Monolog Pengemis - Malam, Aku, dan Aksara - Kritik Terhadap Hujan - Kata Hawa Kepada Adam | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 19 Januari 2015

Monolog Pengemis - Malam, Aku, dan Aksara - Kritik Terhadap Hujan - Kata Hawa Kepada Adam


Monolog Pengemis

pernahkah kau meminta minta
bertadah tangan, berharap iba?
kenalkah kau rasa hina
yang menggigit lembaran jiwa?

sebab demi setiap denting logam, bersarang di kaleng
rombeng
telah hilang sekeping lagi harga diri yang kalah
bersaing
dengan riuh ensemble disharmoni dari cacing cacing
penghuni ringkihmu, ceking

jadi sebelum kau buang pandanganmu
ke arah lain agar tak melihatku
dengan jijik, kutanya kau lagi,
pernahkah kau meminta minta?

MN, Desember 2014 


Malam, Aku, dan Aksara   

malam melenguh. embusannya sampai di telingaku.
geli, kibasku sambil merinding. salah sendiri, kenapa
kau suguhi aku percumbuanmu dengan aksara, balas
malam. tapi aku sedang berdansa, bukan menulis,
kilahku.
malam merengut. ah, sudahlah! selalu saja kau
membantah. kau dan aksara, sampai kapan kalian
terus bercinta di depanku. awas nanti kau hamil lagi.
dan lagi lagi lahir puisi. dengan apa nanti kau susui;
dengan sebotol penuh mimpi? padahal, mimpi adalah
ramuan penawar pedih, yang kau perah diam diam
dari belahan dada pekatku.
malam kurengkuh. jangan cemburu, bisikku lembut.
aku tetap menggelutimu. engkau terindah dalam
episode hidupku. sebab bersamamu aku terbang. di
saat siang aku hanya ilalang. bergoyang sebentar lalu
dibuang. bagaimana kalau kita bercinta bersama: kau, aku dan
aksara? aksara tersenyum. kemari, malam, lirih ia
mendengkur. biar kami telusuri kedalaman
heningmu. biar kami sesap sekujur kelammu. biar
seluruh metafora dan rima memaguti detik detikmu.
dan saat deru napasmu memuncak terbakar, kami
kucurkan keindahan yang pasti membuatmu
menggelepar: sajak sajak liar yang mengatasi segala
duka.

MN, November 2014


Kritik Terhadap Hujan

ya. memang kau kupanggil, dan kau datang. tapi 
kali lain, datanglah sebagai deras yang ganas.
sebab rinaimu memang gemulai. tapi begitu juga 
sedu sedan di balik tirai. jadi biarlah gerimis tadi 
hadir sebagai yang terakhir. lagipula kau gagal 
menyamarkan sungai kecil yang mengalir dari 
pelupuk. dan kaulumatkan lembar kisah yang susah 
payah kutorehkan.
oh. dan jangan lupa. kalau kau hadir dalam kelu, ajak 
serta temanmu angin kelabu. agar disekanya bersih 
sisa sisa luka di pelataran jiwa. sebab bila tidak, 
butir butirmu menimbulkan perih saat menyentuh 
merahku yang menganga. mungkin kau maksudkan 
sebagai kecupan, tapi bagiku sekejam tikaman.
aku sayang padamu, hujan. tapi maaf, murammu kali 
ini benar benar mengelabui malam. disangkanya kau 
menghantar belaian halimun yang lembut. padahal 
yang kaubawa hanya titipan salam dari maut. dan 
kau pasti tak puas sebelum merampas senyumku 
hingga tak sanggup lagi kumiliki. kecuali sekerat 
tadi yang tertinggal, sisa mimpi dalam sunyi. yang 
kusembunyikan menjelang dini.
jangan kau rampas lagi.

MN, November 2014 


Kata Hawa Kepada Adam 

kita tak pernah benar-benar beranjak meninggalkan 
taman itu 
helai rambutku tersangkut pada rusukmu yang 
hilang satu 
dan pada ranting pohon yang merunduk pilu 

sedang kau terus saja sibuk menghirup 
aroma di mulut kita yang masih melekat 
setelah buah itu habis kita lumat 

sementara mata ular berpendar kilat 
menatap kita sambil berharap 
menikmati remah-remah yang tersisa 

MN, Juli 2014
Marina Novianti, lahir di Medan, 21 November 1971. Ia turut serta sebagai penulis naskah Kelas 2 SD Tematik untuk Kurikulum 2013. Antologi puisinya, yaitu Aku Mati di Pantai (2013) dan Pendar Plasma (2014). Kini, sebagai pengajar bahasa Inggris di Jakarta.




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Marina Novianti
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" pada 18 Januari 2015

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi