Tempurung ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 06 Oktober 2014

Tempurung



Ibu menelepon. Mengejutkan selelah nyaris sepuluh tahun ibu tak mengajakku bicara, bahkan seperti selalu beranggapan aku tak ada meski tepat di depan matanya, kalau (setidaknya) setahun sekali pulang berlebaran. Menelepon di pagi buta, serta secara khusus mengajak berbicara --meski itu Cuma kalimat mengambang, tanpa awal dan tanpa ujung: "Kau harus pulang dan menyelamatkan adikmu..."

Aku terpana. Lebih kelu dari ketika Arofah, adik bungsuku itu, menelepon serta bilang ibu ingin bicara. Itu kejutan geledek di siang bolong, sehingga tak sempat lagi buat sekadar mempertanyakan ada apa, ada peristiwa apa, sehingga secara khusus ibu ingin berbicara denganku. Tepat pada lima belas tahun lalu aku di-DO, masuk penjara karena membunuh orang. Mendapat enam tahun, yang dengan remisi jadi hanya lima tahun setengah. Pulang, tapi tidak ditemui ibu, bahkan tidak pernah disapa dan diajak bicara sehingga aku balik ke Bandung dan jadi preman.

Selama sembilan tahun terakhir ini, setiap pulang aku dianggap setan atau Dajjal --sebagai representasi konkret setan bila identifikasi hantu hanya berhubungan dengan arwah penasaran. Meski hanya pulang Lebaran untuk masuk rumah, mandi, lalu menghabiskan hari di luar rumah: keluyuran, mabuk, dan berjudi --aku tak pernah kelahi, tidak ada yang berani menantang. Terkadang ke kota sebelah main perempuan. Dan di hari akhir libur aku masuk rumah untuk berpamitan, meski tidak dipedulikan. Setahun kemudian pulang lagi meski aku telah bertekad tak ingin pulang karena tidak dianggap ada, tidak pernah diperlakukan sebagai manusia oleh ibu.

Tapi aku selalu rindu kampung, meski kerinduan itu tampak seperti ekspresi kecanduan mengajak beberapa orang buat mabuk dan melacur. Tapi pada pagi ini ibu sengaja menelepon dan berbicara padaku, meski langsung seperti telegram yang tidak diawali oleh kata pembukaan yang intim --padahal itu yang selalu dirindukan.

"Ada apa, Bu?" kataku terbata.

"Pulanglah!"

"Kenapa?"

"Selamatkan adikmu. Pulang!"


***
Setelah ayah meninggal, ibu membesarkan kami bertiga dengan berdagang. Aku yang terbesar diharapkan jadi pengganti, jadi bahu keluarga yang memikul beban ekonomi, karenanya misi pertama kuliahku bukan intelektualitas tapi, ijazah dan dapat posisi kerja yang lumayan --hingga Aziz bisa kuliah dengan biaya dari penghasilanku, dan biaya seterusnya adik-adik bisa ditanggung bersama. Tapi aku kelahi, membunuh, serta dipenjara. Aziz jadi ujung tombak --pada saat itu mungkin ibu merasa tidak perlu memikirkanku lagi dengan menganggap aku telah mati.

Kini Aziz jadi orang pemda dengan karier yang cemerlang. Apa Aziz yang kena kasus sehingga harus ditolong oleh preman? Atau Arofah yang jadi guru dan menikah dengan guru agama (Islam) yang tak punya objekan lain selain bergiat di masjid? Apa Nur terlibat jaringan teroris? Aku tidak bisa menebak-nebak --Aziz, Arofah, Lina, dan Nur yang kuhubungi tak bisa mengatakan apa keinginan ibu--, karena itu aku bergegas pulang. Dengan mobil Cik Fanny, yang dipacu Hobart, agar bisa secepatnya sampai di rumah. Hanya butuh dua jam meski membuat polisi lalu lintas terperangah dan amat sering dimaki orang karena selalu menyalip serta menyuruh mobil lain minggir dengan tuter yang terus dibunyikan.

Aku meloncat turun dan bergegas masuk ke rumah --biasanya aku ragu-ragu di depan pintu, berdiri menenangkan diri dengan merokok dulu. Menerobos ke ruang tamu, menjenguk ruang tengah dengan TV yang dinyalakan tapi dengan suara pelan, di mana Rauf dan Nikmah sarapan sambil menonton kartun. Mereka pun menengok dan ternganga melihatku.

"Nenek mana?" tanyaku sambil langsung menyibakkan tirai kamar, melongok, dan di sisi dinding terlihat sosok putih ibu berselubung mukena dan total berdoa setelah menyelesaikan rakaat salat Dhuha. Aku berbalik ketika Arofah muncul. Ia menyalamiku --juga Nur. Aku membuat isyarat tapi keduanya menggeleng.

Ada apa? Kenapa? Aku dan Nur balik ke ruang tamu setelah menyuruh Arofah membikinkan Hobart kopi. "Nggak ada apa-apa dengan Aziz? Lina?" bisikku mendesak Nur tersenyum. Menggeleng. Jadi ada apa? Kenapa? Aku menghenyak di kursi. Tak sempat menyulut rokok ketika ibu tiba-tiba, dengan tetap bermukena, melongok serta memberi isyarat mengajakku ke belakang. Aku bangkit. Aku mengikutinya ke kamar. Aku didudukkan di tepi ranjang, miring menatap ibu yang menatap dengan mata berkaca-kaca putus harapan sekaligus amat berpengharapan. Ada apa? Ibu berdeham membuang sekat ludah yang sebenarnya tidak ada. Aku tersenyum menenangkannya.

Ibu memejam. Kemudian berbisik setengah tak bertenaga buat mengatakannya dengan jelas, "Kim, kamu harus membawa Swarin ke kota. Jadikan dia sampah atau apa saja, asal tidak ada di kampung lagi?

"Kenapa?"

"Ia janda, Kim. Jadi liar menggoda semua lelaki kampung. Para lelaki mungkin senang tapi semua ibu-ibu gelisah. Yang muda takut suaminya digoda, yang tua takut anak lelaki dan menantunya digoda. Dua bulan ini sudah tiga rumah tangga dibobol."

"Ya... diusir saja, Bu!"

"Kamu yang Ibu suruh membawanya ke kota. Tenggelamkanlah di sana. Di sini siapa yang berani mengganggu anak keturunan Warsita."
***

Warsita keluarga terpandang. Ia keturunan cikal bakal kampung yang nyaris memiliki semua tanah di kampung. Ia generasi ketiga dan di era pasca 1965 pernah menjadi sangat semena-mena karena kebetulan menjadi tentara dan berpangkat. Ketika pensiun dan dikaryakan sebagai direktur PTP di Sukabumi ia mengumpulkan semua saudaranya dan melakukan pembagian waris yang aneh --karena ia yang memiliki asel potensial sementara saudaranya ada yang mendapat wakaf masjid atau pemakaman.

Ia merampas warisan yang tersisa. Hidup bergelimang upeti, meski tiga anaknya tidak keruan --setelah Warsita meninggal mereka berebut saling mendahului menjual tanah warisan aneh itu. Anak pertama suka melacur dan senang mabuk --di masa tua, tanpa beking harta, mati karena empedunya pecah. Yang nomor dua jadi PNS dengan ijazah SPG, dan yang ketiga diberhentikan sebagai PNS dan hanya jadi pengepul hasil pertanian di pelosok. Anak manja yang kalau ada duit sering berfoya-foya menyewa perempuan lacur dan mabuk. Dan Swarin, itu anaknya Andar ini.

Istrinya bertahan menjadi guru honorer, meski juga terpaksa keluar karena uang tabungan siswa sekelas dari satu tahun ajaran sering dipinjam dan dihabiskan Andar yang keranjingan melacur serta mabuk. Mereka terpuruk, dan kini menempati gubuk reyot di kebun sebelah rumah keluarga yang sudah dimiliki Kasim. Swarin sendiri menikah saat kelas dua SMA karena hamil, lantas bercerai setelah melahirkan. Swarin cemburu pada suaminya yang bertekad menyelesaikan SMA dengan sering belajar kelompok dengan teman putra dan putri.

Sejak itu Swarin jadi semakin tak keruan --karena sejak SMP sudah tidak keruan. Gemar menempel kesembarang lelaki dan mau diperlakukan apa saja untuk sekadar makan enak dan (terutama) belanja baju bagus --dan setiap pulang Lebaran aku selalu dijamunya. Tapi apa sekarang sudah separah itu?

Aku mendengar kabar ia sering dipakai Tisna. Ketahuan. Menjadi urusan di RT dan sesaat mereda. Kemudian dengan Omi. Lantas dengan Sukra. Katanya, istri Sukta tak terima dan sering menjejerinya saat kegiatan senam pagi di hari Minggu, bergerak mengikuti beat sambil mengisi melodi lagu dengan kalimat kuat: "pagi senam, malam lonte”. Berulang-ulang sehingga kegiatan senam dihentikan sebelum keduanya cakar-cakaran. Tapi, kini, ketika semua ibu-ibu muda serta tua sinis mencemooh, Swarin menjadi semakin tidak terkontrol. Persis seperti kata Deni ketika kami mabuk di malam takbiran terakhir –dengan membooking Swarin bagi lima orang.

"Anak itu tidak waras, bisa-bisanya melacur dengan tetangga sendiri. Kim, kau bawa ke kota. Tunjukin jalan lurus pelacur sejati, leluasa cari duit tanpa mengganggu tetangga. Kampung resah, Kim. Ibu-ibu memata-matai tapi selalu ada yang tergoda."

"Membayar lagi...," kataku usil. Kami terbahak-bahak, Swarin terbaring lelah tanpa baju dan setengah mabuk. Tapi apa sudah separah itu? Kenapa tidak pergi ke luar kampung buat berbisnis secara lurus? Apa sebagai orang kampung dengan mental peragu tak berani ambil risiko karena di kampung merasa aman dalam naungan keakraban saling kenal, atau karena tidak terbiasa bertemu dan digarap lelaki asing --syarat utama perempuan yang siap bercinta komersial dengan siapa saja? Di titik ini Swarin Cuma anak manis yang hanya ingin bermanja sehingga tak bisa memanajemen tubuhnya secara kreatif bertendens?

Dengan kata lain aku harus menyulapnya jadi brand jempolan sehingga berani jadi kupu-kupu yang terbang dari kampung. Pergi dari kampung dan tak jadi ulat yang membuat banyak orang gatal dan galau.
***

Aku membawa Swarin ke Bandung. Membawanya ke kamar kontrakan, mabuk sepanjang hari, sambil diselingi bercinta, makan di luar, dan mengajaknya berbelanja. Pulang. Mengajaknya minum bersama, membuatnya jadi setengah mabuk sehingga terbiasa bercinta dengan Hobart dan yang lain. Tiga hari kemudian aku membawanya menginap di hotel, dan dalam setengah mabuk menyewakannya ke sembaranag orang. Dalam dua setengah bulan aku masih menampung --dan tetap memperdagangkannya-- di kamar kontrakan sebelum membawanya pada Marti. Saat ia telah terbiasa dan halus melayani sembarang tamu lelaki --tak terlalu tergesa menunai kontrak kerjanya.

Aku mendidiknya untuk manja saat mendatangi sembarang lelaki dan didatangi sembarang lelaki, liar setengah terbuka menawarkan diri agar bisa sebanyak mungkin memetik efek ekonomi dari percintaan berbayar yang sesaat tanpa penjiwaan --sambil tidak ambil peduli ketika Swarin menghamburkannya untuk pakaian. Aku merasa puas dapat fee tetap dari Marti yang menganggap Swarin asetku, yang diinvestasikan di rumah pelacurannya --dan terkadang aku tidur bersama Swarin dalam setengah mabuk setelah bercinta secara gratis. Pulang dan santai di rumah. Menunggu telepon dari ibu, dan merasa berbahagia bila sesekali ibu menelepon dan menanyakan kabar Swarin.

"Aman, Bu!"

"Apa dia nggak pengen pulang?"

"Di sini banyak lelaki royal dan toko pakaian, Bu. Dan kalau ia pulang aku akan mengawalnya," kataku puas karena menemukan ladang bisnis baru. Keliling merekrut perempuan muda desa buat jadi anak buah Marti, Margaretha, atau Po Lan.

Satu pekerjaan yang menjadi gampang karena aku membayar pengumpul informasi di desa dan merekrutnya dengan mengajak Swarin --yang kecantikan, pakaian bagus dan keroyalan sok kotanya membuat jadi gula-gula pemikat yang melenakan wanita desa lugu setengah menganggur dan butuh pekerjaan apa saja asal penghasilannya lebih tinggi dari jadi buruh tani.

Kini aku mulai berpikir mencari investor untuk membuat wisma sendiri. Yakin akan bisa karena saat ini aku merasa apa pun yang aku lakukan ada dalam restu ibu. Yang setiap menelepon selalu tak lupa bilang, "Syukurlah. Kampung aman. Adikmu tenang setelah kemarin Swarin bolak-balik mendekati Nur dan pura-pura minta diajari salat. Gila anak itu."

Aku tersenyum --sendawa vodka tidak tercium ibu. Memang gila, gumanku, tapi kini Swarin telah menemukan jalan lurus Dajjalia bersama jelmaan Dajjal yang lain. Kami kompak menghitamkan dunia hitam dan terpuaskan dalam kehitaman itu karena kuasa memisahkannya dari si putih di jalan istiqomah yang diridlai-Nya. Di sini, kini, aku puas kalau sesekali ibu meneleponku, dan bila pulang Lebaran menyambut seperti merayakan kepulangan pahlawan. Pahlawan Dajjalia bagi dunia Dajjali. Tapi apa lagi yang bisa aku lakukan? Tapi apa lagi yang diharapkan ibu dari seorang manusia yang dikutuk cuma bisa merepresentasi laku Dajjalia?

Aku hanya bisa mabuk. Sampai pada satu saat aku tersedak. Telontar tinggi dan melayang-layang dalam dunia sunyi yang melulu berkabut muram. Nanti pada tegukan yang penghabisan, setelah berjam mabuk berat hingga tak kuasa mengontrol kontraksi , lambung dan luncuran muntah.


BENI SETIA, tinggal di Caruban, Madiun.
e-mail: benisetia54@yahoo.com


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Beni Setia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" pada 5 Oktober 2014

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi