Pertemuan Kesekian ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 29 September 2014

Pertemuan Kesekian


MEREKA kembali berada di meja yang sama, dan tengah saling bertukar minuman yang mereka pesan. Milo dingin milik perempuan itu terasa segar, sedangkan capuccino panas miliknya tak seenak yang ia bayangkan. Perempuan itu tersenyum, menawarinya lagi Milo dingin miliknya itu, namun ia menggeleng. “Kenapa?” tanya perempuan itu. Ia berdiri, beranjak memasuki Alfamidi lagi, dan tak lama kembali dengan segelas Milo dingin di tangannya. Perempuan itu tertawa lalu bertanya siapa yang akan menghabiskan capuccino panas yang sebelumnya dipesannya itu. “Malaikat maut,” jawabnya. Perempuan itu kembali tertawa.

Pertemuan Kesekian
Malam itu hujan tak turun, meski suhu tetap dingin. Perempuan itu tak memakai blazer hitam yang dibawanya, sehingga ia jadi punya alasan untuk meletakkan tangannya di pundak perempuan itu, dan sedikit mendekatkan tubuh perempuan itu ke tubuhnya. Perempuan itu sempat mengingatkannya pada tatapan tak nyaman orang-orang di meja lain, tapi ia tak peduli. “Biar saja mereka iri,” bisiknya, tepat di telinga perempuan itu. Perempuan itu selalu mengernyit. Seperti biasa perempuan itu selalu merasa geli setiap kali ia melakukannya. Dan seperti biasa, ia selalu tak kuasa menahan diri untuk tak mencium pipi perempuan itu setiap kali mereka sudah nyaris tak berjarak seperti itu. Perempuan itu menatapnya. Entah senang, atau terganggu.

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, malam itu pun mereka adalah pengunjung terlama yang berada di sana. Mereka menjadi saksi dari perubahan suasana Bara pada masa-masa ujian tengah semester ketika orang-orang yang mereka duga mahasiswa hanya akan ramai berlalu-lalang hingga jam sembilan. Mereka di sana, dua orang yang bukan lagi mahasiswa, dua orang yang tak lagi tinggal di kawasan itu sejak lama, dua orang yang baru saja menempuh perjalanan berjam-jam yang bagi orang lain mungkin tak masuk akal. “Kamu lelah?” tanya perempuan itu. Ia tersenyum. Ia menduga perempuan itulah yang sesungguhnya lelah. Kelopak mata perempuan itu terlihat berat. Ia menduga kepergian perempuan itu kali itu tak semudah yang sebelum-sebelumnya. Ia menduga, suami perempuan itu mulai curiga.

Kadang ia memikirkan apa yang mereka lakukan ini, bagaimana mereka bisa sampai menyepakati sebuah pertemuan singkat setiap tahunnya di tempat itu, juga bagaimana mereka bisa terus menjaga kesepakatan tersebut padahal perempuan itu sudah menikah tiga tahun yang lalu dan ia sendiri sesungguhnya sedang menjalin hubungan yang sungguh-sungguh dengan seseorang. Cinta memang rumit, pikirnya. Orang-orang yang ia duga mahasiswa itu tentu mengira ia dan perempuan itu adalah sepasang kekasih, dua orang yang telah menunggu sekian lama untuk akhirnya bertemu dan berdekatan, saling menukar senyum dan cerita. “Aku tak semuda dulu,” kata perempuan itu, satu tahun yang lalu. Memang. Di ujung-ujung mata perempuan itu telah ia temukan beberapa kerutan yang sebelumnya tak ada. Tapi dikatakannya pada perempuan itu, bahwa di matanya perempuan itu masih secantik empat tahun sebelumnya, masih seindah yang ia ingat. Perempuan itu menjulurkan lidah, tak percaya dan menganggap apa yang ia katakan itu bualan semata.

Di dalam hatinya ia bertanya-tanya sejauh mana perempuan itu mengingat pertemuan mereka satu tahun yang lalu itu. Ia berharap ingatan perempuan itu memuaskannya. Atau paling tidak, tak membuatnya kecewa. Ia tahu perempuan itu memiliki daya ingat yang baik, dan karenanya tak akan mungkin ia melupakan peristiwa sepenting itu. Jika ternyata perempuan itu tak mengingat detail peristiwa malam itu dengan baik, maka bisa jadi perempuan itu sedang memikirkan suatu hal, sesuatu yang semestinya tak dipikirkannya saat itu. Begitulah ia berpikir, dan seketika ia cemas. Ia tak nyaman memikirkan suami perempuan itu telah benar-benar mengetahui apa yang terjadi di antara mereka, pertemuan-pertemuan mereka. Apa yang semestinya kukatakan nanti? pikirnya, membayangkan wajah garang suami perempuan itu sekonyong-konyong muncul di antara orang-orang yang tak dikenalnya. “Ada apa? Ada yang mengganggumu?” tanya perempuan itu. Ia hanya menanggapinya dengan tersenyum.

PADA kali pertama mereka melakukan hal ini, lima tahun yang lalu, ia tak bisa duduk tenang dan berkali-kali masuk-keluar Alfamidi untuk membeli satu-dua hal saja. Cokelat, biskuit, susu bantal. Permen, wafer, kopi dingin. Tanpa terasa lembar-lembar uang di dompetnya habis. Ia pun berkali-kali merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel yang pada layarnya tertera foto perempuan itu. Ia kecewa, juga cemas. Ia menyesali keputusannya untuk menunggu perempuan itu di meja itu, bukannya di pintu kedatangan di Bandara Soekarno-Hatta. Berkali-kali ia mengutuki ketololannya, dan melontarkan kata-kata makian yang ditujukannya kepada dirinya sendiri. Ketika perempuan itu akhirnya membalas SMS-nya, mengabarkan bahwa dirinya sudah berada di angkot jurusan Kampus Dalam namun terjebak macet di sekitar pabrik, ia sedikit lega, dan mulai mencoba memaafkan ketololannya itu.

Dan ketika perempuan itu akhirnya tiba, menyeberang jalan dan berjalan anggun ke arahnya, barulah sepenuhnya ia lega. Ia berdiri dan menyambut perempuan itu. Tangan perempuan itu lembut seperti yang diingatnya. Parfum perempuan itu masih sama. Mereka kemudian bercakap-cakap di meja itu dan sesekali tertawa. Di ujung percakapan, ia mengatakan bahwa tahun depannya ia akan menunggu perempuan itu di bandara saja, juga tahun-tahun berikutnya. Perempuan itu tersenyum, dan mengatakan bahwa itu tak perlu. “Ongkos pulang-pergi Bogor-Cengkareng itu lumayan,” kata perempuan itu. Ia saat itu memang masih belum memiliki pekerjaan tetap, dan dimuat-tidaknya cerita pendeknya di koran Minggu benar-benar tak bisa dipastikan.

Ia mengerti kekhawatiran perempuan itu, namun tetap mengatakan hal yang sama. Perempuan itu menyerah, tersenyum, dan tiba-tiba memberinya sebuah ciuman singkat di pipi. Ia sempat terdiam kaget dan kemudian bertanya, “Kenapa tidak di bibir saja?” Giliran perempuan itu yang terdiam. Ia tertawa. Perempuan itu tersenyum. Ketika malam telah sangat larut dan meja-meja di sekitar mereka telah kosong, perempuan itu menciumnya juga, tepat di bibirnya. Pada ciuman kedua perempuan itu, ia memejamkan mata.

MALAM mulai larut dan ia melihat toko-toko di seberang jalan itu satu per satu tutup. Lalu-lalang orang berkurang. Motor-motor yang semula memenuhi pelataran parkir telah dibawa para pemiliknya. Tersisa tiga. Entah kenapa, ia merasa sedih.

Ia menatap perempuan itu dan perempuan itu tersenyum. Jari-jemari mereka yang sedari tadi saling bersentuhan kini seperti dua anak yang tengah asyik saling menggelitik. Ia membalas senyum perempuan itu, lalu mengalihkan matanya kembali ke jalan yang lengang.

Tak seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, kali ini mereka tak banyak bicara. Memang, mereka masih saling bertukar senyum, dan perempuan itu sesekali tertawa, sesekali bicara. Namun apa yang terlontar dari mulut perempuan itu hanyalah hal-hal biasa, pertanyaan dan pernyataan remeh-temeh yang akan selalu diartikan sebagai basa-basi yang basi, sebuah upaya memulai percakapan yang gagal. Dan ia sendiri lebih buruk. Sejak berjumpa perempuan itu di bandara, ia tak sekalipun mengatakan sesuatu untuk menyegarkan suasana, mencairkan kebekuan yang tak terduga itu. Dua jam perjalanan di bis, ia dan perempuan itu hanya saling mendekatkan tubuh dan merapatkan jemari. Tak ada ungkapan cinta. Tak ada pengakuan rindu. Ia dan perempuan itu seperti bersepakat untuk menunda apa yang semestinya mereka katakan. Ada yang berbeda dengan perempuan itu. Ia tahu. Ia sendiri entah mengapa jadi begitu diam dan seperti takut apa yang akan ia ucapkan malah memperburuk suasana. Hingga bis yang mereka tumpangi tiba di terminal Damri Baranangsiang, tak sedikit pun mereka bicara.

Dan kini tiba-tiba ia merasa lelah. Ia bertanya-tanya apakah perempuan itu juga merasakan hal yang sama.

Enam tahun yang lalu di meja itu, beberapa jam setelah perempuan itu menempuh sidang skripsinya, percakapan itu terjadi. Ia dan perempuan itu. Tangan mereka saling menggenggam dan mereka bertukar senyum. Namun, yang terasa adalah kesedihan. Tak lama lagi perempuan itu akan pulang ke kampung halamannya. Ia dan perempuan itu tak akan bisa lagi menghabiskan waktu bersama. Perempuan itu di sana mungkin akan bertemu seseorang, yang seiman dengannya. Dan ia pun begitu. Berpisah adalah satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan.

“Aku akan selalu mencintaimu,” kata perempuan itu.

Ia ingin membalas perkataan perempuan itu, namun tak sanggup. Ia hanya memejamkan mata, sambil menekankan bibirnya di jari-jemari perempuan itu. Seandainya kita bisa bertemu lagi setiap tahunnya, gumamnya. Ia yakin hanya menggumamkan keinginannya itu di dalam benaknya saja, dan karenanya perempuan itu tak akan mungkin mendengarnya.

Akan tetapi pada malam terakhir perempuan itu berada di Dramaga, saat itu percakapan terjadi lewat telepon, perempuan itu mengatakan padanya bahwa mereka akan bertemu lagi. “Aku akan mencari cara agar kita bisa bertemu setiap tahunnya, meski singkat,” kata perempuan itu. Ia tak percaya perempuan itu mengatakannya, dan ia lebih tak percaya lagi ketika suatu hari saat perempuan itu di Medan sana, ia di Dramaga tengah sibuk menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan perempuan itu.

DAN pertemuan itu pun terjadi. Begitu pula pertemuan-pertemuan setelahnya. Ia dan perempuan itu masih sepasang kekasih. Begitulah yang ia rasakan. Hingga suatu hari perempuan itu mengungkapkan rencana pernikahannya. Ia terpukul. Ia mengira pertemuan mereka beberapa bulan sebelumnya adalah yang terakhir. Tak akan ada lagi pertemuan lain. Mereka tak akan lagi sepasang kekasih.

Namun rupanya, perkiraannya itu pun salah. Pada hari yang sama perempuan itu tetap datang. Ia menjemput perempuan itu seperti biasa. Mereka berpelukan. Di sepanjang perjalanan ke Bogor tangan mereka saling menggenggam dan ia selalu bertanya-tanya apa yang dikatakan perempuan itu kepada suaminya sehingga lelaki itu memberikannya izin. Di meja itu, mereka duduk, bercakap-cakap hingga malam begitu larut, dan seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, mereka menghabiskan sisa malam di sebuah ruang yang sangat pribadi. Ia dan perempuan itu. Tubuh mereka yang menyatu.

Dan kini memikirkannya ia merasa kesedihannya bertambah. Baru saja perempuan itu mengatakan apa yang sedari tadi ditahan-tahannya, “Aku sedang hamil. Dalam beberapa bulan ke depan perutku akan membesar.” Ia tahu ia semestinya tak terkejut mendengar hal itu. Perempuan itu sudah bersuami sejak tiga tahun yang lalu dan jika benih yang tertanam di rahim perempuan itu bukanlah benihnya itu adalah sesuatu yang wajar. Benar-benar sesuatu yang wajar. Tapi entahlah. Ia justru merasa perempuan itu mengkhianatinya. Ia justru kecewa karena anak yang kelak akan dilahirkan perempuan itu bukanlah anaknya! Bukanlah anaknya!

“Kamu jangan bersedih,” kata perempuan itu.

Ia mencoba tersenyum, berusaha menunjukkan kepada perempuan itu bahwa ia tak apa-apa, bahwa ia memang tak bersedih, bahwa ia bisa mengerti dan sepenuhnya menerimanya.

“Apakah tahun depan kita akan bertemu lagi?” tanyanya.

Perempuan itu tersenyum, dan mengangguk pelan. Dan ia merasa kesedihannya kembali bertambah. Entah kenapa.

Barangkali sesungguhnya yang ia harapkan adalah kata “tidak”. Barangkali sesungguhnya yang ia harapkan saat itu: perempuan itu mengatakan padanya bahwa mereka tak akan pernah bertemu lagi. Tak akan pernah… bertemu lagi.

Ia tahu, jika perempuan itu datang lagi, ia tak mungkin tak menyambutnya. Sedangkan pada saat itu, perempuan itu telah seorang ibu, dan itu membuat semuanya tak lagi sama. Akankah saat itu ia bisa memperlakukan perempuan itu seperti biasanya, seperti pada pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya? Entah kenapa, ia ragu. Dan memikirkannya semakin membuatnya ragu. Tiba-tiba saja ia ingin benar-benar berpisah dari perempuan itu, namun di saat yang sama ia begitu menginginkan perempuan itu tetap berada di dekatnya, di mana ia bisa merangkulnya, menciumnya, mendekapnya…

Ia benar-benar bimbang. Ia menatap mata perempuan itu, lekat-lekat, seperti berusaha menemukan kebimbangan yang sama di dalam diri perempuan itu. Tapi perempuan itu justru berkata, “Kita akan bertemu lagi. Itu pasti. Tapi mungkin, tidak tahun depan.”

Ia berhasil memaksakan diri untuk tersenyum. Tangan perempuan itu begitu hangat di tangannya, dan ia memperkuat genggamannya. Di dalam benaknya ia membayangkan ia dan perempuan itu bertemu lagi dua tahun setelah malam itu, menanti dini hari lagi di tempat yang sama, menghabiskan sisa pertemuan mereka di sebuah ruang yang sangat pribadi. Ia dan perempuan itu. Tubuh mereka yang menyatu. Dan ia merasa, lagi-lagi, kesedihannya bertambah.

Barangkali mencintai seseorang adalah juga melepaskannya (dan melupakannya) di saat yang tepat. Dan pertemuan-pertemuan mereka itu, barangkali, hanya mampu menunda saat yang tepat itu datang. Begitulah akhirnya ia memikirkannya.

Dan ia pun berdiri. Sesungguhnya ia ingin sekali mencium perempuan itu, tepat di bibirnya, berkali-kali. Tapi yang dilakukannya kemudian hanyalah menatap mata perempuan itu. Lama. Lama sekali. Dan ia merasa malam tiba-tiba begitu dingin saat perempuan itu dengan pelannya berkata, “Aku… mencintaimu.”(*)

Cianjur-Bogor, 2013-2014

Ardy Kresna Crenata tinggal di Dramaga, Bogor



Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan Ardy Kresna Crenata
[2] Pernah dimuat di "Koran Tempo" pada 2 November 2014

Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi