Labirin Depresi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 03 Maret 2015

Labirin Depresi


SEPANJANG waktu-waktu yang menyedihkan ini, yang dapat saya lakukan hanya menulis kembali kisah ini berulang-ulang. Kau tahu, ini seperti memasuki suatu tempat bernama masa lalu yang penuh dengan jalan dan lorong berliku dan simpang siur. Di setiap sisi jalan, berdiri skrin yang memutar kisah-kisah yang hanya dapat membuatmu tersenyum bahagia dan menangis menyedihkan. Kau tahu, pekerjaan ini amat menyiksa jiwa. Bagaimanapun, saya harus menuliskannya agar mereka dapat percaya.

BAIKLAH, akan saya ceritakan. Udara siang itu amat panas. Angin yang berembus amat sedikit. Saya membuka kaca jendela dan membiarkan pintu kamar terbuka. Udara yag amat sedikit itu tak bisa masuk. Tepat di halaman depan kamar kos, tumbuh pohon rambutan berdahan rendah, berdaun lebat, menutupi arah embusan angin. Hawa panas menguasai segala. Yang saya rasakan saat itu adalah rasa lapar yang mengerikan, ulu hati pedis, tenggorokan kering, dan kepala pening. Keadaan itu membuat tubuh saya gemetaran sepanjang siang itu. Saya membaringkan tubuh di atas kasur tipis dalam upaya menikmati keadaan mengerikan itu. Mata saya tiba-tiba kabur, tertutup dengan sendiri. Saya berusaha membuka dengan paksa. Setiap kali upaya itu saya lakukan, saraf di sekitar mata tertarik dan perih di seluruh kepala. Serangan lain datang, saya tak dapat menggerakkan tubuh seperti mereka tak dapat menjalankan pesan otak.

Tiba-tiba saya sudah berada di sebuah taman yang abadi di ingatan. Di bangku taman warna hitam mengkilat oleh cat minyak, saya menemukan Monika. Ia masih seperti dulu. Rambut panjangnya masih dibiarkan terurai diterpa angin, masih membaca novel serius, dan masih minum kopi. Ia selalu tampak cantik di mata saya. Ia perempuan terbaik yang pernah saya kenal. Anehnya, saat itu, air mukanya muram. Ada air mata yang tertahan di sudut matanya dan ia memesan dua gelas kopi. 

Monika tiba-tiba bangun, mendekap erat buku tebal itu seperti mendekap seseorang dengan perasaan sayang yang sempura, meninggalkan taman itu dengan langkah rapuh. Jalan di depan taman itu amat sibuk. Ia hendak menyeberang ke sisi lain jalan. Pandangannya lurus dan kosong. Ia tak memperhatikan kendaraan yang datang dari kiri dan kanannya dan begitu saja menyeberang. Dari arah kiri, meluncur mobil hitam dengan kecepatan tinggi. Saya tahu apa yang akan terjadi. Saya meneriakinya berkali-kali, tetapi ia tidak menoleh. Saya ingin berlari ke arahnya, tetapi sebuah dinding tak kasat mata menghantam kening saya. Dalam ketakutan dan kepanikan yang mengerikan, saya melihat mobil itu menghantam tubuh Monika hingga terhempas jauh. Kepalanya membentur aspal dan darah segar mengalir membasahi aspal. Saya berteriak, meraung-raung, dan berusaha mendekat, tapi sia-sia. Mobil itu menepi dan keluar dua lelaki muda yang amat saya kenal: Bob dan Andre.

**
Ilustrasi karya Fahrul Satria N
SAAT membalik badan, mata saya terbuka. Sebuah gagasan tiba-tiba terbit di kepala saya: mereka telah membunuh Monika. Saya berdiri dengan amarah yang tak tertangguhkan lagi dan perasaan kehilangan yang menyerang, meraih pisau di atas meja belajar. Di teras kos, terdengar suara tawa Bob dan Andre. Mereka terkejut ketika saya muncul dengan wajah yang aneh dan sebuah pisau di tangan.

“Bangsat pembunuh! Kalian telah membunuh Monika!”

Saya mengamuk, mengayunkan pisau ke arah Bob dan Andre. Mereka dengan sigap menghindar. Saya terus mengejar mereka, hingga pada satu kesempatan, saya mendapat Andre dan menancapkan pisau ke rusuk kirinya. Saya meninggalkannya meringis kesakitan dan mengejar Bob sambil berteriak “Pembunuh! Pembunuh! Bangsat!”. Saya tak mendapat Bob sebab segerombolan polisi datang, memberikan setrum listrik di leher, dan saya tak sadarkan diri.

Hari itu, saya dibawa ke sebuah ruangan oleh dua petugas berbadan kekar dalam keadaan setengah sadar. Mereka membaringkan saya di tempat tidur. Seorang berpakaian putih-putih menyuntikkan cairan di lengan saya. Sayup-sayup terdengar ketukan sol sepatu yang teratur di lantai. Kemudian terdengar gagang pintu diputar, dorongan pada pintu yang amat pelan, dan bunyi pintu ditutup dengan kasar. Seorang lelaki tua, beruban seluruhnya, berkaca mata, mengenakan kemeja putih panjang sampai lutut, melangkah menenteng tas dan duduk pada kursi di samping meja. Dengan gerakan teratur, ia membuk atas, mengambil sebuah map, membukanya, memperbaiki posisi kacamata dan mulai membaca.

Saya tak mengerti mengapa saya dibawa ke sini, dalam ruagan tanpa jendela, tak berdaya di atas tempat tidur. Saya ingat saya telah melakukan hal yang benar. Bob dan Andre pantas mendapatkannya.

“Mengapa saya dibawa ke sini?” Tanya saya lemah tak ada daya.

Lelaki tua itu berdeham sebentar, memperbaiki posisi duduknya, kemudian berbicara tanpa memedulikan pertanyaan saya. Ia mengatakan bahwa mereka telah menyuntik cairan vitamin ke dalam tubuh saya. Dengan senyum, ia mengatakan bahwa saat ini saya terlihat lebih segar dan tampak lebih baik. Saya amat meragukan ucapannya sebab ketika bergerak, sendi-sendi saya terasa perih, kepala terasa pening, dan rasa lapar tak tertangguhkan. Saya merasa tidak begitu baik saat itu. Ia menanyakan akan apa yang saya rasakan saat itu? Saya tak menjawab pertanyaannya. Diam menatap kosong tembok ruangan.

Saya tak tahu jam berapa saat itu. Entah malam, entah siang, saya tak tahu. Tak ada sesuatu hal yang bisa dijadikan pedoman. Tak ada jam dinding dalam ruangan itu. lelaki tua itu menggeser nampan aluminium sebagai isyarat agar saya segra makan. Nasi, sayur, dan sepotong ayam yang sudah dingin. Tanpa peduli padanya, saya melahap makanan itu, minum air, kemudian duduk di tempat tidur. Beberapa saat, kami diam.

“Boleh saya tahu siapa Monika?” mulai lelaki tua itu.

Sesungguhnya saya tak ingin berbicara dengannya sebelum ia menjawab pertanyaan saya. Namun, pertanyaan soal Monika menggugah hati saya.

Dahulu, saya telah berjanji untuk tidak memikirkan Monika lagi, tidak mengingat kenangan bahagia bersamanya. Memikirkannya seperti upaya bunuh diri secara perlahan. Amat menyakitkan. Saya mengenal Monika 10 tahun lalu. Kami satu jurusan. Ia masih anak desa yang tak pandai berdandan. Aku menyukai rambutnya yang dibiarkan terurai diterpa angin, kulit putih bercahaya, dan matanya bersinar seperti bintang kejora. Ia suka melepas senyum indahnya kepada siapa saja. Giginya rapid an putih. Jika tertawa, ia selalu menutup mulutnya dan terdengarlah tawa kikik yang menggemaskan. Monika adalah kecantikan alami terbaik yang pernah saya temui.

Monika berkembang dengan sangat cepat, dari perempuan desa jadi perempuan modern dengan wawasan luas. Namun, tetap saja ia sederhana dan rendah hati. rasanya aneh sekali saat dia lebih memilih saya daripada lelaki lain yang lebih tampan dan mapan. Saat itu, hidup saya benar-benar sedang dalam perjalanan menuju kehancuran. Saya masih juga sebagai anak muda yang belum menemukan jati diri, terjebak dalam arus minuman keras dan kemalasan yang akut. Saya tak punya rencana untuk hari-hari depan. Monika datang sebagai malaikat dalam hidup saya dan malaikat rasanya tak pantas berada di sisi lelaki pemabuk. Kesadaran itulah yang membuat saya banyak berubah.

Hari-hari bersamanya amat berkesan. Tiap hari kami selalu mampir ke taman kota, duduk di bangku hitam berkilau yang berhadapan dengan Jalan Sudirman. Kami membeli segelas kopi panas untuk kami berdua. Kami bercerita banyak hal, membaca banyak buku, mendengar banyak lagu di sana, sekali-sekali mengerjakan tugas di sana atau kadang jika kami bosan, kami akan menghitung mobil yang lalu lalang di jalan. Singkatnya, kami pacaran selama tiga tahun. Setelah itu, ia pergi meninggalkan saya untuk selamanya dalam sebuah kecelakaan di Jalan Sudirman.

Saya menangis sesenggukan di atas tempat tidur. Lelaki tua itu batuk pelan. “Turut berduka cita,” ucapnya.

“Saat itu, hubungan kami sedang renggang. Saya pergi naik gunung dan ketika kembali, kabar pemakamannya sampai ke telinga saya. Saya tak melihat wajahnya untuk terakhir kalinya.”

Lelaki tua itu membiarkan saya menangis, mencabik-cabik batal, dan memukul-mukul tembok ruangan. Ia membiarkan saya sampai benar-benar tenang.

“Bisakah anda ceritakan yang sebenarnya? Mengapa saya diperlakukan seperti ini?” tanya saya.

“Baiklah,” ucapnya sambil memperbaiki posisi duduk. “Berat mengatakannya, jujur saja, anda menyerang dua teman kos anda dengan pisau dengan tuduhan yang tak beralasan; membunuh Monika,” ucapnya tiba-tiba, mengagetkan.

Amarah saya bangkit ketika ia menyebut soal Monika. Saya merasa ia tak punya rasa empati sedikit pun. Saya berdiri dan menghardiknya.

“Bob dan Andre lah yang menabrak Monika. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri.”

“Mereka sama sekali tak mengenal Monika. Mereka tak tahu peristiwa yang terjadi pada Monika.”

Amarah memuncak, saya menendang meja. “Lalu, siapakah anda ini tak punya rasa empati dan mencoba membela pembunuh?” teriak saya sambil memukul meja. “Berapa yang anda dapat dari mereka?”

Dua petugas bertubuh kekar dan seorang perempuan perawat masuk. mereka menangkap saya. Perempuan perawat itu menyuntikkan sesuatu ke lengan saya. Tubuh saya mendadak lemas dan rasa kantuk menyerang. Saya tak sadarkan diri.

Pada akhirnya, saya tahu, suatu kali, barangkali ia lupa membawanya, barangkali juga disengaja. Sebuah map hijau di atas meja berisi deskripsi yang mengagetkan dan tak bisa saya terima tentang saya. Saya didiagnosis mengidap depresi berat karena tak kuat menghadapi kenyataan hidup dan sering diserang halusinasi terhadap kekasih saya yang sudah meninggal. Saya memiliki hubungan yang buruk dengan orangtua, ibu kos, dan teman-teman di sekitar saya hingga peristiwa penyerangan terhadap Bob dan Andre. Penjelasan terhadap setiap poin masih panjang. Saya tak kuasa membacanya. Saya tak dapat menerima semua itu. Amarah saya bangkit. Saya meraung, berteriak keras, membanting kursi, dan merobek-robek map merah itu. Empat petugas berbadan kekar datang menangkap saya dan perempuan perawat itu menusuk jarum ke lengan saya. Badan saya jadi lems dan rasa kantuk menyerang.

**
KAU tahu, selama bertahun-tahun, saya telah berusaha agar dapat bertahan. Pada satu waktu berhasil, tetapi di lain waktu usaha itu sia-sia. Seringkali saya terjebak oleh peristiwa bahagia dari masa lalu yang tak disadari telah mendorong saya semakin jauh pada labirin-labirin berliku pada masa lalu. Satu lorong saya masuki dan skrin yang tertempel di dinding lorong menayangkan kisah menyedihkan dan bahagia bersama Monika. Saat berusaha keluar, saya sadari telah berada di lorong yang lain dengan wajah ayah dan ibu yang muram. Begitu seterusnya. Masa depan tampak kabur di mata saya dan amat sulit dibayangkan. Saya seringkali menangis sepanjang hari, berteriak-teriak kacau, memukul-mukul meja sampai petugas itu datang menusuk jarum ke lengan saya. Badan saya jadi lemas dan rasa kantuk menyerang. ***

*) Penulis, lahir di Sumba, NTT, 5 juni 1990. Saat ini berkuliah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bonifasius Bulu
[2] Pernah tersiar dalam surat kabar "Pikiran Rakyat" 1 Maret 2015

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi