Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Rabu, 02 Oktober 2019

Bekal Makan Siang


JIKA saja ia tidak terbakar nafsu, keluarganya tidak akan terkena imbas begini. Mulanya hidupnya baik-baik saja. Apotek, bisnis yang ia jalankan bersama istrinya berjalan lancar memberi pemasukan tetap. Ia memiliki keluarga yang pantas. Punya rumah, punya mobil keluarga, setiap minggu bisa makan ke luar. Pengeluaran dan pemasukan seimbang. Bahkan, ia masih bisa menabung.

Hingga musim pemilu datang menggoda. Ia tertantang untuk mengikuti. Sahabat-sahabatnya meyakinkan. “Bos, kamu punya modal Bos. Eman-eman jika tidak digunakan. Dalam perebutan kekuasaan begini, tidak hanya modal uang yang dibutuhkan, tapi juga popularitas dan mesin penggerak. Kamu punya itu. Kamu mantan ketua organisasi kepemudaan tingkat provinsi. Punya anak buah di setiap kabupaten. Anak buahmu itu tinggal dioperasikan, jadi. Tidak semua calon punya modal seperti kamu. Banyak yang cuma modal nekat,” rayu temannya yang nanti menjadi ketua tim sukses.

Memang, hidupnya kini monoton. Ia hanya bergumul dengan anak-istri, mengecek toko, begitu-begitu saja. Hanya sesekali junior di organisasinya dulu datang meminta saran atau mengajak diskusi tentang politik. Kadang-kadang memintanya menjadi pembicara pendidikan politik dasar.

Itu berbeda dengan saat ia menjabat sebagai ketua organisasi kepemudaan. Ia dulu sibuk luar biasa. Ia keliling provinsi membuka dan menutup acara, melantik pengurus tingkat kabupaten, koordinasi ke pusat, audiensi dengan pemerintah, dan segala kesibukan lain. Berpolitik pernah ia jalani, bukan politik praktis, ya politik merebut kursi ketua itu. Penuh tantangan dan persaingan. Ada lobi-lobi, konsolidasi, bahkan uang juga bergerak. Politik ialah dunianya. Teman-temannya banyak yang sudah melangkah ke jalur ini.

Setelah menimbang-nimbang, ia memutuskan mengikuti saran teman-temanya untuk melangkah ke pertarungan memperebutkan satu kursi anggota dewan di tingkat provinsi.

Ia hubungi kolega-koleganya. Ia bentuk tim pemenangan sampai tingkat kecamatan. Ia ambil utang dengan tanah sebagai jaminan. Ia pesan kaus, ia pasang iklan, ia bagi uang.

Setiap malam orang datang ke rumah. Memuji-mujinya, melaporkan keadaan di lapangan dan prediksi-prediksi mereka. Mereka menawarkan bantuan masuk ke dalam tim dan ujung-ujungnya minta uang. Kepalang tanggung. Hingga akhirnya waktu pemilihan telah tiba. Orang-orang memberikan suaranya, penghitungan suara dimulai. Ia mendapat suara banyak, tetapi belum cukup untuk mendudukkannya di kursi dewan. Orang-orang yang tadinya mendekat, mulai menyingkir. Orang-orang yang tadinya memanggilnya bos, hilang entah ke mana.

Yang datang justru orang-orang yang menagih bayaran ongkos cetak alat kampanye, kaus, hingga makanan. Hartanya ludes. Tanah berikut tokonya terpaksa ia jual untuk menutup semua utang itu. Ia ditawari tetap tinggal di partai sebagai pengurus, tetapi ia menolaknya, ia ingin hidup seperti sediakala.

***

Bekal Makan SiangSudah lima tahun peristiwa itu, ketika pemilu mau menjelang lagi, keadaan ekonominya belum pulih. Ia sekarang bekerja di sebuah perusahaan sebagai pegawai administrasi. Gaji yang tidak seberapa itu ia gunakan menghidupi keluarga dan berusaha menabung sedikit demi sedikit untuk membuat usaha lagi. Ia sudah ke sana-ke mari meminta pinjaman untuk membangun usaha lagi, tetapi tidak ada yang memberi. Bahkan, keluarganya sendiri tidak memberi. Utangnya yang kemarin belum terbayar, mungkin itu alasannya. Istrinya terpukul dengan keadaan itu, tetapi menerima. Itu yang membuatnya tetap kuat.

Betapa pun hidup harus dilanjutkan. Anak-anak harus tetap makan, sekolah, dan hidup layak. Anak-anak ikut menerima konsekuensi. Kualitas makan di keluarganya turun, kualitas pakaiannya juga begitu. Jika dulu makan ke luar, jalan-jalan sore menggunakan mobil, saat ini membawa sepeda motor. Saat hujan turun harus ngiyup.

Saat linglung begitu ia mengaji. Saat mengaji itu ia ingat guru ngajinya saat kecil dulu. Tiba-tiba ia ingin bertemu. Ia berkunjung ke sana sendirian. Ia masuk ruangan, tempat ia dulu belajar mengaji bersama teman-teman kecilnya. Di sini ia belajar mengenal huruf-huruf hijaiah, menghafalkan doa-doa, belajar salat, dan wiridan. Wiridan adalah melafalkan kalimah-kalimah baik, asma Allah, secara berulang-ulang. Guru ngajinya melakukan pengajaran tanpa dibayar. Dia tulus mecintai murid-murid. Ia duduk di ruangan itu menunggu, mengenakan sarung kotak-kotak, baju warna putih.

“Eh Gus Lana, pripun kabare. Kok kadingaren ke mari.” Gurunya memang unik, memanggil murid dengan panggilan Gus.

“Injih Yai. Nyuwun ngapunten. Mohon maaf ndalem baru bisa silaturahim.”

“Eh denger-denger kemarin nyalon ya?”

“Injih Yai, tapi tidak jadi.”

“Iya, kalau jadi mana mungkin sampai sini.” Sang guru tertawa terbahak-bahak. Lana merunduk. Ia merasa bersalah. Ketika mencalonkan diri tidak memohon restu, dan saat kalah baru mendekat.

“Mohon maaf, Yai. Mohon petunjuk.”

“Begini Lana. Kamu harus prasangkai baik peristiwa ini. Coba cari sisi baiknya untukmu atas peristiwa ini. Kamu masih ingat hadis qudsi ini; Aku dalam prasangka hamba-Ku, pada-Ku. Itu artinya kenyataan ditentukan oleh prasangka kita sendiri. Pokoknya kamu harus berprasangka baik atas peristiwa ini, atas kekalahanmu. Setelahnya kamu jalani hidup seperti biasa. Kamu jalani hidupmu sebagai makhluk, sebagai umat Muhammad. Itu saja cukup.”

Sepulang dari rumah gurunya, hatinya tenang. Ia juga tidak lagi memaki-maki, menyalahkan orang lain. Kata gurunya, masalah yang menimpa kita itu dari Allah. Alangkah tidak sopan mengeluhkan Allah kepada manusia. Keluhkanlah yang dari Allah itu kepada Allah.

***

Sebelumnya Lana makan di kantin, tetapi sudah beberapa bulan ini Lana tidak makan siang. Ia kuat menahan lapar demi menyisihkan uang. Anaknya sudah mulai besar membutuhkan biaya sekolah yang cukup. Ia juga ingin segera punya uang untuk modal, memulai usaha lagi. Saat waktu istirahat tiba ia melangkah menuju masjid ikut salat berjemaah. Setelahnya ia istirahat di majid sampai waktu istirahat habis.

Mulai hari ini Lana membawa bekal dari istrinya, tetapi ia bingung mau makan di mana. Jika ia memakan bekal di meja kerja, ia tidak enak dengan teman-temannya. Orang-orang mungkin berpikir kalau dia terlalu berhemat. Perutnya sudah memanggil, menyuruhnya untuk membuka tepak bekal dari istrinya. Tangannya sudah mengelus-elus. Tapi ia tidak sampai hati membukanya. Ia ingat sayur kluwih yang dimasak istrinya berbumbu petai beraroma tajam. Ini akan tercium oleh teman-temannya. Bisa mengganggu konsentrasi kerja. Apalagi gereh goreng itu. Duh. Ia ingin bawa bekal itu ke lantai atas, dan memakannya di sana, tapi ia takut kepergok satpam atau petugas kebersihan. Tentu dia sangat malu jika tertangkap basah makan sembunyi-sembunyi. Kabar itu bisa menjadi pembicaraan orang sekantor. Sampai bel pulang berbunyi, bekal dari istrinya masih terbukus. Ia tidak punya nyali untuk membuka. Gengsi. Ia memilih menahan lapar daripada malu.

Ia bawa bekal itu kembali pulang. Tetapi hatinya juga berkecamuk. Andai tahu dia tidak memakan bekalnya, istrinya pasti sakit hati. Ia bingung. Ia mencari tempat memakan bekal itu. Ia berencana makan bekal itu di pom bensin. Baru berhenti dan mau membuka jok, ada juniornya di organisasi kepemudaan menghampiri. “Eh Mas, apa kabar? Setelah berbasa-basi, ia berjalan lagi dan berhenti di taman kota. Di taman, lagi-lagi ia kepergok teman.

Akhirnya, ia memantapkan niat untuk menyantap bekal di serambi masjid. Ia sudah tidak peduli ada orang melihat. Ia akan katakan bekal itu ialah tanda cinta istrinya.

Ia sikat bekal itu dengan cepat. Ia masukan nasi dan lauk ke dalam mulut dengan sendokan besar. Tandas sudah. Tepak yang kosong itu akan ia tunjukkan kepada istrinya. Itu lah cara membahagiakan istri.

Tepak kosong yang sudah dibungkus plastik ia gantungkan di sepeda motor. Ia menghidupkan sepeda motor. Pada saat ia akan menjalankan sepeda motor, ada seorang bapak mendekatinya. Seorang bapak bermuka memelas mengatakan sesuatu. “Apa Pak?” Lana meminta mengulangi.

Bapak yang tampaknya seusia bapaknya itu mengulang, “Mas, minta uang seikhlasnya buat beli bensin.” Lana membuka dompet dan memberikan uang Rp20 ribu. Bapak itu menerima, “Semoga rezeki mas lancar ya?”

Ia menggerakkan motor, bapak itu juga. Tebersit di pikirannya, mungkinkah si bapak menipu dirinya? Namun, pikiran itu segera tertindih pesan gurunya tentang prasangka baik. “Jika aku tidak membawa bekal dan makan di kantin, aku tidak bisa menyisihkan uang dan menolong bapak itu membeli bensin. Alhamdulillah.”

Lana melanjutkan perjalanan pulang, ia melewati baliho-baliho kampanye di kanan dan kiri jalan. Minggu depan pemilu, akan segera ada orang-orang yang bernasib sama dengannya atau mungkin lebih buruk. (M-2).


Muhajir Arrosyid, bekerja sebagai dosen di Universitas PGRI Semarang. Ia telah menerbitkan buku kumpulan cerita pendek berjudul Menggambar Bulan dalam Gendongan. –  Media Indonesia.

The post Bekal Makan Siang appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Mustajab dan Pak Bupati


Mustajab buta. Mata Mustajab tidak bisa melihat. Namun, tak ada orang di kampung kami yang begitu amat optimistis menghadapi hidup selain Mustajab. Hidup bukan gelombang laut lepas atau hantaman ombak, begitu katanya. Hidup adalah sungai jernih dan bening yang mengalir tenang. Tak ada kotor, tak muncul keruh, dan tak timbul kumuh.

Mustajab bingung bila ada orang yang stres menghadapi hidup. Hidup itu indah, tegas Mustajab, tak pantas orang stres, sakit, bahkan memilih bunuh diri saat menjalani hidup. Dalam hidup memang hadir masalah, tapi dalam hidup juga ada solusi. Dalam hidup muncul kesulitan, tapi dalam hidup hadir kemudahan.

Saat orang dibuat cemas menghadapi kerasnya hidup karena susah mencari kerja atau dipecat dari pekerjaannya, Mustajab tak beringsut dari menyambangi rumah-rumah. Ia mencari orang yang direndam penat, tidak peduli perempuan atau laki-laki, dewasa atau anak-anak, dan mengelus-elus tubuh mereka sampai terlena. Hanya dalam tempo kurang dari satu jam, puluhan ribu rupiah masuk ke sakunya.

Mustajab dan Pak Bupati“Orang kerja dengan membuka mata. Itu pun duit belum tentu dapat. Namun, aku, cukup tutup mata, duit mengalir deras,” begitu Mustajab melukiskan pekerjaannya sembari tertawa dan sedikit menyombongkan diri.

Mustajab memang sekadar tukang pijat tunanetra. Sekadar? Jangan ucapkan kata “sekadar” kepada Mustajab, apalagi dengan nada merendahkan karena ia pasti naik darah. Bagi Mustajab, tunanetra dan pijat adalah dua kata yang istimewa. Keduanya telah membuat Mustajab terkenal dan dikenal sampai saat ini hingga ia mampu mencukupi kebutuhan hidupnya dengan satu istri dan dan tiga anak.

Tunanetra? Entah apa yang terjadi kalau Mustajab tidak buta. Nasibnya mungkin bisa ngenes seperti Towil dan Panut, dua karibnya yang mati disergap polisi gara-gara menjarah kayu jati. Berbekal keberanian minim, keduanya nekat. Towil ditembak di dada, Panut kehabisan napas hingga klenger di pinggir kali saat menyelamatkan diri. Media-media menyebut mereka sebagai penjarah kambuhan, padahal Mustajab tahu benar, Towil dan Panut baru pertama kali mencuri jati.

Pijat? Siapa saja boleh memijat dan dipijat. Namun, bagi Mustajab, pijat yang enak, pijat yang melenakan hanyalah pijat yang dilakukan para tunanetra. Karena, bagi tunanetra, tubuh manusia ibarat tuts-tuts piano yang memunculkan irama musik nan indah. Mustajab hafal benar, mana bagian tubuh yang ditekan dan mana bagian tubuh yang cukup disentuh agar muncul harmoni.

Maka, pantas apabila Mustajab menjadi pujaan banyak orang. Hampir setiap hari ia keluar rumah demi pasien-pasiennya. Dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung, bahkan Mustajab mulai mengenal dari desa ke desa. Nama Mustajab kian dikenal setelah banyak pejabat menyenangi pijatannya. Mulanya pak lurah, lalu pak camat, kini tubuh pak bupati sudah langganan ia pijat.

“Mengapa kemarin tidak datang, Jab?” Suatu saat pak bupati pernah protes kepada Mustajab karena ia tak muncul saat pak bupati butuh pijatannya.

“Sakit mata, Pak,” jawab Mustajab sekenanya.

“Sakit mata?”

“Saya kira orang buta seperti saya sudah tidak lagi terkena sakit mata, ternyata salah. Saya bisa juga kena belekan, Pak.”

Pak bupati tertawa, Mustajab tersenyum. Begitulah, di sela memijat, pak bupati mengajak Mustajab bercakap-cakap. Mustajab paham, mungkin pak bupati ingin menyerap kisah orang-orang kecil seperti dirinya sebab dari orang seperti dirinya itulah pak bupati dapat memahami nasib orang yang ia pimpin. Namun, Mustajab pantang mengeluh, termasuk di depan pak bupati. Hidup sudah terlalu indah bagi dirinya. Alhasil, justru di hadapan dirinyalah pak bupati yang kerap mengeluh.

Pak bupati mengeluhkan beberapa pejabat di bawahnya yang cakap bicara, tetapi buruk kerjanya. Orang-orang seperti ini, kata pak bupati akan tega bicara apa saja demi menutupi keburukan dirinya. Pak bupati juga menyesalkan beberapa orang yang suka mengambil pungutan dari beberapa proyek yang tengah berjalan. Bagi pak bupati, orang seperti ini tak akan segan menghambat suatu pekerjaan kalau kantongnya belum terisi.

Mustajab jadi sedikit paham situasi pemerintahan. Di tengah pijatan nikmat yang ia keluarkan, pak bupati sering kali bicara tanpa sadar saat mata mulai diserang kantuk. Ia bicara apa adanya, bahkan tanpa rem, ngelantur. Mulut pak bupati bukan lagi ember bocor, melainkan sudah jadi ember pecah. Ia seperti tak sadar bahwa dirinya pejabat dan yang ia hadapi adalah tukang pijat.

Situasi di kamar pijat antara Mustajab dan pak bupati ternyata diketahui bawahan pak bupati. Mereka percaya bahwa Mustajab menyimpan seabrek rahasia pribadi maupun kantor. Akhirnya para bawahan bupati, seperti lurah, camat atau kepala dinas, juga pengusaha, seperti para kontraktor atau broker proyek menggemari pijat Mustajab. Mereka minta Mustajab ke rumah seraya dipijat, tetapi selanjutnya mereka meminta dan menyerap informasi dari Mustajab.

Mustajab jengah mulanya. Ia menolak memanfaatkan dan dimanfaatkan situasi itu. Mustajab cinta memijat. Ia tidak mau dunia pijatnya dikotori politik. Namun, setelah orang-orang itu merayu dan sedikit memberi tekanan, Mustajab akhirnya menyerah. Apalagi Mustajab melihat sendiri bagaimana orang-orang itu memberi jasa pijat kepada dirinya seolah tanpa menghitung. Mustajab ketagihan.

Namun, bukan karena alasan ini kalau Mustajab lalu berhenti ngider menjumpai pasiennya di rumah-rumah mereka. Mustajab merasa sudah waktunya dunia pijat-memijatnya dijadikan usaha serius. Selama ini Mustajab merasa pijat-memijatnya hanya begitu-begitu. Ia merasa waktunya habis saat berada di jalanan. Belum lagi, badannya cepat terserap lelah. Akhirnya Mustajab tidak maksimal ketika memijat pasiennya.

Memang istri Mustajab—yang juga pemijat tunanetra—mampu mengembalikan kebugaran dirinya. Namun, semua itu hanya sesaat. Mustajab tidak tega meminta istrinya untuk menyentuh dan memijat dirinya setiap hari sesaat ia diterjang lelah sehabis ngider. Apalagi, istrinya juga sering ketiban pulung, memijat orang yang datang ke rumah mereka.

“Aku akan bikin rumah pijat di ruko dekat pasar,” cetus Mustajab kepada istrinya.

“Yakin laku?” ujar istrinya mengingatkan.

“Di pasar banyak orang lelah. Di situ pasti butuh tukang pijat. Belum lagi, pasien pijat yang selama ini sudah jadi langganan. Mereka akan datang.”

Perkiraan Mustajab tepat. Berduyun-duyun orang lalu datang ke rumah pijatnya di ruko yang ia sewa. Dari mulai pedagang di pasar, sopir angkutan, para pegawai, hingga para penanggung jawab keamanan dan ketertiban kota, seperti polisi atau tentara. Pukul delapan pagi Mustajab sudah membuka rumah pijatnya dan pukul delapan malam ia tutup. Total Mustajab bisa memijat 6-7 orang setiap harinya.

Bawahan pak bupati? Mustajab tak akan lupa. Mustajab selalu siap menyediakan waktu bagi lurah, camat, kepala dinas, atau pengusaha yang ingin mendapat pijat darinya, selain tentu informasi darinya. Mereka tinggal memanggil. Di rumah, di losmen, atau di hotel. Pak bupati? Mustajab tahu diri. Setiap pekan ia meluangkan waktu untuk mendatangi rumah dinas pak bupati. Dan, pak bupati tetap tidak berubah. Di sela-sela dipijat, pak bupati selalu bercerita tentang segalanya.

Mustajab bangga. Pak bupati telah kepincut dengannya. Hampir lima tahun ia menggunakan tenaga Mustajab. Di akhir masa jabatannya, pak bupati bahkan menghadiahi Mustajab kabar istimewa. Pak bupati minta Mustajab menemaninya berhaji. Mustajab terkejut, tak percaya.

“Benar, ini Pak?” tanya Mustajab kepada pak bupati. “Apa aku pernah membohongimu?” Pak bupati balik bertanya.

Mustajab tersipu. Namun, saat tiba di Makkah, Mustajab baru mengerti mengapa pak bupati mengajaknya berhaji. Pak bupati tak semata memberi kabar istimewa, pak bupati tak sekadar memberi hadiah, tapi pak bupati memerlukan Mustajab sebagai tukang pijatnya. Di sela-sela ibadah, apabila lelah mencengkeram, pak bupati tak segan memanggil Mustajab untuk memijat badan, kaki, atau tangannya.

Mustajab mengabaikan keluh karena kerap tak mampu konsentrasi dalam ibadah. Bagi Mustajab, bisa berangkat haji saja sudah berkah, apalagi tanpa biaya sedikit pun dan apalagi bersama pak bupati. Jadi, mengapa ia harus berkeluh sekali pun di sana ia harus memijat pak bupati seperti tanpa henti? Mustajab sadar, wajar bila pak bupati meminta, sedangkan ia telah diberangkatkan ke tanah suci. Jadi? Ah, betapa indahnya hidup.

Mustajab bahkan tetap tersenyum saat pulang haji, meski dia mendapati istrinya cemberut. Istrinya bersikap tidak seperti biasa. Mustajab baru mengerti kemudian, kalau ternyata dua salon bergaya modern telah berdiri, tak jauh dari rumah pijat miliknya. Istrinya khawatir rumah pijatnya menjadi sepi karena dua salon baru itu tidak hanya menyajikan potong rambut, tetapi juga pijat. Beberapa pelanggan tetapnya sudah mulai bertanya-tanya dan melirik kedua salon itu.

“Rumah pijat kita bisa-bisa nggak laku, Pak. Pelanggan akan berpindah ke kedua salon itu karena di situ juga ada pijat,” kata istrinya.

Mustajab tersenyum. Katanya, “Rezeki sudah ada bagiannya masing-masing.”

Mustajab tak mau membuang-buang waktu. Hanya dengan penambahan satu kata, Mustajab mengganti nama rumah pijatnya agar dapat bersaing dengan kedua salon itu. Mustajab menggunakan kata “syariah” di belakang nama sebelumnya dan huruf H di depan namanya. Jadilah, tempat pijat Mustajab berubah dari “Rumah Pijat Mustajab” menjadi “Rumah Pijat Syariah H Mustajab”.

Sayangnya, Mustajab menolak bercerita tentang rumah pijatnya yang bersyariah itu di kemudian hari. Ia tak berucap sepatah kata pun saat berada di kantor polisi untuk memenuhi panggilan aparat keamanan karena dua alasan. Pertama, status rumah pijatnya yang tak berizin karena ternyata juga menjual obat-obatan. Kedua, penggunaan kata “syariah” yang menuai protes dari banyak pihak.

Mustajab sudah memohon kepada pak bupati agar ikut membantu menyelesaikan masalahnya. Namun, pak bupati angkat tangan.

“Aku tak bisa membantumu, Jab. Aku sudah kalah dalam pilkada kemarin. Dan, ini semua gara-gara informasi yang kamu berikan kepada lawan-lawan politikku.”

Apakah dengan kejadian ini Mustajab masih optimistis menghadapi hidup dan tetap menganggap hidup itu indah? Entah, tak ada yang tahu. Sebab, sejak pemanggilan ke kantor polisi itu, Mustajab tak pernah lagi ketahuan batang hidungnya. Namun, seorang polisi yang memeriksa kasusnya bercerita, Mustajab raib karena dipanggil pak gubernur yang kasihan dengan nasibnya dan penasaran dengan pijatannya.

Taman Pagelaran, Bogor, 2019


Sigit Widiantoro menulis cerpen dan esai di media massa. Lahir di Banjarnegara, bermukim di Bogor. Belajar sejarah di UNY dan belajar ilmu komunikasi di UI. Bekerja di perusahaan penerbitan di Jakarta.- Republika

The post Mustajab dan Pak Bupati appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Penjual Kisah-Kisah Sedih


KESEDIHAN ada karena ada kebahagiaan, katamu. Coba kalau saja tak ada kebahagiaan, maka kesedihan pun tak akan ada. Semua rasa akan sama. Namun, kau sendiri tak juga mampu melarang seseorang merasa bahagia hanya untuk melenyapkan kisah sedih dalam hidupmu.

Aku tersenyum setiap kali melihatmu datang berkunjung ke rumahku. Bukan karena aku senang membeli dagangan yang coba kau jual kepadaku, melainkan karena kisah-kisah sedih yang begitu banyak kau ceritakan kepadaku. Barangkali aku telanjur merasa larut melihatmu menceritakan kisah sedih hidupmu yang tak kunjung usai. Dalam hal ini, beberapa kali aku sempat khawatir jika kau akan mengetahuinya—mengetahui bahwa sebenarnya bukan daganganmu yang kubeli, melainkan kisah-kisah sedih hidupmu.

Setiap kali mendengar kau berteriak dari depan halaman rumahku—meneriakkan namaku—, maka aku segera berlari menghambur keluar rumah demi menemuimu. Bagaimana harus kujelaskan kepadamu bahwa kisah sedih hidupmu telah menjadi hal yang selalu kutunggu. Sekali kau menceritakan kisah sedihmu, kepalaku akan segera dipenuhi ribuan bayangan kisah sedihmu yang saling merekat dan membuatku kehilangan rasa sedihku sendiri karena telah terganti dengan kisah sedihmu.

Penjual Kisah-Kisah SedihBagiku, sebagai penjual, kau bukanlah penjual yang baik karena selain barang daganganmu yang tak sesuai dengan apa yang kuinginkan, kau selalu menjual dengan harga selangit. Jauh lebih mahal dari harga pasaran yang ada pada umumnya. Namun, sebagai pencerita, kau sangat kutunggu-tunggu karena kau bisa melenyapkan kebosanan dan kesedihanku karena menggantinya dengan kisah sedihmu. Dalam hal ini, aku bahkan rela kehilangan uang untuk membeli daganganmu yang tak seberapa berharga karena kuanggap saja aku membeli kisah sedih yang kau jajakan.

Banyak kisah sedih yang telah kau jual dan kubeli darimu. Namun, satu kisah darimu yang selalu kuingat ialah kisah sedih hidupmu yang selalu kehilangan harapan. Dari kisah sedih yang kau ceritakan, tahulah aku bahwa kau selalu kehilangan anakmu sesaat setelah kau melahirkannya. Telah setidaknya empat kali kau mengalaminya. Hal itu membuatmu sedih tak berkesudahan. Aku turut sedih mendengar itu semua, dan aku rela membayarmu demi kisah sedih itu—meski sebenarnya saat itu yang kau jual kepadaku hanyalah singkong dan ubi jalar yang tak seberapa kuinginkan dan kubutuhkan.

Namun, anehnya, ada kisah darimu yang kau anggap berhubungan dengan kisah sedihmu yang selalu kehilangan anak sampai keempat kalinya itu. Kau mengatakan bahwa bapakmu sengaja menukar nyawa cucunya dengan nyawanya sendiri sehingga ia tak lekas mati atau lebih tepatnya tak kunjung bisa mati. Dalam kisah ini, kau bahkan sama sekali tak menyinggung takdir Tuhan yang mampu mengatur apa yang belum terjadi, sudah terjadi, dan akan terjadi dalam kehidupan.

Dengan cara pandangmu, kau menceritakan kisah bapakmu yang juga telah empat kali mengalami mati suri. Kau tak akan mampu melupakan kisah itu, ketika bapakmu yang telah dinyatakan tiada tapi setelah siap hendak dimakamkan terbangun secara tiba-tiba dan mengejutkan para pelayat. Tentu saja pelayat lari kocar-kacir melihat bapakmu bangkit lagi. Kejadian itu selalu membuatmu bingung. Dan akhirnya kau buat kesimpulan sendiri bahwa bapakmu yang sebenarnya telah dijadwalkan tiada itu memiliki kemampuan menukar nyawanya sendiri dengan nyawa cucunya—yakni calon anakmu—yang selalu gagal diselamatkan setelah beberapa jam kau lahirkan.

Dari sekian kisah sedih yang kau ceritakan, ada satu kisah sedih yang juga kau alami dan membuatku khawatir akan keselamatanmu. Kau memiliki suami yang berperangai kasar. Pada malam-malam tertentu ketika suamimu telah dikuasai perangainya yang kasar, ia tak segan-segan mengejarmu dan memaki-makimu karena tak mampu menyelamatkan buah hati kalian yang hanya berumur beberapa jam. Belum lagi kau bisa menyangkal semua tuduhan itu, kau bahkan telah dianggap sebagai ibu yang tak mampu merawat anakmu sendiri dengan baik sehingga kau selalu kehilangan anakmu.

Bahkan katamu, kau sangat gemetar ketika melihat suamimu mengacung-acungkan sebilah pisau dapur di hadapanmu di sela-sela makian itu. Kau yakin bahwa jika kau melawan, suamimu tak akan segan untuk menusukkan pisau dapur itu ke jantungmu.

“Kau percaya pada ceritaku?” tanyamu di sela-sela keseruanmu dalam bercerita.

Kau dikenal sebagai orang yang jujur. Maka, kukatakan kepadamu, “Tentu saja, tentu aku sangat percaya.”

Tak ada satu pun ibu yang ingin menelantarkan anaknya, bukan? Andai suamimu itu benar-benar menusukkan pisau ke jantungmu, apa yang akan terjadi padamu? Aku yakin kau tak pernah merasa tenteram hidup bersama suamimu. Adakah kau merasa lelah dengan hidupmu yang penuh dengan kisah sedih itu?

Seperti waduk yang tak mampu menampung air, kisah sedih yang kau ceritakan kepadaku seakan meluap-luap tak terbendung. Akhirnya, kisah sedihmu meluap kepada ibuku. Aku melihat ibuku menyimak dengan sungguh-sungguh kisah sedihmu yang kuceritakan kepadanya. Mendadak ibuku teringat cerita dari pulau seberang tentang makhluk pengganggu yang mampu membunuh anak yang baru beberapa jam dilahirkan. Orang-orang di pulau seberang sangat berhati-hati jika akan melahirkan anak.

Beberapa jam setelah anak dilahirkan, kata ibuku, makhluk itu akan mengisap darah si anak tak bersisa hingga akhirnya anak itu tiada. Agar tidak terjadi hal itu, orang-orang menunggui anak yang baru dilahirkan agar selamat dari gangguan makhluk tersebut. Jangan sampai makhluk itu mengganggu. Jika ia datang, langsung usir makhluk itu, kata ibu.

“Seperti apa rupa makhluk itu, Ibu?”

“Kau akan sulit percaya. Makhluk itu memiliki kepala namun tak berbadan. Di bawah kepala makhluk itu, ada juntaian usus yang panjang.”

Seakan tak mau kalah dalam bercerita, aku sengaja menceritakan juga kisah sedihmu tentang bapakmu yang memiliki kemampuan menukar nyawanya sendiri dengan nyawa cucunya.

“Bagaimana menurut Ibu tentang kisah itu?”

Dengan suara yang mantap ibu mengatakan bahwa menurutnya bapakmu memang orang yang memiliki “pegangan”.

“Orang yang punya ’pegangan’ tak akan mati sebelum ‘pegangan’ itu dilepaskan,” kata ibu dengan raut muka bersungguh-sungguh.

***

Suatu siang kau kembali datang kepadaku, menawarkan dagangan yang berupa beberapa buah sukun sebesar kepala manusia. Namun, dari dalam hati kecilku, aku tak sabar menunggu kisah sedihmu yang bakal kau riwayatkan kepadaku siang itu. Saat itu aku sudah mengetahui bahwa akhirnya kau berbadan dua untuk kelima kalinya. Namun, bukannya rasa bahagia yang ada dalam hatimu, melainkan ketakutan yang berkumpul begitu besarnya dalam hatimu. Layaknya sebuah ritual, ketakutanmu selalu tampak di setiap perilaku dan raut wajahmu.

Calon anakmu yang belum lahir telah membawamu pada labirin ketakutan dan kecemasan. Bersama adanya calon anak dalam rahimmu, kau juga khawatir akan adanya pertukaran nyawa yang akan dilakukan bapakmu kepada calon jabang bayi. Kau menjadi sama sekali tak bersemangat menyambut calon anakmu sendiri. Bayangan bapakmu yang mati kemudian hidup lagi menjadi sesuatu yang menghantui setiap helaan napasmu.

“Untuk apa kau selalu memendam kesedihan yang justru akan menghalangi kebahagiaan yang mungkin akan datang kepadamu?” gumamku, berusaha menghiburmu.

Matamu kulihat menyelidik kepadaku, seakan ingin meyakini gumaman yang baru saja kukatakan. Untuk pertama kalinya aku melihatmu tersenyum, seolah kisah sedihmu telah habis tandas. Layaknya anak kecil yang kehilangan permen, aku justru merasa kehilangan sesuatu—yakni kesedihanmu—yang selalu kutunggu-tunggu. Terbayang kemudian di benakku kalau selanjutnya kau akan melahirkan anak yang sehat dan lucu tanpa gangguan sedikit pun.

***

Seminggu sudah aku menunggu kedatanganmu sekadar untuk membeli kisah sedih yang kau ceritakan kepadaku. Sesekali tebersit dalam benakku, mungkin saja kisah sedihmu memang telah benar-benar purna. Namun, mengapa aku tidak bisa merasa bahagia sama sekali? Aku justru merasa ada yang hampa.

Tak sampai sore hari, seolah-olah mendapatkan sesuatu yang hilang, aku mendengar kabar tentangmu lagi. Namun, rupanya kisah sedihmu ini tak kudengar langsung dari dirimu, melainkan dari orang lain. Inilah kisah sedihmu yang juga menjadi penutup bagi kisah-kisah sedihmu yang telah lalu.

Sore itu aku bergegas ke rumahmu. Tangan kananku tak lupa menggenggam lembaran-lembaran uang yang tersimpan rapi dalam amplop putih bersih. Kurasakan langkah kakiku kian memberat setiap kali melangkah, bahkan ketika telah sampai di muka rumahmu.

Lembaran-lembaran uang dalam amplop kumasukkan ke dalam sebuah baskom yang sengaja ditutup dengan selembar kain taplak yang sengaja disediakan di atas meja muka rumahmu. Kuanggap aku sedang membayar sejumlah uang untuk kisah sedihmu yang terakhir, yakni kisah sedih bahwa kau telah tiada, pergi meninggalkan kisah-kisah itu untukku selama-lamanya. (*)

Kulonprogo, September 2019


Kristin Fourina, Lahir di Yogyakarta pada 13 November. Lulus dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta. Cerpen-cerpennya termuat dalam beberapa antologi bersama. Salah satunya Lemon Cake: Calon Suamiku Harus Bisa Membuat Lemon Cake Terenak (2012). – Jawa Pos

The post Penjual Kisah-Kisah Sedih appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Sayup Tifa Mengepung Humia


Kelak setelah dimiliki Bone, Waita akan menempati humia baru. Tidak lagi bersama Mama Aname. Waita akan menjadi mama baru di humia barunya, seperti seekor cenderawasih membuat sarang baru di dahan laingliu. Bone menegakkan humia dengan tiang utama dari batang pohon soang yang berbulan-bulan direndam dalam aliran Sungai Warsor. Deras Sungai Warsor akan menguatkan batang soang. Waita akan segera dinikahkan di depan para tetua dan dukun Hobone, kemudian menuju Soroani, dusun Bone.

Mama Aname telah menerima banyak mas kawin dan harta adat dari Bone; lima ekor wam, tiga tali ijebasik, lima buah wanggokme yang harus diasah oleh mempelai laki-laki, dan tiga ikat ebekanem. Mas kawin dan harta adat begitu besar dirasa sepadan dengan Waita, penari hunuke paling sintal di Hobone. Betisnya sepenuh paruh kasuari, lambang kebanggaan orang-orang Hobone. Dadanya ranum, kencang, dan tidak terlalu besar. Yang lebih menjadikan Waita harta berharga adalah beberapa hari sebelum Bone melamar, Waita melakukan upacara muruwal bagi perempuan Hobone. Upacara pengenalan tugas perempuan, setelah darah kali pertama menetes dari selangkangan. Darah itu kelak akan menandakan ketangguhan perempuan Hobone. Yang siap membahagiakan suami, memelihara babi dan kebun sagu, serta melahirkan banyak anak lelaki.

“Mama, apa perempuan tak boleh menikah dengan lelaki yang dicintai?” tanya Waita kepada Mama Aname yang sedang mewarnai tubuh Waita. Aroma babi bakar masuk ke dalam humia mereka.

“Tentu boleh, Waita.”

“Apa Waita bisa menolak pernikahan bila tidak suka dengan calon suami?”

Mama Aname terdiam. Tangannya yang belepotan cairan kapur dan jelaga pembakaan kayu kasuari berhenti. “Kamu sudah menjadi yomine, Waita.”

Waita diharapkan mampu meredam konflik antara Hobone dan Soroani. Bibit permusuhan sudah lama terperam. Hanya lantaran dua dusun itu berbeda nasib. Hobone yang berada di soli, daerah lebih tinggi dan lebih subur. Tidak pernah merasakan kelaparan, betatas dan ubi tersedia sepanjang tahun. Adapun Soroani berada lebih bawah, olobok, yang tidak sesubur Hobone.

Permusuhan itu kembali tumbuh, ketika suatu hari seorang perempuan Soroani tertimpa batang sagu yang dirobohkan seorang laki-laki Hobone. Kepalanya pecah dan mati di tempat. Padahal sudah terpasang seiye, tanda larangan untuk melewati lahan orang Hobone karena sedang masa penebangan pohon sagu. Kelalaian perempuan itu membangkitkan amarah yang terperam di dada-dada orang Soroani. Perang tak terhindarkan. Terjadilah saling serang. Busur dan panah beracun, kapak, dan parang beterbangan di tengah rimbun. Setiap hari banyak lelaki Hobone dan Soroani mati. Banyak nyawa terbawa ke langit, dimuliakan, mati di medan perang bagi laki-laki adalah kebanggaan.

“Waita, Bone sudah menghendakimu. Ini untuk mereda peperangan dan sudah jadi kesepakatan para dukun di rumah yowi.”

“Apa Waita harus ditukar dengan perdamaian?”

“Lebih baik membuat persaudaraan daripada mencipta permusuhan, Waita. Akahi paekahi yae ewelende, wah onomi honomi eungekende. Ingat itu, Waita!” Mama Aname bersikeras.

“Mama, tapi Waita tidak pernah tahu apa yang perempuan kerjakan di Soroani.”

“Suamimu dan Mama Ibo akan mengajarimu menjadi perempuan Soroani.”

Mata Waita mengerjap-ngerjap. Baru beberapa hari lalu dia merasakan perayaan menjadi wanita seutuhnya. Waita masih bergantung pada Mama Aname dan sekarang dia harus bersiap untuk dibawa Bone ke humia baru di Soroani. Seperti seekor burung bermigrasi dari sarang satu ke sarang baru, bila telur-telurnya sudah menetaskan riuh kasuari baru.

Setiap memikirkan aneka hal baru yang akan mengubahnya, ada keganjilan yang tumbuh di kepalanya. Waita mengingat bagaimana sosok Ewoyop. Sosok lelaki Hobone yang memainkan tifa begitu merdu.

***

Sayup Tifa Mengepung HumiaKayu-kayu kasuari dibelah dengan kapak. Kayu-kayu itu akan dibakar dan menghasilkan bara api konstan. Anak-anak kecil laki-laki perempuan menyunggi bebatuan yang diambil dari sungai. Beberapa laki-laki memanggul babi di pundak. Para mama membawa betatas dan buah pandan merah di dalam tas hakone yang dikaitkan di kepala mereka. Beberapa masih digelatuti balita di bagian dada dan menggandeng seorang lagi. Semua wajah begitu ceria.

Tetua adat dan para dukun di rumah yowimemutuskan akan mengadakan upacara persembahan untuk alam di tengah Hobone, di sebuah tanah lapang yang bersih dari semak belukar. Beberapa hari lalu longsor mengubur empat desa di lereng gunung. Hobone diselamatkan. Sebagai ucap syukur upacara persembahan digelar, banyak tamu diundang, tari-tarian dan musik dipentaskan.

“Waita, kau menari hari ini?” tanya seorang mama, bibirnya merah karena sirih. Seorang bayi, mungkin lima bulan, tidak hendak lepas dari puting kanannya.

“Ya, Mama,” jawab Waita. Mukanya sedang dirias dengan dominan hitam-putih.

Keriuhan merasuki sela-sela pohon sagu sekitar Hobone. Lubang untuk tungku sudah selesai digali. Beberapa laki-laki gegas membuat api, dari seutas sumbu yang digesek dengan batu. Kayu kasuari kering diletakkan di atasnya, lalu batu dipanaskan hingga berganti warna putih. Setelah itu batu dipindahkan dengan batang kayu yang dibelah tengah menjadi penjempit ke dalam tungku. Di sanalah babi, betatas, umbi-umbian, dan aneka sayur siap dibakar.

Laki-laki menunggu di sekeliling tungku sambil mengisap pali, sebatang koteka mengacung hingga dada. Muncul gemerincing bunyi akibat gesekan ujung koteka dengan kalung para lelaki.

Waita bersiap menari. Para pemusik sudah siap di ujung perhelatan. Di saat itulah Waita menemukan sosok lelaki yang begitu damai memetik tifa. Ewoyop tidak ubahnya lelaki Hobone lain, tapi tatapan matanya menyiratkan binar berbeda. Waita harus menari. Diiringi musik Ewoyop dan bebunyian dari mulut lelaki Hobone. Waita mengagumi bagaimana Ewoyop memukul-mukul tifa secara konstan. Terutama betis Ewoyop tampak begitu kukuh saat melompat-lompat mengatur tempo nyanyian para mama dan gerakan penari hukune.

Alam Hobone mengajarkan mata laki-laki bisa menembus segala hal, setajam ujung tombak saat berburu rusa di tengah hutan. Adapun mata perempuan harus merunduk tak berani saling tumpu. Mata perempuan hanya untuk mengurus betatas, ladang sagu, pakan babi, dan menyusui para bayi. Tidak lebih dari itu. diam-diam Waita menerawangkan mata hingga dua mata Ewoyop begitu berani merasuk ke tubuhnya.

Sebagaimana kehidupan lereng gunung mengepung Hobone yang tumbuh tanpa komando, ada perasaan naluriah manusia yang diam-diam tumbuh di dada Waita. Isyarat itu makin kentara ketika tiba-tiba Ewoyop mengirim seikat betatas dan ubi jalar kepada Waita. Di Hobone jarang terlihat lelaki dan perempuan berbicara. Mereka ragu. Namun keduanya meyakini ada hal istimewa yang mereka rahasiakan. Hanya Waita dan Ewoyop yang tahu, yang mendekap begitu rahasia begitu pribadi.

Namun perempuan Hobone tak punya kuasa atas tubuhnya. Tetua adat dan para dukun rumah yowi memutuskan segalanya. Bahwa Waita akan dinikahkan dengan Bone untuk meredam konflik antara dusun atas dan dusun bawah.

***

“Cantik sekali kamu, Waita.”

Waita membalas dengan senyuman hambar. Aneka riasan dan perhiasan dari kerang tertempel di tubuhnya. Bulu cenderawasih dan kasuari tergantung di kepala. Sejak pagi Waita sudah melakukan prosesi adat. Mandi di sungai untuk melunturkan semua kotoran. Kulit hitamnya mengilat tertimpa sinar matahari. Halus. Bibirnya merah, perasan buah pandan merah yang mengilatkan dan meronakan bibir.

“Mama, apa wanita tidak bisa memilih di humia siapa akan tinggal?”

“Waita, tidakkah kamu tahu tetua dan dukun rumah yowi sudah memutuskan semua? Semua harta adat sudah diterima. Dan kamu bukan hanya menjadi istri Bone. Kamu adalah peredam konflik antara dusun atas dan dusun bawah.” Waita menghela napas. Matanya tak hendak berkaca, tapi ada sesuatu yang berguguran di dadanya.

“Katanya wanita dusun bawah harus bekerja lebih keras daripada wanita dusun atas?”

“Maksudmu?”

Waita menggeleng, ingin menarik semua ucapan yang mendadak keluar.

“Waita, semua penghuni humia harus patuh pada suami.”

Sebelum upacara pernikahan dihelat, aneka makanan disiapkan. Tungku untuk bakar batu, babi dan betatas tidak tertinggal. Termasuk aneka musik tifa dan penari. Waita yakin Ewoyop termasuk di dalamnya. Mantra dan dendang gembira disenandungkan oleh tetua adat dan dukun rumah yowi. Selepas upacara, Waita diboyong ke humia Bone di Soroani.

***

Waita menatap atap humia. Dia tidur telentang lebih dahulu di atas lambaran tikar pandan di lantai dua. Pintu yang sempit sesekali membawa masuk hawa dingin, angin gunung masuk dan menggigilkan tubuh Waita. Di lantai satu api unggun kecil berusaha menghangatkan humia.

Bone berdeham. Kemudian unggung dipadamkan. Waita mulai gemetar. Bone naik melalui tangga dan mendekati Waita. Humia gelap, tapi Waita bisa merasakan embusan napas Bone beraroma pali. Bone merengkuh tubuh Waita. Bone menciumi tubuh Waita. Tapi semua ditanggapi dingin. Bone mengunci betis Waita. Bone hendak menyenangkan diri atas tubuh Waita. Anak panah Bone hendak dilepas ketika muncul suara halus terbawa angin masuk ke humia.

“Siapa yang memainkan tifa malam-malam begini?” (28)

Catatan:
Humia: nama lain rumah adat Papua
wam: babi
ijebasik: kulit kerang
wanggokme: kapak batu
ebekanem: tembakau
hunuke: tarian kebahagiaan
Akahi paekahi yae ewelende, wah onomi honomi eungekende: jika semua orang dianggap saudara, hidup kita akan damai
yomine: pendamai dua perkampungan yang bermusuhan
rumah yowi: rumah inti, tempat berkumpul para dukun dan tetua adat
pali: rokok tradisional


Massha Guissen lulus dari Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada (2018), sesekali bekerja sebagai editor lepas dan menulis feature dan artikel perjalanan di media massa online. Mengidolakan Jhumpa Lahiri dan Hiromi Kawakami. Suara Merdeka

The post Sayup Tifa Mengepung Humia appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Sepasang Mata Gagak di Yerusalem


“Di kampus di Amerika apakah ada pemeriksaan seperti ini, Bu?” tanyaku kepada Bu Nancy.

“Tidak ada,” jawabnya sambil menggeleng. Ya, berarti sama dengan di Indonesia, batinku. Aku merasa, mungkin ini perasaanku saja, jika bersama orang Eropa atau Amerika, maksudku jika bareng dengan mereka, dan mereka bilang aku bersama mereka, pemeriksaan jadi terasa lebih lancar dan mudah.

Beberapa kali jika bersama Bu Nancy, Pak Willem, dan Bu Els, sepertinya mudah-mudah saja. Bila sendiri terasa agak sulit, harus membuka resleting tas, memperlihatkan ikat pinggang, sepatu, dan lainnya. Tapi mungkin ini perasaanku saja.

Bu Nancy kadang mencandaiku, “Iya karena takut kamu teroris.”

“Bila beliau berkata demikian, aku tertawa saja. Tampang Indonesia sepertiku mungkin wajar dikira teroris karena banyak teroris Indonesia berwajah Nusantara atau Jawa seperti tampangku ini, contohnya Bahrun Naim, orang Jawa yang jadi teroris dan terkenal di dunia.

Namun, setelah sebulan di sini, dan hampir setiap hari ke kampus, lambat laun pemeriksaan itu terasa biasa bagiku, dan tampaknya para petugas juga mulai mengenaliku. Jadi pemeriksaan makin hari makin terasa mudah.

Kalau mesin pemeriksa berbunyi, paling ditanya: ponselmu, ya? Aku jawab iya. Ikat pinggangmu ya? Aku jawab iya lagi. Jadi kami gampang masuk. Saat aku perlihatkan ikat pinggang, Bu Nancy nyeletuk.

“Nggak diperiksa celanamu?”

“Kalau periksa celana kucopot sekalian saja Bu, tapi itu jadi porno aksi, he…, he…, he….”

Kami langsung tertawa. Lalu Bu Nancy cerita bahwa dia pernah diperiksa sampai digerayangi segala.

“Di mana itu, Bu?”

“Bandara Detroit.”

“Padahal itu masih di Amerika ya, dan Bu Nancy warga negara Amerika?”

“Iya,” katanya sambil mengangguk. Istriku pun cerita bahwa dia juga pernah diperiksa ketat di Bandara Istanbul menuju Tel Aviv, ya sampai digerayangi, barangkali karena dia pakai jilbab. Islamofobia karena kulihat wanita yang lain saat diperiksa lebih mudah dan longgar. Tentu petugasnya adalah wanita. Tapi pada akhirnya juga tidak masalah karena memang tak bawa benda macam-macam.

“Di Amerika pernah ada wanita yang sampai marah-marah karena susunya sampai digerayangi. Akhirnya dia lepaskan saja sekalian baju dan kutangnya sambil menantang petugas dan memperlihatkannya ke publik,” kata Bu Nancy.

Kami tertawa spontan mendengar cerita itu. Tawa lepas di pagi yang kelabu sedikit mengusir rasa dingin yang menggigit tulang. Suhu berkisar 7-8 derajat Celsius di pagi hari di musim dingin ini. Pukul 08.30 kami tiba di kampus Hebrew University of Jerusalem. Setelah ruang pemeriksaan, kami memasuki halaman yang luas dan taman yang hijau membentang. Sebuah patung manusia karya Henry Moore, ada di depan taman, mencolok perhatian. Suara kaok burung gagak terdengar dan kulihat seekor kucing berlompatan di atas bangku-bangku yang masih kosong. Kampus terlihat masih sepi karena liburan semester.

Kulihat seekor burung gagak hinggap di sebuah ranting yang rendah. Aku berlari kecil pelan mendekat. Burung itu diam. Aku melangkah hati-hati karena hanya kira-kira berjarak satu meter dengannya. Dia melompat di atas kotak sampah. Aku makin dekat, kuperhatikan, dia tidak takut sedikit pun. Sepasang matanya yang hitam memancarkan kilatan yang terasa menusuk. Aku menatapnya, dan dia balas menatapku, perasaanku jadi tak biasa. Kujulurkan tangan, dan nyaris kusentuh bulunya, namun dia bergeser menjauh.

Angin dingin kembali menerpa. Burung itu kemudian terbang ke atas dahan Pohon Judas yang mengering. Bila musim dingin berlalu, daun dan bunganya akan bersemi kembali, pasti indah menawan karena warnanya yang merah jambu. Pohon Judas banyak tumbuh di Yerusalem, bersama pinus dan almond.

Angin dingin kembali mengempas, rasanya jaket tebal, baju, kaus dalam, dan celana dobel bisa ditembus jarum-jarum tajamnya dingin udara ini. Aku mengecek cuaca di handphone, suhu turun jadi 3 derajat Celsius, dan akan turun hujan. Wah, aku bisa jadi es, tawaku dalam hati. Angin datang mengembus lebih keras, rasa dingin membuatku berlari mengejar istri dan Bu Nancy yang mulai memasuki kantor. Aku segera membuka pintu. Hangatnya ruangan langsung terasa begitu aku masuk.

Pukul 10 akan ada pembacaan naskah Babad Nitik, dan dilanjutkan seminar. Riset grup yang meneliti literatur Jawa ini sungguh membuatku heran dan termangu. Di saat orang-orang Jawa melupakan naskah atau babad yang bagi mereka kuno dan tidak berharga, di sini kata demi kata dikelupas dan diteliti, tembang, aksara, makna, dan peristiwa dikaji dengan cara sangat mendalam. Pada saat tertentu aku merasa diselubungi oleh perasaan jatuh cinta dengan Jawa lagi, setelah selama ini terasa biasa-biasa saja jadi orang Jawa.

Kampus Hebrew University of Jerusalem menjadi tuan rumah riset grup kali ini, untuk kemudian beberapa tahun mendatang bisa pindah di Osaka University di Jepang, Leiden University di Belanda, University of Michigan di Amerika Serikat, Australian National University di Canberra, atau bisa saja di Indonesia.

***

Sepasang Mata Gagak di YerusalemTaksi kami menyelinap di antara bus yang meniupkan klakson keras. Hari sudah sore. Hari ini kami kelelahan, jadi terpaksa naik taksi. Sejak pagi setelah dari pasar di daerah German Colony, dan berjalan kaki ke Old City/Kota Tua sejauh 2,6 kilometer, kami memasuki sekaligus Gereja Makam Kudus, Dinding Ratapan, dan kompleks Al Aqsa. Naik taksi menjadi penawar kaki yang pegal.

Pak Willem sesungguhnya tak suka naik taksi. Sebagai orang Belanda, dia terbiasa berjalan. Saya kerap juga mengimbangi beliau berjalan kaki bersamanya. Naik taksi sebenarnya untuk ibu-ibu, terutama Bu Nancy yang tulang kakinya agak sakit. Tapi, karena harus menemani ibu-ibu, kami pun ikut naik.

Kami turun di depan Kedai Kopi Bezalel. Di kedai itu, ada kopi Sumatera. Aku memesannya. Namun bagiku terasa kurang pahit, kurang hitam, dan terlalu cokelat. Bu Els meminta tambahan kopi hitam ke pelayan, dan gadis muda pelayan itu mengambilkan secangkir kecil kopi hitam. Kutambahkan setengah cangkir dan sekarang setelah kusesap. Nah, sudah beda. Lebih kuat rasa kopinya, lebih enak.

Ngopi di Kedai Bezalel di tepi trotoar di Jalan Rachel Imenu, Yerusalem, sangat menyenangkan dan mengesankan. Walau dingin menggigit tulang, pemandangan yang sama sekali baru, dan suasananya bikin hati senang. Toko-toko fashion berjajar, tak ada polusi kendaraan karena jarang motor berseliweran layaknya di Tanah Air, dan taman kota yang indah di seberang. Semua sedap dipandang dan tak ada gangguan semacam suara bising kendaraan. Energi dan semangat jadi besar lewat obrolan yang mengasyikkan. Orang-orang berlalu lalang di belakangku, sebagian bawa anjing sambil jalan-jalan.

Di sebelah kedai kopi, ada toko roti bertulisan “Kohler” yang artinya halal bagi umat Yahudi. Banyak lelaki kulihat memakai kippah di kepalanya, semacam peci bulat kecil yang dijepit, sebagai identitas Yahudi. Di Yerusalem, mayoritas orang Yahudi religius. Berbeda dengan Tel Aviv yang sekuler, mungkin terikut aroma kotanya yang metropolitan dan supersibuk. Sedangkan Yerusalem lebih tenang dan “suci”.

Saat ngopi, tak sengaja kulihat di sebelah kedai roti, seekor burung gagak hinggap di atas kotak sampah mematuki remah-remah makanan. Jantungku berdetak kencang saat menyadari dia memandangiku. Matanya yang hitam seakan menghunus batinku. Bukankah itu gagak yang sama yang nyaris kusentuh bulunya di kampus?

Aku merasa dilemparkan ke tempat aneh, merasakan bahwa kejadian ini pernah kualami sebelumnya. Namun, saat terus mengingat kejadiannya, aku benar-benar telah lupa di mana dan kapan itu terjadi. Dan saat kutatap kembali sepasang mata gagak itu, dia masih saja menatapku dengan tatapan yang dingin dan tajam. Bukankah itu gagak yang sama yang bertengger di ranting sebuah pohon pinus di Taman Al Aqsa?

***

Kemarin kami ke Old City. Dari Gerbang Jaffa, kami melalui rute di dalam Kota Tua yang di sisi kanan dan kirinya berderet-deret toko aksesori dan oleh-oleh. Banyak orang berjualan pernak-pernik simbol keagamaan yang mewakili umat Yahudi, Kristen, dan Islam, seperti kayu salib, tasbih, menorah, kaballah, tali-tali merah, kain tallit, dan lainnya. Juga banyak kedai kopi, kurma, dan baju.

Kami melewati Via Dolorosa, di mana Yesus disiksa, diarak, dan disalib oleh orang-orang Yahudi dan Romawi. Syukurlah kami kemudian bisa memasuki Gereja Makam Kudus dan beruntung bisa menyaksikan Gereja Koptik Mesir yang kebetulan jemaatnya sedang melakukan ibadat. Sebagian peziarah terlihat menangis di atas Batu Pengurapan, batu di mana Yesus direbahkan untuk terakhir kalinya sebelum dimakamkan.

Aku dan istri ikut membasuh tangan kami di batu dan mengusapkannya ke wajah. Kami merasa tersentuh dan tersedu. Terdengar dengung ibadat yang syahdu dan khusyuk. Sejenak kami termangu, menyimak ibadat hingga selesai. Setelahnya kami berjalan lagi, melewati pemeriksaan tentara Israel untuk menyaksikan Dinding Ratapan dengan ratusan umat Yahudi yang berdoa di depannya. Mereka menyelipkan secarik kertas berisi doa di sela-sela dinding Bait Suci yang besar dan agung.

Kami jalan lagi, dan setelah melewati gerbang yang dijaga polisi Israel, kami merasa amat emosional saat akhirnya melihat kompleks Al Aqsa. Kulihat mata istri sampai berkaca-kaca. Aku segera mengambil wudu dan salat dua rakaat. Tiba-tiba aku dikagetkan oleh sebuah keranda yang masuk ke dalam masjid. Para pemuda Palestina mengangkat jenazah yang ditutupi kain kafan menuju depan dekat mimbar.

Hari sudah amat sore. Tubuhku kembali menggigil saat keluar masjid dan memakai sepatu di bangku taman Al Quds. Tamannya terbilang menawan dengan air mancur yang pancarannya dipakai untuk berwudu. Banyak pohon pinus menjulang tinggi dan pohon-pohon sejenis almond yang rimbun. Tiba-tiba seekor gagak meluncur ke arahku dengan terbang begitu rendah, lalu hinggap di ranting atas bangku.

Tak sengaja mata kami bersirobok. Sepasang mata gagak itu hitam dan pekat dengan kilatan yang terasa menusuk. Entah kenapa, tanpa sepenuhnya kusadari tubuhku gemetar, dan perasaanku tak biasa saat mata gagak itu terus menatapku. Tatapannya tajam dan menusuk. Dibanding gagak-gagak di Indonesia, gagak di Yerusalem jauh lebih besar, dan sebagian bulunya berwarna biru. Tapi suaranya nyaris sama, kaok, kaoook, kaooookk…. dengan nada yang panjang.

Tak kusadari, iringan jenazah tiba-tiba melintas di belakangku, dan gagak itu lenyap seketika. Aku berusaha mencari dengan mengedarkan pandangan ke segala penjuru, namun benar-benar tak terlihat gagak itu. Langit di atas Al Aqsa terlihat gelap, mendung amat tebal terasa sangat mengancam, hujan badai akan datang.

Benar pula, angin mengempas keras, jauh lebih kencang dan dingin ketimbang biasanya. Pandanganku jadi gelap dan tubuhku limbung.

Saat kubuka mata, aku telah telentang di pelataran Al Quds. Di atas dadaku seekor gagak berdiri dengan tenang. Gagak itu, yang sepasang matanya menatapku tajam. Tatapannya seakan menelanjangi dosa-dosa besarku, mengabarkan tentang percampuran iman, dan pertanggungjawaban. Aku gemetar.

Di atas jambul kepalanya yang hitam, tampak langit yang begitu biru, bersih, dan indah. Di sana, terlihat pucuk bulan sabit yang menawan di atas Kubah Shakhrah Masjid Al Aqsa yang keemasan dan agung.

Tubuhku seperti tak punya daya lagi, tak bisa bergerak sedikit pun. Aku pasrah pada apa pun yang terjadi karena aku telah berada di Tanah Suci. Tanah harapan bagi semua iman dan pendosa. 

Yerusalem, 2019


Han Gagas, pernah tinggal selama dua bulan di Yerusalem. Penulis kumpulan cerpen Catatan Orang Gila (Gramedia Pustaka Utama, 2014) dan novel Orang-orang Gila (Mojok, 2018). –Koran Tempo

The post Sepasang Mata Gagak di Yerusalem appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Selasa, 01 Oktober 2019

Jemput Aku di Bawah Pohon Gatep


Sangat sering Ningrum punya keinginan hidup sendiri selamanya, tak usah menikah. Tapi, begitu niat itu muncul, selalu terbayang Saskara dengan hasrat berumah tangga yang mendesak desak.

“Kita akan jadi pasangan bahagia, Rum, membuat iri banyak orang,” jelas Saskara berulang-ulang, mungkin lebih dari seratus kali.

“Mereka yang memilih hidup sendiri juga bahagia, Sas,” sahut Ningrum, sedatar mungkin, agar Saskara tidak tersinggung.

Justru penolakan itu membuat hasrat Saskara kian berkobar. “Bisa saja, tapi ada yang kurang.”

Tekad laki-iaki yang tak kunjung lelah membujuk itu selalu membangkitkan gairah Ningrum untuk menimbang-nimbang kembali memasuki bilik perkawinan. Tapi, jika teringat keluarga besarnya akan meremehkan dia setelah menikah, seketika redup pula hasrat itu.

Sudah lama keluarga besar Brahmana Uleman tahu Ningrum menjalin asmara dengan laki-laki biasa. Percintaan itu merebak menjadi gosip dalam dinasti yang melahirkan pendeta-pendeta penuh wibawa, kecuali kakek dan ayah Ningrum. Keluarga Uleman menilai dua laki-laki ini tak lagi pantas disebut pria brahmana karena menikahi perempuan biasa. Mereka kehilangan hak menjadi pendeta.

Jika saudara-saudara lain memanggil ayah mereka dengan sebutan Aji, dan ibu dengan panggilan Biang, Ningrum kehilangan hak itu. Dia memanggil ayah dengan Bapa, ibu dengan Meme, sebutan buat orangtua dari kasta paling rendah. Jika saudara-saudara lain memanggil kakek mereka dengan Kakiang, nenek dengan Niang, Ningrum memanggil kakek dan neneknya dengan Pekak dan Nini.

Para Uleman sangat yakin, jika Ningrum dinikahi laki-laki biasa, itu sebuah pencemaran hebat yang bisa melahirkan kutukan turun-temurun bagi keluarga besar, menguras kehormatan, melunturkan harga diri, dan merendahkan martabat.

“Omong kosong semua itu. Bapa dan Meme merestui kalian menikah.”

“Tapi mereka tidak, Bapa.”

“Menikahlah, berumah tangga menjadikan kalian mandiri. Dan kamu, Saskara, tahu apa yang harus dilakukan keluargamu jika hendak menyunting anak saya?”

Jemput Aku di Bawah Pohon Gatep“Kami akan datang meminang penuh syukur dan bahagia.”

“Tak usah, tak seorang pun keluarga Uleman akan menerima kehadiran kalian. Mereka merasa terhina jika keluargamu datang.”

“Apa yang sebaiknya kami lakukan?”

“Lari…… kawin lari saja. Sebagai orangtua yang merestui, kami akan berpura-pura tidak tahu.”

Ganjil bagi Saskara, mengapa orang yang diberi kehormatan, dijunjung dan dihargai sebagai keluarga penuh wibawa, menolaknya. Hatinya berbisik, “Kalau ayahku seorang gubernur atau menteri, kaum Uleman pasti menerima pinangan kami dengan bangga.”

Ningrum bingung, acap berniat membatalkan pernikahan, tapi Saskara teguh membujuk dan merayu. Rayuan yang tidak hanya meminta atau menuntut, tapi juga membangkitkan keberanian dan menyadarkan, masa depan itu ditentukan oleh pemiliknya, bukan oleh orang lain.

“Kalau saya bagaimana, Bapa? Haruskah mohon doa restu mereka? Saya tak sudi mendatangi mereka untuk diremehkan.”

“Tak usah mendatangi siapa pun, Rum. Kecuali satu, datanglah ke Pura Taman, tempat bersemayam para leluhurmu, untuk mohon doa restu. Tapi Bapa dan Meme tak bisa mengantarmu. Maafkan kami. Sebaiknya kamu datang sendiri, biar tidak heboh. Berdoalah agar diberi ketenteraman dan keberhasilan, yang memberi kalian martabat untuk mengubur kesombongan mereka.”

Pura Taman awalnya adalah sebuah griya, rumah kaum brahmana, tempat wangsa Uleman di Desa Tangkup. Kaum brahmana yang menghuni rumah itu perlahan-lahan menyusut karena semua akhirnya pergi ke kota mencari penghidupan modern, menjadi guru, dosen, pedagang, pegawai negeri, atau calo tanah. Mereka penuh semangat menjadi manusia urban, sampai-sampai Bapa memberi nama putrinya Urbaningrum. Kini hanya beberapa pelayan yang menempati halaman belakang bekas griya itu, sekalian mengurus sawah-ladang yang ditinggalkan.

Butuh lebih dari dua jam ke Pura Taman dari kota Ningrum bermukim. Ia memutuskan bermalam di Tangkup, tidur di rumah petani penggarap sawah.

“Aku antar ya, Rum?”

“Tak usah, Sas. Aku pergi sendiri agar petani-petani itu tidak bertanya-tanya, dan gosip tidak merebak dalam keluarga Uleman. Lusa aku berangkat, datanglah sehari setelah itu ke Tangkup. Aku menunggumu, pagi. Kita langsung ke rumahmu, selepas siang keluargamu akan menikahkan kita.”

Saskara tersenyum, dadanya berdegup, bergetar jiwanya. “Menikah juga kita akhirnya ya, Rum.” Ia pandang Ningrum dari kepala hingga betis, seakan ia tak percaya menikahi perempuan yang tiada henti dirundung ragu.

“Kujemput kamu di mana? Aku belum pernah ke Tangkup.”

“Kamu harus datang dengan motor. Mobil tidak bisa sampai ke Pura Taman, selain juga agar tidak menarik perhatian.”

“Di sebelah mana aku menjemputmu?”

“Menjelang Pura Taman ada deretan pohon gatep. Kutunggu kamu di bawah pohon gatep. Kamu tahu gatep?”

Mata Saskara bekerjap-kerjap tak paham, alisnya berkerut, kemudian menggeleng. “Baru kali ini kudengar nama itu.”

“Pohon gatep itu pohon gayam, batangnya kokoh dan beralur kuat, bisa sampai dua puluh meter tingginya. Bijinya keras, harus direbus lama biar enak dan gurih dimakan. Aku suka menyantapnya, sering diberi nenek. Sekali-sekali kamu perlu mencicipi.”

Saskara manggut-manggut. Ia menyukai Ningrum karena kecerdasan, ketelitian, dan ketekunannya sebagai dosen muda biologi, selalu mengejar informasi dan pengetahuan lebih dari yang ia perlukan. “Bagi orang Jawa, gayam mempunyai fllosofi gayuh yang berarti cita-cita, dan ayem bermakna damai, tenang, dan bahagia.”

Ningrum mesti berganti empat kendaraan umum untuk sampai ke Desa Tangkup yang subur, dikepung bukit-bukit Keliki, Jambul, dan Tuhu-tuhu. Di barat desa mengalir Tukad Telagawaja dengan air jernih dan berbatu-batu besar. Hanya sesaat ia bisa memicingkan mata di rumah petani penggarap beratap alang-alang itu. Dingin menggigit sepanjang malam, kunang-kunang berkedip-kedip riuh di lembah yang lembab.

Ketika embun bersiap meninggalkan bernas-bernas bunga padi, Ningrum melangkah ke Pura Taman. Sudah berulang kali ia ke tempat suci ini, setiap ada sepupu atau sanak saudara menikah. Pura Taman sangat ramai oleh pengantar pengantin wanita yang mohon pamit di pura leluhur karena ia akan mengabdi di keluarga suami. Penjor ditancapkan berjajar, payung-payung besar, tedung warna-warni berhiaskan prada, dipasang berderet di sebelah-menyebelah tangga dan sudut-sudut bangunan. Keluarga Brahmana Uleman merayakan syukur sangat meriah karena putri mereka disunting brahmana pula.

Para wanita yang menyertai berbusana indah, dengan kain endek halus dan brokat mahal. Yang lelaki mengenakan destar songket, berkilau diterpa sinar matahari. Gamelan ditabuh, suara seruling meliuk-liuk di antara denting genta digoyang jemari pendeta, sembari melantunkan doa-doa.

Desa Tangkup dipadati mobil diparkir berderet di ujung jalan. Tak seorang pun, anak-anak, remaja, lelaki dewasa dan wanita, para orang tua, yang memperhatikan deretan pohon gatep itu, kecuali Ningrum sendiri. Para brahmana itu sibuk menikmati kebahagiaan, bercanda dan bersenda gurau dengan kerabat. Percakapan riuh dan gelak tawa menggema, menelusup di antara rimbun daun, dahan, dan ranting.

Seperti juga kini, dengan ransel di punggung, bagai seorang pencinta alam sejati hendak mendaki gunung, Ningrum memandang sendiri pohon-pohon gatep kekar itu. Ia melangkah seorang diri, merasakan alangkah sunyi menjadi yang dikucilkan. Namun, ia teguhkan perasaan dan jiwa ketika melewati deretan pohon-pohon gatep, agar tidak lagi ragu pada keputusan yang ia ambil, yang bersumber dari kata hati, yang mutlak dan benar.

Ia bersimpuh di halaman pura, menghaturkan sembah ditingkahi cicit burung gelatik yang sibuk bercanda bersama anak-anaknya di sarang pohon-pohon buni, dengan buah-buah merah legam dan ungu tua lebat berjuntai-juntai. Kadang terdengar sayup lenguh sapi dari pondok-pondok sekitar.

Ningrum mohon restu agar para leluhur memberi dia ketabahan dan kekuatan. Dia suntuk berdoa semoga Hyang Widhi mengabulkan tekadnya menjadi guru besar biologi. “Agar mereka yang sombong-sombong itu berhenti meremehkan hamba,” pintanya dengan hasrat kuat dan perasaan haru, tanpa dendam dan dengki.

Pengharapan itu terus-menerus ia ulang-ulang dengan tubuh merinding dan mata terpejam, ketika duduk di bawah pohon gatep menunggu Saskara. Tak pernah ia sesunyi dan sekosong ini. Perasaan gamang membuat ia tak sadar seorang petani bercapil dengan baju kumal dan bercelana lusuh lama memperhatikan, berdiri tenang di hadapannya.

“Sedang menunggu siapa. Nak?”

Ningrum seperti mengenal suara petani itu, tapi tak yakin.

Petani itu melepas capilnya, rambutnya yang sepinggang tergerai. Ningrum tertegun menatap. Si petani melepas bajunya yang kumal, tampak jaketnya yang bersih menyergap pandangan Ningrum. Ia kenal betul jaket hijau toska itu, yang selalu dikenakan ibunya kalau naik motor pergi-pulang mengajar di SMA.

“Memeeee….,” seru Ningrum memeluk bundanya. Tubuhnya bergetar oleh sedu sedan. “Dengan siapa, Me? Mengapa harus begini?”

“Sendiri, Rum. Harus menyamar seperti ini agar tak seorang pun tahu, biar tidak heboh.”

“Bapa juga tidak tahu?”

“Sengaja tidak diberi tahu, agar ayahmu tidak semakin sedih dan bingung. Meme harus melepasmu, agar ibumu ikhlas dan tenang menyaksikan kamu berangkat menjadi manusia mandiri.”

Petani-petani tengah sibuk menggarap sawah, tak seorang pun melintas.

“Tak ada cukup waktu buat kita, Rum,” ujar Meme sembari meraba tas di pinggang, mengeluarkan benda berukir berkilau oleh cahaya pagi.

“Ini warisan, Rum, pemberian nenekmu yang disematkan di sanggul Meme ketika menikah. Jika kita merawatnya dengan baik turun-temurun, ia akan menjadi wasiat bertuah. Kenakan nanti siang saat kamu dan Saskara menerima restu dari pendeta disertai sesaji dan mantra. Sepatutnya Meme yang mengenakan di sanggulmu, tapi….”

Tak akan ada orang Uleman hadir pada upacara pernikahan itu. Ningrum benar-benar sendiri menghadapi hari bersejarah, saat terpenting dan sangat mulia dalam hidupnya. Senista apakah dia sehingga harus dibuang dan menanggung beban jiwa yang senyap dan hampa?

Tangan Ningrum gemetar menerima tusuk konde emas berhias permata jingga itu, kemudian memeluk Meme dengan tubuh terguncang-guncang menahan isak. Lama anak-ibu itu tak sanggup berkata-kata, cuma saling menepuk dan mengelus menabahkan hati. Beberapa ekor capung hinggap di pucuk-pucuk pohon bunga gumitir, seperti mengamati dengan saksama dekapan duka itu. Kupu-kupu menari indah mengelilingi, seakan memberi penghiburan agar mereka terbebas dari kepiluan.

Sayup-sayup deru motor mendekat merambah hening pagi. Meme memiringkan kepala, mempertajam pendengaran buat memastikan. “Itu pasti motor Saskara. Sebentar lagi ia akan tiba di deretan pohon gatep ini, seperti yang kita rancang.”

Deru motor semakin dekat, terasa sebentar lagi sampai, mengagetkan burung-burung prenjak yang sedang asyik dan sibuk mematuk-matuk bunga-bunga putih pohon turi.

“Meme harus segera pergi. Calon suamimu tak boleh tahu pertemuan rahasia ini, agar tidak sampai bocor ke keluarga Uleman.”

“Biarkan mereka tahu, Me. Kita harus melawan. Mesti berani, jangan tunduk.”

“Tak mudah melawan tradisi, bahkan tradisi yang keliru sekalipun, Rum. Kasihan Bapa, pasti diejek-ejek sepanjang hidup, dikucilkan dan digunjingkan jika kita menentang.”

Meme bergegas mengenakan capil kembali, merapikan pakaian kumal untuk menutupi jaketnya, agar penyamaran tetap terjaga. Beberapa ekor belalang meloncat terbang dari bunga-bunga rumput ketika ia menerobos pematang, sebelum mencapai sepeda motor yang ia parkir dekat gubuk sapi.

Ningrum duduk di boncengan dengan dada sesak, tak kuasa menahan sedih. Saskara diam tak berani mengusik. Tak putus-putus Ningrum memandang pohon-pohon gatep yang menjadi saksi pertemuan rahasia itu. Buahnya yang keras terayun-ayun lembut diembus semilir basah angin pagi.


Gde Aryantha Soethama, banyak menulis buku tentang Bali, daerah tempat ia lahir dan hidup sampai sekarang. Bukunya berupa antologi cerpen, laporan perjalanan, dan sejumlah kumpulan esai. Buku kumpulan cerpennya, Mandi Api, memenangi Khatulistiwa Literary Award 2006.

Dewi Fortuna Maharani lahir di Jakarta pada 13 Agustus 1995. Telah menyelesaikan pendidikan di Studio Seni Lukis Program Studi Seni Rupa Institut Teknologi Bandung. Sekarang ia masih berkarya dengan medium seni lukis dan fotografi. Kompas

The post Jemput Aku di Bawah Pohon Gatep appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Asap


KAMU berdiri bagai patung menatap gunung terbakar. Anganmu berkelebat ke masa silam pada sebuah hutan di tanah kelahiranmu. Sepulang sekolah, kamu dan kedua adikmu sering main perang-perangan di hutan itu. Merangkak di bawah pohon-pohon dan menerobos semak-belukar menjalar liar di atas tanah.

“Tidak boleh main perang-perangan. Lihat, romang begitu banyak menutupi hutan. Nanti kalian dibawa lari ke balik gunung dan tidak bisa kembali,” ujar ibumu menatap tajam ke arah kalian bertiga. Kamu berlari menjejaki jalan setapak menuju hutan. Kedua adikmu mengikuti dari belakang.

“Bang Monang, jangan masuk hutan. Romang banyak sekali.” suara Tongging, adikmu paling bungsu buat langkahmu terhenti. Kata ibumu, romang adalah hantu seorang wanita tua dengan rambut panjang beruban gentayangan di tengah hutan.

Jangan coba berteriak memanggil nama seseorang dalam hutan. Romang akan ikut mencari seseorang itu dan melarikannya ke balik gunung. Mendengarnya, kedua adikmu ketakutan setengah mati. Namun tidak buatmu. Kamu begitu menyukai kabut putih itu serupa salju. Ingin menangkap kabut itu dan menelannya. Rongga paru-parumu akan dipenuhi gumpalan salju bercahaya.

Kalian sekeluarga baru selesai makan malam. Ayahmu tengah mengisap rokok, lalu meniupkan asap ke udara membentuk gumpalan putih. Asap itu mengingatkan kamu pada rambut romang.

“Berikan aku satu batang,” ujarmu.

“Anak kecil tidak boleh merokok.”

Ayahmu marah. Kamu mundur dan duduk di kolong meja. Paru-parumu akan terlihat indah dipenuhi asap bagai salju andai menghirup asap rokok. Kembali mendekati ayahmu, lalu membuka mulutmu lebar-lebar. Mulutmu dipenuhi asap beraroma biji cengkeh dan tembakau.

“Sudah dibilang anak kecil tidak boleh merokok.”

Tiba-tiba tangan ibumu menampar pipimu.

Asap“Aku hanya ingin melukis salju di paru-paruku, Bu!” ucapmu di antara isak. Ayahmu menyelamatkan kamu dari amarah ibumu. Kalian duduk di kursi bambu di bawah pohon jambu air belakang rumah.

“Ingin melukis salju di paru-parumu?”

Kamu mengangguk.

“Kalau begitu jagalah hutan itu. Jangan biarkan orang merusaknya. Tanami lahan gundul. Pohon-pohon akan menghasilkan oksigen untuk memenuhi setiap rongga paru manusia. Lukislah salju di paru-parumu dengan oksigen. Jangan dengan asap.” lanjut ayahmu sembari mengusap kepalamu.

Kamu masih berdiri mematung menatap hamparan gunung yang terbakar.

Kenangan itu menyakitkan hatimu kini. Jabatanmu sebagai Bupati telah kamu salah gunakan. Kamu bersekutu dengan pengusaha-pengusaha rakus untuk mengubah hutan menjadi kebun sawit. Kalian bersepakat membuat hutan itu seolah-olah terbakar tanpa sengaja. Dua hari lalu, penduduk menemukan tiga sosok mayat membusuk di pinggir hutan. Diduga, mereka meninggal karena kepanasan dan terlalu lama menghirup asap. Salah seorang meninggal itu adalah puteramu. Anakmu pergi camping ke hutan itu bersama teman kuliahnya. Janji pada ayahmu untuk melukis salju di paru-paru manusia dengan oksigen telah kamu lupakan. ❑-g

*Romang: Kabut yang kerap menutupi hutan.


Dody Wardy Manalu, Jalan AMD nomor 7 Kecamatan Sosorgadong. Kabupaten Tapanuli Tengah. Sumatera Utara. Kode Pos: 22564 Kedaulatan Rakyat

The post Asap appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Rabu, 11 September 2019

Raung dan Kenangan Seluas Kabut


”Kalian berdua beruntung cuma dijenggong anjing yang lehernya terikat. Tadi, selepas Isya, kuntilanak mengejar rombongan pendaki asal Jakarta,” begitu kata Ibu Sunarya kepada ayahmu ini, Nak.

Napas terengah akibat sangar gonggong anjing, kami redam dengan kopi yang disuguhkan Ibu Sunarya di Pos 1. Ayahmu ini, Nak, sewaktu muda memang pengecut. Suara gonggong anjing pun membuat nyali ayahmu ini menciut.

“Benar kalian tak melihat kuntilanak?” tanya Ibu Sunarya. Kami berdua hanya menggelengkan kepala, Nak. “Ibu dan Bapak, seumur-umur di sini memang tak pernah melihat kuntilanak,” sambung Ibu Sunarya.

“Aku kangen Ibu di rumah,” kata Nisa; kawan perempuan yang menemani ayah mendaki Gunung Raung bersama kawan-kawan lainnya, Nak. Harusnya, Nisa yang menjadi ibu kandungmu. Tapi, nasib berkata lain. Kau, lahir dari rahim perempuan lain.

“Raung memang luar biasa. Ini puncak pertama saya, Bu,” kata Nisa kepada Ibu Sunarya. “Kelak saya ingin memberi nama ‘Raung’ kepada anak saya,” cerocos Nisa melanjutkan.

Nak, kau memang hanya bisa berkedip sembari merengek saat ayahmu ini bercerita. Tapi ayah yakin, di usiamu yang belum genap sebulan ini, kau bisa menikmati setiap jengkal cerita yang ayah sampaikan.

Wajah Nisa seperti wajabmu, Nak. Kalian sama-sama ayu. Bahkan, bibirmu tak menyerupai bibir ibu kandungmu. Bibirmu lebih menyerupai bibir Nisa. Oh, mungkinkah teori hubungan biologis dikalahkan bayang-bayang kenangan?

Tiap kali ayahmu ini bercinta dengan mendiang ibu kandungmu, ayah selalu membayangkan Nisa. Tiap kali ayah memagut jengkal demi jengkal tubuh ibu kandungmu, ayah merasakan tubuh Nisa. Pun ketika ayah melumat bibir ibu kandungmu, yang ayah rasakan adalah bau napas Nisa.

Nak, kau memang terlahir bukan dari rahim Nisa, tapi ragamu serupa Nisa. Harus ayah akui, ayah merasa berdosa kepada mendiang ibu kandungmu. Ayah menikahinya tanpa cinta. Sebaliknya, mendiang ibu kandungmu sangat mencintai ayah.

Di pesta pernikahan ayah dan mendiang ibu kandungmu, satu hal yang bikin ayah bahagia. Yakni, ketika ayah melihat Nisa datang ke pesta itu, meskipun ia bergandengan tangan dengan tunangannya.

“Sebaiknya kita berteman saja, Mas,” begitu ucap Nisa kepada ayah, berminggu- minggu kemudian setelah kami menaklukkan Puncak Sejati Gunung Raung. “Aku nyaman berteman denganmu. Sebaiknya kau cari perempuan lain saja,” Nisa menggarami.

Ayah patah hati, Nak. Tapi ayah lega, setidaknya ayah bisa membuang kepengecutan dengan berani menyatakan perasaan kepada Nisa. Di tengah-tengah patah hati, ayah bertemu Dewi, mendiang ibu kandungmu.

Di sinilah letak dosa itu, Nak. Ayah menerima cinta Dewi hanya untuk mengobati patah hati dan mengubur kenangan. Pengembaraan pun ayah lakukan bersama Dewi. Ironisnya, ayah selalu membawa Dewi ke tempat-tempat yang pernah ayah singgahi bersama Nisa. Bahkan, ayah pernah mengajak Dewi ke kaki Gunung Raung di Kalibaru, Banyuwangi, di Pos 1.

“Ini calon istri saya, Bu,” kata ayahmu ini kepada Ibu Sunarya—perawakan Ibu Sunarya masih sama seperti ketika dulu ayah dan Nisa turun gunung. “Namanya Dewi, Bu,” sambung ayah.

“Oh, ini toh, saya kira sampeyan nikahnya sama Nisa yang dulu,” jawab Ibu Sunarya. Untung di bagian ini, Dewi tidak mendengarnya karena sedang sibuk membalas WhatsApp dari orang rumah. “Semoga cepat ke pelaminan,” Ibu Sunarya menambahi. “Amin, Bu,” Dewi membalas ucapan Ibu Sunarya.

“Dewi enggak diajak sekalian ke Puncak Raung?” Ibu Sunarya memecah suasana yang mulai hening kala itu, Nak.

“Tidak, Bu. Cukup di sini saja. Sebab di atas banyak kenangan. Saya ndak pingin memugarnya lagi,” balasku.

“Memangnya kenangan apa, Mas?” Dewi, mendiang ibu kandungmu yang tidak pernah ayah cintai itu, merengek

“Ah, cuma kenangan tentang tebing yang curam dan kabut saja. Aku kapok mengulanginya lagi. Sebaiknya, kalau naik gunung, cari yang ringan saja. Penanggungan, misalnya. Atau Bromo,” kata ayah sambil memegang tang¬an Dewi.

Jujur, Nak, setiap ayah memegang tangan ibu kandungmu, kenangan memegang tangan Nisa selalu menggelayut. Dulu, ayahmu ini suka memegang tangan Nisa, entah itu ketika berjalan, nongkrong di kedai, atau pun nonton bioskop.

“Raung memang ganas,” kata Ibu Sunarya. “Puluhan tahun ibu tinggal di Pos 1, setiap pendaki yang turun gunung selalu sambat tentang medan Raung. Kata mereka, Raung lebih berat ketimbang Semeru atau Rinjani,” cetus Ibu Sunarya melanjutkan.

“Makanya, Bu, saya kapok,” kata ayah sambil terkekeh.

Nak, ayahmu ini memang memadu kasih dengan mendiang ibu kandungmu, tapi ayah tak bisa berpaling dari Nisa. Kencan demi kencan ayah lewati bersama Dewi, tapi ayah serasa menjalani kencan bersama Nisa. Kenangan tentang Nisa tak bisa purba, ia selalu belia dan memerah, seperti usiamu.

“Kau masih berkenan mendengarkan cerita ayah, kan, Nak?”

Ah, kau hanya berkedip dan terus merengek. Tapi tak apalah, ayah akan terus bercerita, mumpung hari masih pagi.

Kegemaran ayah bercerita ini menular dari Nisa. Ia adalah tukang cerita ulung. Bahkan, di sepanjang pendakian ke Gunung Raung, meskipun medan terjal diwarnai tebing curam dan batuan cadas serta kabut yang mahaluas, Nisa selalu menghibur ayah dengan cerita-ceritanya

“Biar enggak capek, aku bercerita saja, ya Mas,” kata Nisa sewaktu menuruni tebing curam menuju batas vegetasi. “Siapa tahu ceritaku ini bisa mengalihkan perhatian terhadap medan pendakian yang ganas,” sambungnya.

Banyak hal yang diceritakan Nisa selama pendakian. Namun, hanya dua hal yang selalu ayah kenang: cerita tentang kucing-kucing kesayangannya dan kegemaran Nisa makan durian. Padahal, dua hal ini: kucing dan durian, adalah sesuatu yang paling ayah benci.

“Oh ya, kamu punya utang, katanya mau beliin aku durian,” kata Nisa di jalan setapak antara Pos 8 dan Pos 7.

Kau tahu, Nak, meskipun ayahmu ini pria pengecut, tapi ayah tak pernah ingkar janji. Sepulangnya dari Raung, berhari-hari kemudian, ayah mengajak Nisa makan durian di pinggiran Kota Malang.

“Aku tahu kau membenci durian, tapi kau harus mencobanya,” kata Nisa. Ia memaksa ayah menelan secuil daging durian di ujung jarinya. Ayah pun manut ketika ia menyuapi.

Raung dan Kenangan Seluas KabutKalau bukan karena Nisa, ayah tak mungkin mau menelan durian. Sebagaimana Raung, kalau bukan karena ajakan Nisa, mungkin ayah juga tak ’kan berani mendaki Raung.

“Temani aku ke Raung, ya?” begitu kata Nisa kala nongkrong di kedai kopi nan sunyi. “Kamu kan belum pernah ke Raung. Berani, enggak?” lanjutnya.

Tiap ajakan Nisa, ayah tak pernah menolaknya. Dengan cara inilah, ayah bisa selalu dekat dengannya. “Baiklah, aku akan ambil cuti,” balasku, dan Nisa pun riang.

Dari Surabaya menuju Banyuwangi, kami melaju bersama kereta ekonomi, Nak. Sebelum pendakian, kami tidur di rumah penduduk Kalibaru yang kami sebut sebagai basecamp. Di sana, banyak pendaki dari daerah lain yang nantinya akan gabung bersama kami, tentu saja didampingi guide.

Di basecamp inilah, ayah pernah mengajak ibu kandungmu sowan. Tapi, hanya sekadar lewat saja, tak sampai menemui pemilik basecamp. Kau harus tetap terjaga, Nak, cerita ayah belum selesai. Ah, matamu terus berkedip. Bibirmu bergerak, persis bibir Nisa, bibirmu bergerak seakan-akan kau akan mengucapkan sebuah kalimat, Nak.

Dua pekan setelah napak tilas di Kalibaru, ayah dan ibu kandungmu menikah. Di malam pertama, tiba-tiba Dewi, ibu kandungmu itu, bertanya kepada ayah.

“Nanti, anak kita diberi nama siapa?”

“Jika perempuan, beri nama Raung saja. Dipanggil Rara,” jawab ayah kepada Dewi. Dan benar, kau bayi perempuan mungil yang lahir dari rahim Dewi. Nama Raung tersemat dalam jiwa dan ragamu, Nak.

Tapi sayang, kelahiranmu harus dibayar mahal. Ibu kandungmu harus meregang nyawa, Nak. Inilah kali kedua ayah mengalami kehilangan. Yang pertama, tentu saja ayah kehilangan Nisa—ayah gagal mendapatkannya.

Dewi adalah obat penawar patah hati, Nak. Kini, dia telah tiada. Ayah kembali dihantui kenangan tentang Nisa. Namun, apa daya, ayah tetaplah lelaki pengecut. Ayah tak berani menemuinya, meskipun kabarnya Nisa gagal menikah dengan tunangannya yang ia bawa saat menghadiri pesta pernikahan ayah dengan ibu kandungmu.

Bagi ayah, Nisa adalah kabut di Gunung Raung. Kabut yang mengaburkan mata dan melenyapkan keindahan semesta. Kabut yang menemani setiap jengkal perjalanan, mengambang menghindari maut di antara ketinggian dan jurang menganga.

“Kita kurang beruntung, Mas. Kabut pekat menutup keindahan Puncak Raung. Tak ada awan dan langit biru. Kawah juga tak nampak,” kata Nisa begitu tiba di ketinggian 3.344 mdpl, Puncak Sejati, puncak tertinggi Gunung Raung.

“Ah, ini cuma kabut, sebentar datang, sebentar pergi. Beda dengan kenangan,” balasku.

“Maksudnya?”

“Kenangan selalu abadi, kabut tidak,” desisku. “Tapi, ada satu persamaan antara kabut dan kenangan.”

“Apa itu?”

“Keduanya sama-sama luas, susah menemukan ujungnya,” ucap ayahmu lirih kepada Nisa, sambil tubuh menggigil menahan tusukan dingin.

“Duh, kalimatmu seperti penyair. Aku enggak paham.”

“Aku bukan penyair, aku hanyalah pengecut!”

“Hah? Apa sih?”

“Kenangan juga seperti kuntilanak, selalu bikin takut!”


Eko Darmoko, lahir dan tinggal di Surabaya. Lulusan Sastra Indonesia Unair Surabaya. Penulis buku kumpulan cerpen Ladang Pembantaian (Pagan Press, 2015). Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, dan esai pernah dimuat di Jawa Pos, Radar Surabaya, Radar Malang, Malang Post, dan Surabaya Post. Bermukim di akun Twitter dan Instagram @eko-darmoko

Ong Hari Wahyu, populer di kancah perfilman Indonesia sebagai visual artis dan art director. Salah satu karya visualnya yang diakui banyak kalangan adalah sampul buku Pramoedya Ananta Toer seperti Gadis Pantai, dan tetralogi Pulau Buru. Ong Hari Wahyu semakin mencuat setelah meraih predikat The Best Art Director dalam Festival Film Indonesia untuk film Daun di Atas Bantal yang dibintangi Christine Hakim dan disutradarai Garin Nugroho (1996). Kompas

The post Raung dan Kenangan Seluas Kabut appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:

Sirri Gus Sabri


Gus Sabri, siapa yang tidak kenal beliau? Setiap kali nama itu disebut, seperti ada kekaguman yang tak kan habis diceritakan mengenai daya linuwih putra bungsu almarhum Kiai Ridwan Sholeh, pendiri pondok pesantren Pringkuning Kesamben. Di antara kelima saudaranya, Gus Sabri yang paling santer dibicarakan.

Bukan tanpa alasan jika nama Gus Sabri menjadi kondang baik di kalangan para santri maupun warga sekitar. Selain penampilannya yang nyentrik yang membuatnya berbeda dari keluarga ndalem yang lain, juga disebabkan karena tingkah dan ucapannya yang suka nganeh-nganehi dan cenderung tidak bisa dinalar akal.

Di mata para santri sendiri, Gus Sabri adalah seorang pendekar pilih tanding. Semacam tokoh di dunia persilatan yang diceritakan di dalam buku komik atau film silat yang tenar di tanah air tempo dulu. Kadang mereka membayangkan Gus Sabri adalah Jaka Sembung yang dikenal mempunyai tubuh yang kebal senjata tajam dan peluru dari para kompeni, atau Angling Dharma yang bisa menghilang dengan aji halimunannya. Bagi para santri, Gus Sabri adalah ikon Pesantren Pringkuning.

Perawakannya tinggi besar. Rambut panjang ikal terurai sebahu serta kumis dan jenggot yang dibiarkan tak terawat menambah kesan sangar roman muka Gus Sabri. Baju hitam tak berkerah, kopyah beludru yang sudah berwarna kemerah-merahan karena saking lawasnya menjadi ciri khas penampilan beliau selain sarung cingkrang yang dibalut ikat pinggang kulit yang lebar. Selain dari segi pakaian, beliau juga punya kebiasaan yang unik. Jika bepergian ke mana pun, Gus Sabri tidak pernah naik kendaraan dan selalu berjalan telanjang kaki.

Ada sebuah kisah yang sering dituturkan oleh para santri secara tutur tinular dan sudah banyak diketahui para warga sekitar dusun kesamben tentang kesaktian Gus Sabri. Ini terjadi pada masa gencar-gencarnya teror ninja terhadap para Kiai di Indonesia akhir tahun ’98-an. Pesantren Pringkuning pun tak luput dari ancaman. Pada saat itu, Kiai yang mengasuh pesantren adalah abang dari Gus Sabri, Kiai Musthofa Ridwan atau biasa dipanggil Kiai Mus. Kharisma dan kealiman beliau sudah dikenal luas di masyarakat luas hingga ke wilayah luar daerah Jawa Timur.

Suatu ketika, ketika malam sedang diliputi kegelapan penuh karena cahaya bulan tertutup mendung. Ada segerombolan penyusup yang masuk ke area pondok. Tak seorang pun yang mengetahuinya karena pada saat itu para santri sudah banyak yang pulang karena bertepatan dengan libur hari raya. Suasana pesantren lenggang. Para penyusup berpakaian serba hitam yang berjumlah lima orang itu menjadi sangat mudah menjangkau rumah tempat tinggal Kiai Mus.

Namun sebuah keanehan terjadi. Langkah gerombolan pembunuh itu tercekat ketika melewati pintu pagar ndalem. Mereka mendadak tidak bisa bergerak. Berdiri mematung di halaman rumah. Jangankan melangkah, berbicara pun para penyusup itu tidak mampu. Hanya mata liar mereka yang masih bisa berkedip-kedip penuh kecemasan. Keberanian mereka lenyap seketika. Dan yang membuat mereka dicekam ketakutan adalah karena ada seorang berbadan tegap tinggi besar yang menghampiri dengan rambut panjang terurai, yang anehnya, juntaian rambut itu menyerupai kobaran api yang menjilat-jilat ganas. Hal itulah yang menelan keberanian dan kebengisan para gerombolan penyusup dan membuatnya tergeletak tanpa daya bagai tubuh tak bertulang.

Para penyusup itu tidak bisa beranjak dari tempatnya sampai bunyi kokok ayam jantan bersahutan. Paginya, betapa kaget Kiai Mus dan keluarga ndalem lainnya ketika melihat lima orang berpakaian seperti ninja itu tergeletak di halaman. Sementara Gus Sabri, adik Kiai Mus terlihat masih nyenyak tidur di sofa teras rumah. Akhirnya para penyusup dilaporkan ke pihak yang berwajib. Maka selamatlah keluarga ndalem dari ancaman pembunuhan.

Tidak hanya itu saja cerita tentang kelebihan Gus Sabri. Beliau juga dikenal sebagai orang yang waskita. Dalam istilah Jawa disebut weruh sakdurunge winarah, bisa mengetahui hal-hal yang bersifat ghaib yang belum terjadi. Seperti yang dituturkan oleh salah satu abdi ndalem pesantren, Kang Parmin. Ketika itu Kang Parmin sedang bekerja membantu Kiai Mus mengurus sawah milik pesantren. Ketika sedang sibuk mencangkul, lewatlah Gus Sabri di depannya. Dengan nada yang santai, tanpa ada referensi pembicaraan sebelumnya, tiba-tiba Gus Sabri menyuruh Kang Parmin pulang ke rumahnya.

“Min, besok pulang min!” seloroh Gus Sabri.

“Lho, wonten nopo, Gus?” Jawab kang Parmin setengah keheranan.

“Sudah, kamu pulang saja besok. Ndak kangen sama bapakmu ta, Min?” terang Gus Sabri sambil berlalu dari Kang Parmin.

Kang Parmin masih terbengong diliputi kebingungan. Sejenak berhenti dari aktivitas mencangkulnya. Mungkin Gus Sabri sedang bergurau, pikir Kang Parmin sambil melanjutkan kerjanya. Kejadian itu masih menyisakan tanda tanya di benak Kang Parmin hingga pada keesokan harinya, di suatu pagi ia dijemput keluarganya dari desa untuk diajak pulang karena bapaknya baru saja meninggal dunia. Padahal menurut keterangan tetangganya bapaknya Kang Parmin terlihat sehat wal afiat bahkan paginya masih sholat Shubuh berjamaah di langgar kampung. Sejak kejadian itu, Kang Parmin menyimpulkan bahwa ternyata Gus Sabri juga mempunyai ilmu kasyaf.

Perbincangan mengenai kelebihan yang dimiliki Gus Sabri tidak hanya terhenti di lingkup pesantren saja. Para warga, khususnya para alumni dan orang-orang tua yang pernah bersinggungan dengan Gus Sabri maupun pesantren juga sering membuka perbincangan. Bahkan mereka sering membumbuinya dengan cerita rekaan mereka sendiri.

“Jalur keturunan keluarga Kiai Ridwan memang bukan dari orang sembarangan.” Lek Jo mengawali cerita di warung kopi pojok kampung. “Tidak heran jika dari keluarga ndalem akan muncul putra-putra beliau yang mempunyai daya linuwih.” Lanjut Lek Jo sambil menyeruput kopi.

“Bukan orang sembarangan bagaimana, Lek?” Tanya Wak Jan, pemilik warung kopi.

“Abahnya dulu itu salah satu Kiai penggembleng kanuragan laskar rakyat yang berperang melawan para penjajah. Nah, pondok Pringkuning itu sebagai pusat latihannya.” Lek Jo begitu gamblang menerangkan karena ia adalah alumni pesantren ketika masih di asuh oleh Kiai Ridwan dulu.

Dari sebuah fakta menyebutkan. Jika diruntut, nasab keturunan keluarga Kiai Ridwan, akan sampai pada keturunan ke sekian dari tokoh yang menjadi sentral pada jaman kerajaan islam setelah Demak Bintara berkuasa. Hal ini yang membuat orang-orang sangat hormat dan segan kepada keluarga ndalem. Selain karena tersohor kealiman ilmunya juga karena masih memiliki trah darah biru.

***

Sirri Gus SabriHari itu keluarga besar pondok pesantren Pringkuning punya gawe. Haul yang ketujuh belas almaghfurlah Kiai Ridwan Sholeh, pendiri pesantren, akan dilaksanakan. Sejak jauh-jauh hari semua telah dipersiapkan. Para abdi ndalem dan santri semua terlibat dalam kepanitiaan. Termasuk yang paling sibuk adalah Kang Parmin. Bisa dikatakan ia adalah abdi ndalem yang paling senior di antara yang lain. Kang Parmin mendapat mandat dari Kiai Mus sebagai ketua panitia. Meskipun tiap tahun acara haul ini diadakan, kabarnya kali ini acara haul akan dihelat lebih besar-besaran. Pasalnya ada donatur dari para pejabat penting di negeri ini yang akan membantu membiayai acara.

Biasanya, pada saat seperti ini, putra putri dari Kiai Ridwan Sholeh akan hadir semua. Putra sulung Kiai Ridwan, yaitu Kiai Ahmad sudah datang tadi pagi. Beliau menjadi pengasuh di salah satu pesantren yang berada di pesisir daerah Jawa Tengah. Sedangkan Ibu Nyai Nuriyah bahkan sudah datang dari kemarin bersama suaminya, Kiai Basyuni yang mengasuh pesantren di daerah Madura. Putra ketiga Kyai Ridwan adalah Kiai Mustofa yang mewarisi pesantren Pringkuning peninggalan ayahandanya.

Acara haul sudah dimulai sekitar jam delapan malam. Namun ada yang kurang. Bukan karena jumlah hadirin yang sedikit. Bukan. Bahkan panitia kewalahan menyediakan akomodasi untuk tamu undangan yang membludak. Kang Parmin sebagai penanggung jawab acara pun merasakan ada yang belum lengkap. Iya. Gus Sabri. Seorang yang fenomenal ini tidak terlihat sama sekali di acara.

Tengah malam, acara barulah purna. Selepas acara, nampaknya sesuai perkiraan Kang Parmin. Ia mendapat perintah langsung dari Kiai Mustofa untuk mencari keberadaan Gus Sabri. Tengah malam itu juga Kang Parmin segera melaksanakan dawuh untuk mencari Gus Sabri. Hampir di tiap sudut pondok sudah diperiksanya. Di gubuk sawah tempat yang biasanya dipakai Gus Sabri mujahadah malam juga kosong tidak berpenghuni. Kang Parmin mencari Gus Sabri hingga ke perkampungan warga. Hasilnya juga nihil. Kang Parmin nyaris putus asa.

Malam terus beranjak. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Kang Parmin masih bertahan di jalanan. Tiba-tiba ia seperti mendapat ilham. Nalurinya menuntun Kang Parmin pada pesarean keluarga ndalem Kiai Ridwan berada di sebelah utara pos jaga keamanan pesantren. Biasanya Gus Sabri selain bermalam di gubuk persawahan, beliau juga sering berada di pesarean. Tanpa berpikir panjang, Kang Parmin segera meluncur ke tempat yang ia perkirakan tersebut.

Area pesarean tampak sepi. Hanya suara gemerisik serangga malam yang bersahutan memecah keheningan. Cahaya bulan sempurna bersinar. Sorotnya menembus hingga ke sebuah cungkup makam. Kang Parmin tertegun melihat seseorang tersedu di sana. Dialah Gus Sabri. Beliau berpakaian serba putih dan tidak nampak seperti biasanya. Gus Sabri terlihat sedang duduk bertafakur di depan pesarean almarhum Kiai Ridwan. Kang Parmin belum berani memanggil. Ia hanya berdiri di belakang Gus Sabri dengan menyimpan serentetan pertanyaan. Namun seperti sudah mengetahui siapa yang dating, Gus Sabri menyapa Kang parmin.

“Min, kamu nanti bilang sama Kiai Mus. Saya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikawatirkan.”

“Engge, Gus,” Kang Parmin menyahut singkat.

“Kamu tahu, Min, mengapa aku tidak bisa ikut menghadiri acara haul di pesantren?” Gus Sabri seperti sudah tahu apa yang menjadi pertanyaan Kang Parmin.

“Mboten semerap, Gus,” jawab Kang Parmin singkat.

“Karena tamu-tamu dari kota besar itu lho, Min. Yang duduk di barisan depan, berjas dan berdasi,” terang Gus Sabri.

“Oh…Mereka para donatur, Gus. Orang penting dari kota besar katanya. Ada apa dengan mereka, Gus?” tanya Kang Parmin.

“Awalnya aku berniat hadir pada acara tadi malam, Min. Namun aku urungkan. Kamu tahu, Min? Aku melihat hampir semua tamu itu, meskipun tidak semuanya, yang katamu tadi orang penting itu, semua berkepala anjing. Menyeringai dengan liur yang berseleweran menetes dari mulut mereka. Seketika juga, aku pergi menjauh, Min. Tak sudi aku berada bersama orang-orang seperti itu.” Gus Sabri nampak serius bercerita.

Kang parmin tercengang mendengar cerita Gus Sabri. Ia jadi teringat, di salah satu media memberitakan ihwal tentang kasus-kasus yang menyerempet para kaum elit tersebut. Namun ujung-ujungnya ketika diproses, mereka masih bisa lolos dari jerat hukum. Kang Parmin percaya bahwa penglihatan Gus Sabri benar adanya. Memang di dunia ini ada hal lain yang tidak bisa dinalar, termasuk kelebihan yang dimiliki Gus Sabri.

“Sudah, Min. Bilang sama Kiai Mus. Untuk sementara ini aku akan pergi. Ke mana kakiku akan melangkah, biarlah mengikuti kata hati. Nanti jika pesantren kembali bercahaya. Aku akan kembali,” ucap Gus Sabri.

Kang Parmin mengangguk dan hanya bisa diam. Sebuah pelajaran amat berharga ia dapatkan. Setelah pamit undur diri, Kang Parmin segera kembali ke pesantren. Dengan perasaan yang berkecamuk di dadanya. Ia memutuskan akan memberanikan diri menyampaikan cerita dari Gus Sabri pada Kiai Mus. Kang Parmin yakin, Kiai akan dengan sangat arif menanggapi permasalahan ini. Dari kejadian ini, Allah telah membuka setitik rahasia yang tersembunyi pada orang-orang yang berhati putih seperti Gus Sabri. Seorang yang punya tingkat keikhlasan dan ketawadhuan yang benar-benar murni. Kelebihan yang beliau miliki sejatinya adalah titipan-Nya. Menjadi sebuah karunia atau ujian? Tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Sampai cerita ini ditulis, Gus Sabri belum pernah sekalipun tampak kembali ke pesantren. Lalu, di manakah beliau berada? Wallahu a’lam bisshowab.

Gresik, Agustus 2019


Jadid Al Farisy lahir di desa Kendal kecamatan Sekaran pada tahun Sabda Pujangga Kusumaning Bumi. Saat ini masih aktif sebagai pendidik di SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan dan MIMA NU Kendal Sekaran. Karyanya berupa cerpen dan puisinya bisa dijumpai dalam antologi bersama Literacy Institute Bocah Luar Pagar, Ini Hari Masjid Tumbuh di Kepala, Hikayat Daun yang Jatuh. Selain itu karyanya juga terantologikan dalam Muhasabah Warna, sebuah antologi puisi bersama Lesbumi PC NU Babat. Sedangkan cerpen tunggalnya yang telah terbit adalah Kopi Kang Santri. Aktif dalam komunitas penggiat literasi Lamongan (Literacy Institute of Lamongan). – Republika

The post Sirri Gus Sabri appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi