Perahu Kenangan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 17 Februari 2015

Perahu Kenangan



DI dalam kamarnya, Jeni menyembunyikan sebuah perahu dari dunia. Sebuah perahu kecil, terbuat dari papan-papan rapuh yang dia kumpulkan dari sungai di dekat rumahnya. Perahu itu berwarna cokelat dengan layar putih kusam yang penuh bercak-bercak kehitaman. Di dua sisinya, tak beraturan karena papan kayu yang tak rata dan koto, dia sempat menggambar sepasang sayap putih: satu di kanan, satu di kiri. Perahu itu, Jeni menamainya perahu kenangan.

Karena Jeni tak ingin melupakan kenangan, dia menciptakan perahu itu. Meskipun dia menduga pada akhirnya perahu itu pun tak akan membawanya ke mana-mana. Tidak untuk berlayar di sungai rumahnya. Apalagi untuk berlayar di lautan luas. Dia membayangkan jika papan-papan itu akan copot satu per satu terkena air dan empasan gelombang, lalu akhirnya tenggelam. Dia tak ingin perahunya tenggelam. Dia tak ingin kenangannya hilang begitu saja.

Namun Jeni tahu, hari-hari aman untuk menyimpan perahu itu di kamar akan segera berlalu. Ayahnya sudah berulang kali masuk ke kamarnya, menganggap perahu itu sampah dan ingin Jeni segera membuangnya. Dia menolak. Menangis. Bahkan mengancam untuk melompat ke dalam sungai dekat rumah jika ayahnya terus memaksa. Bagaimana seorang manusia bisa membuang kenangan? Bagaimana manusia hidup tanpa kenangan?

‘’Orang dewasa bisa hidup tanpa kenangan,’’ kata ayahnya. Jeni menggeleng, hampir menangis. Kalau begitu aku tak mau jadi dewasa, katanya.

‘’Coba lihat apa yang kita punya di sini,’’ ujar ayahnya lagi, ‘’Ini Januari. Banyak orang akan dewasa pada bulan ini. Kau akan dewasa bulan ini.’’

Begitu ayahnya pergi, Jeni melihat ke kalender. Alih-alih tertempel di dinding, kalender itu kini tergelar begitu rupa di meja belajar. Sejak tahun baru, lingkaran-lingkaran merah selalu melingkari angka-angka yang berbaris maju. Mereka sedang menghitung umurnya. Mereka sedang menunggu Jeni menjadi dewasa.

***
PAGI-PAGI sekali, Jeni suka pergi ke sungai. Berharap akan ada kayu-kayu rapuh lagi yang terbawa oleh kederasan aliran sungai lalu tersangkut di tepi. Dia ingin membuat perahunya lebih kokoh dari sekarang. Jeni ingin perahu itu harus mampu berlayar membawanya pergi. Karena itu dia memindahkan perahu itu ke sungai dekat rumahnya. Dia begitu yakin kini untuk mulai membuka rahasianya.

Jika dia beruntung mendapatkan kayu-kayu itu, Jeni akan menuliskan sebuah nama di balik kayu itu sebelum menempatkannya di badan perahu. Nama yang tiba-tiba melintas begitu saja dalam ingatannya, tanpa kenangan apa pun. Dia mengerjakan semuanya sendiri. Tanpa harus ke tukang kayu, dia belajar memasang paku dan menggunakan gergaji.

Jeni tahu orang tuanya menganggapnya gila. Atau mungkin malah bangga. ‘’Anak kita jadi seperti Nuh,’’ begitu kata ibunya suatu waktu. ‘’Dia akan membuat bahtera untuk menyelamatkan umat manusia. Lalu banjir besar akan tiba. Orang-orang jahat akan mati. Ah, tapi kita bukan orang jahat. Kita tak akan mati. Jeni akan menyelamatkan kita.’’

Kata-kata itu, setahu Jeni, tak pernah dianggap serius oleh ayahnya. Lelaki itu hanya tersenyum, sambil memandang prihatin pada ibunya. Juga pada dirinya.

Namun ibunya salah tentang hal ini. Jeni bukan Nuh, meskipun dia membuat perahu itu dengan tiba-tiba. Dan meskipun dia semakin mahir menggunakan perkakas-perkakas tukang kayu, tapi dia jelas bukan Isa. Dia hanya Jeni, anak perempuan berusia tujuh belas tahun yang semakin sering memandang ke kalender, seolah sedang memastikan jika kalender itu tak akan mencuri kesempatan untuk memajukan waktu, mengantarnya lebih cepat ke usia delapan belas.

Entah kenapa ibunya menganggap perahu kecil itu akan bisa menyelamatkan umat manusia. Perahu itu bahkan tak cukup luas untuk menampung dua orang. Aku hanya akan berlayar sendiri, kata Jeni. Tak akan ada satu orang pun yang ikut denganku pergi dari sini.

Disebut apakah sebuah perjalanan, jika seorang manusia menggunakan kenangan sebagai kendaraan? Lalu disebut apakah tujuannya? Lalu disebut apakah sesuatu yang ditinggalkan?

Jeni selalu yakin bahwa perahu yang dia buat akan menjelaskan pada suatu hari nanti alasannya membenci tempat dan waktu yang melingkupinya saat ini. Dia merasa dunia ini begitu aneh, begitu kacau. Kadang-kadang saat dia berjalan-jalan menyusuri jalanan Salatiga yang lengang, tiba-tiba langkah kakinya menemui sebuah jalan yang begitu ramai oleh kendaraan. Jeni segera sadar bahwa itu adalah Tembalang. Namun di Tembalang, kesedihan seharusnya selalu menguap dan membuat dunia menjadi abu-abu. Dan itu tak dirasakannya saat matanya mengawasi deretan kendaraan yang terjebak kemacetan. Bahkan Widya Puraya yang dia saksikan tak seperti yang dia kenal dulu. Tak ada kesunyian. Orang-orang hanya diam, sambil berlari. Kesunyian dan diam adalah dua hal yang sangat berbeda.

Ini bukan dunia yang kukenal dulu, katanya. Di Tembalang, salju bisa turun kapan saja. Seseorang tinggal memejamkan mata dan membayangkan rasa dingin yang menusuk hati. Rasa dingin karena kesunyian. Dan ketika membuka mata, dunia akan menjadi putih. Tembalang akan memutih. Tapi di sini aku tak bisa membayangkan apapun, katanya. Ketika aku memejamkan mata, ujarnya lagi, semuanya kosong. Aku bahkan tak bisa mengingat satu orang pun kecuali nama mereka.

Maka ketika Jeni menemukan papan-papan kayu, dia berharap menuliskan nama-nama itu akan membuat kenangannya kembali. Tapi bukankah mengetahui nama saja tak cukup untuk meminta sesuatu yang lebih? Sementara dia ingin meminta kenangannya kembali

***
TANPA sadar, lingkaran-lingkaran merah di kalender terus bergerak. Pada hari keenam, Jeni memasang sebuah layar baru di kapalnya dengan kain berwarna biru, juga penuh dengan tulisan. Dia bersikap manis hari itu dengan tidak membuat keributan sama sekali di kamar. Namun ketika orang tuanya mengajaknya pergi, dia menolak. 

Dia sendiri punya kepergian yang harus dipersiapkan. Dia mengemasi segalanya dan memasukkannya dalam tas. Barangkali bukan segalanya, karena dia hanya membawa sebuah buku, pena, dan beberapa potong pakaian. Tak ada bedak. Tak ada lipstik.

Kenangan, sekarang lebih penting dari semua itu. Hampir tengah malam ketika Jeni membuka jendela kamarnya, lalu menyelinap pergi. Dia berlari menuju sungai, tersandung di langkah-langkah awal namun dia tetap berlari. Malam begitu gelap, terlalu gelap mungkin untuk merayakan sebuah ulang tahun yang tak terlalu berarti. Namun Jeni tahu bahwa betapapun gelapnya, ulang tahunnya kali ini begitu penting. Dia menyalakan senter. Meskipun dunia ini begitu berbeda, namun kata-kata ayahnya, ayah yang sama sekali berbeda, juga benar: dia harus menjadi dewasa malam ini.

Maka dia menentukan jalannya sendiri. Jeni berlari. Suara sungai menyapa telinganya, begitu nyaring di malam hari. Namun sebelum sampai di sungai, beberapa siluet mengadangnya. Jeni berkelit, dia melihat ayah-ibunya, teman-temannya, orang-orang yang kerap ditemuinya di jalanan, semua dengan senyuman yang menakutkan dan tatapan mata yang kosong.

‘’Jadilah Nuh bagi kami. Selamatkan kami dengan perahumu!’’

‘’Jeni! Tunjukkan perahumu! Bukankah ayah sudah menyuruhmu membuangnya!’’

‘’Jeni, ayo main!’’

‘’Bagaimana tugasmu kemarin? Kenapa belum kau kumpulkan pada Bapak?’’

‘’Selamat ulang tahun, Jeni! Ayo tiup lilinnya!’’

‘’Ayo! Ayo! Selamat ulang tahun ya!’’

‘’Jeni, makan-makannya sekarang saja ya!’’

‘’Jeni, jangan pergi!’’

‘’Jeni, kau nggak boleh pergi,Bodoh!’’

‘’Jeni!’’

‘’Jeni!’’

‘’Jeni!’’

‘’Jeni!’’

‘’JENNNNNNI!’’

‘’Jeni, aku mencintaimu.’’

Sesuatu yang panas mengalir di sudut matanya. Sungguh, kenangan-kenangan di sini begitu mendamaikan, namun dia sama sekali tak mengenali semua itu. Dia belum pernah merasa tak bahagia pada sesuatu yang seharusnya begitu menyenangkan. Seperti yang dia rasakan saat ini.

Jeni berlari sambil memukul-mukul udara sembarangan. Beberapa orang terjatuh ke tanah, entah siapa. Namun kerumunan itu terus menerus mengepung dan menyuruhnya tinggal. Aku, teriaknya, ingin hidup dengan kenanganku sendiri. Dia melemparkan senter ke arah mereka. Lalu dengan putus asa menjatuhkan diri ke sungai. Tangannya membentur bebatuan di dasar. Begitu sakit. Namun dia tak acuh. Dia berenang ke tepi, ke tempatnya menyimpan perahu. Membuka kain yang menyelimutinya, memasang layar, lalu menariknya kembali ke tengah. Dia siap berlayar.

Sementara orang-orang masih berteriak memanggil namanya di atas, aliran sungai telah dengan stabil membawanya semakin ke tengah. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, pikirnya. Dia yakin papan-papan kayu bertuliskan namanama itu akan cukup kokoh membawanya pergi. Membuatnya mengingat sesuatu.

Sudah fajar, ketika perahu itu mulai berlayar di perairan yang luas, namun dengan kabut yang begitu putih di sekelilingnya. Jeni menduga barangkali dia sudah sampai di lautan. Dia membuka tasnya, menyiapkan buku dan pena. Namun di sebuah halaman, dia tiba-tiba berhenti. Ada perasaan rindu yang mendadak tumbuh kepada foto yang tertempel di situ: foto keluarganya. Keluarga yang sebenarnya.

Hatinya mencelos, mendadak jantungnya berdetak begitu kencang. Dia melihat ke layar perahunya. Kata-kata yang tertulis di sana; Jeni mengingatnya sebagai puisi yang pernah dibuatkan oleh seseorang padanya. Lalu dia melihat ke dalam perahunya. Pada papan-papan kayu yang tampaknya rapuh namun mampu membawanya berlayar sejauh ini. Nama-nama yang tertulis di sana; semua adalah nama teman-temannya.

Jeni menangis ketika mulai membaca nama-nama itu satu per satu. Jeni sadar bahwa kenangan barangkali tak akan pernah hilang, yang harus manusia lakukan hanya mau mengingat. (62)

Dongeng buat Jeni

Gaza Manta, lahir di Lamongan, 30 Maret 1990, bergabung di LPM Dimensi Politeknik Negeri Semarang, dan tinggal di Tembalang, Kota Semarang

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Gaza Manta
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" pada 15 Februari 2015

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi