalan pulang ke rumah dengan rasa pegal dan gembira.
2018

INGATAN YANG KABUR DARI KAMAR

di dalam kamar yang pintunya terbuat dari kejenuhan
tiba ingatan bangkit dari kasur yang gelisah
melangkah membuka mata-mata jendela yang terlelap
ternyata ia sekadar ingin menatap langit kenangan; ke-
bun
segala peristiwa purba gugur bagai hujan mengekalkan
keberkahan keabadian.
lalu aku bercermin pada kecamata jendela berebun
ternyata yang kulihat kilau wajah kawan-kawan
kecilku mengalir: mengalirkan daun-daun sejarah
perkelahian, tangisan dan tawa bersama.
sungguh adakah kebahagiaan yang kekal di hati
jika segalanya berlalu di jalan masa lalu
sedang masa depan adalah hantu-hantu yang
mendewasakanku dengan ketakutan-ketakutan.

2018


*) Norrahman Alif, lahir di Jurang Ara, Sumenep Madura. Menulis puisi dan cerpen di Lesehan Sastra Kutub
Yogyakarta ( LSKY). Karya puisi dimuat di berbagai media.

[1] Disalin dari karya Norrahman Alif
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 5 Mei 2019
The post Di Beranda, Dingin Jadi Logam appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Ziarah


ADA yang berbeda ketika menjelang Ramadan di desa Gesikan, Pendowoharjo. Bagi kampung lain bila menghadapi hari-hari sebelum puasa akan digunakan oleh penduduknya untuk nyadran ke makam. Namun bagi desa Gesikan hal itu tak dilakukan. Menjelang Ramadan, mereka lebih memilih untuk mengunjungi sungai besar bernama: Kali Putih.

Penamaan sungai ini berasal dari mitos lokal yang tumbuh di masyarakat. Sungai itu diberi nama ëKali Putihí karena penduduk percaya, ada seekor naga putih yang hidup di dasarnya. Keyakinan warga itu pun sudah melekat erat sejak nenek moyang.

ZiarahDan, warga mengimani nama naga itu akan memberikan berkah serta perlindungan bagi kampung. Begitulah. Beberapa hari sebelum bulan puasa, warga Gesikan lebih banyak berkunjung ke Kali Putih. Di sana mereka bunga atau mengirim doa-doa layak nya orang yang sedang berziarah. Mereka percaya dengan melakukannya, arwah keluarga yang sudah meninggal dapat merasa nyaman di Surga. Dan, karena merasa penasaran dengan segala tradisi aneh penduduk desa dan Ibu, aku pernah bertanya: “Mengapa bisa demikian, Ibu?”

Ibu yang sejak kecil merawatku sendiri, karena Bapak telah meninggal bersama kapal yang membawanya ke Malaysia untuk bekerja, menjelaskan: “Naga Putih adalah kendaraan bagi orang-orang mati. Naga Putih akan menyampaikan semua doa kita.” Ibu memang mengikuti apa yang di akukan oleh kebanyakan warga.

Ibu meyakini prihal cerita mengenai seekor naga dan berkat suci yang ada di sungai itu. Ibu acap mendatangi Kali Putih beberapa hari sebelum bulan suci puasa tiba. Aku mengangguk mendengar cerita Ibu itu. Begitulah. Hingga kini bahkan Ibu masih melakukan hal yang sama bila Ramadan tiba. Ibu untaikan doa-doa kepada Bapak yang belum pernah kulihat sejak kecil.

***
Dua hari sebelum Ramdhan tahun ini, aku dan Ibu kembali melakukan tradisi itu. Kami mendatangi Kali Putih untuk mengirim doa di tepinya. Di sana kami menemui banyak warga yang keluarganya menghilang dan tidak memiliki makam yang jelas di dunia ini. Mereka tampak menebar menebar bunga dan mengirimkan doa-doa kepada orang-orang yang tercinta.

Namun, mereka tampak terpekur dengan wajah yang sulit aku jelaskan. Air muka yang menggenang di wajah Ibu pun sama dengan para penduduk yang aku temui di pinggir sungai. W ajah Ibu terlihat datar layaknya para penduduk, hingga aku bingung untuk mendefiniskannya: Apakah Ibu kini sedang bersedih atau bergembira? Aku akhirnya hanya diam saja tak mengusik. Namun hari itu setelah berdoa, Ibu tiba-tiba bertingkah aneh. Ibu terlihat sering melamun.

Kemudian ketika sampai rumah, Ibu mengatakan sesuatu kepadaku. “Aku melihat bapakmu!”
“Melihat bagaimana, Ibu?”

“Aku melihat bapakmu berdiri di dasar sungai tadi. Ia melambai-lambaikan tangan kepadaku.”

“Hus! Jangan bilang aneh-aneh!”

“Kau ingat? Naga Putih itu adalah kendaraan orang-orang mati. Mungkin ayahmu diantarkan untuk melihat kita.”

“Ibu hanya melamun!”

Ibu diam. Tak menanggapi. Namun ada yang ditahannya ketika menatapku. Sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

***
Selesai nyadran di kampung, aku kembali ke perantauan. Namun tiga hari kemudian, aku mendapatkan kabar Ibu masuk rumah sakit dengan keadaan kritis.

Malam itu seorang warga desa meneleponku. Ia mengabarkan padaku kalau Ibu berusaha menenggelamkan dirinya ke Kali Putih.

“Ibumu tiba-tiba saja melompat ke dalam kali. Ia tenggelan dan nyaris mati. Untungnya ada warga yang melihat serta lekas menyelamatkannya.”

Mendengar cerita Ibu yang mengalami kecelakaan, aku kembali pulang ke kam – pung. Aku menemui Ibu terbaring lemah di rumah sakit. Namun, Ibu beruntung. Ia tidak apa-apa. Lima hari kemudian bahkan Ibu terbangun dari komanya. Tapi waktu terbangun Ibu becerita hal ganjil kepadaku.

“Kemarin aku bertemu bapakmu.”

“Bapak? Bertemu di mana, Ibu?”

“Aku bertemu bapakmu di dasar sungai. Ia benar-benar datang ke dunia ini dengan naga putih itu. Ia merindukan kita.”

Aku yang mendengarnya diam tak tahu harus menjawab apa. Tapi yang jelas ketika itu wajah Ibu terlihat sangat sedih menyimpan rindunya. q – c

*) Risda Nur Widia. Alumni Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (2010). Kini melanjutkan studi di Pascasarjana UNY (2018).


[1] Disalin dari karya Risda Nur Widia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 5 Mei 2019
The post Ziarah appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Eva dalam Dua Cerita Berbeda


01
Everything you see in a dream is but a reflection, a face in a mirror.
(Jose Saramago)

Ini adalah kesenangan bagiku; mengutip kalimat seorang penulis terhormat, Jose Saramago. Aku merasa sedikit lebih istimewa, atau jika boleh jujur, jauh lebih istimewa dibanding tetanggaku yang saban hari kerjanya mengurusi makanan babi-babi dan bebek-bebek dan ayam-ayam peliharaannya. Atau, tetanggaku yang lain lagi, sepasang suami-istri yang gemar beradu makian; aku mengoleksi dua belas kalimat makian dari dua kabupaten berbeda, kampung asal sepasang suami-istri itu, tetanggaku, tapi tak elok jika kutuliskan pada halaman-halaman ini, bersanding dengan kutipan Jose Saramago. Bukan, bukan berarti tetanggaku kalah penting dari Jose, tetapi karena tak baik menggabungkan yang kudus dengan yang buruk. Meski pengetahuanku tentang sastra terhitung nol, aku paham betul, tak layak melempar mutiara ke kandang babi; kalimat Jose Saramago adalah mutiara, dan kandang babi…

Satu-satunya hal yang elok dari pertengkaran sepasang suami-istri ini adalah penyebabnya. Sang istri memiliki tanda lahir, dua ekor ular berpagutan, segaris dengan ruas tulang punggungnya, jantan dan betina. Tanda lahir itu tak menyukai si suami. Tak jarang si suami merasa tubuhnya dirayapi ular, atau ada sepasang ular yang tidur laiknya manusia di antara ia dan istrinya; dalam tiap pertengkaran ia menyebut-nyebut sepasang ular, menyebut-nyebut bagaimana ia nyaris dipagut, bagaimana ia, seorang lelaki yang bersih lakunya, hendak dihabisi di atas ranjangnya sendiri oleh sepasang ular yang mendengki, sepasang ular yang berasal dari tubuh istrinya. Ular yang tak kelihatan, bantah si istri. Ular yang hanya ada dalam khayalanmu, teriak si istri sambil melempari si suami dengan kerikil di pekarangan rumah. Si suami biasanya menghilang selama tiga hari, kembali pada pagi keempat, kabur pada pagi kelima. Siklus pertengkaran keduanya berulang pasti seperti siklus terbit-tenggelamnya matahari. Tetanggaku yang saban hari mengurusi babi-babi, bebek-bebek dan ayam-ayam percaya pada omongan si suami. Jika ada seekor-dua ekor ayam peliharaannya menghilang, ditudingnya sepasang ular jantan-betina yang berumah di tubuh istri tetangga telah menyelinap ke kandang dan menyantapnya. Ia menyindir-nyindir; Perempuan, kalau kau memelihara ular di tubuhmu, kau bertanggung jawab memberinya makanan dari apa yang ada di dapurmu sendiri! Pernah kutanyakan, mengapa tak terus terang saja berkata-kata, sembarang perempuan bisa tersinggung jika ia hanya menyebut target ujarannya sebagai “perempuan”. Takut mati, kilahnya. Jika si target tersinggung, ular di tubuhnya akan balas dendam, katanya lagi.

Tentu, tentu saja. Aku mengiyakan ucapannya. Dalam hidup, kita harus selalu berhati-hati meski kadang berhati-hati hanya berarti menjaga keselamatan diri sendiri. Tentu, tentu saja; apa pedulimu jika kecurigaanmu tak berdasar? Yang kau perlukan cuma seseorang yang rela dijadikan kambing hitam bukan?

“Apa benar di tubuhmu ada ular?”

Ujung jemariku menghitung jumlah ruas tulang belakangnya, atau karena belakangan ini aku sering sekali membaca puisi-puisi di koran, kuistilahkan sebagai membaca peta tubuhnya. Ia berbalik mempertontonkan punggungnya yang telanjang. Sepasang ular birahi saling memagut, menggelinjang gelisah.

“Bercinta dengan tubuhku adalah seni menunda maut, suamiku tak menguasainya.”

“Dan, ia berbohong?”

“Menurutmu, kau tidak sedang berbohong, A? Katakan, apa itu kebenaran?”


02
Kau mengingat sosoknya sebagai bocah lelaki berusia enam tahun yang gemar bertualang hingga sering tersesat. Beberapa kali, orang asing mengantarnya pulang ke rumah, memberi jaminan kepada kedua orang tuanya, ia sudah diberi makanan dan minuman cukup sebelum dikawal pulang. Sering, ia ditemukan salah satu adik lelaki ibunya, seorang polisi, tengah berdiri sendirian di tepi jalan menuju perkebunan kopi angker milik para biarawan Katolik. Diajak teman-teman bermain petak umpet, katanya. Setelah selesai bermain petak umpet, kami akan berjalan kaki ke rumah sakit, menjenguk ibu salah satu teman yang baru melahirkan, katanya lagi. Tapi, teman-temanmu tak nampak, maka kau harus pulang ke rumah, dan berpesan agar mereka tidak mengikutimu, atau mengajakmu bermain, kata adik lelaki ibunya.

Kau mengingat sosoknya sebagai bocah lelaki berusia enam tahun yang tak berkawan meski mengenal setiap jengkal kebun kopi angker seperti mengenali ruang-ruang dalam rumahnya sendiri. Juga, mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Beberapa ia ceritakan padamu, diakhiri dengan kalimat sakti; Eva, kau boleh percaya atau tidak percaya, tapi kalau apa yang saya ceritakan ini kelak terjadi, kau tidak boleh menceritakan hal ini kepada siapapun. Truk yang dikemudikan ayah si A akan terjungkal ke jurang, si B akan kawin lari dengan si C dan minggat dari kota, kau lihat motor yang memuat tiga murid SD itu? Motor itu akan mengalami kecelakaan di perempatan jalan, tapi semuanya akan selamat.

“Nenek saya sedang sekarat, apakah dia akan meninggal?”

Hingga hari ini kau tak pernah bisa melupakan jawabannya, jawaban seorang bocah lelaki berusia enam tahun yang tak berkawan, yang mengenal setiap jengkal kebun kopi angker dan mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di kemudian hari. Nenekmu akan meninggal tujuh hari sebelum kau menikah, jadi kau masih punya banyak sekali waktu untuk mendengarkan omelannya yang seperti burung beo itu. Dia akan segera sehat. Kau akan jadi pengantin yang sedih. Sedih dan terasing. Saya melihatmu berada di negeri yang jauh… Negeri yang jauh… Ia lantas bersiul, sementara kau menghitung jumlah tahun yang tersisa sebelum nenekmu meninggal. Kau tidak mengangankan pernikahan, kau mengira-ngira berdasarkan usia rata-rata para perempuan di keluargamu ketika mereka memutuskan untuk menikah. Dua puluh lima. Berarti masih ada delapan belas tahun sebelum kematian itu tiba. Adakah cara mengakalinya? Saya tak ingin nenek mati, dan saya tidak ingin menikah. Wajahmu mengiba; sebenarnya, wajahmu kau atur agar terlihat mengiba — ini adalah teknik berpura-pura yang kau pelajari dari sepupu-sepupumu, yang jumlahnya tiga belas, yang menggunakan teknik yang sama agar diberi uang jajan oleh nenek. Ada. Tentu saja ada. Di tengah kebun kopi ada pohon mangga yang buahnya manis-harum. Kalau kita ke sana, dan melakukan upacara pernikahan, tentu malaikat akan kebingungan dan mengubah catatannya. Waktu meninggal nenekmu belum tiba, waktumu menikah telah tercatat. Kau tahu, anak kecil kadang-kadang bisa mengecoh takdir, seperti Nabi Isa menciptakan burung dari tanah liat, burung-burung itu terbang ke langit…

Kau tak bisa mengingat dengan persis rute yang kalian lalui hingga tiba di sekitar pohon yang ia maksud. Seekor burung hantu beruhu-uhu, dan kau maklum jika ia keliru menafsirkan waktu. Matahari jam lima sore tak mengantarkan cahaya yang cukup ke dalam rimbun pohon kopi. Suasana temaram, dan kau mulai mengingat pesan para orang tua; kanak-kanak tak boleh berjalan-jalan jauh sendirian ketika matahari hendak terbenam, roh mereka yang lemah akan terbuai melihat cahaya jingga keemasan di ufuk barat, hingga mereka akan terus berkelana mengejar warna yang sama dari batas langit yang satu ke batas langit yang lain…

Tapi, di kebun kopi, ketika kau mendongak, yang nampak hanya rimbun dedaunan hijau-gelap. Hantu-hantu gentayangan di kebun kopi, hantu-hantu pekerja dari jaman Belanda yang mengira dirinya belum mati. Kau tak melihat orang-orang yang acuh bekerja, atau bayangan-bayangan-bayangan, atau siluet manusia yang kakinya tak menapak tanah; hantu yang diceritakan para orang tua. Kau mulai meragukan kebenaran cerita-cerita yang kau dengar. Dalam suasana muram saat itu, hanya nampak olehmu, punggungnya yang tegap dan rambutnya yang hitam gagak dipangkas 2-1-2, barangkali di tukang pangkas tuli yang dalam benakmu sudah berusia sama tuanya dengan kota tempat kalian bermukim.

Eva dalam Dua Cerita BerbedaKalau kita memakan buah ini, sampai habis, masing-masing separuh, Surga mencatat pernikahan kita. Kau mau tahu sebabnya? Di pohon ini malaikat pencatat takdir sering beristirahat. Sambil beristirahat, ia memeriksa catatannya. Kalau ada yang keliru, atau ada yang harus diganti, dia akan melakukannya di sini sebelum melapor ke Surga. Jangan khawatir karena kau tak bisa melihatnya. Apa urusannya memperlihatkan diri? Yang kita butuhkan hanya percaya, kita bisa membuatnya mengubah catatan dengan cara ini.
Kau masih mengingat sosoknya sebagai bocah berusia enam tahun yang tak berkawan meski mengenal setiap jengkal kebun kopi seperti mengenal ruang-ruang dalam rumahnya sendiri, juga mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Barangkali, ia mengingatmu sebagai istrinya, atau sebagai seorang anak perempuan yang ingin mengakali takdir. Barangkali juga, ia mengingatmu sebagai anak perempuan yang melemparinya dengan batu hingga ia jatuh, berdarah dan terbang lebih gegas ke angkasa bersama malaikat pencatat takdir untuk menghindarimu. Orang-orang mengingatnya sebagai bocah lelaki yang tak pernah kembali dari petualangannya bersamamu di kebun kopi. Kau tak ingin mengingatnya sebagai seorang bocah lelaki yang berubah menjadi seekor burung pipit raksasa setelah memakan buah bagiannya, berusaha mematuk kedua pupil matamu dengan paruhnya yang runcing tajam agar selamanya kau buta. Kau hanya ingin mengingat dirimu sebagai pemenang. Meski setelahnya, kata-kata meninggalkanmu, dan kau menganggap tubuhmu telah jadi tanah liat retak yang tak mungkin ditumbuhi apapun. Orang-orang memanggilmu bisu, dan linglung, kutukan untuk seseorang yang telah mengajak orang lain menjadi celaka; dan, jasadnya tak pernah ditemukan, barangkali, telah disembunyikan hantu-hantu. Sesekali, seekor-dua ekor burung pipit terbang rendah di halaman rumahmu. Pembohong! Umpatmu dalam hati. Kau yakin mendengar suaranya tertawa, balas mengejek. Ia masih bocah lelaki berusia enam tahun yang tak berkawan, yang mengenali setiap jengkal kebun kopi seperti mengenali ruang-ruang dalam rumahnya sendiri. Kau telah jadi tubuh dewasa, tetapi kau masih tak ingin mengingatnya sebagai burung pipit raksasa yang ingin mematuk kedua pupilmu agar kau selamanya buta. Siapa yang akan percaya? Bahkan, kata-kata pergi meninggalkan lidahku. Barangkali karena kata-kata telah mengetahuinya lebih dulu.

Fransiska Eka saat ini berdomisili di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

[1] Disalin dari karya Fransiska Eka
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 4-5 Mei 2019.
The post Eva dalam Dua Cerita Berbeda appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Rabu, 01 Mei 2019

Memungut Rintik Hujan


AKU kira, kekacauan memang tak mesti dimulai dari sesuatu yang besar dan mengerikan. Sebab seminggu lalu, seorang laki-laki paruh baya bilang kepada orang-orang bahwa ia bisa memungut rintik hujan. Seperti kena teluh, beberapa orang membenarkan dan ikut mempercayainya. Bahkan beberapa tokoh dan orang-orang penting pun ikut membenarkan. Meski beberapa tidak, tapi tetap saja, hujan yang semula sederhana; sebatas air tumpah dari langit berubah menjadi persoalan serius. Dan dari situlah kekacauan ini dimulai.

“Itu sama sekali tak masuk akal …” kataku.

“Tapi sungguh, ia memang bisa memungut rintik hujan.”

“Dengan tangannya?”

“Benar. Dengan tangannya. Laki-laki itu benar-benar ajaib,” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala seolah-olah benar-benar mengagumi keajaiban yang jarang.

“Kau pernah melihatnya, dengan mata kepalamu sendiri?”

“Hmmm sebenarnya belum. Tapi aku benar-benar percaya,” jawabnya singkat.

“Kalau begitu kau sama sintingnya! Kalian hanya delusi, berhalusinasi,” tegasku. Matanya nanar menatapku. Mata itu, seperti mata orang-orang lain yang percaya bahwa di dunia ini rintik hujan benar-benar bisa dipungut!

“Banyak ahli dan peneliti hujan bilang ia cuma ngibul, bahkan para penyair yang konon dekat dengan hujan pun berkata sama. Kenapa kau masih percaya?” gumamku.

“Kau, dan orang-orang itu sama bodohnya! Kalian itu hanya digiring supaya menolak fakta. Sudahlah, tinggal percaya memang apa susahnya? Di dunia ini tak ada yang tak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak. Dan laki-laki itu, semacam dapat ilham sehingga tangannya bisa memungut rintik hujan, titik!”

“Baik, baik. Aku akan percaya dengan satu syarat: jelaskan bagaimana caranya dan tunjukkan di depan mataku.”

Sementara di sini aku sedang bercakap-cakap, keadaan di luar sebenarnya semakin kacau. Orang-orang terbelah menjadi dua kelompok yang berbeda: antara yang percaya dan tidak. Satu-satunya hal yang sama dari mereka hanyalah: sama-sama kukuh; sama-sama menyebalkan. Peneliti hujan yang berada pada kelompok penolak berbondong-bondong mengeluarkan kajian bahwa hujan memang hanya hujan, satu-satunya yang bisa memungut hanya tangan dingin penyair, dalam bentuk puisi, kata mereka. Para tokoh yang percaya pun tak mau kalah, mereka juga mengeluarkan kajian bahwa sangat mungkin rintik hujan bisa dipungut oleh tangan. Kekacauan semakin menjadi ketika cerita itu semakin meluas: menyebabkan orangorang saling curiga dan debat hanyalah omong kosong hingga berbusa. Hingga puncaknya, mereka sama-sama lupa apa yang bisa dibikin oleh hujan …

Kadang, kekacauan memang bisa bermula dari sesuatu yang sederhana. Apakah ini akan berlanjut hingga musim hujan yang akan datang? ❑-e

*) Haryo Pamungkas, lahir di Jember. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNEJ. Cerpennya telah dimuat di berbagai media cetak dan daring.

[1] Disalin dari karya Haryo Pamungkas
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 28 April 2019
The post Memungut Rintik Hujan appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:

Senin, 29 April 2019

Insomnia


Mama berkata seraya memakai kaca-mata, “Nia, malam ini Mama akan bercerita  mengenai  Pemulung Perasaan.” Mama membuka buku catatan berwarna hitam agak kusam. Sejenak Nia mengeja tulisan yang tertera di sampul buku di genggaman Mama: Diary.


Nia mengangguk. Kedua matanya berbinar-binar, menantikan cerita dari Mama. Nia mengeratkan pelukan pada boneka beruang.

“Pemulung Perasaan akan muncul selepas hujan deras. Ketika udara lembap dan perlahan kabut turun lalu menggumpal bagai permen kapas, Pemulung Perasaan akan menyusuri jalanan basah sembari membawa sebuah wadah berwarna merah berbentuk hati. Dia akan mengambil perasaan yang hanyut di selokan,layu  di  tempat  sampah,  atau  yang  lain. Pemulung itu akan menaruh satu per satu perasaan berbentuk daun waru ke dalam wadah, lalu membawa pulang.”

“Mama, bukankah pemulung itu mengambil barang bekas ya?” tanya Nia memotong cerita.

Mama memandang Nia dengan takjub. Gadis kecil yang berbaring di sampingnya itu kini mulai tumbuh menjadi gadis cerdas dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mama mengulum senyum. Bibir Mama yang senantiasa memerah Fanta menumbuhkan desir bangga di dada Nia; Mama wanita tercantik di dunia.

Mama membenahi poni Nia. Lalu mencubit dengan gemas pipi       tahu bulatnya.

“Nia cerdas,”     ucap Mama.

Nia mengelus-elus pipi     bekas cubitan Mama. Sesekali   Nia memanyunkan bibir. Cemberut.

“Tapi  Nia tahu       tidak perasaan juga termasuk barang  bekas lo?”

Nia menggeleng.

“Jaga perasaan Nia agar tak jadi barang bekas,” ujar Mama sembari menunjuk dada Nia.

Nia bingung mendengar perkataan Mama. Bagi Nia, perkataan Mama seperti soal matematika; sulit sekaligus berbelit-belit. Bikin kepala pusing.

“Nia, Mama akan melanjutkan cerita,” kata Mama menatap lekat wajah Nia. “Jika kamu susah tidur, teruslah pejamkan mata. Apa pun yang terjadi,” lanjut Mama.

“Di bawah cahaya temaram lampu-lampu kota, Pemulung Perasaan akan mengaitkan tali untuk mengikat perasaan satu dengan lain, membentuk sebuah kalung. Pada saat-saat tertentu, perasaan itu akan memperdengarkan kembali kesedihan yang tersimpan; teriakan, tangisan, rintihan. Dengan begitu, Pemulung Perasaan tak merasa bersedih sendirian. Dia pulang dengan perasaan senang.

“Suatu malam yang dingin, seorang wanita menatap kaca jendela yang berembun. Dia membiarkan air matanya jatuh ke dalam secangkir kopi, lalu mengkristal di atas ampas.Wanita itu membuka satu per satu benik kancing dari lubang baju. Memamerkan dada ranum penuh jahitan. Dia menarik benang dari salah satu jahitan, lalu memotong perasaan yang menyembul keluar dari dada. Dia buang perasaan itu sekuat tenaga lewat jendela. Dia beranggapan, tanpa perasaan hidup bakal tenang. Wanita itu membayangkan, Pemulung Perasaan diam-diam mengambil sekaligus merawat perasaan yang dia buang.” 

Nia memejamkan mata seraya mendengarkan cerita. Nia berpura-pura tidur. Nia tak ingin menjadi anak durhaka dengan melanggar perintah Mama.

“Selesai.”

Hening.

Nia menerka cerita yang Mama baca telah tamat. Nia merasakan ada sesuatu yang sedikit basah nan lembut menyentuh kening. Nia sangat ingin membuka mata. Namun Nia terus menahan kelopak mata agar tak terbuka. Sampai-sampai kedua matanya berkedut. Nia merasakan ada embusan hangat di sekitar telinga. Dia merasa agak geli.

“Nia, apakah kamu tahu wanita dalam cerita itu?”

Nia mendengar bisikan. Tak sebegitu jelas. Telinga Nia hanya menangkap kata “tahu”. Nia menyipitkan mata. Seperti mencoba memastikan sesuatu. Samar-samar Nia mendapati Mama mengendap-endap, berjalan bersijingkat keluar, meninggalkan kamar.

“Selamat malam, Nia.”

***

“Jika kamu susah tidur, teruslah pejamkan mata. Apa pun yang terjadi,” kata Nia kepada boneka  beruang  dalam  pelukannya.  Nia menirukan bagaimana Mama mengucapkan kalimat itu kepadanya, sebelum memejamkan mata, setiap malam.

“Kenapa kamu masih membuka mata?” bentak Nia kesal. Nia mencungkil kedua bola mata boneka beruang itu dengan telunjuk jari, lalu menariknya hingga jahitan pada boneka itu menganga lebar. Serat-serat kapuk menyembul keluar. Hati Nia kacau, seperti ketika meletus balon hijau.*

Sejenak Nia menatap langit-langit kamar. Membayangkan ada bintang kecil berjatuhan seperti salju dalam bola kaca. Sayup-sayup Nia mendengar suara aneh. Suara itu selalu terdengar beberapa jam setelah Mama membacakan cerita dan meninggalkan kamar. Terkadang samar-samar Nia juga mendengar ada deru kendaran silih berganti datang dan seperti berhenti tepat di depan rumah. Suara-suara itu begitu mengganggu, sehingga membuat Nia tak bisa tidur. Ada sedikit rasa takut terselip dalam dada. Namun rasa takut itu seketika berubah menjadi rasa penasaran meluap-luap.

Nia berjalan hati-hati keluar dari kamar. Matanya jelalatan. Suara itu makin terdengar jelas ketika Nia sampai di depan kamar Mama yang bersebelahan dengan kamarnya.

Nia mengintip dari celah pintu yang rada terbuka. Nia melihat Mama menggeliat di atas ranjang, seperti ulat bulu. Nia mendengar lenguhan panjang, serupa suara lembu. Mama tampak kesakitan. Nia mempertajam pandangan. Mata Nia menangkap bayangan hitam berlidah panjang melilit dada Mama. Lidah itu menjelajah dada merah jambu Mama, persis seperti ketika Nia menikmati es krim stroberi pada siang yang panas. Bayangan hitam itu memperlihatkan gigi runcing, bak gigi kucing. Gigi itu menancap di bibir Mama, menarik ulur, seakan sedang mengunyah permen karet.

Nia menggigit ujung bibir bawah sampai terasa hendak pecah. Nia ingin menolong Mama. Namun langkahnya tertahan ketika sepasang mata merah menyala melotot kepadanya.     Nia     ketakutan. Tubuhnya gemetar. Nia menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Namun mata merah itu masih tampak sedemikian jelas dari celah jari-jari Nia yang tak tertutup rapat. Sejurus kemudian  Nia  lari tunggang-langgang menuju kamarnya. Nia langsung meringkuk        di bawah selimut sembari memeluk boneka beruang besar.

Tiba-tiba Nia teringat pesan Mama.“Jika kamu susah tidur, teruslah pejamkan mata. Apa pun yang terjadi.”

Nia     bangkit     dari     ranjang. Menyingkirkan selimut dan boneka beruang. Nia meraih ransel yang menggantung di dinding. Nia membuka resleting ransel, lalu memungut wadah peralatan sekolah bergambar Hello Kitty. Nia mengacak-acak sebentar isi wadah itu, kemudian mengambil sebilah pemes yang biasa dia gunakan untuk menajamkan pensil. Nia membuka pemes itu hingga terlihat ujung lancip yang agak berkarat.

Nia kembali ke atas ranjang, menarik selimut sampai dada. Nia menaruh boneka beruang di samping kanan. Tak lama berselang Nia mendekatkan pemes yang tergenggam di tangan kanan ke wajah. Nia memejam sembari menggumamkan doa sebelum tidur. Beberapa detik kemudian Nia menusukkan pemes itu bergantian di kedua matanya sampai benar-benar terlelap. (28)

* Kutipan secara bebas dari lagu “Balonku”.

- Dicky Qulyubi Aji, kelahiran Jepara, mahasiswa Sastra Jawa Fakultas Bahasa danSeni Universitas Negeri Semarang (FBS Unnes)

[1] Disalin dari karya Dicky Qulyubi Aji
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 28 April 2019.
Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi