Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (3) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Minggu, 25 Januari 2015

Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (3)


KERUSUHAN Mei 1998 itulah awal kerja sang cakramanggilingan, yang mengubah 180 derajat roda kehidupan Ling Ling. Berada dalam ketinggian sekian ribu meter, duduk di kursi kelas bisnis Eva Air yang take off dari Tom Bradley, bandara Los Angeles, transit tiga jam di Taipei, lalu menuju Jakarta, Ling Ling sama sekali tidak merasakan firasat apa pun, malah ia sempat tiga kali mimpi indah bercumbu dengan Mas Tom. Aneh juga mimpi bisa bersambung seperti sinetron.

Turun dari pesawat, menenteng tas Hermes, melewati imigrasi yang antreannya panjang, tapi para petugasnya memasang muka ramah, mengambil dua kopor dan menaruhnya di troli, tak terbersit rasa cemas. Kalau rindu memang iya. Kangen segera ketemu Mas Tom, yang sudah merencanakan pernikahan dengan matang, termasuk pernak-pernik simpel seperti mengedarkan undangan, suvenir apa yang akan diberikan kepada tamu, siapa yang akan didapuk sebagai best man dan brides maid. Mas Tom idak bisa dengan serta merta memercayakan perhelatan paling akbar dalam hidup ini kepada event organizer, meskipun bos EO sahabatnya sendiri, sesama alumnus NTU di Singapura, ketika Tomo mengambil mastrenya di bidang engineering.

"Hallo cantik..." Hertomo memeluk calon istrinya begitu kencang sampai Ling Ling megap-megap.

Sang priyayi tidak mempedulikan kerumunan orang di pintu kedatangan itu. Dengan sigap didorongnya troli, dan sopirnya juga cekatan membuka pintu Camry hitam, memasukkan kopor, sementara Mas Tom menuntun Ling Ling duudk di jok belakang.

Impian bersanding di pelaminan dnegan lelaki beda bibit bobot bebet namun snagat dicintainya itu, terus digenggam erat oleh Ling Ling. Sampai kemudian impian itu terhempas, berdarah-darah dengan luka menganga di belantara kerusuhan yang melanda Jakarta dan beberapa kota lain pada 13 Mei 1998. Suasana chaos ini diawali krisi finansial Asia dan dipicu oleh tragedi Trisakti di mana empat mahasiswanya tewas tertembak dalam demonstrasi sehari sebelumnya. Darah tumpah di mana-mana; asap membumbung di maa-mana; jeritan tangis di mana-mana. Dan di celah gulungan asap tebal itu tampak mulut-mulut yang menyemburkan napas api dari wajah-wajah yang luar biasa brutal. Wajah-wajah iblis yang dadanya menganga tanpa hati.

Sejarah yang bengis dan nestapa itu berangkat dari Jakarta, jantungnya Indonesia. Pada kerusuhan ini banyak toko dan perusahaan dihancurkan oleh amuk massa, terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa. Konsentrasi kerusuhan terbesar di Jakarta, Medan dan Surakarta. Terdapat wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami pelecehan seksual dalam suasana chaos. Sebagian bahkan diperkosa ramai-ramai, dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh. Dalam kerusuhan tersebut, banyak warga Indonesia keturunan Tionghoa meninggalkan Indonesia. Tak hanya itu, seorang aktivis relawan kemanusiaan yang bergerak di bawah Romo Sandyawan, bernama Ita Martadinata Haryono, yang masih duduk di bangku SMU berusia 18 tahun, juga diperkosa, disiksa, dan dibununh karena aktivitasnya. Ini menjadi suatu indikasi bahwa kasus perkosaan dalam kerusuhan ini digerakkan secara masif, sistematis, tak hanya sporadis. Kerusuhan terselubung yang direncanakan matang jauh hari.

Amuk massa membuat para pemilik toko di kedua kota tersebut ketakutan dan menulisi paras toko mereka dengan tulisan "Milik Pribumi" atau "Pro Reformasi". Sebagian masyarakat mengasosiasikan peristiwa ini dengan peristiwa Kristallnacht di Jerman pada 9 November 1938 yang menjadi titik awal penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi dan berpuncak pada pembunuhan massal yang sistematis atas mereka di hampir seluruh benua Eropa oleh pemerintahan Jerman Nazi.

Sampai bertahun-tahun berikutnya pemerintah Indonesia belum mengambil tindakan apapun terhadap nama-nama yang dianggap kunci dari peristiwa kerusuhan Mei 1998. Pemerintah mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa bukti-bukti konkret tidak dapat ditemukan atas kasus-kasus perkosaan tersebut, namun pernyataan ini buru-buru dibantah banyak pihak, dan dianggap sebagai statemen yang non reasonable. Ngayawara belaka.

Sebab dan alasan kerusuhan ini masih banyak diliputi ketidakjelasan dan kontroversi sampai detik ini. Namun galibnya masyarakat Indonesia secara keseluruhan setuju bahwa peristiwa ini merupakan sebuah lembaran hitam searah Indonesia, sementara beberapa pihak, terutama pihak Tionghoa, berpendapat ini merupakan tindakan pembasmian (genosida) terhadap orang Tionghoa, walaupun masih menjadi kontroversi, apakah kejadian ini merupakan sebuah peristiwa yang disusun secara sistematis oleh pemerintah, atau perkembangan provokasi di kalangan tertentu hingga meruyak ke masyarakat.

Ita, korban perkosaan dan pembunuhan sadis itu nama sesungguhnya adalah Martadinata Haryono, namun ia lebih dikenal dengan anma panggilan Ita Martadinata, siswi kelas III SMUPaskalis ini ditemukan mati terkapar pada 9 Oktober 1998 di kamarnya di Jakarta Pusat. Perut, dada dan lengan kanannya ditikam hingga sepuluh kali, sementara lehernya disayat. Hal ini terjadi hanya tiga hari setelah tim relawan untuk kemanusiaan dan beberapa organisasi hak-hak asasi manusia lainnya mengadalan konferensi pers dan menjelaskan bahwa beberapa orang dari anggota tim ini telah menerima ancaman akan dibunuh apabila mereka tidak segera menghentikan bantuan mereka terhadap investigasi internasional atas perkosaan, pembunuhan, dan pembakaran atas sejumlah gadis dan perempuan Tionghoa dalam kaitan dengan kerusuhan Mei 1998.

Pihak berwenang mengumumkan bahwa kematian Ita hanya tindak kriminal biasa, yang dilakukan oleh seorang pecandu obat bius yang ingin merampok rumah Ita, namun tertangkap basah, sehingga kemudian ia membunuh gadis itu. Lagi-lagi banyak pihak yang meragukan pernyataan ini. Apalagi menurut rencana Ita dan ibunya, Wiwin Haryono, akan segera berangkat ke New York dengan empat korban Kerusuhan Mei 1998 sebagai bagian dari tim relawan untuk kemanusiaan, untuk memberikan kesaksian kepada Kongres Amerika Serikat tentang tragedi itu. Ita dan ibunya diketahui cukup banyak terlibat dalam memberikan konseling kepada para korban kerusuhan tersebut.

Karena itu tim relawan berpendapat bahwa peristiwa itu sesungguhnya dimaksudkan sebagai ancaman kepada mereka yang terlibat di dalam aktivitas kemanusiaan ini untuk menghentikan kegiatan mereka.

Amuk massa merupakan peristiwa yang amat jahat dan buruk dalam dunia ini. Klimaks kebuasan manusia menuruti nafsu mengabdi angkara, dan permainan beberapa gelintir manusia yang kebetulan saja memperoleh kesempatan untuk duduk di tingkat paling atas, menjadi apa yang dinamakan pemimpin-pemimpin golongan atau kelompok, dalam usaha mereka untuk mencapai kedudukan paling tinggi dan kesenangan. Manusia dikloning menjadi harimau yang haus darah, melakukan kekejaman yang tak terbandingkan, karena tiap kekejaman sebenarnya tak bisa dibandingkan. [] 

(bersambung)-e

Rujukan:
[1] Dislain dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" pada 25 Januari 2015


Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi