Rendang - Blues | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 20 Oktober 2014

Rendang - Blues


RENDANG

seekor kerbau melenting
keluar dari belukar kata
mematahkan ranting
menidurkan semak-semak

serupa mobil ambulans
yang menikung patah
meratakan rambu-rambu
mendepak para pejalan
yang hendak pulang.

sesaat menjelang santan
gelegak aroma ganda
kerbau itu kembali

ini kali ia menjelma
kata-kata liar
terbatuk-batuk
pada setiap orang

sedang aku dibuatnya
mesti memecah pinggan

sebab di meja makan ini
sekancah rendang
batal terbentang.


BLUES

aku adalah dendang
yang pecah dari bekas luka

kubiarkan waktu mengatupku
sekedar menutupi siasatku

bersama ikan dan terumbu karang
kijang dan pohon

telah kutebar syair-syair
yang lahir dari tukak lambung

dan balada-balada miring
perihal tulang pinggang yang patah

kini aku mengalun kembali
menyala-nyala api dalam diri

sebelum baliho-baliho terbakar
dan jalan-jalan banjir oleh darah

kudaki gunung tertinggi
di puncak namamu berdiri

sebab di sana sebuah gramofon
pernah berputar.


Ramoun Apta lahir di Muara Bungo, Jambi. Sedang belajar di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Padang.


Rujukan
[1] Disalin dari karya Ramoun Apta
[2] Tersiar di surat kabar "Koran Tempo" pada 19 Oktober 2014

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi