Karma Tanah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 10 November 2014

Karma Tanah


”Aku lelah. Boleh aku tidur?”

Komang Warsa memegang tangan istrinya dengan lembut.

”Tidurlah. Besok tidak perlu bangun pagi. Tuan dan Nyonya tidak ada.”

Dek Tini memandang wajah suaminya. Ia terpaksa memutar kepala dan harus menahan rasa nyeri di tulang belakang lehernya.

”Hati-hati lehermu sakit lagi,” kata Komang Warsa setelah tahu istrinya memutar kepala untuk memandanginya. ”Tidur sajalah. Mudah-mudahan besok lehermu bisa sembuh.”

Suami istri itu masih berpegangan tangan ketika mereka saling pandang. Seharian mereka bekerja membereskan apa saja di vila milik warga negara Belanda yang beristrikan perempuan Jakarta. Keduanya mendapatkan satu kamar di bagian belakang vila dengan satu tempat tidur, satu lemari, dan satu meja rias sederhana.

KARMA TANAH
”Aku rindu pada anak-anak,” kata Dek Tini lirih. ”Berhari-hari telepon dan SMS tidak dijawab. Aku ingin Galungan nanti kita berkumpul.”

”Sudahlah. Mereka pasti baik-baik saja. Mungkin terlalu sibuk. Maklumlah, kerja menjadi polisi di tempat jauh.” Komang Warsa tidak mampu melanjutkan kata-katanya ketika melihat istrinya menitikkan air mata.

Hening.

”Tidur, yuk....”

Mereka masih berpegangan tangan ketika mencoba memejamkan mata.

”Tidak bisa tidur. Aku rindu anak-anak. Aku ingin Galungan nanti mereka pulang.” Dek Tini bangkit dan duduk di sisi pembaringan. ”Tapi, kalaupun pulang, mereka pulang ke mana?” kata perempuan itu sambil tetap membelakangi suaminya yang berbaring sambil tengadah. ”Kita tidak lagi punya rumah.” Kata-kata yang keluar dari mulut perempuan yang tampak jauh lebih tua dari umurnya yang kini menginjak 52 tahun itu terdengar sayup, lamat-lamat, dan putus-putus.

”Sudahlah. Tidurlah. Nanti kita bangun gubuk kecil di Tabanan. Ah, sudah lama kita tidak menjenguk ladang kita itu. Lumayan, lho. Di sini kita menjual sepetak sawah dengan satu rumah, kita bisa membeli ladang cukup lebar. Kita juga bisa....”

”Tapi sekarang kita tidak punya rumah. Kalau Putu dan Made pulang, mereka pulang ke mana? Arooohhhh... tidak jelas pula mereka harus membanjar di mana?”

”Janganlah semua hal dipikirkan sekarang. Tidurlah. Siapa tahu nanti kita bisa minta izin dan kita bisa nengok tegalan di Tabanan....”

”Aku rindu pada anak-anak kita.”

”Aku juga. Tapi ini sudah sangat larut.”

Tini merebahkan tubuhnya di kasur. Beberapa kali terdengar anjing menggonggong dan derum kendaraan melintas. Angin lembut memasuki kamar melalui celah-celah jendela menjadikan malam terasa lebih dingin. Tini memegang tangan suaminya dengan lembut. Tangan itu kasar dan hangat, khas milik petani. Tangan itulah yang dulu dikaguminya. Tangan itulah yang dengan perkasa membopongnya di malam pernikahan mereka.

”Aku ingat ketika kita menikah dulu. Di sini. Di atas tanah ini. Tanah kita, rumah kita. Sekarang kita numpang di atas tanah yang dulu menjadi milik kita. Aneh sekali, ya.” Hening.

”Di sini pula kita membesarkan Putu dan Made. Ah, anak-anak itu. Sekarang pasti sedang lelap tidur dengan istri dan suami masing-masing di pulau seberang. Mungkin mereka lelah setelah seharian bekerja. Putu sibuk berpatroli di pedalaman, Made sibuk melayani ibu-ibu yang mau melahirkan. Ya, mereka pasti sangat sibuk di siang hari dan sangat lelah di malam hari sehingga tidak sempat menghubungi kita.”

Hening sejenak. Terdengar lolongan anjing, suara mobil berhenti, dan orang bercakap dalam bahasa Inggris. Sepertinya itu suara penghuni vila sebelah yang baru pulang entah dari mana.

Kampung ini, sebuah desa di pedalaman Kabupaten Badung, Bali, kini berubah menjadi perkampungan internasional. Ratusan vila milik orang asing memenuhi perkampungan ini. Mereka membeli tanah penduduk dan menjadikannya bangunan-bangunan megah dengan pagar tinggi. Pada mulanya hanya satu dua vila didirikan. Kian lama, kian banyak saja tanah persawahan yang dijual dan berubah menjadi bangunan-bangunan megah milik orang asing. Penduduk di sana sangat tergiur melihat limpahan uang yang jauh melampaui bayangan mereka. Belakangan, ketika harga tanah kian melonjak tinggi, para petani pemilik tak mampu lagi membayar pajak yang kian membebani. Maka kian tinggi pulalah minat masyarakat menjual tanahnya.

Warsa pun tak sanggup bertahan. Sepetak sawah beserta gubuk kecil miliknya dijual dengan harga tinggi. Sebagian uang itu digunakannya untuk membeli beberapa meter tanah perkebunan di kawasan Tabanan, selebihnya digunakan untuk ”pelicin” agar Putu, anak pertamanya, diterima di kepolisian dan biaya kuliah anak keduanya, Made, di akademi kebidanan di Yogyakarta. Tak bersisa. Warsa dan Tini tak sanggup membangun rumah baru. Mereka mengontrak satu rumah kecil. Dalam setahun, ia tak sanggup membayar kontrak rumah. Mereka pun tinggal di sebuah kamar kos.

Pada saat seperti itulah muncul tawaran untuk bekerja di vila yang berdiri di bekas tanah miliknya. Di sana Warsa dan istrinya mendapatkan kamar di bagian belakang. Mereka bertugas membersihkan vila, merawat kebun, dan berbagai pekerjaan lain. Untuk itu, mereka mendapatkan upah bulanan, tempat tinggal, dan kebutuhan sehari-hari.

Malam ini adalah malam kesekian Tini menunggu kabar dari kedua anaknya. Sesekali mereka menelepon, menanyakan kabar. Tetapi tak pernah lama. Pembicaraan selalu terputus setelah mereka berbicara beberapa kalimat. Tak sekali pun mereka menyinggung keinginan untuk pulang.

”Aku kangen pada mereka. Ingin mereka ada di sini bersama kita. Tapi, aroooooohhhhh, di mana mereka harus tidur? Sangat aneh kalau mereka pulang, tetapi harus menginap di hotel.” Tini kembali berkata-kata dengan suara lemah diselingi isak tertahan.

”Nanti kita buat rumah yang besar di Tabanan,” hibur Warsa. ”Kita bikin kamar-kamar yang besar untuk kedua anak kita. Di depan rumah kita buat halaman yang luas agar cucu kita bisa berlarian sekehendak hati mereka.”

Hening. Komang Warsa tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Karena itu, kata-kata yang keluar dari mulutnya terasa datar dan hambar.

”Jangan mimpi,” sahut istrinya. ”Sangat mungkin mereka enggan pulang karena sudah tahu tidak lagi punya banjar. Tidak lagi punya sanggah. Apa gunanya pulang kalau tidak bisa maturan, mebakti pada leluhur. Untuk apa pulang kalau tidak tahu harus pulang ke mana....”

Hingga malam tergelincir ke pagi, kedua suami-istri ini tak juga berhasil memejamkan mata. Pikiran mereka berkelana ke mana-mana, terutama ke masa lalu, ke masa ketika anak-anak masih kecil, ketika mereka menggarap sawah sempit di belakang gubuk yang mereka huni. Dulu mereka memupuk harapan kelak anak-anak itu menjadi petani hebat, memiliki sawah luas dan perkebunan berhektar-hektar. Mereka tak pernah jemu menyaksikan Putu dan Made berlarian, bertelanjang, tubuh penuh lumpur. Mereka selalu tertawa menyaksikan Made tersaruk-saruk di sawah basah, sesekali terjatuh, dan bangun dengan susah payah. Tak pernah mereka membayangkan tanah yang membahagiakan itu akan berubah menjadi vila megah milik lelaki berkulit putih dengan bulu di sekujur tubuh. Mereka tidak pernah membayangkan, sanggah tempat biasa bertutur sapa dengan para leluhur kini berubah menjadi kolam renang.

Ingat itu semua, Komang Warsa mengeluh. Ternyata ia hanyalah lelaki yang lemah. Ia merasa tak sanggup mempertahankan tanah yang diwariskan oleh ayahnya, oleh kakeknya, oleh para leluhur.

”Sudah lewat. Sudah telanjur. Apa lagi yang bisa dilakukan selain berharap nanti kita bisa membangun yang lebih besar di tegalan kita di Tabanan,” kata Warsa, lebih kepada diri sendiri. ”Mungkin kalau tanah ini tidak kita jual, kita tidak akan mampu menyekolahkan anak-anak, mungkin Putu tidak menjadi polisi, mungkin hanya akan menjadi pemabuk di sini karena tanah kita tidak bisa ditanami padi lagi. Sudah tidak ada saluran air. Subak tidak berfungsi. Kita pun tak sanggup membayar pajak. Sudahlah, sudahlah, mungkin memang harus begini. Mungkin karma kita memang harus begini.”

Dingin kian menggigilkan. Warsa memeluk istrinya. Keharuan sangat kuat menguasai kamar mereka. Warsa menyeka air di ujung mata istrinya. Kembali terdengar anjing menyalak mengikuti suara sepeda motor melintas di depan vila. Tak lama kemudian Komang Warsa tak ingat apa-apa lagi. Ia tertidur dengan posisi memeluk Tini. Perempuan itu tetap tak bisa memejamkan mata. Tetap menatap nanar ke arah langit-langit putih kamarnya. Pikirannya berputar-putar, kepalanya terasa sangat pening, dan beberapa butir air mata menggelinding jatuh ke bantal. Kini ia hanya diam. Sekuat tenaga ia menahan agar tak sesenggukan. Takut suaminya terbangun. Ia tahu suaminya pun sangat sedih. Sangat pedih. Sangat kecewa dengan perjalanan hidup yang mereka lalui. Berkali-kali suaminya itu mengeluhkan kelemahannya sebagai lelaki dan sebagai suami yang menyeret Dek Tini ke ruang sempit di belakang vila ini, bekerja sebagai jongos di vila yang dibangun di bekas tanah milik mereka.

Tini sangat mencintai suaminya. Tini tidak mau suaminya merasa tidak berguna. Maka ia tak ingin Warsa terbangun dan kembali menyadari posisinya. Sakit di leher ia tahan sekuat tenaga.

Hingga pagi tiba.

Ketika matahari memancarkan cahayanya di balik atap vila-vila yang berjajar sepanjang jalan kampung, Komang Warsa terjaga. Perlahan ia bangkit dari tempat tidur. Dilihatnya Dek Tini tertidur. Sisa air mata masih terlihat di sudut mata yang terpejam. Beberapa kali ia lihat istrinya itu mengeluh dalam tidur dan menyebut-nyebut nama kedua anaknya. Warsa tak kuasa menahan haru. Ia segera keluar kamar, mencuci muka, pergi ke kolam renang dan membersihkan guguran daun-daun yang mengambang di atas air.

Kali ini ia tidak sepenuhnya berkonsentrasi. Pikirannya menerawang pada istrinya, pada kedua anaknya, juga kepada sanggah yang telah berganti kolam renang. Komang Warsa tidak bisa menampik kebenaran kata-kata istrinya. Rumah tidak ada. Sanggah tidak ada. Banjar pun tak jelas pula, karena kampung ini telah berubah total. Tak ada lagi warga asli yang menjadi warga banjar. Semuanya telah menjual sawah dan rumah mereka dan kini berpencaran entah di mana. Maka terbayanglah masa akhir hidupnya: ”Kelak kalau mati siapa yang akan ngabenkan jasadku, jasad istriku, dan anak-anakku?”

Komang Warsa lahir dan besar di kampung ini. Istrinya pun lahir di sini. Keluarga mereka semuanya lahir di sini. Nenek moyang mereka pun lahir di sini. Karena itu, hanya di sini mereka mebanjar. Tidak di tempat lain. Lalu, jika banjar itu bubar, banjar mana lagi yang bisa mereka datangi agar kelak ada orang yang mengurus jasad mereka.

Komang Warsa memandang nanar pojokan kolam. Di sanalah sanggah mereka berdiri. Dulu. Di sanalah ia dan istrinya menghaturkan sesembahan kepada para leluhur. Di sanalah ia merasa bisa bertemu dengan para leluhur dan meminta agar mereka senantiasa melindungi keluarganya, senantiasa memberi petunjuk kebenaran dan jalan kehidupan. Kini sanggah itu telah lenyap. Ia merasa tak menemukan tempat untuk bisa berkomunikasi dengan para leluhur. Ada kekosongan besar dalam dadanya, dalam hatinya, dalam pikirannya.

Ketika kekosongan itu kian melimbungkan, Warsa dikejutkan suara istrinya yang terdengar letih.

”Aku mau maturan. Bisa tolong belikan canang?”

”Kenapa harus beli canang. Mari aku petikkan beberapa bunga yang ada di sini. Bersembahyanglah dengan itu,” jawab Warsa sambil berdiri dan memetik beberapa jenis bunga di kebun halaman vila. Mereka meletakkan bunga-bunga itu di atas daun pisang yang dibentuk seperti piring. Dengan sarana sederhana itu Dek Tini bersembahyang di pinggir kolam, persis di lokasi sanggah mereka dulu.

Dengan khusyuk perempuan berkulit coklat itu mencakupkan tangan dengan satu kelopak bunga di ujung jari. Tangan itu diangkat hingga ke atas kepala diiringi ucapan-ucapan yang tak jelas. Lama sekali Dek Tini melakukan persembahyangan itu. Terlalu lama untuk ukuran biasa. Terlalu lama untuk ukuran Komang Warsa. Lelaki itu pun cemas. Ia segera mendekati istrinya. Tapi belum sampai di tempat istrinya sembahyang, ia lihat Dek Tini limbung dan jatuh.

Komang Warsa panik. Ia mengangkat tubuh istrinya. Berlari keluar vila. Berteriak minta tolong. Orang-orang berlarian mengerumuni. Warsa bingung karena hampir semua orang yang mengerubutinya berkulit putih dan bertanya-tanya dalam bahasa asing.


Catatan:

Banjar: komunitas warga setingkat RW

Sanggah: tempat suci keluarga

Maturan: menghaturkan sesaji

Mebakti: bersembahyang

Canang: sesaji dari janur/daun dan bunga



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ketut Syahruwardi Abbas
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" pada 9 November 2014

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi