Menghitung Waktu Yang Sia-Sia Untuk Menunggu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Menghitung Waktu Yang Sia-Sia Untuk Menunggu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 20:31 Rating: 4,5

Menghitung Waktu Yang Sia-Sia Untuk Menunggu

DI Stasiun Tugu, ada seorang wanita yang selalu duduk di kursi panjang. Wanita itu membawa ransel dan berambut panjang. Ia selalu menatap ke barat, ke ujung rel arah kereta datang.

Malam, fajar, subuh, pagi, siang, sore, dan senja, saya selalu melihatnya duduk di kursi panjang itu. Bukan dalam sehari, tetapi berhari-hari. Saat saya mau ke Jakarta pada malam hari, saya melihatnya duduk di kursi panjang itu. Saat saya pulang dari Jakarta pada saat fajar atau subuh, saya juga melihatnya duduk di kursi panjang itu. Saat saya mau ke Surabaya pada pagi hari, saya melihatnya duduk di kursi panjang itu. Saat pulang dari Surabaya pada sore atau senja, saya juga melihatnya duduk di kursi panjang itu. Ia selalu menengok ke arah barat, ke arah datangnya kereta api, seolah-olah ia sedang menanti kereta yang ia harapkan datang, atau barangkali ia sedang menanti seseorang yang sudah lama ia tinggalkan.

Suatu pagi, saat saya mau berangkat ke Jakarta untuk seminar, saya melihat wanita itu masih duduk di kursi panjang itu. Wajahnya murung. Saya dapat melihat wanita itu agak lama. Di tangan kanannya terkalung ransel ukuran sedang warna hitam. Di tangan kirinya ia memegang secarik kertas. Baru saja saya ingin mendekatinya, tetapi suara peluit dan petugas membuat saya harus segera naik kereta. Dan kemudian, wanita itu menjauh dari pandangan saya.

Di sebuah hotel di Jakarta, saya tidak bisa tidak memikirkannya. Hampir saja saya ingin menemuinya, tetapi tidak sempat. Barangkali, saat pulang nanti saya dapat menemuinya untuk sekadar berbincang-bincang atau minum kopi bersama. Menunggu memang sebuah pengorbanan waktu dan perasaan. Saya pernah sekali menunggu orang untuk waktu yang lama. Menunggu jawaban dari istri saya dulu sebelum kami menikah. Sama seperti wanita itu, saya menunggu berwaktu-waktu, berdetik-detik, bermenit-menit, berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Menunggu memang butuh kesabaran dan hati yang setenang danau. Jika hati tidak setenang danau, kita tidak mungkin dapat menerima kerelaan. Bagi saya, menunggu adalah sebuah kerelaan, dan bukan sebuah pengorbanan sebab rela adalah bersedia dengan ikhlas hati, dan bukan sikap, cara, atau pernyataan agar dianggap berjiwa kesatria oleh seseorang.

Di Jakarta, saya mendapat banyak pelajaran berharga, bahwa banyak sekali orang yang menunggu dengan tidak sabar. Seperti, beratus-ratus kendaraan bermotor yang membunyikan bel di tengah kemacetan, calon penumpang Trans Jakarta yang berebut naik padahal penumpang belum sepenuhnya turun, para penyeberang yang nekat berjalan di tengah keramaian kendaraan, dan bahkan para peserta seminar yang memotong pembicaraan saya saat sedang menjawab pertanyaan dari salah seorang peserta. Saya jadi berpikir, apakah orang-orang itu tidak mau menunggu sejenak saja untuk merelakan kesempatan bagi orang lain? Atau, barangkali, mereka tidak punya waktu untuk menunggu? Atau, bahkan, dalam hidupnya manusia memang harus bersikap egois untuk berbuat sesuatu yang sesuai dengan apa yang dikehendakinya?

***

Dalam perjalanan pulang ke Yogyakarta, saya lagi-lagi memikirkan wanita itu. Apakah wanita itu masih setia menunggu di Stasiun Tugu? Atau jangan-jangan, barangkali, ia sudah kelelahan menunggu, atau barangkali seseorang yang ia tunggu sudah datang? Saya harus dapat menemuinya pagi ini sebab ia telah memberi saya contoh manusia yang menunggu dengan kerelaan. Saya harus dapat, barangkali, berbincang-bincang dengannya; merasakan apa yang ia rasakan; atau, barangkali berbagi pengalaman tentang menunggu seseorang.

Pagi-pagi, saya dikagetkan oleh suara, laki-laki, yang keras dan suaranya membuat saya langsung terjaga dari tidur saya yang lelap. Saya sudah sampai di Stasiun Tugu. Dengan begitu saya langsung turun dan segera naik ke mobil jemputan. Saat saya sedang di dalam mobil dan mobil sudah berjalan menjauhi stasiun, saya sadar bahwa saya lupa menemui wanita yang duduk di kursi panjang stasiun itu. Saya sebetulnya ingin memberhentikan mobil ini, tetapi saya tahu bahwa istri saya harus mengantarkan anak-anak ke sekolah tepat waktu dan dia harus ke kantor tepat waktu juga. Akhirrnya saya tidak berani berbuat apa-apa selain duduk manis di mobil. Dari mobil, saya dapat melihat bahwa wanita itu masih setia menunggu.

“Siapa, Yah?”

“Bukan siapa-siapa. Hanya seorang wanita yang menyia-nyiakan waktunya untuk menunggu.”

“Mengapa sia-sia?”

“Saya menduga bahwa apa yang sedang ia tunggu sekarang sebenarnya tak akan pernah datang.”

***

Berhari-hari berikutnya, karena kesibukan, saya jadi lupa dengan wanita itu. Untuk menyempatkan satu jam saja dalam hidup saya untuk menemuinya saja sangat susah. Sudah saya reka-reka waktu yang memungkinkan saya bebas dari berbagai pekerjaan, tetapi selalu saja ada masalah-masalah baru yang muncul, sekali-kali ada waktu, malah cuaca yang tidak mendukung dan bahkan saat saya sedang tidak enak badan. Menyempatkan diri untuk menemuinya sekali saja sangat susah, kecuali saat saya ditugaskan ke luar kota dengan naik kereta. Dengan begitu, saya dapat menyempatkan waktu, barangkali, beberapa menit untuk sekadar melihat dengan jelas raut wajahnya, melihat matanya, tersenyum kepadanya, atau barangkali jika sempat, menyapanya saja.

Saya ingin ke luar kota agar bisa ke stasiun, tetapi tidak ada lagi seminar yang harus saya datangi. Saya berniat melakukan liburan bersama istri saya, tetapi saya tidak punya waktu liburan barang sehari saja. Pekerjaan saya bertambah banyak. Menyiapkan bahan ajar, melakukan penelitian, mengoreksi pekerjaan mahasiswa saya, membuat laporan,membaca buku, dan sebagainya. Saya merasa, hidup saya ini, semacam hidup sebuah robot. Setiap waktu saya harus kerja. Jam sekian saya harus begini. Jam sekian saya harus begitu. Jam segini saya melakukan ini. Jam segitu saya melakukan itu. Semuanya terjadwal. Bahkan untuk melakukan aktivitas bersama anak saya pun saya tidak sempat. Istri saya pun demikian. Kami seolah-olah menjelma robot yang pekerjaannya sudah terjadwal dan harus terlaksana. Sehingga anak-anak kami harus terlantar.

Saya sadar bahwa saya tidak seharusnya bekerja seperti ini terus menerus. Untuk itu, saya mengajukan permohonan untuk liburan. Berkali-kali saya ajukan, tetapi gagal. Imbasnya, saya diizinkan dengan syarat. Saya pun menyanggupinya.

Sorenya, saya bersiap-siap ke Surabaya. Dengan menggebu-gebu saya minta diantar oleh istri saya beserta anak-anak saya. Saya tidak bisa membawa mereka karena saat-saat keberangkatan saya bukanlah saat hari libur atau liburan sekolah. Saya liburan sendirian. Saat kami sudah sampai di Stasiun Tugu, saya masih mendapati wanita itu duduk di kursi panjang stasiun. Posisi, pakaian yang ia kenakan, dan tengokan masih sama seperti kali pertama saya melihatnya. Ia masih saja menatap ke barat, ke arah kedatangan kereta api.

Saya pun bergegas menemuinya. Saya tidak tahu kalau anak dan istri saya membuntuti saya. Kedua anak saya menuding-nuding wanita itu.

“Ayah, apakah wanita yang duduk di kursi panjang itu adalah patung?”

“Bukan,” jawab saya.

Saya pun segera mendekati wanita itu. Saya lihat istri saya sedang mengawasi gelagat saya.

“Saya hanya penasaran dengan siapa yang ia tunggu,” jawab saya. Istriku paham. Maka dengan saya gandeng tangannya, kami pun mendekati wanita itu. Semakin dekat, istri saya melepaskan genggaman tangan saya, mungkin ia cemburu. Saya pun segera menengok wajahnya. Ia cantik, walaupun mulutnya terbuka karena menganga dan matanya menerawang, melihat jauh ke arah rel di ujung barat.

Saya tatap matanya sembari mengguratkan senyum. Namun sayang, wanita itu tak mau membalas senyum saya. Saya lihat istri saya mengeluarkan tisu, barangkali ia terharu dengan kesetiaan wanita itu dalam menunggu. Saya lihat lagi istri saya, ia menutup hidungnya. Memang ada bau, barangkali memang karena wanita itu saking setianya, tidak sempat mandi. Saya panggil wanita itu, tetapi tidak ada sahutan. Saya pun memegang tangan kirinya. Saya penesaran dengan apa isi dari secarik kertas yang ia genggam di tangan kirinya. Ternyata itu adalah sebuah kalender. Dari bulan lalu ia coret semua tanggalnya sampai pada bulan ini, yaitu sekitar seminggu yang lalu. Dari seminggu yang lalu sampai hari ini, tidak ada coretan. Mendadak saya merasa ngeri. Saya goyang-goyangkan tubuhnya. Kaku. Saya pegang pergelangan tangannya. Tidak ada denyut nadi. Kulitnya juga sudah membusuk. Barangkali itu sebabnya istri saya menutup hidungnya. Saya lihat ke sekeliling. Saya pun mengabarkan ke petugas stasiun bahwa wanita itu telah mati. Ambulans datang. Orang-orang pun berkerumun menyaksikan jenazah wanita itu dimasukkan ke kantong mayat lalu diangkat ke ambulans.

“Istriku, kau lihat, wanita yang telah menjadi mayat itu adalah wanita yang sama dengan wanita yang ingin kutemui saat kamu menjemputku di stasiun ini seminggu yang lalu. Barangkali, saat itu, wanita ini juga telah menjadi mayat. Apakah memang, dalam hidupnya, manusia harus menyia-nyiakan waktunya hanya untuk menunggu?”

Bantul, 20 November 2014


Achmad Muchtar, Penulis kelahiran Bantul, 26 Oktober 1991 yang punya hobi membaca buku dan menonton film


Catatan:
Terimakasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kami haturkan kepada Achmad Muchtar yang telah mengirimkan  karyanya, untuk selanjutnya kami dokumentasikan kembali pada situs klipingsastra ini. Tabik


Rujukan:
Dikutip dari karya Achmad Muchtar
Tersiar di Surat Kabar Suara Merdeka pada 30 November 2014

0 Response to "Menghitung Waktu Yang Sia-Sia Untuk Menunggu"