Episode Mimpi - Laba-Laba - Angin Sepoi - Lanskap I - Wajah Menggemaskan - Meditasi Perempuan - Lanskap II | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 09 Maret 2015

Episode Mimpi - Laba-Laba - Angin Sepoi - Lanskap I - Wajah Menggemaskan - Meditasi Perempuan - Lanskap II


Episode Mimpi


Mimpi pun semakin buih berbuih di jalan raya
Ia sering naik mobil mewah sok paling manusia
Kadang-kadang bersepeda jengki gayanya petita petiti
Atau dalam bis kota pakaiannya norak nakuti anak-anak
Suaranya serak menggantikan burung gagak
Ia monster gentayangan yang tidak paham benar tentang hari ini
Ia seorang pesolek yang menelan biaya besar
Pemain sandiwara yang jiwanya tidak ada di panggung
Ia ada pada hari ini bersama-sama kita dengar rambut palsu

Bulu mata palsu air muka palsu senyum palsu
Lebih celaka lagi ia suka mendorong kita memalsu keadaan
Ia gemar berjalan-jalan mempertontonkan keberhasilan
Menenteng manusia berjungkir balik kepalanya
2013

Laba-Laba

Sambil bergelayut di jejarng made-in sendiri
Betapa lahab laba-laba itu mengunyah detik-detik arloji
Kesepian tak berdaya menggulingkan hati dari kedudukannya
Meski telah terpojok di suatu sudut terpencil
Justru disana gigih ia menjadi dirinya sendiri
Tiada kegiatan membangun mimpi kecuali
Mempercaya kecoa, nyamuk, capung, kupu-kupu, lalat
Yang suka nyelonong dalam tapal batas wilayah mimpinya
Yang rawan mengecoh jati dirinya
2013

Angin Sepoi

Rupanya hanya angin yang mendidik rasa jadi gembira
Meski hanya dengan sandal jepit, kantong plastik dan sabit
Bersama-sama caping di kepala sang penjaga kemantapan 
Dari serangan hama wereng yang dilahirkan musim

Selalu saja kita tertagih tentang kepiawaian menjaga rahmat
Di tengah pusaran musim dan galaksi yang menyeringai
Di seputaran iman yang tumbuh-tumbuhnya jadi flamboyan
Mengubah kepercayaan diri jangan sampai runtuh tergadaikan

Tak ketinggalan batu-batu jalanan tahan banting
Tersenyum mengajak main mata demi cinta dan kasih sayang
Meminta lupakan rasa kurang lebih yang mencekam
Kita percakapkan pada hari-hari gaul yang mengalirkan kisahnya sendiri
2013

Wajah Menggemaskan

Selalu saja muncul tiba-tiba sebuah wajah yang menggemaskan. Melambai
mengajak mengikuti angin berkepala dua. Masing-masing adalah teka-teki
mana yang asli mana yang palsu. Di mana hati adalah angin ketiga. Adalah
dimana kau tumbuhkan dari puing-puing yang subur.

Sembari demikian kau pun melenggang. Mengikuti wajah menggemaskan.
Tapi ia gmar menelusup ke dalam serbuk kenikmatan yang melayang-
layang di udara : Ya, menggemaskan sering bisa kekonangan. Bukan sekedar
membuat udara seru. Tapi sering bisa menembus masuk ke kerajaan un-
tung-untungan dimana kita kini berada : disini gerbang-gerbang terbuka
menjadi jalan bagi benih-benih yang telah alam menunggu dan ditunggu.

Lalu terdengar juga gunjing-gunjingan, bentrokan, di sana-sini. Walau 
dibalut gerimis dan sunyi. Atau bencana-bencana yang gegirisi. Sebagai 
isyarat bahwa semuanya itu menyimpan upaya lahirnya mutiara-mutiara
baru nan tiada terduga di hari ini akan ujud dan pesonanya. 
2014

Lanskap I

Hidup itu sendiri tampakna seperti perjalanan iman
Kadang selayaknya air hujan yang meresap di tanah sawah dan ladang
Pada musimnya menumbuhkan padi, sayuran dan bebuahan
Lalu bangkit membangun kecapi riang dalam
kesadaran bunga-bunga melati
Hingga dunia kupu-kupu menari
Karena kekuatan iman
Juga keringat yang mengucur dari badan
Atau magma yang memerdekakan diri
Lewat gunung-gunung di bumi
Membuat mata yang hampa di baut takjub memandang kepundan
Walau sering dibuat terkejut ketika tak punya pilihan dan meletup
Memberi ingat seolah-olah ada yang selalu dibenahi
Dalam perikehidupan membangun silaturohmi dengan alam ini 
2015

Meditasi Perempuan

Di sana ada bulan purnama
Yang menyalakan binar cinta lelaki
Ada bukit ada lembah tempat kasih sayang kuncup bersemi
Langit biru membentang indah di dadanya
Penampung segala suka dan duka bersama
Seia sekata
Dan ada sepetak belantara
Lebih sebagai kebun taman bunga
Tempat ia mendewasakan anak-anaknya kelak
Tatkala tiba waktunya bersuami ia
Meski tak jarang
Ada yang ketimpa kekerasan dalam rumah tangga
2015

Lanskap II

Hidup itu sendiri punya iman
Seperti awan melayang-layang bebas dari beban makna dan bentuk
Sendiri dan pasti
Walau tanpa pemecahan sebagaimana dalil-dalil resmi
Maka ia selalu muncul saban saat saban hari
Dengan bentuk-bentuk yang lain
Tanpa ikatan ini itu, dengan nyaman dan santai
Mengajak hati berlenggang mengalun dan tafakur
Menjadi jiwa semesta raya
Kebal akan kemenangan, kepuasan atau kekalahan, kekecewaan
Lihatlah. Tahun-tahun ini
Dunia hanya berisi badak dan kerbau, katanya
Maka ubahlah si maya dengan iman
Agar jadi racun tak berdaya
Maka perbaikilah cita-citamu
Dengan bangunan rasa cinta sesama
Dalam bahagia dan derita, katanya pula
Ya, mudah-mudahan banyak orang mendengar
Bahwa iman mengajari manusia jadi apa saja
Tanpa tanda jasa


2015
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fauzi Absal
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" 8 Maret 2015

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi