Seseorang yang Tetap Kunanti | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Sabtu, 13 Desember 2014

Seseorang yang Tetap Kunanti


RIVER Café, London, tiga tahun lalu. Aku bertemu dengan seseorang, seorang pria, bukan suami, bukan pula saudara kandung. Aku tak sengaja bertemu dengan dia. Kami bertemu di Heathrow International Airport, dia begitu polosnya menawarkan bantuan. Dia tidak tega melihatku seorang diri kebingungan di antara orang-orang asing pagi itu.

Aku datang seorang diri, tanpa seorang pun yang menemani, tidak ada teman, saudara atau tour guide yang memanduku. Aku benar-benar sendirian, hanya mengandalkan pengetahuanku tentang Inggris melalui film-film dan buku-buku sastranya, juga keahlian bahasa Inggrisku yang tidak buruk-buruk amat. Bukan dalam rangka apa-apa, aku dari dulu memang ingin sekali ke Inggris yang terkenal dengan alamnya yang terkenal bak lukisan. Begitu menyadari tabunganku cukup untuk pergi ke sana, aku pun segera merencanakan kepergianku. Saat ini juga, untuk kedua kalinya aku pergi ke London sendirian. Aku tak mengajak suami, anak maupun teman-temanku, aku meyakinkan suamiku kalau aku bisa menjaga diri.

Sekarang, aku duduk di kafe ini, masih di tempat duduk yang sama seperti tiga tahun yang lalu. Aku menunggunya. Aku masih ingat ketika kami pertama kali bertemu, awalnya aku kebingungan di bandara. Peta yang sedemikian detailnya ternyata tak mampu membebaskan aku dari sesat. Aku bagaikan orang tolol yang tak tau arah. Aku bertanya pada orang-orang yang lalu lalang di bandara tapi mereka cuek, tak mau menanggapiku. Mungkin mereka sedang sibuk tak mau diganggu atau mungkin bahasa Inggrisku yang kacau. Aku putus asa kala itu. Tak kusangka, di tengah keputusasaanku, ada seseorang yang menghampiriku. Dia seorang pria, bukan orang berkulit putih, melainkan orang Melayu. Dia adalah orang Indonesia yang sudah lama menetap di London. Namanya Edo, dia adalah pria yang kutunggu saat ini, bukan suamiku apalagi saudara kandungku. Dia bukan siapa-siapa. Aku menyebutnya Sang Penyelamat, karena dia telah menyelamatkanku dari sesat.

Dulu setelah dia memanduku ke Royal Horseguards Guoman Hotel tempatku menginap, dia mengajakku ke kafe ini, di pinggiran Sungai Thames di Kota London. Dia memanduku ke sini, memilihkan tempat duduk hingga memilihkan menu favoritnya untukkuHot Fudge Brownie dan Strawberry Cheesecake Bite. Kami berbincang-bincang di kafe ini, awalnya kami berdua canggung. Aku gugup, aku serba salah, karena dia merupakan satu-satunya orang Indonesia yang kutemui, tapi lama kelamaan aku bisa menyesuaikan diri. Aku menganggap Edo sebagai pria idamanku, aku berharap dia adalah jodohku. Aku berharap ada secercah harapan untuk bisa memilikinya karena dulu dialah satu-satunya pria yang berkecamuk di pikiranku. Tanpa dia mungkin aku tak bisa menikmati Inggris, tanpa dia mungkin aku tak bisa pulang ke Indonesia. Tanpa dia juga, mungkin hatiku hampa.

Dan kini, setelah tiga tahun, aku ke kafe ini lagi. Dulu kami berjanji bahwa pada hari ini atau tepat tiga tahun setelah kami bertemu, kami bersepakat akan mengulangi pertemuan kami. Kami berjanji akan bertemu kembali di kafe ini, di tempat yang sama. Kami tidak bertukar nomor telepon, alamat e-mail maupun alamat rumah, kami hanya ingin mengetes ingatan kami akan arti seseorang. Kala itu kami sepakat akan kembali ke sini tepat tiga tahun lagi. Di sini, di kafe ini, di meja ini.
Suamiku orangnya terlalu baik kepadaku. Selalu nurut apa yang aku mau. Aku ke London pamit ingin melakukan riset untuk tulisanku, padahal aku ingin bertemu dengan seseorang. Aku tak pernah bercerita kepadanya perihal ini. Aku takut dia sakit hati, karena dia sudah sering tersakiti atas ulahku sendiri. Tapi aku yakin dia akan mengerti, tentang kepergianku ini suatu saat nanti.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam waktu London. Aku masih sendiri di kafe ini. Dulu kami ke kafe ini pukul delapan malam. Memang satu jam lagi tepat tiga tahun sudah, aku tak sabar menunggunya walau masih lama. Aku tak sabar bertemu lagi dengannya. Bagaimana wajahnya sekarang, bagaimana pesonanya sekarang dan bagaimana perasaannya sekarang.
Ternyata satu jam itu lama, aku pun memesan Fresh Apple Cobbler penghilang penat. Aku segera menyantapnya untuk mengisi satu jam menunggu. Aku menunggunya sembari melihat sekelilingku, orang-orang asing yang tak kukenal. Dari kulit putih hingga kulit hitam ada. Mereka berpasang-pasang, pria dengan wanita, pria dengan pria, wanita dengan wanita. Mereka berbincang-bincang dua dua berhadapan. Senyum sumringah mereka bertumpah ruah di kafe ini. Diiringi lagu-lagu romantis yang diputar di kafe, membuat suasana menjadi miris. Jam segini masih banyak kursi kosong tapi lihat saja nanti, menuju tengah malam mendadak akan kekurangan kursi. Ya, kafe ini ramai ketika malam mulai larut. Aku masih ingat waktu itu. Aku ingat apa yang kami lakukan di tempat ini. Itu merupakan hal yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Aku berjanji pada diriku sendiri. Dan kini aku sedang menanti hal itu terulang lagi. Saat ini, tiga tahun semenjak hal itu terjadi.
Lima menit lagi pukul delapan, tepat tiga tahun untuk pertama kalinya aku duduk berduaan dengan Edo di kafe ini. Tak dapat dibayangkan betapa bahagianya bisa bertemu dengan seseorang yang baru dikenal, namun nyambung ketika ngobrol. Tak dapat dibayangkan betapa indah dunia kala itu. Di tengah-tengah lagu “Now and Forever” Richard Marx, Edo memegang tanganku, mengelus-elus kedua tanganku. Menyingkirkan lilin dan vas bunga di atas meja itu ke pinggir. Kepalanya condong ke arah wajahku. Dia mendekatiku. Dengan tangan masih tergenggam erat, Edo menatap mataku. Dia menciumku. Aku memejamkan mata, merasakan kecupan mesra di bibirku. Diiringi lagu “Now and Forever” Richard Marx, malam itu begitu romantis.
Malam itu merupakan momen terindah yang pernah kualami seumur hidupku. Melebihi momen ketika suamiku menyatakan cintanya kepadaku. Melebihi momen ketika suamiku memakaikan kalung dan cincin sambil melamarku. Melebihi momen ketika aku dan suamiku duduk di pelaminan. Melebihi momen ketika aku dan suamiku berbulan madu di Bali. Melebihi momen ketika aku melahirkan anak pertamaku. Sangat jauh melampauinya.
Memang, hal yang tak pernah aku lupakan di kafe ini adalah ciuman mesra Edo yang diiringi lagu “Now and Forever” Richard Marx. Terasa indah sekali, bahkan terbawa sampai pernikahan dan setelahnya. Aku selalu membayangkan suasana itu setiap aku berciuman dengan suamiku. Fantasiku hanya untuk Edo, Sang Penyelamatku. Aku tak tahu kenapa ciuman suamiku tak ada apa-apanya dibandingkan ciuman Edo.
Tiba-tiba getar dan nyala ponselku menghentikan bayangan masa laluku. Aku segera meraih ponselku.
Ma, di London baik-baik saja, kan? Salam kangen dari Edo.
Sender : Husband <+6281578666xxx>
Time    : 07/12/2012 08.01 PM
Ada sebuah pesan dari Edo, tentu saja bukan Edo Sang Penyelamat karena kami tak pernah bertukar nomor telepon. Edo ini adalah anak laki-lakiku. Kunamakan Edo karena aku selalu ingat pada Edo, Sang Penyelamat di setiap malam. Untuk kamuflase aku menamakan nama anak laki-lakiku persis seperti Edo Sang Penyelamat. Dengan demikian suamiku tak akan pernah menanyakan perihal mimpi-mimpiku tentang Edo.
Edo anakku baru berumur dua tahun, tapi dia sudah bisa mengoperasikan ponsel. Tapi SMS tadi pasti ayahnya yang mengetik, mengingat Edo baru bisa menelepon dan menjawab telepon. Edo adalah anak yang manis, ceria dan lucu, dia begitu menggemaskan. Dia cerdas sekali, seperti ayahnya. Aku sangat mencintainya.
Tak sadar aku mulai menitikkan air mata. Aku menangis. Aku bertanya pada diriku sendiri. Apa yang sedang aku lakukan di tempat sejauh ini, tanpa mereka? Menunggu seseorang, bukan suami. Sedangkan suami dan anak ada di rumah. Hari ini aku tidak membangunkan mereka, tidak membuatkan sarapan untuk mereka, tidak memandikan Edo yang masih kecil, dan tidak mengecup kening suamiku seperti setiap kali bangun pagi.
Aku melirik jam tanganku, pukul delapan. Aku segera menghabiskan Fresh Apple Cobbler pesananku. Beranjak dari tempat duduk, meraih tas pinggangku. Segera meninggalkan tempat duduk, keluar dari kafe. Aku merasa bersalah telah meninggalkan rumah hanya untuk menemui seseorang yang bukan siapa-siapaku. Bukan suamiku, bukan saudaraku, apalagi dia sudah beristri. Aku merasa berdosa telah melakukan apa yang dilarang orang tuaku, berpaling dari suami. Aku menangis di sepanjang jalan pinggir kafe itu. Lampu-lampu yang terpantul di Sungai Thames menjadi saksi kebodohanku. Aku ingin segera pulang, menemui suami dan anakku, Edo.
"Kinanti!"
Terdengar samar-samar seseorang berteriak memanggil namaku dari arah belakang. Hmmm ….
Bantul, 16 November 2012

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Achmad Muchtar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Cempaka"
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi