Jalan Malam - Sapu - Hujan Darah - Puisi dan Sampah - Sajak Sebelum Tidur | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 22 Desember 2014

Jalan Malam - Sapu - Hujan Darah - Puisi dan Sampah - Sajak Sebelum Tidur


Jalan Malam

Lelaki meringkik dalam malam
Menyusur kafan membetang sepanjang jalan
Liurnya meneteskan darah
Seperti tengah mengunyah dunia

Bedebah, Oi, lampu-lampu, semau cahaya,
bukankah berpusat pada mata

Lelaki itu terus saja berjalan
Menguntit bayangan kelam terus memanjang
Di depan di belakang, kiri-kanan
Roda-roda yang kesetanan, taman-taman,
taman dan Tuhan.

Mendadak ia merasa tubuhnya hancur
Atau dihancurkan. Menyerpih
Ketakutan. Berceceran di jalan-jalan
Surabaya - Wnosobo, 2014

Sapu

Plastik-plastik bekas--mantan penguasa
Daun-daun busuk--pejabat durja
Kertas-kertas koran--penuh nama
Tersangkut bulu sapunya

Kuman-kuman beriman--kau?
Tunggu giliranmu
Wonosobo, 2014

Hujan Darah

Tertulis: Hujan
Tapi sebenarnya adalah harapan
Orang-orang yang letih memandang negerinya
Kota-kota yang berjalan menuju kematian

Tertulis: Darah
Tapi sebenarnya adalah kutukan
Kita yang terlalu mudah percaya
Pada gambar, wajah dan suara renyah

Mereka, orang-orang yang merasa memliki kita
Sedang menyusun masa depan
Sedang kita, berdebar cemas
: Hujan darah terus menderas
Wonosobo, 2014

Puisi dan Sampah

Sebab puisi adalah laut
Yang menampung apa saja
Maka kau larung hari-hari murung
Juga daun-daun waktu
Ranggas. Hidup yang cadas

Puisi tak punya kehendak menolak
Tapi sebagai laut
Ia kadang pasang
Memuntahkan sampah-sampah
Mungkin kata-katamu juga, entah
Wonosobo. 2014

Sajak Sebelum Tidur

1.
Aku tanam sebiji sajak
Tumbuhlah ia sebelum subuh
Kelak, akan mati juga
Tak terbaca
Tapi ia pernah lahir
Dan Tuhan mencatatnya

2.
Bersamamu, mereguk senja
Membincang burung-burung yang pulang
Patung-patung yang pernah kita tumbuhkan
Runtuh mengabu

3.
Lampu masa lalu
Menggelapkan jalan menujumu
Dan, tidur?
Tak benar membuat kita lebur
Wonosobo, 2014

Malam Turun di Dadaku

I.
Anjing-anjing datang merayu
Angin menderu
Menahan kakiku
Menuju rumahmu

II.
Seabad untuk sampai ke langitmu
Belum tentu
Tapi untuk jatuh
Cukup sekerdipan lampu

III.
Wahai
Yang bukan angin
Belailah keangkuan
Lembutkanlah dendam
Wonosobo, 2014


*) Jusuf AN, lahir di Wonosobo, 2 Mei 1984. Puisi dan cerpennya dimuat di media cetak  dan antologi bersama: KIsah-kisah Dari Tanah di Bawah Pelangi (2008) Antologi Pendhopo #5  (2008)., dan Bangga Aku   Jadi Rakyat Indonesia (2012).  Cerpennya tergabung dlama antologi bersama, Robingah Cintailah Aku (2007), Jalan Menikung ke BUkit Timah (antologi Cerpen TSI II, 2009), Tiga Butir Peluru (2010), Perayaan Kematian: Liu Tse (2011), Guru Kehidupan (2012).

Jusuf AN melahirkan tiga novel , Jahenna (2010), BUrung-Burung Cahaya (2011)  dan Mimpi Rasul: Bibir yang Ingin Dicium Rasulullah Saw (Juni 2012), Pedang Rasul (2013). Kumpulan Cerpen Tunggalnya berjudul 'Gadis Kecil yang Mencintai Nisan' mendapat penghargaan  Sastra untuk Pendidik 2013, tinggal di Wonosobo.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jusuf AN
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" pada 21 Desember 2014

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi