Pranata - Dana Umum - Perempuan Berpayung Hujan - Kaki-kaki Maribaya | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 23 Juni 2014

Pranata - Dana Umum - Perempuan Berpayung Hujan - Kaki-kaki Maribaya


Pranata

[dukamu, p--------]

tentu saja aku ingin mencintaimu
tapi, bersama redup matahari
aku melangkah mundur
menjauh dari hatimu
berjalan seorang diri bersama rahim yang terisi
ia tidak pernah memiliki kesalahan

tiba-tiba, aku merasa tertipu
tabiatmu yang ambigu
selalu membuat resah
puisi-puisi yang tersaji setiap pagi
hanya membawa luka

pohon-pohon di halaman
telah menghilangkan bayangan
dan bulan ada di atasnya
mencermati melalui sulur-sulur 
semuanya fatamorgana

aku memilih sepi
menghunus kata-kata 
agar rahimku selamat

dalam kesendirian
aku membayangkan kamu
kita pernah satu tubuh
dalam lingkaran api
keringat menggantikan airmata
dan suaramu begitu ingin kuhindari

kamu muncul
bersama bunga-bunga di tangan
sementara aku, 
mengelus perut yang semakin menggembung
sambil melingkari kalender 
bersuara takut-takut

aku tak berani memandang apapun
tanganmu yang kekar itu telah melukai jiwa
sayang, kamu tidak pernah mengerti
atau pura-pura tak merasakan

tentu saja aku ingin mencintaimu
sebab kita akan menjadi satu nama
melewati lorong gelap
memperbaiki segala kesalahan
menumbuhkan jiwa agar tak kerdil
SudutBumi, 2014

Dana Umum

merasa hidup dalam monopoli
memilih bayar pajak atau mundur selangkah dan masuk penjara 

sementara mereka memakan uang rakyat dengan lahap
tak peduli banjir merendam rumah-rumah sampai atap

hidup dalam monopoli
berkeliling negara hanya dengan mengaduk dadu
membangun rumah dan hotel 
menyewakan beragam fasilitas
dan jangan lupa membayar tagihan air dan listrik

di dalam monopoli
aku menjadi penguasa
bebas memasukkan orang ke dalam penjara
menimbun uang bahkan mampu membeli pegawai bank

sekali-kali mencari kesempatan
mundur selangkah atau masuk penjara

hei, akulah pengusaha yang pailit
tapi, masih ingin memingit
harta dan kuasa
tak peduli berkongsi tidak khawatir dengan segala peraturan

akulah penguasa
sesuka hati melempar dadu
memutus jaringan telepon karena lupa membayar cicilan

katanya orang bijak bayar pajak
tapi, mengapa mereka memakan derita rakyat
mereka galak dan suka kelakar
dan kami lelah meratap
SudutBumi, 2014

Perempuan Berpayung Hujan

#satu
di gerbang ia datang
menyapa dan mengajak menepi

aku sedang tidak berduka, hujan
hatiku berbunga sebab berhasil melipat langit

lihat matahari begitu cerah
kamu datang dan memaksa pagi jadi murung


#dua
setiap berjalan ke rumah itu
diam-diam ia mengikuti

langit warna pastel dan hujan kenangan
menghitamkan mata

aku si pemungut kata-kata
mengarsipkan puisi dalam
kitab paling pualam

#tiga
di bawah temaram lampu jalanan
mozaik warna rindu mengelu

aku mengundangnya
agar doa sampai ke langit
dan semesta mengabulkan pinta
SudutBumi, 2014

Kaki-kaki Maribaya

ini hutan lumut
dingin dan tikungan menjadi tipuan

tidak ada kekasih
angin telah menjadikannya tinggal nama

cemara berjajar 
buah-buahnya menjadi alat pelempar
bernama cinta

suara air terjun hilang
setapak penghubung tak ada
sebab hujan setiap pejalan mati rasa

akar-akar menjadi langit
kaliandra memagut kepak burung 
atau sebaliknya

rapatkan jaket dan sweter
agar suara langit yang meraung dapat diredam
ia memanggil namaku yang hampir tersesat

kaki-kaki maribaya
menjelma raksasa terpasung
tanjakan melumpuhkan daya
melepas rasa khawatir

ada teriakan
terpantul di antara warung-warung
pertigaan dan rumpun bambu

aku hendak pulang
tapi, pagar besi menyuburkan pendatang

muslihat di tepi hutan
di bawah kucuran matahari
sebenarnya tak ada petualang
hanya suara-suara para khianat
SudutBumi, 2014


Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada Sekar Arum (eMail: tulisansekar@gmail.com) atas kiriman karya puisi ini kepada klipingsastra. Salam Sastra

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dian Hartati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Riau Pos" 




Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi