Di bukit kopi dan pohon sepi ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 09 Desember 2014

Di bukit kopi dan pohon sepi


Sesudah Pukul 24

Di kamar mengendap, menyebut diri malaikat
Tanpa bayang dalam terang. Dan desis suara kian
tipis.
Detik merayap di dinding pekat.

Kucoba sebut namamu lirih
kueja, letih

Jarum jam bergerak menyelinap
pada lapuk kayu dan karat cuaca
Menghitung satu dua kepala. Tanpa jeda

Malam mulai berat.Gelap
memburu senyap


Burung Titir

Padahal pagi tak membawa kabar getir
Di sakunya hanya ada cerita kabur
kisah duka penghibur. Suaranya nyerocos
Ini bukan hari duka.

Lagu titir itu dirancang untuk siang
Mungkin sekedar pengingat. Hujan bisa menggeliat
atau menyayat para nadi
Dari dahan turi dan mahoni.

Sedang primbon tua yang berjaga
Menepis mimpi dari lelapnya
Dengarlah, serombongan bebal terjejal
di sebuah prosesi ajal

Ini bukan soal nestapa
Meski asap dupa merajalela.


Mata Angin

Rasa cemas itu berlari mengitari punggungku
berdesir menepis ribuan pasir yang merayap
sesekali meratap. Di antara dua mata
angin buritan dan sebuah palka

Beberapa ranting sudah patah
oleh angin. Mata angin berpendar

Di balik cadar


Di bukit kopi dan pohon sepi

Senja melarut ke pinggir cangkir
mengajakku meredam malam. Di sebelah kolam
tanpa ikan
Sebuah umpan dari kulum senyum
Menenggelamkan bibir ke dasar kolam

Ufuk tak henti menyiarkan batuk
Kalau pun kau ketuk
pintu itu tetap terkutuk
Di tirai pahitmu langit mendidih

Membakar biji kopi
dari pohon sepi.


Hitam

Tak satupun cicak merambat di dinding.

Tak ada nyamuk
meski di sekitar kolam mati puluhan air bercampur
tanah mati. Tak ada
satu pun darah merah. Hanya awan hitam
dari cuaca yang diselimuti dendam.

Lobang hitam. Kotak hitam.

Tak ada semut hitam beriringan menalikan kafan
di laut hitam yang tenggelam. Bayang-bayang
telanjang
bergambar rusuk ikan
lalu-lalang menarikan Rumi

berputar ribuan kali. Tak juga mati.



Rujukan
[1] Disalin dari karya Slamet Riyadi Sabrawi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" pada 7 Desember 2014
Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi