Tragedi Buah Apel | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 29 Desember 2014

Tragedi Buah Apel



DI KEBUN kami ada sebatang pohon apel yang bebuah ranumnya bisa tampak dari jendela lantai atas rumah tetangga. Tetangga kami, Rade dan Jela, biasa membeli apel di pasar untuk kedua putri kecil mereka. Tapi sia-sia. Betapapun enaknya, apel-apel lain tak pernah semenggoda apel-apel yang terlihat dari jendela tetangga itu. Setiap pagi, begitu Rade dan Jela berangkat bekerja, kedua gadis kecil itu akan melompati pagar kebun kami untuk memunguti apel yang jatuh karena kelewat matang. Aku kerap mengejar dan melempari mereka dengan lumpur atau batu. Pendek kata, aku berupaya mempertahankan harta milikku. Namun, itu karena soal prinsip, bukan karena aku tergoda atau iri.

Sebagai pembalasan, si adik melapor kepada ibuku bahwa aku hanya mendapat nilai F untuk ulangan matematika. Akibatnya, esoknya ibuku secara tak dinyana datang ke sekolahku dan mencari tahu kebenaran soal laporan musuhku itu. Selama beberapa hari setelahnya ibuku menyiksaku dengan latihan soal-soal persamaan kuadrat. Segenap x dan y itu membuat hidup ini nyaris tak tertahankan. Maka, aku memutuskan menuntut balas sebisaku terhadap gadis tetanggaku. Inilah yang kulakukan: aku berhasil menemukan tempat persembunyian dan kuhabiskan seharian menunggu kedatangan para pencuri itu.

Akhirnya mereka muncul seperti yang telah kuduga. Saat itulah aku melompat ke luar dari semak-semak dan menjambak rambut musuhku, yakni yang lebih muda dari mereka berdua. Lalu, aku menyeretnya ke rumah kami. Aku berencana menyekapnya di dapur sampai ibuku pulang kerja sebagai hukuman baginya. Namun, gadis itu melawan dengan membabi-buta. Dia menjerit-jerit dan meronta-ronta. Dia berhasil lolos, meninggalkan sejumput rambut dan secuil kulit kepalanya di tanganku. Aku amat murka dan berlari masuk rumah, mengunci pintu. 

Ilustrasi Oleh Munzir Fadly
Tak lama setelahnya kudengar Rade berteriak-teriak di bawah jendela, mengancam akan membunuhku. Dia pasti mengulangi ancaman itu kepada ibuku karena ibuku membalasnya. Bisa diduga, mereka menghabiskan tiga atau empat jam bertengkar mulut, saling memaki lewat jendela. Ibuku mencaci Rade sebagai preman dari Kalivoni. Lelaki itu menghujat ibuku sebagai pelacur tak tahu malu. 

Hingga dua puluh tahunan kemudian, mereka berdua tak pernah lagi saling menyapa, walau harus kukatakan pula bahwa kedua gadis bersaudari itu tak pernah lagi mencuri apel kami. setiap tahun, bulan Agustus dan September datang dan pergi, dan bebuah apel itu tak kurang-kurang keindahan dan pesonanya saat musim berbuah tiba. Namun, kedua keluarga yang tinggal berdampingan ini tetap berhenti saling sapa walau sesekali tak sengaja bertemu pandang. Para orang tua kami menua tanpa mau melupakan caci-maki penuh hinaan di antara mereka. Seiring berlalunya waktu, kedua gadis tetanggaku telah menikah dan pindah tempat tinggal. Namun, segala hal lain tetaplah sama.

Beberapa hari setelah Perang pecah polisi menggeledah flat rumah Rade dan Jela. Mereka menemukan dua senapan berburu dan sebuah bedil otomatis. Para tetangga ketakutan. Tentu saja mereka menebak-nebak siapakah yang hendak dibunuh Rade dan bagaimana ceritanya. Selama bertahun-tahuun dia tidak pernah ke luar rumah. Apakah ia berencana menjebak korbannya? Jela yang biasa pergi ke pasar untuk mengambil bantuan kemanusiaan dan jatah air hingga satu hari sebuah mortir meledak sepuluh meter darinya, membabat putus sebelah lengannya. 

Oleh sebab tragedi itu Rade terpaksa keluar dari sarangnya. Untuk pertama kali selama berabad-abad, para tetangga bisa melihat Rade secara langsung. Dia seakan-akan telah menua melebihi usianya dalam beberapa bulan terakhir. Namun, dia tampak seperti berumur seratus tahun saat akhirnya muncul dari rumahnya dengan membawa serantang sup dan tiga butir jeruk kisut. Ia mengunjungi rumah sakit pada suatu hari, berjalan menunduk, seakan-akan takut bersitatap dengan orang lain.

Pada September yang dikoyak Perang itu pohon apel kami menghasilkan bebuah paling ranum dan paling lezat sepanjang sejarahnya. Ibuku bergurau bahwa terakhir kali bebuah apel sesedap itu adalah di Taman Firdaus. Aku memanjat pohon itu. Dari dahan paling tinggi aku bisa melihat dengan jelas posisi pasukan Chetnik di Trebevic. Bergelantungan di angkasa, aku memetik apel dengan semangat si Gober Bebek saat ia melempar-lemparkan uang di istananya. Saat aku meraih sebutir apel amat ranum yang tumbuh hanya setengah meter dari jendela Rade, aku tak bisa menahan diri untuk tak menatapnya yang sedang berada di bagian belakang ruangan itu. Aku terpaku di atas dahan. Rade mundur beberapa inci. Namun, entah kenapa, aku tak mau dia pergi.

“Apa kabar, Paman Rade?”

“Hati-hati, Nak. Tinggi sekali. Jangan sampai jatuh….”

“Apa kabar Bibi Jela?”

“Yah, dia bertahan hidup dengan satu tangan. Dokter bilang ia akan segera bisa pergi dari rumah sakit.”

Kami bercakap-cakap selama dua menit. Aku berpegangan pada dahan dengan satu tangan dan memegang kantong penuh apel dengan tangan lain. Aku diliputi perasaan mual mendadak yang lebih parah daripa (memang begini sesuai koran, admin) perasaan serupa yang disebabkan oleh ledakan mortir atau bedil yang ditemukan di rumah-rumah. Saat bergelantungan di depan jendela Rade, seakan-akan segala yang kuketahui tentang diriku sendiri dan orang-orang lain jadi hampa makna.

Rade melanjutkan ucapannya, “Kau tahu, Nak, ketika kau kehilangan lengan kau akan tetap merasa memilikinya hingga waktu lama. Itu soal psikologis. Seakan-akan kau menipu diri dengan berpikir kau masih punya tungkaimu yang telah hilang. Setiap hari aku memasak sedikit makanan untuk kubawa kepada istriku. Tapi tak ada kehidupan di dalamnya. Aku menatap kacang atau sup encer dan menatapnya dan berkata, ‘Jela!’, tapi dia tidak menyahut. Lalu dia berkata, ‘Rade!’, dan aku tak menyahut. Kau paham, Nak? Kita hidup hanya untuk saling menatap dan paham bahwa kita sesungguhnya tak lagi hidup. Begitulah. Terkadang aku menatap apel-apel ini dan takjub pada kehidupan di dalamnya. Mereka tak peduli pada semua ini. Mereka tidak tahu. Aku bahkan tak berani mengucapkannya….”

Aku mengulurkan tanganku ke arah jendela dan menyorongkan kantong apelku kepadanya. Dia menatapku, terkejut, lalu menggeleng. Sekonyong-konyong kerongkonganku kelu dan aku gagal menggerakkan bibir untuk bicara. Aku lumpuh sekitar setengah menit. Jika para tentara Chetnik melihatku saat itu, mereka pasti akan kebingungan. Rade gemetaran seperti orang yang tak punya apa-apa lagi yang tersisa. Dia menyusut menjadi sesosok makhluk yang menggigil serupa binatang  ketakutan. Akhirnya dia menjulurkan lengannya, tapi tak sanggup berucap sepatah pun.

Esok harinya Rade mengetuk pintu rumah kami dengan selaksa permintaan maaf karena telah mengganggu kami. Dia memberikan sesuatu yang dibungkus koran dan bergegas pergi sehingga aku tak sempat berbicara kepadanya. Bungkusan itu berisi setoples kecil selai apel.

Tak lama kemudian Jela keluar dari rumah sakit. Suami-istri itu melanjutkan hidup di balik jendela tertutup dan Rade hanya sesekali keluar untuk mengambil bantuan kemanusiaan. Satu hari, saat berdiri di dekat ibuku dalam antrean, dia membisikkan “terima kasih” kepada ibuku. Ibuku menoleh pada saat yang tepat untuk mendengarnya mengucapkan, sekali lagi, bahwa apel-apel kami penuh kehidupan. 

Beberapa bulan kemudian sekelompok lelaki berseragam datang ke rumah Rade dua kali, membawanya entah ke mana, lalu memulangkannya. Para tetangga menyaksikan adegan pergi-pulang yang misterius itu, mengintip dari balik tirai atau dari lubang kunci. Walau mungkin merasa bersalah mereka tak tahan untuk saling mengingatkan tentang senapan-senapan yang disembunyikan Rade di rumahnya. Separuh lusin gunjingan menyimpulkan Rade pasti berniat membunuh seseorang. Yang lainnya hanya idiam (terketik sesuai koran, admin) seakan-akan berbicara tentang tetangga mereka itu menyakitkan. Sikap paling masuk akal adalah membenci Rade, tapi entah bagaimana itu tak mungkin kami lakukan.

Tiada yang tahu siapa yang telah membunuh Rade dan Jela. Mereka tiba-tiba lenyap pada suatu hari tanpa ribut-ribut dan penjelasan. Mungkin salah jika aku mengatakan apa yang akan kukatakan. Aku hanya mengingat dua hal tentang Rade yang malang: selai apelnya dan kenyataan menakjubkan bahwa dia tidak pernah satu kali pun menjulurkan tangan dari jendelanya untuk mencuri buah apel kami—meski dalam kelam malam sekalipun.


Miljenko Jergovic adalah sastrawan Bosnia. Ia menulis cerita pendek, novel, puisi, dan laporan jurnalistik. Cerita di atas diindonesiakan Anton Kurnia dari terjemahan Inggris Stela Tomasevic. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Miljenko Jergovic
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" pada 28 Desember 2014


Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi