Bunga Layu di Taman Kota | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 03 Maret 2015

Bunga Layu di Taman Kota


TUBUH kurus pohon ketela, gontai melangkah di taman kota. Dua kaki seperti dirantai besi, terasa berat menuju tempat istirah. Berkali jatuh dan mengaduh. Tapi orang hanya lalu lalang. Tutup mata kuda. Tak peduli pada airmata yang berlinang di pipinya.

Perempuan setengah abad, tubuh kurus pohon ketela, kian berat detak jantungnya. Serupa pelari yang tersungkur di garis finish, nafasnya tersendat di dunia fana. Tak ada alat penghentak dada. Tak ada tabung oksigen yang datang bersama mobil ambulans. Lalu pingsan.

Hanya denyut nadi yang tersisa di pergelangan.

Serupa tiang listrik yang rubuh, perempuan setengah abad, tubuh kurus pohon ketela, terbujur kaku di bawah pohon kamboja tanpa seorang pun yang memperhatikannya. Lenyap sudah sisa-sisa keanggunan di wajah. Masa silam meruah dari alam bawah. Mimpi bergulung di antara langit dan bumi. Gambar-gambar kehidupan bergerak di layar hitam. Gelap dan terang tak ada bedanya., saling menimpa dan melenyapkan.

Siapa nama perempuan itu, dari mana asalnya?

Tak seorang pun tahu. Sebab ia tak punya kartu tanda penduduk, apalagi passport, SIM dan NPWP. Namun begitu, setiap orang yang pernah melintas di taman kota itu, pasti pernah melihatnya. Karena itulah kehidupannya. Mengada di antara lalu lalang orang. Sendiri menyiram bunga dengan seluruh energi dan tenaga. Apa saja yang tumbuh menyerupai bunga di taman itu, disiraminya setiap hari. Setertib orang sakit minum obat. Pagi, siang dan malam tak pernah lupa. Entah apa alasannya, perempuan itu tak bisa dipisah dengan kebiasaan dan kesibukannya menyiram bunga. Menebar wangi di atas tangkai berduri. Menyingkirkan yang layu dan membuangnya ke dalam tong sampah setiap waktu.

Ilustrasi oleh Joko Santoso
“Memang, aku pernah melihatnya. Tapi aku ragu, itu perempuan betul atau jadi-jadian.”

“Hantu, maksudmu?”

“Bukan. Tapi perempuan setengah hati, wanita setengah pria.”

“Memang kamu sakit mata, ya? Mana ada lelaki menyiram bunga setiap hari, kecuali sedang bermimpi untuk mendapatkan istri”.

“Ha ha ha… benar juga katamu”.

Amsal aneh, perempuan setengah abad, tubuh kurus pohon ketela, selalu ada di taman kota. Duduk dan berdiri di antara bunga-bunga. Bahkan, jika ada yang memiliki mata waskita, wajah mudanya tampak jelita. Seakan bunga sedang mekar dan bersinar.

“Ah! Bunga layu, kale?”

“Bukankah setiap bunga pasti mekar sebelum layu?”

Dan sebelum layu, setiap bunga telah menebarkan wangi lebih dahulu. Baru kemudian lunglai, karena tugasnya selesai. Batas usianya sudah dekat, dan rindu pun terus memburu untuk kembali dan bertemu dengan akarnya. Berjumpa malaikat. Ingin bersatu dengan tanah, mengenali asalnya melalui serabut yang memberi kehidupan. Maka ia jatuh ke tanah, ingin menjadi humus dengan rasa tulus. Tak ada ingatan pada biji-biji zarrah saat ditaburkan, pada wangi bunga-bunga saat dirangkai dan dikalungkan bagi persembahan yang mulia. Bukan saja pada kelahiran, tapi juga pada perkawinan dan kematian.

Meski sudah lebih dari tigapuluh tiga menit, tak ada tanda kematian pada denyut nadi perempuan itu. Sepertinya, ada bayangan masa muda yang sedang melintas-lintas. Karena memang, ketika usia masih jalan, perempuan itu tak pernah bosan untuk berdandan, dan terus berdandan. Semakin banyak orang yang tidak memperhatikan, semakin keras ia berdandan.

“Kau ini sudah cantik, kenapa mesti berdandan?”, komentar sohibnya.

“Agar semua mata tertuju padaku, mengagumi kecantikanku”, jawabnya.

Tapi rupanya, kenyataan selalu berbeda dengan keinginannya. Walau ia selalu berdandan lebih dari kawan-kawannya, tidak seorang pun yang pernah dijumpai dan mengatakan apa yang diinginkannya. Bahkan, setiap kali jumpa lelaki, lawan jenisnya itu selalu menghindar dan meninggalkannya.

Dan akhirnya, pada puncak kegalauannya, ia putuskan dirinya untuk menolak berdandan. Ia buang ke tong sampah semua koleksi alat-alat berdandan. Tapi anehnya, banyak tetangga dan sahabad yang memuji kecantikannya setelah ia tak pernah lagi berdandan. Namun apa dikata, hati dan kepalanya telah membatu. Merasa hina dan jelek jika tak berdandan.

Entah bisikan dari mana, saat usia mendekat pada setengah abat, perempuan itu memaksa diri dan jiwanya untuk keluar dari rumah, dan meninggalkan keluarga besarnya tanpa arah. Tanpa tujuan. Sampai ujungnya, perempuan itu hidup menyendiri di taman kota. Menenggak sunyi di tengah keramaian dan bunga-bunga.

Serupa bunga pula, ia tak pernah bertanya tentang dirinya sendiri. Tentang biji-biji yang tumbuh mewangi menjadi wakil keindahan di muka bumi. Ia relakan dirinya untuk menunggu dan terus menunggu menjadi pupuk bagi lahirnya bunga yang baru.

“Semakin dekat dengan bunga, semakin indah jiwa manusia”.

“Tapi bunga, mengingatkan kita pada batas usia. Pada kelahiran dan kematian”.

“Jangan berkhayal, bung. Dunia ini kenyataan, bukan impian”.

Maka dunia terus berputar, melepaskan karbon deoksida ke udara, memenuhi ruang-ruang kosong di tengah kota. Debu-debu dari tanah, semburan mineral dari samudra, butiran abu dari gunung berapi, gulungan asap dari hutan terbakar, dari cerobong pabrik dan knalpot; saling bertemu dan merapat dalam setiap paru-paru. Walau jantung terus berdetak, mengirim darah ke seluruh tubuh untuk bergerak.

Maka, ketika perempuan itu siuman, dan terbangun dari mimpinya, dua petugas menghadang di kedua kelopak matanya. Hendak menggotong kediriannya, entah akan dibawa kemana. Tapi ia menolak untuk diangkut ke dalam truk sampah. Karena aku bukan mayat, katanya pula. Aku juga bukan kambing hitam sedang sekarat. Bukan sapi perah atau musang berbulu domba. Pergi dan kembalilah pada tugas kalian, suaranya keras dan memaksa. Hingga dua petugas yang datang ke taman kota itu tak punya pilihan kecuali meningalkan.

Membiarkan perempuan itu duduk terpaku, sendiri dalam jiwa sunyi. Mengawang di antara langit dan bumi. Sementara orang masih saja lalu lalang. Menggotong karung-karung mimpi dengan tutup mata kuda. Tak peduli airmata yang berlinang di pipinya.

Sejak peristiwa itu, aku juga tak pernah lagi datang ke taman kota. Maka jangan tanyakan padaku, apakah perempuan itu masih setia menyiram bunga layu sebelum orang menghirup wanginya. []-g

Oktober 2014


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hamdy Salad
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" pada 1 Maret 2015

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi