Negeri Semakin Ngeri - Ketemu Puisi Semu - Puisi Teh Pahit - Puisi Kopi Pahit - Puisi Air Putih ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 16 Februari 2015

Negeri Semakin Ngeri - Ketemu Puisi Semu - Puisi Teh Pahit - Puisi Kopi Pahit - Puisi Air Putih


Negeri Semakin Ngeri

tetapi bebaskanlah negeri dari segala korupsi
negeriku teriak karena telah terkoyak
negeriku teriak karena telah ketelan ombak
negeriku teriak karena telah ketelan riak
negeriku teriak karena telah ketelan leak
negeriku semakin ngeri
negeriku semakin nyeri
negeriku ini penuh sudah ditiap tiap gundah
apabila ada yang terlanjur tertangkap
pastilah maling juga yang mengungkap
maling menghujat maling
tersangka menghujat tersangka
terpenjara mengikat terpenjara
terdakwa mengungkap terdakwa
tangismu sungguh tak berelegi
tangismu sungguh tangkisi embun pagi
wahai negeriku,
bersamalah bersamaku berjalan
didepan dibelakang didalam diluar dibawah atas dikanan kiriku
sudahlah,
jangan ada lagi keberingasan beringasan tikam menikam
sudahlah,
jangan ada lagi pertikaian pertikaian satu tumpah darah
sudahkah,
jangan ada lagi saling binasa satu nusa satu bangsa satu bahasa
sudahlah,
jangan ada lagi iptakan dua matahari satu negeri
sudahlah,
jangan ada lagi, jangan ada lagi
tetapi bebaskanlah negeri dari segala korupsi

Ketemu Puisi Semu

jangan terkecoh pada yang nampak semu
sebab semu ada didalam bukan dipermukaan
sebab ukuran semu bukan pada peradaban
sebab ukuran semu bukan pada penampilan
sebab ukuran semu bukan pada kesadaran
sebab ukuran semu bukan pada kesabaran
sebab ukuran semu bukan pada  kebiasan
sebab ukuran semu bukan pada  kebiasaan
(...pada semu tetap akan menunggu waktu ketemu
nyatanya yang tak semu justru menghancurkanmu...)
sebab ukuran smeu bukan pada ketidakpastian
sebab ukuran smeu bukan pada ketidaktanggungjawaban
sebab ukuran smeu bukan pada ketidaksiapan
sebab ukuran smeu bukan pada ketidaktidak
(...sebelum ajal kunikahi kamu bertatapan semu...)

Puisi Teh Pahit

terlalu manja pada situasi pagi
terlalu terbiasa neguk teh pahit
supaya bisa hadapi hidup sulit

Puisi Kopi Pahit

itulah sebabnya kenapa kumemilih kopi pahit
nafas berkelit bercumbu angan sampai langit
pelangi disini sudah bertambah warna
bahkan smepurna yang lusa entah kemana
kenapa entah kemana karena luka tak bisa kemana-mana
gelombang telah mengaparkan jenazah
gelombang telah pula mengombangkan resah
begitu lama berpisah

Puisi Air Putih

tetapi memanglah harus begitu untuk menjalani
berapakali mesti harus diulang-ulang
berapa kali mesti harus bersulang
untuk kembali berdampingan tanpa menyakiti tulang
lagi-lagi gejolak cemburu memburu
surga ternyata tak hanya di tubuhmu yang membuih
pada sebait puisi muncrat air putih

Puisi Asi

tetapi semua kehidupan yang hidup selalu dari susumu ibu...!


Padepokan Seni Matahariku Purworejo


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Thomas Haryanto Soekiran
[2] Pernah tersiar di surat kabar 'Kedaulatan Rakyat' pada 15 Februari 2015




Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi