Selaksa Lukisan yang Jejal di Kepalamu [2] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 16 Februari 2015

Selaksa Lukisan yang Jejal di Kepalamu [2]


Kisah sebelumnya:
Hamil sebelum menikah dengan Irsan, membuat hidup Meilati jungkir balik. Apalagi, Irsan kemudian pergi meninggalkan Mei yang membuatnya menjadi orang tua tunggal bagi Saldi. Mei lalu memilih tinggal dengan mertuanya, membesarkan Saldi yang mulai merindukan ayahnya. ‘Tugas’ Mei bertambah ketika ayah mertuanya terkena stroke.

   
    “Oo, ana’ Akhirnya kau pulang juga, setelah 8 tahun. Kukira bagaimana nasibmu. Kau hidup atau sudah mati, kenapa tidak berkabar Ana’....” Suara ibu tua itu ditelan luap perasaan yang menggetarkan tubuhnya. Ia menerjang dan memeluk anaknya yang belum sempat menaruh ransel di ambang pintu rumah.

    Para tetangga datang menggerusu, mereka mengira hari berkabung telah tunai.

    Irsan menghela dan balas memeluk ibunya. Ia memejam mata menahan sesuatu yang mendesak lesak, cukuplah bilik dadanya bergelora. Di ruang tamu, Ihsan ikut menyaksikan kedatangan pemuda yang sekian tahun raib. Meilati sedang menjemput Saldi di sekolah.    

“Bapakmu lumpuh. Sampai sekarang tidak ada perkembangan. Sudah 13 bulan….”  

Ibunya lalu menceritakan sakit yang menimpa bapaknya dengan sedan, seperti bocah yang mengadu.

Irsan menengok ke dalam kamar dan duduk menggontai pada kursi di tepi ranjang. Menyerana. Tak kuasa memperhatikan bapaknya yang suri, tak sanggup menatap mata lelaki tua lintuh yang diyakininya limpah dengan banyak cerita: aduan, segenap kemarahan, pula pertanyaan. Itu memerihkan dirinya. Dulu ia pergi membuat malu dan kini, datang dalam keadaan yang tidak lebih baik. 

    Ia meraih tangan bapaknya, menyesapi melalui hidung, lalu dibenamkannya tangan tak berdaya itu ke segenap wajahnya. Tahu-tahu ia telah terisak selaik bocah. Ketika ia melirik bapaknya, tampaklah kepala orang tua menggeleng, dan mata itu berkaca seraya menjuling ke arahnya. Irsan menghela dan terguncang. 

Saldi menyelonong masuk ke kamar dengan wajah pias. Ketika matanya tertumbuk pada lelaki di sudut ranjang, air mukanya yang polos berkerut, tangan mungilnya terangkat dan berkata dengan ragu, ”Ayah….”

    Nenek Risa mengangguk dan sesungguknya mendedah lagi. Irsan menoleh bersamaan dengan isakan Saldi.

    Irsan bangkit dan terpana. Ia merentangkan tangan dan Saldi menerjang tubuhnya. Ia memeluk erat keajaiban itu. Mana bisa, zat yang dulu bermukim di rahim istrinya, telah mewujud sekasat ini. Subhanallah. Tanggul air matanya meruah. Dulu ia mengacir saat istrinya baru mengidam di bulan ketiga. Kini darah dagingnya itu berada dalam dekapannya.  Hangat dan berdetak. Ia merasa napasnya bakal tandas oleh ketakjuban itu. Namun, yang kemudian menimpa, tangannya geligis saat membelai anaknya. 

“Mana ibumu, Nak?” Irsan masih mendekap lekap. Suaranya parau. Ketika akhirnya ia melepas  pelukan, dengan asih, ia mengusap air mata Saldi. Sang ayah begitu mengesir bau tubuh anaknya yang kecut dan engas. 

“Di depan, maggaru’ kakao. Kenapa Ayah baru pulang? Kenapa cari uang lama sekali?” Anak itu tersedu lagi. Pun memeluk ayahnya.

    Irsan mencungking anaknya keluar. Ia menarik napas. Merasa jantungnya telah ranum dan menunggu jatuh.

    “Mama’, Ayah pulang!”

Meilati menoleh. Mukanya memerah oleh sengat matahari, atau mungkin sebab pertemuan itu. Wajahnya tampak malas. Juga melas. Ia melihat beberapa jenak, kemudian mengempaskan paggaru’ kakao itu ke tanah. 

“Apakah kau datang untuk mengambil Saldi? Saya telah mengasuhnya seumur hidup, bahkan jika saya hanya ibu susunya, saya tidak rela kau mengambilnya,” ujarannya, sepat. Dan matanya sipit memicing suami kemudian putranya, lantas berlalu cepat.

###

    Keesokan malam, warga berkumpul di rumah Kakek Dulla. Syukuran atas kedatangan kembali anak bungsu sekaligus zikir dan doa untuk kesembuhan Kakek dirayakan dengan pembacaan barzanji. Di ruang tamu yang lapang dari kursi dan meja yang telah disisihkan, imam masjid dan pengurusnya duduk di bagian paling dalam. Disusul bapak-bapak dan pemuda yang membaur di ruangan.

    Sementara bosara bertudung merah berisi kue lima warna diketengahkan, mereka membacakan barzanji bergiliran dengan irama timbul tenggelam. Ada juga warga lain memilih duduk di luar rumah, di bawah tenda oranye yang telah dipancangkan. Kebanyakan mereka adalah remaja belasan tahun.

    Delapan tahun adalah waktu berjarak bagi seorang pemuda pulang kampung. Namun, sewindu bukanlah waktu ringkas untuk membunuh ingatan getir. Dulu, warga tahu  bagaimana pemuda tampan itu menoktah aib di kampung. Sehari setelah ijab kabul Irsan dengan Meilati yang terburu-buru dan tertutup, seorang pemuda dan ibunya dari kampung di sebelah sungai beserta rombongan, menyatron rumah Kakek Dulla. Mereka tiba dengan membuntal kasam.

    Pemuda dan rombongan menyerapah sepanjang jalan desa, mengoar nama Irsan. Si pemuda kurus itu mengklaim adiknya, seorang gadis yang lain, telah diperdaya oleh Irsan, dan gadis kampung itu tengah meregang nyawa di rumah sandro. 

    Orang-orang sekampung menjadi malu. Mereka urun mengumpat. Warga terpecah antara turut membantu rombongan pemuda atau menghalaunya. Beserta warga desa, pemuda dan rombongan mendatangi rumah Irsan. Pembicaraan sengit tak terelakkan dan membikin perempuan di dalam rumah histeris.

    Irsan diungsikan ke rumah kepala desa. Namun, saat hendak dibangunkan untuk salat Subuh esoknya, Irsan telah kabur ke Makassar. Dari indekos dia minggat entah ke mana. Sejak saat itu tak ada selenting wartanya hinggap ke desa. Tidak juga pada ibu bapak dan terutama pada istrinya. Di kampusnya, Irsan tak pernah  nongol kuliah.

Beberapa waktu kemudian, cerita ngeri menguar, bahwa saat pemuda dari seberang sungai dan rombongan itu datang menyatron, sebagian besar lelaki dalam rombongan tersebut telah menyarung badik di balik baju. Dan lebih banyak lagi pemuda di seberang desa yang telah menyiapkan parang dan papporo. Mereka bersiaga menunggu siulan tanda penyerbuan dimulai. Hanya keberuntungan saja yang membuat rusuh itu tak cetus.

Kini setelah kepulangannya, beberapa warga mengenang masa lalu pemuda itu. Sebagian cemas, selebihnya sewot. Namun, kesumat itu berkurang karena 2 hal. Keluarga Kakek Dulla telah menaur keluarga perempuan yang diperdaya dengan sepasang sapi jantan dan betina untuk ditangkarkan. Kedua, keluarga kaya itu sedang berduka yang bisa berlarut pekat sewaktu-waktu hingga tak perlu lagi dikeruhkan.

    Di malam yang ingar itu, Meilati bergiat di dapur bersama tetangga-tetangga perempuan. Sejak kedatangan suaminya, dia belum mengajak bicara. Semalam ia bertahajud dan memohon syafa’at. Pun ia menginsyafi, sikapnya picik jika membiarkan diri mengabaikan suaminya.

 “Dari mana kau tahu Bapak sakit?” Ihsan bertanya usai tetamu pulang. Hanya ada mereka berlima di ruangan itu.

“Seorang teman kuliah mengikut di Twitter-ku. Samad. Dia yang memberi tahu. Dia pacar dari temannya Bidan Sari.”

“Andai Bapak tak sakit, mungkin kau tak pulang.” Meilati menyusun kue-kue tersisa ke dalam satu bosara. Ia memunggungi suaminya.

“Itu yang disebut hikmah. Tiap penderitaan akan ada kebahagiaan yang mengikuti. Betapa Mama’ bahagia akhirnya kau bisa kembali, Nak. Terobati sekali ini hati.”

     Nenek Risa berkata seraya bangkit meraih cucunya yang sejak kedatangan ayahnya terus saja memalun, bergelantung di bahu Irsan seperti anak monyet. Saldi menggerutu, namun manut juga. Ihsan ikut menepi.

Irsan menatap Meilati yang masih memberesi. Tampaknya adalah buah kecanggungan.

    “Apa kabarmu?”

“Kau menanyakan kabarku hari ini, atau kabar selama bertahun-tahun kau pergi?” tanya Meilati, ketus. Dia makin tampak mengemas. Saat rampung, ia duduk bersandar di tembok dengan kaku. 

Irsan menghela, “Aku tahu membawa aib pada desa ini, terutama pada dirimu. Tapi, aku tidak ingin terjebak dalam masa lalu. Setiap orang punya masa lalu, ‘kan?”

“Kau datang kemari seolah-olah tidak terjadi apa pun. Warga tentu masih mengenang apa yang kau lakukan dulu. Orang-orang di desa seperti kami, jarang menyaksikan peristiwa besar. Nah, sekali ada, akan sulit dilupakan. Hati-hati. Kau tidak tahu, mereka bisa datang ke sini  tiap saat setelah mendengar kedatanganmu dan melakukan hal-hal yang tak terbayangkan.” Ia menoleh pada suaminya. Lirik matanya melarik, tajam.

Irsan menghela. Ia menyadari perasaan kepada perempuan ini terus tumbuh dan matang dalam pelariannya. Tak pernah sekali pun ia memikirkan untuk bersenang-senang dengan perempuan lain di negeri jauh. Jika ketidakminatan pada lawan jenis selama di sana adalah kutukan, ia ikhlas menerimanya. Alih-alih, dia merasa bersyukur.

 “Terima kasih,” ujar Irsan. Ia beranjak mendekat dan duduk di sisi Meilati. Ia merasa bersalah saat mendengar desah napas ripuh perempuan ini. Tentu tak mudah baginya menjalani sekian tahun menjadi orangtua tunggal. Membayangkan apa yang dilalui Meilati meyakinkan dirinya begitu bodoh dan bengis menghalaikan seorang ibu menanggung sehimpun malu, luka, juga beban sendiri di tubuhnya.

Tanpa diminta, Irsan berkisah serupa terdakwa di hadapan hakim yang mulia. Di hari harusnya mereka menikah, Irsan mengacir ke Yogyakarta. Dia membawa segepok uang hasil papacci ditambah uang tabungannya yang tak banyak. Ia berkeras, agar dana itu diutamakannya untuk mendaftar pada jurusan yang memuaskan hasratnya berlukis. Sisanya ia sewakan indekos dan makan. Ia tahu dananya akan segera habis. Maka, ia mengakrabkan diri pada tetangga indekos-nya, seorang guru SD. Ia tanpa sungkan minta tolong dicarikan pekerjaan.

“Jadi guru les, mau?” tawar guru itu. 

Maka, selain memberi les privat 3 kali sepekan pada 2 murid, ia bekerja serabutan menjadi apa saja. 
“Kadang-kadang  jadi tukang batu, juru parkir, yang penting menghasilkan.”

Jika hanya berdiam di indekos, ia memanfaatkan waktunya untuk melukis. Bila selesai, ia berkeliling kota menjajakannya. Dalam pada itu, dirinya mendadak tak berminat melukis gadis-gadis yang dijumpainya, yang kini malah merisaukannya.

Seorang kolektor lukisan dari London, Adam Lanche, mendapati Irsan menjajakan lukisan Mappasilaga Tedong suatu sore di Malioboro. Kebetulan yang mengubah garis nasibnya. Lanche pernah menyaksikan langsung ritual kematian itu saat berwisata ke Tana Toraja. Memperhatikannya dalam media lukis membuatnya decak. Lanche penasaran, ia ingin melihat lukisan lain dari tangan yang  telah melahirkan lukisan luar biasa itu. 

Saat ia datang ke indekos Irsan yang sempit dan kumuh, ia mendadak trenyuh. Menyaksikan keberadaan mahakarya di tengah segala keguraman dan kesesakan tempat itu, Adam Lanche masygul.
Pun nasib mujur menghampiri. Irsan diangkat menjadi asisten kurator bagi galeri lukisan milik Lanche di London. Berangkatlah ia ke sana, menjadi kurator dan pelukis.

Meilati yang mendengarkan mendadak heran. Suaminya yang lari dengan penuh kepengecutan ternyata melewati harinya seperti kisah seorang bintang yang awalnya menderita lalu menemui sukses. Lelaki di sampingnya adalah suami yang telah meninggalkan dirinya dengan luka. Harusnya dia melewati hidupnya tanpa berakhir di London. Tetapi, Meilati tanpa sadar terharu pada cerita awal suaminya. Dia bingung dan dengan lekas berkata, “Bapak dulu bercerita pada saya, lelaki yang mengandalkan nafsu tak ada bedanya dengan binatang. Dan Bapak tak ragu menganggap kau binatang, binatang liar yang penuh nafsu. Saking berahinya, kau bertualang memuaskan syahwat. Entah mengapa, saya senang mendengar julukan itu.” 

“Kata bapakmu, biarkan dia terus bertualang. Jika tak kembali, mungkin ia sudah mati. Namun, jika pun kembali, jangan begitu yakin ia telah menjelma utuh manusia. Kadang-kadang itu hanya kedok, sebab, mungkin dia tak terlihat serigala lagi, tapi terlihat sebagai domba yang pura-pura baik dan asih. Domba berhati serigala.” Meilati menghela napas. Lalu ia tertunduk dan menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia terguncang dan sedu. Irsan mengangguk kikuk.

“Tapi, kenapa kepulanganmu mesti dibayar semahal ini. Kenapa Kakak mesti menunggu Bapak sampai…,” suara perempuan itu tertekan. 

Irsan mendekapnya. “Maafkan aku, Meilati.”

Meilati pasrah dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Odor lelaki itu tak berubah. 

###

Pada hari keempat semenjak kepulangannya, Meliati dan Irsan membawa Bapak ke Makassar. Atas saran Bidan Sari, Kakek Dulla memakai kursi roda agar dapat dipapah lebih leluasa.

Di rumah sakit utama Meilati yang mengetahui lebih banyak kondisi Bapak menggantikan pasien dalam sesi anamnesi. Dokter Thamrin yang menangani begitu antusias karena baru menemukan kasus tersebut di rumah sakit tempat ia berpraktik. Ia hanya pernah mendengarnya terjadi di negeri lain. Sementara Meilati berkonsultasi, Irsan menelusur di mesin pencari internet tentang penyakit itu. Juga menghubungi kawannya di London. 

     Pada akhir pekan pertama perawatan berlangsung, didampingi Dokter Thamrin, Meilati menyampaikan perihal penyakit yang diidap pasien di hadapan keluarganya. 

“Sakit ini tergolong sakit stroke. Satu tingkat di atasnya. Namanya lock in syndrom. Bapak sadar dan terjaga dengan apa yang ada di sekelilingnya. Kakek memahami apa yang kita bicarakan. Namun, hampir seluruh ototnya lumpuh. Kecuali otot mata dan otot kepalanya.” Meilati berbicara sambil sesekali menoleh ke arah dokter, yang mengangguk mengamini testimoni Meilati.

 “Berapa pun biayanya, Dok, asalkan sembuh, lakukan!” Nenek Risa menyahut. Ia menyadari kabar ini lebih buruk, namun melegakan sebab teranglah perkara sakit suaminya.

“Insya Allah. Kami berusaha dengan segenap kemampuan yang kami miliki. Panjatkanlah doa, memohon kesembuhan. Insya Allah jika Tuhan menginginkan, apa pun bisa terjadi. Amin,” Dokter Thamrin memberi semangat. Orang-orang di dalam sana serentak mengamini. 

Selama 7 pekan dirawat di rumah sakit, tiada perubahan berarti pada pasien. Yang mengemuka hanyalah diskusi alot antara Irsan, Dokter Thamrin, dan seorang neurolog. Dari dialog itu makin benderanglah keruwetan ini. Hatta, pada pekan kedelapan, dengan tetap mengikuti prosedur, Kakek Dulla dirawat di rumah. Bidan Sari dua kali sepekan datang menjenguk. Sekali sebulan Kakek berobat ke rumah sakit.

“Apa yang dikatakan oleh teman Kakak di London? Saya merasa Dokter Thamrin tidak menjelaskan semuanya.”

Suami istri itu sedang membahu merawat Kakek ketika pertanyaan itu diajukan. Terdengar seperti alarm bangun pagi di telinga Irsan. Ia tertegun dan tak melanjutkan lagi mengelap tubuh Bapak. Ia membiarkan istrinya menangani sendiri. Meilati meliriknya dan merasa pikiran suaminya tak berada di situ. 

 “Di Inggris, seseorang pasien bernama Tony Niklison menangis tak berdaya karena putusan pengadilan yang menolak permintaannya.” Saat istrinya telah selesai, pun Irsan berkisah. 

“Kau tahu apa permintaan pasien itu, Mei? Dan mengapa pengadilan menolaknya? Pasien itu minta agar dia dimatikan dan dokter yang mematikannya kelak dibebaskan dari segala tuntutan hukum.” Irsan menelah ludahnya. “Dia sudah lelah berjuang selama 7 tahun dengan harapan sembuh nihil. Seluruh otot di tubuhnya tak dapat berfungsi. Dia berkomunikasi melalui matanya yang diterjemahkan oleh perangkat komputer.”

“Sakit itu sama dengan yang diderita Bapak?” Mei bertanya tegang.

     “Pasien ini merasa tak berguna lagi hidupnya, hanya menyiksa dan merepotkan keluarganya. Pun anak istrinya mendukung keinginan pasien.”

“Irsan....”

Suaminya melanjutkan, “Dan dia diberi solusi, satu-satunya cara yang aman dari risiko adalah membiarkan pasien tak diberi makan oleh keluarganya, hingga mati kelaparan.”

“Astaghfirullah, Kak, jangan bilang Kakak akan melakukan itu pada Bapak, Istighfar!” Meilati menutup mulutnya, kemudian bersandar pada tembok. Irsan menggeleng keras.

“Demi Tuhan, itu tidak akan terjadi. Bapak akan sembuh. Dokter tak bisa, masih banyak pengobatan alternatif yang bisa menyembuhkan,” Meilati menggenapkan.

Irsan menatap sekilas pada mata istrinya, lalu pada sosok yang berbaring rapuh di sana. Ia menggeleng masygul. Ia bergegas keluar, meninggalkan Meilati yang tercengang.

Seakan tersengat, Meilati menghampiri Bapak. Ia menggenggam tangannya dan mulai berkata dengan perasaan campur aduk. Kebingungannya yang tunai tampak dari genggaman tangannya yang tremor. 

“Bapak akan sembuh, saya dan Irsan akan mengusahakan yang terbaik buat Bapak.” 

Meilati menyelami relung mata tua itu, menemukan isyarat yang terbit. Ada senyum dan juga kepasrahan di sana. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hamran Sunu
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina"

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi