Mitoni ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Sabtu, 17 Januari 2015

Mitoni


RASMI meraba perutnya. Janin di dalamnya bergerak pelan, Rasmi tersenyum. Kandungannya memasuki usia 27 minggu, atau 7 bulan. Jika ia lahir, akan menjadi anak pertamanya dan Galih. Sekaligus, anak ini akan menjadi cucu pertama di kedua keluarga besar mereka. Kehadirannya sangat dinanti banyak orang. Rasmi menatap penuh sayang perutnya.

“Tak lelo, lelo lelo, ledhung”, Rasmi nembang. Janin di perutnya menghentak. Sejenak Rasmi kaget, lalu tertawa kecil. Bahagia.

Sudah beberapa hari terakhir topik pembicaraan di rumah ini adalah mengenai selamatan mitoni. Upacara selamatan saat usia kandungan memasuki 7 bulan. Ibu mertuanya yang priyayi, merencanakan dengan betul bagaimana upacara selamatan itu. Begitu pula ibu kandungnya, bersemangat tiap diajak berbicara tentang mitoni. Rasmi sendiri sebenarnya tengah gundah. Upacara selamatan itu akan menelan biaya yang tidak sedikit. Walau keluarga suaminya pasti akan ikut menyumbang, demikian pula keluarganya. Tapi, bagi Rasmi, upacara mitoni tersebut tak lebih dari sebuah pemborosan. 

Bagaimana tidak? Rasmi hapal betul, upacara mitoni itu, sudah ia saksikan sejak dirinya masih balita. Biasanya, yang punya hajat akan mengundang warga kampung tanpa kecuali. Sebagai bentuk undangan, siang hari ibu-ibu tetangga akan memasak hidangan untuk dihantarkan ke rumah-rumah. Menu berupa nasi putih dan lauk, bisa ayam atau daging dan sambak krecek. Beserta jajanan khas Jawa, seperti mendut, lemper, sosis dan emping. Dan di sore hari, warga akan bertamu ke rumah, memberikan amplop sebagai tanda sayang untuk si calon bayi. 

Belum selesai sampai di situ, acara akan dilanjutkan dengan pengajian pada malam harinya. Lagi-lagi, warga, kali ini bapak-bapak akan bertandang dan mengaji. Tentu saja mereka disajikan hidangan. Biasanya berupa nasi sup dan aneka rupa kue. Sudah persis acara pernikahan.

Rasmi mendesah. Ia menyadari kemampuan suaminya, Galih yang seorang guru honorer sekolah dasar. Tentu berat bagi suaminya memenuhi semua keperluan upacara mitoni. Sedangkan dia, sejak hamil, berhenti bekerja. Jika saja dirinya masih tetap berstatus pegawai di perusahaan batik Bu Retno, pastilah tanggungan biaya mitoni bisa dipikul berdua. 

Tapi, Galih memaksanya berhenti bekerja. Suaminya itu, tak ingin Rasmi kelelahan, yang berakibat tidak baik pada janinnya. Rasmi masih sangat nyaman bekerja di konveksi, tapi dia mengalah. Dengan berat hati keluar dari tempat yang telah memberinya banyak pengalaman itu. Meski tak enak hati pada Bu Retno, yang sudah menganggapnya sebagai tangan kanan, tapi Rasmi memilih menuruti kata-kata Galih. Praktis, sejak keluar dari pekerjaannnya, Rasmi menjadi ibu rumah tangga. 

Galih sangat protektif. Pengalaman kakak-kakak perempuannya yang mengalami keguguran saat mengandung anak pertama, membuat Galih memposisikan Rasmi seperti boneka porselen yang rapuh. Sedikit saja Rasmi terlihat kelelahan, Galih langsung memarahinya. Rasmi tak lagi diizinkan mengangkat benda-benda berat. Hanya pekerjaan rumah yang kecil-kecil boleh dikerjakannya. Menyapu, mencuci piring dan memasak saja. Di luar itu, diserahkan pada orang lain. 

Pernikahan mereka berumur 3 tahun, dan Galih begitu bahagia saat mengetahui Rasmi mengandung.  Sebisa mungkin ia menjaga Rasmi. Sekali lagi, ini akan menjadi cucu pertama di kedua keluarga besar mereka. Kembang kempis hidung Galih tiap Rasmi menyinggung hal ini. Kebanggaan luar biasa terlihat di rona muka suaminya itu. 

Calon-calon cucu mertuanya, yang belum sempat lahir karena keguguran, menjadi semacam alarm bagi Galih untuk benar-benar menjaga Rasmi tetap sehat. Rasmi bukannya tidak bahagia dengan perlakuan Galih. Tanggung jawab Galih sebagai seorang suami dan calon bapak, membuatnya senang. Tapi, kadang Rasmi merasa terkekang. 

“Aku cuma ke warung, Mas. Beli bayam. Kalau nunggu tukang sayur lewat, tidak bakal kebagian.” Rasmi merajuk lagi pagi ini. Tapi Galih tegas menolak. Urusan belanja, sudah diserahkan pada ibunya, mertua Rasmi. Kalau sudah begini, Rasmi tak punya kuasa.  Dan siang ini, seperti biasa, ibu mertuanya datang ke rumah, membawa stok makanan untuk diolah. Sayur, bumbu, tahu, tempe, lengkap. Rasmi mengucapkan terimakasih, dan mulai sibuk memasak. Ibu mertuanya membantu. Dan ini, yang membuat Rasmi kembali gelisah. Sang ibu mengajak diskusi tentang mitoni.

“Sudah beli apa aja, Nduk, buat mitoni?” Ibu mertuanya memulai pembicaraan.
Rasmi tersenyum, mencoba mencari kata-kata bijak yang tidak akan menyinggung ibunya.
“Belum, Bu. Nanti saya obrolin dulu sama mas Galih.”

“Lho, gimana to? Acaranya sudah dekat lho, Nduk. Apa ndak sekarang saja mulai beli-beli. Daripada nanti berat.” Mimik wajah ibu mertua Rasmi tegas dan berusaha memberikan solusi.

Rasmi tersenyum, menghela napas dan menyibukkan diri memotong sayuran. Ibu mertuanya semakin menghujaninya dengan banyak pertanyaan. Bahkan ancaman. Menurut beliau, bayi yang tidak diadakan mitoni, bisa cacat. Bisa tidak mulus perjalanan hidupnya.  Semua karena orang tuanya pelit, tidak bersyukur atas diberikannya amanah dari Tuhan. Rasmi berusaha menanggapinya dengan sabar. Sampai beliau pulang, list pertanyaannya pun masih terngiang di telinga Rasmi. Rasmi menjatuhkan tubuhnya di sofa. Ia bertekad, harus bicara pada suaminya tentang ini. Rasmi semakin bulat memutuskan tak akan menggelar mitoni. Ya! Dia sudah bulat tekad.

Galih merah padam. Giginya gemerutuk menahan marah. Tapi dia menahan volume suaranya agar tidak terdengar keras sampai ke rumah tetangga. Keputusan sepihak Rasmi untuk tidak menyelenggarakan mitoni mengagetkannya. Harga dirinya sebagai suami, tercabik. Apalagi pertimbangan Rasmi adalah lebih karena biaya yang dinilai terlalu besar. 

“Lebih baik tabungan kita dipakai untuk biaya sekolah anak kita nanti, Mas.” Rasmi memegang lembut lengan suaminya, berusaha menenangkannya.
Galih menepis usapan Rasmi, membuat Rasmi menunduk kecewa. Kalau sudah begini, Rasmi tahu, pertengkaran lah yang akan terjadi. 

Rasmi terdiam mendengarkan suaminya marah dalam suara tertahan, menjelaskan keagungan nama baik keluarganya. Bahwa ia akan merasa tidak becus menjadi suami, tidak bisa menjaga nama baik keluarganya, jika mitoni ini gagal dilaksanakan. Biaya akan dia cari, bagaimanapun caranya. Rasmi tahu, hanya lewat pinjaman Galih akan mendapatkannya. 

Gajinya tak akan mencukupi untuk semua kemewahan itu. Rasmi mencoba menawar untuk mengadakan syukuran sederhana saja, membuat bancakan. Ia telah menghitung, mereka akan sanggup membiayainya, tanpa merepotkan pihak lain. Cukup dengan membuat nasi urap, bolehlah dengan lauk paha ayam untuk tiap paket. Itupun sudah bisa disebarkan ke seluruh rumah di kampung. Sambil minta doa warga agar persalinan dan bayinya nanti selamat, Rasmi yakin itu sudah cukup. 
Tapi Galih menolak. Mitoni harus terlaksana. Titik.

Di depan ibu kandungnya, Rasmi menumpahkan segala unek-unek yang membebani pikirannya. Tapi, Rasmi salah langkah. Ternyata, tak seperti dugaannya, sang ibu juga mengharapkan mitoni digelar.
“Apa kata orang kalau ndak mitoni? Ibu punya simpanan kok, Nduk, bisa kamu pakai dulu.”

Hati Rasmi semakin tersayat mendengar kalimat ibunya. Tabungan keluarganya itu, disimpan untuk biaya masuk universitas adik bungsunya, Danang. Sebagai satu-satunya anak lelaki dalam keluarga mereka, Rasmi ingin sekali Danang kuliah, agar nasibnya lebih baik dari dirinya dan kedua adik perempuannya. Darah buruh di keluarganya harus diputus. Rasmi dan kedua orangtuanya telah bertahun-tahun menabung untuk memuluskan tekad itu. Danang harus kuliah. Upacara mitoni ini, tak sebanding dengan pengorbanan dirinya dan kedua orangtuanya mengumpulkan uang untuk biaya kuliah Danang. Rasmi menciumi tangan kedua orangtuanya yang telah renta. Memandangi keriput jemari mereka, membuat airmata Rasmi menetes. Betapa dia belum memberikan apapun sebagai wujud bakti pada ibu bapaknya. Dan sekarang, malah akan membebani mereka. Rasmi sangat tidak rela.

Rasmi merasa sendirian, terpojok tanpa dukungan. Hanya dengan bayinya dia berkeluh kesah. Hanya si jabang bayi yang mengerti kesedihannya. Anak itu seakan tahu, ibundanya sedang mengalami masalah pelik. Tiap kali Rasmi menangis, selalu ada gerakan di rahimnya. Satu jenis gerakan, yang entah mengapa membuat Rasmi merasa nyaman. Rasmi sedikit terhibur, dan kembali tersenyum. Biarlah semua orang menentang keputusannya, tapi ia berjanji akan merawat dan membesarkan anaknya, tanpa embel-embel yang tidak perlu, atribut adat yang membebani, atau tudingan miring orang sekitarnya yang menuduh mereka pelit. Rasmi bergetar, bibirnya mengucapkan serangkaian doa untuk janinnya. Sekarang, semuanya atas nama mereka berdua. Dia dan janinnya. Ia akan mengajari anak ini menjadi sosok kuat, sosok yang akan menjadi kebanggaannya kelak. 

Maka, saat Galih pulang mengajar, Rasmi memeluk suaminya itu, dan membisikkan kata-kata sayang padanya. Galih heran dengan sikap istrinya. Rasmi membimbing Galih menyentuh perutnya, membelainya di satu bagian. Janin di perutnya bergerak-gerak. Galih melonjak senang, dikecupnya perut Rasmi berulang-ulang. Rasmi berbisik lirih, sebuah keputusan yang sama, tak akan menggelar mitoni. Cukup dia, suaminya dan si jabang bayi yang tahu, betapa Rasmi sangat mensyukuri kehadirannya. Cukup mereka bertiga yang memutuskan, akan dibentuk seperti apa anak ini kelak. Galih terdiam, pandangan matanya sayu, masih setengah tak rela mengiyakan kata-kata Rasmi.

Rasmi mengelus lembut kepala suaminya itu, mencium keningnya dan mengungkapkan betapa ia sangat bersyukur dianugerahi seorang suami seperti Galih. Ia adalah wanita yang beruntung, tanggung jawab Galih masih panjang. Masa depan anaknya seharusnya gemilang. Rasmi yakin mereka berdua akan menjadi orangtua yang hebat. Segala keluh dan peluh Galih, akan ia jaga sebaik-baiknya untuk kehidupan keluarga kecil mereka. 
Bukan untuk alasan lain yang sebenarnya tak mereka butuhkan. 

Kedua mata Galih berkaca-kaca, hatinya luluh, tak kuasa menatap istrinya. Rasmi berbisik di telinga suaminya itu.

“Kau suami kebanggaanku, Mas. Aku mencintaimu.“


Rujukan:
[1] Disalin dari karya pembaca Femina a/n Sartika Sari 
[2] Pernah termuat di situs www.femina.co.id --bukan merupakan karya yang diambil dari Majalah Femina Cetak
Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi