Foto Tak Berbingkai | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 19 Mei 2014

Foto Tak Berbingkai


/1/
PAGI belum terang benar ketika itu, tapi tangis pertamamu yang kudengar dari kandang kambing membuat salatku tak khusyuk. Aku bergegas ke kandang. Ah, betapa aku tak percaya, terkesiap sekaligus gembira ketika tahu tubuh mungil yang terbungkus kain kafan itu adalah kamu, kamu yang masih balita. Aku pun membawamu sembari berteriak dan berkabar kepada seluruh penduduk desa. "Tuhan mengirim anak kehidupan dari surga," teriakku, girang.

Pagi itu aku merasa lebih bergairah, damar semangatku kembali berdenyar. Bagaimana tidak, sejak suamiku meninggal hidupku terasa tiada guna, anakku pergi 'konon ke kota cari kerja.' Hidupku benar-benar sebatangkara. Hanya kepada beberapa ekor kambing aku berbagi suka-duka. Bila hari naik sepenggala aku pun berkeliling kampung-desa mencari orang yang butuh jasaku sebagai tukang pijit.

Tapi sejak itu, duh, alangkah riang tak kepalang, seseorang tanpa diminta, Tuhan, duh, alangkah baiknya. Berkenan mengirim makhluknya. Sirnalah kesepian. Enyahlah keluh; tiap malam sepulang drai berkeliling kampung-desa dan tiba di rumah hanya bersambut suasana lengang dari ambang. Namun sejak kehadiranmu aku tak perlu lagi berkeliling kampung-desa hanya sekadar ingin membuang sepi, mencari sesuap nasi.

Kini di usiamu yang memasuki tahun ke tujuh betapa, maha pemurahnya Gusti Allah, segalanya tiba-tiba menjadi mudah, kekayaan, teman, terlebih penghormatan dari orang-orang kampung-desa. Tidak. Sekarang aku tak perlu lagi mendatangi mereka. Cukup bagiku duduk di atas tikar menunggu tamu datang tentu dengan oelh-oleh, uang dan beras.

/2/
Mula-mula kami mendatangi rumah mereka dan mendengar apa yang mereka bicarakan. Setiap kali bertemu mereka ibu selalu bercerita bahwa kelahiranku adalah mukjizat dan istimewa.

"Lihatlah sepasang matanya bening. Seperti telaga." Pada alin kesempatan ibu akan berkata, "Lihatlah, Anakku, selendang itu," bisiknya sambil menunjuk selendang yang tergantung dengan ranjang kurung.

***

Ilistrasi Oleh Joko Santoso
HINGGA kini aku tak kunjung mengerti dengan apa yang kulakukan. Ibu menganggapku istimewa. Setiap kali ibu hendak memijat pasiennya, atau perempuan yang sedang mengandung terlebih dahulu ibu melirik kepadaku seakan meminta petunjuk dari bagian mana kira-kira pasiennya itu akan dipijat. Aku pun menunjuk salah satu bagian anggota tubuh dan ibu pun segera mengikuti petunjukku. Tak jarang pula, kepada ibu yang sedang hamil aku selalu menganjurkan agar berbangga hati karena akan segera melahirkan anak laki-laki. Atau pada saat detik-detik proses melahirkan aku memberinya segelas air putih dan aneh selesai minum air yang kuberikan itu segala urusan baik yang hendak melahirkan maupun yang sakit biasa mendadak sembuh.

Aku pun menjadi pusat perhatian orang-orang; bukan hanya perempuan yang tengah mengandung, tetapi para pedagang, lelaki yang bekerja sebagai nelayan, petani nyaris setiap hari terus berdatangan dengan membawa sebotol air putih, memintaku agar mau menolong, agar usaha dan cita-citanya cepat terkabul, agar segera keluar dari kesulitan. Benar saja, apa yang kulakukan menjadi kenyataan, hingga ibuku berhenti berkeliling kampung, desa. Ia semakin sibuk melayani tamu-tamu yang datang ke rumah. Kalau aku kelelahan sehabis melayani tamu hingga larut malam, maka ibu tak akan segan-segan membelikan aku obat, atau membuatkan aku jamu; cacing dicampur daun sirih agar tubuhku tetap tegar, bila aku meminta diri istirahat sejenak, namun pada saat bersamaan datang tamu ibu dengan nada memaksa menyuruhku agar melayani tamu yang datang.

Hingga suatu hari ibu mendadak menolak pasien-pasien yang biasa datang ke rumah bahkan, seorang ibu yang tengah mengandung. Aku tidak mengerti kenapa ibu menolak pasien yang sudah sering datang ke rumah. Kepada mereka ibu bilang bahwa aku sedangs sakit, tak bisa melayani pasien.

Malam sebelumnya ibu kedatangan tamu tiga laki-laki. Mereka berbincang-bincang di ruang tamu, suara mereka terdengar pelan, ketika tamu-tamu itu puklang ibu menemuiku dan memamerkan sebuah barang yang tak pernah kulihat sebelumnya, baju, gelang dan cincin. "Ada hadiah buatmu," bisik ibu. Sepeda dan kursi empuk, "Mulai besok kamu tak perlu lagi duduk di tikar , kursimu empuk, hadiah dari calon pemimpin," kata ibu, bangga. "Dua-tiga hari lagi mereka akan datang dan kali itu suara ibu lebih pelan, jalan ke rumah kita akan diaspal hitam."

Terang aku bingung denganucapan ibu. Ibu mengajakku ke ruangan tamu, tempat biasa aku melayani pasien. Di sudut ruangan tamu terpasang kursi hadiah dari calon pemimpin, di dinding sebuah foto berukuran 3x4. "Itu foto calon pemimpin negara kita," bisik ibu. Aku bergeming. Di luar rumah, kulihat beberapa bendera terpancang di halaman. Aku tidak mengerti untuk apa semua ini, sesaat kemudian ibu menyuruhku segera tidur. "Besok kamu harus bangun pagi-pagi. Ada rombongan yang akan datang," kata ibu.

"Besok kita akan memiliki pemimpin baru dan yang terpenting, rumah kita akan diganti yang baru lengkap perabotan. Kamu akan dibuatkan tempat khusus." Ibu melirik ke arahku, "Asal mulai besok kamu fokus menanganinya, kerahkan kekuatanmu agar dia menang dalam pemilihan," Hening. Aku bergeming, "Kamu ngantuk sekali," imbuhnya, pelan.

Aku melihat pemandangan lain dari ruangan tamu. Foto berukuran 3x4 itu melayang-layang di atas api, lidahnya menjulur-julur menjilat api. Kulihat ibuku berjingkrak-jingkrak, antara senang dan menahan sakit. Pasien-pasien yang biasa datang ke rumah seperti segerombolan orang yang kebingungan, tetapi mereka sesaat bersorak setelah beberapa orang datang memberi bungkusan. Aku sendiri terus meronta: berteriak ketakutan setiap kali bermuka-muka dengan foto yang entah mendadak terlihat angker. Aku terjaga dan berteriak.

"Apakah pemimpin negara itu, Bu?"

"Itu yang kulupa, besok kutanya dia," kata ibu, bingung.

Hening.

Aku yang tak mengerti dan bingung dengan penjelasan ibu dan arti Pemimpin Negara terpaku menerawang ke langit-langit dan sesekali melirik ke arah jendela yang membingkai langit malam. [] -g

Yogyakarta, Jakarta
Kepulauan Musalima, 2014


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mahwi Air Tawar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" pada 18 Mei 2014


Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi