Partikel-partikel Tuhan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 13 Januari 2014

Partikel-partikel Tuhan


Odin

MUSIM dingin tiba-tiba membekukan wilayah Arktika[1]. Tak ada lagi yang sanggup meninggali Eranvej, kota yang sebelumnya hangat dan hijau itu. Sudah beberapa hari ini matahari tampak buram, seperti terpantul pada permukaan kolam yang keruh. Tiupan angin seperti hendak mengenyahkan segala sesuatu yang mencoba menantangnya.

Partikel-partikel Tuhan
Di antara hujan salju yang merintangi jarak pandang, samar-samar tampak seorang pemuda kurus ceking. Ia hanya membalut tubuhnya dengan kain wol tipis. Parasnya sudah membiru. Udara dingin membuat kulitnya terasa perih, dan lama-kelamaan menjadi kebal dan beku. Gigi-giginya bergemeletuk. Kedua tapak kakinya menyeret-nyeret salju di tanah. Meski merasa amat tersiksa, pemuda itu tetap berusaha menggerakkan lidah dan bibirnya untuk merapalkan puji-pujian kepada Ahura Mazda. Ia tak ingin rohnya ikut membeku bersama raganya.

Sepekan lalu, Raja Yima, pemimpin bangsa Arya, mendapatkan penglihatan dari Ahura Mazda, bahwa iblis Angra Mainyu akan mendatangkan musim dingin abadi di Eranvej. Untuk itu, sang raja memerintahkan seluruh rakyatnya agar secara serempak pindah ke negeri selatan. Semua mematuhi titah itu, tanpa ada yang mempertanyakan kenapa bencana itu bisa terjadi di bawah kuasa Ahura yang tak tertandingi.

Namun malapetaka tetap saja terjadi. Gempa bumi membelah jalur bersalju yang sedang dilalui oleh rombongan orang Arya itu, menciptakan jurang besar yang dasarnya tersaput bayang-bayang hitam. Untungnya, jika masih ada yang bisa disebut untung, pemuda yang kini terseok-seok sendirian di bawah rajaman salju itu tak ikut mati bersama mereka yang terjatuh ke dalam jurang tersebut, tetapi ia terpisah dari rombongan seorang diri. Semua terjadi atas kehendak Ahura Mazda, demikian ia selalu percaya.

Pemuda itu berhenti sejenak ketika langkahnya terasa semakin berat. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan perasaannya. Namun, ketika melakukannya, tenggorokannya malah terasa beku. Tak ada pilihan, ia pun melanjutkan berjalan lagi dengan langkah-langkah yang kian goyah. Dari arah depan ia melihat bayang-bayang tinggi besar menghampirinya, seperti bebatuan yang menjelma raksasa. Ia mulai tak mampu memastikan apakah ia masih sepenuhnya sadar atau tidak. Apa yang hendak kau hadapkan padaku wahai, Ahura Mazda? Aku sudah terlalu gentar untuk bertambah gentar lagi! Tubuhnya yang menggigil bergetar semakin dahsyat.

Sosok itu menampakkan diri: seorang lelaki berjanggut abu-abu dengan mata yang tertutup sebelah. Masing-masing pundaknya dihinggapi seekor gagak. Lelaki itu mengenakan jubah hitam bertudung. Ia menunggangi seekor kuda dengan delapan kaki. Apakah ia seorang Rateshtar, kesatria berkuda yang gagah berani itu? Tetapi siapakah Rateshtar yang mengenakan jubah hitam dan menunggangi kuda dengan delapan kaki?

“Apa yang hendak kaulakukan di tanahku?” lelaki berjubah itu bertanya.

“A… aku hendak pergi ke selatan di bawah perintah tuhanku, Ahura Mazda.”

“Tidak ada tuhan di atas tanah ini selain aku… Odin!”

Pemuda itu tersentak. Ia mundur selangkah. Lelaki berjubah itu mengacungkan tombaknya ke arah pemuda itu. Sebuah bola bercahaya melontar dari ujung tombaknya, melesap ke dalam dada pemuda itu, dan sekonyong-konyong menjalarkan hangat ke sekujur tubuhnya.

“Jika kau hendak untuk singgah atau menetap di tanah ini, kau hanya boleh menyembahku!” lelaki berjubah itu berseru. Suaranya tak teredam oleh riuhnya angin. “Sebab aku adalah penguasa dari segala yang ada di atas tanah ini. Kau harus mematuhi perintah-perintahku yang telah kuturunkan pada orang-orangku. Atau sihir yang kutanam dalam tubuhmu itu akan membakarmu hingga tubuh dan jiwamu menjadi abu!”

Pemuda itu bungkam dan menoleh ke belakang. Pikirnya, ia tak mungkin selamat jika harus kembali ke arah Eranvej. Lelaki berjubah itu, tanpa mengucapkan apa-apa lagi, lantas pergi meninggalkannya, melesat dan menyatu dengan bayang-bayang. Dahsyatnya badai salju seketika teralihkan oleh nama yang kini bergaung dalam benak pemuda itu. Odin!


Di Bawah Pohon Sesawi

DUA bocah lelaki berjongkok di bawah sebatang pohon sesawi yang tak begitu rimbun. Mereka tengah menekuri anak-anak burung bulbul yang terempas badai semalam dan terjatuh bersama sarangnya. Unggas-unggas mungil itu mati kedinginan. Bulu-bulu mereka yang kelabu masih mengkilap basah.

“Kasihan sekali mereka! Aku akan mengambil sekop,” kata bocah pertama. Ia bernama Messhulam.

“Kau mau menguburnya?” bocah kedua bertanya. Ia bernama Yeshua.

Messhulam mengangguk dan berlari ke arah pemukiman, meninggalkan Yeshua sendirian. Kedua bocah itu awalnya bermaksud untuk bermain di padang rumput itu, seperti yang sering mereka lakukan pada hari-hari sebelumnya. Mereka memang hampir setiap hari bermain bersama—dampu, kejar-kejaran, gasing—dan menangkap katak saat hujan (yang terakhir ini selalu membuat keduanya dimarahi oleh ibu mereka). Mereka juga suka mengajak anak-anak lain, termasuk saudara-saudara sepupu mereka, yang tinggal berdekatan di Nazareth.

Messhulam dan Yeshua tinggal bertetangga. Usia mereka tak berbeda jauh. Ayah mereka sama-sama bekerja sebagai tukang kayu. Ibu mereka sering menenun dan membuat roti bersama sambil mengobrolkan hal-hal remeh tentang rumah tangga masing-masing. Hari ini kedua ibu mereka bertemu di rumah Yeshua untuk membuat ash-tanur atau roti tabun. Sebenarnya, kegiatan itu hanya alasan kedua ibu itu untuk dapat bersua dan mengobrol sehingga mereka pergi bermain di luar selagi mereka sendiri asyik berkegiatan di dalam rumah.

Messhulam diam-diam mengagumi Yeshua. Meski mereka masih sama-sama berusia sepuluh tahun, Yeshua sudah bisa memahat mainan binatang-binatangan sederhana dari kayu, sedangkan Messhulam sama sekali belum menuruni kemampuan ayahnya. Di samping itu, Yeshua punya wawasan yang luas. Ia bisa menjelaskan hal-hal muskil yang tak tercantum dalam kitab Taurat. Oleh sebab itu, Messhulam suka mendengarkan ucapan Yeshua; atau sengaja bertanya, meski seringkali ia tak begitu memahami berbagai jawaban teman karibnya itu.

“Yeshua, apakah menurutmu cahaya yang bergelantung di langit itu, bintang-bintang itu? Apakah Allah tinggal bersama mereka?”

“Cahaya itu menurutku adalah bola-bola api, Messhulam. Barangkali tak tepat demikian, tapi kurang lebih bisa dipahami seperti itu. Di atas sana begitu hampa, begitu hitam. Tak ada yang bisa hidup, kecuali jika ada tempat seperti di Bumi ini. Lagi pula untuk apa pula Allah berada jauh di atas sana?”

“Apakah bola-bola api itu akan jatuh menimpa kita?”

“Kurasa tidak. Jarak mereka pasti begitu jauh dari Bumi.”

“Seberapa jauh menurutmu?”

“Sejauh jarak yang bisa kautempuh jika diberi hidup ribuan bahkan jutaan kali.”

“Wuaaah.”

Messhulam kerap memikirkan kata-kata Yeshua dengan penuh rasa takjub. Kelak ia akan menjadi pengkhotbah yang dikagumi banyak orang, pikir dia.


TAK lama kemudian, Messhulam muncul kembali. Ia berlari tergopoh-gopoh membawa sekop yang ia ambil, dari gudang rumahnya. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Yeshua masih berjongkok di bawah pohon sesawi yang sama. Ketika Messhulam menghampiri, terdengar suara cicit anak-anak burung dari tempat yang ditujunya itu. Yeshua terlihat tengah tersenyum-senyum sambil mengusap-usap kepala anak-anak bulbul yang meloncat-loncat di dalam sarangnya itu. Messhulam serta merta menghentikan langkahnya dan tak lekas mendekati Yeshua.

“Kita harus meletakkan mereka di atas ranting itu, Messhulam, supaya induknya tidak mencari-cari,” kata Yeshua.

“Ba… baiklah, biar… em… aku yang memanjat!” Messhulam menyahut terbata-bata. Ia meletakkan sekopnya di tanah, tapi tak juga beranjak dari tempatnya.


Kedai Kopi Odyssey

SUASANA kelam dipekatkan oleh cuaca yang mendung. Hanya sedikit lampu yang menerangi kedai itu. Tiap mejanya disekat dengan balok kaca hitam yang menjulang. Di salah satu dindingnya terdapat barisan huruf sans serif bercahaya putih yang membentuk kalimat: “The very meaningless of life forces man to create his own meaning.” (Stanley Kubrick)[2]. Potongan musik Also Sprach Zarathustra dari Richard Strauss yang mendadak muncul membuat suasana kedai itu sejenak menjadi agak mencekam. Suara musik itu berasal dari film 2001: A Space Odyssey yang baru saja disetel di keempat televisi 32 inci yang tergantung di langit-langit.

Di meja nomor 11 yang bersisian dengan jendela yang menghadap ke kota J, sepasang kekasih, lelaki dan perempuan, sedang seru membicarakan sesuatu.

“Jadi, kamu percaya bahwa ada sesosok organisme omnipoten, yang mampu menciptakan langit dan bumi, dan mampu mengendalikan alam semesta?”

“Tidak sepenuhnya, Rick. Entah bisa disebut organisme atau bukan. Aku hanya bilang bahwa aku percaya ada entitas superior yang menciptakan dan mengendalikan kita. Lagi pula, kenapa hanya manusia yang bisa membangun peradaban di antara spesies-spesies yang lain?”

“Kebetulan, Rachel! Itu semua terjadi karena rangkaian kebetulan!”

“Kau percaya dengan kebetulan?”

“Tentu! Aku tak mau… apalagi jika untuk membenarkan segala perkara yang terjadi di dunia ini… percaya bahwa ada makhluk yang begitu peduli dengan kita, ingin mengatur segala sesuatu tentang kita. Apa pentingnya buat Dia? Jika hanya untuk disembah dan dipatuhi, betapa Ia begitu obsesif dan… hmmm… rapuh.”

“Lantas, jika memang Tuhan… atau apa pun itu yang bisa disebut sebagai entitas superior… memiliki kepentingan, apakah itu salah?”

“Barangkali tidak. Tetapi, Tuhan yang memiliki kepentingan adalah Tuhan yang ‘dimanusiakan’… dan itu sungguh banal, seperti khayalan orang-orang zaman dulu. Tuhan diibaratkan seorang bapak tua berjanggut, mengapung-apung di langit, seenaknya mengatur hidup-mati seseorang, doyan memerintah, senang disembah dan dipuji. Seperti Tuhan dalam Pentateuch, misalnya. Ia begitu pemarah, bertingkah layaknya seorang tiran. Apakah kau sudi percaya pada Tuhan yang seperti itu?”

“Sifat-sifat itu, menurutku ya, hanya representasi dari apa yang tak mungkin ditafsirkan oleh indra manusia, Rick. Seperti seorang penulis memberi watak pada tokoh ceritanya.”

“Dan itulah yang membuat orang-orang menjadi sesat, Rachael! Manusia menciptakan Tuhan yang menciptakan manusia! How amusing is that! Lagi pula, Rachael, terlepas dari siapa yang menciptakan siapa, dalam teisme selalu ada dua pihak yang merasa berkepentingan. Yang pertama merasa berkepentingan untuk mengatur segala sesuatu tanpa alasan yang jelas… orang-orang beriman dengan naif menyebut tindakan itu didasari oleh cinta agape… dan yang kedua merasa berkepentingan untuk senantiasa menyembah Sang Pengatur itu supaya Ia tidak murka dan mengabulkan doa-doa mereka.”

“Jadi maksudmu hubungan antara manusia dan Tuhan adalah pertemuan dua kepentingan yang sama-sama bersifat egois? Begitu?”

“Persis, Rachael! Menurutku, jika kamu mau mempercayai Tuhan, kamu harus mencoba untuk menjadikan hubunganmu dengan-Nya lepas dari segala kepentingan.”

“Yakni dengan cara apa?”

“Dengan menjadi ateis sepertiku, Sayang!”

“Itu artinya tidak ada jalan keluar!”

Sepasang kekasih itu mendadak terdiam.

Sebentar kemudian Rick mulai terkekeh. Serempak, keduanya tertawa terbahak-bahak hingga air mata mereka mengucur. Rachael menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengetuk-ngetuk meja kaca di depannya.

“Kita seharusnya membicarakan rencana kursus pernikahan kita, Sayaaaang! Bukan ngomongin sesuatu yang enggak pernah ada ujungnya ini!”

“Kurasa Romo akan senang mendengar apa yang kuungkapkan tadi.”

“Kalau berani kita coba bicarakan di depan dia nanti. Ha-ha-ha!”

Rachael menyelesaikan sisa tawanya. Ia menyeka air mata yang tinggal setetes di pelupuk mata kanannya. “Sekarang aku mau ke toilet dulu, habis itu kita langsung ke Santo Fransiskus,” kata Rachael seraya bangkit berdiri menunjuk jendela di sampingnya. Jendela itu bergetar. Gelas dan piring di meja, bahkan lantai, ikut bergetar, berbarengan dengan terdengarnya bunyi dentuman yang merambat dari kejauhan. Asap hitam mengepul di tengah-tengah Kota J yang terlihat sebagian dalam jendela bundar itu.

“Ini sama sekali enggak lucu,” desis Rick.

Rachael dan Rick menatap beku ke tempat yang sama. Di antara permukiman penduduk yang menghampar di bawah sana, hanya beberapa kilometer dari tempat mereka berada saat ini, Gereja Santo Fransiskus baru saja diruntuhkan oleh bom.


Planet Knossos

SEBUAH pesawat kapsul berbentuk bola mendarat di samping sepetak tanah garapan yang dikelilingi kerumunan semak. Seorang perempuan turun dari pesawat itu, mengenakan pakaian astronot yang ketat berwarna biru dengan helm kaca yang memantulkan hamparan langit penuh awan.

Perempuan itu berjingkat ke arah tanah garapan itu. Ia memandang tunas-tunas yang tumbuh di situ dengan takjub. Selama ini ia hanya pernah melihat tumbuhan-tumbuhan transgenik di dalam rumah kaca laboratorium, terpisah jauh dari masyarakat umum. Di Bumi, banyak orang sudah tak pernah melihat tumbuhan lagi, kecuali para ahli botani dan buruh-buruh yang bekerja di laboratoriumnya. Sedangkan di Planet Knossos tumbuhan-tumbuhan liar masih banyak dan subur, menjalari tebing dan jurang, bahkan dasar laut. Tetapi, yang saat ini didapati oleh perempuan itu adalah tunas-tunas di atas tanah garapan, ditanam dengan sengaja oleh seseorang—atau sesuatu? Ketika ia mencoba mendeteksi tunas-tunas itu dengan alat pemindai yang terhubung dengan helmnya, ia tak menemukan informasi apa-apa. Data not found in database, demikian huruf-huruf muncul satu per satu di layar helmnya.

Perempuan itu mengambil sebuah benda mirip pistol yang terikat di pinggangnya. Ia menekan pelatuk benda itu dan cahaya kuning memancar menyinari salah satu tunas di hadapannya. Dalam hitungan detik, tunas itu meninggi, merimbun, berbunga, dan berbuah, sementara tanah di sekitarnya serta-merta memucat dan mengering. Buah-buah yang muncul menyerupai raspberry, berwarna jingga dan kuning. Perempuan itu membuka helmnya, memetik salah satu buah itu, memakannya, dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia merasakan sesuatu yang sama sekali tak pernah dirasakannya di Bumi: sensasi renyah dan rasa manis yang begitu segar, begitu liar.

Selagi ia asyik memetiki buah itu, sebuah pesawat kapsul lain mendarat di dekat pesawatnya. Seorang lelaki turun dari pesawat itu, mengenakan pakaian astronaut yang seragam dengan si perempuan. Lelaki itu membuka helmnya.

“Hei, Marion! Kau di sini untuk meneliti, bukan untuk merusak laju evolusi sebuah planet yang masih baru!” ujar lelaki itu dengan ketus. “Kau bisa kena sanksi!”

“Ah, kau terlalu banyak bicara, Henry! Cobalah makan ini!” Perempuan itu langsung menyodorkan buah yang ia petik ke dalam mulut lelaki itu. Henry mengunyah dan terdiam. Keduanya saling menatap dan mengulum senyum.

“Kau tetap harus mengentikan ini!” kata Henry sambil asyik mengunyah. Marion bergeleng-geleng dan berdecak-decak.

Menyusul percakapan mereka, sekonyong-konyong terdengar suara daun-daun yang bergesekan. Semak-semak di sekeliling tempat itu bergoyang-goyang. Puluhan makhluk kecil berbulu lebat muncul dari balik semak-semak itu. Makhluk-makhluk itu berlari dengan langkah-langkah kecil, berkerumun menghampiri Marion dan Henry. Henry buru-buru mengacungkan pistol lasernya. Akan tetapi, makhluk-makhluk berbulu cokelat itu malah bersujud menyembah mereka. Henry pun pelan-pelan menurunkan pistolnya.

“Jyuma pupile swaka nunabee!” Makhluk-makhluk itu serempak bersorak menyerupai paduan suara cempreng anak-anak di bawah umur.

“A…pa yang mereka inginkan?” Marion menoleh ke arah Henry.

“Mereka menyembahmu, Bodoh! Mereka melihatmu menumbuhkan pohon itu dan mereka mengiramu dewa!”

“Hei, jangan menyebutku ‘bodoh’ ya!”

“Hei! Yangan menyebutku bodo! Hei! Yangan menyebutku bodo! Hei! Yangan menyebutku bodoooo!” makhluk-makhluk itu bersorak meniru ucapan Marion.

Henry cepat-cepat menarik lengan Marion dan menatapnya lekat.


KAU urus semua ini sampai beres, Marion! Jangan sampai ada ilmuwan lain yang menemukan makhluk-makhluk ini, memindai otak mereka, dan wajah kita—wajahku terutama!—terpampang di layar komputernya. Aku tak ingin dituduh terlibat dalam ulahmu mengacaukan peradaban planet ini!”

“Kalau begitu kau harus menolongku!”

“Aku tak mau terlibat lebih jauh, Marion! Kita akan bertemu di ruang rapat!”

Henry pergi tanpa menoleh. Ia naik ke pesawatnya dan melesat ke balik pegunungan.

“Dasar, astro-arkeolog sial!” Marion menggerutu.

Ia lalu terbengong menatap puluhan makhluk cebol yang masih bersujud menyembah-nyembahnya itu. Dipuja-puja seperti Tuhan ternyata sama sekali tak menyenangkan, pikir dia. Marion menggaruk-garuk pipinya. Tiba-tiba sebuah ide terbersit di benaknya. Ah, sudah telanjur salah, kenapa tidak sekalian saja!(*)


22 Desember 2013


Catatan:

[1] Penganut Zoroastrianisme percaya bahwa leluhur mereka, bangsa Arya, berasal dari wilayah Arktika dan pernah membangun peradaban besar di sana sejak puluhan ribu tahun yang lalu sebelum Benua Arktika mengalami glasiasi. Mereka menyebut “tanah asal” mereka itu dengan nama Eranvej, Airyanam Vaejo, atau Airyanam Vaejah. Cerita ini terdapat dalam buku The Arctic Home in the Vedas (1903) karya Bal Gangadhar Tilak dan The Saga of The Aryan Race (1995) karya Porus Homi Havewalla.

[2] Kata-kata Stanley Kubrick yang saya kutip dalam cerpen ini bersumber dari wawancara majalah Playboy pada 1968 yang pernah dimuat dalam salah satu artikel Maria Popova di blog Brain Pickings: “Stanley Kubrick on Mortality, the Fear of Flying, and the Purpose of Existence: 1968 Playboy Interview”. Stanley Kubrick (1928-1999) adalah sutradara berkebangsaan Amerika Serikat yang pernah membuat sejumlah film, antara lain Spartacus, Lolita, 2001: A Space Odyssey, dan A Clockwork Orange.


Leopold A. Surya Indrawan lahir di Jakarta, 11 November 1989. Lulusan Program Studi Desain Komunikasi Visual, Universitas Pelita Harapan.


Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan Leopold A. Surya Indrawan
[2] Pernah dimuat di "Koran Tempo"

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi