Madu Puisi - Terompet - Mata Kail - Rabun Jauh | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 05 Januari 2015

Madu Puisi - Terompet - Mata Kail - Rabun Jauh


MADU PUISI

Lebah-lebah yang terbang dari jantungmu,
kini mencari sari-sari kata
yang kehilangan makna.
Sebab angin telah mengaburkan tafsir
dan mematahkan keberanian
dalam menyusun sepi jadi rima tanggung ini.

Lidah diksiku
hanya sebatas menjilati rasa perih
di masa lalu.

Alangkah manis yang menetes dari puisi
sebatas umpama,
tak akan ke mana bisa pergi
selain berhenti dan bunuh diri
pada akhir tanda bacanya.

Kadang aku cecap madu dalam puisi
untuk meruntuhkan keraguanku pada waktu.
Jadi untuk apalagi
aku berguru pada bunga luka?
Selain memanipulasi diri jadi duri
bersiap membutakan mata
yang mengelupas-paksa dirinya.

2014


TEROMPET

Mulutnya hanyalah sisa apa yang tak pernah diucapkanmu,
sedangkan tubuhya tinggal batang suara
yang bergetar, sebelum menit jadi jam terkubur dalam-dalam 
dan hari semakin terasa terjal menjauhi kerumunan orang di jalanan.

2014

MATA KAIL

Untuk menangkap ikan yang berenang-renang bebas
di matamu,
aku butuh mata kail setajam cemburu
menjerat pandang tanpa selembar benang.

Untuk memanen ikan yang berlompatan riang
dari setiap tatapanmu,
aku memasang umpan paling pandai berperan
seperti keniscayaan agama pada orang-orang bebal.

2014

RABUN JAUH

Ia adalah nasab dari pura-pura buta
akibat terlalu lama mencintai yang terlanjur dekat.

Ia murid sekaligus juga guru bagi orang-orang
yang mudah ditinggalkan karena enggan melupakan

Cobalah kau berdiri di kejauhannya
maka engkau hanyalah tinggal lelehen lilin
yang sedikit melukai kerjap mata

2014

Mugya Syahreza Santosa lahir 3 Mei 1987 di Cianjur. Buku puisinya Hikayat Pemanen Kentang (2011). Kini bermukim di Bandung.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mugya Syahreza Santosa
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" pada 4 Januari 2015

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi