Mangkuk Laut - Kampung Kolam - Epitaf Kamar Mandi ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 23 Februari 2015

Mangkuk Laut - Kampung Kolam - Epitaf Kamar Mandi



Mangkuk Laut

aku sering datang berpunggung pasir,
duduk dan menyinggahkan bibir di tepimu
angin kuisap, menuju palung terdalam dari
sebuah puisi yang lama bermukim di lambung
setiap hari, rindu seperti perahu, dan duka melayarkanku
pada tempat-tempat asing, kini aku sampai
pada dirimu. bukan pengasingan atau kematian
yang ingin kutemukan, bulu-bulu di lidahku
memutih, seperti kulit kerang di ketiak dan
kelopak matamu. kau kesepian? serupa dengan tas
jinjing yang kau bawa? ya, tentu saja. aku dan tas ini
sudah puluhan tahun berjalan, mencuri dan membunuh
para dendam. malam ini aku bukan berniat membunuhmu,
perutku disesaki banyak anak-anak pungut, tak pakai baju
tak makan tiga kali sehari. seorang nenek bersandar tanpa tongkat,
ibu muda menggigil sambil menggosok-gosok tangannya di atas perut.
mereka takut bertemu matahari. deru sepeda motor,
kereta api, atau panser-panser. aku bawa mangkuk ini,
biar kubawa kau pada mereka. berceritalah. jangan cuma
menahan mendung. sini, masuk. aku bukakan mulut.

Medan, 2014

Kampung Kolam

pagi buta, kakek berjalan memikul cangkul.
racun tikus dan beberapa karung goni di 
selipan ketiak kanan. angin menegurnya berulang-ulang,
menepuk pipi dan kantung matanya, tapi kakek
tak bersuara. lolongan anjing di simpang jalan
menusuk langit, membelah jalan, mengetuk
jantungnya. tapi kakek tak bersuara. subuh baru 
saja sampai. matahari masih dalam perjalanan,
kakek terus menghadap ke depan, mengisi katarak
di matanya dengan kegelapan lagi. kerak kakinya
mengundang para cacing dan celurut. mengikuti 
kakek berjalan menuju ladang di ujung jalan.
petani dan warga ampung yang dulu dipenggal
kepal, dibenamkan ke kolan atau yang mati
diam-diam tidak datang pagi ini. mungkin sedang sibuk
menyiapkan strategi pembalasa, atau penitipan dendam
pada anak-anak, tapi bukan pada kakek. karena ia
masih terus meraba-raba jalan, memikul cangkul,
mencium udara, dan kakek rupanya tidak sendirian.
seorang perempuan duduk di seperempat jalan, kepalanya
dijinjing, bajunya merah dan tubuhnya basah. Lalu
mereka tampak serius menyusun sesuatu.

Medan, 2014

Epitaf Kamar Mandi

kami suka menuang sampah di kerongkongan
atau memandikanmu dengan kebencian. tapi 
kau tenang saja, memandang kami penuh cinta.
betapa setia, ketika jam-jam tengah malam,
bahkan kami sendirian tanpa benang, lalu
menambah berat tubuhmu dengan sampah lagi,
kau tak bilang apa-apa, justru menjadikannya wewangian.
Betapa gembira kau ketika kami datang, membawa
Sisa liur, keringat dan bekas bibir beberapa orang
lalu kau juga mau ikut mencicipi. mengutipnya
dengan mesra, penuh kasih sayang.
siapa yang sanggup berdalih, ibu pun bilang
suatu saat, kau yang akan mengantarku pulang,
menaruh wewangian, agar kulitku tak diserbu
para binatang.

Medan, 2014


Sartika Sari lahir pada 1 Juni 1992. Ia tinggal di Medan. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sartika Sari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" pada 22 Februari 2015

Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi