Selaksa Lukisan yang Jejal di Kepalamu [1] ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 16 Februari 2015

Selaksa Lukisan yang Jejal di Kepalamu [1]


Kayu-kayu penyanggah rumah itu adalah kayu kumea berwarna cokelat kemerahan yang sekokoh baja. Konon, saat didatangkan lewat jalur sungai di belakang rumah, perlu 9 katinti untuk mengangkut seluruhnya. Lantainya bertegel warna cokelat susu. Pada pekarangan yang lega di luar, berjajarlah bebunga khas tropis: kembang sepatu, bunga matahari, beberapa pot bunga melati dan mawar. Teduh dan ceria di luar, lakin dalam rumah, keadaan nyaris lengang jelang 3 bulan. Hanya Meilati dan anaknya yang tampak sesekali.

Selama itu, Nenek Risa dan anaknya, Ihsan, menunggui Kakek Dulla di rumah sakit. Kakek Dulla yang tengah dirawat adalah empunya sebenar rumah. Bersama istrinya, Nenek Risa, di rumah itu berdiam pula anak sulung, Ihsan yang belum menikah, Juga Meilati, seorang menantu dari bungsu, dan cucunya, Saldi.

Kakek Dulla memugar rumah dan mengasrikan pekarangan demi membetahkan anak dan cucunya. Ia tak ingin anak-pinaknya berpaling dan berumah sendiri selepas berkeluarga. Alasan itu  membabil, tatkala bungsunya telah pergi bertahun-tahun dan tiada kabarnya kini. Ironi yang melegakan, sang anak meninggalkan seorang menantu dan cucu.

“Mama’, Kakek sakit apa sebenarnya?” Saldi bertanya pada ibunya. Perempuan yang disapa itu memiliki alis menaut serupa kepakan lebar sayap burung yang terbang di atas senja; hitam pekat. Segalur garis hidupnya.

Hari tengah menerik: ibu Saldi maggaru kakao yang dijemur di sisi kiri pekarangan rumah. Ini adalah hari pertama penjemuran, biji kakao masih basah berlengketan saat dikeluarkan dari karung. Bau biji-biji itu menyengat sebau tape yang disuguh di hari Lebaran atau seperti susu basi yang dicampur alkohol semalam. 

Pun sejak mertua dan iparnya bersibuk di rumah sakit, kini setiap pemetikan kakao, dialah yang mengawas para kisaro. Pula membantu kisaro memberesi apapun yang bisa dilakukannya, ikut menggalah kakao, mengeluarkan bijinya dari tempurung dan pada masa menjemur keesokan hingga beberapa hari kedepan, ia seorang diri saja menjabani. Anaknya kadang datang membantu. Namun seperti kebanyakan bocah, bantuan itu tak lain adalah keinginan lain untuk bersenang-senang. Jika merasa telah bosan, Saldi bisa terbang kapan saja seperti merpati.

Perempuan 27 tahun itu mengangkut berkarung-karung biji kakao itu dari gudang kecil samping rumah. Untuk meringankan bebannya, ia mencadangkan kakao itu dalam jumlah kecil ke sekian karung. Demikianlah, tak ada yang paling dapat diandalkan Meilati, kecuali dirinya sendiri. 

Dalam satu hal ia bersyukur beban pekerjaan itu cukup jitu tak memberi peluang bagi ingatan pilu yang kadang sesekali menghunjam. Sekalipun ia merasa telah sanggup menghadapinya setelah bertahun-tahun. Namun, dirinya adalah wanita yang dilukai oleh sesuatu yang diidaminya, seperti disengat tawon ketika berusaha meraih madunya.

Saldi barusan menyalin baju seragam sepulang sekolah, dan bergegas menyampari ibunya. Ia urun meratakan biji kakao yang hampar berserak di atas terpal berwarna orenye lusuh dan berkerut. 

“Sakit stroke, Nak. Badan kakekmu lumpuh. Tidak dapat bicara, tidak dapat bergerak. Tapi kakekmu baik-baik saja.” Meilati yang berjilbab masih butuh melindungi kepalanya dengan lipa’ sa’be dari garangnya hari. 

“Sudah lama sekali, 95 hari, Ma’. Artinya ayahku tidak lama lagi datang.” Ia berhenti maggaru’ dan mengunjuk 9 jarinya, lalu tangan kanannya sekali lagi. Saban pulang sekolah, bocah itu tak pernah abai menghampiri kalender dinding bergambar aneka masjid kuna di ruang tamu. Di situ ia menghitung satu persatu selimpatan spidol merah yang ditoreh ibunya setiap pagi, sejak peristiwa malam itu.

Meilati berhenti maggaru’, ia menilik Saldi.

“Ayahmu akan datang? Siapa yang bilang begitu?” Matanya menyelidik.

“Teman-teman di sekolah. Amin dan Rajab bilang, Kakek tinggal menunggu mati saja. Dan karena Kakek akan meninggal, pasti Ayah akan datang.”

Meilati meletakkan paggaru kakao dan menggamit tangan anaknya masuk ke rumah.  

Kendati hanya menjenguk pada hari-hari tertentu, Meilati hakul yakin lebih dari setengah warga desa telah membesuk. Sebelum menjadi bagian dari keluarga suaminya, mertuanya adalah imam desa lebih dari satu dekade. Seluruh warga, tentu mengenal dan segan. Dari kunjungan beberapa warga, mereka mengetahui kondisi mantan imam masjid desa itu.

Ia mendudukkan Saldi di atas meja di ruang tengah dan menekan pipinya.

“Nak, tidak ada orang yang tahu kapan orang lain meninggal. Tidak juga Rajab dan Amin. Saldi  tidak usah percaya dengan perkataan orang. Apalagi temanmu. Mereka tidak tahu apa-apa, Nak.”

 “Saya sudah bilang, Mama’. Kubilang kalian bohong. Tapi katanya, yang bilang begitu mama’nya. Mama’ kami tak mungkin bohong. Kakek sebentar lagi mati dan Ayah akan datang.”

Meilati menghela pedar.

“Jika ayahmu akan datang, tentu yang akan diberi tahu adalah Mama’ dan Saldi.”

 “Atau Kakek dan Nenek. Mereka orang tua Ayah. Tapi kukira Ayah takut sehingga melarikan diri,” Saldi mendadak menambahkan dengan bersemangat.

     Meilati ganar. Ia belum pernah bercerita perihal kepergian suaminya. Pula ragu jika mertua, bapak, dan ibunya telah mengungkapkan pada Saldi.  Dia nyaris yakin, jika Saldi tahu perihal ayahnya, tentu teman-teman di sekolah yang memberi tahu, setelah sebelumnya orang tua mereka bercerita kepada anak-anak itu.

Ia lantas berujar, “Ya, dan bukan pada mama’ Amin atau mama’ Rajab.”

“Terus kapan Ayah datang?”

Meilati mendekap lantas membelai rambut Saldi. Selalu begitu, setiap kali buah hatinya menanyakan ayahnya. Bau engas menyergap hidungnya. Ia mengisap lebih dalam dan pelukannya lebih benam.

“Ayah pasti pulang. Namun, kapan dia kembali, hanya Tuhan yang tahu. Sebab, ayahmu pergi jauh sekali sampai-sampai tak ada orang yang menyadarinya. Dia pasti datang, atau akan menyesal karena tak menemui anak paling manis dan pandai di dunia. Berdoalah supaya ayahmu pulang.”


###
Kalakian, ketika Kakek dirawat di rumah, Saldi mulai terbiasa mendengar suara Nenek di kamar tidur belakang. Suara itu mencerabih. Ceracau itu kerap diawali dengan menyebut “Puang Alla Taala Marajae i linoe.” Lalu menyebut menantunya yang setia, cucunya yang amat dimanjakan, anak sulungnya yang ia mohonkan dilanggengkan jodoh, dan terakhir dengan lirih ia menyebut anaknya yang telah pergi dan tak berkabar. Lelaki bungsunya telah minggat dan membikin malu dulu. Malu yang perlahan pendar berganti jetis kerinduan, yang kian ke sini makin menelangsa, sebab keadaan suaminya yang berdiam bagai tumbuhan, serasa sama saja telah ditinggalkan oleh lelaki tercinta kali kedua.

Bocah 7 tahun kelas 1 SD itu kadang tak tega dan terpengaruh menyambangi muasal ratapan atau jika tak kuasa, ia hanya tersedan di ranjang, sebab ibunya yang biasa menemani tidur, turut menjaga Kakek. Bocah kecil itu sekonyong-konyong tahu, ia tak hanya meratapi kakeknya, tetapi juga ayahnya.

Saldi ingat benar malam itu, sekira 7 bulan lampau. Kakek disanggang ke rumah oleh jamaah masjid bakda salat Isya. Ibu dan neneknya menggerung seakan Israil telah turun menyampari rumah.

     Bidan desa, Bidan Sari baru datang setengah jam setelahnya. Rumah praktiknya berkisar tujuh kilo dari masjid yang menjadi semacam pusat kampung. Hanya ada dua rumah yang mengantarai rumah Kakek Dulla dengan masjid. Bidan lajang 27 tahun itu memeriksa tekanan darah, kondisi mata, dan liang mulut kakek.

“Bapak hanya lelah. Nanti juga siuman. Kalau pun terjaga mungkin dia akan melanjutkan tidurnya sampai besok. Biar saja Bapak terbangun sendiri.”

Esoknya Kakek membuka mata. Indera itu menggeridip gelisah. Kepalanya meneleng renyang. Namun mulutnya bungkam, tubuh itu geming. 

Sore hari Meilati menelepon Sari. 

Bidan memutuskan merujuk ke Rumah Sakit Andi Djemma. Pasien dibawa menumpang Avanza milik Ihsan, dan terpaksa menyewa satu pete-pete lagi karena tetangga urun mengantar.

Kata dokter, ia terserang stroke. Tiga hari kemudian Kakek dibolehkan pulang. Lakin pada suatu rembang, dua pekan setelah kepulangan dari rumah sakit, Kakek ditemukan menelengkup tak sadarkan diri di kebun kakao oleh Nandong, remaja tanggung yang sedang mencari burung.

Kakek dilarikan ke rumah sakit. Ihsan, mengambilkan kamar utama nan luas. Selain karena dia dan ibunya akan menunggui, juga karena kecemasan yang melanda, bahwa bapaknya tak akan kembali ke rumah dalam waktu sehari barang dua. Ia ingin bapaknya pulih total saat pulang. Si sulung itu benar. Mereka tak hanya tinggal menunggui sehari barang dua, atau sepekan. Mereka menunggui hingga 7 bulan.

###

Punggung Irsan seperti barusan dijejali sekarung gula pasir. Saat bangkit meluruskan badan, ia mengerang kecil. Kantuknya belum timpas. Namun, ia berkeras berkemas, di tengah asak penumpang yang terburu-buru bererak menjangkau komparteman. Dengan gesa mereka menciduk bagasi, seolah peraih bagasi pertama mendapat hadiah dari pilot.

Lelaki 29 tahun itu kembali duduk dan melepas sweater biru kelam yang dikenakannya. Ia berharap menemui udara hangat khas tropis di luar. Butuh menunggu 7 tahun untuk ritual itu. 

Pemuda bermata rancung dan berahang tegas itu menghela nafas. Ia mencoba menikmati keasingan yang mengitari sekelilingnya. Situasi ini tak pernah disaksinya di kereta api London setiap pagi dan petang. Di sana orang-orang antre, naik, turun dengan tertib, seolah mereka android yang kepalanya telah ditanamkan chip pengrograman ‘tertib berkereta api’. Sekarang ia tahu, di sinilah dan apa yang ditemuinya kelak yang sejatinya menunjukkan ihwal manusia: selalu luput dari benar. 

Penumpang turun melalui tangga. Saat menjejak, papar matahari yang hampar, menampar wajahnya dan menyusup ke balik bajunya. Ia berdiam sejenak, melenggak ke langit. Hangat yang hunjam itu memakunya di situ sekian waktu. Lantas napasnya terengah-engah oleh sebuah tekanan ragib dari dalam tubuhnya. Ia merindukan hangat itu.

     Mengenakan kemeja denim hijau lumut dan celana jins hitam beraksen kusam, Irsan memanggul ransel lukis sambil menyelempang laptop. Dia masuk bersama penumpang lain ke ruang debarkasi yang mengantarnya kepada keramaian yang asing. Bandara baru dan megah, melebihi bandara ibukota negara.

Irsan mengacuhkan suara bising perempuan-perempuan berias tebal di balik loket terbuka dekat ambang pintu keluar yang menawarkan hotel dan sewa kendaraan. Menyadari itu, dia malah kembali masuk, terduduk pada kursi, lantas menyerana: aneh dan kecut rasanya, ia baru nelangsa ketika jarak dan waktu makin kerucut. Mengapa perasaan itu tumpul saat ia begitu jauh dan asing? Apakah karena pekerjaan tak lagi menyita? 

Saat SMA, siswi di sekolah banyak yang mengesirnya. Namun, mereka hanya berani membayangkan berkencan dengan remaja tampan itu. Pikir mereka, lelakilah yang harus berinisiatif lebih dahulu.

Apatah, semua paham, lelaki itu adalah tipe remaja yang hanya layak dikagumi. Lelaki itu bersikap hambar dan cuai pada gadis-gadis. Kakinya kerap tremor bila dekat dengan perempuan. Ia menyukai banyak gadis di sekolah. Namun remaja itu hanya dapat memalarkan bagaimana rasanya akrab dengan salah satu dari gadis itu dan berbagi. 

Setiap kali terpana dan merasakan kegalauan karena bayangan seorang gadis di sekolah, maka ia pergi menyuntukkan diri di kamarnya selepas sekolah. Di dalam sana, ia menggambar satu-satu gadis yang menjejali kepalanya. Afni yang bermata bulat, Aisyah yang berhidung bangir, juga Ratna yang berambut tebal berkilau. 

Setiap kali selesai melukis gadis-gadis itu, Irsan lega, karena, meskipun ia kian terpesona dan makin mengagumi, namun rasa itu tak membuatnya gulana. Ia merasa memiliki dan terpuaskan hanya dengan memandangi wajah ayu yang dilukisnya, kapanpun dia berhasrat.

Tahu-tahu belasan siswi di sekolahnya telah ia lukis dalam lembar-lembar kertas buram yang ia simpan dengan rapi di antara lapik dan kasurnya.

Selepas SMA, Irsan berkuliah di Makassar. Hidup mandiri di lingkungan baru membuatnya merasai dan menyaksikan banyak hal. Irsan mencatat, kali pertama ia mengangguk, kadang pula menggeleng. Tapi belakangan hanya perlu menoleh sebentar atau menghela saja: tak usah menegur teman sebelah kamar yang begitu gaduh memutar musik. Hanya usah menoleh atau pura-pura tak mengetahui teman sebelah membawa pacar ke kamarnya. Sebab penghuni indekos nyaris percaya, kelak semua lelaki di situ melakukannya. Irsan bertanya-tanya dengan mawas dan getir.

     Gadis-gadis di kampus tak ada yang memujinya seperti saat SMA. Banyak lelaki setipe dia, dan lebih banyak lagi yang melampui dirinya. Tampan, modis, dan tajir. Hatta, pun ia mulai berpikir, jika seseorang tak berada pada garis yang dipuja, yang diinginkan, maka seseorang harus sadar untuk menyeberang, berpijak pada warna yang memuja, yang menginginkan, dan yang bahkan sibuk mengejar. 

Di kampus, Irsan terpukau pada sekian gadis. Namun mestilah ia menetapkan pada seseorang agar godaan itu tak kian menggulanakan. Di indekos-nya, pun ia masih setiap menggambar gadis-gadis di kampusnya. Sebab, kepalanya makin disesaki banyak mahasiswi yang memesona, yang modis, berkulit secerah warna putih dinding kamarnya, juga bermata tajam dengan bulu mata lentik (ia tak peduli kalaupun itu bulu mata tempel).

Kemudian pun dia membeka teman kuliahnya. Wanita bermata cokelat itu berwajah semenjana saja. Irsan menyukai Renata karena menduga gadis berambut panjang itu telah sreg padanya sejak lama.

Mereka akrab dalam sepekan. Kerap makan siang bareng di kantin depan asrama mahasiswa. Pun Irsan mengajak menonton di bioskop. Kemudian Irsan membawanya ke kamar indekos dan berlaku seperti kawan lain. Kian ke sini ia sadar, ketidakpedulian pada sekeliling adalah hal yang berfaedah baginya sementara ia, pula  makin liar mengekspresikan nalurinya.

Sontak Renata mengaku telat dua bulan. Irsan panik! Untung ada dokter yang bersedia menolong. Selamatlah mahasiswa semester 4 itu. 

“Ada baiknya kita tidak bertemu. Aku takut akan melukaimu lagi. Tak hanya hatimu tapi... ehhh, maafkan,” ia pergi meninggalkan Renata begitu saja tanpa dapat menuntaskan kalimatnya. 

Kadung, ia telah terjerumus dalam candu. Maka lelaki muda itu mencari pelampiasan pada perempuan yang tahu diri. Paham tak akan membiarkan kehidupan bersemayam di sana.

Pun, ia dekat dengan perempuan lain lagi. Seorang mahasiswi fakultas ekonomi satu angkatan di bawahnya. Gadis itu bersahaja dan berjilbab. Mereka bersebelahan kampung. Lewat gadis itu, kiriman uang dan sediaan makanan dari rumah rutin dititip. 

Tiap kali membawa kardus beras dan, atau titipan uang, Meilati kerap berlama-lama di kamar senior yang dipanggilnya Kakak. 

“Ih, Kakak, walaupun cowok tetap harus bersih. Masa orang gagah, tapi rantasa’,” sambil merapikan seprai yang kusut, menata buku yang berantakan, pula menyapu lantai. Mahasiswi itu dengan cerewet mengingatkan Irsan banyak hal tentang pentingnya lelaki memperhatikan kebersihan dan kerapian. Ia bahkan mencucikan piring dan pakaian Irsan yang berhari-hari terbengkalai dan menyisakan engas.

Irsan mendengar saja. Membiarkan mahasiswi itu mengemasi. Tak menyadari makin bergantung pada perempuan rajin itu dan melupakan satu hal: membuat Meilati merasa dibutuhkan. 

Sampai suatu nadir, Irsan mengulangi kesalahannya. 

“Datanglah melamar atau saya yang akan memberi tahu orang tuamu. Saya bukan pembunuh.”

###

Saat statusnya memburam, tiada alasan bagi Meilati putus kuliah. Ia usah pergi dari kampung yang membuat kepalanya seolah tong sampah, wadah sekotah serapah ditumpah! Hanya teman-teman dekat saja yang tahu dia menikah dan mengandung. Segelintir pula teman kuliahnya yang tahu suaminya entah ke mana. Mereka mengira, sementara Meilati kuliah, suaminya juga berkuliah di suatu kampus.

    Mertuanya mengontrakkan rumah di Makassar, Mama dan Bapak beserta adik bungsu Meilati tinggal menemani. Sebulan sekali mertuanya berkunjung. Kakek Dulla dan Nenek Risa  meninjau untuk memastikan calon ibu dan terutama bayi dalam kandungan sehat. 

Di ruang tamu dan saat-saat makan jelang, mertua dan besan berbincang dengan kaku mengenai kebutuhan ibu dan bayi. Mereka tak menyinggung tentang ayah bayi. Sebab mereka tahu akan segera terluka bila mengungkit.

    Tiga bulan jelang bersalin, Meilati cuti dan pulang, berdiam di rumah mertua. Tangis pertama bayi itu memekak di subuh belia, Kakek Dulla dengan air mata menitik melagukan azan di telinga cucunya. 

    Nenek Risa dan suaminya merawat Saldi bayi, terutama saat Meilati kembali berkuliah. Sekelar sarjana, si ibu muda itu tak berpikir mencari kerja. Saldi sudah berusia 4 tahun saat itu. Ia tak tega setiap kali membayangkan, setelah figur ayahnya lucut, anaknya juga akan kehilangan kasih sayang ibu karena sedemikian bergantol pada nenek dan kakek yang amat memanjakan.

    Ia menetap di kampung suaminya seraya mengacuhkan kalimat yang patuh melekap di kepalanya: ini adalah garis takdir. Maka, tak ada yang lebih membeslah selain anaknya. Dia tak hanya merawat darah dagingnya, juga mengurusi pekerjaan rumah. Meilati sepenuhnya ibu, juga ayah bagi anaknya. Selain itu Meilati juga mengambil alih bagian mengawasi kebun kakao yang sejatinya diamanahkan kepada suaminya. Dia berbagi menjadi penyelia bersama Ihsan, bagi 8 hektare kebun kakao.    

Maka, Meilati meraung tatkala mertua lelakinya rampak diserang stroke. Saat dirawat di rumah, ia merawat dengan asih. Ia bersama mertua perempuannya memutuskan tidur sekamar dengan si sakit.

    Perempuan itu berlaku selaik perawat di rumah sakit. Sepekan barang dua adalah waktu mumpuni baginya mengkloning praktik-praktik dari suster: menyuapi makan dan menuntun minum, menyalin baju, mengganti popok, bahkan memasang infus. 

Sejak Kakek dirawat di rumah, kesibukan Meilati bertambah 2 hingga 3 kali: merawat Kakek, memasak di dapur (Kakek yang sedang sakit tak akan mengasup selain masakan Mei, dan mertuanya tak begitu pandai memasak), menyelia kisaro pada hari pemetikan, pula membantunya. Semenjak pulang menjaga dari rumah sakit, Ihsan telah jarang menongol di rumah, bahkan tanggung jawabnya mengawas pemetikan kakao luput dilakukannya. Iparnya kini lebih betah tinggal di toko mebel. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina"

Share:





Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya



Arsip Literasi