Pesta Para Penyontek | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 15 Desember 2014

Pesta Para Penyontek


Setiap tahun kota Enka selalu mengadakan parade para penyontek. Di hari besar itu mulai dari penyontek amatiran sampai yang ulung diundang tanpa pandnag bulu untuk merayakan parade tersebut. Sambutannya luar biasa megah, Sorak-sorai rakyat bergemuruh ke seluruh penjuru kota, kertas-kertas kecil diturunkan dari helikopter, petasan dan gemuruh kembang api meletus sana-sini, baliho berukuran besar terpampang, di tengahnya terdapat tulisan. Selamat Datang di Pestanya Para Penyontek.

Karbon adalah lelaki kurus, tubuhnya hanya tinggal berbalut kulit, wajahnya pucat pasi seperti kapas, pembuluh darahnya tercetak jelas di sana-sini, terutama di bagian leher, seolah-olah siap putus kapan saja. Matanya bulat hitam, tapi kecil bagian serbuk pasir, seakan hidupnya hanya tinggal secuil.

Walikota menyambutnya dengan rasa haru tiada tara. Karbon adalah pahlawan kota Enka. Darinya, kota Enka banyak mengalami kemajuan, baik di bidang pemberdayaan sumber manusia maupun teknologi yang hasil kerja mereka berupa motor, mobil, tank, pesawat terbang maupun kacamata sinar inframerah laku keras di pasar dunia. Karbon adlaah idola bagi seantero kota.

"Terima kasih, terima kasih kau sudah mau datang ke perayaan ini," ucap Walikota.

"Tak perlu berterima kasih, saya hanya butuh yang kau janjikan."

Sejurus kemudian, Walikota mengeluarkan sehelai cek bertuliskan nilai uang tiga triliun. Diserahkan pada karbon tanpa tanda tangan dan kontrak apapun. Kontan dibayar di muka. Tanpa ketentuan dan syarat. Tanpa banyak cingcong dan tedeng aling-aling.

Ilustrasi Oleh Hengki Irawan
Karbon menduduki singgasananya, dia akan memberikan mata kuliah umum bidang Pemberdayaan Ilmu Contek-menyontek. Seluruh mahasiswa dan mahasiswi sudah duduk rapi, lesehan di atas debu yang akan membuat siapapun mengidap penyakit ISPA. Tapi karena ini adalah karbon, seorang guru besar, mereka rela mengidap penyakit itu demi pelajaran satu kali dalam seumur perjalanan hidup mereka.

Kota Enka memang menjadi tempat semacam les massal yang sengaja diciptakan untuk para pelajar yang tengah menduduki bangku perkuliahan, yang ingin sekali mempelajari seni menyontek. Begitulah kota Enka tercipta, pendirinya adalah sekumpulan mahasiswa yang kebebasannya direnggut oleh sistem yang membuat banyak sekali peraturan. Karbon adalah walikota pertama Enka, sepuluh tahun lalu.

"Menyontek adalah seni! Menyontek adalah seni!"

Secara sendirinya, jargon yang diucapkan seolah menjadi doktrin yang sudah terpatri keras di benak para murid. Bagaimana tidak, pelatihan selama setahun yang mewajibkan seluruh mahasiswa harus mengisolasi diri dari dunia luar sudah cukup membuat otak mereka penuh dengan kelicikan dan tipu muslihat.

"Baiklah, berhubung hari ini ada acara parade para penyontek. Saya akan menjelaskan sistematika menyontek yang baik dan skematis."

Para murid tidak sabar menunggu.

Baru saja Karbon ingin membuka mulut, seorang murid dari pojok belakang kiri, yang rambut kribonya dapat menjadi sarang pertumbuhan yang baik bagi para kutu menyikut pembicaraan.

"Apakah parade seperti ini patut diadakan? Manusia itu aneh sekali, yang buruk dipestakan, yang baik dimusnahkan," ucap lelaki berambut kribo itu.

"Namamu siapa, Dik?"

"Baiklah, Koma. Karena kalian adalah murid baru, mungkin akan saya jelaskan sedikit tentang mengapa parade ini diciptakan."

Karbon terbatuk dua kali, lalu melanjutkan khotbahnya dengan suara dalam. "Dalam setiap tubuh manusia selalu terdapat hawa nafsu. Salah satu yang paling vital adalah keinginan untuk selalu dilihat dan menjadi pemenang. Bagi sebagian orang yang hidupnya melulu dilanda kegagalan, kadang selalu bertanya bagaimana cara yang tepat untuk menuju suatu kemenangan. Dari kontemplasi yang begitu dalam, akhirnya saya sendiri meyakini bahwa cara terbaik meraih sesuatu adalah dengan belajar. Maka dari itu saya ciptakan kota ini. Kota yang tepat untuk mewadahi kegiatan belajar tentang cara mendapatkan sesuatu, dalam konteks ini adalah menyontek."

Koma menggelengkan kepalanya, "Anda ini tolol atau bagaimana sih? Yang buruk ya tetap buruk, yang baik ya tetap baik. Enak sekali Anda mencampuradukkan keduanya. Memangnya adonan." umpat Koma lantang.

Karbon tersenyum penuh wibawa, "Menyontek adalah kegiatan yang menguntungkan. Lihat saja murid yang selama ini belajar dari saya. Ujian blok mereka lancar setengah mati, kuis tak lebih dari sekadar memecahkan beling, dan skripsi seperti melempar batu ke kali, sontek, lalu beres. Begitulah hidup, Dik. Pada akhirnya semua orang menuju satu tujuan yang sama, tetapi mereka hanya terlalu naif dan jaim. Padahal, ujung-ujungnya mereka mendapatkan porsi yang sama. Tapi berbanggalah kita, karena cara kerja kita lebih efisien dan tidak mengeluarkan banyak keringat."

Koma ingin menyela lagi sebelum mulutnya dibungkam. "Dor! Dor!" suara letusan dari tangan Karbon yang tiba-tiba mengeluarkan pistol.

"Kuberitahu padamu sesuatu, Dik. Negara kita ini sudah hancur, kenapa tidak kau hancurkan saja seutuhnya hah? Dan satu lagi, dalam ilmu menyontek, kau tidak usah banyak bicara, mengerti?"

Dalam sesak napas dan darah yang mengucur deras Koma berkata sambil tergeragap. "Pada akhirnya, semua akan mendapatkan balasannya. Dan parade ini akan menjadi parade yang tidak akan Anda lupai seumur hidup Anda."

Dan tiba-tiba, tangan Karbon seperti ada yang mengiris, ia berteriak setengah mati, meminta tolong , mengaum-ngaum bagai singa kesakitan. Seperti wabah penyakit yang menular begitu cepat, seluruh murid merasakan hal yang sama, tangan mereka seperti ada yang memotong, tidak dengan pisau dapur atau silet, tetapi seperti gergaji mesin berkekuatan banteng.

Benar saja, parade para penyontek berubah menjadi parade pembuntungan tangan secara massal. Akhirnya, sekecil-kecilnya perbuatan buruk, Yang Mahakuasa tahu harus berbuat apa. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ghiyats Ramadhan
[2] Tersiar di Surat Kabar "Harian Jogja" pada 14 Desember 2014

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi