TOP ARCHIEVES

Koran Republika

Kumpulan Puisi

Kedaulatan Rakyat

Media Indonesia

Suara Merdeka

Koran Tempo

Pikiran Rakyat

Friday, 22 March 2019

Nawang Wulan dalam Pelukan

Kereta tiba. Aku melangkah malas ke dalam ular besi. Mencari kursi di gerbong yang masih kosong. Langit mulai menua. Mendung menambah sepuh cuaca. Gerimis mulai berjatuhan di luar jendela. Bayangan kamu berkelebatan di dalam kaca jendela kereta yang kusam karena jarang dibersihkan.

Kereta mulai bergerak maju. Memburu ruang dan waktu yang bersekutu. Aku ajak mereka bersekutu, untuk mencari-cari kamu yang menghilang tiba-tiba karena putus asa.

Hujan menderas di luar jendela. Bayangan kamu perlahan memudar. Luntur dihajar air langit. Rumah-rumah penduduk yang bersolek dengan cahaya lampu tak lagi terlihat cantik. Suara gesekan roda kereta dan ayunan gerbong berebut dan berdesakan menggedor-gedor gendang telinga.

Ini adalah tahun ketiga aku pulang pergi saban akhir bulan naik kereta. Menemui istri yang kutitipkan dengan berbekal setia.

Tahun pertama pernikahan bagiku sulit. Apalagi akses ke rumah kamu jauh. Aku harus melewati puluhan kilometer dengan perjalanan panjang untuk menjengukmu. Tapi yang tak kuinginkan terjadi.

Setelah 36 perjumpaan singkat, malapetaka itu datang. Kamu enggan ikut aku banting tulang di ibu kota dan memilih bertahan di kampung halaman sejak ijab kabul. Kukira biasa. Awalnya. Tapi, kecurigaan itu semakin nyata. Tanpa kabar aku memutuskan pulang lebih awal. Tidak seperti jadwal bulanan.

Kenapa tidak beri kabar jika mau pulang,” katamu sembari gelagapan ketika melihatku sudah berdiri di depan kamar.

Kenapa?” tanyaku singkat. Mencoba menerka alasan yang keluar dari bibirmu yang jarang aku kecup.

“Karena aku putus asa,” jawabmu singkat.

Tubuhku kaku. Aku yang biasanya tidak peduli dengan ucapan orang kini seperti orang gila yang punya alamnya sendiri. Sejak itu aku putuskan untuk berpisah dunia denganmu. Beruntung belum ada malaikat kecil dalam kehidupan aneh yang kita jalani selama 1.095 hari.

***

Dua tahun sudah aku menggelandang di ibu kota. Nebeng tidur dan numpang makan di rumah kerabat. Satu ketika, ada seorang guru mengaji yang menawarkan tempat berteduh. “Setidaknya sampai kamu punya rumah,” kata dia.

Abah, begitu aku memanggilnya dan orang-orang di lingkungan rumahnya. Ia peranakan Arab Betawi. Disegani karena pandai mengaji. Abah tidak punya pesantren. Hanya langgar kecil tempatnya sehari-hari menghadiahkan ilmu yang diwarisinya dari ayahanda.

“Nak, kamu mau menikah dengan kemenakan Abah?” tanya Abah tiba-tiba di suatu sore jelang berbuka puasa Senin-Kamis. Aku tidak bisa menolak. Pernikahan pun digelar. Hanum nama kemenakan Abah. Cantik layaknya perempuan keturunan Timur Tengah. Kerudung merah yang tidak sempurna menutupi wajah tirusnya. Sayangnya belum tumbuh cinta di hatiku yang hampir mati meski ijab kabul sudah digelar.

Setelah tujuh bulan bersama, baru aku tahu jika Hanum ternyata primadona di kampung. Tak sedikit pemuda kampungnya yang berebut memiliki pesona Hanum. “Kamu beruntung bisa menikahi Hanum,” kata pengojek sepeda yang kutumpangi saat berangkat kerja.

Kukulum senyum. Ah, apa aku benar-benar beruntung, tanyaku kepada hati.

Tiga tahun aku menyulam rumah tangga. Tapi buah hati yang kunanti tidak kunjung tiba. Tak ada tanda-tanda dari Hanum. Sampai suatu ketika seorang kemenakanku berkunjung ke rumahku yang sederhana. “Paman kenapa murung?” tanya dia menerka.

“Paman ingin punya anak, punya keturunan. Tapi bibi kamu belum hamil-hamil.”

“Sabar, Paman. Mungkin belum waktunya.”

Obrolan ringan yang didengar Hanum itu ternyata berdampak besar. Sejak itu perangai Hanum berubah. Ia sering marah tak jelas.

Melayani sehari-hari seperti sekadar membuatkan kopi pun tak pernah lagi dilakukannya. Perubahan perangainya membuatku bingung. Sampai satu hari aku menemui satu lembar obat berwarna merah muda dari dalam tasnya. Ukurannya lebih kecil dari kancing baju anak sekolah. Pil KB.

Rupanya selama ini dia sengaja minum pil tersebut agar tidak hamil setiap kali berhubungan. Dan yang lebih menyakitkan, aku baru tahu ternyata dia tidak menginginkanku jadi suaminya.

Dia menudingku ingin menikah lagi. Di hadapan keluarganya dan Abah, ia memaksa aku menjatuhkan talak. Alasannya sederhana, aku ingin menikah lagi karena Hanum tidak bisa memberikan keturunan.

Batinku hendak berontak, tapi aku tahan. Kegagalan lagi-lagi berada di depan mata. Rapat keluarga itu pun berakhir ricuh. Tapi hanya Hanum saja yang ricuh. Abah tetap bijak. Ia juga baru tahu kemenakannya ternyata diam-diam sudah punya kekasih sebelum menikah denganku.

Dulu Hanum menerima pinangan Abah karena rasa segan. Tapi Hanum tidak menyangka akan dinikahkan dengan pria asing yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.

“Semua keputusan ada di tanganmu, Nak,” ucap Abah bijak. “Putuskan yang menurutmu baik. Shalat istikharah bila perlu.”

Beberapa bulan sebelum peristiwa Malari meledak, aku putuskan untuk melepas Hanum.

***

Cinta kini bagiku hanya legenda. Seperti cerita Sangkuriang yang menendang perahu lalu menjelma menjadi gunung. Atau seperti kisah Jaka Tarub yang berhasil menikahi bidadari, setelah melakukan perbuatan tak terpuji.
Mengintip bidadari mandi di air terjun tempat pelangi mendaratkan ekornya. Mengintip gadis manusia mandi saja sudah terkutuk, apalagi dia yang mengintip lalu menyita selendang bidadari. Mahluk suci dari kahyangan. Parah sekali kelakuan Jaka Tarub itu.

Imajinasi di kepalaku menerka-nerka seberapa cantik wajah Dewi Nawang Wulan yang membuat Jaka Tarub kehilangan akal sehat. Bentuk wajahnya, mata, hidung, bibir, lalu mahkota di atas rambutnya. Terlebih bentuk tubuhnya. Mungkin lebih aduhai dari Diana Nasution, penyanyi yang sedang digandrungi pria seantero Indonesia.

Ku susun baik-baik sketsa wajah Dewi Nawang Wulan yang kata orang-orang amat sangat teramat cantik. Ketika goresan sketsa itu hampir rampung, bahuku tersenggol secara tak sengaja. Lamunanku buyar. Aku saat itu duduk di pinggir bangku kereta menuju Jakarta. Tidak dekat jendela. Dan yang menyenggol bahuku tersenyum.

“Maaf,” katanya singkat. “Bangku aku di sini. Boleh aku duduk di dekat jendela.”

Detik itu aku seperti tahu bagaimana rasanya Malin Kundang menjadi batu saat dikutuk ibunya. Kaku. Sketsa dalam kepalaku kini berbicara. Sketsa bidadari yang kugambar dalam imajinasi kini hidup dan berdiri anggun di hadapanku. Sketsa Dewi Nawang Wulan. Bidadari itu bukan di kahyangan, tapi di dalam kereta.

“Silakan,” kataku sembari berdiri memberi ruang untuknya.

Kursi kereta yang kutumpangi kali ini seperti menjelma menjadi tumpukan bebatuan. Di ujung kanan dan kiri berbagai jenis pepohonan rimbun bergelantungan. Sementara di ujung lintasan mataku ada seorang bidadari yang sedang asyik duduk bermain di bawah guyuran air terjun. Dia sendirian, tidak ditemani enam saudaranya yang lain.

Ternyata begini sensasi jadi Jaka Tarub. Diam-diam menikmati kecantikan Dewi Nawang Wulan yang mungkin saat masih cetak biru di surga saja sudah cantik. Teramat cantik. Rasanya menyesal pernah mengutuki Jaka Tarub, pemuda dalam legenda yang aku cap berengsek karena mengintip bidadari mandi.

Kini aku seolah menjadi Jaka Tarub. Aku menjadi pengintip. Ekor mataku berkali-kali menoleh ke wajah gadis yang duduk anggun memakai gaun putih berkerah dengan salur garis hitam tipis. Kulitnya putih. Wajahnya membulat. Pipinya gembil. Hidungnya mungil, dan ia membiarkan rambut sebahu terurai. Bibir tipisnya terus mengatup. Hingga aku memberanikan diri memulai pembicaraan.

“Kenalkan, aku Nursi,” kataku dengan gesture percaya diri sembari menyodorkan tangan.

Dia menoleh. Gerakan kepalanya yang perlahan semakin membuatnya kian gemulai. Wajahnya kaku tanpa senyum. Tapi ia tetap cantik.

Mati aku. Dia tidak membalas uluran tanganku, batinku berbisik.

Tiga detik yang mematikan itu berubah, saat otot bibirnya tertarik hingga membuat pipi gembilnya semakin kenyal. Sepertinya. “Sarah,” ujar dia sembari mengulurkan tangan.

Pembicaraan pun mengalir. Tak hanya wajahnya yang teduh, sikapnya juga ramah. Kami berbicara banyak. Dari pembicaraan itu mencerminkan kecerdasan pikirannya. Cantik, ramah, cerdas. Aku jadi membayangkan Dewi Nawang Wulan yang saban hari menemani Jaka Tarub.

Empat setengah jam perjalanan di dalam kereta kami lahap dengan perbincangan tanpa jeda. Hingga kereta bergebong tua memasuki stasiun legenda, Jatinegara.

“Boleh aku tahu alamat rumahmu?” kususun kalimat tanya itu hati-hati. Perlahan-lahan, agar jangan sampai permintaan gilaku tertolak mentah-mentah.

“Jatinegara, dekat Pasar Mester,” ucap Sarah sembari mencoretkan alamat lengkap di selembar kertas bekas dan memberikannya kepadaku. Kuraih dan kusimpan di kantong jaket.

“Kamu dijemput siapa?” tanyaku ketika kami berdiri di dekat pintu keluar stasiun.

Sarah tidak menjawab dengan kata-kata. Telunjuknya menunjuk seseorang berpakaian militer. Perwira menengah sepertinya.

“Mas,” teriaknya sembari melambaikan tangan. Sebelum pergi, Sarah pamit ke padaku. Kami bersalaman, lalu ia melayang ringan seperti angin musim semi.

Aku kembali menjadi Malin Kundang. Mematung. Di ujung sana kulihat Sarah memeluk pria itu. Sarah mencium tangannya. Takzim. Tak hanya sekali, tapi dua kali. Punggung tangan lalu telapaknya. Pria itu kemudian menghujani pipi Sarah dengan ciuman. Tanpa malu di depan banyak orang. Harapanku hilang sudah. Pupus. Kisah Jaka Tarub memang hanya legenda.

***

Satu pekan sudah aku berpisah dengan Dewi Nawang Wulan yang turun dari kereta. Bau harum minyak wanginya masih tersisa di ujung hidungku. Aku berkencan dengan ingatan. Setangkup rindu merambat pelan merambat ke dalam dada. Setidaknya matahari lebih paham cara berpamitan. Membiarkan pengagumnya menikmati keindahannya perlahan-lahan di batas perpisahan. Ah mengapa aku ini. Aku jatuh cinta kepada perempuan yang hanya kutemui empat setengah jam di atas kereta. Gilanya perempuan itu memiliki pasangan. Entah kekasih, atau mungkin suami.

Adakah pekerjaan yang paling puitis selain berlari mengejar-ngejar rindu? Jawabnya ada, yaitu mengingat lesung pipi saat Sarah tersenyum. Aku raba kantong jaket katun biru dongker yang selalu kupakai ketika berpergian. Jemari tanganku menemukan sesuatu. Selembar kertas bekas. Kubuka, lalu untaian huruf-huruf membentuk sebuah kata yang bersalin menjadi kalimat, lalu menjelma menjadi alamat. Alamat rumah. Rumah Sarah.

Kini aku kembali merasakan girangnya menjadi Jaka Tarub. Kertas itu bagaikan selendang Dewi Nawang Wulan yang disimpan Jaka Tarub diam-diam. Kertas itu bagai minyak kesturi yang disuntikkan ke dalam lampu minyak yang nyala apinya hampir padam. Api harapan.

Batinku berperang. Tetap simpan alamat itu, atau buang ke dalam Sungai Ciliwung yang kini ada di hadapannya. Sarah sudah berpasangan. Tapi tak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kemungkinan selalu ada, meski sangat kecil peluangnya. Aku harus memastikan siapa pria itu.

Nekat, kupacu sepeda kumbang pinjaman dari kakakku. Alamat yang ditulis Sarah tidak jauh dari tempat aku kini berdiri. Hari Ahad. Semoga Sarah ada di rumah, gumamku sembari berharap.

Sepeda kumbang merek Gazelle itu kukayuh perlahan. Pasar Mester terlewati. Aku hafal betul jalan itu karena saban hari aku melewati untuk pergi ke kantor. Setelah perempatan jalan, aku belokkan sepeda ke kanan. Lalu gang ketiga atau keempat setelah perempatan itu adalah gang rumah Sarah. Aku menerka-nerka. Akhirnya ketemu.

Kereta angin buatan Belanda aku parkir di depan rumah Sarah. Rumah sederhana. Pagar besi beralur tombak, kokoh membentengi rumah dengan atap asbes. Jam tangan otomatis merek Titus di pergelanganku berhenti di angka empat. Sudah sore. Tapi belum terlalu petang untuk bertamu, pikirku.

“Assalamualaikum… Permisi,” kataku di depan pintu pagar. Kuulangi sampai dua kali. Seperkian menit kemudian, pria bertubuh tegap keluar dari dalam rumah yang pintunya tidak tertutup. Pria dengan wajah yang sama saat menjemput Sarah di Stasiun Jatinegara. Gagah, layaknya tubuh tentara. Wajahnya seperti aktor Abdul Hamid Arief.

“Mau cari siapa, Mas?” suara baritonnya membuat lamunanku buyar. Pria itu berjalan mendekat ke pagar. Kini kami berdiri berhadapan dan hanya dibatasi pintu besi.

“Oh maaf, Pak. Saya Nursi. Saya mencari Sarah. Boleh saya bertemu?” tanya saya dengan hati-hati. Sedikit terbata.
Raut wajah pria itu berubah. Ia kaget. Sudah barang tentu. Itu semua terlihat dari alis matanya yang naik dan kulit keningnya yang mengkerut. Mungkin ia berpikir, siapa laki-laki yang nekat dan berani-beraninya mendatangi istri seorang tentara ke rumah. Tapi ia membukakan pintu pagar yang ternyata tidak terkunci. Aku dipersilakan masuk.

“Temannya Sarah? Silakan masuk. Saya Yatmo,” kata dia sembari menjabat tanganku. Genggamannya keras.
Baru tiga langkah aku menginjak pekarangan rumah itu, dua anak kecil yang kutaksir berusia enam dan sembilan tahun menghampiri pria itu. “Panggil ibu kalian, suruh buatkan minum. Ada tamu,” katanya. Perintah pria itu membuat dadaku berdekup. Mati aku.

Dua anak kecil itu menggeret tangan seorang perempuan dari dalam ruang tengah. Sarah keluar dari dalam ruangan yang tersekat lemari pajangan berbahan kayu. Sarah sore itu memakai blus warna biru di bawah lutut. Ayu. Wajahnya beringsut terkejut saat mengetahui siapa tamu yang datang. Tapi tak lama ia tersenyum.

“Kamu. Nur..Nursi.”

Bersamaan dengan itu, seseorang di belakang Sarah yang membawa dua buang cangkir putih susu di atas nampan datang dengan tersenyum.

 

Penulis adalah wartawan Republika. Bisa dihubungi lewat akun Instagram: @kartaraharjaucu.


[1] Disalin dari karya Karta Raharja Ucu
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 17 Maret 2019

The post Nawang Wulan dalam Pelukan appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Wednesday, 20 March 2019

Sabda Tuhan di Kepala Orang Gila

Aku ingin makan, tetapi tidak punya uang. Jadi, kuminta uang kepada semua orang di pasar. Setiap kutemui punggung seseorang, aku berdoa supaya hati orang itu diketuk sedemikian rupa oleh-Nya sehingga membantuku yang sedang kelaparan. Lalu kutepuk punggung itu dan dengan wajah memelas kukatakan kalimat ini dengan begitu syahdu, “Minta uang dong.”

Aku tahu, mungkin jika tidak makan hari ini aku masih hidup. Baru sampai besok lusa, jika aku benar-benar tidak makan apa pun, aku akan mati di pasar ini atau di mana pun yang tidak jauh dari pasar ini.

Sulit membayangkan akan mati seperti apa dan di mana jika Anda hidup sebatang kara di suatu pasar, dan bermata juling, dan berotak separuh sapi, dan berbadan sebesar badak. Itulah aku, dengan segala ciriku. Hidup sendiri di pasar, pindah dari satu kota ke kota lain, hanya untuk makan.

Seharusnya orang kasihan kepadaku dengan mata julingku yang sulit membuatku bekerja di mana pun. Aku gampang lelah dan tidak beres menggarap hampir semua hal. Misalnya, aku tidak bisa menghitung dengan pas dan mungkin juga tidak dapat bekerja di tempat fotokopian dengan tugas memencet-mencet tombol mesin fotokopi.

Aku sering membatin bahwa mungkin Tuhan menciptakanku untuk ini; terkadang beberapa hal sulit diterima, tetapi kuyakin memang begitulah adanya, yaitu aku dicipta sebagai sarana manusia lain menuju surga. Aku didesain Tuhan menjadi pengemis yang dapat membangkitkan gairah kemanusiaan orang-orang. Aku dirancang sedemikian rupa oleh-Nya agar orang-orang tidak lupa sedekah. Jika sudah begitu, surga bakalan mereka dapat.

Memang seharusnya orang berpikir begitu, mengingat betapa melas wajahku saat berkata, “Minta uang dong.”

Biasanya kulengkapi kernyitan di dahi, lalu pada pipiku harus ada beberapa bercak kotoran. Aku tidak mandi atau cuci muka sebelum mengerjakan ini, demi orisinalitas dan bukan semacam tipuan. Aku tidak perlu membuat luka-luka palsu untuk menarik simpati; cukup wajah gembilku saja yang natural, yang kubuat semelas dan semalang mungkin, seakan tidak makan kira-kira dua tahun berturut-turut. Kukira, itu jauh lebih ampuh.

Buktinya, badanku tetap sebesar badak dan makanku tiada henti. Kadang-kadang sehari kuhabiskan empat mangkuk mi ayam plus dua bungkus roti bolu dan beberapa kemasan teh botol. Itu artinya akan selalu ada orang memberiku uang. Tuhan selalu saja mengerti dan mengabulkan doaku setiap kali kuamati punggung seseorang dan kuniati untuk meminta uang darinya.

“Memang betul Tuhan merestuiku karena Dia menciptaku sebagai sarana orang banyak dalam menuju surga,” kataku pada Bendi Afkir, seorang pengamen yang dahulu kala bermimpi jadi jenderal dangdut, tetapi gagal. Waktu itu kami makan di salah satu warung.

“Manusia koplak sepertimu benar-benar memalukan,” jawabnya.

Aku dan Bendi Afkir memang biasa makan berdua, dan dia biasa menyebut diriku sebagai manusia paling memalukan, manusia kalah, manusia berotak sapi, dan lain-lain. Aku diam saja dan tidak protes, karena apa pun yang kukatakan sudah pasti akan dapat dia bantah.

Meski begitu, Bendi Afkir sering meminta uang padaku, ketika ia tidak dapat uang cukup dari ngamen. Kadang dia menyesal dulu bermimpi menjadi jenderal dangdut, dan bukannya menjadi pengusaha, yang tentu tidak kalah pamor dengan raja dan pangeran dangdut sebagaimana kondisinya saat ini. Bendi Afkir sering menangis apabila teringat keluarga di rumah.

“Ibu pasti menangis melihatku begini di sini, hari ini, duduk di suatu warung nasi bersama orang menyedihkan. Lihat tubuh gendutmu ini, mata julingmu, segala padamu. Tidak ada apa pun yang membuatmu sadar untuk bekerja jujur ketimbang minta uang. Setiap kali kudengar kamu bilang, ‘Minta uang dong’, rasanya dunia seperti roboh dan di kepalaku semuanya serba abu-abu. Barangkali Ibu menyesal melahirkanku dua puluh tujuh tahun yang lalu,” katanya.

Aku tidak pernah ambil pusing omongan Bendi Afkir. Biasanya kami berpisah usai dia dengan puas menuduhku sinting dan tidak bertanggung jawab, juga pemalas, lalu kami ketemu lagi beberapa jam setelahnya dan makan berdua seperti ini untuk bicara hal-hal yang tidak jauh berbeda.

Aku tidak pernah bosan makan dengan Bendi Afkir, sekalipun dia tidak pernah ada niat membayar utang-utangnya. Dia selalu bilang, uangnya tidak cukup. Padahal Bendi Afkir mengamen di mana-mana sambil membawa suatu alat yang dibuat dari beberapa tutup botol yang dihimpun bersama sebatang kayu. Bendi Afkir laki-laki, tetapi dia tidak malu memakai rok dan berbedak seperti badut. Aku tahu dia terlihat sangat cantik dan tidak tampan, tetapi pernah kami buang air bersama di suatu sungai, dan kali itulah aku tahu dia laki-laki.

Aku tidak tahu rumah Bendi Afkir, karena katanya itu bukan urusanku. Aku sendiri tinggal di pasar dan kadang-kadang pindah ke seberang pasar, ke sebuah pagar kuburan, dan di sana dapat tidur sepuasnya tanpa diganggu, di bawah sebatang pohon yang tidak kutahu jenis pohon apa.

Di sana aku membayangkan dapat berbagai pekerjaan dan tidak betah, lalu Tuhan bersabda, “Kamu dicipta bukan untuk bekerja keras, tetapi sebagai sarana orang banyak menuju surga!”

Lalu aku pergi dari tempat-tempat kerjaku dan bos-bos yang kutinggalkan marah, dan aku tidak peduli. Kemudian aku pergi ke pasar ini dan meminta uang kepada semua orang dengan perasaan lapang.

Aku sering membayangkan itu setiap kali becermin. Maksudku, suatu sabda dari langit, yang mendukungku untuk semua ini. Aku tidak pernah kurang uang, tapi aku pun rela tidak menyewa kamar demi membuat Bendi Afkir senang. Jika uang yang kudapat kupakai semua, aku tidak dapat membantu Bendi Afkir dan beberapa temanku di pasar. Mereka semua rata-rata tidak punya keluarga.

Setahuku, aku juga tidak ada keluarga, karena dulu tahu-tahu aku sudah hidup tanpa bapak-ibu dan mengais-ngais makanan dari mana saja. Aku juga tidak dapat membaca, meski sudah diajari beberapa kali oleh orang-orang baik, yang hampir selalu kutemui di mana saja. Orang-orang ini memaksaku membaca, tetapi aku bilang tidak bisa. Aku tahu bedanya huruf O dan Q, tapi aku malas. Jadi, aku putuskan bahwa membaca itu bukan sesuatu yang penting.
Mungkin karena sudah takdirnya aku tidak bekerja di mana-mana dan hanya jadi sarana orang banyak menuju surga, maka timbul rasa malas dalam dadaku. Aku berpikir itulah anugerah Tuhan. Karena jika tanpa orang sepertiku yang malas dan membuat-buat wajah melas agar orang simpati, mungkin saja tidak ada yang ingat bersedekah dan tiap orang dewasa di dunia ini nanti dibakar di neraka. Itu tidak seharusnya terjadi, kukira.

Bendi Afkir tidak setuju waktu kukatakan hal itu. Jika mereka yang memberi uang padaku masuk surga, berarti semua yang meminta-minta uang akan masuk neraka?

Bendi Afkir dengan kesal berkata, “Kalau aku masuk neraka, harusnya kamu juga masuk neraka. Aku berada di neraka paling atas dan kamu paling bawah. Karena aku masih bekerja dan kamu tidak bekerja. Aku tahu, aku mungkin masuk neraka karena tak pernah sembahyang dan bahkan kadang-kadang meragukan pertolongan-Nya. Tapi, aku tahu Tuhan bilang, orang hidup harus kerja. Setahuku itu. Dia tidak menciptakan orang- orang bodoh dan kalah untuk jadi pengemis!”

Tapi kukatakan pada Bendi Afkir bahwa itu tidak mungkin. Dia tahu jika aku tidak makan hari ini mungkin aku masih hidup. Baru sampai besok lusa, jika aku benar-benar tidak makan apa pun, aku akan mati di pasar ini atau di mana pun yang tidak jauh dari pasar ini. Intinya, kalau aku tidak makan, baru aku mati.

Bendi Afkir kesal dan mengaku tidak tahu maksudku. Lalu kuingatkan dia bahwa di tempat fotokopian, sekalipun aku tidak kerja di sana, aku tahu benda-benda seperti buku dan setumpuk kertas, apabila ditaruh di sebuah kardus, yang lebih dulu diletakkan selalu di bawah.

Aku punya uang cukup untuk makan dan tidak mati dalam waktu dekat, dan justru Bendi Afkir yang sering minta uang. Jika misalnya kuputuskan untuk tidak memberinya uang lagi, dia bisa mati dan ditaruh lebih dulu dalam kotak bernama neraka. Maka, dia seharusnya berada di neraka bagian bawah.

Sejak kukatakan itu, Bendi Afkir tidak kelihatan batang hidungnya. Aku tidak tahu di mana dia tinggal. Jadi, kucari jenderal dangdut itu ke sekitar warung yang biasa kami datangi. Aku tidak menemukan Bendi Afkir dan aku kelaparan. Harusnya aku tidak telat makan, jadi saat itu juga aku makan tanpa Bendi Afkir. Selesai makan dan membayar apa yang kumakan, aku kembali mencarinya.

Aku memang harus mencarinya karena sesuai sabda Tuhan, bseharusnya aku ada untuk membuat orang-orang lain dengan lancar pergi ke surga suatu saat nanti. Aku tidak tahu kenapa Bendi Afkir berpikir dia bakalan masuk neraka. Aku yakin dia masuk surga jika mau sembahyang dan sesekali membayar utang padaku. Seharusnya dia tahu dia punya kesempatan.

“Kenapa kau kabur, wahai jenderal dangdut?”

Aku kelelahan mencari Bendi Afkir sampai kira-kira sepuluh jam lamanya dan aku pingsan di depan pagar kuburan pada subuh hari itu. Lalu aku bermimpi melihat kakek berbaju rombeng mendatangiku dan memberiku sebutir telur. Lalu kumakan telur itu dan aku kenyang. Tidak lama kemudian, masih dalam mimpi itu, perutku mulas. Aku buang hajat begitu banyaknya sampai-sampai semua orang yang jalan di depan kuburan itu menghindariku dan berkata, “Nggak sopan, ya!”

Aku baru bangun dari pingsanku saat hari sudah siang, dan kali itu Bendi Afkir ada di dekatku dan menangis. Dia bilang ingin mengakhiri hidup, tetapi tidak tega kepadaku. Dia bilang ingin hidup bersamaku selamanya demi membuatku sadar. Dia juga bilang di dunia ini harga bahan makanan meningkat, jadi cara berpikir harus ditingkatkan agar kami semua tidak mati dan ditaruh di neraka paling bawah. Aku tidak tahu maksudnya, tapi dia berbisik, “Tuhan juga menciptaku sebagai sarana menuju surga.”

Dan kami pun berpelukan layaknya saudara kandung. (*)

Gempol, 27 Juli 2016 – 5 Maret 2019

KEN HANGGARA

Lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Buku terbarunya: Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018) dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).


[1] Disalin dari karya Ken Hanggara
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi Minggu 17 Maret 2019

The post Sabda Tuhan di Kepala Orang Gila appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 
Copyright © 2010- | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
About | Sitemap | Kid-Stories | Ethnic | Esay | Review | Short-Stories | Home