Tinja Dabo | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Sabtu, 03 Juli 2010

Tinja Dabo


KOTA basah kuyup jam dua malam. Dari balik langit hitam, jemari raksasa itu belum juga letih menabur serbuk-serbuk air ke bumi. Jalanan senyap. Orang-orang mengurung diri dalam rumah. Sembunyi dari gigitan dingin. Sesekali terdengar desis roda mobil berlari menyibak gerimis. Tiang lampu jalan menjulang bagai pepohon besi tanpa daun dan ranting. Di pucuknya, lampu bundar memancarkan cahaya bulat keemasan.
Dabo gelisah tak bisa tidur. Punggungnya bersandar di tembok. Sepasang kakinya selonjor di atas bentangan tikar plastik usang dan kardus bekas. Sarung cokelat kumal yang melapisi badannya kalah melawan dingin. Wajah Dabo pucat. Bukan karena cuaca atau tempias yang sesekali membentur wajah. Sedang terjadi perang dalam perutnya. Dia merasa tak enak badan.

Mungkin masuk angin. Sejak tadi tangan kanannya mengeram di balik kaus kumal. Mengelus-elus perut yang terasa tegang melilit. Sesekali bibirnya gemetar lirih mendesiskan nama Tuhan. Dabo butuh obat, tapi dalam cuaca buruk macam itu tak ada gerobak warung yang masih buka. Cuma minyak kayu putih dalam botol kecil di genggaman tangan kirinya yang dipakai mengurapi perut dan sesekali dihirup aromanya. Kepala Dabo mendongak. Entah menatap serbuk gerimis yang menari ritmis di bawah sorot lampu jalan atau berharap Tuhan memberi sedikit perhatian kepadanya.
Emper trotoar di mulut jalan sebuah kompleks pertokoan tua di jantung kota. Itulah rumah Dabo. Ruko-ruko dua lantai berderet di ruas jalan itu. Toko elektronik, pakaian, sepatu, bakery, atau pangkas rambut. Siang hari jalan itu riuh rendah. Aneka wajah dan kendaraan hilir-mudik. Pekik klakson kendaraan-kendaraan yang gusar karena terjebak macet atau mencari ruang parkir menambah keruh suasana.

Sebagian trotoar di ujung jalan dipenuhi deretan lapak kayu milik pedagang kaki lima yang menjual buah-buahan, mainan anak-anak, kaset, atau VCD bajakan. Ruas jalan itu sunyi senyap kala malam. Hanya ada beberapa mobil pemilik ruko parkir di tepi jalan. Bangunan-bangunan tua tampak murung. Suasana remang menerbitkan kecemasan.
Dua ratus meter belok kanan dari mulut jalan tempat Dabo tergolek, ada taman kota dengan tugu menjulang di tengahnya. Pemulung, gelandangan, waria, dan anak jalanan biasa berkumpul di sana. Ada yang sibuk memilah dan merapikan barang bekas, ngobrol ngalor-ngidul menunggu pagi, ada juga yang menjejali perut dengan arak murahan. Sempat terpikir dalam benak Dabo untuk ke sana. Seorang dari mereka tentu bisa dimintai tolong mengerik punggungnya. Tapi, jangankan melangkah, bangkit pun Dabo seperti tak punya tenaga sama sekali.

Dabo jarang kumpul bersama mereka. Dia lebih suka menyendiri di mulut ruas jalan itu. Bagi warga liar di taman, Dabo seperti lelaki tanpa masa lalu. Tak ada yang tahu siapa nama aslinya. Pada setiap orang yang bertanya asal-usul dan keluarganya, jawaban Dabo selalu berbeda. Anak-istrinya di pulau seberang, anak-istrinya tewas dalam kecelakaan, istrinya dibawa kabur lelaki lain, bahkan pernah Dabo mengaku bujang lapuk. Jika ada yang dongkol karena merasa dikibuli, Dabo cuma nyengir.  Apalah pentingnya riwayat pemulung, celetuk Dabo ringan.

Taman yang sudah puluhan tahun jadi penanda kota itu kerap dirazia. Selain mengganggu ketertiban, mereka dianggap merusak pemandangan. Mujur nasib Dabo. Dia selalu luput dari razia karena sedang berburu sampah dan barang bekas. Setiba di taman sore hari, dari beberapa anjal yang selamat setelah lari lintang pukang dari kejaran pamong praja, dia dapat kabar banyak yang diciduk. Dabo cuma melongo. Di benaknya tergambar sosok-sosok aparat berseragam gelap membawa pentungan yang satu saat kelak bisa saja menciduknya. Tapi begitulah, setelah razia, semua kembali berjalan seperti biasa. Taman kembali ramai dengan pemulung, gelandangan, waria, dan anak jalanan. Wajah-wajah asing pun datang dan pergi menghiasi penanda kota itu.

***
HAJAT besar sudah di depan hidung kota itu. Tak lama lagi pemilihan gubernur digelar. Kota menjelma rimba iklan. Kian hari kian banyak saja spanduk, poster, stiker, umbul-umbul, dan baliho di sepanjang jalan. Semua berisi gambar calon gubernur dan kelompok pendukungnya. Yang ukuran kecil ditempel di tembok, halte, tempat ibadah, warung makan, atau dipaku di batang pohon peneduh jalan. Spanduk dan bendera dipasang di tiang telepon atau marka jalan. Ada yang berisi pantun bernada humor, meniru iklan, atau memakai bahasa daerah. Umbul-umbul dan baliho besar ditancapkan di tempat-tempat strategis. Bahkan Dabo pernah melihat sepasang bendera raksasa berkibar di puncak bukit pinggiran kota. Gambarnya pasangan calon gubernur dan logo sebuah partai.
Beberapa waktu lalu Dabo melihat arak-arakan manusia menyesaki separuh badan jalan. Semua mata tertuju ke sepasang becak di bagian terdepan. Bukan pengayuh becak berkepala plontos berkaus sebuah partai yang jadi pusat perhatian, melainkan dua lelaki gagah berseragam safari yang duduk di masing-masing becak. Mereka mengumbar senyum seraya melambaikan tangan ke sana-kemari. Beberapa orang sibuk mengawal di kiri-kanan becak. Ratusan orang lainnya mengekor jalan kaki. Dahi mereka berkilat tertimpa cahaya matahari siang bolong. Beberapa wartawan sibuk memotret penumpang becak.

Dari celetukan orang-orang, Dabo tahu mereka iring-iringan calon gubernur dan wakilnya yang mau mendaftar ke sebuah kantor. Dabo nyengir kuda melihat betapa jenakanya mereka. Sambil melanjutkan mendorong gerobak, Dabo bertanya-tanya dalam hati. Apa mereka naik becak karena tak sanggup lagi beli bensin setelah harga BBM naik? Apa mereka masih mau naik becak jika jadi gubernur? Tapi, Dabo lebih yakin mereka cuma cari muka.

Dabo meringis. Dia ingin sakit perutnya cepat sirna. Magrib tadi ada pemulung memberitahu tentang calon gubernur yang mau kampanye di alun-alun besok siang. Dabo mau ke sana. Dia tak keberatan berkerumun siang bolong, berteriak mengikuti yel-yel sambil sesekali mengepalkan tangan ke udara. Biasanya seusai kampanye ada acara bagi uang di sudut yang agak jauh dari panggung kampanye. Itu yang diincar Dabo. Dua puluh atau lima puluh ribu rupiah bakal mengisi kantongnya. Belum lagi jika ada orkes dangdut. Tak usah ditawari dua kali, dia akan berjoget, menghibur hidup yang miskin menahun.

Celoteh orang-orang di atas panggung? Dabo tak ambil pusing. Baginya, mereka cuma menabur janji menebar simpati yang kelak berbuah pepesan kosong. Dabo memang melarat, tapi tak bodoh. Dia cuma ingin mengambil apa yang bisa diambil dari semua calon gubernur. Dia pernah berhasil membawa pulang dua plastik berisi sembako setelah antre berdesakan-desakan. Pernah pula mendapat sehelai kaus tipis. Peduli setan siapa yang kelak terpilih. Toh, tak ada bedanya buat Dabo. Berapa kali ganti gubernur, berapa kali ganti presiden, nasibnya tak berubah. Tetap saja cari makan dari tumpukan sampah.

Subuh buta ketika warga kota masih menyelesaikan mimpinya, Dabo sudah berenang di tempat pembuangan sampah. Memunguti dan membersihkan apa saja yang masih bisa dijadikan uang. Kardus, botol, atau plastik bekas air mineral. Ditemani cericit gerombolan tikus got dan denging lalat hijau yang mencari sisa makanan, dia tak merasa kesepian. Mereka pun tak dianggap sebagai saingan. Setelah gerobak penuh, setelah malamnya dibersihkan, besok siangnya barang-barang itu dijual ke penampung. Dia selalu punya alasan untuk menaikkan harga hasil memulungnya, terlebih setelah harga BBM naik.

***
Gencatan senjata dalam perut Dabo tak tahan lama. Baru sebentar tidur, perutnya bergolak lagi. Dia mengerang menahan kesal dan sakit. Kali ini ada yang berontak dalam perutnya. Mendesak dan kian mendekati ujung anus. Dabo bergegas balik badan, mundur dua langkah, nungging di tepi trotoar. Suara berondongan sember kontan terdengar begitu Dabo memelorotkan jins buntung berikut kolor kumalnya. Kepalanya menengok ke belakang. Memastikan cairan cokelat keruh dan gumpalan-gumpalan kecil itu larut bersama genangan air, raib ke dalam lubang selokan.

Dabo membuang napas lega. Disekanya keringat dingin di dahi dengan punggung tangan kiri. Sampah dalam perutnya telah dikuras habis. Tapi masalah baru menyusul. Bagaimana membersihkan dubur? Tak mungkin pakai sarung kumal yang melilit lehernya. Pandangan Dabo menyapu sekeliling. Bola matanya berkilau saat menemukan sesuatu tergolek di trotoar tak jauh dari tempatnya jongkok. Tanpa pikir panjang Dabo bangkit. Langkahnya lucu saat berjingkat dengan kaki mengangkang sambil memegangi celana yang menggantung separuh paha.

Hujan angin merontokkan spanduk putih seukuran bendera itu dari tiang marka jalan. Ada sosok pria gagah berpeci tersenyum di dalamnya. Seorang calon gubernur. Dabo tak peduli. Setengah memaksa diloloskannya ikatan spanduk dari kayu. Digenggam, dikibas-kibas mengusir pasir yang melekat, lalu diremasnya spanduk basah itu. Dabo celingukan kiri-kanan. Memastikan tak ada yang memergoki kelakuannya. Setelah dirasa aman, tangan kirinya menjulur ke selangkangan. Disekanya anus yang basah dengan spanduk itu. Setelah beberapa kali poles, Dabo puas duburnya telah bersih meski masih terasa lembab. Sebelum dicampakkan, disempatkannya melirik spanduk. Dabo menyeringai jijik melihat sisa tinjanya melekat di mulut pria dalam spanduk itu.
***
Bandarlampung, 2008

Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan M. Arman AZ
[2] Pernah dimuat di Tribun Jabar

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi