Memori Yang Hilang ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 26 Januari 2015

Memori Yang Hilang



Suara teriakan histeris seorang perempuan sudah terdengar saat pintu kaca terbuka secara otomatis dan seorang lelaki tua melangkahkan kaki melewati ambang pintunya, dan ia langsung berlari tergopoh-gopoh di sepanjang lorong rumah sakit. Lelaki tua dengan garis-garis yang dalam di kedua tepi matanya dan rambut yang memutih di bagian pelipisnya itu tidak perlu lagi menanyakan pada perawat di mana letak UGD karena suara teriakan itu begitu jelas hingga dia tahu persis dari arah mana teriakan itu berasal. Dari mana pak tua itu tahu bahwa teriakan tersebut adalah teriakan istrinya? Karena baginya, suara teriakan itu sama familiar-nya seperti suara kokok ayam yang tiap pagi membangunkannya, atau suara kereta commuter line sesak yang setiap pagi membawanya dari rumah ke kampus tempatnya mengajar.  

Siang itu, si pak tua terpaksa meninggalkan mahasiswanya sebelum jam pelajaran selesai. Asisten rumah tangganya menelepon dengan suara panik. “Pak, Ibu ada di rumah sakit. Tolong Bapak segera datang.”

Itu kali kesekian si pak tua harus meninggalkan kelas sebelum jam mengajarnya usai. Sebelumnya si pak tua pulang karena mendapatkan laporan istrinya hilang dari rumah. Ternyata sang istri ingin pergi ke pasar dan tersasar karena lupa jalan pulang. Dua minggu kemudian si pak tua harus meninggalkan kelas lagi karena mendapatkan telepon dari tetangga bahwa rumahnya kebakaran. Ternyata, sang istri asyik merajut di teras dan lupa jika sedang memasak. Untung hanya sebagian dapur yang gosong terbakar karena para tetangga dengan sigap langsung mematikan api sebelum menjalar jauh. Kali berikutnya giliran asisten rumah tangganya yang menelepon. Istrinya melempari gadis malang itu dengan barang-barang karena dianggap sebagai pencuri yang menyusup masuk ke dalam rumah. Dan sekarang dia terpaksa meninggalkan kelas lagi karena sang istri terserempet motor. Istrinya keluar dari rumah tanpa sepengetahuan asisten rumah tangga mereka, menyeberangi jalan tanpa menoleh ke kanan dan kiri, dan akhirnya terserempet motor yang lewat.    

Ya, sejak setahun yang lalu istrinya divonis dokter mengidap Alzheimer. Sebenarnya gejala ringannya sudah mulai terlihat sejak dua atau tiga tahun sebelumnya. Lupa meletakkan barang, lupa memberikan garam pada masakan, lupa tanggal-tanggal penting dalam kehidupan mereka, bahkan terkadang lupa sedang membicarakan apa atau justru mengulang-ulang pembicaraan yang sama. “Yah, namanya juga sudah tua, wajar kan sedikit pikun,” begitu sang istri beralasan. Tapi, sejak tiga bulan lalu, kondisi istrinya menurun drastis.


***
Lemparan bantal menyambut pak tua itu saat memasuki kamar rumah sakit tempat istrinya dirawat. Suasana kamar sudah berantakan dengan kertas dan baki yang berserakan di lantai, sementara istrinya yang berteriak-teriak dan meronta dipegangi oleh tiga orang wanita perawat berseragam hijau. Saat salah satu perawat hendak menyuntikkan obat penenang, pak tua itu mencegahnya.

    “Jangan!”

    “Tapi, Pak, pasien histeris. Kami harus mengobati luka-lukanya sebelum menjadi infeksi,” jelas perawat muda dengan jarum suntik di tangan.

    “Saya suaminya, biarkan saya yang menenangkannya.” 

           Ketiga perawat itu saling berpandangan tidak yakin. Dua perawat yang lain masih memegangi lengan perempuan yang histeris itu. Sedangkan perawat yang ketiga sudah menurunkan jarum suntiknya. 

           “Beri saya waktu. Jika dalam waktu sepuluh  menit saya belum bisa menenangkannya, kalian boleh memberinya obat penenang. Tolonglah,” pinta pak tua itu dengan wajah memelas. Akhirnya ketiga perawat itu mengalah.

Si pak tua berjalan mendekat. Sambil tersenyum hangat, pak tua itu bernyanyi pelan, “Why do birds suddenly appear. Every time you are near? Just like me, they long to be... close to you.” 

Seketika itu juga istrinya berhenti meronta. Perempuan itu menatap wajah pak tua dengan bingung. Wajah tirus dan pucatnya dimiringkan sedikit, dan perlahan-lahan senyuman manis menghiasi bibirnya. Pak tua itu duduk di samping tempat tidur dan merangkul bahu istrinya. 

“Why do stars fall down from the sky. Every time you walk by? Just like me, they long to be... close to you,” lanjut pak tua dengan suara yang jauh dari merdu. Tapi, bukan suara merdu yang dicari perempuan itu, melainkan memori indah di balik lagu tersebut. Itu adalah lagu kenangan mereka. Lagu yang dinyanyikan pak tua saat melamar perempuan itu. Lagu yang dinyanyikan pak tua di hari pernikahan mereka. Lagu yang menjadi saksi perjalanan tiga puluh dua tahun pernikahan mereka. Lagu itu mampu menembus kabut Alzheimer yang menutupi pikiran perempuan itu dan membawa kembali memori indah yang menenangkan semua kegelisahannya.


***
“Pak Danu, apa Bapak sudah mempertimbangkan usul yang saya sampaikan sebelumnya?” tanya Dokter Hendra, dokter UGD yang sudah beberapa kali merawat istri pak tua itu ketika mengalami insiden seperti hari ini. Sejak pertama kali dibawa ke UGD rumah sakit ini karena terjatuh di tangga teras depan rumah, Dokter Hendra sudah menyadari parahnya kondisi mental istri pak tua itu. Apalagi setelahnya kunjungan ke UGD menjadi kunjungan rutin suami-istri paruh baya itu. 

“Kondisi Bu Santi sudah harus ditangani oleh profesional, Pak. Di sana Ibu akan mendapatkan perawatan yang tepat, diawasi oleh tenaga profesional, dan berada di lingkungan yang aman dan nyaman untuknya. Jika seperti ini terus, Ibu bukan hanya akan melukai dirinya sendiri, tapi juga orang di sekitarnya. ” 

Si pak tua tahu itu. Sudah sejak sebulan lalu Dokter Hendra mengusulkan untuk memasukkan istrinya ke panti perawatan khusus untuk pasien Alzheimer. Dan pak tua itu pun sudah mencari banyak informasi tentang panti semacam itu. Hanya saja, membayangkan harus tinggal terpisah dari belahan jiwanya membuat pak tua itu ngeri. Mereka menikah selama tiga puluh dua tahun tanpa dikaruniai anak. Namun, itu bukan masalah. Ketidakhadiran anak tidak mengurangi kebahagiaan mereka, tidak mengikis cinta mereka. Mereka punya satu sama lain, dan itu sudah cukup. Pak tua itu mendesah, menundukkan wajah dan memejamkan mata. Yang dia inginkan hanyalah melihat istri tercintanya bahagia. Apakah istrinya akan merasa bahagia di sana, terpisah darinya?               


***
    Pak tua itu berdandan rapi hari ini. Rambut kelabunya disisir ke belakang. Kemeja kotak-kotak dan celana hitamnya disetrika sampai licin. Aroma sabun yang segar menguap dari  tiap pori-pori kulitnya yang keriput. Di tangan kanan si pak tua tergenggam seikat bunga mawar merah. Sudah dua hari ini pak tua itu tidak mengunjungi istrinya. Ia harus ke luar kota karena ada kerabat yang meninggal dunia. Jadi, kunjungan kali ini sangat istimewa, kunjungan pelepas rindu.

    “Sore, Pak Danu,” sapa pria bertubuh kekar dan berseragam hitam yang membukakan pintu gerbang. 

         “Wah, indah sekali bunganya, Pak Danu,” puji seorang perawat yang berpapasan dengannya di lorong. 

          “Kemarin ke mana saja, Pak, tumben kami tidak melihat Bapak di sini,” sambung perawat yang lain. 

           Pak tua itu hanya tersenyum dan mempercepat langkahnya, sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istri tercintanya.

Pak tua itu sangat dikenal di panti ini. Selain dua hari kemarin, setiap pagi dan sore si pak tua tidak pernah absen mengunjungi istrinya. Kadang-kadang dengan membawa keik, di lain hari membawa cokelat, sesekali membawa buku, atau seikat bunga mawar seperti hari ini. Pak tua itu tidak pernah terlihat lelah, apalagi bosan, meskipun terkadang istrinya tidak lagi bisa mengenalinya.   

Dengan langkah bersemangat pak tua itu melewati ambang pintu ruang santai panti, tempat dia yakin istrinya berada pada sore hari seperti sekarang. Ruangan itu luas dan nyaman, dengan sofa empuk panjang bermotif bunga yang berhadapan dengan layar televisi di salah satu sudut, lemari buku dengan kursi-kursi nyaman di sudut yang lain, dan beberapa meja bulat dengan empat anak kursi tersebar di beberapa titik. 
Istrinya sedang duduk di salah satu kursi tersebut, asyik mengobrol dengan salah satu perawat berwajah ramah. Hari ini istrinya terlihat lebih cantik dari biasa. Memakai blus bunga-bunga warna pink dan rok panjang warna merah. Bahkan, ada rona pink di pipi tirus perempuan itu dan kilau kemerahan di bibirnya. Istrinya berdandan, sadar pria tua itu, untuk menyambut kedatangannya.

Langkah pak tua itu terhenti saat menangkap potongan obrolan istrinya dengan sang perawat.

“Aku sangat merindukan suamiku. Sehari tidak bertemu dengannya, rasanya hariku jadi mendung,” ujar perempuan itu dengan mata berbinar-binar. “Aku sedang menunggunya, aku tahu dia pasti akan datang hari ini. Suamiku tidak pernah mengecewakanku.”

Tidak pernah pak tua itu melihat istrinya sebahagia itu sejak penyakit Alzheimer menggerogoti pikirannya. Mungkin absennya dia mengunjungi sang istri selama dua hari ada untungnya, membuat istrinya itu merindukannya dan menantikan kedatangannya. Padahal, sehari-harinya  dia sudah sangat beruntung jika istrinya bisa mengenalinya dan mengobrol dengannya.

Ini aku datang, ujar pak tua di dalam hati. 

Seolah bisa mendengar suara hati pak tua, istrinya menoleh ke arah pak tua itu berada dan langsung berdiri dari kursi. Senyuman manis tersungging di bibir perempuan itu. Mereka sama-sama melangkah maju untuk bertemu di tengah ruangan. Pak tua membentangkan lengan untuk menyambut sang istri ke dalam pelukannya. 

Hanya saja, istrinya terus berjalan melewatinya.

Dengan bingung, pak tua itu menoleh ke belakang.

“Oh, suamiku, akhirnya kau datang. Tidakkah kau tahu aku sangat merindukanmu. Jangan pernah tinggalkan aku lagi,” bisik perempuan itu di dalam pelukan seorang pria tua berkacamata, yang juga menjadi penghuni panti itu.(f)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Endang Sulistyowati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina"


Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi