Cincin Ibu ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 08 Desember 2014

Cincin Ibu


Ibu pernah bercerita sekali waktu tentang cincin mawar hitam yang didapatnya dari nenek buyut. Bentuknya batu akik kecil. Di dalamnya terdapat siluet bunga mawar. Cincin itu berwarna hitam. Seluruhnya berwarna hitam. Menurut ceritanya, cincin itu sepserti 'penglaris'. Karena setiap memakai cincin itu ke pasar, hasil penjualan akan lebih banyak.

Tapi ketika ayah tahu ada bau klenik di dalamnya, ia langsung murka.

"Mulai sekarang jangan pakai cincin itu lagi,"

"Percaya saja sama Tuhan!!" Kata ayah setengah membentak. Ibu segera melepas cincin mawar hitam di jari telunjuk kanannya. Dimasukkan ke dalam saku bajunya. Lalu kembali berdagang.

Tapi sejak saat itu, entah benar atau tidak, dagangan ibu semakin kurang laku.

"Bu, kenapa cincinnya tak dipakai lagi?" tanyaku suatu hari.

"Ibu takut Ayahmu marah nanti," jawab ibu sedih.

"Aku tahu Ibu hanya sekadar memakainya," kataku.

"Iya, Ibu juga tak pernah berdoa meminta penglarisan dari situ," sahut Ibu sambil menghela napas. Tatapannya kosong menerawang jauh. Dagangannya nyaris bangkrut. Dari hari ke hari kian sepi. Lalu pada akhirnya lapak dagangan ibu harus tutup dan dijual.

"Yah, kenapa ibu tak boleh pakai cincin itu?" aku bertanya kepada ayah yang sedang duduk di kursi malas.

"Ayah tak mau makan dari uang hasil klenik," jawab ayah singkat.

"Ibu kan tak pernah anggap cincin itu penglaris, Yah," kataku.

"Iya tapi cincin itu pernah dipakai Nenek Buyutmu," sahut ayah. Aku geleng-geleng kepala.

"Oo jadi begitu,"

"Dagangan Ibu jadi tak laku, apa Ayah mau tanggung jawab?" tanyaku lagi.

"Itu salah Ibumu sendiri, kurang inovasi," jawab ayah sudah tak peduli. Aku tertegun mendengarnya.

Ilustrasi oleh Joko Santoso
Aku tak tahu kenapa ayah seperti ini? Entah apa yang sudah merasuki pikirannya? Ayah sudah banyak berubah sekarang. Sebagian besar uang gajinya malah ia dermakan padahal ayah seorang pegawai kantor kecamatan yang gajinya tak seberapa.

"Urusan surga tak boleh ditunda," Begitu alasan ayah ketika aku bertanya mengapa berderma begitu banyak. Aku mengelus dadaku. Karena bagiku, sebagian uang itu lebih baik untuk membeli kebutuhan pokok. Aku dan adikku jadi bisa makan telur dan daging ayam seperti dulu, ketika ibu masih berdagang.

"Ayah, bukankah berderma itu hanya dua setengah persen saja?" tanyaku.

"Lebih besar kan lebih bagus, Tuhan juga pasti akan suka," jawab ayahku. Tak sempat aku menyahut, ayah sudah berkata lagi. 

"Lagipula kamu, anak kemarin sore tahu apa soal agama," tanya ayah kesal. Aku langsung terdiam. Masuk kamar, menenangkan diri.

Memang ketika ibu tak lagi berdagang, kehidupan perut mulai terbatasi. Telur dan ayam hanya mampir dua minggu sekali. Itupun karena adikku yang meminta. Sebagai anak tertua, aku tahu diri. Tak meminta yang lebih. Bersyukur saja sudah bagus.

Karena itu, aku tak mau kuliah. Merasa membebani. Ingin aku bekerja saja tapi ibu tak setuju. Malah memaksaku kuliah.

"Kuliah saja, masa depanmu nanti akan cerah." Aku menurut. Bagiku, perintah ibu adalah wakil perintah Tuhan. Sedih memikirkan dari mana ibu mendapatkan uang biaya kuliahku. Berutang lagi, itu jalan satu-satunya yang aku tahu.

Semenjak tak lagi punya pekerjaan, ibu hanya duduk di teras rumah. Memandangi cincin mawar hitamnya sambil sesekali menghisap rokok. Kepulan asap rokok selalu memenuhi sudut ruangan. Terkadang, aku melihat banyak puntung rokok berserakan di lantai.

Aku tak tahu kapan ibu mulai merokok. Mungkin semenjak beban pikiran ibu terus menumpuk, rokok pun jadi pelariannya. 

Dari kejauhan aku hanya berani memperhatikan ibu yang asyik merokok. Pernah aku mencoba mengingatkan bahaya merokok kepada ibu. Tapi tatapan mata ibu yang memerah mengurungkan niatku. Membuatku tak berani berkata apapun.

Kebiasaan ibu merokok sudah berlangsung dua bulanan. Adik sementara waktu kutitipkan di rumah nenek. Aku khawatir ia nanti terbawa dalam kesedihan ibu hingga ikut-ikutan meniru kebiasaan merokoknya.

Tampak ayah sudah tak peduli dengan keadaan ibu sekarang. Di pikirannya, hanya ada uang dan kerja saja. Tak lebih dari itu.

Di rumah, mungkin hanya aku yang peduli pada ibu. Hampir setiap hari, aku membersihkan puntung rokoknya yang berserakan di lantai. Atau sekadar membuatkannya makanan dan minuman.

Hingga di suatu pagi, aku lihat ibu tak tampak duduk di teras rumah seperti biasanya.

"Ayah tahu di mana Ibu?" tanyaku. Ayah menggeleng. Selama dua bulan, keduanya tak lagi bertegur sapa. Tak lagi berkomunikasi. Tak pula tidur seranjang.

Sudah aku cari ibu di sekeliling rumah. Tapi tetap tak juga menemukannya. Aku tak mau putus asa dan terus mencarinya. 

"Kemana gerangan Ibu?" batinku sedih.

Kabar mengejutkan di pagi itu datang dari tetangga. Ibu ditemukan pingsan di pinggir jalan. Sekarang ada di Rumah Sakit. Mendengarnya, aku segera ke sana.

"Ibu anda di Sanatorium," kata perawat ketika aku bertanya soal pasien baru. Aku bergegas menuju ruang Sanatorium. Di dalam ruangan, aku mendengar banyak suara batuk orang-orang berulangkali.

Aku mendatangi satu persatu pasien. Tepat di sudut ruangan, aku menemukan ibu terbaring lemah di atas tempat tidur. Tak lama kemudian, ayah datang. Kedua tak slaing berkata. Hanya menatap satu sama lain. Lalu ayah memilih duduk menyendiri di sudut ruangan. Jari jemarinya sibuk berdoa sambil memetik satu persatu untaian tasbih di tangan.

Ibu menyuruh aku duduk mendekat. Aku menurutinya. Tak terasa air mata menetes di pipiku. Sepatah kata pun tak mampu keluar dari mulutku. Hanya bisa memandangi wajah pucat ibu. 

Keadaan di ruang Sanatorium jauh berbeda. Lantainya tampak bersih. Langit-langit ruangan putih bersih dari sawang dan jaring laba-laba. Kursi yang aku duduki pun terlihat mengkilap seperti baru saja dibersihkan. Lama, aku terdiam memandangi ibu.

Batuk ibu semakin menjadi-jadi. Tak tega melihatnya. Aku mengusap bibir ibu dengan sapu tangan yang sengaja kubawa dari rumah.

"Nak, maafkan Ibumu yang keras kepala ini," kata ibu. Aku hanya mengangguk pelan.

"Nak, Ibu ada satu permintaan," Ibu berkata lagi, kali ini dengan napas tempak tersengal. Aku kembali mengangguk pelan.

"Cincin ini untukmu," ujar ibu sambil mengambil cincin dari saku bajunya. Lalu memberikannya kepadaku. 

"Cincin ini seharusnya Ibu serahkan dari dulu."

"Jaga baik-baik cincin ini," kata ibu dengan wajah semakin pucat. Tangannya menggenggam erat tanganku.

"Baik, Bu," sahutku sambil berusaha tegar. Ibu tersenyum mendengarnya.

Lalu perlahan, tangan ibu mulai dingin dan terlepas lunglai, di pinggir tempat tidur. Tak ada lagi senyuman ibu yang selalu menghiasi duniaku. Yang ada kini hanyalah kesunyian.

"Aku sayang Ibu."

"Akan kujaga baik-baik cincin ini," bisikku di telinga ibu. Lalu kukecup kening ibu untuk terakhir kalinya.

Kualihkan pandangan ke arah ayah yang duduk di sudut ruangan. Aku melihat ada tetesan air mata membasahi pipi ayah. Aku yakin ayah menyesali perbuatannya selama ini kepada ibu.

Aku berdiri dari kursi lalu menghampiri ayah. Segera kupeluk erat tubuh ayah. Kami pun berdua larut dalam tangisan yang panjang. []

November 2014



Rujukan
[1] Disalin dari karya Herumawan PA

[2] Tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat"  pada 7 Desember 2014


Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi