Berahi Perahu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 24 November 2014

Berahi Perahu


Lomo sadar benar arti perahu bagi hidupnya. Andai saja ia tak punya perahu, itu sama artinya bagai ia tak punya alat kelamin. Selain sebagai alat mata pencaharian, perahu juga sebagai penyejuk berahi.

Lomo tinggal di Kampung Seberang. Perahu adalah stu-satunya alat transportasi yang sedia menyeberangkan orang-orang yang berkeperluan ke kota. Butuh berjam-jam menerjang arus hulu jika ingin menembus pelabuhan. Lalu dari pelabuhan itu orang-orang akan menggunakan ojek atau minibus menuju kota.

Selain hendak ke kota, perahu juga digunakan untuk menerjang arus hulu bagi orang-orang yang hendak ke pekan pada setiap hari Kamis. Pada saat seperti itulah Lomo dan kawan-kawannya mendapatkan penghasilan yang lebih dari biasanya dibandingkan hari-hari lainnya. Itu karena sangat banyak orang yang akan pergi ke pekan untuk berbelanja atau juga menjual barang dagangan.

Meskipun pada setiap hari Kamis Lomo mendapatkan penghasilan yang lebih dari biasanya, tapi ia tak sebahagia kawan-kawan seprofesinya yang sudah berumah tangga. Itu karena ia tak punya istri. Ia merasa hari-harinya selalu sepi. Namun ia punya cara sendiri untuk membahagiakan hatinya sendiri dengan uang
yang didapatnya itu.

Lomo bukan orang yang suka mabuk di pakter tuak dan suka main judi. Maka uang yang didapatnya dia gunakan untuk membeli bensin mesin perahu sebanyak-banyaknya lalu disimpannya di dalam drum di rumahnya untuk digunakannya sewaktu-waktu.

Stok bensin yang banyak itulah yang digunakan Lomo untuk membahagiakan dirinya, yaitu dengan cara raun-raun menggunakan perahunya untuk menengok perempuan-perempuan yang sedang mandi di sungai dari ke kampung satu ke kampung lainnya pada setiap sore. Ia membayangkan perempuan-perempuan yang berkecipak di air sungai itu bagai putri duyung yang mendekat ke perahu lalu mengodanya. Di atas perahu itu ia akan pura-pura memancing di dekat perempuan-perempuan mandi itu. Padahal matanya awas pada bagian tubuh-tubuh yang menggairahkan.

Pada diri Lomo memang terdapat kelainan. Sebenarnya bisa saja ia menikahi gadis atau janda yang ia sukai. Tapi ia lebih suka melihat tubuh-tubuh sintal perempuan saat mandi di sungai daripada berhubungan badan secara halal ataupun tidak. Sebenarnya, selain itu, ia juga bahagia ketika memandang belahan dada, pantat, bibir, dan menerawang di antara selangkangan para penumpangnya, terutama yang masih gadis. Gairah berahinya bagai perahu yang tak akan pernah kehabisan bahan bakar, akan melaju sekencang-kencangnya melawan kederasan arus sungai.

Yang paling membuat Lomo bergairah adalah Tina. Gadis sintal yang sering menggunakan jasa Lomo untuk mengantarkan dan menjemput ke pekan setiap hari Kamis. Padahal Tina tak pernah berjanji untuk selalu menggunakan perahu Lomo. Tapi setiap Kamis Lomo dan Tina bagai sudah punya kesepakatan selalu bersama-sama baik pergi ke pekan maupun pulang dari pekan. Jadi, kawan-kawan Lomo yang seprofesi dengannya akan paham bahwa Tina tak akan mau naik ke perahu mereka jika Lomo belum terlihat. Tina akan tetap sabar menunggu kedatangan Lomo.

Karena Lomo sering mengantar-jemput Tina ke pekan, maka mereka sering bercakap-cakap. Hubungan mereka seakan sangat intim. Tina merasa cocok dengan Lomo. Ia merasa Lomo adalah pemuda yang baik. Ia tahu Lomo jauh lebih tua darinya. Dalam hati ia pernah berdoa, semoga kelak Lomo menjadi jodohnya. Air cinta mengalir damai di sungai perasaannya. Tapi Lomo tak pernah berpikir jauh seperti itu. Lomo hanya menganggap Tina sebagai pemantik berahinya. Bahkan ia pernah berharap, suatu hari nanti sepulang dari pekan saat magrib dan sunyi, perahunya akan kehabisan bahan bakar, sedang ia dan Tina berada di atas perahu. Ia akan mencoba menepikan perahu dan ia akan mencoba merayu Tina.

Ia selalu menunggu hari ajaib itu tapi ia tahu bahwa itu suatu hal yang sangat mustahil. Bila itu
benar terjadi pasti itu suatu mukjizat.

Suatu sore sepulang dari pekan, Tina pernah berhasrat benar ingin mengutarakan perasaannya agar Lomo
mencintainya. Tapi ia memang terkesan malu-malu dan berpikir tak mungkin perempuan mengungkapkan isi hati terlebih dulu.

    "Abang sudah punya kekasih?" tanya Tina suatu hari di atas perahu yang melayang di permukaan sungai.
    "Apa ada yang mau dengan aku?" balas Lomo.

    "Tina mau."

    "Apa? Apa aku tak salah dengar?"

    "Pasti banyak yang mau."

    "Sepertinya tadi tak seperti itu."

Tina tersipu malu, sedang Lomo penuh nafsu. Tapi Tina tahu gelagat berahi Lomo itu, bahkan sedari dulu.  Pada percakapan selanjutnya pada Kamis yang lain, Tina benar-benar menggoda Lomo di atas perahu agar, paling tidak, mereka punya hubungan perasaan seperti pacaran. Tapi menurut Tina, Lomo memang tak punya hati untuknya.

    "Tina ingin menikah, Bang."

    "Dengan siapa?"

    "Siapa saja yang mau dengan Tina. Dengan Abang, Tina juga mau."

Mendengar itu Lomo menelan ludah dan mencoba mengalihkan percakapan yang berbeda. "Jika Abang mau menodai Tina, silakan saja, Bang, asal Abang mau bertanggung jawab,’’ kata Tina dalam hati.  Pada hari Kamis selanjutnya juga begitu. Tina pergi ke pekan memakai pakaian padat sesintal mungkin agar Lomo mau merayunya, atau seburuk-burunya adalah Lomo mau memerkosanya. Ia tahu Lomo memandanginya penuh nafsu.

Dalam hati ia menduga pasti pulang dari pekan saat sore hari, Lomo akan menunjukkan kejantanan di hadapannya.

    "Kamu cantik sekali," goda Lomo saat akan pergi ke pekan.

    "Ah Abang, biasa saja kok," Tina tersipu malu.

Tapi sepulang dari pekan itu, Tina tak menangkap gelagat Lomo akan menunjukkan kejantanan di hadapannya. Lomo hanya menunjukkan air muka penuh nafsu sehingga terlintas dalam benak Tina bahwa ada yang tak beres pada diri Lomo.


***
SEBELUM berangkat ke pekan pada Kamis ini, Tina sudah menyiapkan rencana yang benar-benar matang agar Lomo melepaskan berahi yang dipendam pada Tina selama ini.

Di atas perahu hendak menuju ke pekan, Tina membuat janji pada Lomo agar menjemputnya saat senja. Saat itu Tina memastikan bahwa tak ada lagi orang yang pulang dari pekan selain dirinya. Dalam perjalanan pulang dipastikan benar-benar sepi bahwa tiada lagi orang yang mengemudikan perahu selain Lomo dan ia sebagai penumpangnya.

    "Tina mau ke rumah Bibi, Bang, ada perlu. Jemput Tina agak sore dari biasanya ya, Bang," Tina beralasan.

    "Tentu, tentu," Lomo tergeragap, ia mengalihkan pandangannya dari dada ke wajah Tina.


***
LOMO mengemudikan perahunya menuju pekan untuk menjemput Tina. Pandangannya tak lepas pada perempuan-perempuan yang sedang mandi di sungai. Dada dan ubun-ubunnya benar-benar panas disesaki rasa ingin menikmati hidangan buah tubuh yang sintal.

Sesampainya Lomo di pekan, Tina sudah berdiri di tepi sungai. Pekan benar-benar sepi. Suara-suara binatang malam mulai bersahut-sahutan.

     "Maaf kalau Abang terlambat," Lomo menepikan perahu dan Tina melompat ke atas perahu dengan menggenggam tas plastik berisi barang belanjaannya.

Semula Lomo dan Tina berbicara berbasa-basi, setelah itu Tina masuk ke dalam rencananya. Tina mengeluarkan pakaian dalam yang ia beli di pekan dari dalam tas plastik. Di atas perahu Tina mencoba pakaian yang ia beli itu. Di hadapan Lomo, Tina membuka bajunya dan menyalin beha yang lekat di tubuh-
nya dengan beha yang baru saja dibeli. Air muka Lomo kaku dan bolak-balik menelan ludah.

     "Bang, coba rekatkan tali beha Tina," Tina memunggungi Lomo dan mendekat pada tubuh Lomo.

Namun, Lomo bukan merekatkan tali beha Tina tapi malah mendekap tubuh Tina dan Tina tersenyum. Tapi tak berapa lama kemudian Lomo melepas dekapannya.

     "Aku tak sanggup," kata Lomo.

     "Tak apa-apa, Bang."

     "Aku sebenarnya malu menceritakan ini, kau tahu kenapa aku tak mau menikah? Karena aku tak bisa
melakukannya."

     "Maksud Abang?"

     "Pasti kau paham, Tina."

Lomo tak tahu bahwa bensin mesin perahunya hampir tandas. Mereka mulai merasakan mesin yang tersendat-sendat. Hingga akhirnya mesin itu mati, sedang perjalanan masih jauh. Meskipun mesin mati tapi perahu itu tetap berjalan pelan-pelan terbawa arus ke hilir menuju kampung.

Lomo merasakan betapa tidak bergunanya mesin tanpa ada bahan bakar sehingga perahu tak bisa dikendalikan dengan sempurna.

     "Maafkan Tina, Bang," kalimat itu sebagai penutup percakapan mereka dalam perjalanan pulang yang begitu terasa sangat lambat dan masih jauh. ***


Tanjung Pasir, 2014



--Muftirom Fauzi Aruan, penulis cerpen yang berbahagia dan tinggal di Tanjung Pasir, Labuhanbatu Utara, Sumut


Rujukan
[1] Disalin dari karya Muftirom Fauzi Aruan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" pada 23 November 2014
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi