Sihir Sisir | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 03 Februari 2015

Sihir Sisir


WANITA berusia sekitar 60 tahun itu sedang menyisir rambutnya yang urakan dan beruban, di depan cermin. Ia tergeragap ketika seorang pemuda masuk kamarnya. Ia sedang tertangkap basah.

"Kau sangat lancang." Wanita itu sangat marah.

Pemuda itu tersenyum, berjalan mendekat, danmendekap tubuh wanita keriput itu dari belakang. Mereka saling pandnag dalam cermin.

"Apakah sebagai kekasih aku harus mengetuk pintu kamarmu seperti seorang pembantu?" Pemuda itu membelai rambut wanita tua itu.

Wanita tua itu diam dan mencoba mendalami hati pemuda itu.

"Jika aku mencintai karena kecantikanmu, apa bedanya aku dengan kekasih-kekasihmu yang dulu?" Pemuda itu menurunkan tangannya dan merengkuh jemari wanita tua itu. Sisir jatuh dari tangan wanita tua itu ke lantai marmer. Sisir sihir.

Wanita tua itu menatap mata pemuda itu dalam cermin. Mereka saling pandang.

"Tak membedakan tua dan muda, kaya dan miskin, itulah cinta. Dan cinta tak butuh perubahan bentuk fisik dan status sosial. Begitulah aku."

Wanita itu tergoda dan amarahnya reda, betapa ia merasakan pemuda itu memang tulus mencintainya. Ia turut merengkuh jemari pemuda itu, jadi lebih kuat.

"Apakah kau terrsinggung?"

"Menurutmu, apa yang membuat aku tersinggung, sayang?" Pemuda itu mengecup leher wanita itu.

Kamar itu begitu luas, sesuai dnegan rumah megah yang melindungi rumah berarsitektur Eropa. Dari dalam kamar di lantai dua itu, jika seseorang berdiri di mulut jendela, akan melihat halaman yang luas, pepohonan yang rindang, burung-burung yang bermain, tembok pagar yang mengelilingi rumah. Dan di dalam rumah itu banyak terdapat barang-barang antik yang sangat mahal harganya, peninggalan almarhum suami wanita tua itu. Segala harta milik wanita tua itu adalah peninggalan almarhum suaminya.

Wanita tua itu tersenyum sambil menggelengkan kepala.

"Bolehkah aku melanjutkan menyisir rambutku, sayang?"

"Untuk apa? Bukankah aku mencintaimu apa adanya?"

"Aku tahu, tapi aku malu jika para pembantuku melihatku."

Wanita tua itu merunduk menggapai sisir di marmer, dan kembali berdiri, menyisir rambutnya secara perlahan-lahan. Pemuda itu sudah berbaring di atas ranjang memerhatikan wajah wanita tua itu di cermin berangsur-angsur menjadi cantik. Rambut wnaita itu mulai tampak hitam dan lurus sampai bahu, kulit wajahnya mulai ketat, kuning langsat dan bersih. Betapa pemuda itu kagum kepada sisir itu, lebih drai sekadar kagum.

"Benarkah sisir itu pemberian almarhum suamimu, sayang?"

"Ini hadiah ulang tahunku yang kelima puluh, saat itu ia berumur tujuh puluh. Seminggu kemudian dia meninggal, dan sebelum itu dia bercerita segalanya."

"Tentang apa?" Pemuda itu bangkit, duduk di tepi ranjang.

"Ternyata dia punya banyak perempuan simpanan. Sisir ini yang membuatnya tampak gagah dan rupawan. Aku juga curiga kenapa dia tampak seperti itu, padahal aku mulai keriput."

Pemuda itu begitu antusias mendengarkan cerita wnaita di depannya yang masih menyisir rambut.

"Dia bilang, dia tak mau fisiknya digerus oleh waktu. Dia juga bilang, dia tak mau kalau aku menjadi jelek di masa tuaku, di saat sudah tiada."

"Dia sangat mencintaimu. Aku kecewa jika kau hanya menjadikan aku sebagai pelampiasan. "Pemuda itu cemburu, dan membuang tatapannya ke luar jendela; sepasang merpati putih berpagut di sebuah dahan pohon sawo.

Wanita dengan wajah dan tubuhyang tampak muda kembali itu berbalik menghadap pemuda yang kini di hadapannya. Ia sudah meletakkan sisir sihir itu ke kotak perkakas hias.

"Kau tahu, aku tidka benar-benar mencintai dia. Dia hanya tahu aku benar-benar mencintainya. 
Seumur hidupku baru kau yang benar-benar aku sayang."

Kalimat wnaita itu begitu aneh didengar oleh pemuda itu.

"Jadi buat apa kau hidup bersamanya?"

Wanita itu berjalan mendekat dan duduk di samping pemuda. Pemuda itu menoleh ke wanita itu; menyadari wanita di depannya menjadi sangat cantik. Mereka saling pandnag.

"Karena saat itu aku belum mengenal dirimu, Sayang." Wanita itu menyandarkan kepalanya ke bahu pemuda itu.

Mereka lama terdiam. Seolah saling mendengarkan denyut jantung yang seirama,

"Ada yang ingin aku katakan kepadamu."

Wanita itu menegakkan kepalanya.

"Apakah ini pembicaraan yang serius?"

"Aku ingin menikahimu."

Wanita itu merasakan kamar itu mendadak dingin seperti udara sehabis hujan, bunga-bunga tumbuh dan bermekaran, angin bertiup menebarkan wangi yang sungguh wangi.

"Apakah kau bahagia mendengarnya?"

Wanita itu memasukkan kepalanya ke dada pemuda itu, seoalah ia mempercayakan seluruh hidupnya kepada pemuda itu. Tangannya memeluk tubuh pemuda itu. Wanita itu mengangguk-angguk sambil tersenyum.

"Tiada yang lebih membahagiakan dari mendengar kalimat istimewa itu." Seminggu kemudian mereka menikah dengan resepsi pernikahan yang sangat sederhana. Hanya keluarga dari pihak pemuda dan wanita itu yang merayakan. Keluarga pihak pemuda banyak mengatakan bahwa ia beruntung mendapatkan seorang janda kaya raya, sedang mereka tidak tahu bahwa keluarga wanita adalah keluarga sewaan.

***
SETAHUN kemudian.

"Sayang." Wanita itu memanggil suaminya yang sedang berbaringdi atas ranjang dan memerhatikannya di depan cermin dengan wajah yang berubah menjadi cantik setelah menyisir rambutnya. "Ke marilah, ada sesuatu yang ingin aku berikan kepadamu," lanjutnya.

Yang dipanggil sayang bangkit dari tempat tidur, berjalan dan berdiir di samping wanita itu.

"Meskipun kecantikanku tidak bisa tergerus oleh waktu, tapi tidak dengan umurku. Aku ingin memberimu hadiah terindah sebelum aku mati." Wanita itu menyerahkan sisir sihir itu kepada suaminya dan suaminya menyambut sisir sihir itu. 

"Aku ingin kau tampak gagah dan rupawan di masa tuamu, saat aku sudah tiada."

Diam sejenak. Mereka saling pandang.

"Aku tak ingin kehilanganmu."

"Tapi kematian tak dapat dielakkan."

Seminggu yang akan datang; sang suami akan emndoring istrinya dari anak tangga. Ia akan mengatakan kepada semua orang bahwa istrinya meninggal karena jatuh. Rencananya akan berhasil. Sehingga ia bisa menguasai harta istrinya. Ia tak pernah benar-benar mencintai istrinya. Di masa tua, ia akan memakai sisir sihir itu untuk memikat wanita-wanita dan memilih satu wanita yang akan ia nikahi, yang ia anggap mencintainya.

"Tak baik bicara kematian sekarang ini, sayang." (k)

[] Tanjung Pasir, 2014

Muftiron Fauzi Aruan: tinggal di Tanjung Pasir Labuhanbatu Utara Sumatera Utara.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muftiron Fauzi Aruan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" pada 1 Februari 2015


Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi