Jerusalem - Ingin Aku Berdamai Denganmu - Daun Waru Itu Tak Pernah Jatuh - Negeri Dobol ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 29 Desember 2014

Jerusalem - Ingin Aku Berdamai Denganmu - Daun Waru Itu Tak Pernah Jatuh - Negeri Dobol


Jerusalem

DI tanah suci ini, di sini
tak kujumpai jejak dolorosa
tak kuhirup harum darah mawar
tak kudengar jerit cemeti yang merajut tubuhmu

kucium keringat manusia berebut pembelinya
bau uang dalam riuh tawaran
wangi kurma dan uap kopi di sepanjang gang

tak di sini, dolorosa yang hiruk
di tikungan senja hatiku
kulihat tuhanku jatuh
di hulu gerbang lithostrotos
pintu penolakan dan anugrah
bagi yang di dalam dan di luar
yang menutup dan membuka
terikat dan terbebas
di sempurna rancanganmu

jerusalem
tak yang kulihat
dengan mata batinku
kutangkap bayanganmu
kau berubah rupa
menelan pengembara terluka
dan memuntahkan kembali
di mulut kubur terbuka

jerusalem
kutangisi dirimu
kuagungkan jesus tuhanku
Jerusalem, 6 Oktober 2008

Ingin Aku Berdamai Denganmu

keletihan hidup mengubah nyala menjadi bara
kehilangan cahaya, tetap menyimpan panasnya
sebelum semuanya redup menjadi arang
terhisap menyuburkan bumi

air yang mengalir di tepian
tak kuasa mendaki
kecuali ada energi
yang mendongkrak langit: cinta

duri dan karat masa lalu
racun kata yang membahana
kehingaran senja yang memporanda
tak lagi perlu dibawa mimpi
melainkan seperti menara kembar
dibersihkan dan dibangun kembali
menengarai peradaban

bingkai madu yang terlupa
meski tidak mengenyangkan
kita coba hembuskan sensasinya
dan menaburinya dengan ragi: cinta
agar terbit embun di sana, apapun warnanya
asal manis kecapnya, dan aromanya
menenangkan kita

ingin aku bersenandung pelan
mengiring iramamu yang sendu
tak perlu menjadi merdu
selama getarannya
menembus sepasang daun waru

ingin aku berdamai denganmu, cintaku
menghabiskan sisa waktu
menunggumu menjadi bidadari
dan biarkan aku menjadi angin
sumilir di bawah sayapmu
Kudus, 21 Juni 2009

Daun Waru Itu Tak Pernah Jatuh

daun waru itu tak pernah jatuh
meski kubangan air mata mengering
tertutup belukar menggenggam derita
hanya desah tak putus habis 
larut bersama angin
mengembara menjadi pasangan jiwa

(dan linangan air mata meruah tulang rusuknya seperti batu kecubung kemilau sahdu)

28 Oktober 2013

Negeri Dobol

di negeri tercinta ini
negeri konon, negeri adiluhung
negeri kini, adigang adigung
bahasa persatuan diganti omong dobol
hingga rakyatnya jadi bongol

tadi malam televisi omong dobol
besok, koran pagi koran sore omong dobol
kemarin politisi omong dobol
sebelumnya wakil rakyat omong dobol
sebelum setelahnya petinggi negara omong dobol
setelah sebelumnya ketok palu omong dobol

OMG, negeriku...
OMG.....jadinya negeriku
tak tahan aku!
Kudus, 28 Mei 2011


Thomas Budi Santoso, lahir di Pati,19 November 1944. Menulis puisi sejak tahun 60-an.
Beberapa puisinya dimuat di berbagai media. Antologi puisinya, Masih Ada Menara, Sajak Kudus - 12 Penyair Indonesia, Antologi Penyair Nusantara: 142 Penyair Menuju Bulan, Antologi Puisi 2 Penyair; Nyanyian Sepasang Daun Waru & Dunia Bogam Bola; Krueng Aceh, Puisi-Puisi Penyair Jawa Tengah, Akulah Musi, Jilfest The 2nd Jakarta International Literary Festival 2011, Bima Membara, Requiem bagi Rocker, Dari Sragen Memandang Indonesia, Sauk Seloko, Puisi Menolak Korupsi, Dari Bumi Yang Sama, Pengantin Langit. 
Sebagai Penasehat Dewan Kesenian Kudus dan Penasehat Keluarga Penulis Kudus. 
Kini tinggal di Kudus Jawa Tengah.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Thomas Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" pada 28 Desember 2014



Share:





Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya



Arsip Literasi