Sore itu di Maastricht ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Sabtu, 17 Januari 2015

Sore itu di Maastricht


SUDAH dua hari ini aku melihat perempuan itu berdiri mematung di tepi sungai Maas. Posisinya sama seperti kemarin, berdiri membelakangi jalan dan menghadap ke hamparan sungai. Sesekali dia duduk di tembok pemisah antara jalan dan sungai yang terbuat dari batu batu tersusun. Namun hanya sebentar, tak sampai satu menit kemudian dia pasti berdiri dan kembali ke posisinya semula. 

Dia masih memakai pakaian yang sama dengan kemarin, celana jeans yang sudah agak lusuh, jaket panjang hampir selutut berwarna coklat tua sepatu boots berwarna senada dengan jaketnya. Sebuah syal berbahan rajut berwarna hitam melingkar di lehernya. Dia tampak langsing dan tinggi. Kutaksir tingginya sekitar seratus tujuh puluhan dengan berat badan yang kurasa tak sampai kepala enam. 

Kurasa dia orang Asia, tepatnya Indonesia. Aku berani mengatakan demikian melihat warna rambutnya yang hitam legam, juga wajahnya yang sangat Indonesia sekali. Perempuan itu berambut sedikit bergelombang, sama seperti kemarin hari ini rambutnya juga digelung asal. Beberapa anak rambutnya jatuh menjuntai ke bahunya melewati lehernya yang jenjang. Kulitnya bersih kuning langsat, wajahnya berbentuk oval dengan hidung mancung dan bibir yang mungil namun merekah indah. Matanya bundar dengan bulu mata lebat yang menghiasi dan menambah keteduhan matanya, tapi sayang aku seperti melihat mendung di sana.

Sore ini cuaca kota Maastricth lumayan menyenangkan. Hujan yang minggu kemarin selalu hadir sepertinya mulai enggan menyapa. Angin berhembus perlahan membelai wajah perempuan itu. Suasana di sekitar sini juga tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa turis di sebelah sana yang berfoto dengan latar belakang sungai Maas yang kurasa memang indah. Lalu lalang sepeda di jalanan juga tidak begitu banyak. Maastricth memang kota kecil yang sangat cocok untuk orang-orang sepertiku yang tidak suka keramaian.

Sungai Maas membelah kota Maastricht menjadi hampir sama besarnya, melintang dari selatan ke utara. Di sisi kiri sungai terbentang Maastricht yang masih penuh dengan bangunan bersejarah dari abad 11, abad di mana Maastricht dibangun. Sungai Maas adalah sebuah sungai besar Eropa, berhulu di Prancis dan mengalir melalui Belgia dan Belanda sebelum bermuara ke Laut Utara. Memiliki panjang total 925 km, sungai Maas adalah sungai tertua di dunia.

Ada pesona yang sangat kuat yang dimiliki Sungai Maas. Entahlah, memandangi arus sungai yang tenang apalagi di kala senja dengan angin yang membelai wajah seperti ini, menciptakan kedamaian dan ketentraman di hati. Sejenak bisa terlupa akan semua beban dan masalah yang mendera hidup. Semua resah seakan ikut terbawa arus sungai yang mengalir tenang. Tapi ketika kau berpaling darinya, rasa damai yang menyelubungi hati pun lenyap dan sirna.

Dan perempuan muda itu ternyata sudah tidak lagi berdiri di sana, ketika aku memalingkan wajah dan melihat ke arahnya dia sudah tidak ada di sana. Senja sudah hampir pergi menjemput malam, udara terasa semakin dingin. Sungai Maas seperti memanggil-manggil untuk terus ditatap, tapi aku harus pulang. 

Ini hari keenam. Sudah enam hari ini perempuan itu selalu datang dan berdiri di tepi sungai Maas dengan posisi yang sama. Ketika kuberanikan diri mencuri pandang, mendung di matanya terlihat semakin jelas. Hari ini dia tampak lebih cantik dari biasanya. Dia mengenakan terusan panjang berwarna ungu muda dan cardigan berwarna ungu tua. 

Sebuah syal berwarna hitam, kurasa syalnya sama dengan kemarin melilit di lehernya. Hari ini dia memakai sepatu boot berwarna senada dengan bajunya. Tapi, apakah dia tidak kedinginan? Aku yang sudah memakai jaket tebal saja masih merasa dingin dengan suhu di bawah sepuluh derajat seperti ini.

Dibawa rasa penasaran, aku memberanikan diri mendekatinya. Enam hari kebersamaan kami di tepi sungai Maas ini kurasa sudah cukup untuk menjadi alasan untuk mengajaknya bicara. Aku ingin sekali tahu apa yang menyebabkan mendung yang hadir di matanya. Aku juga penasaran, apakah dia mahasiswa? Benarkah dia orang Indonesia? Kenapa dia selalu sendiri? Dan kenapa dia memilih tepian sungai Maas untuk merenung?

Dia baru saja mengubah posisi duduk ke berdiri menatap sungai ketika aku mendekatinya. Sepertinya dia tidak perduli dengan kehadiranku, dia masih tetap diam dengan tatapan kosong menatap sungai meski jarak di antara kami sekarang tak lebih dari lima belas inci.

“Selamat sore, Mbak,” ujarku memberanikan diri. Aku memang sengaja langsung menggunakan bahasa Indonesia dengan panggilan mbak. Jawabannya nanti akan menjawab pertanyaanku, Benarkah dia orang Indonesia?

Dia hanya menatapku dengan tatapan heran, mungkin dia terganggu. Aku mulai merasa tidak enak, tapi aku belum menyerah. Sudah terlanjur.

“Maaf, mbak…saya lihat sudah enam hari ini mbak selalu datang ke sini dan berdiri memandangi sungai. Mbak mahasiswa Indonesia ‘kah?” Aku memang sangat lancang, tapi biarlah. Paling-paling dia membentakku, atau siapa tahu malah akhirnya kami jadi berteman. Aku tidak lagi kesepian, kan?

“Namaku Sarajefa, panggil saja Sara. Aku tidak suka dipanggil mbak.” Dia menjawab tanpa memalingkan wajahnya dari sungai Maas.

Wah, benar dia orang Indonesia. Tak sadar aku tersenyum senang, ada harapan untuk mendapatkan teman dalam kesepianku yang berkepanjangan ini.

“Kuliah?” tanyaku lagi.

“Tidak,” jawabnya singkat. Suaranya terkesan dingin dan ketika kucuri pandang ke wajahnya, dia seperti tidak senang dengan percakapan ini. Lalu kalau tidak kuliah untuk apa dia ke Maastricht? 

Berwisata? Masa berwisata dihabiskan dengan enam hari memandangi sungai?

“Kerja di Maastricht ya? Enak ya, bisa dapat pekerjaan di sini. Saya juga selepas lulus kuliah nanti ingin sekali mendapat pekerjaan di sini. Saya ingin tinggal lebih lama. Kota ini sangat nyaman dan menyenangkan. Tenang dan memberikan keteduhan bagi jiwa-jiwa yang…”

Aku urung meneruskan ucapanku ketika menyadari tatapan dinginnya yang seolah memaksaku untuk diam.

“Kamu kuliah?” tanyanya kemudian.

“Ya, saya di sini untuk meneruskan kuliah. Saya mendapat beasiswa S2 di bidang Ekonomi,” aku bersemangat sekali menjawab pertanyaannya.

Dia diam saja, menatapku dengan tatapan yang bisa ku artikan melecehkan.

“Saya memang sengaja memilih Maastricht. Teman-teman saya sebagian besar memilih kuliah di Leiden, Wageningen, Den Haag dan ada beberapa yang di Rotterdam dan Amsterdam. Tapi saya memang suka Maastricht.” Aku tahu dia tidak memerlukan penjelasan ini, tapi aku tidak tahu harus ngomong apa lagi.

“Benar kamu kuliah?” kali ini dengan senyum yang sedikit sinis. Ada apa dengan perempuan ini? Kenapa dia seolah meragukan pengakuanku? Apakah tampang penampilanku tidak pantas disebut mahasiswa S2?

“Kenapa sepertinya kamu meragukan saya?” aku tidak suka dengan senyum sinisnya itu. Rasanya seperti sesuatu yang menyentuh bekas luka di hatiku. Membuatku merasa sangat tidak nyaman.

“Aku hanya bertanya, kamu hanya perlu menjawab benar atau tidak. Itu saja!” ujarnya lalu mencibir. Sepertinya dia ingin mempermainkan perasaanku. Terbukti emosiku mulai terusik. Dia seperti percik api yang sejak tadi berusaha membakar selembar kertas, dan sepertinya dia akan berhasil.

“Tentu saja benar,” ujarku setengah berteriak. 

“Benarkah?” kali ini dia tertawa mengejek. Ada apa dengan perempuan ini? Kenapa sepertinya dia sengaja membuatku marah, padahal niatku mendekatinya baik.

Aku ingin berkenalan, siapa tahu dia bisa menjadi teman. Belakangan ini aku merasa sangat kesepian. Tapi tawanya dan raut wajahnya yang lama-lama kulihat seperti setan itu kini malah menyulut emosiku. Aku mendidih, emosiku memuncak.

“Kamu siapa? Kenapa kamu mengejek saya? Kenapa kamu meragukan pengakuan saya? Kenapa? Saya mahasiswa, saya mahasiswa S2. Kamu harus percaya! Kamu harus percaya!” tak puas berteriak aku lalu mendekati lalu menjambak rambutnya. Dia yang tidak menyangka mendapat serangan dariku hanya bisa mengaduh sambil berusaha menarik tanganku yang sudah mencengkeram rambutnya.

“Lepaskan!” ujarnya sambil menahan sakit.

“Aku akan melemparkanmu ke sungai Maas, aku akan menenggelamkanmu!” Aku menarik tubuh perempuan itu ke arah sungai. Dia terus berteriak-teriak minta tolong.

Kemudian tiba-tiba dari arah sana dua orang laki-laki muda dan seorang perempuan berseragam putih berlari ke arahku. Mereka memaksaku melepaskan Sarajefa. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa.

“Beberapa minggu kemarin kami pikir dia sudah mulai pulih. Karena alasan itulah kami melepaskannya untuk menikmati sore di taman. Tapi kejadian sore ini benar-benar di luar dugaan. Sarajefa berbicara sendiri di dekat kolam lalu menyerang suster yang mengawasinya dan hampir menceburkannya ke kolam.”

“Apakah masih ada kemungkinan untuk sembuh?”

“Tentu saja, tapi kita butuh waktu.”

“Apa tidak sebaiknya kami bawa anak kami berobat ke luar negeri?”

“Sarajefa hanya butuh ketenangan dan waktu. Kami pikir saat ini bukan keputusan bijak membawanya berobat ke luar negeri.”

“Kami menyesal tidak mengizinkannya kuliah di Belanda, padahal dia sudah mati-matian mendapatkan beasiswa. Tapi sejujurnya dia tidak butuh beasiswa. Kami bisa memberikan apa saja yang dia mau. Kami hanya ingin dia menuruti semua keinginan orangtuanya. Itu saja. Sederhana sekali bukan?”

***

Salatiga, 10 Oktober 2013


Rujukan:
[1] Disalin dari karya "pembaca Femina" a/n Yessi Greena W Purba
[2] Pernah termuat di situs www.femina.co.id --namun bukan merupakan karya yang terbit di Majalah Femina Cetak

Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi