Di Hari Eksekusi Itu - Pada Sebuah Kafe - Beri Saja Judul Sajak Ini Meditasi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 19 Januari 2015

Di Hari Eksekusi Itu - Pada Sebuah Kafe - Beri Saja Judul Sajak Ini Meditasi


Di Hari Eksekusi Itu

Jenderal Badrul Mustafa
Mengangkat sebelah tangan
Sebelum senapan pertama
Ditembakkan ke kepalanya,
Tidakkah salah satu dari kalian
Menanyakan kepadaku perihal
Permintaan terakhir?”
Katanya.

Badrul Mustafa menunggu

Dan tak seorangpun mau bertanya.

Ia tetap ucapkan

Permintaan terakhir,
Tolong padamkan dulu
Bara asmara dalam dadaku,”
Katanya.

Menangis mayat dalam kubur

Bukan karena tubuh yang hancur
Melainkan asmara dalam dada
Masih terus membara,”
Badrul melanjutkan.

Para eksekutor itu tak mengerti,


Tapi mereka bisa merasakan

Jenderal Badrul Mustafa begitu gemetar.

Namun Sang Jenderal jadi gemetar,

Bukan karena puluhan senapan
Yang diarahkan ke kepalanya,

Melainkan, berhadapan

Dengan orang-orang
Seperti merekalah
Yaitu golongan orang-orang
Yang tak kunjung mengerti
Bahwa asmara
Adalah kobaran api
Di dasar laut
Dan tak bisa dipadamkan
Begitu saja,
Yang membuat orang seperti Jenderal Badrul Mustafa
Jadi gentar:

Tanpa diancam dengan puluhan senapan,

Jenderal Badrul pasti akan berusaha melarikan diri,

Dan tanpa ditembak sekalipun

Ia pasti akan mati terkapar sendiri.
(Padang, 2014)

Pada Sebuah Kafe

Seekor lalat hijau

Hinggap di tepi cangkir kopi Badrul Mustafa,

Sebelum keluar

Dari kafe itu
Sambil bersiul-siul,

Ia patahkan setangkai bunga di atas meja kasir

Dan meminta seorang pelayan meletakkannya
Dengan hati-hati di tepi cangkir kopinya
Yang bergambar Che Guevara itu.


Seorang Badrul Mustafa tidak mungkin mengganggu

Seekor lalat
Yang sedang berziarah.
(Padang, 2014)


Beri Saja Judul Sajak Ini Meditasi

Di permukaan telaga
Udara dingin dan angin yang bergerak pelan
Menampakkan wujudnya kepada Badrul Mustafa.



Badrul Mustafa memperhatikan
Udara dingin itu—

Seorang penggembala domba
Yang sudah sangat renta: Berzaman-zaman,
Ia seret domba-domba, mengelilingi dunia,
Mencari Padang Rumput yang Dijanjikan.

Badrul Mustafa menatap
Angin yang bergerak pelan itu—


Seorang serdadu
Yang sudah begitu ringkih: Berabad-abad,
Ia sorongkan senapan, memutari bumi,
Mengarak orang-orang
Menuju Penjara yang Kudus.

Badrul terus memandang pada telaga,
Meski mereka tak ada lagi ada.

Ia kini sendirian dan goyah,
Seperti sebuah pedang
Yang ditancapkan dengan tergesa-gesa.

Tidakkah kalian lelah?”
Badrul Mustafa berusaha memanggil mereka.

Ia rasakan udara semakin dingin
dan angin terus bergerak pelan.

Betapa ia ingin sekali
Bercakap-cakap dengan mereka.

Karena judul sajak ini meditasi
Maka Badrul Mustafa

Kembali memejamkam mata.
(Limau Manih, 2014)

Jenggot Haji Agus Salim

Haji Agus Salim berdiri
Di depan Pintu Surga;
Jenggotnya menjuntai-juntai ke bumi.

Badrul Mustafa melompat-lompat,
Berusaha menggapai jenggot Haji Agus Salim,
Beratus-ratus tahun lamanya.

Tak ada Tangga ke Surga,
Jenggot Haji Agus Salim pun jadi,”
Katanya.

Tangan Badrul Mustafa meraih
Ujung jenggot Haji Agus Salim.

Ia bersorak kegirangan,
Berabad-abad lamanya.

Diajaknya karib kerabatnya
Memanjat jenggot itu.

Berakit-rakit ke hulu,
Berenang-renang ke tepian,
Masuk Surga dahulu,
Ke Mekah kemudian,”
Katanya.

Badrul Mustafa
Dan karib kerabat
Ditambah lagi sanak saudaranya,
Berjamaah memanjat jenggot Haji Agus Salim.

Mereka bergelantungan,

Tak henti bersorak
Berayun-ayun ke sana ke mari—

Dari suatu zaman ke zaman lain.
(Limau Manis, 2014)

Badrul Mustafa Tak Akan Pernah Mati

Meski kau umpamakan dirinya
Dengan sebatang pisang
Lalu kauibaratkan dirimu
Sebagai Padri yang berkuda dan berpedang panjang

Lalu kau menebasnya berkali-kali,
Maka ketahuilah,

Ia tak akan mati.

Sebab ia adalah Badrul Mustafa.

Ketika tangan kirimu hanya membawa kuda pincang
Dan tangan kananmu
Cuma memegang sebuah pedang panjang,
Tak semerta-merta kaubisa mengibaratkan Badrul Mustafa
Dengan sebatang pisang,

Sebab batang pisang belaka
Tak cukup untuk menangkap
Seorang Badrul Mustafa seutuhnya:
Hanya asmara dalam dirinya,
Yang sanggup diumpamakan dengan batang pisang—
Sekali ditumbuhkan
Pantang segera dimatikan.

Maka, apapun nanti yang ada padamu
Dan siapapun ibarat dirimu,
Kau mesti menumbangnya
Sebagai seorang Badrul Mustafa.

Sungguh, tak salah bila kaucari,
Kaupikir setiap hari,
Dan kauperhatikan ke mana dirinya pergi,
Sampai kautemukan
Ibarat apa kau akan berlaku padanya.

Misalkan, ketika pada suatu hari yang entah bila
Kautemukan dirinya sebagai serdadu bertampang garang
Yang sedang berada dalam barisan panjang,
Dengan langkah tegap menuju medan perang,

Maka kau bisa mengibaratkan dirimu
Sebagai sebutir kerikil
Di dalam sepatunya.

Atau pada suatu bila yang entah hari,
Kautemukan dirinya
Sedang memberikan petugah di hadapan para jamaah,

Maka jangan sungkan, apalagi takut salah
Bila kau ingin sekali mengibaratkan dirimu
Sebagai kotoran kuda berlapis keju
Yang keluar dari mulutnya.

(Kandangpadati, 2014)
Heru Joni Putra lahir pada 13 Oktober 1990 di Payakumbuh, Sumatera Barat. Sekarang ia belajar di Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, dan bergiat di Komunitas Kandangpadati, Padang.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Heru Joni Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" pada 18 Januari 2015

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi