Cara Bodoh Mengolok-olok Quentin Tarantino ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 30 Juni 2014

Cara Bodoh Mengolok-olok Quentin Tarantino


Naskah Konyol dari Rue Didot

APAKAH kau pernah melihat sutradara film Quentin Tarantino dipermainkan habis-habisan oleh penulis tidak terkenal dari Paris? Jika belum, kau wajib membaca kisah-kisah yang kuterjemahkan dari naskah yang diberikan Yves Coffin, penjaga perpustakaan di Rue Didot, kepadaku. Kau tidak perlu melacak tajuk asli teks satire ini. Di naskahnya tak tercantum judul dan nama pengarang.

Oya, terjemahan selalu lebih buruk dari karya asli. Akan tetapi percayalah, kalimat-kalimat yang kususun lebih baik karena pengalaman mengajarkan bahwa menerjemahkan karya buruk justru bisa menghasilkan cerita cemerlang.

Kini sebaiknya segera kau simak cerita-cerita itu.


Pulp Fiction

Cara Bodoh Mengolok-olok Quentin Tarantino
KAU harus mengingat namaku. Aku Mia Wallace. Aku putri porselin, suamiku bos narkoba paling kejam. Tentu saja aku cantik. Aku mirip Uma Thurman, sedangkan suamiku serupa Mike Tyson.

Sehari-hari—pada waktu yang kubayangkan antara 1993-1994—aku bisa melihat apa pun yang terjadi di seantero rumah hanya dengan melihat layar CCTV. Aku bisa melihat suamiku menghajar anak buah yang tak becus mengurusi geng-geng saingan atau kawan-kawan yang berkhianat. Aku bisa melihat suamiku memalu kepala, melemparkan orang dari balkon ke halaman, memutuskan jari tangan, atau menembakkan pistol ke lambung siapa pun.

Hari ini suamiku pergi, sedangkan aku menunggu Vincent Vega yang, kau tahu, adalah salah satu anak buah suamiku. Bertubuh tinggi. Tidak terlalu berotot. Agak sableng. Wajahnya mengingatkanku pada John Travolta.

Kuawasi Vincent Vega lewat layar CCTV. Dia tampak seperti orang udik yang baru kali pertama bertandang ke rumah orang kaya. Aneh juga. Bukankah dia baru saja datang dari Amsterdam? Bukankah dia bisa dengan fasih menceritakan rasa hamburger dari Paris.

Lewat interkom, aku meminta dia membuat minuman. Akan tetapi dasar sableng, dia justru menghirup heroin. Aku yakin, sebelum ke rumahku, dia juga sudah menghajar nadinya dengan beberapa suntikan.

“Kau tak boleh mati sia-sia, Vincent,” aku membatin, “kau masih harus menyelamatkan dan mengawalku ke mana pun.”

Vincent Vega tentu saja memang bukan juru selamat. Dia hanya laki-laki iseng yang ingin kuajak ke Jack Rabbit Slim’s, kelab penggemar Elvis Presley untuk mendengarkan musik rock ‘n roll sambil merasakan sensasi dilayani oleh para pelayan berdandan dengan gaya Marilyn Monroe.

“Kau menyukai Amsterdam?” aku bertanya asal-asalan setelah sampai di kelab.

Vincent menggeleng.

“Paris?”

Vincent menggeleng lagi.

“Milk shake?”

Vincent mengangguk.

“Kalau begitu minumlah milk shake-ku.”

Vincent menyeruput minuman itu dengan sedotan yang telah terkena lipstikku.

“Apalagi yang kau sukai? Kesunyian? Keriuhan? Angin? Pantai?” kataku sambil mengunyah buah anggur pelan-pelan. “Kau boleh tak menjawab pertanyaanku. Tetapi aku bisa menebak kau tak suka pada kesunyian. Seperti aku, kau suka anjing. Seperti aku, kau berisik saat bercinta. Seperti aku, kau menyukai tantangan. Aku tahu kau ingin sesekali berkelahi dengan suamiku. Dan itu hanya bisa kau lakukan dengan mengajakku kencan tanpa malu-malu….”

“Kau yakin aku akan berani berkelahi dengan Marsellus?”

Aku mengangguk.

“Kau yakin aku akan mencumbumu setelah makan malam?”

Aku mengangguk.

Vincent Vega tampak kaget. Dia tak menyangka betapa aku sangat tertarik kepadanya.

Akan tetapi rupa-rupanya Vincent Vega bukan tipe laki-laki rakus. Dia tidak menyentuhku sama sekali. Bahkan ketika kuajak menari di lantai dansa dan kupancing dengan gerakan-gerakan yang merangsang, dia cuek saja.

Ah, masih ada cara lain. Aku bisa menaklukkan Vincent Vega di rumah. Akan kuajak dia minum hingga teler, mendengarkan musik, dan….

Tidak! Tidak! Tentu saja aku akan mengajak dia menghirup heroin dan melayang bersama. Tetapi segalanya tak seperti yang kuharapkan. Kuhirup heroin, dan aku mengalami overdosis. Hidungku berdarah. Itu berarti Vinvent Vega belum menjamahku, tetapi dia harus berurusan dengan Marsellus. Marsellus tentu akan menghajar dan membunuh Vega dengan atau tanpa tangan sendiri.

“Sial! Kau tak boleh mati, Mia. Kalau kau mati, aku juga akan mati!” kata Vincent Vega sambil mengendarai mobil kesetanan.

Kudengar dia menelepon temannya. Dia berharap sang teman bisa menyelamatkan nyawaku. Dia ketakutan.

“Siapa dia?” kata seseorang yang kemudian kuketahui bernama Lance, setelah kami tiba di halaman sebuah rumah dan menabrak pagar.

Vincent Vega tak menyebut namaku.

“Rasanya seperti Uma Thurman?” kata Lance.

Vega tak menjawab. Dia meminta Lance membantu menggotongku ke dalam. Kudengar, setelah itu, mereka bercakap tentang suntikan adrenalin. Kedua bajingan tengik ini ternyata belum pernah menyuntikkan adrenalin ke tubuh siapa pun yang mengalami overdosis.

“Tak usah kau tolong aku, Vincent. Pergilah jauh-jauh dari Marsellus.”

Vincent tidak mendengarkan perintahku.

Bersama Lance dia berusaha menemukan jantungku. Agar nyawaku tertolong, suntikan itu harus tepat menembus jantungku.

“Aku takut salah,” kata Lance.

“Sial. Seharusnya kau kuliah di kedokteran sebelum jadi bandar narkoba,” hardik Vincent.

Aku ingin tertawa mendengarkan apa pun yang mereka percakapkan, tetapi segalanya kabur. Aku tak sanggup menolak apa pun yang bakal dilakukan kepadaku. Untunglah di tengah situasi yang kacau, Vincent Vega berhasil menghunjamkan suntikan adrenalin itu ke jantungku. Jleb! Aku pun sadar.

“Jangan sampai Marsellus tahu ya?” kata Vincet Vega.

“Akan kuceritakan semuanya kepada Marsellus,” kataku menggoda.

Vincent ketakutan.


AKU tahu kemudian Vincent Vega ditembak. Sebaliknya aku tak tahu apa pun tentang Butch Coolidge, petinju yang kemenangan dan kekalahannya diatur oleh suamiku. Tetapi yang kudengar sebelum itu, suamiku meminta Vincent Vega mencari Butch. Aku yakin Vega tak bisa meghadapi petinju mirip Bruce Willis itu. Belakangan kuketahui ternyata Butch-lah yang menghabisi Vincent Vega dengan senapan laras panjang. Senapan yang dibawa oleh Vincent Vega saat memburu Butch. Butch pula yang berusaha membunuh Marsellus.

AKU malas menceritakan kepadamu tentang Marsellus. Aku tahu dari Butch, raksasa pemangsa siapa pun itu diperkosa—maksudku, disodomi—oleh Zed, aparat predator.

“Dia tak jadi tuhanku lagi,” kata Butch lewat telepon. “Ia tak jadi tuhan Jules Winnfield atau Vincent Vega lagi.”

“Di mana Marsellus sekarang, Butch?”

“Marsellus bilang, ‘Aku dan dia sudah tak ada’.”

Tak ada? Semoga saja Butch hanya bercanda.


Kill Bill

KOMPOR, diktator, bayam, runyam, gerimis, iblis. Kompor, diktator, bayam, runyam, gerimis, ib… aku tak mau menghafal kata-kata itu. Aku tak mau jadi penyair. Karena itu, sejak kecil, aku belajar menembak, memukul orang, menusukkan pedang, dan mengucapkan kata-kata kotor. Aku lebih bangga bilang, “Kamu buaya busuk!” ketimbang “Ini hujan pertama seorang paderi. Ini cinta pertama seorang paderi.”

Aku tidak bernama. Tetapi aku tidak bisa menolak orang lain memberiku nama. Satu-satunya nama yang kuingat hanya Bill. Bill, lelaki yang seandainya melarikan diri ke neraka pun tetap akan kubunuh.

Membunuh Bill bukan pekerjaan mudah. Aku harus membunuh banyak orang dulu sebelum menghajar Bill. Pertama, aku harus membunuh bajingan-bajingan yang hendak memperkosaku saat aku tak berdaya di rumah sakit. Kedua, aku mesti menghabisi kawan-kawan yang pernah karib denganku dalam kelompok pembunuh yang dipimpon oleh kekasihku itu. Ya, ya, aku telah membunuh perempuan Afro-Amerika di depan putri manisnya yang masih berumur empat tahun; aku telah membunuh perempuan berambut pirang penggemar ular yang lebih dulu kuhajar di rumah-mobil; aku telah membunuh perempuan yang tak penting diingat siapa dia; aku telah membunuh perempuan berdarah Tiongkok-Amerika-Jepang dengan pedang samurai Hattori Hanzo.

Dia bersama puluhan anak buahnya bisa kubunuh karena mereka mengabaikan kekuatanku dan tak percaya bahwa seorang perempuan Amerika seperti aku bisa memainkan dan mendapatkan pedang samurai yang mematikan.

Aku sesungguhnya menyesal telah membunuh dia. Membunuhnya, aku seperti menusukkan pedang samurai ke tubuh bocah berusia sembilan tahun. Kau tentu ingat pada usia sembilan tahun dia menyaksikan orang tuanya dibantai oleh seorang bos Yakuza dengan pedang samurai juga.

Akan tetapi penyesalanku sungguh tidak berguna. Aku harus segera membunuh Bill.

Tak mudah membunuh Bill. Aku harus menghapus pesonanya terlebih dahulu. Pesona seorang pemimpin geng. Oya, apakah kau punya pengalaman membunuh seorang kekasih yang telah menanamkan bayi di perutmu? Apakah kau bisa membunuh lelaki yang mengasuh putri terkasihmu? Dikubur hidup-hidup oleh koboi tengik—yang juga kawan satu geng—saja aku bisa keluar dari makam mengerikan, masak sekarang aku tak bisa membunuh Bill?

Ternyata sangat gampang membunuh Bill. Aku hanya perlu menunggu dia mabuk dan mengajaknya bertempur dengan pedang samurai. Setelah itu aku menotok jalan darahnya dengan gerakan yang dulu kupelajari dari Sang Guru di Tiongkok, segalanya begitu cepat berakhir.

Meskipun demikian kurasa dia tak akan mati. Akan tetapi, sekali lagi, ternyata dia sangat rapuh. Dia mati karena mengabaikan kekuatanku, kekuatan perempuan terluka. Kekuatan yang hanya dimiliki oleh perempuan yang diabaikan saat hamil. Kekuatan yang muncul karena seseorang tak diberi kesempatan untuk melepaskan diri dari geng para pembunuh dan kawin dengan pria biasa.

Tapi kukira di neraka Bill dan para musuhku tak akan tinggal diam. Mereka akan bersekongkol lagi membunuhku, hingga aku takluk, hingga aku tak berdaya.

Aku sebenarnya tak takut, tetapi Sang Guru—mungkin terbang dari surga—datang kepadaku pada saat salju turun di keheningan senja.

“Kau tak perlu melawan mereka lagi,” katanya. “Kau hanya perlu melawan dirimu sendiri.”

Aku tak tahu maksud Sang Guru. Aku diam saja.

“Kau harus takut pada dirimu sendiri.”

“Takut pada diri sendiri?”

“Ya,” kata Sang Guru lagi. “Jika tak hati-hati ia akan membunuhmu dengan berbagai cara.”

Aku tak terlalu paham pada kata-kata Sang Guru. Tetapi, aku bukan perempuan pemberontak lagi. Aku akan patuh pada kehendak Sang Guru. Aku akan berjuang melawan diriku sendiri. Melawan sesuatu yang sulit dirumuskan sebagai musuh sejati. Melawan rahasia….


Inglourious Basterds

ADA tiga kesalahan Adolf Hitler yang menyebabkan dia terbakar di gedung bioskop. Pertama, Sang Fuehrer terlalu percaya pada Kolonel Hans Landa, Pemburu Yahudi gegabah yang merasa pintar itu. Kedua, dia tidak melarang pemutaran film dalam acara Malam Jerman di Paris pada suatu hari 1944. Ketiga, dia tidak mengenal aku, Shosanna Dreyfus, yang bakal membunuh dia bersama ratusan warga Jerman yang pura-pura suka pada film Stolz der Nation karya Goebbles, Menteri Propaganda Nazi Jerman di Le Gamaar, gedung bioskopku.

Hans Landa seharusnya tak layak dipercaya. Sebagai serdadu, dia terlalu baik karena memberi kesempatan kepada Shosanna Dreyfus, perempuan (yang sangat mungkin membunuhnya) untuk melarikan diri dari keganasan senapan. Sebagai detektif, dia tak awas sehingga tak mampu mencari persamaan antara Shosanna Dreyfus, namaku yang asli, dan Emmanuelle Mimieux, aliasku. Dia terlalu yakin bakal tak ada perempuan yang mampu menyimpan amarah dan dendam.

Seharusnya saat menawariku susu dan rokok, Hans Landa bilang, “Aku mencium bau amarahmu. Kau tak perlu banyak tingkah jika tak ingin kucekik di toilet.” Akan tetapi, dia tak mengasah kecermatan, sehingga membuat aku bersama Marcel, kekasihku, leluasa merencanakan pembakaran terhadap makhluk-makhluk rapuh Jerman itu.

Adapun Hitler, menurutku, terlalu percaya pada manfaat film sebagai alat propaganda. Bagiku, film itu cuma candu yang memabukkan. Film memang bisa membangkitkan rasa kemenangan semu para serdadu yang berhasil membunuh ratusan musuh, tetapi tidak mampu mengobati jiwa yang sakit akibat ketidakmampuan menghargai liyan. Andaikata Hitler menganggap film sebagai pelembut hati—yang memungkinkan dia memberi kesempatan Yahudi tidak sebagai makhluk usiran dari dunia—dia tak akan gampang terbunuh. Setidak-tidaknya dia tak akan terbakar mirip babi panggang setelah tubuhnya ditembus puluhan peluru dari para pembenci Nazi.

Hitler juga terlalu gegabah meminta Goebbles membuat film berjudul Yahudi Terakhir di hadapanku. Permintaan itu melukaiku. Tak akan ada Yahudi terakhir. Yang ada Hitler yang akan habis dalam genggaman amarahku.

Apakah aku bahagia akan bisa membakar Hitler? Sama sekali tidak. Hans Landa-lah yang kuincar. Kematian Hitler tak penting. Kematian Hans Landa-lah yang kuharapkan.

Akan tetapi jujur saja aku tak tahu apakah Hans Landa masih berada di Le Gamaar saat gedung bioskop itu terbakar. Sebagai iblis, bisa saja dia keluar sesaat sebelum Marcel melakukan tindakan agung yang telah kami rancang bersama.

Hanya, jika saja dia tak terbakar, aku yakin akan ada Pemburu Nazi yang menguliti kepalanya dan menorehkan tanda swastika di dahi dengan belati. Di mana pun dan kapan pun.

Karena itu, pada detik-detik terakhir paling menentukan, aku tak terlalu memikirkan Hans Landa. Aku hanya berteriak lantang, “Ayo, Marcel, kita mulai sekarang! Kita bakar siapa pun yang menganggap Yahudi cuma anjing usiran!” dan tak akan ada lagi yang memburuku di padang rumput pedesaan atau pun jalanan Paris yang terang-benderang.


Django Unchained

PADA tahun 1858 (sebelum Perang Saudara) mereka bisa memperlakukan kami seperti anjing di jalan. Tidak hanya itu. Kami juga dijadikan sebagai santapan anjing. Kami bisa dijual kepada para pemburu budak. Kami juga bisa dibunuh jika mereka tak membutuhkan lagi daging kami. Daging? Ya, sejak dulu, mereka sudah membunuh jiwa kami. Jiwa kami lebih dulu mati ketimbang daging kami.

Aturan untuk kami memang tidak tertera di dinding-dinding rumah para tuan tanah dan juragan budak. Akan tetapi kami tahu: (1) harga kepala kami tak lebih bernilai dari hati kera, (2) kami tidak boleh menunggang kuda, (3) jika kami pria hanya menjadi satwa aduan atau semacam gladiator tengik, jika kami perempuan hanya jadi tukang masak atau, kalau kami sedikit cantik, kami bisa jadi pemuas syahwat majikan, (4) kadang-kadang kami bisa juga jadi tuan bagi negro lain, tetapi hanya penjilat busuk yang mau menjadi antek para juragan, (5) kami tidak boleh melarikan diri, (6) kami hanya boleh memilih mati jika tak sepakat lagi dengan apa pun yang diperintahkan sang majikan.

Jangan heran jika siapa pun menyebut namaku Broomhilda. Juga jangan tertawa jika ada yang memanggilku Broomhilda von Schaft. Aku memang negro, tetapi aku lahir di Jerman dan paham apa pun yang kau percakapkan dalam bahasa Jerman.

Efek Jerman—King Schultz, mantan dokter gigi yang menjadi pemburu buron berhadiah juga seorang Jerman—pada waktunya nanti akan menyelamatkan hidupku. Jika saja aku hanya negro Afrika, tak akan bisa kubayangan apakah aku masih bisa bercerita kepadamu atau tidak.

Oya, tetapi mereka—orang-orang Amerika itu—memanggilku Hildy. Mereka memperjualbelikan aku dan suamiku sesuka hati. Mungkin suamiku—kelak kau menyebutnya sebagai Django—dijual di Texas dan aku di Mississipi. Tentu sebelumnya mereka telah mencambuk punggung kami. Tentu sebelumnya mereka telah meludahi wajah kami.

Baiklah aku akan mulai dari akhir cerita: Semua yang berbuat jahat padaku akan mati di Candyland. Mereka tentu saja pantas mendapatkan hukuman itu. Alasannya? Pertama, mereka telah menghukumku direndam telanjang bulat lebih dari 10 hari di kolam panas. Kedua, mereka melarangku menatap Django dengan pandangan yang kasmaran dan penuh kerinduan. Ketiga, Steven (sesama negro yang mengabdi pada para Tuan Amerika itu) menginterogasi dan tak menginginkan aku hidup lebih bermartabat.

Ada juga alasan lain. Yang jelas, mereka mempermainkan perasaanku di depan kekasihku, melecehkanku seakan-akan hargaku hanya 12.000 dollar, dan yang tidak bisa kumaafkan Calvin Candie—kau menyebutnya sebagai Tuan Amerika—mengancam memalu kepalaku dengan pukul besi di depan Django dan Dokter Schultz.

“Apakah hargaku memang hanya 12.000 dolar, cintaku?” kataku kepada Django.

“Tidak ada yang bisa membelimu, Hilda. Tak ada. Tak juga Calvin Candie atau juragan sekaya apa pun.”

“Tapi kenyataannya Dokter Schultz membeliku.”

“Dia membelimu untukku, Hilda. Dia juru selamat kita.”

Hmm, Dokter Schultz bahkan lebih dari sekadar juru selamat. Dia malaikat pencabut nyawa bagi juragan tengik seganas Calvin Candie. Dialah yang menembak dada setan belang itu.

Tetapi tentu saja terima kasih terbesar kuucapkan kepada Django. Dia telah menembak dan membakar Steve untukku. Negro tengik, kau tahu, lebih berbahaya dari seribu Calvin Candie yang suka mengadu kaumku. Kaum yang mereka anggap lebih nista dari anjing atau aneka kotoran di toiletmu.


Aku dan Quentin Tarantino

BEBERAPA jam lalu aku bertemu dengan Quentin Tarantino di Le Claufotis Restaurant di Sunset Boulevard. Aku mendekat ke meja sutradara paling kocak sejagat yang sedang melahap escargot terenak di Los Angeles itu dan kuperkenalkan namaku.

“Aku Jimmy. Aku baru saja menerjemahkan teks-teks dari Prancis yang bakal merusak reputasimu, apakah kau bersedia membaca? Oya, aku sahabat Marsellus Wallace. Aku dekat dengan para bajingan di kota ini dan sanggup menulis kisah mereka untukmu.”

Quentin Tarantino terkejut. Melihat wajahku, dia seperti menatap hantu.

“Aku tak suka skenario orang lain. Itu selalu menipu.”

“Kau jangan menganggap remeh terjemahanku. Setelah kau baca kau baru akan tahu betapa film-filmmu tak seru dan tak lucu.”

Quentin Tarantino tampak ingin marah padaku. Matanya mendelik dan sejurus kemudian tangannya menjulur mencekikku.

“Hanya setan yang bisa bikin skenario film yang lucu dan seru. Jika kau sudah merasa termasuk golongan setan, kau boleh bergabung denganku.”

Kubiarkan dia mencekikku. Kubiarkan dia menjadi bintang utama yang berusaha membunuh seorang penulis yang tengah menawarkan skenario yang lebih busuk ketimbang berbagai skenarionya.

Arggggh, sungguh kuat cekikan itu… dan kurasa dia benar-benar berniat membunuhku. Membunuh seseorang yang telah susah-payah membawa naskah lucu dari Paris untuk sutradara gemblung itu.(*)


Semarang, 24 Mei 2014


Catatan:
Uma Thurman adalah pemeran Mia Wallace dalam film Pulp Fiction. Demikian juga John Travolta (Vincent Vega) dan Bruce Willis (Butch Coolidge). Jimmy adalah tokoh yang diperankan oleh Quentin Tarantino dalam film yang sama.


Triyanto Triwikromo beroleh Penghargaan Sastra 2009 Pusat Bahasa. Buku-bukunya, antara lain, Surga Sungsang (novel, 2014) dan Celeng Satu Celeng Semua (kumpulan cerita pendek, 2013)


Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan Triyanto Triwikromo
[2] Pernah dimuat di "Koran Tempo" pada 29 Juni 2014

Share:





Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya



Arsip Literasi