Mantra Politik - Politik Sapi - Suara Itu - Ringking Penculik Berkuda | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 05 Mei 2014

Mantra Politik - Politik Sapi - Suara Itu - Ringking Penculik Berkuda


Politik Sapi

Seketika Bayern Guardiola menyiapkan serangan terbuka.
Tak perlu jeda. Para pedagang sapiyang lagi sibuk menyiasati, tak peduli. Permainan baru saja dimulai. Pada hitungan ketiga barulah dibuka harga. Harga diri yang dijual murah sekali.

Ini bukan sale, tuan. Tapi permainan yang menakar suaradan janji yang membabi buta. Di tiang gawang kekuasaan sudah ditayang. Akankah suara rakyat mampu menjebol gawang?

Bagi Mourinho, Madrid bukanlah pedagang sapi, "Kalian pegang bola api, kami tak sudi pegang kepala sapi!"

Apalagi sapi memaksamu tinggal di balik jeruji besi.


Mantra Politik

Bidak itu telah maju tiga langkah. Kuda yang dinaiki satria mengaku turunan Dewa mengangkat kedua kakinya. Ia bertelapak baja meski berkarat di sudutnya. Suara ringkiknya kini seperti gumam senja.

Menteri yang mungkin disebut Sengkuni tak betah menyendiri. Ia ia ingin berlindung di balik Raja yang gamang. Tak ada lagi lagu mantra yang bisa menyulut apinya. Ia kini tak berapi dan hanya berdiri dicekam tepi.

Tapi siapakah yang berteriak skakmat padahal kerisnya telah lumat. Ia hanya punya busur dan satu mata panah yang uzur. Sedang tali busur itu kian kendur.

Mantra itu kian lamat
bersuaka di liang senjakala


Suara Itu

Suara itu tetap tak mau mengaku bahwa itu suaramu yang kutemukan sendirian di bilik ketika orang-orang hilir mudik. Mencari suara yang ketakutan lalu bersembunyi di lipatan kertas. Ternyata suara, angka dan gambar saling sesumbar melempar kabar.

Baru saja kabar kuterima. Suara sudah serak bunyinya. Tak ada lagi nama yang menyeretnya. Hanya diam. Tak ada kata yang bisa menghitungnya.

Suara itu hilang ketika aksara tak lag bermakna.


Ringkik Penculik Berkuda
Di atas kuda berkepala singa ia berselempang angkara di dadanya. Dilepasnya tali kekang lalu ia bersuara keras. "Kudaku lari tanpa kata hati. Menggilas sepi!"

Di pinggangnya terselip luka berurai memancarkan darah hingga kaki, tangan dan wajah. Tapi masih tersisa kisah. Orang hilang terbilang di daratan. Atau di lautan?

Dan tuan tetap meradang enggan pulang.


Dukun Politik

Sesudah membolak-balik tangannya
di atas dupa yang merajalela
Desis suara itu menggerayangi wajah pucat pasi
Terdampar di tepi sesaji

Ternyata suara yang berjanji memberimu kursi
Membelot di bilik bilik
Wajah dan namamu terbalik-balik

Di antara alas dan paku
Mantera dukun itu menatap kaku
Lidahnya jadi batu

Batu melatu hanguskan anganmu


Berita Politik

Pada serangan pagi buta
Pintu terbuka sambil menawarkan harga
Untuk sebuah kursi seharga peti mati

Pada gerilya di berbagai cuaca
Suara diselempangi label angka
Untuk sebuah nama seharga berhala

Pada hitungan siang kala
Tak tersisa nama yang terlupa
Untuk sebuah gila dunia

"Dalam waktu yang singkat orang-orang ila merajalela," kata berita


Kambing dan Kampanye Sama-Sama berbulu Hitam

Di kandnag singa, kambing tetap mengembik tanpa
menyeringai karena bukan singa lapar yang mencabik kabar.
Bukan karena gusar. Bukan karena rakyat kambing lapar

Di kandnag kambing yang berbulu hitam, singa geram. Ia mengaum mengancam para penyantun. Wajah-wajah yang terpaku di pohon resah. Tak ada lagi paku di bilik.

Di kamar berita semua kabar diputar. Kepala dan kaki saling ditukar. Lalu semua dicat hitam hingga semua hilang gambar.

Kalau putih kau kubidik.
Saudara, para paku telah diculik!

Wates April 2014



*) Slamet Riyadi Sabrawi, lahir 12 Juli 1953 di Pekalongan. Mantan anggota Persada Studi Klub (Yogya, 1973-1978), Dokter hewan lulusan FKH UGM (1980) dan Master Public Health FK UGM (2004). Menulis sejumlah antologi puisi. Editor antologi puisi Bulaksumur-Malioboro (bersama Linus Suryadi AG dan Halim HD) (1975). Sekarang bekerja di LP3Y sebagai Asisten Direktur.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Slamet Riyadi Sabrawi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" pada 4 Mei 2014



Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi