Ganti Baju - Di Sehelai Foto - Pesan Dokter | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 03 November 2014

Ganti Baju - Di Sehelai Foto - Pesan Dokter


GANTI BAJU

Kupu-kupu tak berganti sayap sebelum dilumat sepatu lars para serdadu. Kuda-kuda tak berganti ladam sebelum terbunuh dalam peperangan di hutan keramatmu.

“Tapi kau akan mati, Kartosoewirjo. Kenakanlah baju serbaputih. Bukankah Pohon Hayat juga mengenakan baju ular sebelum rubuh?”

Apakah pelayat perlu baju baru untuk bergegas ke makam? Apakah kau perlu baju baru untuk menjemput kematianmu?

2014

DI SEHELAI FOTO

Kelak di sehelai foto kau terpejam untuk pohon-pohon yang kaubayangkan akan selalu tumbuh dalam kegembiraan dan kecengengan. Ada jendela yang sedikit terbuka. Ada yang mengintip dan kau paham serdadu paling kejam pun tak mampu mengusir raut kecut yang mengancamku.

Jangan takut! Ia hanya datang bersama hujan yang kabur. Ia tak akan buru-buru menjemputku. Kau hanya akan mendengarkan gemuruh badai. Kau hanya akan mendengarkan gemuruh laut.

Ajal, jika ia menyerupai tukang foto, akan menunggu saat paling tepat. Saat kau tak lagi berkhayal tentang jasadku. Saat aku bayangkan tak ada jalan rumit ke puncak Bukit. Bukit tanpa kolam susu. Bukit penuh pinus dan sesekali melata ular-ular purba.

Di sehelai fotomu aku memang masih ada. Tetapi sesungguhnya itu hanya bayangan. Tentu tanpa iblis dan bunga-bunga. Tentu tanpa kambing berbulu biru dan apa pun yang kausuka.

2014

PESAN DOKTER

“Tak perlu kauminum obat apa pun. Kau tidak sakit. Kau hanya perlu bercakap-cakap dengan malaikat atau siapa pun yang akan memberimu sayap. Kau hanya perlu malih rupa jadi kunang-kunang. Terbang menembus malam. Apakah kau pernah membaca Sirah Nabi? Kau hanya perlu membayangkan menjadi Jibril yang tak pernah berurusan dengan ajal.”

Ya. Aku tak akan berurusan dengan ajal.

“Kadar gula darahmu baik-baik saja. Jantungmu cukup kuat. Karena itu kau tak perlu takut pada sesuatu yang kauanggap bakal mencekikmu tiba-tiba. Sebaiknya kau mendengarkan azan terakhir atau suara apa pun yang belum pernah kaukenal. Apakah kau pernah minum anggur? Apakah kau pernah membayangkan menari-nari sendiri seperti Rumi? Apakah kau takut mati?”

Aku tak takut mati.

“Jika kau pusing, jika kau melihat apa pun tiba-tiba berubah menjadi bayang-bayang, pejamkanlah matamu. Pejamkanlah matamu saat semut-semut berjalan pelan-pelan di atas balok es. Pejamkanlah matamu saat orang-orang berdosa berjalan di atas Siratal Mustaqim. Apakah kematian itu begitu menggelisahkanmu?”

Aku tak gelisah.

“Apakah aku boleh menyuntikmu? Ini hanya semacam patirasa agar kau tak merasakan sakit saat para serdadu menembakmu. Apakah kau pernah merasakan candu?”

Kau tak boleh menyuntikku. Kau tak boleh memberiku candu.

Pergilah. Temuilah calon mayat lain.

2014



Triyanto Triwikromo telah menerbitkan, antara lain, Surga Sungsang (novel, 2014) dan Celeng Satu Celeng Semua (kumpulan cerita pendek, 2013). Ia tinggal di Semarang.


Rujukan
[1] Disalin dari karya Triyanto Triwikromo
[2] Tersiar di surat kabar "Koran Tempo" pada 2 November 2014

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi