Mobil Antik Papa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Mobil Antik Papa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:20 Rating: 4,5

Mobil Antik Papa

"AARRRRGGGH."

Rega memandang ban mobilnya dengan kesal. Ini yang kelima mobilnya mogok dalam tiga minggu terakhir. Rega kesal bukan main, padahal sore ini ada janji ke rumah Fey, cewek yang sudah enam bulan mengisi relung hatinya. Tapi apa daya, ia harus membatalkan janjinya karena mobilnya lagi-lagi mogok.

"Pa, beli mobil baru dong. Kalau tiap hari aku naik sedan butut ini, bisa-bisa bukannya nyetir tapi malah dorong mobil terus kerjaannya," keluh Rega seraya mengutak-atik mesin mobil yang terparkir di halaman rumah.

Papa yang sedang membaca koran di teras, melirik ke arah mobil yang dimaksud Rega.

"Si Beno mogok lagi?"

"Menurut papa?" Rega balik bertanya.

"Zaman semakin maju, tapi mobilnya masih ini-ini aja. Si Beno dijual aja, pasti laku mahal, kata Papa kan Beno mobil antik," lanjut Rega.

Bukannya merespons tuntutan Rega yang minta mobil baru. Papa hanya tersenyum tipis sambil terus melanjutkan aktivitasnya membaca koran. Melihat sikap papa yang acuh tak acuh membuat Rega hanya bisa menghela napas berat sambil meratapi nasibnya yang selalu jadi tukang dorong si Beno.

Beno nama mobil sedan tua Rega, lebih tepatnya sedan tua milik papanya. Beno sudah dimiliki papa sejak kuliah dulu, mobil pertama warisan dari kakek. Jadi bisa dikatakan Beno sudah masuk ke generasi ketiga keluarga Rega.

"Beno itu mobil antik, banyak sejarahnya. Sayang kalau harus dijual." Begitu alasan papa.

Mama juga sependapat dengan papa, meskipun berulangkali mama harus rela dorong mobil ketika bepergian, tetapi mama masih enggan menjual Beno dengan alasan klise, Beno itu mobil antik yang bersejarah untuk keluarga.

***
"GIMANA, Ga? Jadi kapan nih ganti mobil?" Tanya Abit saat mereka duduk di pinggir lapangan basket saat jam istirahat.

"Udah deh, jangan ngomongin itu," tukas Rega dengan wajah kusut.

Abit terdiam, jika jawaban Rega seperti itu pastilah papa dan mamanya tetap mempertahankan si Beno.

"Wah, kalau gitu susah nih saingan dengan Ferdi. Hari ini dia pakai mobil baru, lho," ujar Abit yang membuat wajah Rega menjadi semakin kusut.

Ferdi adalah teman sekelas Rega, saingannya dalam meraih perhatian dan cinta Fey. Tapi perbandingan Ferdi dan Refa seperti langit dan bumi, Ferdi adalah cowok populer dan sering berganti mobil, sedangkan Rega adalah cowok yang masuk dalam kasta biasa-biasa saja yang masih harus setia dengan Beno, mobil lawasnya yang hobi mogok.

"Eh, itu Fey, Ga. Samperin gih." Rega melihat ke arah yang ditunjuk Abit. Tanpa buang waktu, Rega segera menghampiri Fey yang sedang duduk sambil membaca buku di bangku sudut lapangan.

"Hai, Fey," sapa Rega

"Hai," jawab Fey lembut smabil memamerkan seulas senyum yang membuat hati Rega melambung seketika.

"Maaf untuk hari Minggu kemarin, si Beno mogok lagi, jadi aku nggak bisa ke rumahmu."

"It's okay, nggak masalah, santai aja," ujar Fey tanpa ada amarah sedikitpun.

"Sebagai permintaan maafku, hari Minggu nanti nonton yuk," ajak Rega.

Belum sempat Fey menjawab, tiba-tiba datang Ferdi yang menyeruak di antara Rega dan Fey.

"Hai Fey, hari Minggu aku mau ajak kamu ke konser Stuck Band, aku punya dua tiket VIP nih."

Ferdi menunjukkan dua tiket konser band favorit Fey dan menganggap Rega sebagai makhluk transparan yang tak dianggap kehadirannya.

"Hei, Fey akan pergi nonton sama aku hari Minggu nanti." tukas Rega seraya menarik bahu Ferdi.

Dengan sedikit kesal Ferdi menatap Rega dengan tatapan merendahkan.

"Memangnya Fey sudah mengiyakan ajakanmu?!"

"Tapi tetap saja aku yang lebih dulu mengajak Fey jalan," jawab Rega tak mau kalah.

"Nonton ke bioskop bisa kapan saja, tapi nonton konser Stuck Band nggak tiap hari bisa." Ferdi melontarkan argumennya yang membuat Rega semakin geram.

"Stop!" ujar Fey dengan nada agak tinggi hingga membuat Ferdi dan Rega terdiam.

Fey melihat dua orang cowok di hadapannya bergantian, ia tak ingin Ferdi dan Rega berkelahi di depannya.

"Biar adil, gini aja deh. Aku tunggu kalian pukul tiga sore hari Minggu nanti. Siapa yang datang ke rumahku tepat waktu, aku akan pergi bersamanya," ucap Fey mencoba bersikap adil.

"Oke, aku setuju," ujar Ferdi

"Aku juga setuju," Rega tak mau kalah.


***
"DUH kenapa sih harus pakai acara mogok segala...! Lima belas menit lagi udah pukul tiga," rutuk Rega seraya melirik ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Penampilan Rega yang awalnya rapi, kini berubah menjadi kusut, rambutnya awut-awutan, kemejanya pun kini sudah dibasahi oleh keringat.

Saat sedang sibuk memperbaiki si Beno di pinggir jalan, Rega dikagetkan oleh suara klakson.

"Udah deh, nyerah aja. Kamu nggak akan bisa dapetin Fey, apalagi cuma dengan modal mobil butut itu," ujar Ferdi yang kemudian melajukan mobil mewahnya diiringi tawa melecehkan.

Tak berapa lama, sebuah ambulance dengan suara sirine nyaring lewat, di belakangnya ada mobil polisi, diikuti beberapa orang pengendara motor yang terburu-buru seperti ingin mengejar sesuatu.

Penasaran, Rega menghentikan seorang pengendara sepeda motor.

"Ada apa, Pak? Kok banyak polisi dan ada ambulance juga?"

"Ada kecelakaan beruntun di perempatan depan, katanya ada truk menabrak mobil mewah dan beberapa motor. Ini juga mau lihat ke sana."

Mendengar jawaban pengendara motor itu, ingatan Rega segera melayang ke Ferdi yang tadi mengendarai mobil mewah berwarna merah.

Rega kemudian memandangi si Beno yang masih mogok, dalam hati ia bersyukur karena apabila Beno tak mogok bisa jadi dirinya yang akan menjadi korban kecelakaan itu, tapi di sisi hatinya yang lain ia juga mengkhawatirkan keadaan Ferdi jika memang benar ia menjadi korban kecelakaan beruntun itu.

Rega segera menyetop taksi yang lewat dan meninggalkan si Beno. Yang ada dalam pikirannya kini bukan lagi harapan untuk memenangkan hati Fey, melainkan harapan agar Ferdi selamat dari kecelakaan maut itu.

"Semoga Ferdi baik-baik saja." Doa Rega dalam diam. []


Richa Miskiyya; mahasisiwi Administrasi Publik Universitas Diponegoro Semarang. 
Tinggal di Jalan Ahmad Yani Gubug Grobogan.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Richa Miskiyya
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" pada 18 Januari 2015


0 Response to "Mobil Antik Papa"