Alit dan Nita dan Kencan yang Mematikan ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 22 Desember 2014

Alit dan Nita dan Kencan yang Mematikan



SYEKH membakar diri bersama para pengikutnya di ladang jagung dan aku sangat berharap orang itu bukan Alit. Namun, bagaimanapun, ada perasaan cengeng yang susah diingkari, yang muncul begitu saja saat aku berjumpa dengannya dan melihat pelupuk matanya beberapa bulan lalu. Itu pelupuk mata Alit. Ia terlalu dekat denganku, lebih dekat ketimbang urat leherku sendiri, dan sekarang aku membenci Nita, penyanyi panggung yang menurutku telah menyebabkan jalan hidup Alit berkelok-kelok dan berakhir dengan membakar diri.

Dan ini tafsirku tentang perempuan yang kubenci itu: Nita datang dari Pacitan.

Memang ini bukan tafsir finalku tentang Nita, namun aku cenderung meyakini kebenarannya. Setidaknya aku sudah menggunakan lebih dari satu metode untuk menafsir asal muasal gadis itu. Pertama, dengan intuisi atau katakanlah sebuah getar dalam hati, sesuatu yang kaupercaya akan menuntunmu pada kebenaran sekalipun kau tidak tahu bagaimana ia bekerja. Cara menggunakannya sederhana, jika intuisimu mengatakan bahwa Nita berasal dari Pacitan, maka seperti itulah kenyataannya.

Ilustrasi Oleh Munzir Fadly
Kedua, dengan imajinasi kreatif, sebuah metode yang diperkenalkan oleh Goran Vekaric, pertapa abad kedua puluh dari Semenanjung Balkan. Para pengikutnya atau mereka yang membaca bukunya mengamalkan metode Goran untuk melacak siapa mereka di kehidupan yang lalu. Aku menggunakannya untuk melacak masa lalu Nita. Berulang kali aku duduk bersila di dalam kamar membayangkan Nita, mengingat-ingat ratapnya di panggung, suara dangdutnya, bentuk wajahnya, lekuk pinggulnya, jenis kulitnya, kukunya, dan logat bicaranya. Dengan semua yang melekat padanya saat ini, kau bisa menarik gambaran diri gadis itu mundur satu tahun, dua tahun, tiga tahun, lima tahun, sepuluh tahun, hingga dua puluh tahun dan kau akan menjumpai kanak-kanak khas Pacitan. Kau bisa menjumpai banyak kanak-kanak semacam itu sedang bermain dan berteriak di jalan-jalan pada sore hari sekiranya kau melintasi daerah tersebut dari arah Wonogiri menuju Ponorogo atau sebaliknya.

Ketiga, aku mengumpulkan semua kisah, baik dari koran, majalah, maupun kabar burung, tentang penyanyi kafe. Ini kuperlukan untuk mendapatkan gambaran paling persis mengenai Nita. Sejarah berulang, kata orang, dan Nita mungkin sedang mengulang potongan-potongan sejarah dari para pendahulunya, penyanyi-penyanyi kafe lain yang sudah meratap sebelum Nita.

Sekarang, aku akan memulai dari nama, sebab sejarah selalu bermula dari nama-nama, dan izinkan aku meralat lebih dulu dugaanku yang keliru tentang nama Nita. Lima tahun lalu, di tempat minum itu, aku menduga bahwa nama Nita mungkin bukan nama sebenarnya, sementara nama Siska, teman bicaranya, mungkin nama sebenarnya.

Di situlah aku meleset. Nita mengakui bahwa itulah nama asli yang diberikan oleh orang tuanya.

“Aku tak pernah berpikir untuk mengubah-ubah nama,” katanya. “Kurasa aku tidak melakukan pekerjaan yang memalukan ketika menyanyi di panggung dan nama pemberian orang tuaku bukan nama yang memalukan. Banyak yang mengganti nama mereka dengan nama baru. Fenty, misalnya, sebenarnya bernama Suwarti. Begitu juga beberapa temanku yang lain.

“Aku tahu bahwa panggung sering memaksa kita membuat nama baru. Sebab ada sorot lampu dan sorot mata yang menimpa kita. Ada kehidupan lain yang tidak sama dengan kehidupan di rumah kita. Ada tabiat-tabiat lain yang berbeda dari tabiat kita sehari-hari. Mungkin demikian alasan orang berganti nama. Tapi aku tak merasa bahwa panggung adalah dunia yang lain.

“Panggung bagiku sekadar ruang sebelah dari sebuah rumah, itu jika kita mengibaratkan ruang hidup kita adalah sebuah rumah. Ia bukan bagian yang terpisah. Karena itu aku tidak memerlukan banyak nama untuk satu kehidupan yang kujalani.”

Kutipan di atas kuambil dari sebuah wawancara dengan penyanyi kafe tahun 1970-an, bernama Nita juga, yang kini menjadi pengusaha panti pijat di daerah Parung. Ada beberapa wawancara dengan penyanyi kafe bernama Nita, dan menurutku wawancara tersebut yang terbaik. Sebenarnya aku curiga itu bukan kalimat asli Nita. Mungkin si wartawan menuliskan isi pikirannya sendiri, dengan kalimat-kalimatnya sendiri, namun aku tidak melacaknya lebih jauh. Jadi, kita percayai saja bahwa kutipan di atas adalah salinan omongan Nita.

Nita 1970-an ini lahir pada bulan Juni dan kupikir Nita muda, penyanyi panggung yang sedang kita lacak sejarahnya, juga lahir di bulan yang sama. Maka tak ada soal jika aku mengutip ucapan Nita tua untuk memahami Nita muda. Mereka sama-sama Gemini. Cara berpikir mereka niscaya sama dan jalan hidup yang mereka tempuh tentu tak akan jauh berbeda—demikian pula penjelasan mereka soal nama.

Dengan penjelasan tersebut, kuharap pemahaman kita soal nama Nita menjadi lebih baik. Selanjutnya, kita memasuki sebuah trauma.


KOTA Pacitan berwarna coklat tanah dan memiliki banyak gua dan hanya sekali dalam hidupnya Nita masuk ke dalam gua, ialah ketika sedang menjalin cinta monyet dengan teman SMP-nya. Mereka tidak berciuman di sana atau saling menyentuh. Mereka hanya memarkir sepeda masing-masing di mulut gua, kemudian masuk, dan si pacar-monyet dengan sigap mencengkeram tangan Nita saat gadis itu terpeleset. Umur Nita tiga belas dan anak lelaki itu tiga belas dan keduanya baru kelas satu SMP. Jantung mereka berdebar. Mulut anak lelaki itu bergerak-gerak, sulit sekali mengeluarkan bunyi, namun akhirnya bisa juga ia bicara.

“Kau sudah mengerjakan tugas matematika?” tanyanya.

“Belum. Kita pulang saja, yuk!” ajak Nita.

“Pemandangan di sini bagus.”

“Tapi aku belum mengerjakan tugas.”

Titik-titik air jatuh dari taring-taring batu di atap gua. Si anak lelaki, yang sebenarnya hanya ingin menunjukkan perhatian kepada gadisnya, menjadi gelisah oleh pertemuan yang cepat berakhir.

Seorang pencari kayu, anak lelaki sebaya mereka, memergoki keduanya saat mereka baru keluar dari mulut gua. Nita gugup melihat anak itu dan sekali lagi ia terpeleset karena gugup. Pacar-monyetnya kembali menyambar dan Nita cepat-cepat mengibaskan tangannya dan membebaskan tangan itu dari genggaman pacar-monyetnya. Pencari kayu bakar sempat melihat mereka saling berpegang tangan dan ia melihat bagaimana Nita menarik tangannya dengan muka gugup.

Lalu orang-orang mendengar dan menyiarkan ulang kabar tentang dua orang yang berpacaran di dalam gua; mereka bergandeng tangan dan saling melepas kancing baju dan saling menyentuh dan mungkin lebih dari itu, dan muka si perempuan menjadi gugup ketika perbuatan mereka ketahuan orang. Seminggu Nita tidak masuk sekolah karena demam dan malu dan kemudian menganggap pacar-monyetnya tak pernah ada. Si lelaki, demi membuktikan dirinya ada, menjadi suka berkelahi, baik di kelas maupun di jalanan, dan Nita semakin menjauhinya.

Kelak mereka akan bertemu satu kali lagi, di sebuah toko milik juragan Cina tempat lelaki itu bekerja sejak ia dikeluarkan dari sekolah karena kian berandalan. Itu kepulangan pertama Nita setelah bertahun-tahun ia meninggalkan Pacitan menuju Jakarta. Oh, sebenarnya itu kepulangan kedua; yang pertama adalah ketika Nita menikah dan si lelaki tidak menghadiri resepsi pernikahan. Pada hari mereka bertemu, lelaki itu menanyakan apakah Nita sudah punya anak dan Nita menjawab belum. Nita menanyakan apakah ia sudah punya anak dan lelaki itu menjawab tiga. Lalu pemilik toko memanggilnya dari dalam dan lelaki itu masuk menemui juragannya dan keluar lagi sambil menuntun sepeda.

“Berapa lama kau pulang, Nita?” tanyanya.

“Tiga hari,” jawab Nita.

“Kita dolan ke gua lagi?”

Nita tertawa. Lelaki itu tidak tertawa. Ia mengayuh sepedanya ke arah timur cepat sekali dan otaknya yang runyam mengarang cerita wagu: istrinya tiba-tiba mati, suami Nita tiba-tiba mati, dan ia melamar Nita untuk menjadi ibu bagi ketiga anaknya.

Di tengah jalan air matanya bercucuran.


NITA 1970-an menyatakan bahwa di waktu kecil ia memiliki banyak keinginan. “Tergantung suasana hati,” katanya. “Ketika jatuh cinta aku ingin menjadi semut sehingga bisa masuk ke kamar orang yang kucintai tanpa takut ketahuan orang lain. Lalu aku akan merayapi tubuh lelaki itu dan sesekali menggigit kupingnya.

“Aku juga ingin sekali menjadi penjaga pintu masuk gedung bioskop, setiap hari bisa menonton film gratis. Itu pekerjaan yang kupikir sangat menyenangkan.”

Nita muda ingin menjadi burung. Burung apa saja. Bahkan burung hantu. Mungkin sekarang keinginannya tercapai: ia menjadi burung hantu, yang keluar dan menyanyi hanya pada malam hari. Ia menikah pada umur 24 tahun dengan lelaki 46 tahun. Pada malam pertama, seusai mereka bercinta, Nita menangis lama sekali di dada suaminya dan berbisik, “Aku akan terbang jauh sekali jika kau menyakitiku.”

Aku tak mendapatkan alasan kenapa Nita berkata seperti itu. Aku juga tidak berhasil menggali peristiwa apa yang mempertemukan dan membawa mereka ke pernikahan. Dan karena jodoh adalah rahasia Tuhan, maka biarlah hanya Tuhan yang tahu di mana mereka pertama kali bertemu dan bagaimana cara mereka saling jatuh cinta dan atas dasar apa Nita mau menikahi lelaki yang 4 tahun lebih muda dibandingkan ayahnya dan 2 bulan lebih tua dibandingkan ibunya.

Mungkin Nita mencintai suaminya sebagaimana ia mencintai ayahnya. Lelaki itu seorang guru SD seperti ayah Nita. Dari pagi hingga siang ia mengajar, sore hari ia menjadi tukang ojek, dan pada pukul satu dinihari ia menjemput istrinya. Mereka akan sampai di rumah pada pukul dua dinihari dan lelaki itu sudah mengajar di kelas pada pukul tujuh pagi, kadang sambil menguap berkali-kali seolah ia sudah bosan mengajar. Tapi ia sudah lama menjadi guru dan sudah hapal semua pelajaran, sehingga sekalipun mengantuk ia tetap bisa menyebutkan dengan benar di mana pabrik karung goni terbesar, siapa penemu akuarium, dan siapa presiden pertama negara Filipina.

Sampai sekarang, lelaki itu tetap guru, tukang ojek, dan suami yang baik. Nita tidak pernah berpikir untuk menyakitinya atau membuat resah kepalanya. Namun seekor burung hantu, kautahu, pada dasarnya adalah makhluk yang tak suka disangkarkan. Hari itu Nita berpesan kepada suaminya agar tidak usah datang menjemput. “Aku menyanyi di Bogor malam ini,” katanya.

Ia berangkat dari rumah lebih sore ketimbang biasanya, mengenakan gaun hijau bermotif daun-daun, dan tidak ke Bogor. Ia tidak menyanyi hari itu. Ia menjumpai Alit yang menunggunya di gedung kesenian.

“Aku suka gaunmu,” tulis Alit tiga bulan sebelumnya pada kertas permintaan lagu. “Kau mengingatkan aku pada sesuatu yang terus kurindukan hingga hari ini.”

Oleh pelayan kafe, kertas itu diserahkan kepada Nita yang sedang berdiri di panggung mengenakan gaun hijau bermotif daun-daun. Ia tidak tahu siapa yang menuliskannya; orang itu hanya menulis pesan dan tidak mencantumkan namanya. Tiga hari kemudian Nita mengenakan gaun bermotif daun-daun lagi dan berharap orang yang menulis pesan itu ada di antara para pengunjung kafe.

“Aku sering datang kemari. Tapi rupanya kau tidak pernah mengenakan gaun bermotif daun-daun lagi,” tulis Alit, di kertas permintaan lagu, sebulan setelah pesannya yang pertama.

Nita mengenakan gaun merah muda saat menerima pesan itu. Ia menjadi sedih tiba-tiba dan meratap maksimum di panggung.

Sejak kejadian itu, dua atau tiga kali seminggu Nita mengenakan gaun bermotif daun-daun—gaun yang itu-itu juga. Kalau gaun itu belum kering betul di tali jemuran, ia akan menyuruh pembantunya mengeringkannya dengan setrika.

“Nanti baunya tidak enak, Bu,” kata pembantunya.

“Aku hanya menyuruhmu menyetrika. Lakukan saja,” kata Nita.

Pembantu itu benar. Ketika dikenakan, gaun yang dikeringkan paksa itu menguapkan bau aneh seperti kandang burung puyuh. Namun itu tetap lebih baik bagi Nita daripada ia harus mengenakan gaun lain.

“Kau sering mengenakan gaun ini sekarang,” kata Siska, seminggu sebelum pertemuan Nita dan Alit.

“Ya,” kata Nita.

“Sedang jatuh cinta?”

“Aku sering mimpi buruk akhir-akhir ini.”

“Itu berarti sedang jatuh cinta.”

“Entahlah. Ia hanya memuji gaun yang kukenakan, tetapi aku merasa seperti dilemparkan ke dalam gua, sebuah tempat yang memungkinkan segala hal terjadi, tetapi sampai bertahun-tahun kemudian tak pernah terjadi apa-apa.”

“Siapa lagi yang menyatakan cintanya kepadamu?”

Nita menggeleng.

“Ia tak pernah menyebutkan namanya,” katanya.


ALIT duduk di tangga pintu masuk gedung kesenian dan matanya terus memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di pintu pagar dan ia lekas mengalihkan pandangannya ke arah lampu-lampu di seberang jalan ketika matanya sudah melihat Nita, dengan gaun hijau bermotif daun-daun, berjalan di antara orang-orang lain yang menuju gedung kesenian. Dan Alit tetap melihat ke arah lampu-lampu saat Nita sudah berada di dekatnya, berlagak tidak menyadari kehadiran gadis itu, seolah-olah ia duduk di tangga itu hanya untuk menikmati suasana dan tidak sedang menunggu siapa pun.

“Sudah lama?” tanya Nita.

Alit menoleh ke arah datangnya suara. Ia menjadi kaku beberapa saat, memandangi perempuan yang berdiri di depannya, merasakan turunnya mukjizat.

“Hai,” kata Alit. “Ibuku mengenakan gaun sepertimu ketika bertemu bapakku.”

“Kau sangat mencintai ibumu?” tanya Nita.

“Aku mencintaimu.”

“Ibumu pasti orang baik. Hidup akan menyenangkan jika kita memiliki ibu yang baik.”

“Ia meninggalkanku saat aku kecil.”

Nita diam, jari-jarinya mempermainkan kancing tas kecilnya.

“Aku juga akan meninggalkanmu,” katanya.

“Lakukanlah. Setiap orang yang kucintai selalu meninggalkanku.”

“Apa maksudmu mengajakku kemari?”

“Aku mencintaimu.”

“Jujur saja, apa maksudmu mengajakku kemari?”

“Aku mencintaimu.”

“Kau tahu aku sudah bersuami?”

“Kau tidak mencintai suamimu. Aku tahu suamimu.”

“Ia orang baik. Aku mencintainya.”

“Kau mencintaiku.”

“Apa maksudmu?”

“Kau datang kemari, mengenakan gaun ini, karena kau mencintaiku.”

Nita kembali diam, agak lama. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongannya, yang sulit ditelan maupun dimuntahkan.

“Berterus teranglah, kau tidak sungguh-sungguh,” kata Nita.

“Aku sungguh-sungguh....”

“Semula kupikir begitu, kau memuji gaunku, kau mencintaiku, dan aku ingin mengenakan gaun ini setiap hari untukmu. Aku ingin kau selalu melihatku mengenakan gaun ini. Tapi orang itu datang menemuiku dan mengatakan semuanya kepadaku. Kautahu, aku hampir menangis saat itu. Aku mempercayaimu, aku berusaha mengenakan gaun ini sesering mungkin untukmu, dan kalian rupanya hanya bertaruh. Kau dan lelaki gendut yang hampir tiap malam datang ke tempat minum.”

“Nita....”

Perempuan itu menggeleng. Alit seperti dipatuk malaria.

“Dua hari lalu ia datang kepadaku,” lanjut Nita. “Ia memintaku agar menolak ajakanmu dan berjanji akan membagi dua denganku uang kemenangannya jika aku menolakmu. Aku tidak mau bersekongkol dengannya, maka aku datang kemari memenuhi ajakanmu. Kau menang. Kita nonton dan setelah itu jangan pernah lagi menemui aku.”


KENDATI tak pernah bertemu lagi dengan Nita sejak menyaksikan penampilannya lima tahun lalu, aku sempat bercakap-cakap dengannya belum lama ini. Dari buku telepon aku mencatat nomor telepon kafe tempat ia biasa bernyanyi. Kuhubungi nomor itu dan seorang perempuan mengangkat gagang telepon di sebelah sana dan kukatakan bahwa aku ingin bicara dengan Nita. Perempuan itu menjawab bahwa Nita hari itu menyanyi di Bogor. Aku meminta nomor telepon kafe di Bogor itu dan perempuan di seberang menjawab tidak tahu.

“Nomor telepon rumahnya?” tanyaku.

“Tidak ada,” katanya.

Telepon ditutup. Kurasa perempuan di seberang itu berbohong, namun aku tidak sakit hati karena perempuan itu berbohong. Yang penting aku sudah memiliki nomor telepon kafe itu dan bisa menghubunginya setiap waktu untuk mendapatkan penjelasan dari Nita.

Ketika akhirnya aku bisa berbicara langsung dengannya, beberapa bulan setelah Syekh membakar diri, kubilang kepada gadis itu bahwa seharusnya ia tidak berlaku terlalu kejam kepada Alit. “Aku tahu betul anak itu,” kataku. “Kami berteman baik dan ia memiliki perasaan yang sangat lembut dan kau telah menyakitinya. “

“Apa pedulimu dengan yang kulakukan?” teriaknya.

“Kalau pertemuan kalian tidak berakhir dengan cara seperti itu, aku yakin Alit tidak akan menempuh jalan yang membawanya pada api,” kataku. Lalu kuceritakan kepadanya perihal Syekh yang membakar diri bersama para pengikutnya.

“Kau sama menjengkelkannya dengan anak ingusan itu,” katanya. “Aku tak punya hubungan sama sekali dengan siapa pun yang membakar diri. Aku bahkan tidak kenal dengan kawanmu yang bernama Alit.”

Setelah itu tak ada apa-apa lagi yang bisa kudapat darinya. Ia memutus pembicaraan dan aku benci sekali kepadanya. Tiba-tiba aku merasa memiliki sejumlah alasan untuk mengutuknya. Dialah yang telah menyebabkan temanku membakar diri. Aku merasa bahwa masa lalu gadis itu mungkin jauh lebih buruk ketimbang apa yang baru saja kusampaikan. Karena itulah ia suka menyakiti orang lain.

Aku merasa kasihan sekali pada Alit dan kupikir aku perlu membongkar kemungkinan lain, yang jauh lebih akurat, tentang masa lalu Nita. []


A.S. Laksana telah menerbitkan dua kumpulan cerita pendek, yaitu Bidadari yang Mengembara (2014) dan Murjangkung, Cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu (2013)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya A.S. Laksana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" pada 21 Desember 2014


Share:





Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya



Arsip Literasi