TOP ARCHIEVES

Koran Republika

Kumpulan Puisi

Kedaulatan Rakyat

Monday, 29 September 2014

Perempuan yang Menolak Dipanggil Ibu


Kau datang kepadaku tepat pada sebuah titik balik dalam hidupku, yang menyeret beribu kenangan pahit, getir, juga penyesalan yang panjang. Sungguh aku tidak tahu apakah kedatanganmu ini sebagai berkah atau kutukan karena aku sendiri tak lagi mampu membedakan keduanya. Aku mohon maaf bila aku bersikap terlalu keras. Selama ini aku berguru pada hidup dan hidupku mengajariku begitu. Selama ini hidupku jauh dari berkah dan aku berkarib dengan segala hal yang bernama kutukan.

Namun sesungguhnya yang paling membuatku merana, sekaligus ingin muntah, adalah ketika kau memanggilku Ibu. Mungkin aku pantas menyandang panggilan itu karena aku perempuan, sudah tua, terlebih pernah melahirkan seorang jabang dari rahimku. Bagiku panggilan penghormatanmu itu bernada sebaliknya, meskipun panggilan itu hanya basa-basi, soal kepantasan dan formalitas belaka. Kau seperti meludahi wajahku.

Mungkin kau belum pemah mendengar bagaimana riwayat hidupku sehingga kau tampak terkejut. Aku bisa mengerti. Kau tak mengenalku. Kalaupun kau pernah mendengar tentangku, itu pun sepotong-sepotong. Aku akan bercerita kepadamu momen-momen penting dalam hidupku. Jika nanti kau benci padaku biar kebencianmu beralasan. Jika pun nanti kau memaklumiku, semoga itu menjadi bekal awal yang menarik untuk kematianku.

Perlu kau tahu, aku lahir dari keluarga fakir. Tetapi aku dikaruniai wajah ayu. Hal itulah yang membuat bandot tua Jumiran kesengsem berat. la pun mengawiniku secara ijon. Ayahku sudah diberi panjar meski aku masih ingusan. Ketika aku akil balig, bandot itu lalu memboyongku. Di rumahnya, sudah ada perempuan lain. la biasa kupanggil Yu Kas, yang merupakan istri tua Jumiran. Terhitung secara resmi aku istri kedua, meskipun perempuan Jumiran berada di tiap tikungan. Meski aku tidak tahu pasti tentang koleksi perempuan Jumiran, tetapi karena yang berbicara Yu Kas, aku percaya.

"Biarlah dia berkelana ke mana-mana dan tiap kelokan jalan punya simpanan, tetapi ia akan tetap pulang juga ke sini, karena ini rumahnya," demikian kata Yu Kas.

la berkata demikian sebagai cara berdamai dengan diri dalam menghadapi laki kami berdua. Aku sendiri tak paham tetapi aku mengangguk saja, sebagaimana aku tak begitu paham dengan arti berumah tangga. Aku lebih banyak bermain dan bermanja-manja. Aku mendapatkan banyak hal yang selama ini tidak aku dapat di rumah orang tuaku.

Jumiran sendiri seorang pedagang hasil bumi yang berhasil. la sering bepergian. Jaringannya antarkota antarprovinsi. Aku pun jarang disentuhnya. Konon, ia mengawiniku hanya sebagai kebanggaan, bukan sebagai pemuas nafsu. Ini aku pahami setelah lima tahun di tempat itu, dan aku berubah menjadi seorang gadis yang melampaui apa yang aku bayangkan selama ini. Aku diajari banyak hal oleh Yu Kas, terutama soal berumah tangga. Sesekali Jumiran pun turun tangan mengajariku berniaga. Karena dipandang cerdas, aku dipercaya mengelola uang untuk dibayarkan kepada beberapa pekerja suamiku ketika ia di luar kota.

Mungkin kebebasan yang diberikan kepadaku terlampau besar sehingga aku berani berulah, salah satunya menggoda lelaki lain, termasuk Mas Adi, sopir truk yang bekerja pada Jumiran dan usianya hampir sebaya denganku. Apalagi aku merasa lelaki muda itu menaruh hati kepadaku karena jika ia memandangku ia begitu menghamba. Mungkin kau akan mengutukku, perempuan model apa aku ini? Tetapi saat itu, darah mudaku masih bergelora, terlebih aku merasa berkuasa dan jarang mendapatkan sentuhan kasih.

Mas Adi menyambut godaanku dengan berani. la termasuk sopir paling ganteng di antara pekerja lainnya. Ia masih bujangan, meskipun ia mengaku tak lagi perjaka. Ia telah mengobral keperjakaannya di Ngujang, lokalisasi dekat makam keramat, yang sering dikunjungi orang untuk pesugihan. Ini juga aneh, kenapa ia sampai mengobral rahasianya kepadaku, tetapi soal itu aku pandang sebagai bentuk kepercayaan. la percaya kepadaku dan sedikit berharap perhatianku. Terus terang aku sempat tergerak juga karena jika aku sedang berdua dan dengan mencuri-curi melihat tampang kami di depan kaca mobil atau kaca jendela depan rumah, aku merasa sebenarnya aku demikian cocok bersanding dengannya. Tetapi bukankah aku milik orang lain? Aku istri majikannya?

"Masita, kita jalan-jalan ke Pantai Popoh, cari angin, tetapi jangan sampai tahu Kang Jumiran," ajaknya berulang kali.

Pada awalnya aku hanya menganggapnya sebagai balasan godaan ku, meski aku menangkap sinyal yang teramat serius di sudut matanya. Aku hanya tersenyum bila ia merayuku. Meski aku mau, tentu aku tak bisa mewujudkannya. Itu terlalu tabu. Hingga suatu hari Jumiran memanggilku ke ruang tengah. Di situ sudah ada Yu Kas. Aku tidak tahu adakah sesuatu yang genting karena selama ini aku tidak pernah diperlakukan demikian.

"Laporan keuanganmu bulan lalu kok tidak beres?" tanya Jumiran, begitu pantatku menyentuh bantalan kursi.

Aku tergagap! Bukankah selama ini laporan keuanganku juga tidak beres dan tidak pernah terjadi apa-apa. Adakah sekarang telah berubah?

"Aku buat untuk tambahan beli gelang. Yang uang Mas berikan itu tidak cukup membeli yang besar," terangku.

"Agar semakin cantik di mata Adi?" sergah suamiku.

Aku seperti tersengat listrik. Baru tiga kali ini aku menambah uang untuk perhiasan. Dulu kalung, lalu anting-anting dan gelang. Sebelumnya, setiap aku menyisihkan uang, itu aku kirim ke orang tuaku. Perlu kau tahu,aku adalah tulang punggung keluarga orang tuaku. Mereka masih begitu sering berharap uluran tanganku karena aku sulung dan adik-adikku begitu banyak. Tentu tuduhan suamiku itu menerbitkan perasaaan risau. Terlebih ia menyebut Mas Adi dalam perkara ini.

"Tidak, Mas!"

"Kas telah bercerita banyak. Kau boleh melakukan apa pun, tetapi bermain mata dengan lelaki lain adalah aib bagi kehormatanku," tukas Jumiran

Aku diam seribu bahasa. Yu Kas yang aku anggap hanya sebagai patung batu itu ternyata berubah jadi mata-mata. Ah, kenapa seorang perempuan selalu menganggap perempuan lain sebagai ancaman, meskipun tampaknya tak ada persaingan? Entah kenapa, saat itu aku menangis. Aku merasa demikian teraniaya karena aku dituduh melakukan sesuatu yang tidak aku lakukan. Naifnya, aku tidak bisa membela diri. Yu Kas pun membeber beberapa kali aku bicara secara akrab dan melebihi batas juragan- buruh dengan Mas Adi. Laporannya begitu lengkap.

Kau tahu bagaimana kisah hidupku selanjutnya? Mungkin kau menganggapku bodoh, tetapi inilah yang aku lakukan. Aku keluar dari rumah itu dan kawin dengan Adi. Sebuah keputusan yang teramat bodoh. Langkah yang aku tempuh semakin membuat Jumiran dan Yu Kas meyakini seribu persen bahwa kami selama ini memang sudah menjalin hubungan gelap.

Kami memilih berlabuh di Surabaya. Mengontrak sebuah kamar di Rungkut. Adi lalu bekerja sebagai sopir yang menjadi pemasok barang-barang di supermarket di Tunjungan. Setengah tahun kemudian aku mengandung. Aku ternyata tak begitu kenal Adi. Begitu aku hamil, ia berubah frontal. Aneh memang. Sungguhkah ia ingin mengawiniku karena soal hasrat seks saja, karena begitu aku hamil, ia... ah, tak baik aku ceritakan kepadamu soal ini.

Pada saat aku butuh perhatian itulah ia kecantol sales kosmetik yang kerja di supermarket Ia berterus terang kepadaku. Aku tak mengerti apa maksudnya, tetapi yang jelas membuat posisiku demikian terjepit. Ah, dasar buaya darat dia! Ternyata aku tidak mengerti sisi lain ini dari Adi. Ketika aku melahirkan di rumah bidan di Rungkut yang mengantarkan adalah tetangga karena Adi tidak di rumah. Ia mengaku lembur, padahal dari seorang kawan karibnya yang menjengukku, ternyata Adi ke Malang bersama sales itu. Bahkan mereka sudah menikah siri di sana. Jika diibaratkan piring kaca, hatiku sudah terbanting berkeping-keping.

Pada saat bayi itu lahir aku memutuskan sebuah langkah keji: aku menitipkannya di panti asuhan. Aku tak punya harapan untuk menjadi seorang ibu yang baik. Aku beri nama ia Pertiwi. Itu pun atas saran bidannya. Harapanku agar kelak ia bisa menjadi ibu yang baik, dan tidak seperti aku. Aku berharap ia diasuh oleh sebuah keluarga berkecukupan, baik-baik dan bisa menjadikannya orang.

Mungkin kau mengutukku perempuan macam apa aku ini? Tetapi itu yang paling masuk akal yang harus aku lakukan. Aku di Surabaya seorang diri. Apa yang bisa aku lakukan sebagai seorang perempuan tanpa tabungan, pengangguran, dengan bayi merah di tangan? Apalagi aku berkeinginan untuk meninggalkan Adi. Ia telah mencederai kepercayaanku. Terlalu banyak yang aku pertaruhkan ketika aku harus minggat dengannya.

Ketika aku telisik lebih jauh, sebenarnya aku meninggalkan anakku karena aku merasa Adi juga bersalah. Meski jika ingat itu aku sendiri tak tahu kenapa betapa bodohnya aku. Aku pergi dan hingga kini tak pernah bersua. Sejak itulah aku mulai bekerja macam-macam. Mulai jadi babu, buruh pabrik, penjaga warung, dan lainnya. Rata-rata aku keluar dari kerjaku karena aku perempuan dan cantik. Entahlah, apakah kecantikan bukanlah berkah buatku atau malah kutukan, aku tidak tahu.

Ketika menjadi pembantu di rumah A Liong, ia ingin menjadikanku istri kedua. Istrinya mencak-mancak dan mengusirku. Begitu di pabrik rokok, mandorku pun bertindak kurang ajar, sehingga aku keluar. Ketika menjadi penjaga warung di Wonokromo, aku digaruk petugas kamtib karena warungku dianggap warung remang-remang. Akhirnya, dari kenalan seorang preman Terminal Wonokromo, aku terdampar di Lokalisasi Bangunsari.

Awalnya aku tidak pernah berpikir menjadi pelacur, tetapi karena kebutuhan hidup, juga karena tuntutan menyantuni adik-adikku di kampung, aku nekat. Ah, mungkin kau menganggapku orang yang suka menempuh jalan pintas, tetapi apa yang bisa dilakukan oleh seorang wanita muda, cantik, tak berpendidikan, bahkan menginjak bangku SD pun tidak.

Aku di Bangunsari 15 tahun. Terhitung lama bagi perempuan yang menekuni bisnis tubuh. Terhitung lebih dari lima kali aku menggugurkan kandunganku, karena aku kebobolan meskipun aku sudah minum pil. Sebuah tindakan yang jauh dari rasa keibuan, bukan? Aku juga punya kiwir-kiwir alias kekasih. Sebenarnya bagi seorang lonte, mencintai seorang laki-laki adalah pantangan karena cinta lonte pada semua laki-laki. Tetapi aku merasa ada yang kosong dalam hati ini jika tak punya tambatan hati. Kiwir-kiwirku berganti-ganti dan tidak pandang profesi. Asal aku merasa nyaman dan merasa terlindungi, itu sudah cukup. Untunglah kiwir-kiwirku memperlakukanku dengan baik karena kiwir-kiwir kawanku banyak yang suka memeras, minta duit saja, atau haanya minta tidur gratisan semata.

Pada tahun 1991 aku berhenti. Aku tahu tubuh ini tak bisa dipaksa terlalu lama melayani laki-laki hidung belang. Aku bertekad menjadi germo karena aku hanya tahu bisnis ini. Aku tak punya keahlian dan keterampilan apa-apa. Akhirnya aku menjadi germo dan punya anak buah sepuluh. Pada saat menjadi germo inilah aku merasa bisa semakin mandiri dan berkuasa. Aku pun berlaku keras kepada anak-anak asuhku terkait dengan kebobolan. Bagi anak buahku yang telat, aku langsung memerintahkan digugurkan. Aku sudah tahu peta dukun aborsi se-Jabotabek, bahkan dokter-dokter aborsi di Surabaya. Jauh dari rasa keibuan, bukan? Aku memang kejam.

Memang pernah ada beberapa koran Surabaya yang menulisku sebagai mucikari yang baik hati. Aku juga dikatakan sebagai perempuan penuh kasih pada sesama kaumku. Sejak awal aku memang berusaha membekali anak-anak asuhku dengan keterampilan. Beberapa di antaranya keluar menjadi perempuan yang tidak hanya mengandalkan tubuhnya untuk hidup. Aku bersyukur jika kau belum membaca Koran-koran itu karena pada dasarnya ketenaranku itu hanya semu. Kenyataan yang ada tak seindah kabar. Tenarku adalah soal aib.

Tadi kau bertanya, apakah aku tak membangun rumah tangga setelah pisah dengan Adi. Aku memang tak bertekad berumah tangga begitu aku menjalani hidup di lokalisasi, tetapi begitu aku jadi mucikari, aku punya teman hidup. Namanya Pram. Asli Malang tetapi lama hidup di Bandung, sebelum akhirnya terdampar di Surabaya. Ia lebih muda dariku, terpaut enam tahun. Kami hidup dalam satu atap dan dia ikut mengelola wismaku. Meski aku tahu dia seorang biseks, tetapi aku nyaman bersamanya.

Kadang kenyamanan itu lebih penting daripada sekadar cinta. Ia juga mengajariku banyak hal, terutama membuatku semakin percaya diri, juga baca tulis, meski sudah sangat terlambat. Ia juga mengajariku soal kepribadian, yang aku pandang sebenarnya penting diketahui oleh kaumku yang berbisnis tubuh.

Ketika usiaku menginjak 51 tahun, anak-anak asuhku merayakan ulang tahunku secara spesial dengan pesta meriah. Entahlah, pada saat itulah aku merasa ada yang kosong dalam hidupku. Bahkan, pada taraf tertentu, setelah pesta itu, aku seperti orang linglung. Kondisi itu tidak hanya pada diriku, tetapi juga fisikku. Aku begitu cepat lelah. Akhirnya aku ke dokter untuk mengetahui kesehatanku. Pada saat periksa ke dokter, aku baru tahu kalau aku terkena AIDS, bahkan sudah batas medium. Kata dokter, aku telat kontrol. Mendengar vonis itu, dunia terasa runtuh. Tetapi aku berusaha tegar. Risiko kena penyakit ini sudah bisa diprediksi, tetapi sama sekali tak pernah merasuk ke pikiran. Bahkan membayangkannya pun tidak berani.

Mungkin kau bertanya sejak kapan penyakit kutukan itu menimpaku dan dari mana asalnya? Aku tak tahu pastinya sejak kapan, tetapi siapa yang menulariku aku tahu.

"Aku yang duluan kena, Sita. Maafkan aku, karena aku tidak berhati-hati kepadamu," kata Pram ketika aku mengabarinya pasca periksa. Pengakuan Pram sempat membuatku muntah, tetapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Ibarat nasi, ia sudah terpanggang menjadi arang. Seharusnya aku tahu risiko berhubungan dengan Pram, tetapi aku mengabaikannya.

Pram mati lebih dulu, dua tahun setelah itu. Jadi, terhitung setahun lalu. Setelah Pram mati, aku pun hengkang dari wisma, dan akhirnya menyerah di rumah sakit ini. Sepertinya aku pun tak akan lama lagi di dunia ini. Tubuhku sudah demikian ringkih. Ah, kau jangan menangis begitu. Tubuhku dulu tak begini. Penyakit inilah yang membuatku seperti tengkorak hidup. Tak usah kau menangis. Aku senang kau datang ketika aku sudah tak berdaya dan tinggal menunggu ajal. Sebelum aku mati, aku ingin minta maaf atas segala kesalahan orang yang tak tahu diri ini, meskipun kau bisa saja tidak memaafkanku.

Ah, mendengar bagaimana kau mencariku, aku merasa demikian dihormati. Tetapi janganlah memanggilku Ibu sebagai bentuk penghormataan itu. Aku merasa tidak layak dipanggil demikian, meski itu sebenarnya panggilan biasa untuk perempuan yang lebih tua. Terus terang, meski di bilik hatiku aku merasa tenteram, tetapi sejatinya panggilan itu seperti meludahi wajahku. Panggil aku apa saja, asal bukan Ibu, meskipun kau adalah anak kandungku sendiri, Pertiwi.


*) MASHURI lahir di Lamongan, Jawa Timur, 27 April 1976. Belajar berkesenian di Komunitas Teater Gapus dan Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) Surabaya. Novel pertamanya Hubbu (Gramedia, 2007) merupakan pemenang pertama sayembara menulis roman Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2006.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mashuri
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" pada 28 September 2014

 
Copyright © 2010- | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
About | Sitemap | Kid-Stories | Ethnic | Esay | Review | Short-Stories | Home